Chapter 1
Kopi Darat
.
.
.
"Nak, jangan lari-lari di dalam rumah begitu!"
Remaja putra 13 tahun itu mengabaikan seruan sang ibunda. Ia bergegas naik ke lantai dua rumahnya yang minimalis tetapi nyaman. Langsung memasuki kamar, berbaring-baring di kasur, lantas asyik berkutat dengan ponsel ber-casing hijau muda miliknya.
Dibukanya aplikasi media sosial Spacebook yang sudah masuk ke sebuah akun atas nama Thorn Darkwood. Cepat-cepat diaksesnya fitur pesan pribadi untuk mengirim satu fail foto istimewa.
Dilihatnya lagi foto itu lekat-lekat, dan senyumnya seketika terkembang. Ia merasa ini adalah foto terbaik yang kini menghuni galeri foto di penyimpanan ponsel pintarnya. Rasanya tak sia-sia ia susah payah membuat Cattus, kucing belang tiga miliknya, berpose bersama tanaman kesayangannya. Tepatnya, ia harus sangat hati-hati memindahkan tubuh Cattus yang sedang tidur, tepat ke depan pot bunga matahari. Maksudnya sebagai pembanding ukuran.
Dan ketika dilihat lagi hasil jadinya seperti ini, Cattus memang kelihatan mini sekali.
"Solar pasti senang melihatnya!"
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)
Cover art made with Picrew.
Fanfiction "Twins Trap" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
Miniseri. AU. Elemental Siblings. ThornSolar (brotp). Untuk #HBDOurHero.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
Senyum cerah tak henti-henti menghias wajah pemuda kecil itu, sementara sebentuk foto telah berhasil terkirim. Sepasang iris cokelat madu melirik nama akun yang ditujunya, dan si pemuda sontak tersenyum.
Solar Gamma
Sedang aktif
Tak butuh waktu lama, muncul tanda bahwa kirimannya telah dilihat, diikuti akun di seberang tengah mengetik sesuatu. Isi ketikannya sudah muncul dalam waktu singkat.
Woah! Bunga mataharimu sudah setinggi itu? Ada 3 meter kayaknya, ya?
Eh, apa benar bunga matahari bisa tumbuh sampai 5 meter?
Katanya waktu tumbuhnya 3 sampai 4 bulan? Lama, ya.
Aku jadi ingin melihatnya langsung.
Si pemuda tertawa kecil melihat antusiasme Solar. Lantas cepat-cepat mengetik jawaban.
Aku juga mau banget Solar datang ke sini, biar bisa lihat bunga-bungaku.
Banyak yang ingin diceritakan, tetapi jemari remaja putra itu mendadak terhenti. Oh ya ... Sebentar lagi ada acara berkemah selama beberapa hari. Katanya semua peserta akan dilarang mengaktifkan ponsel. Apalagi laptop, mana ada orang bawa-bawa laptop ke perkemahan, 'kan? Artinya, untuk sementara waktu, dirinya juga takkan bisa berbincang-bincang lagi dengan Solar seperti ini. Dengan ekspresi sendu, ia pun menceritakannya kepada Solar melalui ketikan.
Solar adalah sahabat dekat pertamanya di dunia maya. Berawal dari sebuah gim daring, keduanya berkenalan, lantas berlanjut ke sebuah media sosial populer saat ini, Spacebook. Solar yang menyarankannya untuk membuat akun di sana, termasuk mengajarinya untuk jangan menggunakan foto profil dan nama asli. Bahaya, katanya, mengumbar data-data pribadi di dunia maya.
Sama seperti Solar, akhirnya ia menggunakan nama dan avatar yang dipakainya di gim daring Elemental Chaos.
Eh?
Kelasmu mau berkemah ke Pulau Rintis?
Sepasang alisnya terangkat ketika Solar mendadak menanyakan ulang informasi yang baru saja diberikannya. Diketikkannya 'Iya, memangnya kenapa?' kemudian menunggu jawaban dengan penasaran.
Kebetulan sekali!
Kelasku juga bakal berkemah ke sana.
Bumi Perkemahan Pulau Rintis, 'kan?
Tanggal 28 Februari sampai 1 Maret, 'kan?
Kok bisa sama, sih?
