Summary:
Mereka sama-sama terjebak dan melakukan hal yang tak seharusnya di dalam lift. Tapi siapa yang peduli!
...
Selamat membaca
...
Byun Baekhyun adalah Office Boy baru di sebuah perusahaan besar bernama Loey Corp. Pekerjaannya tak berbeda jauh dengan OB OB pada umumnya. Bersih-bersih tentu saja. Memang apalagi.
Tidak mungkinkan OB sepertinya diberi tugas sebagai budak sex untuk sang pemilik perusahaan. Itu sih namanya konyol!
Omong-omong tentang pemilik perusahan—pemilik perusahan tempat Baekhyun bekerja adalah seorang pria tampan dan masih muda. Namanya Park Chanyeol. Selain tampan, Chanyeol juga tinggi dan seksi. Apalagi dadanya yang bidang dan kakinya yang panjang. Belum lagi otot lengannya yang tercetak jelas meski masih terbungkusbaju kerja. Ugh, intinya pria itu panas sekali.
Darimana Baekhyun bisa tahu sampai sedetail itu? Tentu saja dia tahu. Dia kan beberapa kali mendapatkan tugas membersihan ruangan si bos besar.
Tapi yang membuat Baekhyun penasaran adalah—ukuran benda di selangkangan Chanyeol. Baekhyun ingin tahu dan terkadang juga menerka-nerkanya sendiri. Katakan dia mesum dan kurang ajar. Tapi Chanyeol terlalu menggairahkan untuk ia lewatkan.
Apa Baekhyun tertarik pada bosnya sendiri? Tentu saja ia. Hanya orang bodoh yang tak tertarik dengan Chanyeol. Bahkan terkadang Baekhyun membayangkan Chanyeol sebagai bahan masturbasinya.
Jangan heran! Kan sudah dibilang kalau Baekhyun itu mesum dan kurang ajar. Padahal ia baru bekerja di perusahaan Chanyeol tiga minggu yang lalu. Tapi dengan tak tahu malu ia malah menjadikan bosnya sebagai objek fantasi mesum.
Tapi siapa peduli! Toh, itu adalah rahasianya sendiri. Tidak ada yang tahu.
"Kenapa terus melihatku?"
Baekhyun tersadar dari lamunananya saat suara berat dan dalam Chanyeol terdengar. Dengan gugup ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Tidak apa-apa, Sir."
Lantas Baekhyun kembali melanjutkan tugasnya mengepel lantai ruangan Chanyeol. Pagi itu Baekhyun memang dapat tugas bersih-bersih ruangan bosnya. Dan seperti biasa dia akan menggunakan kesemptan itu untuk mengaggumi tubuh Chanyeol. Ah, nikmat sekali dunia ini.
Mereka hanya berdua saja di ruangan itu. Tidak ada suara lain kecuali deru AC yang menyala samar dan bunyi kain pel yang bertabrakan dengan lantai keramik.
"Setelah tugasmu selesai tolong buatkan aku kopi. Jangan terlalu manis."
"Baik, Sir."
Beberapa saat berlalu dan acara mengepel Baekhyun telah selesai. Seperti yang bosnya perintahkan maka ia pergi ke dapur kantor untuk membuat kopi bagi Chanyeol.
Baekhyun bersorak dalam hati. Ia membayangkan dirinya sebagai istri Chanyeol yang sedang membuatkan kopi untuk sang suami. Lalu mereka akan sarapan bersama dan berbagi ciuman manis di pagi hari. Ah, membayangkannya saja Baekhyun jadi gila.
Saking gilanya Baekhyun sampai tak sadar memasukkan banyak cube gula ke dalam kopi Chanyeol.
Selesai dengan kopi yang ia buat, Baekhyun membawanya ke ruangan Chanyeol. "Silakan, Sir."
Chanyeol meraih kopinya dan meneguknya pelan. Tapi—
"Byur..." kopi di mulutnya menyembur tepat mengenai wajah Baekhyun. Baekhyun refleks memejam. Sialan! Dia mengumpat dalam hati.
