disclaimer © Animonsta Studio
warning AU!GameWorld, OOC, Papa Zola-centric, typo(s), miss EBI, plotless, parodi gim Super Mario BrosShigeru Miyamoto with Nintendo).


"Tunggulah Kakanda, wahai Dinda Kebenaraaaaaaaaaan! Meski wujud kotak-kotak begini, Kakanda akan selalu mencintai Dindaaaaaa!"

Papa Zola berjalan lurus. Sudah jelas keinginan Papa Zola untuk menemui Mama Zila sang Dinda Kebenaran, tetapi Papa Zola tak bisa bergerak semaunya. Harus ada seseorang yang mengontrol pergerakannya.

Nyatanya, belum sampai lima detik, Papa Zola tewas tidak elit karena menabrak Little Goomba.

Papa Zola kembali ke posisi awal. "Hoi, yang main ini butakah? Itu ada monster di depan lah!"

Seolah teriakannya bisa menembus dinding dimensi, kali ini Papa Zola berhasil melompat menginjak dua Little Goomba. Papa Zola melompat lagi, menabrakkan kepalanya pada kotak-kotak yang melayang.

"Heish! Sakit kepala kebenaran!" omel Papa Zola. Sebuah jamur seukuran tubuhnya jatuh dan bergerak mendekat. "LOMPATLAH! LOMPATLAH! NANTI AKU MATI—"

Ukuran tubuhnya membesar. Papa Zola melongo kaget.

"Bagaimana pula jamur itu tidak membunuhku, hah?! Kalau seperti itu, harusnya aku tidak mati saat menabrak pastel hidup itu laaaaaaaahhhhh!"

Melompat lebih tinggi, Papa Zola berdiri di atas sebuah pipa hijau. Di sana, Papa Zola jongkok, lalu berdiri, kemudian jongkok dan berdiri lagi.

"Apa maksud gerangan ini semua?! Kaupikir ini kelas Pendidikan Jasmani, haaaaaaaaaaahhhh?!"

Percuma, Zol. Percuma. Merepet begitu benar-benar sia-sia.

Dua pipa dilompatinya begitu saja. Papa Zola berseru semangat, "Dinda Kebenaran sudah pasti bangga dengan Kakanda yang besar! Ayo, kita lanjutkan petualangan menyelamatkan Mama Zila—JURANG DI DEPAN, JURANG DI DEPAAAAAAAAAN!"

Lalu Papa Zola jatuh dalam lembah tak bernama dan mati konyol.


"Tunggulah Kakanda, wahai Dinda Kebenaraaaaaaaaaan! Meski wujud kotak-kotak begini, Kakanda akan selalu mencintai Dindaaaaaa!"

Bolehkah Papa Zola jujur? Dia sangat lelah mengulangi kalimat yang sama, bahkan sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Meski semangat untuk menyelamatkan kekasih tercinta tidak pernah padam, tapi lama-lama Papa Zola bisa jadi masokis juga karena siklus hidup dan matinya.

Papa Zola kenyang. Ditabrak Little Goomba, masuk ke dalam lubang jurang, disleding Koopa Troopa si kura-kura sebagai buah karma karena telah menginjak lalu menendang cangkang hijau itu, menabrakkan kepala ke dinding bata berkali-kali—Papa Zola cukup terkejut akan kekuatan kepalanya yang tidak gegar-gegar sampai detik ini—demi beberapa koin, membesar dan mengecil seperti terkena senter Doraemon, dimakan Piranha Plant yang selalu muncul dari pipa, bahkan Papa Zola sudah entah berapa kali masuk ke akhirat lewat elevator berbentuk batang yang menembus atap dimensi. Wah, semakin panjang daftar ini, semakin terlihat pula bahwa Papa Zola rela menjadi seorang masokis sejati demi Istri Kebenaran.

Tidak apa-apa. Demi cinta yang tak pernah pupus, dan demi tidak sia-sianya pengorbanan mahar pernikahan.

Keluar dari ruang bawah tanah, Papa Zola memasuki area baru yang dipenuhi pepohonan raksasa. Papa Zola melompat ke atasnya. Permukaannya agak licin, membuat Papa Zola bersyukur dirinya gendut sehingga tak tergelincir hingga jatuh.

"Apa pula itu—KURA-KURA TERBANG?! Guyonan macam apakah ini?!"

Koopa Paratroopa adalah kura-kura bersayap putih yang berhasil memecahkan seluruh teori sains.

"Boleh tidak aku pinjam sayapmu untuk mencapai bendera? Hehe, hehe."

Lalu Papa Zola tewas saat menyentuh si kura-kura terbang. Debus namanya.


"Di mana engkau, wahai Dinda Kebenaran?! Kakanda ... Kakanda rindu Dinda!"

Memasuki istana berwarna abu-abu, Papa Zola mendecak sebal sekaligus sedih karena tidak kunjung menemukan Mama Zila. Tempat ini sempit dan sangat tidak beraturan, kalau memang Mama Zila ada di sini, sudah bukan tidak mungkin lagi kalau sang adinda sudah berubah menjadi Raksasa OCD.

Papa Zola tertawa getir. "Alamak ... mana aku kecil pula ... hahahaha …."

Tidak sefenomenal tempat yang sudah dia lalui, Papa Zola tidak menemukan tanaman yang bisa tumbuh dari pipa ataupun kura-kura terbang. Hanya ada beberapa baris api yang selalu berputar ala bianglala.

Hanya, hahahaha ...

Dari kejauhan, terlihat jembatan panjang dan sesuatu seperti kura-kura besar. Mungkinkah ... mungkinkah ...

"Lepaskan Mama Zila!" seru Papa Zola dengan telunjuk terarah pada si monster. Ada kartu nama imajiner, ternyata Bowser nama kura-kura itu. "Kau sembunyikan di mana Dinda Kebenaran?!"

Tubuh besar Bowser menghalangi jalannya. Sedikit mengintip, Papa Zola melihat ada sebuah kapak melayang. Papa Zola yakin seratus persen kalau sebentar lagi perjalanannya akan berakhir dan dia bisa kembali hidup damai bersama kekasih kebenaran.

Bowser melompat-lompat. Papa Zola dalam kondisi kerdil berusaha menghindar. Saat Bowser sudah berada di belakangnya, Papa Zola berlari ke depan dan mengambil kapak itu, memotong tali jembatan. Bowser jatuh dilahap lava panas.

Layar bergeser, menampilkan sosok yang dia rindu—

"Siapa pula cendawan ini?!" jerit Papa Zola tak terima. Seluruh perjalanan penuh marabahaya berakhir dengan pertemuan antara dia dan ... jamur?! "Mana Mama Zila?!"

"Terima kasih, Mario—"

"AKULAH PAPA ZOLA, MUSUH KEJAHATAN, KEKASIH KEBENARAN!" Papa Zola memotong dengan mengucapkan kalimat jargonnya. "Bukan Vario Mario Maria Waria yang kausebut itu! Kalau tak tahu nama, tanyalah dulu!"

"—tapi Sang Putri ada di dalam istana yang lain!"

"..."

Papa Zola melawan aturan dimensi dengan melempar si jamur ke kubangan lahar tempat Bowser—palsu ternyata—tenggelam tadi. Masa bodoh. Bodoh amat. Hahahahaha.


tamat (dengan sungguh tidak elit)


~himmedelweiss 02/04/2020