disclaimer © Animonsta Studios
warning OOC, AR, siblings!BoBoiBoyElementals (twins!HaliTauGem, twins!BlazeIce, twins!ThornSolar), kemungkinan cliffhanger, no super power, miss EBI, typo(s), diksi berantakan, visualisasi buruk, rate M untuk kekerasan eksplisit, death chara(s), fatal plothole atau justru plotless.
"Selamat malam saya ucapkan kepada rekan maupun lawan saya. Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan argumen saya sebagai pihak pemerintah dalam mosi 'Dewan ini memilih untuk memasak makanan sendiri dibanding membeli makanan di luar'. Sebelumnya—"
Taufan buru-buru memotong. Solar kalau sudah masuk ke mode bacot itu susah dihentikan. "Iya, Solar. Iya. Iya iya, kamu menang."
Halilintar tersenyum tipis. Thorn bersorak bahagia. Sejak awal, mengajak Solar untuk bergabung dalam sekutu memang sebuah keputusan yang tepat.
"Yey, masak!" seru Thorn.
"Pasukan yang mau masak ini begitu mengerikan," lirih Taufan. Kembar Blaze dan Ice yang merupakan kubu Taufan mengangguk kompak. "Kak Halilintar masak apa pun gosong semua."
"Kita harus menghemat pengeluaran. Tadi siang kita sudah beli makanan di luar," balas Halilintar.
"Solar kalau masak ada warna-warna atau benda-benda aneh, rasanya pahit," ujar Blaze.
"Itu multivitamin. Penting untuk kesehatan," sergah Solar.
"Aku belum pernah lihat Thorn masak, sih." Ice menenggelamkan wajahnya dalam persilangan lengan di atas meja. "Tapi aku tidak mau Thorn sampai lecet."
"Sudah cukup, kita sudah lama sekali memperdebatkan akan membeli makanan di luar atau memasak sendiri. Aku sampai tidak lapar," tutur Halilintar.
"Ho-oh, aku juga "
"Iya, sama."
"Mhm."
"Iya, Thorn jadi tidak lapar lagi, sama dengan Kak Hali."
"Sia-sia jadinya aku mempersiapkan dialog debatku?"
Sejak pukul enam sore hingga sekarang, keenam kembar BoBoiBoy sibuk memperdebatkan mengenai makan malam. Halilintar yang ingin menghemat pengeluaran, Thorn yang ingin sekali saja memasak, dan Solar yang sangat peduli dengan kesehatan kakak-kakaknya—atau calon kelincinya—memilih untuk memasak, sementara Taufan bersama Blaze dan Ice menjadi pihak oposisi karena sudah tahu seberapa parahnya masakan ketiga saudara mereka, meski tak sedahsyat Yaya dengan biskuitnya yang berhasil membuat seisi dunia gonjang-ganjing.
"Thorn rindu Kak Gempa."
Terikat batin, semuanya melihat ke arah Thorn.
"Kak Halilintar, Capping Day itu apa sih?" tanya Taufan, menyebutkan acara yang harus diikuti nama yang baru saja disebut Thorn. Tidak seperti dua saudara kembarnya, Taufan memilih untuk meneruskan usaha kedai milik mendiang kakek mereka dibanding melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. "Acaranya bukannya besok?"
"Acara untuk mahasiswa semester satu yang akan memasuki semester dua. Malam ini diadakan malam keakraban sebagai bentuk solidaritas," jawab Halilintar.
Kali ini Solar bertanya. Baru pernah dengar soal acara yang akan dihadiri kakak ketiga, jadi dia agak penasaran. "Kak Halilintar tidak ikut?"
"Apa nanti kalau aku dan Ice kuliah harus ikut itu juga?" timpal Blaze.
"Lalu Thorn dan Solar juga di tahun depan?" Thorn ikut-ikutan.
"Hanya untuk mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan seperti Gempa. Aku mahasiswa Manajemen Bisnis, tidak ada acara seperti itu," terang Halilintar. "Kalau kalian memilih dua jurusan itu, tentu saja."
