Jungkook hanya melangkah keluar dari Royce Royal miliknya. Seragam mewah elit BH Global mungkin hanya berefek padanya saja, terbukti siswa lain tidak terlihat semenawan dirinya.

Ia merapikan rambutnya sesaat, sembari menunggu pangeran kecilnya keluar mobil.

Pantat sintal, bahu sempit dan wajah batita Jimin selalu membuat Jungkook jumawa akan kepemilikkannya atas Jimin. seseorang yang mungkin hampir seluruh siswa BH Global menginginkannya.

Jimin terlihat sibuk dengan tas dan sepatunya.

"Sudah Mina, ayo cepat" Jungkook mengulurkan tangannya sedari tadi, menunggu tangannya disambut oleh Jimin.

"Tunggu, aku mencari hand sanitizer dulu, Junggo. Sepertinya tertinggal" Ia kemudian mengecek sepatunya "Junggo, ada semir sepatu engga? dimobil?"

"Tepuk-tepuk saja mina"

"Tidak mau, tanganku nanti kotor"

"Aku ambilkan ke rumahmu atau kubelika-

"Belikan saja di minimart belokkan gerbang" Potong Jimin buru-buru.

"Yasudah. Sekarang masuk kelaslah duluan, aku menyusul"

"Tidak mau, Junggo. Sepatuku kan masih kotor"

"Mina..." Jungkook menatap Jimin pasrah. Dengan bibir yang mengerucut keras, Jimin mengangguk. Ia masuk kelas lebih dulu. Jungkook memutar balik mobilnya.

.

.

.

.

.

Jimin menjadi pusat perhatian seantero BH Global ketika Ia tidak didampingi oleh Jungkook. Jungkook bagaikan perisai alami dari dalam tubuh Jimin, mengapa kali ini Ia tidak bersama Jungkook?

Layaknya anak itik yang baru bisa berjalan, Jimin melangkahkan kaki kecilnya kikuk.

Semua ini karena sepatu yang menurut Jimin termasuk kategori kotor itu membuatnya seakan terperosok menjadi satu level dengan siswa BH Global lainnya.

Jimin tidak pede. Ini bukan dirinya, menurutnya.

Raut wajahnya masih sangat suram setibanya Ia didalam kelas. Siswa lain sibuk masing-masing. Jimin tidak mengkhawatirkan teman satu kelas eksklusif-nya karena hanya 10 orang, dan menurut Jimin tidak kampungan seperti kelas normal di lantai-lantai bawah. Ia memilih memainkan ponsel, menunggu Junggo-nya.

.

.

.

.

.

Didalam ruang makan VIP BH Global yang biasanya hanya digunakan oleh guru dan siswa-siswa berpengaruh, Jungkook sedang asyik membaca buku tari kontemporer yang selalu Jimin pelajari. Ia mengunyah sembari mengangguk-angguk serius.

"Simpan dulu bukunya, Junggo" Jimin mengusap remah croissant di ujung bibir tipis Jungkook.

"Sepertinya aku akan fokus dan mengambil kelas tari kontemporer setelah semester ini habis, deh"

"Yang penting serius, Junggo. Bukan karena ada aku dikelas itu"

"Itu pun termasuk"

Jungkook mengusap bahunya setelah dicubit Jimin. Keduanya tertawa singkat.

"Ah ya, Mina. Ada invitation dari alumni BH malam ini, khusus untuk kelas kita" Jungkook memijat-mijat pundak Jimin, kebiasaan.

"Hanya kelas A saja, kan?"

"Ya, Mina. Tempatnya pun di bar hotel BH. Aku tahu kamu. Jika untuk seluruh siswa BH, aku tak akan berniat mengajakmu sayang"

Jimin terdiam, tampak berfikir sejenak.

"Ah sebentar Junggo, aku ingin ke toilet" Jimin buru-buru melepas tangan Jungkook dari bahunya, dan tergesa menuju toilet.

Didalam, Jimin cepat-cepat menghubungi nomor yang sering sekali ia hubungi.

Hanya perlu 3 detik hingga orang diseberang telepon menjawabnya.

"Ada apa Jimin-ah?"

"Hyung, hyung sedang dimana? apakah pekerjaan dirumah Honey agassi sudah beres? ngomong-ngomong, bisa tidak bayaran dari manajer Ha diambil hari ini? bulan depan kan Ia tidak meminta jasa lagi. Hyung mintakan yah? sekarang Hyung"

Seakan terbiasa dengan yang didengarnya, Suga hanya menjawab pasrah dan datar.

"Jimin-ah, hari ini ada kegiatan apa lagi di sekolah? Hyung tidak ada muka untuk meminta bayaran dari manajer Ha, Jimin. Bukan seperti itu prosedurnya..."

Detik berikutnya suara disebrang sana meninggi, memaki, hingga terisak. Suga lagi-lagi seolah terbiasa.

"Yasudah, jangan menangis ya. Hyung mintakan uangnya segera. Tapi nanti pulang sekolah tidak akan kemalaman, kan? pastikan Jungkook mengantarmu ya. Kali ini harus antar sampai rumah ya, Jimin-ah"

'Berisik. selalu saja antar sampai rumah, antar sampai rumah. Tak akan pernah aku biarkan Jungkook menapakkan kaki ketempat kumuh seperti itu. Cepat kirim uangnya dan jangan berkata dengan nada merajuk anak kecil yang rewel!'

Setelah beep berikutnya, Suga menutup ponsel flip-nya setelah ditatapnya nanar layar dengan wallpaper Jimin ketika Ia berumur 3 tahun. Air muka Suga sangat kacau, tapi ia terbiasa dengan raut wajah yang dibalut dengan berbagai macam fikiran.

Ia pergi menuju ATM terdekat dengan gontai.