Jantung seorang gadis berdegup kencang dengan ponsel pintar yang masih berada di tangan. Kepalanya sibuk mencari kemana tempat yang akan ditujunya menggunakan peta digital di ponsel dan fokusnya terbagi ke ponsel dan juga jalanan—memastikan jalan yang ia pijaki benar-benar sesuai dengan rute dari peta. Bukan karena takut, tapi karena ini adalah pertemuan antara ia dan beberapa lelaki yang sudah sejak lama tidak ditemui. Katanya sih, mau reuni. Rasa senang sekaligus gugup bercampur menjadi satu, sebab diantara mereka ia akan menemukan cinta lamanya kembali.

Hanya saja ia masih ingin menemukan jawaban pasti, apa dirinya benar-benar belum move on? Bukankah cinta saat zaman sekolah itu termasuk cinta monyet? Mencintai seorang lawan jenis pada saat masih mengenakan seragam sekolah…rasanya tidak dihitung. Apalagi hanya mencintai dalam diam, ia tak bisa memasukkan hal tersebut dalam hitungan. Meski begitu, setiap kali mendengar namanya, terbayang wajahnya, terngiang suaranya, jantungnya selalu berdegup kencang layaknya orang baru jatuh cinta.

Ketika kedua maniknya menangkap sebuah kafe dengan plang bertuliskan 'Suara Hati' di depannya, ia beralih pada tempat nongkrong tersebut. Tampak sebuah bangunan berbentuk rumah yang tak terlalu besar, terkesan minimalis dengan warna putih tulang dihiasi dengan akar-akar daun di sisi kaca bagian luar menambah kesan estetika pada kafe tersebut. Pada plang kafe, terbentuk logo hati dengan garis detak jantung di tengah-tengah hati tersebut.

Langkah kakinya dimantapkan untuk memasuki kafe tersebut. Tangannya mendorong pintu, berjalan masuk seraya mencari keberadaan teman-temannya. Tempat itu tidak terlalu luas sehingga hanya ada meja bundar yang bisa dihitung dengan jari dan meja persegi yang ditempel ke dinding dengan kursi sofa. Perlahan ia mengintip keluar sebab di samping kafe masih ada meja-meja kosong dengan nuansa outdoor, lebih menyatu dengan alam dengan pohon yang digunakan sebagai atap pendopo dan juga tanaman yang diletakkan di pinggir-pinggir kaca—tak jauh dari pintu keluar outdoor.

Tetapi tak ada satupun yang ia kenali, membuatnya ragu apakah benar tempat ini yang akan dijadikan tempat reuni? Hendak ia menanyakan ke grup organisasinya mengenai dimana mereka berada dengan membuka aplikasi obrolan berwarna hijau dengan logo senyum disana. Entah karena merasa sesuatu tengah berdiri di belakangnya, ia spontan menoleh dan mendapati seorang lelaki beriris delima—tampak ingin menyentuh pundaknya.

"E-Eh, Kak Hali?"

Hali atau lengkapnya Halilintar adalah ketua OSIS selama dua periode pada saat itu dan juga…lelaki yang disukainya—lelaki yang disukai Yaya—gadis itu pada saat SMA.

Tangan lelaki itu langsung diturunkan dan beralih pada tengkuk belakangnya—refleks mengusapnya karena canggung. "Baru sampai?" tanyanya.

"I-Iya, kak. Baru sampai," Yaya menjawab dengan terbata-bata.

Halilintar mendecak. "Kemana sih mereka? Kebiasaan suka ngaret."

"Mereka belum sampai, ya, kak?"

"Kamu gak baca grup?" tanyanya. "Mereka bilang otw dari 10 menit yang lalu tapi belum ada yang sampai. Kukira aku udah telat."

Yaya menggaruk pipinya. Ia baru saja ingin membuka pesan grup, tapi tertahan ketika menemui kakak kelasnya. "Ya udah, kita ambil tempat aja dulu," sarannya. "Gimana, kak?"