Setelah penjelasan itu, tak ada lagi yang berbicara. Hanya ada suara detik jam yang meminta atensi. Jarum pendek nyaris menunjuk angka sembilan—selama itukah mereka berdebat?—sementara jarum panjang membelah simetris angka sebelas dan dua belas.
"Bagaimana kalau kita bermain?" tanya Thorn.
"Ini sudah jam tidur," tanggap Halilintar memberi negasi.
"Thorn memangnya mau main apa?" tanya Taufan. Tangannya menyikut lengan Halilintar, menegurnya, "Jangan jadi Gempa kedua, deh."
"Tiba-tiba aku jadi ingin begadang," celetuk Ice.
"Ayo main!" seru Blaze.
"Aku punya sebuah permainan baru. Kalian mau mencoba?"
"Akan kujelaskan peraturan bermainnya. Sederhana, kok."
Berlokasi di kamar, kembar BoBoiBoy minus Gempa yang menginap di sekolah duduk membentuk lingkaran. Di tengah-tengah, terdapat sekotak korek api, lilin putih, kertas, pena, dan jarum. Thorn terlihat antusias, sudah lama mereka tidak berkumpul bersama seperti sekarang. Blaze yang memang hobi bermain sama antusiasnya dengan Thorn. Halilintar bergidik ngeri, jarum itu entah mengapa berhasil mengingatkannya dengan balon meletus. Taufan tersenyum lebar menahan gelora semangatnya yang membuncah, secara tidak langsung meminta Solar untuk bergegas memberikan instruksi. Solar sebagai pencetus permainan tampak puas dengan melihat beragam ekspresi kakak-kakaknya.
"Kalian tahu permainan Kata Hati?"
"Oh! Seluruh teman sekelas Thorn memainkannya!" sahut Thorn. Solar mengangguk atas kejujuran Thorn. Teman-teman sekelas mereka memang suka memainkan permainan yang baru saja disebutnya.
"Di kelasku dan Kak Blaze juga, biasa, mengikuti yang sedang viral," timpal Ice. "Jadi kita mau main itu?"
"Modifikasi, tepatnya." Solar menjentikkan jari. "Seperti permainan itu, kita menuliskan kata pada sebuah kertas, jangan sampai ada yang melihatnya. Kalau dalam Kata Hati, kita harus bisa mengatakan kata itu dalam kalimat sehari-hari dalam bentuk apa pun, entah lisan entah tulisan."
"Mirip seperti Tebak Kata namun bukan dijawab dengan "iya", "tidak", atau "bisa jadi" itu?" tanya Halilintar. Di kampusnya dan Gempa, tidak pernah ada yang seperti itu, wajar kalau dia bingung.
"Ya, kata itu ditebak dalam kalimat biasa, seolah tidak pernah ada permainan itu," jawab Solar. "Siapa yang mampu "menebaknya" dulu, maka dialah pemenangnya. Itu berarti kita mampu membaca isi pikiran lawan main kita tanpa klu seperti dalam Tebak Kata."
"Jadi modifikasimu apa, Solar?" tanya Blaze antusias.
Solar menyeringai. "Sesudah menuliskannya, kita memberi tanda darah, lalu kita bakar kertas itu."
Ada jeda yang diisi dengan keheningan.
Alis kanan Halilintar menanjak. "Dibakar? Bukankah itu nantinya akan menjadi bukti? Kalau begitu, siapa saja bisa berbohong?"
"Oh, tidak-tidak. Justru di sinilah aku ingin melihat seberapa jujurnya kakak-kakakku. Menorehkan darah pada kertas dianggap sebagai sumpah." Menyadari kakak sulung yang tampak ketakutan. "Kalau Kakak sebegitu takutnya, tidak pakai darah tidak apa-apa, kok. Kakak bukan tipe pembohong soalnya."
"Kau meledekku, Solar?"
"Terserah bagaimana Kakak menganggapnya."