"Kau gila ya?! Apa kataku tentang jangan terlalu manis?! Kau sengaja ingin membuatku diabetes, huh?!" Chanyeol memaki cepat.
"M-maaf, Sir. Saya tidak sengaja. Saya akan mengganti kopi anda dengan yang baru."
"Tidak perlu! Keluar sana!—dan bawa kopi sialan ini bersamamu."
Baekhyun membungkuk dua kali sambil bergumam maaf. Setelahnya ia pergi keluar ruangan Chanyeol dengan membawa kopi buatannya.
Sampai di luar, Baekhyun menyeruput kopi tadi -tepat di pinggir cangkir bekas Chanyeol minum- lalu meringis karena merasakan lidahnya nyaris mati rasa. Ini manis sekali. Pantas saja bosnya marah-marah.
Tapi Baekhyun masih bisa tersenyum setelahnya—setidaknya ia pernah minum satu cangkir yang sama dengan Chanyeol. Bisakah ia menghitung ini sebagai ciuman tak langsung?
Dasar gila!
...
Hari ini Baekhyun lembur kerja karena mendapat tugas membersihkan gudang dan mengharuskannya pulang malam. Dan saat ini dia sedang berjalan di antara koridor kantor yang sepi.
Baekhyun bergidik ngeri saat teringat cerita rekannya beberapa hari yang lalu. Rekannya bilang kalau perusahaan tempat mereka bekerja saat ini ada hantunya.
Hantu itu akan muncul setelah pukul sepuluh malam. Barang siapa yang belum pulang sebelum pukul sepuluh maka kemungkinan besar akan ditakuti oleh hantu penunggu kantor.
Sialnya saat Baekhyun melihat jam di ponselnya—detikan itu menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit. Itu artinya Baekhyun harus cepat.
Melihat ada sebuah lift terbuka ia langsung masuk begitu saja. Suasana kantor yang sepi membuatnya semakin takut dan segera menekan tombol lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Tapi belum sempat pintu lift tertutup sebuah telapak tangan menahannya. Baekhyun cengo. Inikah hantu yang rekannya maksud? Hantu tangan buntung?
Tapi saat pintu lift terbuka akhirnya Baekhyun bisa bernafas lega. Ternyata tangan itu punya badan. Dan badan itu milik Chanyeol—bosnya.
Tunggu! Bosnya?
Baekhyun membungkuk hormat saat sadar ia berada dalam satu lift dengan Chanyeol. Pintu lift tertutup kembali dan mereka sama-sama diam.
Baekhyun tak berani buka mulut meski ia ingin sekedar berbasa-basi dengan Chanyeol. Tapi Baekhyun sungkan. Takut Chanyeol membahas insiden kopi tadi pagi. Takut salah bicara juga. Bisa-bisa dia dipecat.
Krek! Brak!
Tiba-tiba lift yang akan turun ke bawah berhenti lengkap dengan guncangan serta suara yang cukup keras. Juga lampu lift yang mati dan kondisi tiba-tiba gelap. Baekhyun otomatis takut dan tanpa sadar memeluk Chanyeol. Tolong garis bawahi bagian tanpa sadarnya, oke!
"Menyingkir dariku." Chanyeol menoyor dahi si OB yang ia ketahui bernama Baekhyun menggunakan telunjuknya. "Ta-tapi saya takut, Sir."
Anak itu terasa bergetar saat mendekapnya. Chanyeol jadi tak tega. Ia membiarkan Baekhyun begitu saja. Menyadari lift sedang rusak, otomatis Chanyeol menekan tombol darurat. Tapi sialnya tombol itu tak berfungsi.
Tak putus asa. Pria Park itu mengambil ponselnya di saku untuk mencoba menghubungi seseorang. Sialnya lagi ponselnya tak ada sinyal.
Chanyeol mendesah kasar dan melempar tas kerjanya begitu saja hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Gara-gara itu pula Baekhyun memeluk Chanyeol tambah erat.