"Boleh."

Gadis itu mengangguk. Ia hendak berjalan mendahului sang kakak kelas, namun langkahnya tertahan dan spontan menoleh pada Halilintar. Lelaki itu menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Yaya untuk berjalan lebih dulu dan diangguki olehnya. Langkahnya memelan karena bingung meja mana yang harus ia pilih, hingga sebuah meja persegi dengan kursi sofa panjang yang berada di tengah-tengah menjadi pilihannya. Yaya berhenti di meja tersebut, lalu mengambil posisi di kursi dan duduk disana diikuti oleh Halilintar yang duduk di seberangnya.

Ketika mereka baru menduduki kursi, Yaya tak sengaja menoleh ke meja kasir—dimana ada beberapa orang yang mengantri untuk memesan makanan—yang berarti bahwa kita harus memesan terlebih dahulu dan membayar baru bisa menikmati makanan dan minuman di tempat ini.

"Kak, kakak mau pesan apa?" tanya Yaya. "Biar Yaya pesanin."

Lelaki bermahkota cokelat muda itu menoleh pada meja kasir yang berada di belakangnya dan berucap, "Pesan dulu ya?"

"Iya, kak." Mendadak ia teringat—apa tidak masalah kalau pesan dulu? Nanti mereka—teman-teman dan kakak-kelasnya komplain lagi. "E-Eh, atau mau nunggu mereka aja dulu kak baru pesan?"

"Pesan aja dulu. Nunggu mereka bisa kering disini," ujar Halilintar. "Kalau mereka gak datang sampai gelasku habis, aku bakal pulang."

"O-Oh, oke…jadi, kakak mau pesan apa?"

"Biar aku aja yang pesan," Halilintar menawarkan diri seraya beranjak dari sofa. "Kamu sukanya apa?"

Yaya spontan berdiri ketika kakak kelasnya hendak memesan. "Biar Yaya aja, kak!"

"Kamu masih takut sama aku?" tanyanya seraya tertawa kecil, melihat bagaimana wajah sang adik kelasnya. "Santai, kita udah lulus berapa lama? Udah gak ada perbedaan antara kakak kelas dengan adek kelas."

Gadis itu meneguk ludah. Bukannya takut, ia lebih ke canggung. Rasanya ingin minggat dari tempat itu saja walau sebentar. Teman-temannya juga kok lama banget datangnya?

"Udah mutusin mau pesan apa?" Halilintar bertanya—memecah lamunan Yaya.

"Eh? Itu…" Si gadis tak sempat melihat menu dan menyebutnya asal. "Es greentea latte aja, kak!"

"Makan?"

Ia menggeleng. "Yaya masih kenyang."

Dahi sang lelaki mengernyit. "Bukan karena lagi diet 'kan?" tanyanya.

Biasanya, perempuan menolak untuk makan ketika berkumpul dengan alasan diet. Sudah berapa banyak perempuan yang ditemuinya dan selalu menjawab alasan yang sama. Padahal kalau dipikir-pikir, kenapa mereka harus melakukan itu jika tubuh mereka sudah termasuk sehat? Halilintar tak habis pikir, apa yang dicari para perempuan sebenarnya? Tubuh bak gitar spanyol atau mencapai body goals ala artis korea? Ia lalu menggeleng dan menghela napas kasar, kalau mengingat-ingat semua alasan itu membuatnya kesal kadang. Sebagai seorang lelaki ia tak pernah mempermasalahkan bentuk tubuh seorang perempuan, yang penting mereka sehat. Itu saja.

Sang gadis spontan menggeleng seraya mengibaskan kedua tangannya. Memang perutnya sudah penuh karena disuruh ibunya untuk makan sebelum turun dari rumah. Untuk apa juga dia diet, badannya sudah terlampau langsing bahkan menuju kurus sampai-sampai ia dipaksa orangtuanya untuk makan.