Entah sejak kapan, Blaze sudah menyalakan lilin dengan dua batang korek api—percobaan pertama gagal. "Kalau begitu tunggu apa lagi?! Ayo main! Jadi perbedaannya hanya pada siapa yang jujur saja, bukan?"
"Thorn ... Thorn takut darah ...," gumam Thorn, namun semuanya bisa mendengarnya.
"Thorn tidak perlu melukai tangan. Thorn itu selalu jujur." Taufan berujar sambil mengoleskan kertasnya dengan darah yang keluar dari ibu jari kanannya. "Tapi tetap ikut bakar, ya? Solidaritas."
Halilintar menjepit kertas miliknya dengan telunjuk dan jari tengah. "Kaupikir kau bisa membuatku takut, Solar? Mari kita lihat pikiran siapa yang lebih sulit ditebak!"
Tersenyum remeh, Solar melakukan hal yang sama. "Lihat saja, Kak Halilintar."
"Aku sudah siap." Berbeda dengan si sulung dan si bungsu, Taufan memegang kertasnya dengan capitan ibu jari dan telunjuk kanannya.
"Aku selalu siap!" Blaze menimpali. Ice yang di sebelahnya mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Sebentar, Thorn masih berpikir—oh, Thorn tahu!" Lima detik kemudian, Thorn membalik kertasnya, menyembunyikan isi di sisi satunya.
"Semua sudah siap? Bakar sekarang!"
Lilin kecil itu membakar enam buah kertas lalu meleleh hingga padam, bersamaan dengan bola lampu kamar yang pecah, jendela kamar yang terbuka dengan angin kencang yang menerpa masuk, dan bunyi debuman keras yang entah dari mana asalnya.
Hari telah berganti ketika jarum pendek menjejakkan diri di atas angka dua belas, namun kedua mata Taufan tak mau menutup lebih dari lima menit. Astaga, seharusnya sejak dua jam yang lalu, di saat permainan mereka berakhir, dia sudah berangkat ke alam mimpi. Barangkali saraf sadarnya punya firasat kalau mimpinya hari ini berkaitan dengan hal-hal mengerikan. Ah, kalau saja logikanya berjalan saat permainan itu berlangsung.
Solar ingin mencoba sebuah permainan yang lumayan terkenal saat ini. Kalau yang ada di internet, dibutuhkan pemain minimal dua orang. Masing-masing pemain mencatat sebuah kata pada kertas, lalu pemain menyimpan miliknya sendiri. Intinya, siapa pemain yang dapat menyebutkan kata yang dituliskan lawannya, maka pemain tersebut adalah pemenangnya.
Taufan adalah salah satu dari sebagian makhluk Bumi yang berpendapat bahwa permainan itu tidak asyik sama sekali. Entah apa yang seru dari permainan yang bernama Kata Hati itu. Awal pertama kali Taufan mendengarnya, Taufan pikir itu permainan untuk sepasang kekasih, terus terang saja.
Akan tetapi, Solar si adik paling jenius itu berhasil memodifikasinya menjadi permainan yang menegangkan—
"Belum tidur?"
—dan juga menakutkan, hingga menjadi alasan di balik insomnianya. Bola lampu yang meledak—Halilintar bilang besok dia akan menggantinya dengan yang baru—bukanlah pertanda yang bagus, Taufan tahu itu.
Oh. Taufan bisa merasakan sesuatu yang bernapas di tengkuknya sekarang.
"Thorn?" Taufan mendesah. "Sedang mencoba."
Bangkit dari posisi telentangnya, Taufan mengubah bantal menjadi sandaran untuknya duduk. Tatapannya terarah pada tempat tidur Thorn yang berseberangan dengan tempat tidurnya—
"H-Huh?"
—yang sedang tidur nyenyak dengan kedua tangan merangkul boneka katak.
Mungkin Taufan salah sangka dengan mengira Thorn-lah yang memanggilnya, mengingat sebenarnya suara mereka bertujuh itu nyaris terdengar sama. Bahkan ayah dan ibu mereka yang sedang bekerja di benua lain pun tak bisa membedakan mereka saat terhubung dalam panggilan telepon. Barangkali saudaranya yang lain yang memanggilnya barusan.
