BoBoiBoy Galaxy belongs to Monsta Studio. Saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari fanfiksi ini selain kepuasan pribadi(?)

Rate: M (Menjengkelkan)

Genre: Horror (Horre kamu kotor~)

Warning: AU, Elemental Siblings, bikin PwP (Panas woe panas), eyd, dan…ah kayak yang nggak tahu sama saya aja ihihihihihi *dibuang*

.

.

.

Silahkan dibaca~~~ (but don't expect to much okay?)


"Semuanya sudah berkumpul?" Boboiboy Gempa bertanya pelan.

"Sudah. Kita sudah berenam di sini," si bungsu Solar yang menjawab.

"Hoaam…cepat segera selesaikan karena aku ngantuk," timpal Ice sambil menguap.

"Kau ini…kita di sini kan mau merancang strategi pertahanan untuk besok. Memangnya kau nggak mau bertahan hidup?" protes Blaze, sang partner yang identik dengan api.

"Iyaa…maksudku segera percepat karena ini sudah jam dua malam, dan gudang ini bau," sahut Ice malas. Dipeluknya boneka beruang kutubnya lebih erat untuk melindungi penciumannya dari bau apek barang-barang bekas.

"Memangnya tidak ada tempat lain buat kita untuk 'rapat' ya?" tanya Solar.

"Ada. Kalau mau diciduk Tok Aba karena masih bangun jam segini," Halilintar, sulung kembar Boboiboy menyahut sarkastik.

"Tok Aba kita ajak ikut diskusi aja gimana?" usul Thorn dengan polosnya.

Sayang sekali, Halilintar tidak bisa berkutik jika itu Thorn yang bersuara.

"Sudah, sudah, sekarang kita kembali ke intinya," lerai Gempa sebelum saudara-saudaranya makin salah fokus. "Dengar, selama tiga tahun sebelumnya siapa yang belum menjadi korban'nya'?" tanyanya serius.

Kelima Boboiboy yang lain tidak ada yang menjawab, Gempa yang sudah menduga kemudian menghela napas.

"Selama tiga tahun, kita semua kena kan? Tepat hari ini," gumamnya.

Suasana gudang penyimpanan barang yang sempit dan gelap itu kembali sunyi, hanya ada suara tiupan angin malam yang terdengar menghantam loteng.

Jika kalian penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh para manusia kembar ini, dan kenapa mereka hanya berenam, itu karena saat ini objek diskusi panas mereka adalah saudara mereka, Boboiboy dengan nomor urut dua, berelemen angin, dan selalu membawa skateboard kapanpun dan di manapun.

Kenapa mereka bersembunyi dari dia?

Karena hari ini adalah tanggal satu april, lebih tepatnya, hari april mop.

Tentu saja semua orang sudah tahu apa itu april mop kan?

Percayalah, april mop + Boboiboy Taufan adalah kombinasi penghancur paling mengerikan yang pernah kalian bayangkan.

"Menurut kalian yang mana yang paling parah selama tiga tahun ini?" tanya Gempa.

"Dua tahun yang lalu," Halilintar berucap duluan, wajahnya yang tadinya kusut jadi makin kusut, "Si brengsek itu menaruh bangkai kecoa di dalam seragam karateku,"

Kelima Boboiboy yang lain sontak ber-'idih' ria dalam diam.

Halilintar merengut, masih sangat segar di ingatannya mengenai bagaimana bangkai serangga menjijikkan itu meluncur turun dari celananya. Akibatnya, lawannya saat latih tanding waktu itu syok, pingsan, berakhir dengan Halilintar yang menang mutlak bahkan sebelum menyerang.

Hina.

Itu yang Halilintar rasakan kala itu.

"Aku juga sama, dua tahun yang lalu Taufan menukar bekal makan siangku dengan makanan Cattus," Gempa menyambung, merinding sendiri mengingat bagaimana dia melahap roti isinya waktu itu sebelum menyadari isi dari rotinya bukan telur dan selada, tapi cincangan kepala ikan rebus yang lengket dan berbau.

Mana mungkin Gempa melupakan kejadian yang membuatnya muntah satu hari dua malam dan jadi trauma sama Cattus selama dua minggu?

"Tahun lalu…Taufan memberiku tiket bioskop, tapi ternyata itu tiket yang kadaluwarsa. Aku hampir ditendang sama satpam di sana karena dibilang membuat keributan…yah memang aku sempat emosi dan hampir membakar rambut si tua itu sih…" Blaze bergumam, terlihat suram.

Semenjak hari itu Blaze tidak lagi mau pergi nonton bioskop sendirian.

"Ice bagaimana?" tanya Blaze kemudian.

"Taufan mengunciku dalam kamar seharian," jawab Ice lempeng.

"Hah?" Gempa tentu saja syok mendengarnya.