Sepasang mata bulat itu berkedip-kedip. Eh, sebentar. Apa katanya? 'Sama'?
Maksud kamu?
Jemarinya mengetikkan pertanyaan cepat. Tak butuh waktu lama, jawaban dari Solar sudah muncul.
Iya. Kelasku juga mau ke sana.
Waktu dan tempatnya sama persis, lho.
Mata bulatnya makin membulat dan berbinar-binar.
"Waaah ... Berarti aku nanti bisa ketemu Solar, dong!"
Tanpa sadar, ia menyuarakan pikirannya. Jemarinya pun kembali bergerak mengetikkan hal yang senada di layar ponsel pintar.
"Daun?"
Remaja putra itu tersentak ketika mendadak terdengar suara wanita memanggil lembut. Ia sontak bangkit dari posisi berbaringnya, sebelum memfokuskan pandang ke ambang pintu kamarnya yang sedari tadi memang dibiarkan terbuka.
"Mama?" remaja bernama asli Daun itu menyahut spontan.
Ibunya, seorang wanita cantik berambut cokelat pendek sebahu, mendekat sambil tersenyum.
"Makan dulu, Nak." Sang ibu mengusap sekilas wajah putranya. "Ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu."
Kedua mata Daun langsung berbinar. "Nasi goreng spesial buatan Mama!"
Tawa kecil yang mengikuti seruan penuh semangat itu membuat sang ibu tak bisa melepaskan pandang. Begitu pun senyumnya.
"Ayo, turun. Kita makan sama-sama."
"Iyaa."
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Daun, Sayang. Apa ada sesuatu yang menyenangkan terjadi?"
"Hm?"
Daun sudah hampir menghabiskan nasi goreng favoritnya ketika sang ibu mendadak membuka percakapan di meja makan. Ia menelan makanan di mulutnya, lantas menatap ibunya dengan kening berkerut.
"Kok Mama nanya begitu?"
Sang ibu tertawa kecil.
"Habisnya, Daun kelihatan senang sekali," jawabnya. "Nggak mau cerita sama mamanya, nih ... apa yang bikin anak Mama kok bahagia banget?"
Senyum lebar Daun langsung terukir.
"Daun 'kan mau kemah, Ma. Terus, teman Daun di internet juga kemah di sana. Jadi, nanti Daun bisa ketemuan sama dia."
"Oh ya?" Mama Daun memperhatikan cerita putranya dengan seksama. "Teman di Spacebook yang sering Daun ceritakan itu? Siapa namanya? Solar?"
Daun mengangguk penuh semangat.
"Daun nggak sabar lagi mau ketemu dia, Ma!"
"Waah ... Kalau gitu, nanti Mama titip salam buat Solar, oke?"
"Oke, Maa~"
Daun kembali fokus ke makanannya setelah itu, begitu pula dengan sang ibu. Nasi goreng ini punya cita rasa yang begitu khas. Gurihnya melebihi semua nasi goreng yang pernah Daun rasakan di mana pun.
Hanya saja, Daun akan lebih suka kalau ditambah rasa pedas. Apalagi kalau bisa dibuat berlevel-level pedasnya seperti kebanyakan tren makanan di luar saat ini. Sayang, ibunya tak suka makanan pedas. Makanya, setiap makanan yang dibuat di rumah ini pasti mengikuti selera beliau.
"Oh ya, omong-omong soal kemah," sang ibu memulai percakapan lagi ketika Daun tengah meneguk teh lemon madu dari gelasnya, "berangkatnya jadi akhir pekan ini, Nak?"
"Iya, Ma. Tiga hari, Jumat, Sabtu, Minggu, di Pulau Rintis."
Mama Daun mendadak terdiam ketika mendengar nama Pulau Rintis.
"Itu tempat tinggal almarhum kakek buyut Daun 'kan, Ma?" Daun masih melanjutkan ucapannya. "Apa Ayah juga masih suka datang ke sana, ya? Daun pengin banget bisa ketemu Ayah—"
Kalimat itu terputus. Daun membeliak ketika melihat sepasang mata ibunya yang beriris madu, telah berkaca-kaca. Ia sontak bangkit menghampiri sang ibu, kemudian langsung memeluknya.
"Mama, maafin Daun ... Mama jangan nangis ... Daun nggak mau bikin Mama sedih ..."