Taufan melihat sekeliling. Kasur Gempa masih rapi, sebab tak ada pemiliknya di sana. Blaze sudah menempatkan kakinya di atas bantal, sementara kepalanya berciuman dengan lantai. Ice menyembunyikan seluruh tubuhnya dalam selimut bak beruang hibernasi dalam gua. Solar tidur dengan posisi telungkup.
Halilintar tidur dengan posisi menghadap ke kanan, ke arah Taufan. Kedua tangannya menumpu kepala dengan selimut sebatas pinggang. Taufan ingin menertawakan Halilintar yang mendengkur halus dan tidur dengan gaya tuan putri, namun niat itu dibuang jauh-jauh. Setidaknya sampai semua ini berakhir.
Lalu, Taufan sadar, tidak ada yang menyebut namanya karena semua saudaranya tertidur ... tidak pulas, menurut dia sendiri.
Halilintar tidak akan pernah tidur seperti itu, Taufan tahu kalau kakak kembarnya nyaris tidak pernah tidur dengan posisi tubuh miring. Blaze sendiri memang sulit diam dalam tidurnya, namun hanya pada batas tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat, tidak seekstrem sekarang. Ice memang suka tidur, tetapi Ice tidak pernah memakai selimut karena katanya panas. Sementara Solar sangat peduli dengan kesehatan, dan beberapa kali Solar memperingatkan mereka untuk tidak tidur telungkup dikarenakan dapat mengganggu fungsi jantung dan paru-paru.
Hanya Thorn yang tidur dengan normal. Dengan itu, Taufan segera tahu bahwa bukan hanya dia yang merasakan hawa negatif.
Taufan mematung untuk beberapa saat sebelum dengan tergesa-gesa kembali menempatkan bantalnya dan memakai selimut untuk menutupi seluruh badan, mirip dengan Ice minus badan melingkar.
Dia ingin malam cepat berlalu.
Tebakan Taufan tepat. Selain Thorn, bukan hanya dia saja yang tak mampu tidur dengan tenang semalam. Semuanya kecuali Thorn duduk di meja makan dengan raut wajah mengantuk, nyaris menyerupai mayat hidup. Rasanya Taufan masih ingin tidur kalau tidak ingat harus membuka kedai sebagai rutinitasnya.
"Hari ini kita makan croissant!" seru Taufan seceria mungkin. Meski tak jago memasak seperti Gempa, tapi soal memanggang dia lebih profesional. "Tidak ada racun kok, tenang saja!"
Ice berkeringat dingin. Taufan berkata begitu malah justru terdengar mencurigakan. Tangannya gemetar saat mengambil croissant hasil panggangan Taufan.
"Kenapa, Kak Ice?" Thorn bertanya, kemudian melahap roti yang sudah diambilnya. Kunyah. Kunyah. Kunyah. Telan. "Memang tidak ada racun, kok."
Blaze tertawa riang. "Sudah lama kita tidak makan roti, soalnya Kak Gempa biasanya yang memasak. Enak sekali, Kak Taufan—"
"HNNNNGGGHHHHHHHHHHHH!"
Tubuh Ice bergetar hebat. Tak lama, Ice menghantamkan kepalanya sendiri ke atas meja berkali-kali. Melihatnya, Halilintar segera berdiri dengan kursi yang jatuh menghantam lantai. Halilintar menahan Ice yang masih berusaha membenturkan kepalanya yang kini berdarah.
"Ice!" seru Halilintar. "Apa yang terjadi padamu?!"
"GRAAAAAAAAAHHHHHH!"
Ice memberontak. Badannya meliuk ke sana ke mari. Halilintar yang menguasai bela diri pun tak sanggup menahan Ice yang entah sejak kapan memiliki tenaga lebuh kuat darinya. Terlepas dari penjagaan Halilintar, Ice jatuh berguling ke lantai, setelah sebelumnya tangannya menampar tempat alat makan. Sendok dan garpu jatuh berhamburan di sekitar Ice.