"B-Bukan, kok, kak!" Yaya menepis pertanyaan sang lelaki. "Kebetulan aku udah makan dari rumah tadi…"

"Oh, ya udah. Es grentea latte aja ya."

Yaya mengangguk, lalu menatap punggung lelaki bermahkota cokelat muda itu mengantri ke kasir. Tubuh atletis milik kakak kelasnya tak berubah, masih sama seperti saat zaman sekolah dulu. Namun bukan hanya itu yang ia suka, rasanya…semua hal yang ada pada kakak kelasnya…ia suka. Meski dulu Halilintar dikenal sebagai lelaki galak dengan tatapan dingin dan menusuk, terlalu strict pada peraturan dan cukup kejam, entah kenapa Yaya menyukai sisi itu. Bukan berarti ia masokis, tapi di satu saat dirinya melihat sisi lembut sang lelaki di balik hatinya yang keras. Sebagai adik kelas, Yaya juga cukup segan pada Halilintar, namun kalau dipikir-pikir dan diingat kembali, sang lelaki hanya sering berbicara padanya. Ya, hanya pada Yaya seorang.

Hanya saja pada zaman sekolah dulu ia tak mau berekspetasi lebih. Jantungnya yang terus berdegup kencang ketika berada di sisi Halilintar selalu diabaikan. Rona merah di pipi tatkala sang lelaki terlalu dekat padanya tidak dipedulikan. Saat itu, ia hanya berpikir, jika lelaki itu sesekali berbicara padanya, meminta bantuannya atau bahkan menolongnya ia rasa sudah cukup. Ia sudah lama memendam perasaan ini dan sampai hari ini, detik ini, dengan cuaca yang cerah dan panas namun tidak menyengat, rasa itu masih ada.

Halilintar harus bersikap biasa. Sudah banyak perempuan yang singgah di hatinya, namun tak ada seorangpun yang mampu meluluhkannya. Sesekali ia melirik pada Yaya yang terkadang melamun, lalu memainkan ponsel, lalu kembali melamun. Wajah sang gadis terlihat gelisah, tanpa sadar tawa geli tercipta dari Halilintar. Begitu lama ia memendam perasaan yang disimpan sejak masa sekolah, hingga hari ini ia pun masih belum memiliki keberanian untuk menyatakannya. Dirinya pun risih jika setiap kali ditanya oleh keluarga besar seperti "Kapan nikah?" ; "Mana ceweknya?" ; "Mau sampai kapan menjomblo?". Semua pertanyaan itu selalu ditujukan padanya, mengingat dua adik kembarnya sudah memiliki pasangan dan ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Hanya saja mereka berdua menghormati Halilintar sebagai kakak tertua dan menunggunya untuk menikah terlebih dahulu. Kalau dipikir-pikir, apa gadis itu sudah dimiliki? Sejauh ini sih, ia tak ada mendengar kabar apapun tentang Yaya, termasuk tentang pernikahan sang gadis. Ia harap hal tersebut belum terjadi.

"Selamat siang, kak. Mau pesan apa?" Sang kasir bertanya, membuat Halilintar menyebutkan pesanan yang ia mau dengan cepat. Setelahnya ia mengkonfirmasi pesanannya, membayar lalu kembali ke sofa dan duduk berhadapan dengan Yaya. Sejenak ia melirik arloji yang bertengger di pergelangan kirinya, sudah hampir dua puluh menit dari sejak dirinya mengantri namun tak ada tanda-tanda kemunculan rekan lamanya membuat perempatan muncul di dahi Halilintar.

"Bener-bener, deh. Ini ngaretnya udah kelewatan!" gerutu Halilintar, membuat Yaya tersentak dan tersenyum canggung. Ternyata sifat strict-nya masih ada ya.

"Tunggu aja, kak. Mungkin lagi di jalan."