"Lepaskan aku. Kau membuatku tak bisa nafas, Baekhyun-ssi." Chanyeol melonggarkan lilitan tangan Bekhyun pada badanya. Tapi Baekhyun bersikeras mendekap semakin kencang. Anak itu benar-benar takut gelap—juga rumor hantu.
"Tidak mau. Saya takut, Sir."
"Takut? Takut pada apa? Tidak ada hantu di sin—" kalimat Chanyeol terhenti saat Baekhyun membekap mulutnya dengan telapak tangan. Lancang sekali memang.
"Ssstt...jangan bicarakan tentang mereka, Sir."
"Baaahh..." Chanyeol menyingkirkan tangan Baekhyun paksa. "Kau minta dipecat ya!?" makinya penuh emosi. Demi tuhan! Bagaimana seorang OB bisa sekurang ajar pemuda ini. Sudah memeluk—pakai bekap-bekap mulut pula.
Baekhyun merengut dalam diam. Bibirnya mencebik maju panjang sekali. Tapi tangannya masih memeluk erat Chanyeol; meski tak bisa seutuhnya karena tangannya yang pendek dan tubuh bosnya yang besar.
"Sir, saya takut gelap." bisiknya mengadu.
"Aku tidak peduli." tapi meski begitu Chanyeol mulai menyalakan aplikasi senter yang ada pada ponselnya. Bukan apa-apa, setidaknya dengan sedikit penerangan ia berharap OB ini melepaskan pelukannya.
"Sekarang sudah terang. Bisakah kau melepaskan pelukanmu." itu memang terdengar seperti pertanyaan—tapi aslinya adalah perintah.
Dengan tak rela Baekhyun melepaskan pelukannya. Ia melirik pada Chanyeol yang tengah melepaskan dasi dan jas kerjanya. Juga tiga kancing teratas kemeja yang pria itu kenakan. Serta lengan kemeja yang digulung sebatas siku. Menampakan otot-otot tangannya yang menyembul seksi.
Baekhyun membasahi bibirnya dengan lidah. Dada bidang Chanyeol melambai-lambai. Ia jadi ingin merabanya.
Tapi urung saat Chanyeol malah mendudukkan diri di lantai lift. Pria itu sepertinya lelah berdiri terus. Pun dengan Baekhyun yang mulai pegal. Jadi ia menyusul bosnya duduk di lantai. Bosnya di ujung sana dan Baekhyun sendiri di ujung sini.
"Sir, kira-kira kita akan terjebak lama tidak ya?" Baekhyun bertanya takut-takut. Pun tak berani melirik pada Chanyeol.
"Mungkin sampai pagi."
Suasana kembali hening. Tidak ada yang terjadi di dalam sana. Baekhyun hanya sesekali melirik pada Chanyeol dengan dibantu oleh penerangan senter. Wajah Chanyeol terlihat lelah dan Baekhyun merasa kasihan.
"Sir, jika anda merasa butuh istirahat maka tidurlah. Saya akan membangunkan anda kalau-kalau liftnya berfungsi kembali."
Chanyeol menoleh ke arah OB-nya itu sekilas. Ide yang bagus dan Chanyeol sendiri tak memungkiri jika ia memang butuh istirahat. "Kalau begitu tolong."
Setelah melihat Baekhyun mengangguk, Chanyeol mengambil posisi nyaman dengan bersandar pada dinding lift. Tak lama berselang ia pun jatuh tertidur.
Baekhyun sendiri tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menggunakan waktu sebaik mungkin dengan memandangi wajah terlelap Chanyeol sepuas yang ia bisa. Bahkan sampai 30 menit berikutnya.
Namun tiba-tiba Baekhyun tak merasa puas dengan hanya melihat saja. Pandangannya turun ke arah bibir Chanyeol yang tebal. Bibir itu bagaimana ya rasanya? Baekhyun penasaran dan bertanya-tanya dalam hati.