"Kak Ice! Kak Ice! Sadar!" jerit Thorn panik. Taufan ambil inisiatif dengan menjauhkan Thorn dari Ice. Dengan komunikasi lewat mata, Taufan memberi isyarat pada Blaze untuk membawa Thorn pergi, yang dijawab dengan anggukan patah-patah.
Dua buah garpu berada dalam genggaman Ice. Halilintar terlambat mencegah Ice yang menusuk lehernya sendiri. Taufan terlambat menahan tangan Ice yang beralih menghujamkan garpu yang lain pada mata kirinya. Blaze terlambat membawa Thorn pergi menjauh seperti pesan Taufan. Thorn terlambat untuk menutup mata dikarenakan terlalu sibuk meneriakkan nama kakak kelima.
Solar tercengang. Rahangnya tak mampu mengatup saat melihat aliran darah yang terlihat seperti air mancur dikarenakan pecahnya pembuluh arteri.
"KAK ICEEEEEEEEEEE!"
Thorn meraung sambil menangis panik. Dalam kesedihannya, Blaze mencoba menahan Thorn yang ingin berlari menghampiri Ice. Halilintar berjalan mundur dengan tubuh penuh cipratan darah. Dengan kondisi yang sama seperti Halilintar, Taufan ikut berjalan mundur dengan wajah pucat sambil menatap Solar yang menggigit kuku-kuku jarinya, berbisik dengan nada takut yang baru pertama kali Taufan dengar dari si bungsu.
"Tidak ... tidak mungkin begini …," racaunya. "sebab ... Kak Ice ... tidak ... tidak ... tidak menodai kertas itu dengan darah semalam ... dan Thorn. Aku tahu ... aku tahu itu …."
Sejak itu, semuanya sadar kalau mereka sudah terperangkap dalam permainan iblis.
"Jadi kata terlarang Ice adalah ... roti?"
"Kenapa ... kenapa Kak Ice memilih kata yang begitu mudah …?"
Taufan memutuskan untuk mengambil hari libur. Halilintar membawa masuk tas dan map-map bawaannya. Blaze dan Thorn mengganti seragam sekolah mereka, sementara Solar membersihkan darah yang melekat pada seragamnya, stel formal milik Halilintar, dan pakaian kasual milik Taufan sebelum ikut berkumpul di ruang tengah.
"Sepertinya begitu," lirih Taufan. "Seharusnya aku tidak memanggang—"
"Ini semua tidak akan terjadi jika kita tidak memainkan permainan Solar!" potong Blaze. Kedua matanya memancarkan amarah dan rasa bersalah di saat yang sama. Sebagai saudara kembar Ice, dialah yang paling merasa kehilangan. Belum lagi, dia juga yang menyebabkan kematian Ice secara tidak langsung. "Solar mau membunuh kita semua!"
Solar duduk dengan kedua kaki rapat dan kedua tangan yang terkepal di atas pahanya. Mendengar namanya disebut, Solar mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk lemas. Membalas tatapan Blaze dengan sorot mata pasrah, Solar berujar, "Ini memang salahku. Akan kusebut kata terlarangku sekarang juga. Nyawa dibalas nyawa, jika memang begitu aturan bermainnya sekarang."
"Berhenti!" Thorn menjerit sambil meremas topi hitam bergaris hijaunya. "Kumohon, hentikan, Kak Blaze, Solar! Thorn tidak mau kehilangan siapa pun lagi ... tidak mau ... tidak mauuuuuuu ... hiks hiks hiks …."
"Thorn, jangan menangis, ya? Kita akan mencari jalan keluar dari masalah ini, jadi tenang saja, oke?" Taufan memeluk Thorn, berusaha memberikan ketenangan. "Apa kalian yakin dengan ... membiarkan Ice di meja makan, omong-omong?"