Daun merasakan sang ibu balas memeluknya dengan hangat. Wanita yang baru menginjak usia kepala empat itu menggeleng pelan.
"Nggak, Nak. Daun nggak salah."
Daun baru melepaskan pelukan ketika merasakan tepukan lembut di kepala. Dilihatnya bibir sang ibu tersenyum, tetapi matanya tidak. Daun paling sedih kalau melihat ibunya seperti ini.
"Maaf, Ma. Daun nggak akan sebut-sebut lagi tentang Ayah ..."
Bahkan Daun juga mengerti kalau ibunya sedang menahan tangis. Padahal Daun tahu, pasti akan seperti ini. Namun, seringkali ia terlupa, lalu kelepasan bicara tentang ayahnya.
"Udah, udah. Daun selesaikan minumnya, terus kita beresin meja makan sama-sama. Ya?"
Sang ibu berusaha mengulas senyum, masih tampak sedih. Daun hanya mengangguk, lantas kembali duduk di tempatnya.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Suasana hati Daun masih belum seratus persen pulih hingga malam harinya. Ketika ia sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, dan tinggal membiarkan dirinya bertualang ke alam mimpi. Alih-alih, ia hanya membolak-balikkan badan dengan gelisah di atas kasur berseprai hijau itu.
Tanpa sadar, tangannya meraih ponsel di atas nakas, tepat di samping tempat tidurnya. Dibukanya aplikasi Spacebook. Dengan cepat, ditemukannya akun Solar yang ternyata masih aktif. Secercah kelegaan menghangatkan dada Daun, ia sendiri tak paham mengapa.
Kalau ada Solar, dirinya bisa curhat. Lagipula, Solar itu pintar. Dia mungkin bisa memberikan satu atau dua saran yang bagus—
Jemari Daun terhenti sebelum mulai mengetik. Kepalanya masih penuh. Tiba-tiba dia bingung harus mengatakan apa. Lagipula, kenapa dia mau mengganggu seorang teman malam-malam begini dengan masalahnya?
Rasanya itu tidak pantas.
Thorn?
Kamu masih bangun jam segini?
Tumben.
Udah jam 11 lebih, lho.
Daun tersentak ketika ruang pesan pribadinya bersama Solar mendadak terisi dengan cepat. Walaupun ragu, Daun menjawabnya juga.
Iya, nih.
Nggak bisa tidur.
Nyaris tanpa sadar, Daun menambahkan emoji menitikkan air mata di akhir kalimatnya. Solar membalas dengan cepat menggunakan emoji orang bertanya-tanya.
Kenapa?
Kamu lagi ada masalah?
Sampai di sini, Daun masih diliputi keraguan. Masalah ini terlalu pribadi. Bukan pada tempatnya untuk diceritakan kepada teman yang 'hanya' dikenal melalui internet. Tidak, tidak. Kepada teman di dunia nyata pun, Daun tak yakin apa ini pantas untuk dibicarakan atau tidak.
Thorn?
Hellooo?
Kamu nggak pa-pa?
Stiker wajah kartun lucu bermimik khawatir segera mengikuti kalimat itu. Daun tertawa kecil.
Iya, aku baik.
Maaf ya, Solar. Cuma masalah di rumah, kok.
Aku nggak bisa cerita. Tapi makasih.
Daun tersenyum. Ditambahkannya stiker kartun tersenyum pula di ruang obrolannya bersama Solar. Kali ini, agak lama tak ada tanggapan.
Kening Daun sudah berkerut-kerut, sedikit khawatir apa jawabannya tadi membuat Solar marah atau kecewa. Namun, tak lama kemudian, Solar kembali menanggapi.
Ya udah.
Tapi inget ya, kamu nggak sendirian.
Kalau nanti beneran butuh bantuan, ceritalah ke aku yang genius ini.
Nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan Solar.
Daun kembali tertawa kecil, tepat ketika Solar menambahkan stiker wajah berkacamata hitam dengan efek kilauan di sekitarnya. Memang sudah biasa mendadak kawannya bersikap over-pede begini. Akan tetapi, kadang Daun iri juga dengan pribadi Solar yang seperti ini.
Selalu tenang dan percaya diri menghadapi masalah seperti apa pun.
Oh, iya.