"Ya kabarin kek kalau lagi di jalan," gerutunya lagi, lalu merogoh ponselnya dari saku celana. Segera membuka aplikasi sosial media yang menghubungkannya dengan teman-teman yang lain—termasuk Yaya—lalu perempatan imajiner tersebut makin besar ketika mengetahui grup tersebut sepi dan tidak ada kabar sama sekali disana. Ia pun mulai menggunakan fitur voice note dan berbicara, "Heh, kalian pada kemana sih?! Awas ya, kalau sampai jam dua belas gak ada yang muncul aku pulang!"

Ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan menghela napas kasar. Yaya sudah biasa melihat sikap Halilintar yang menggerutu seperti ini, meski tadi sempat terkejut juga karena sang lelaki membanting hapenya di atas meja. Sang gadis tahu betul, Halilintar tak suka orang yang terlambat maka dari itu ia begitu kesal. Apalagi ini 'kan reuni OSIS setelah sekian lama tak bertemu, kok bisa-bisanya mereka ngaret sampai jam segini?

Keduanya kembali terdiam, menciptakan atmosfir kecanggungan yang membuat Yaya begitu tercekik dan tersiksa karenanya. Ia tak terlalu pandai membuka obrolan, apalagi yang berbicara di hadapannya kini adalah seorang lelaki yang tidak banyak omong dan hobi marah-marah. Dulu saja, ia hanya berani berbicara pada Halilintar jika ada teman dan seringnya sang lelaki yang mengajak Yaya berbicara—itupun kalau ada keperluan. Untuk sekadar basa basi, Yaya tak tahu bagaimana caranya.

Tiba-tiba saja Halilintar menutup wajahnya dan merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus marah-marah di depan gebetannya sendiri? Ia 'kan harus menjaga image agar Yaya tidak takut dan segan padanya! Sejenak matanya melirik pada sang gadis, menatap ponselnya dengan serius tanpa sedikitpun menoleh kemana-mana. Iya, tentu saja gadis itu jadi canggung. Sikap Halilintar tadi benar-benar bodoh.

Pesanan mereka pun datang di saat itu juga. Es greentea latte dan kopi mild 3 shots berada di atas meja, membuat Yaya buru-buru mengambil gelas plastik berisi es greentea latte dan menyesapnya. Ia ingin segera keluar dari kecanggungan ini dan berharap semua teman-temannya datang. Masa' mereka tega membiarkannya dan ketua OSIS galak duduk berdua dan diselimuti kecanggungan?! Kalau Yaya pergi sekarang pun, pasti Halilintar akan bertanya dari A – Z. Ah, Yaya benar-benar tak ingin melihat muka Halilintar karena terlalu malu. Kayaknya setelah lama tidak dilihat ia bertambah tampa—lupakan. Bisa-bisa ia dicap sebagai gadis aneh karena menatap kakak kelasnya terlalu lama.

Padahal Halilintar hanya asal menyebut dan ia tak terlalu menyesal juga karena telah memesan kopi pahit dengan ekstra 3 shot. Paling tidak itu bisa membuatnya bangun dan menerima kenyataan bahwa sampai hari ini ia masih belum bisa mengungkapkan perasaannya. Ia pun masih diberi kesempatan untuk menemui Yaya lagi, walau dengan label "reuni". Dirinya kesal selain karena teman-temannya terlambat, juga karena mereka membiarkan Halilintar terjebak dalam kecanggungan bersama Yaya. Sudah tahu dia ini orangnya kaku, tidak pandai basa-basi, kalau dibiarkan berdua kayak gini sampai lebaran kuda juga tidak bisa ngobrol banyak.

"Hm…Ya, aku boleh nanya sesuatu?" Sang lelaki memutuskan untuk membuka obrolan. Ia juga mulai risih karena terlalu lama diam tanpa berbicara apapun setelah marah-marah dengan temannya di grup.

Yaya yang tengah menikmati minumannya pun tersentak. "E-Eh, iya kak? Mau nanya apa?"