"Kak Gempa akan segera mendengarnya ... karena pasti semua orang akan bertanya-tanya dan media massa akan meliput hal ini dengan sangat cepat," jawab Solar. "Aku ... menyesali ini semua, benar-benar menyesal."
"Gunakan otak cerdasmu itu untuk memecahkan masalah ini, ceh," desis Blaze.
"Bersikap seperti itu tidak akan mengubah apa pun, Blaze," tegur Halilintar. "Karena kita semua juga setuju untuk bermain dengan Solar, sudah tentu ini adalah kesalahan kita semua, bukan hanya Solar saja."
"Apa ... kh ... hiks ... yang harus kita lakukan ...?" lirih Thorn dalam sela tangisnya. "Thorn tidak mau mati ... Thorn tidak mau yang lain juga mati ... seperti Kak Ice …."
"Aku baru ingat, kalau sebenarnya ... menggunakan darah sama saja dengan mengundang iblis." Solar menarik napas, kemudian mengembuskannya. Terasa begitu berat. "Tapi aku tahu, malam kemarin, Kak Thorn dan Kak Ice tidak menggunakan darah pada kertas mereka. Aku tidak mengerti mengapa Kak Ice yang menjadi korban pertama. Kalaupun memang harus ada korban, seharusnya itu hanyalah antara aku, Kak Blaze, Kak Taufan, dan Kak Halilintar."
"Maksudmu kau berharap aku mati?!" tanya Blaze dengan suara tinggi.
"Tenang, Blaze!" bentak Halilintar. Blaze hanya melipat dada dan membuang muka. "Apa yang Solar jelaskan ada benarnya. Tentu sudah ada yang salah dengan permainan ini. Kita semua tidak tahu akan begini, mungkin ini yang menjadi alasan mengapa Ice memilih kata yang mudah. Pikirannya memang sesimpel itu."
"Mungkin kesalahan kita ada pada penggunaan darah itu," timpal Taufan. "Aku tidak bermaksud membuatmu semakin bersalah, Solar, tapi ide-idemu memang kadang terlalu ekstrem dan kami justru malah ikut-ikutan saja. Kalau urusannya sudah menyangkut dunia lain, apa tidak sebaiknya kita mencari ... orang pintar?"
"Permainan ... mungkin akan berakhir dalam dua puluh empat jam," ujar Thorn setelah tangisnya reda. "Teman-teman Thorn melakukannya seperti itu. Waktunya satu hari penuh atau sampai salah satu pemain bisa menebaknya. Mungkin ... mungkin kalau kita diam saja ... kita bisa melaluinya …."
"Oh, kalau Thorn tidak bilang, aku tidak akan ingat." Blaze buka suara sambil memperbaiki posisi duduknya. "Rata-rata sih begitu, tapi biasanya permainan ini hanya dimainkan dua orang. Jarang sekali dengan orang banyak, makanya ada patokan dua puluh empat jam itu, kalau tidak salah."
"Kalau begitu, sebaiknya kita tutup mulut. Jangan ada yang bicara sampai dua puluh empat jam berlalu," titah Halilintar.
Solar teringat sesuatu. "Dua puluh empat jam berarti ... Kak Gempa sudah pulang …."
Halilintar merespon tanpa ekspresi. "Cepat atau lambat, Gempa memang akan tahu soal Ice. Kita tidak bisa menutup-nutupinya."
Solar mengecek ponselnya. Persentase baterai menunjukkan angka empat puluh tujuh. Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Mengetahui belum dua belas jam berlalu, Solar menggeleng lemah, tampak putus asa. Pikirannya masih menyusun kata-kata yang harus dia katakan saat kakak ketiganya pulang petang nanti.
Menolehkan kepala, Solar menatap keempat kakaknya. Mereka melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda darinya—bermain ponsel.
Tiba-tiba Halilintar berdiri, sukses menarik perhatian keempat adiknya. Solar tampak was-was saat melihat Halilintar mengambil gunting di atas meja belajar.