Omong-omong, sebentar lagi kamu ultah, 'kan?
Maksudku, kita berdua ultah.
Solar kembali memamerkan stiker berkilauan favoritnya. Selama nyaris setahun mengenal Solar di dunia maya, entah sudah berapa ratus kali dia memakai stiker itu di mana-mana.
Rasanya masih nggak percaya, kita ternyata ultah di hari yang sama.
Daun mengetikkan balasannya. Ia lantas tertawa kecil membaca reaksi Solar yang heboh sendiri. Kawannya itu tampak sudah punya segudang rencana merayakan ulang tahunnya. Dari makan bersama teman-temannya di sebuah kafe, sampai rencana nonton bareng film yang kebetulan akan rilis sehari sebelum tanggal ulang tahunnya.
"Solar kayaknya seneng banget," Daun bergumam. "Seru, ya ... Aku juga mau melakukan sesuatu yang menyenangkan."
Seolah tahu apa yang dipikirkan Daun, Solar di seberang sana mengetikkan satu pertanyaan dengan cepat.
Kalau kamu, mau ngapain pas ultah nanti?
Ditanya begitu, Daun jadi bingung sendiri.
"Hmmm ... Apa, ya?"
Daun berpikir lama. Tanpa sadar menggoyang-goyangkan kepala, hingga sesuatu terlintas di benaknya.
Aku pengiiin banget merayakan ultah bareng ayah dan adikku.
Seperti biasa, tak butuh waktu lama untuk menunggu balasan dari Solar.
Lho? Emang biasanya nggak begitu?
Eh, bentar. Kamu punya adik?
Senyum kecil terulas di bibir Daun. Namun, kali ini alis matanya menurun.
Ayah ibuku sudah pisah sejak aku bayi. Jadi sampai sekarang aku belum pernah ketemu Ayah.
Aku juga belum pernah ketemu adikku. Soalnya dulu pas pisah, aku dibawa Mama, dan adikku dibawa Ayah.
Daun kaget sendiri ketika menyadari dirinya sudah bercerita tentang hal yang sangat pribadi. Dilihatnya Solar di ujung sana tidak bereaksi. Mau tak mau, Daun menjadi cemas, jangan-jangan pembicaraan ini membuat Solar merasa tidak nyaman. Ia baru bisa sedikit lega, setelah satu menit kemudian Solar tampak kembali mengetik sesuatu.
Boleh tanya?
Berapa umur adikmu?
Kening Daun berkerut-kerut. Di antara semua hal, kenapa Solar malah menanyakan itu? Namun, pada akhirnya Daun menjawab juga.
Umurnya sama denganku.
Soalnya kami kembar.
Aku juga belum lama tahu sih, kalau ternyata punya saudara kembar.
Jadi pengin ketemu, 'kan, hehehe ...
Entah mengapa, Daun jadi berdebar-debar menunggu reaksi Solar. Kali ini pun jedanya agak lama, dan Solar hanya menulis, 'Oh ...'
Butuh semenit sampai Solar mengetikkan sesuatu lagi.
Semoga kamu bisa ketemu ayah dan adikmu ya, Thorn.
Aku yakin, adikmu pasti juga ingin merayakan ultah bersamamu.
Balasan Solar membuat senyum Daun langsung merekah. Karena inilah, Daun sangat bersyukur bisa memiliki sahabat sebaik Solar. Walaupun sebatas teman di dunia maya. Solar selalu tahu bagaimana cara menghiburnya di saat-saat seperti ini.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Baru kali ini Daun mengikuti acara kemah sampai ke luar wilayah kota tempat tinggalnya. Sampai keluar pulau, pula. Sebenarnya, ia pernah juga berkemah tak lama setelah memasuki sekolah menengah pertama. Kira-kira setahun yang lalu. Namun, waktu itu lokasi perkemahan yang dipilih masih di dalam kota.
Cyberjaya, kota tempat tinggalnya, adalah sebuah kota di negerinya yang didesain sebagai kota masa depan. Jantung kota tersebut adalah teknologi. Namun, tata kota tetap memperhatikan alam. Tak sedikit ruang terbuka hijau yang setiap saat ramai dikunjungi khalayak. Termasuk beberapa area perkemahan yang tersebar di berbagai penjuru kota.