"Pantas saja tahun lalu selama satu hari Ice nggak pernah keluar kamar," komentar Solar, sempat berpikir hari itu mungkin Ice overdosis es krim atau semacamnya.

"Kenapa kau tidak berteriak?" tanya Halilintar.

"Malas. Lagipula di kamarku masih ada stok makanan," jawab Ice santai.

Keempat saudaranya (karena Thorn tidak termasuk) hanya bisa sweatdrop. Ice malah terlihat senang karena sudah diperlakukan seperti itu.

"Thorn gimana?" Solar memutuskan untuk beralih topik.

"Mmm…nggak ingat banyak sih, tapi tahun lalu Taufan mengajakku ke toko hewan," jawab Thorn sambil tersenyum, "Taufan bilang aku akan dibelikan kucing baru, tapi pas aku lagi lihat-lihat jenis kucingnya, tiba-tiba banyak ular plastik berjatuhan dari atas dan mengenai kepalaku. Hahahaha," Thorn menjelaskan sambil tertawa.

Sekali lagi, para Boboiboy sweatdrop. Tidak habis pikir kenapa Thorn bisa menertawakan peristiwa yang membuatnya pingsan selama hampir enam jam tersebut.

"Oke…kalau aku…" Solar melanjutkan sebelum ditanya, "Dua tahun yang lalu, Taufan mendatangi laboratoriumku. Yah, memang aku sih yang minta tolong karena aku sedang butuh elemen angin. Tapi Taufan malah memasukkan terlalu banyak elemen ke dalam senjata baruku sampai benda itu overdosis energi kemudian meledak," jelasnya panjang lebar dengan wajah sedih yang dilebih-lebihkan.

"Solar…" Gempa menatap prihatin. Pasti miris rasanya apa yang sudah kita kerjakan berjam-jam malah dihancurkan begitu saja sama orang lain.

"Senjatanya sih nggak masalah, toh aku jenius jadi aku bisa bikin lagi. Tapi…gara-gara ledakan itu, jaket kece kesayanganku jadi koyak! Sampai sekarang masih terasa sakitnya hati ini…" Solar berucap makin dramatis sambil memegang dadanya.

Sweatdrop berjamaah kembali terjadi.

"Ceh, bocah ini…" Halilintar mendengkus, menyesal karena sempat merasa kasihan tadi.

Tapi curhatan singkat masing-masing tadi jadi membuat mereka sadar april mop benar-benar hari yang berbahaya untuk kesejahteraan hidup mereka.

Karena khusus hari itu, Boboiboy Taufan yang biasanya memegang prinsip "Aku jahil karena aku ingin kalian tersenyum" akan berubah menjadi "Aku jahil karena aku ingin tersenyum".

Tahun lalu para Boboiboy sempat berencana akan membalas, tapi ternyata memang percuma saja karena mau mereka berenam sekalipun, menjahili Boboiboy Taufan itu sama saja dengan mencoba menangkap angin.

Mustahil.

"Oke, jadi kita semua sudah pernah diberikan trauma sama Taufan, benar? Kita harus membuat perubahan tahun ini," tukas Gempa.

"Tapi apa? Kita tidak bisa membalasnya," tanya Solar.

"Well…bagaimana kalau sebisa mungkin, kita jangan percaya, jangan ikuti, dan jangan lakukan apa yang diminta Taufan," jawab Gempa.

"Hanya itu?" tanya Blaze.

"Untuk saat ini, hanya itu. Semuanya clear?" ucap Gempa.

"Baiklah. Kalau memang itu bisa membuat kita semua terhindar dari incarannya," Solar mewakili persetujuan Boboiboy yang lain.

"Halilintar ada tambahan?" tanya Gempa sebelum menutup rapat darurat mereka.

"Tidak. Tapi kita juga tetap was-was pada sekitar karena di hari april mop, tidak banyak orang yang bisa kita percaya," sahut Halilintar serius.

"Oke. Kurasa semuanya sudah, kalau begitu sekarang kita kembali ke kamar masing-masing tapi bergiliran," tukas Gempa, jaga-jaga supaya tidak memancing keributan dan kecurigaan.

"Siap!"

Jam dua lebih dua puluh tiga menit dini hari, akhirnya keenam Boboiboy sudah sepakat untuk tetap bertahan hidup selama hari pertama bulan april.

Apapun yang terjadi, mereka tidak akan membiarkan Taufan menang tahun ini!

.

.

.

Rabu, 01 April, 7.12.A.M.

"Selamat pagi~"

Halilintar yang baru saja selesai menghidangkan sarapan di atas meja reflek menoleh, mendapati adik pertamanya yang sudah siap dengan seragam serta jaket biru-putih, tengah berjalan ke arah ruang makan sambil tersenyum.

Senyum Taufan seperti biasa, tapi Halilintar selaku korban 24/7 tentu tidak akan semudah itu tertipu.

Aku tidak akan jatuh pada tipuanmu kali ini, kipas angin karatan sialan.