Terdengar seperti pertanyaan privasi yang membuat orang risih, kira-kira Yaya bermasalah tidak ya kalau ditanya seperti itu? Halilintar sejenak menatap sang gadis, lalu memalingkan wajah dan mengusap tengkuk belakangnya. "Kamu…udah ada yang deketin belum?"

Pertanyaan tersebut membuat sang gadis bermanik madu lagi-lagi tersentak. Kenapa pertanyannya malah mengarah kesitu? Apa yang tengah dipikirkan oleh kakak kelasnya? Ah, Yaya tak habis pikir. Ia lalu menggeleng pelan. "Belum, kak…Setelah lulus belum ada yang kecantol sih, hehe," jawabnya seraya terkekeh. "Kakak sendiri? Waktu kuliah pasti banyak yang deketin dong?"

"Tadinya," jawab Halilintar. "Sama kayak kamu, belum ada yang bikin aku kecantol." Ia melanjutkan lalu mendengus. "Tapi aku juga capek sih Ya, ditanyain kapan nikah mulu. Mereka kira gampang apa nyari perempuan yang mau menghabiskan hidupnya sama aku?"

Kekehan tercipta ketika melihat sang lelaki mengeluh. Ia menyesap minumannya sejenak, lalu menopang pipi. "Berarti kakak masih dalam tahap pencarian?"

"Iya."

"Oh~ Emangnya kriteria perempuan yang layak dijadikan istri menurut kakak gimana?"

Sang lelaki terdiam. Manik delimanya melirik pada Yaya, lalu kembali memalingkan wajah. "Kayak…kamu," gumamnya.

"Hah?" Sungguh, suara sang lelaki begitu amat jelas didengarnya namun respon pertama yang keluar di mulutnya menunjukkan bahwa ia terkejut dan tak yakin. Tipe istri Halilintar…seperti dirinya?

"A-Aku gak tahu, Ya. Aku belum mikir sampai kesitu sebenernya," elak Halilintar.

Tak lama kemudian wajah sang gadis memerah bagaikan tomat, membuatnya pun menutup kedua wajahnya dan enggan melihat lawan bicaranya sejenak. Jantungnya berdegup kencang seketika, apa ini jawaban dari semua doa yang selalu terucap dari bibirnya? Yaya benar-benar tak memiliki ekspetasi begitu tinggi jika Halilintar membalas perasaannya. Ia hanya berdoa untuk diberi seorang lelaki yang benar-benar mencintainya dengan tulus dan mampu membimbingnya serta ingin menghabiskan sisa hidup bersama. Lelaki itu…Halilintar kah?

"Ya? Kamu gak papa?"

Perlahan Yaya menurunkan tangannya dan meski wajah sang gadis masih memerah, ia memutuskan untuk memalingkan wajah dan enggan menatap Halilintar. Sementara sang lelaki bingung, kenapa lawan bicaranya bereaksi demikian?

Oh.

Jangan-jangan—

"Ya…a-aku…mau ngomong sesuatu." Sang lelaki berujar, lalu menatap Yaya dengan tatapan serius. "Kamu…bisa lihat aku sebentar?"

Jantung Halilintar ingin melompat rasanya. Debaran begitu cepat yang tak pernah ia rasakan setelah bertahun-tahun lamanya. Jika memang Yaya adalah jodohnya, selama ini doanya selalu didengar dan akan dijawab ketika waktunya tiba. Jika memang sudah tiba…maka jadikanlah hari ini sebagai hari dimana doa-doanya terjawab.

Sebenarnya gadis itu masih merasa malu, namun mau tak mau ia memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya. Tatapan Halilintar begitu serius, semakin ingin membuat Yaya menghindar—namun tak bisa.

