Surviving The Pandemic.

Ini bakal membuatnya gila. Ino meletakkan ponselnya di meja setelah bosan memainkan game yang telah ia mainkan ratusan kali sejak ia terpaksa berdiam diri di rumah. Gadis pirang itu menyalakan televisi dan pembawa acara berita tengah menginfokan berita tentang virus Corona, tiap hari jumlah orang yang meninggal bertambah. Dengan kesal dia mematikan kembali televisinya. Dia sudah merasa cemas tingkat akut. Berita macam ini hanya membuatnya semakin takut. Kapan semua ini akan berakhir? Ino mendesah berat. Sepanjang hari dia menunggu waktu. Melihat jam berganti, menanti malam datang dan dia akan tidur lagi. Apartemen munggilnya terasa bagaikan penjara, tapi ia mengerti pergi ke luar bukanlah tindakan bijaksana.

Menjelang siang perut Ino berbunyi. Isi kulkasnya telah kosong. Dengan terpaksa dia menyeduh mie instan untuk mengganjal perutnya. Sepertinya ia harus keluar untuk berbelanja. Kening gadis muda itu berkerut menghitung-hitung jumlah uang yang tersisa dalam rekeningnya. Ino hanya bekerja sebagai waitress di sebuah restaurant. Berhubung tempat kerjanya ditutup dia tidak lagi menerima gaji. Untung saja dia memiliki tabungan kalau tidak bagaimana nasibnya sekarang, sudah tidak mungkin baginya untuk pulang ke rumah sang ayah sekarang. Ia tak mau membawa virus buat ayahnya yang sudah tua dan memiliki riwayat penyakit jantung, tapi bagaimana dia bisa membayar sewa apartemen selama dia tak bekerja. Mungkin dia harus menelpon pemilik property barangkali dia bisa memberikan sedikit keringanan mengingat situasi ekonomi terhenti.

Setelah makan Ino lanjut membersihkan rumahnya. Selama dia tinggal di sini tak pernah dia melihat rumahnya begini bersih. Ia telah menyortir semua pakiannya, membuang barang-barang yang tak diperlukan bahkan mengelap semua sudut yang terlihat. Ia juga mengelap handle pintu dengan disentifikan sesering mungkin.

Bunyi ping terus menerus terdengar dari ponselnya. Sepertinya grup chat sedang ramai-ramainya. Ino tertawa melihat video yang dikirimkan Naruto.

Ino mengetikkan sebuah pesan.

Ino : Sasuke bakal membunuhmu.

Sasuke : Aku sudah membunuh si Baka itu.

Naruto : Aku masih hidup koq. Sasuke bakal gila kalau aku tak ada. Bukan salahku kalau tissu toiletnya habis.

Sasuke : Baka, Kau tahu tissue itu barang langka. Malah kau kasih ke tetangga. itu stock terakhir kita.

Naruto : Kau bisa membersihkan pantatmu dengan air kan.

Sasuke left the chat.

Sakura : Sasuke keluar ya? Aku invite lagi deh.

Ino : Enak ya punya teman serumah.

Naruto : Lama-lama bisa gila. Biasanya aku punya waktu tenang tanpa mendengar keluhan Sasuke di kantor, tapi semenjak WFH aku tak bisa menghindarinya.

Sasuke join chat

Sasuke : Aku yang tak bisa menghindar dari kekacauan yang kau buat. Jangan bikin rusuh di areal bersama.

Naruto : Cerewet !

Hinata : teman-teman ada yang punya masker?, Penting banget nih.

Sakura : Aku punya banyak, tapi bukan yang N-95

Ino : Penimbun… woi.. penimbun.

Sakura : Eh Pig, Ini stock masker sensi sisa kerja di salon. Enak aja nimbun. Cma punya satu box dibilang nimbun.

Ino : wk..wk..wk . maaf Sakura.

Hinata : Duh aku harus cari di mana ya?

Naruto : Memang dirumah sakit gak ada, bebe?"

Hinata : itu dia masalahnya, Kita kekurangan ADP ini masker sudah aku pakai dua hari pahal idealnya Cuma delapan jam. Aku bener-benar takut dan lelah.

Ino : Kamu masih belum pulang?

Hinata : Belum, aku sudah shift 14 jam, lelah hayati. Lagi pula aku gak berani pulang. Kasihan keluarga kalau seandainya aku bawa-bawa virus.

Sakura : Saat begini bersyukur juga ujian fakultas kedokteranku gagal.

Naruto : Be strong bebe.

Hinata : Aku kangen Naruto-kun

Sasuke : Hush… Japri sana. Gimana situasi di rumah sakit?

Hinata : Horor, Kita kewalahan. Tempat tidur kurang pasien membeludak. Kita tim medis udah capek semua. Kesel sama orang2 bego yang masih aja jalan-jalan udah tahu situasi genting. Pokoknya kalian stay at home dan berdoa aja biar ini cepat berakhir.

Ino : Kayaknya aku gak bisa stay at home. Kulkasku kosong. Kalau gak belanja bisa kelaparan aku. Ini juga duit makin menipis.

Sakura : Tar kalau bokek bajumu saja ya kau makan. Makanya punya duit jangan pakai beli baju sama make up mulu.

Ino : Prihatin dikit kek sama temen.

Naruto : Sama, Semenjak Corona gajiku dipotong 50%. Untung punya temen sultan.

Sasuke : Duit yang kau pinjam harus diganti berserta bunganya.

Naruto : Sadis loe.

Hinata : ck..ck..ck..

Ino : Aku cap cus dulu ya. Tar kalau kesorean toko udah pada tutup.