Selama sarapan, suasana hening. Hanya ada suara dentingan peralatan makan yang menyentuh permukaan piring.

"Tumben Blaze diam saja? Thorn juga nih…" Taufan membuka pembicaraan setelah menegak setengah isi jus jeruknya.

"Lagi makan kan emang nggak boleh ngomong, Fan," sahut Blaze sesantai mungkin.

"Hee…" Taufan menyendok nasi gorengnya, "Akhirnya kau paham juga. Berapa lama waktu yang Gempa butuhkan untuk mendisiplinkanmu sampai begini? Hahahaha," komentarnya sambil tertawa.

Tidak ada yang merespon.

Semuanya terlalu sibuk memikirkan apa yang akan si topi miring ini lakukan pada mereka selanjutnya.

"Aku selesai," Ice beranjak membawa piring bekasnya ke tempat cucian, baru kemudian melangkah pergi dari ruang makan tanpa berkata apa-apa.

"Aku juga," Solar, disusul Blaze buru-buru menyusul saudara mereka yang kelima setelah sempat berebut meletakkan piring kotor.

Halilintar, Thorn, dan terakhir Gempa, juga ikut pergi tanpa banyak cakap setelah membereskan peralatan makan mereka.

Taufan, yang selesai makan paling akhir hanya memiringkan kepala, gagal paham.

"Mereka buru-buru kenapa sih?" gumamnya bingung.

.

.

.

April mop, hari di mana orang-orang melontarkan kebohongan, candaan, kejahilan, dan semacamnya semata-mata hanya untuk bercanda.

Di SMP Pulau Rintis sendiri, sebagian besar muridnya merayakan hari itu. Entah itu menjahili guru, menjahili satu sama lain, atau malah menyebarkan kabar hoax ke teman-teman sekelas.

Baru kemudian beberapa saat setelah semua heboh, orang yang berbuat jahil akan berteriak 'April mop!' sebelum ditertawakan sambil dilempari apapun yang bisa dilempar oleh para 'korban'.

Sekolah, adalah tempat berperang yang sesungguhnya.

"Hali~"

Halilintar yang baru cari angin karena kelasnya sangat berisik di jam kosong, menoleh dengan tidak ikhlas ke arah adik pertamanya yang tampak meluncur menggunakan skateboard dari ujung lorong.

Sebenarnya itu dilarang, tapi yah…ini Taufan.

"Apa?" Halilintar merespon ketus.

"Dih, masih pagi udah cemberut," Taufan melompat santai dari skateboardnya. Tangan kanan si pemuda kemudian merogoh kantung jaket biru tua khasnya.

"Nih," Taufan kemudian menyerahkan kantung plastik bening, yang tampak di dalamnya potongan-potongan biskuit merah-hitam berbagai bentuk.

"Apa ini?" tanya Halilintar curiga.

"Kesemek. Udah jelas biskuit, masih ditanya," Taufan sok ngambek, dan Halilintar hanya memutar mata sebagai respon.

"Kan minggu lalu kau bilang bosan dengan rasa biskuit yang biasa kubuat, jadi kemarin aku mengembangkan lagi resepnya. Ini Butterstorm. Dijamin menggigit lidah," jelas Taufan panjang lebar ala salesman obat-obatan.

"Hoo…" Halilintar tidak terlihat senang, manik merah itu malah memicing, curiga.

"Aku masih ada kelas Papa Zola abis ini, ini habisin dan kasih pendapatmu oke?" Taufan kemudian langsung meletakkan kantung biskuit tersebut ke telapak tangan Halilintar tanpa menunggu persetujuan dari sang kakak.

"Yak, aku harus pergi. Jangan lupa review ya~" setelah mengucapkan itu, pemuda biru tua itu berbalik kemudian meluncur dengan skateboard menuju kelasnya.

Tidak patut untuk ditiru, oke?

"…" Halilintar terdiam untuk beberapa saat. Dipandanginya kantung berisi biskuit tersebut dengan bimbang.

Haliskuit, adalah satu-satunya jenis biskuit yang benar-benar disukai Halilintar, dan hanya Taufan yang cukup ahli memuaskan selera makan tidak wajar pemuda petir ini.

Halilintar menggigit bibirnya, denial.

Kalau saja ini bukan tanggal satu april, biskuit-biskuit itu pasti sudah tandas pindah ke lambungnya.

Halilintar menggelengkan kepala, sudah hapal mati betapa kurang ajarnya adik pertamanya itu di hari april mop.

Dan Halilintar yakin, tahun ini juga sama.

Tidak menutup kemungkinan yang terkandung dalam biskuit ini malah susu cokelat, gula, dan permen dengan dosis berlebihan kan?

Taufan pasti berniat membuatnya kena sugar rush.