Tanpa sadar ia mendekati Chanyeol. Mengamati bibir itu dari dekat dengan hati berdebar. Baekhyun ingin melumat dan mengigitnya hingga berdarah. Tapi itu terlalu beresiko dan bisa saja malah membangunkan Chanyeol.
Jadi Baekhyun pikir mengecupnya sudah lebih dari cukup. Dan ia benar-benar melakukannya; menempelkan belah bibirnya pada bibir tebal Chanyeol.
Seperti halnya magnet, bibir Baekhyun belum mau lepas. Hingga ia tak menyadari bahwa bosnya sudah membuka mata.
Baekhyun tersadar dan langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Chanyeol. "Apa yang baru saja kau lakukan?!" Chanyeol menatap Baekhyun tajam.
Baekhyun takut sebenarnya. Tapi semua sudah kepalang tanggung. Dia yakin setelah ini ia akan dipecat dengan tidak hormat. Lalu kenapa tak sekalian saja.
"Sir, saya tidak peduli jika setelah ini anda akan memecatku! Tapi satu yang pasti—saya tidak bisa menahannya lagi."
Dan Baekhyun kembali mempertemukan bibir mereka kembali. Kali ini lebih ganas. Lengkap dengan lumatan dan gigitan kecil. Baekhyun bahkan menarik bibir bawah Chanyeol dengan giginya lalu melumatnya tanpa tahu malu.
Dia memang seperti itu...sedikit binal.
Yang tidak Baekhyun duga—sepersekian menit kemudian Chanyeol membalas ciumannya. Dan mereka pun berakhir pada sebuah ciuman panas, panjang dan dalam karena kini telah melibatkan lidah masing-masing.
"Eungh~" Baekhyun mendesah saat Chanyeol mengangkatnya pada pangkuan pria itu. Tangan Chanyeol dengan kurang ajar meremas keras pantatnya yang sekal.
"Jangan salahkan aku jika setelah ini kau tak bisa berjalan dengan benar, Byun Baekhyun."
Dan Baekhyun tak bodoh untuk tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
...
Chanyeol terus menumbuk lubang Baekhyun dengan penis besarnya yang bersarang di dalam lubang si mungil.
Posisi Baekhyun sekarang adalah menungging di atas lantai lift dengan Chanyeol yang terus menggempurnya di belakang sana. Tubuh Baekhyun sudah telanjang sedangkan Chanyeol masih memakai kemeja serta celana bahan yang hanya melorot sebatas lutut.
Kulit mereka yang beradu memecah suasana di dalam lift yang sempat sunyi. Dan keringat yang bercucuran adalah saksi seberapa hebatnya persetubuhan mereka saat ini. Ditambah lagi dengan dua bola kembar Chanyeol yang menampar-nampar pantatnya, serta bulu kemaluan pria itu yang ikut menggelitik anusnya semakin membuat Baekhyun kesetanan.
"Ahh—ahhh—terlalu dalam, Sir." Baekhyun merancau untuk yang kesekian kali saat kepala penis Chanyeol menyentuh prostatnya. Ia bisa merasakan urat-urat kemaluan Chanyeol menggaruk kasar dinding anusnya. Ya tuhan! Ini lebih dari kata nikmat. Bahkan jauh sekali dari yang Baekhyun bayangkan tiga minggu terakhir ini.
"Panggil namaku, Baekhyun. Panggil namaku saat aku sedang menyetubuhimu danteriakan namaku saat penisku sedang menghajar anusmu seperti sekarang ini!"
"Ugh~ Chanyeol, yeah—lagi, masukkan penismu lebih dalam lagi. Hancurkan lubangku dengan milikmu yang keras dan panjang itu. Buat aku tidak bisa berjalan, Chanyeol...ahhh—"
Mendengar namanya terus disebut, tak gagal membuat Chanyeol makin terbakar. Ia mencengkram pinggang Baekhyun erat lantas mendorong maju mundur pinggulnya. Menyetubuhi Baekhyun tanpa kenal ampun. Bahkan tak peduli meski setelah ini akan membuat lutut mereka cidera karena terlalu lama menahan bobot tubuh pada lantai lift yang dingin.