Sampai tahun lalu, sekolahnya selalu melaksanakan kegiatan perkemahan di salah satu campsite tersebut. Namun, tahun ini rupanya berbeda. Yang dipilih malah sebuah bumi perkemahan di sebuah pulau yang seumur hidup hanya pernah dilihat Daun lewat tayangan televisi.
Pulau Rintis.
Tentu saja, Daun sangat senang. Akhirnya dirinya akan bisa mengunjungi pulau kecil nan elok itu. Kalau bukan sekolah yang mengadakan acara perkemahan itu, ia tak yakin ibunya akan rela memberi izin untuknya pergi ke tempat sejauh itu.
"Daun, kamu yakin nggak mau ikut kami jalan-jalan?"
Seorang anak perempuan teman sekelasnya tiba-tiba menegur. Daun yang sedang duduk-duduk sendirian di sebuah batu besar, spontan menoleh sembari tersenyum.
"Iya, nggak apa-apa, Melody. Kalian duluan aja. Aku sudah ada janji dengan teman."
Gadis berkuncir kuda itu menatap Daun antusias.
"Teman yang katamu dari sekolah lain itu, ya?"
Daun mengangguk.
"Ya sudah, bersenang-senanglah mumpung kita diberi waktu bebas. Kami duluan, ya!"
Melody pun berlalu bersama dua kawannya. Katanya mereka mau mengunjungi Pantai Pulau Rintis yang konon sangat indah. Lautnya sangat biru dan bersih. Sebenarnya, Daun juga penasaran ingin melihatnya. Mungkin nanti Solar mau diajak ke sana.
Tring.
Nada sederhana terdengar dari tas pinggang hijaunya. Daun mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil itu dan langsung memeriksa notifikasi pesan yang masuk dari Spacebook miliknya. Sejak tiba di Pulau Rintis hari Jumat sore, memang semua ponsel siswa disimpan oleh guru penanggung jawab mereka. Sampai sore hari berikutnya, baru saja, mereka diberi waktu bebas selama dua jam. Ponsel mereka pun dikembalikan sementara, supaya mudah untuk berkomunikasi.
"Ah, dari Solar."
Daun cepat-cepat membuka pesan yang diterimanya.
Maaf, aku agak telat. Sebentar lagi aku sampai.
Daun melirik angka-angka penunjuk waktu yang tertera di sudut kiri atas layar ponselnya. Sudah tujuh belas menit lewatnya dari pukul tiga sore. Ia dan Solar janjian pukul tiga seperempat. Memang sudah lewat dari waktu yang ditentukan.
"Tumben," Daun bergumam sendiri.
Biasanya Solar orang yang sangat tepat waktu. Apa terjadi sesuatu? Tiba-tiba Daun khawatir, jangan-jangan pertemuan pertama mereka akan gagal. Namun kemudian ia teringat, Solar berkata akan sampai sebentar lagi. Hatinya pun tenang kembali. Karena Solar juga selalu menepati kata-katanya.
Daun melompat turun dari batu besar yang didudukinya. Ia memandang berkeliling, dan hanya mendapati warna hijau di mana-mana. Rerumputan dan pepohonan. Satwa-satwa liar kecil beberapa kali terlihat. Seekor burung tiba-tiba hinggap di batu besar yang tadi dijadikan tempat duduk oleh Daun. Ia pun terpesona seketika akan keindahan burung kecil itu. Warnanya sebiru langit, dengan putih di bagian bawah laksana awan. Di daerah sekitar bawah paruhnya terdapat bulu-bulu berwarna kuning. Sedangkan ekornya berwarna hitam.
"Waah ... Cantiiik~"
Daun refleks menyiapkan kamera ponselnya. Untunglah, jaraknya dari batu itu masih cukup dekat. Ia takut lebih mendekat lagi, khawatir burung yang ukurannya tak sampai lima belas senti itu akan terkejut lalu terbang pergi.
"Ah, iya ... 'Kan bisa di-zoom." Daun masih mengutak-atik kamera ponselnya. "Oh ya, matiin suara jepretannya. Nanti dia kaget."
Beberapa saat kemudian, akhirnya Daun berhasil juga mengambil foto makhluk cantik itu. Si burung masih bergerak ke sana kemari di atas batu, memberi kesempatan bagi Daun untuk mengambil lebih banyak foto.