"Bodo ah!" dengan berat hati, Halilintar melempar kantung biskuit yang belum dibuka itu ke tempat sampah terdekat, alias yang sekitar seratus meter di belakangnya.

Jangan tanya, masuk dengan mulus kok.

"Kali ini aku tidak akan termakan tipuanmu, Kipas Angin brengsek…" Halilintar memutuskan untuk beranjak pergi dengan wajah makin tertekuk.

.

.

.

Singkat cerita karena tidak ada yang penting yang harus dibahas, akhirnya jam istirahat pertama.

"GemGem~!"

"Hwaa!" Gempa reflek menjatuhkan tumpukan berkas yang dibawanya dari ruang OSIS. Pemuda itu baru akan mengantar benda-benda ini ke ruang guru dan mungkin akan berjalan lancar kalau saja kakak kedua tidak muncul tiba-tiba di depan wajahnya.

"Taufan," Gempa hanya menghela napas pasrah kemudian memunguti berkas-berkasnya yang jatuh sebelum sempat disentuh oleh kakaknya.

Antisipasi…

"Sori, sori~" cengir Taufan tanpa rasa bersalah, "Aku cuma mau menyampaikan pesan dari Hanna,"

Mendengar nama seorang gadis yang sudah sangat tidak asing itu, Gempa segera mengangkat kepalanya, menatap Taufan tak percaya.

"Udah, jangan melotot gitu," Taufan tertawa, adiknya yang satu sungguh menggemaskan kalau sudah seperti ini.

"Hanna bilang ada yang mau dia bicarakan denganmu, jadi sore ini selesai kelas kau temui dia di taman belakang sekolah, oke?"

Gempa masih terdiam, mencoba mencerna kalimat yang barusan dilontarkan kakak keduanya.

"Sudah ya. Aku tahu kau senang akhirnya dinotis, tapi berkas-berkas itu tidak akan berjalan sendiri ke ruang guru loh," Gempa kembali cemberut mendengar Taufan tertawa setelah menggodanya.

"Bye~" Taufan kemudian beranjak pergi setelah melambaikan tangannya.

Gempa menatap punggung berbalut jaket biru tua sang kakak dengan ragu. Hari ini Taufan terlihat aneh.

Ini april mop kan?

"Tidak, tidak, tidak, aku tidak boleh tertipu," Gempa dengan cepat menyugesti dirinya sendiri. Paham betul kemampuan memanipulasi ekspresi kakak keduanya itu sudah di luar nalar manusia biasa.

"Mana mungkin Hanna mau bicara berdua denganku? Aku menegurnya pasal hal di luar OSIS saja nggak pernah…huh," Gempa akhirnya dengan sendu melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru.

Meski sudah tahu ini bohong, tetap saja Gempa merasa sakit karena lagi-lagi teringat pasal gadis yang selalu diperhatikannya dari jauh sejak kelas satu.

"Ck, Taufan nyebelin…" dan itu cukup membuat Gempa tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat.

.

.

.

"Blaze, aku mencarimu ke mana-mana loh,"

Blaze yang sedang duduk di taman sekolah sendirian sambil memainkan sesuatu di gawainya langsung merinding, bagaikan ada angin yang tiba-tiba menerpa tengkuknya.

"T-taufan ya? Ada apa…?" Blaze sebisa mungkin untuk terlihat biasa. Bagaimanapun juga dirinya tidak mau berlama-lama melakukan kontak dengan kakak keduanya ini.

Karena meski sesama anggota Troublemaker Trio, tidak ada jaminan dirinya tidak akan jadi korban.

"Aku mau ngasih tahu, ini aku barusan reroll dengan akun baru kan. Terus aku berhasil dapetin SSR Card yang kau incar itu!"

"Hee?!" Blaze terlonjak dari posisi duduknya, iya berlebihan memang.

"M-maksudnya…SSR Jiro?" tanyanya memastikan.

"Bukan hanya itu," Taufan menunjukkan ponselnya, di mana terpampang nyata wujud kartu SSR seorang pria berjas dan memakai kacamata.

Blaze yang melihat kenyataan itu seketika ternganga dengan mata tak berkedip.

"Aku dapat dua sekaligus. Hanya saja…aku kan nggak ngincer yang ini terus kalau dibuang juga sayang, jadi aku rasa aku mau berikan padamu saja," jelas Taufan.

"Taufan…" Blaze berkaca-kaca, terharu. Selama ini dia memang sudah melakukan lebih dari dua puluh kali reroll tapi kartu yang dia inginkan belum juga didapat.

"Gimana? Aku bisa kirim kode dan passwordnya sekarang kalau kau mau," tawar Taufan.

Kalimat 'Iya! Berikan padaku!' sudah tinggal seujung lidah sebelum benar-benar disuarakan oleh Blaze, namun sedetik kemudian pemuda itu teringat pesan kakak ketiganya.