Peduli setan! Kerutan lubang pria mungil itu terlalu memanjakan penisnya. Menjepit miliknya hingga nyaris remuk dan melebur dalam pelepasan yang singkat.
Tapi Chanyeol bukanlah pria yang akan mudah keluar begitu saja. Staminanya kuat. Dia bahkan berani bersumpah bisa memberikan Baekhyun dua sampai tiga ronde lagi.
"Jangan ketatkan lubangmu, sayang. Itu akan membuatku cepat keluar." Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun dengan posisi merunduk. Menjilat telinga itu dengan lidahnya lalu sesekali memberikan gigitan-gigitan kecil.
"Chanyeolhhh—aku ingin keluarhhh." prostatnya yang terus diserang oleh genjotan Chanyeol membuat Baekhyun tak bisa bertahan lagi. Lalu sepersekian detik kemudian ia melepaskan spermanya di lantai lift.
Puncak yang sangat luar biasa hingga Baekhyun percaya bahwa ia baru saja melihat surga.
Chanyeol yang belum mendapat orgasme bergerak untuk membalik tubuh Baekhyun untuk berbaring di lantai lift. Kini tubuh mereka saling berhadapan dan Chanyeol langsung menancapkan penis kerasnya lagi. Mengabaikan Baekhyun yang lemas dan bergetar seusai pelepasan.
Chanyeol menundukkan wajahnya untuk mengapai bibir merah Baekhyun. Melumatnya ganas dan mencampur liur mereka tanpa rasa jijik sedikit pun. Lidah keduanya kembali berperang. Baekhyun sendiri mulai kewalahan dan tak mampu lagi mengimbangi pagutan liar bosnya. Pemuda mungil itu membiarkan saliva mereka tercecer di sekitar mulutnya karena ia sudah putus asa akan ciuman Chanyeol. Sumpah mati! Bibir Chanyeol bajingan sekali.
Sementara di bawah sana, Chanyeol tak membiarkan penyatuan mereka terlepas. Justru pria itu bergerak lagi mendorong keluar masuk penisnya ke dalam anal Baekhyun.
Baekhyun yang merasa tenaganya telah kembali mulai mengetatkan lubangnya. Ia ingin Chanyeol cepat keluar dan melihat bagaimana ekspresi bosnya itu saat melihat surga.
"Sialan! Kau ketat sekali, Baekhh!" Chanyeol yang mengumpat membuat suasana jadi semakin panas. Hal itu membuat penis kecil Baekhyun jadi ereksi kembali. Dan hal itu membuat Chanyeol ingin mengocoknya.
Maka Chanyeol melakukannya. Memanjakan milik Baekhyun dengan tangannya.
"Ahhh—ahhh, Chanyeol...aku ingin keluar lagihhh." beberapa saat kemudian Baekhyun meremas bahu Chanyeol kencang. Mencakar lebih tepatnya.
"Bersama, sayang." Chanyeol semakin cepat dengan gerakannya.
Lalu—mereka merasakan basah yang sama. Baekhyun merasa basah di lubangnya dan Chanyeol yang merasa basah pada telapak tangannya.
Tubuh besar Chanyeol akhirnya ambruk di atas tubuh Baekhyun tanpa melepaskan penyatuan mereka. Dengan posisi seperti itu Baekhyun bisa merangkul Chanyeol dalam dekapannya.
Setidaknya jika besok dia dipecat—dia masih bisa menyimpan memori ini di dalam otaknya sebagai kenangan yang tak akan pernah ia lupakan.
...
Satu hari berlalu Baekhyun lewati tanpa masuk kerja. Dia pikir setelah insiden di lift tempo hari dia akan mendapatkan kabar pemecatan. Tapi nyatanya tidak.
Justru kepala OB yang juga adalah atasannya malah menelpon Baekhyun dan meminta anak itu berangkat kerja karena jasanya masih dibutuhkan.