"Yaya…sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak kamu masuk OSIS." Halilintar mulai berbicara. "Tapi aku takut mau bilang karena…aku takut kamu nolak aku. Klise memang, tapi dulu aku bener-bener takut, Ya." Ia lalu menghela napas kasar. Astaga, rasanya berat sekali untuk berbicara dengan debaran jantung yang begitu kuat seperti ini. "Hari ini adalah harinya…hari dari doa-doaku yang selalu kuucap…mungkin ini terlalu tiba-tiba, tapi—" Rona merah muncul di pipi sang lelaki, membuat maniknya beralih dari Yaya. "Kamu mau…jadi istri aku dan menghabiskan hidupmu bersamaku?"

Haruskah Yaya senang atau sedih? Senang karena perasaannya terbalaskan, sedih karena pernyataan yang begitu membuatnya terharu. Sungguh, ia bahkan tak mampu lagi untuk berkata-kata, benar-benar mixed feelings untuk hari ini. Ia benar-benar tak menyangka, reuni hari ini membuat perasaan yang telah dipendamnya bertahun-tahun dan bahkan hampir membuatnya menyerah terbalaskan. Selama ini…cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan, hanya saja mereka malu untuk mengungkapkannya.

"Aku…mau, kak." Yaya menjawab, tanpa sadar air mata mengalir di pipinya. "Makasih karena udah pilih aku."

Terulas senyuman tipis di wajah lelaki bermanik delima itu. Ia menyodorkan kotak tisu pada Yaya dan sang gadis pun mengambil beberapa lembar tisu guna mengusap air matanya. Di sela-sela menangis, Yaya tersenyum lalu tertawa kecil diikuti Halilintar yang ikut tertawa. Terlihat klise, tapi begitu menyentuh bagi mereka.

"Eh, mereka dah pada pesen minuman ternyata!" Sorak seseorang dari pintu. Mendengar itu pun membuat Halilintar menoleh dan memasang wajah marah, membuat orang tersebut tersentak dan berniat untuk mundur—keluar dari tempat tersebut namun ia tiba-tiba didorong oleh teman-teman yang berada di belakangnya.

"Apaan sih bro maju mundur gitu kek Syahroni aja."

"Hali ngamuk woi!"

"Hah?!"

"Kalian mau kabur, hm?" Halilintar bertanya yang tanpa ada angin dan hujan sudah muncul di hadapan mereka dengan perempatan dan memangku tangan. Mereka tersentak, berniat untuk kabur namun lagi-lagi mereka didorong oleh teman-teman mereka sehingga kesempatan mereka untuk melarikan diri pun nihil. "Kenapa kalian pada barengan ngaret hah?! Udah lupa sama yang diajarin waktu SMA?!"

"Kak…udah." Yaya berujar dari sofa, menenangkan sang lelaki. "Yang penting mereka udah datang 'kan?"

"Iya 'kan, Ya? Untung-untung kami dah datang tauk!"

Lelaki bermahkota cokelat muda itu ingin marah, namun karena mendengar ucapan Yaya membuatnya mendengus dan kembali ke sofa. Iya, ini reuni dan tak ada gunanya juga memarahi mereka yang telat meski sebenarnya sikap tersebut tak bisa ditolerir Halilintar. Ia kembali ke sofa, lalu melihat Yaya mengulas senyuman tipis padanya. Pipi sang lelaki pun merona, membuatnya mengalihkan pandangan dari lawan bicaranya.

Teman-temannya kini mulai menduduki sofa, lalu meminta sang pelayan untuk menggabungkan meja agar tujuan mereka yaitu "reuni" dan "temu kangen" terlaksana. Anak OSIS yang datang tidak begitu ramai dan mereka adalah orang-orang yang berada di dalam dua periode ketika Halilintar menjabat sebagai ketua OSIS. Mereka sudah tahu betul sifat Halilintar dan mereka beneran sengaja ngaret biar lelaki kaku ini buru-buru menyatakan perasaannya pada sang gadis pujaan. Tentu mereka sudah tahu kalau Halilintar menembak Yaya, wong mereka mantau dari jauh, kok.

Eh, tapi diam-diam ya. Ntar Hali makin ngamuk kalau mereka sengaja ngaret.

Selesai.