Jangan percaya apapun yang dikatakan Taufan selama tanggal satu april.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Blaze bak sugesti. Akhirnya setelah terdiam selama beberapa detik, Blaze menghela napas, manik jingganya yang tadi membara mulai meredup.

"Nanti aja deh, Fan. Aku…mau mencoba mendapatkan mereka sendiri saja," tolak Blaze.

"Hee? Tumben," Taufan mengerjap dengan polosnya, "Yakin nih?"

"Iya. Tapi makasih ya," Blaze tersenyum meski saat ini hatinya menangis.

"Ya udah deh. Kalau gitu aku balik ke kelas dulu ya, semangat!" Taufan akhirnya undur diri, meninggalkan Blaze yang kembali fokus pada ponselnya.

"Hiks…tunggu saja Jiro, Jyuto…aku pasti akan merebut kalian dengan tanganku sendiri…" Boboiboy dengan elemen api itu bergumam diselingi air mata kebenaran.

.

.

.

Jam istirahat kedua adalah waktu yang sangat dinantikan oleh Ice. Kenapa? Karena biasanya di jam itu murid-murid kelas II-B yang lain akan pergi bermain di lapangan atau jajan.

Dengan kata lain, kelas akan kosong.

Waktu yang tepat untuk Ice melakukan 'Me Time'nya alias tidur.

"Ice, kau masih bangun?"

Seharusnya seperti itu, tapi sayang angin topan datang terlalu cepat.

"Apa sih, Fan…?" Ice dengan ogah-ogahan mengangkat kepalanya dari bantal yang biasa dia simpan di dalam laci meja.

"Aku punya kupon untuk makan gratis di Ais Ais Kassim yang hanya berlaku hari ini. Kau mau ke sana bersamaku?" tawar Taufan.

Ice melek seketika.

"Ais Ais Kassim…?" pemuda biru muda itu bergumam dramatis.

"Iya~ kau suka es krim di sana kan? Pas banget nih, kuponnya berlaku untuk dua orang," jelas Taufan heboh.

Ice menelan ludah, ingin sekali dia berkata 'iya', tapi…

"Maaf, Fan. Hari ini pass," gumam Ice dengan berat hati dan juga berat badan dijadiin satu.

"Loh kenapa? Tumben banget Ice nolak es krim gratis," tanya Taufan bingung.

"Lagi nggak pengen aja," Ice kemudian kembali membenamkan wajahnya ke bantal.

"Aneh…" Taufan akhirnya beranjak dari tempat duduknya, "Ya udah deh. Aku ajak yang lain aja kalau gitu. Dah," pamitnya sebelum menghilang di balik pintu.

"Hiks…tega sekali dia menggunakan Ais Ais Kassim…tempat sakralku…" Ice akhirnya hanya bisa menangisi es krim kesayangannya dalam sepi, di mana tidak ada yang mengetahui, sakitnya isi hati.

Hey, berirama.

.

.

.

"Aneh sekali. Kenapa Blaze dan Ice menolak pemberianku ya…" Taufan yang sedang bermonolog ria, kembali memasang senyum melihat dengan siapa dia berpapasan.

"Yahoo, Thornie~" sapa Taufan penuh keceriaan.

"Hai juga, Taufan. Mau ke mana?" balas Thorn tak kalah ceria.

"Lagi menghabiskan waktu aja. Kau sendiri gimana?" tanya Taufan.

"Aku mau ke rumah hijau. Aku mau nanam bibit baru," jawab Thorn sambil menunjukkan kantung kecil berisi bibit yang digenggamnya.

"Oh! Aku boleh ikut nggak? Gabut nih," tanya Taufan antusias.

"Beneran mau?" Thorn jadi ikut antusias.

"Ah! Aku jadi ingat, aku punya tips berkebun yang mau aku tunjukkan padamu. Aku nemu ini kemarin di MeTube, dan nggak banyak orang yang tahu," jelas Taufan.

"Waah…kedengarannya menarik," baru saja Thorn mau mengiyakan, 'sugesti' kakak ketiganya kemarin membuat binar di manik hijaunya meredup.

"Umm…maaf ya, Taufan. Kayaknya hari ini nggak bisa. Klub berkebun mau ada rapat penting soalnya," tolak Thorn halus.

"Iya kah? Sayang banget…padahal metode ini ampuh," desah Taufan kecewa.

Thorn semakin tergiur untuk mengajak kakak keduanya berkebun, tapi segera dienyahkan pikiran itu karena Thorn tetap tidak mau mengambil risiko mempertaruhkan keselamatan 'anak-anak'nya di rumah kebun yang damai.

"N-nanti aja ya, Taufan. Oh, aku pergi dulu," Thorn buru-buru pamit sebelum dirinya berubah pikiran.

Taufan yang ditinggal pergi begitu saja hanya bisa mengerjap sambil memiiringkan kepalanya, gagal paham.

"Sudah kuduga memang ada yang aneh…" gumamnya curiga.