Pagi itu akhirnya Baekhyun masuk kerja dengan wajah yang lesu. Ia sebenarnya tak punya muka untuk datang ke perusahaan Chanyeol lagi. Tapi mau bagaimana kalau dia juga butuh uang untuk makan.
Saat memasuki lift, tak disangka ia bertemu dengan bosnya yang seperti baru berangkat kerja. Mereka berada dalam satu lift yang sama. Hanya berdua.
Baekhyun ingin sekali bisa menembus dinding lift karena ia merasa malu setengah mati.
Kemarin setelah persetubuhan mereka, ia tertidur dalam pelukan Chanyeol. Namun saat ia terjaga, justru seorang petugas jaga malam yang membangunkannya. Dan ia tak menemukan Chanyeol sama sekali. Untung saja saat itu Baekhyun sudah berpakaian lengkap. Sepertinya Chanyeol telah membantunya berpakaian sebelum pria itu pergi.
"Sir, u-untuk yang tempo hari—saya minta maaf." Baekhyun membuka percakapan takut-takut. Ia membungkuk dalam sebagai tanda penyesalan. Setelah itu ia melirik pada Chanyeol yang ternyata juga tengah menatapnya tajam.
Baekhyun jadi semakin takut. Bosnya itu—tidak sedang berencana untuk membunuhnya di dalam lift kan?
"Kenapa kau minta maaf? Apa kau menyesal dengan kejadian kemarin?" Chanyeol berujar dengan nada datar. Tak ada yang berubah dengan pria itu. Masih dingin seperti biasanya.
"Bukan beg—"
Ting!
Penjelasan Baekhyun terputus saat pintu lift terbuka dan Chanyeol keluar dari sana. "Temui aku di ruanganku setelah ini."
Itu adalah kalimat terakhir Chanyeol sebelum pria tampan itu hilang di balik pintu ruangannya.
...
Baekhyun hanya bisa menundukkan kepala saat kepala OB-nya mengomel panjang lebar. Katanya Baekhyun itu tak tahu diri. Baru tiga minggu bekerja saja sudah berani bolos kerja tanpa izin.
Baekhyun ingin balas mengomel tapi tak bisa. Ia ingin berteriak pada atasannya itu bahwa ia bolos kerja bukan tanpa alasan.
Baekhyun sakit. Bagaimana tak sakit jika lubangnya yang ketat dihajar habis-habisan oleh penis besar Chanyeol. Chanyeol benar-benar berhasil membuatnya susah berjalan—juga berhasil membuat lubangnya lecet.
"Kembalilah bekerja." itu adalah kalimat penutup setelah atasannya berhenti mengomel.
"Maaf, pak kepala...saya ingin minta izin untuk pergi ke ruangan pak CEO. Tadi beliau menyuruh saya untuk menemuinya sebentar."
Kepala bagian OB itu mengernyit bingung. Kenapa CEO mereka repot-repot minta bertemu OB rendahan seperti Baekhyun? Tapi sudahlah, itu bukan urusannya. "Bawa sekalian alat pelmu!" perintahnya lagi.
"Baik, pak."
Dengan itu Baekhyun berbalik untuk mengambil alat pelnya dan berjalan pergi menuju ruangan Chanyeol.
Baekhyun masuk ke dalam ruangan bosnya setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk. Sedang Chanyeol menyatukan alis saat melihat Baekhyun masuk dengan membawa alat kebersihan.
"Kenapa kau membawa itu?" Chanyeol bertanya datar. Pria itu terlihat sangat angkuh saat duduk di atas kursi kekuasaannya.
"Maaf, Sir. Tapi atasan saya meminta saya untuk sekalian bersih-bersih di sini."
Chanyeol terlihat mendesah tapi kemudian ia membuka mulutnya lagi, "Letakkan itu di sudut ruangan. Kunci pintunya dan mendekatlah kemari."
"Maaf, Sir?" Baekhyun pikir ia salah dengar. Jadi ia meminta Chanyeol untuk menggulang.