"Hehehe ... Nanti akan kutunjukkan ke Mama." Daun melihat-lihat hasil foto amatirannya. Tidak terlalu buruk. "Tapi ... burung apa itu, ya? Aku belum pernah lihat."
Daun mengamat-amati si burung yang masih belum beranjak. Mau diingat-ingat bagaimanapun, sepertinya memang baru kali ini dia melihat burung seperti itu.
"Ah!"
Daun terkejut ketika burung kecil itu tiba-tiba terbang. Diikutinya arah terbang si burung hingga nyaris hilang dari pandangan. Walaupun kecewa karena belum puas mengagumi kecantikan burung itu, pada akhirnya Daun tersenyum.
"Dadah, burung cantik~"
Daun melambaikan tangan sejenak. Sepasang matanya masih berada di arah terbang burung biru.
"Cyornis turcosus, atau biasa disebut Malaysian blue flycatcher."
Daun tersentak ketika mendengar seseorang tiba-tiba sudah berbicara di belakangnya. Rasanya sangat dekat.
"Nama burung itu," orang tadi melanjutkan ucapannya. "Selain di sini, burung itu juga ada di Brunei, Indonesia, dan Thailand."
Daun cepat-cepat membalikkan badan. Dan di sana, hanya tiga langkah di depan, kini berdiri seorang pemuda sebayanya. Mengenakan kemeja putih dipadu sweater kelabu, berkacamata, dengan sebuah headphone hitam terpasang di kepala.
"Ah. Kalau orang awam, biasa menyebutnya Burung Sambar Biru Malaysia. Kita beruntung bisa melihatnya di sini. Kudengar spesies ini sudah mulai terancam punah karena kehilangan habitatnya."
Pemuda itu masih melanjutkan penjelasannya. Ia tersenyum samar, sementara Daun masih terpaku di tempatnya berdiri. Orang yang tiba-tiba menyapanya di tempat perjanjian ini. Orang yang suka tiba-tiba memberi info random tentang pengetahuan umum yang seringkali tidak terlalu umum. Tidak salah lagi. Daun bisa menebak dengan mudah siapa dia. Tapi ...
"Hei, kok bengong? Ini aku. Maaf ya, kamu sudah menunggu lama?"
Benar, 'kan?
Memang dia, 'kan?
Tapi kenapa ...? Kenapa wajah yang dilihat Daun di hadapannya saat ini, bagaikan dirinya ketika melihat ke dalam cermin?
"S ... Solar ...?"
Daun masih penuh keraguan, juga kebingungan, ketika akhirnya menyebut nama itu. Pemuda di hadapannya masih tersenyum tipis. Sepasang mata cokelat madunya yang tajam tampak penuh keyakinan dan percaya diri.
"Akhirnya kita bertemu, ya ... Thorn."
.
.
Bersambung ...
.
.
.
* Author's Note *
.
Hellooo, haiii~
Akhir-akhir ini ramai ya, di sini. Aku senang~ :-D
Tentang fic ini, tadinya memang dibuat untuk ulang tahun BoBoiBoy ... yang telat pakai banget sih, baru publish sekarang. XD *maafkan saya*
Tadinya cuma mau bikin one-shot. Tapi pas ditulis, jadinya kepanjangan, ceritanya pun terus berkembang. Kupikir sayang kalau nggak dilanjutkan. Akhirnya kuputuskan untuk dibuat miniseri. Rencananya paling banyak empat atau lima chapter aja, kok.
/jedotin kepala ke bantal karena baru saja nambah utang/
Baru chapter 1, lumayan juga risetnya, nih. Untuk kota tempat tinggal Thorn (alias Daun) dan Solar (yang entah siapa nama aslinya), aku memilih dua kota yang beneran ada di Malaysia. Dan entah kenapa jadi harus riset tentang burung sambar biru juga~ XD *tabok Solar*
Oh ya, special thanks buat Meltavi yang udah kasih ide cerita. Tanpamu tidak akan tercipta kisah ini. uwu
Akhir kata, met ultah buat Dek Boi tertjintah beserta seluruh elementalnya. Semoga makin keren, makin cakep, dan makin terbaik~ *kasih jempol*
.
Regards,
kurohimeNoir
02.04.2020