.

.

.

"Oke, semuanya beres," Solar menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya dengan sapu tangan setelah selesai membereskan peralatannya di laboratorium.

"Hmm hmm. Aku memang jenius tiada duanya. Wahahaha," setelah berkaca sambil memuji dirinya sendiri selama sepuluh menit, bungsu Boboiboy tersebut kemudian beranjak keluar lab dengan penuh percaya diri.

"Yo, SolSol~"

Solar reflek melompat ke belakang bak capung yang mau ditangkap cicak.

"T-taufan?" Solar merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya gagap di sini.

"Ngapain?" tegur Taufan.

"Err…habis bereksperimen…?" Solar balas bertanya.

"Hahahaha, tipikal Solar," Taufan tertawa seperti biasa, sedangkan Solar sedang berusaha menghitung kemungkinan dirinya bisa kabur dari tornado tak terlihat di depannya.

"Solar, hari ini kau luang?" tanya Taufan setelah puas tertawa.

"Eh? Memangnya kenapa?" tanya balik Solar.

"Mmm…aku bosan. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," jawab Taufan ceria.

"Oh…" Solar dalam hati merasa tersanjung, Taufan lebih memilih dirinya ketimbang si sulung yang biasanya selalu ditempeli oleh kakak keduanya itu.

Tapi…

"A-aku masih ada penelitian yang harus dikerjakan, jadi maaf nggak bisa hari ini," tolak Solar.

"Hee? Nggak bisa dipending?" Taufan terlihat kecewa, dan Solar dalam hati menjadi merasa bersalah, tapi bagaimanapun dia tidak mau fashion kesayangannya dihancurkan oleh si topi miring ini lagi.

"Nggak bisa. Maaf ya," ucap Solar pelan.

Taufan menghela napas, "Ya sudah deh. Kalau gitu besok-besok aja ya," Taufan kembali tersenyum kemudian berbalik.

Solar menatap kepergian kakak keduanya itu dengan penuh rasa bersalah.

Sayang sekali, rasa khawatirnya akan badai menerjang lebih besar ketimbang perasaan ingin menghabiskan waktu bersama saudara.

"Yah…masih ada hari esok juga," gumam Solar pasrah.

.

.

.

Jam sekolah sudah berakhir, tanggal satu april mulai memasuki malam hari. Tepatnya jam delapan malam.

"Taufan mana?" tanya Gempa.

"Kayaknya sih belum pulang. Hari ini memang ada jadwal meeting club skateboard sih," jawab Solar.

"Begitu yah…" Gempa menghela napas, mendudukkan dirinya di sofa panjang yang berhadapan dengan televisi yang tidak menyala.

"Bagaimana hari kalian?" pemuda dengan topi terbalik itu memulai pembicaraan.

"Aman. Sejauh ini, tidak ada masalah sih," jawab Blaze.

"Hanya saja…"

"Aku tahu," Gempa menyambung kalimat Thorn, "Taufan mendatangi kita semua. Aku yakin ada maksud tersembunyi di balik itu," ucapnya.

"Huh, dan dia pasti masih merencanakan sesuatu malam ini," timpal Halilintar.

"Berburuk sangka itu tidak baik, Hali. Tapi…aku rasa kali ini aku setuju," sahut Gempa.

Para Boboiboy akhirnya sepakat dalam diam, untuk tetap terus mempertahankan 'tameng' mereka.

Masih ada sekitar empat jam sebelum april mop berakhir, yang berarti jalan mereka menuju keberhasilan juga semakin dekat.

Keberhasilan mempertahan diri dari incaran Boboiboy Taufan…

.

.

.

"Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam…" Gempa yang membalas salam Taufan yang baru kembali dari bepergiannya.

"Kenapa baru pulang?" tanya Gempa.

"Maaf, tadi ada sedikit masalah di klub, terus aku juga sempat mampir untuk makan es krim, tapi malah kebablasan sampai jam segini," sahut Taufan watados.

Keasyikan bermain benar-benar membuatnya lupa dan akhirnya baru bisa sampai di rumah hampir jam sembilan malam.

"Ya sudahlah. Makan malam jatahmu ada di lemari, panaskan saja sendiri," Gempa kemudian beranjak dari sofa, menolak untuk melakukan kontak terlalu lama dengan kakak keduanya itu.

Taufan yang ditinggal begitu saja tentu merasa bingung dengan tingkah tidak biasa adik pertamanya tersebut.

"Dia ngambek ya…?" tanyanya pada diri sendiri.

.

.

.

Malam terus berlalu, para Boboiboy beraktivitas seperti biasa, terkecuali ada perbedaan yang menonjol di mana enam dari mereka sering terlihat tegang dan was-was menengok jam dinding.

"Setengah jam lagi…" gumam Ice dengan mata setengah tertutup.

Kali ini, keenam Boboiboy berkumpul di ruang tamu setelah memastikan 'target' yang mereka hindari sudah terlelap di kamarnya.