"Aku yakin kau mendengarku dengan jelas, Baekhyun."
Dan seperti yang telah Chanyeol perintahkan, Baekhyun meletakkan peralatan pelnya di sudut ruangan. Mengunci pintu lantas berjalan mendekati Chanyeol.
"Siapa yang memintamu berdiri di situ? Kubilang mendekatlah kemari." Chanyeol memerintah lagi saat Baekhyun hanya berdiri di seberang meja kerjanya.
"Tapi, Sir—"
"Kubilang kemari ya kemari! Astaga, apa susahnya mendekat padaku, Byun Baekhyun!"
Nada suara Chanyeol yang meninggi membuat Baekhyun tak mampu mendebat lagi. Jadi dia menghampiri Chanyeol. Dan dengan satu tarikan keras pada pergelangan tangannya—kini tubuh kecil Baekhyun sudah terjatuh di atas pangkuan Chanyeol.
Baekhyun bergidik ngeri saat bosnya itu mulai mengecupi lehernya.
"Sir..."
"Panggil namaku, sayang."
"C-Chanyeol—apa yang ingin kau lakukan? K-kita masih di kantor."
"Memang apa yang kau dan otak mesummu pikirkan tentang posisi kita saat ini, hm?" Chanyeol semakin menggoda Baekhyun dengan menjilati leher putih itu.
"T-tidak ada. Aku tidak memikirkan apa-apa—aghhh..." Baekhyun mendesah saat Chanyeol menghisap kulit lehernya keras. Ia yakin itu akan menimbulkan bekas nanti.
"Benarkah? Tapi sayangnya aku ingin melakukan apa-apa denganmu. Tapi sebelum itu aku ingin memberikan sesuatu untukmu, Baekhyun."
Chanyeol merogoh saku jasnya dan menyerahkan sebuah kotak kecil pada Baekhyun. Baekhyun berkedip bingung. "Ini apa, Chan?"
"Bukalah." Chanyeol berucap dengan senyuman di wajahnya. Senyuman yang baru pertama kali Baekhyun lihat. Dan itu sangat tampan sekali.
Baekhyun pun membuka kotak yang tadi diberikan bosnya. Dan bertapa terkejutnya ia saat menemukan sebuah cincin cantik ada di dalam kotak tadi. "A-apa maksudnya cincin ini?"
"Menikahlah denganku."
"A-apa?"
"Menikah denganku, Baekhyun. Jadilah nyonya Park dan tinggalkan alat pel sialanmu itu. Mulai sekarang kau dipecat."
Entah kenapa Baekhyun sangat menyukai kata dipecat yang keluar dari mulut Chanyeol. Itu tak seburuk yang ia kira.
"Jawananmu, sayang?" tanya Chanyeol menuntut.
Baekhyun mengangguk lalu memeluk leher Chanyeol erat. "Ya. Aku bersedia."
Tuhan! Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Jerit Baekhyun dalam hati.
Dan sepertinya itu benar bukan mimpi saat ia merasakan tangan Chanyeol masuk ke dalam celananya. Meremas pantatnya dan memainkan lubangnya dengan jemari panjang pria itu.
Baekhyun pikir—kenapa tidak sedari tiga minggu yang lalu saja mereka terjebak di dalam lift seperti kejadian tempo hari.
"Omong-omong, aku ketagihan dengan jepitan lubangmu, sayang. Boleh aku memasukimu sekarang?"
"Of Course, Daddy."
Sial! Panggilan keramat itu—sepertinya Chanyeol harus membatalkan semua meetingnya hari ini. Bercinta dengan calon istrinya di atas meja kerja bukan hal yang buruk, bukan?
END
Sebenarnya cerita tema seperti ini udah pasaran banget (mungkin)
Tapi tetap aja saia ingin buat versi CB hasil peras otak sendiri.
Bagaimana menurut kalian?
Btw, follow juga akun wattpad saia ya @pcy-bee
Thx'z