Ino berjalan menuju supermarket terdekat, ia tak lupa memakai masker yang entah sudah berapa kali dia pakai. Mau bagaimana lagi nyarinya susah, kalaupun ada harganya luar biasa. Ino lega supermarket tampak sepi, tapi rak-rak yang seharusnya dipenuhi bahan makanan juga banyak yang kosong. Ino mendengus kesal. Kenapa masih ada orang yang borong. Padahal banyak orang lain yang juga butuh makanan. Ino mengambil dua bungkus roti terakhir, ia masih menemukan kentang, beras dan jagung. Dia bahkan berebutan dengan seorang ibu-ibu untuk mendapatkan dua pak telur. Sisanya dia memenuhi keranjang dengan mi istant dan makanan kaleng. Bukan opsi yang sehat tapi dari pada kelaparan. Ini tentang survival.

Ketika Ino hendak self chekout. Ia melihat seorang nenek tampak sedih melihat rak-rak yang kosong. Ino mendekatinya. "Apa nenek mencari roti?"

"Iya, Semuanya sudah habis." Keluh wanita tua itu sedih.

Ino menyerahkan dua potong roti dari keranjangnya. " Ini untuk nenek saja." Ino sedih, sangat riskan bagi orang tua keluar dari rumah untuk saat ini. Nenek itu pasti tak punya orang yang membantu.

" Terima kasih, Nak. "

" Sama-sama."

.

.

Ino meletakkan sepatunya di luar. Gadis pirang itu mendorong pintu apartemennya dengan siku, lalu buru-buru menjemur mantel yang ia kenakan di balkon dan mencuci tangan setelah itu ia membereskan barang belanjaan kemudian mandi. Ia sangat takut terpapar virus corona. Bahkan setelah itu Ino melanjutkan ritualnya dengan menyemprot disentifikan pada sepatu dan membersihkan gagang pintu. Mencuci baju dan tas belanja yang tadi dia pakai. Merasa sudah aman, Ino berdiri di balkon. Ini baru hari ke tujuh dia dia sudah merasa bosan. Dia ingin ngopi-ngopi cantik, jalan-jalan di mall, dia ingin bertemu teman-teman dan ayahnya. Punya banyak waktu dan terisolasi membuatnya harus menghadapi hal yang dia tidak sukai rasa kesepian.

Kembali merasa bosan. Ino mengulik ponselnya. Membuka aplikasi tik-tok dan mulai merekam video. Siapa sangka Ino akan menginstal aplikasi yang dia selalu identikan dengan manusia alay. Mungkin dia sudah emang sudah gila joged-joged di balkon. Gak apa-apa buat lucu-lucuan kan dari pada bengong. Naruto saja berhasil mengajak Sasuke yang dingin itu tik-tokan.

Setelah selesai goyang dombet plus joget ubur-ubur. Ino mendengar suara tepuk tangan.

"Lanjutkan saja, jangan anggap aku."

Ino baru sadar, penghuni apartemen di depannya juga sedang berdiri di balkonnya merokok. Ia tak pernah melihat pria itu. Rambut hitam, kulit pucat. Tubuhnya sedikit kurus terbalut oleh t-shirt hitam dan celana training abu-abu.

"Perokok punya resiko kematian lebih besar bila terjangkit virus corona, loh." Ucap Ino. Ada jarak empat meter memisahkan balkon mereka.

"Kau benar, Mungkin aku harus berhenti merokok." Ujar pria itu mematikan api dan membuang putung rokok yang dia hisap ke lantai. "Aku baru tahu ada gadis cantik tinggal di dekatku."

"Aku bahkan tak tahu kalau apartemen di depanku ada penghuninya."

Pria berkulit pucat itu membuat senyum kecil yang membuat jantung Ino berdetak kecang

'owh, cakep banget' komentarnya dalam hati.

"Mungkin karena aku Introverts sejati yang jarang keluar."

"Kau senang dong dikarantina seperti ini."

"Tidak, Aku mulai merasa bosan. Apalagi aku kehabisan supply alat lukis." Untuk sementara Sai harus puas membuat sketsa dan bekerja dengan tinta. Semoga saja lockdown ini berakhir sebelum dia kehabisan kertas.

"Hah…Memang membosankan, tapi jalani saja demi keselamatan bersama." Keluh Ino.

"Apa kau tak lanjut lagi tik-tok an?"

"Enggak, Gara-gara kamu mood-ku langsung anjlok."

Tetangga di sebelah kanan Ino membuka jendela dan keluar marah-marah. "Kalian berisik banget. Ngomongnya jangan keras-keras."

"Maaf-maaf." Ino tak sadar sudah berbicara dengan keras.

Pria pucat itu mengangkat buku sketsa berukuran A3. Ino bisa membaca nomor yang ditulis ekstra besar. "Ini Nomor Hp-ku." Teriaknya.

Ino buru-buru mencatat. Tak ada salahnya kan mengenal tetangga. Apalagi tetangga ganteng yang baru saja memuji dia cantik. Ino langsung mengirimkan pesan.

'Aku Ino. Kita chat saja ya ngobrolnya biar tetangga lain gak marah."

Sai merasa ponselnya bergetar, Ia langsung membaca pesan itu. Dia mengira gadis itu tak berniat berkenalan dengannya.

'Oke. Aku Sai. Senang berkenalan denganmu.'

Ino tertawa melihat emoji wingking di akhir pesan pria itu. 'Oh dia mencoba flirting dengaku rupanya'

Ino melemparkan senyum manisnya lalu masuk kembali ke apartemen. Sang gadis pirang duduk di sofa dan kembali mengetik. Sepertinya masa karantina ini akan lebih menarik dengan adanya tetangga ganteng yang bisa digoda.