"Sejauh ini kita belum mengalami apapun kan?" tanya Gempa memastikan.

"Tidak ada. Yah, aku rasa kita terlalu parno hari ini tapi itu sepadan," jawab Solar.

Halilintar mendengkus, tidak sabar ingin melihat wajah kecewa Taufan yang gagal menjahili mereka tahun ini.

Lihat siapa yang akan tertawa nanti, Kipas Angin Gesrek…

"Aku ngantuk…" Ice hampir menjatuhkan dirinya di sofa jika tangan Blaze tidak sempat menahannya.

"Sabar, Ice. Kita tidak boleh tidur sebelum tanggal satu selesai," bujuk Blaze.

"Mou…ini ngerepotin…" keluh Ice yang sudah ngantuk setengah mampus. Ini sudah jauh melewati jam tidurnya, ngomong-ngomong.

Gempa menelan ludah, manik keemasannya tak berkedip memperhatikan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh delapan malam.

"Sebentar lagi, dan kita akan selamat-"

"Kalian sedang apa?"

Hening seketika.

Kemunculan Taufan yang tahu-tahu sudah ada hadapan membuat jantung keenam Boboiboy yang lain berhenti untuk sesaat.

"T-taufan belum tidur?" tanya Thorn gugup.

"Harusnya aku yang tanya begitu. Kalian kan tahu aku jam segini suka bangun untuk ngemil sebentar," jawab Taufan santai.

"O-oh…" Thorn berusaha untuk tersenyum meski keringat dingin membanjiri dahinya.

"Jadi…kalian ngapain? Ramean gini kok nggak ngajak-ngajak? Mau nonton film apa?" tanya Taufan antusias.

"Nggak…kami…kami hanya anu…" Solar berusaha memutar otak cerdasnya untuk mencari jawaban yang tepat.

"'Hanya' apa?" tanya Taufan makin penasaran.

"Begini loh, Taufan. Ini soal-"

"Ck, jangan pura-pura bego deh," lagi-lagi ucapan Gempa disela, kali ini oleh Halilintar.

"Lah, aku kenapa lagi, Lin?" Taufan tambah gagal paham.

Halilintar mendecih, "Kau tidak ingat hari apa ini?"

Seketika kelima Boboiboy yang lain merinding, tidak menyangka kakak sulung mereka akan benar-benar membahas ini dengan 'target' mereka.

"Hari rabu kan?" jawab Taufan retoris.

"Ck, kau tahu maksudku, sialan…" Halilintar mendecih, berusaha keras untuk tidak menimpuk wajah adik pertamanya itu dengan bantalan sofa.

"Ah…" Taufan tampak berpikir sejenak, kemudian menjentikkan jari seolah baru mendapat pencerahan, "April mop ya?"

Kelima Boboiboy yang lain reflek saling merapat, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kamu…nggak lupa kan?" tanya Gempa memastikan.

"Hah? Mana ada aku lupa. Aku suka april mop!" Taufan menjawab ceria, "Tapi tahun ini aku memutuskan untuk tidak ngapa-ngapain," lanjutnya.

"Hah?" Halilintar tanpa sadar meninggikan volume suaranya.

"Iya, aku sadar tahun-tahun lalu aku sudah keterlaluan sama kalian, makanya…tahun ini aku mau minta maaf sama kalian, dengan kata lain, aku tidak melakukan apa-apa," jelas Taufan penuh senyuman.

"Oh…" keenam Boboiboy yang lain terpana.

Kesambet apa Taufan sampai bisa-bisanya tidak melakukan apapun di hari yang paling dia sukai itu?

"Tapi…" Taufan tersenyum sendu, terlihat kilatan rasa bersalah di manik safirnya.

"Tapi apa, Fan?" tanya Blaze.

Gempa tersenyum lega namun sedetik kemudian manik emasnya membola begitu menyadari sekarang baru menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh lima menit.

Yang berarti…

"Tapi bohong~"

Bagai dihantam oleh pukulan gravitasi, senyum teduh yang berubah total menjadi seringai itu membuat para Boboiboy yang baru mau mengembuskan napas lelah langsung membatu.

"Hahahahaha! Ya ampun, wajah kalian…wajah kalian…gyahahahaha!" Taufan tertawa keras bak orang gila (menurut Halilintar).

"Oh astaga, kalian tidak berpikir untuk percaya pada omonganku tadi kan?" ucap Taufan di sela-sela tawanya.

"Kau…" Halilintar tampak sudah siap menimpuk wajah yang identik dengannya itu.

"Oke, oke, soal 'tidak melakukan apapun', itu benar sih. Aku kepikiran, memberikan 'kejutan' pada kalian seperti biasa kurasa sudah tidak menarik lagi. Terus, karena ini sudah tahun keempat sejak april mop perdanaku, aku yakin kalian akan makin waspada kalau dekat-dekat denganku," Taufan menjelaskan dengan santai, manik safirnya melirik jam dinding yang menunjukkan dua menit lagi tanggal dua april.