"KAK HALI! KAK HALI MAU APA?!" Blaze adalah orang pertama yang meneriakkan nama Halilintar. Segera dia bangkit dari posisi tidurannya, mendekati Halilintar yang menggenggam gunting dengan dua tangannya. "KAK HALI, SADAR—"
Mulut Blaze tertutupi darah berwarna merah gelap.
"KAK HALILINTAR!" Barulah Solar berseru panik. Beranjak dari tempat tidurnya, Solar segera menahan kedua tangan Halilintar yang terus menikamkan gunting pada bagian tubuhnya secara acak, namun tubuh Solar terhempas jatuh ke lantai akibat dorongan kakak sulungnya.
Giliran Taufan yang berteriak, "HENTIKAN, KAK! HENTIKAN!"
Dengan mulut penuh darah dan gunting yang berakhir menancap di dada kiri, Halilintar berbisik pedih, "To ... long ... aku ... kh ... khhhhhh ... ti ... dak ... bisa ... berhen ... ti …."
Tubuh Halilintar jatuh dengan belasan luka tikam pada anterior, kebanyakan terletak pada area abdomen.
"Tidak ... tidak ... AKU SUDAH TIDAK KUAT LAGI! ARGHHHHH!" Berlumuran darah karena berdiri paling dekat dan terciprat darah Halilintar, Blaze meracau sambil membuka kaca jendela—
"BLAZE, JANGAN!"
—lalu melompat ke luar.
Thorn menangis kencang. Solar terduduk lemas. Taufan memeluk kedua adik kecilnya yang terlihat begitu rapuh.
Dengan wajah setengah terbenam dalam pelukan Taufan, Solar berujar lirih, "Permainan ini mengharuskan kita menebak ... iblis itu mana mungkin terima jika kita hanya diam saja …."
Jam nyaris menunjukkan waktu tengah hari. Taufan bersama Thorn dan Solar menghabiskan waktu dengan bermain ular tangga. Entah sudah berapa kali permainan berlangsung, tidak ada yang peduli. Setelah memastikan bahwa kata terlarang mereka tidak berkaitan dengan ular tangga, mereka memutuskan untuk terus bermain hingga dua puluh empat jam penuh.
"Thorn mau pipis," celetuk Thorn saat Taufan nyaris berdebat dengan Solar karena dengan teganya Solar mendepak pion milik Taufan. "Thorn boleh ke toilet?"
"Kakak yakin tidak apa-apa? Mau aku temani?" tawar Solar.
"Thorn kan sudah besar, bisa pipis sendiri. Thorn ke toilet dulu ya!"
Thorn pergi, meninggalkan Taufan dan Solar yang tidak jadi memperdebatkan masalah pion biru Taufan yang tertendang. Pembicaraan mereka teralihkan ke topik yang lain.
"Kak Taufan? Ada yang ingin kubicarakan, ini soal dugaanku tentang permainan ini …."
Taufan mendesah pasrah bercampur hilang asa. "Ada apa, Solar?"
Solar memberikan selembar kertas HVS yang terlipat dua. "Bacalah, Kak. Setelah itu, pergilah. Aku mau menemui Kak Thorn."
"Tunggu, Solar—"
Terlambat. Solar sudah berlari kencang meninggalkan Taufan seorang diri. Setelah merasa percuma untuk meneriakkan nama si bungsu, Taufan pun membuka lipatan kertas seperti apa yang diminta Solar. Ada banyak coretan di sana, tapi kontennya masih bisa dimengerti.
Kak Ice meninggal karena kata terlarangnya disebut oleh Kak Blaze. Kata terlarangnya adalah roti.
Kak Halilintar meninggal karena tidak ada yang berbicara selama permainan berlangsung. Kata terlarang tidak diketahui, tapi kematian Kak Halilintar punya kaitan dengan waktu karena tidak ada yang berbicara dalam waktu cukup lama, time.
Kak Blaze meninggal karena depresi dengan loncat keluar jendela. Kata terlarang tidak diketahui, tapi kematian Kak Blaze karena dia keluar, out.