"Well, jadi aku putuskan untuk tidak melakukan apapun, sebaliknya aku memberikan kalian sesuatu yang paling kalian inginkan," lanjutnya.

"Jadi…semua yang tadi di sekolah itu…beneran?" tanya Solar tidak percaya.

"Yes. Butterstorm pesanan Hali itu beneran, kalau nggak percaya aku masih punya sisa adonannya di kulkas," penjelasan Taufan membuat Halilintar seolah tersengat pedang petirnya sendiri.

"Oh iya, tadi Hanna bilang ke aku, dia sedih karena Gempa tidak datang menemuinya dan berpikir Gempa mungkin memang tidak tertarik padanya," Taufan melanjutkan, "Akun yang dapet dua SSR Card tadi udah kukasih ke Gopal, sayang kan kalau dibuang,"

Kenyataan itu sukses membuat Gempa dan Blaze tidak bisa berkata-kata.

"Kupon es krim itu juga sungguhan, aku kerja keras mendapatkan itu kemarin loh, dan memang sepadan karena rasanya enak banget," Ice langsung suram setelah tahu dia sudah melewatkan kesempatan makan sepuasnya di kedai Kassim.

"Metode berkebun yang aku maksud, itu juga sungguhan. Kalau aku berubah pikiran, mungkin aku akan menunjukkannya pada Thornie suatu hari nanti. Hahahaha," Taufan tertawa geli melihat Thorn yang mulai berkaca-kaca.

"Oh, aku tadi berniat mengajak Solar latihan, hitung-hitung referensi senjata baru yang mau dikembangkan. Tapi sayang Solar menolak," Taufan berucap dengan suara disedih-sedihkan.

"Tidak…" Solar menutup mulut dengan kedua tangannya dengan dramatis.

"Yah, intinya…terima kasih ya. Karena kali ini aku tidak perlu kerja keras untuk bisa melihat wajah-wajah gelisah dan sakit hati kalian yang menolak hal yang kalian suka itu sangat, sangat, saaaangat menghibur. Wahahahaha!" Taufan tertawa dengan bahagianya, seolah tidak sadar kakak pertamanya sudah benar-benar tidak tahan untuk menghajar wajah menyebalkannya itu.

"Ehm, karena aku secara teknis tidak melakukan apapun, kalian tidak bisa menyalahkanku kali ini. Tee-hee~" Taufan kemudian berbalik, hendak kembali ke kamarnya karena tinggal hitungan detik tanggal satu april akan berakhir.

"O iya, aku belum bilang ya," Taufan kembali menoleh ke arah saudara-saudaranya yang masih terdiam di tempat sembari tersenyum manis, "April mop~"

Tepat setelah itu, jam dinding menunjukkan tepat pukul dua belas malam.

Satu april resmi berakhir.

"Selamat tidur, kakak dan adik-adikku tersayang~"

Taufan pamit, meninggalkan keenam saudaranya yang masih tidak berkutik setelah tahu kenyataan bahwa kewaspadaan berlebihan mereka terhadap kejahilan Taufan malah yang membuat mereka termakan kejahilan itu sejak awal.

"Gem, aku rasa…kita memang tidak akan bisa melarikan diri dari tanggal satu april," gumam Solar pasrah.

"Setuju," sahut Ice suram.

"Hah…kita kalah ya…?" Blaze mendesah kecewa.

"Hiks…harusnya tadi aku percaya saja sama Upan…" Thorn mulai mewek.

"Huft, aku tahu. Kurasa tahun depan kita harus mencobanya lagi," sahut Gempa.

"Cih," Halilintar hanya bisa mendecih, berat untuk mengakui kalau mereka lagi-lagi kalah telak tahun ini.

Kira-kira tahun depan bisa jadi lebih baik?

Semoga saja, jika mereka memang sudah mampu menghindari terpaan angin topan.

.

.

.

The End


SSR Card yang dimaksud adalah Yamada Jiro dan Iruma Jyuto, Hypnosis Mic A.R.B by King Records & Otomate

Wahahaha hello~~ ada yang kesel? /dibuang

Ehm, selamat hari april mop semuanya~ mohon maklum kenapa Taufan begitu bangsat di sini. Yhaa…saya suka dia yang seperti ini sih wkwkwk /tabok
Eniwei, maksud saya yah…karena april mop adalah hari di mana berbohong itu dilegalkan (gimana), jadi sah-sah aja dong diriku melakukan ini /kemudian ditabok lagi Maaf kalau kalian yang baca udah terlanjur kesel, tapi silahkan paparkan komentar, kritik, dan saran kalian di kotak review ya.
Sampai juga lagi di lain kesempatan~~

Review is really appreciated