Time out = waktu habis. Kita memang menghabiskan waktu tanpa berbicara, iblis tidak terima.
Menurut urutan lahir, akan terlihat susunan seperti ini :
Kak Halilintar - time
Kak Taufan - (belum diketahui)
Kak Blaze - out
Kak Ice - roti
Kak Thorn - (belum diketahui)
Aku, Solar - (tidak penting lagi)
Kak Taufan, jika mengambil huruf awal ketiga kata yang kutulis, tidakkah Kak Taufan tahu siapa iblisnya sekarang?
Jika aku benar, Iblis itu ingin "mengakhiri" hidupku, lalu "menghabisi" Kak Taufan. Sejak awal, permainan ini hanya kedok untuk si iblis membunuh kita semua.
Bertahanlah, Kakak!
Taufan mengambil pena yang pertama kali dilihatnya, kemudian mencoret kertas Solar.
Solar - "mengakhiri" - akhir, end.
Aku - "menghabisi" - habis, vanish, disappear, dead, tamat
"Habislah aku ... ya?"
Hali - Time, T
Aku - Habis, H
Blaze - Out, O
Ice - Roti, R
Solar - End, terdengar seperti N
"Tidak mungkin!" Taufan menjerit saat menemukan sesuatu dari pesan milik Solar. Napasnya tercekat. "Mana mungkin—"
"Kak Taufan ...?"
Menoleh dengan gerakan patah-patah, Taufan membulatkan matanya horor. Seseorang memasuki kamar. "Tidak—"
"Ada apa ini?"
"Hah ...?"
Keenam saudara kembarnya menoleh dengan wajah syok. Gempa mengernyitkan dahi, bingung.
"GEMPA?!"
"KAK GEMPA?!"
Gempa spontan mengangkat tangan kanannya. Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulutnya. "Ya? Saya? Kalian kenapa kaget begitu? Kalian dari tadi membahas apa? Loh, Thorn menangis? Kak Halilintar, Ice, sama Blaze kok pucat?"
"Thorn ... masa Thorn iblisnya ...?" isak Thorn.
"Aku menusuk diriku dengan garpu ...," gumam Ice.
"Wajahku tidak pucat!" tukas Halilintar.
Blaze memegang kepalanya, pening. "Aku loncat dari lantai dua, benar-benar mengerikan."
Mendengar keluhan dari saudaranya, Gempa makin bingung. "Oke, ada yang bisa menjelaskan ini semua padaku?"
"Solar menunjukkan naskah drama yang akan kita tampilkan nanti waktu perpisahan kakak kelas, jika wabah seandainya sudah berakhir. Singkatnya, semuanya mati kecuali Gempa," jelas Taufan.
"Karena aku pembunuhnya?" tebak Gempa.
"Skenarioku tidak seklise itu, Kak Gempa," sanggah Solar sedikit tersinggung. "Latar kisahnya, Kak Thorn punya dendam lalu mengikat kontrak dengan iblis untuk membunuh kami. Kak Gempa tidak terlibat karena Kak Gempa kan panitia perpisahan, jadi untuk mengisi kekosongan peran Kak Gempa, kubuat Kak Gempa sedang ikut makrab. Bagaimana, Kak?"
"Solar, sebagai ketua OSIS dan kakakmu, aku menolak naskah itu. Buatlah naskah baru yang lebih bermoral, atau setidaknya baik dan aman. Orang bisa saja terpengaruh dengan cerita buatanmu karena tanpa peringatan, kautahu? Salah-salah kakak kelas kita nanti malah jadi paranoid." Mendapati Solar yang ingin protes, Gempa buru-buru melanjutkan, "Lagi pula, kalau kamu mau memakai naskah itu, bagaimana cara memalsukan kematian kakak-kakakmu di panggung nanti?"
Sepasang zamrud mengerjap dua kali. "Oh? Thorn kira semuanya akan mati sungguhan."
"..."
Sejak saat itu, Thorn tak pernah terlihat sama lagi.
tamat
~himmedelweiss 11/04/2020
