Disclaimer : Hypnosis Microphone milik King Records, Otomate, Idea Factory
Warning : menyinggung domestic violence dan child abuse. Mengandung headcanon. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari karya ini.
.
"Maafkan aku, aku telah salah."
Dice tetap mematung di tempat. Ekspresinya pahit. Mata ungunya menatap trotoar di bawahnya, seolah tak sudi memandang sang lawan bicara.
"Maafkan ibu."
Ah. Rasanya ingin ia berteriak marah, namun ditahannya. Dice tidak perlu meladeni wanita tua itu, pertengkaran hebat mereka sudah cukup sekali saja. Setelah itu, selesai. Bulat hati ia memutuskan hubungan mereka.
"Ryu—ah, sekarang kau dipanggil Dice, bukan? Aku mendengar mereka mengelu-elukan namamu tempo hari."
Tak perlu mendengarkannya, tak perlu. Dice berbisik pada dirinya sendiri. Wanita ini bukan siapa-siapanya lagi. Entah ada angin apa yang membawa sang perdana menteri memijakkan kakinya ke jalanan Shibuya.
Dice mengerti betul, bahwa pertemuan mereka kali ini bukanlah kebetulan semata. Tentu ada yang mengawasinya diam-diam.
"Aku juga dengar kau berjuang mati-matian," Otome Tohoten memperhatikan memar-memar yang belum hilang di kulit Dice, "tapi hasilnya sangat disayangkan. Yah, tidak mengherankan, mantan pembunuh bayaran itu memang terlalu kuat." ia menyunggingkan senyum kecil.
Hah, mantan pembunuh—ah, itu tidak penting. Peduli apa ia dengan divisi yang kemarin sukses membuatnya babak belur? Yang menggawatkan, dalam rangka apa Otome menemuinya? Perempuan yang, pada pertemuan mereka terakhir kalinya, berujar tidak ingin melihat wajah Dice lagi?
"Ne, bu perdana menteri, bukankah bahaya bagimu berkeliaran di luar Chuuoku malam-malam begini? Anjing-anjing kesayanganmu pasti sedang bertanya-tanya dimana kau sekarang. Jangan sampai mereka menggigit orang yang salah."
Hening. Otome mengerutkan dahi, matanya menyipit. Bibirnya melengkung ke bawah seolah mencibir. Dan sorot matanya ... Dice hapal benar sorot mata itu. Sorot mata Otome Tohoten ketika memandang laki-laki, sama seperti memandang sampah. Hal tak berguna. Hina.
Dice tidak tahan.
"Apa yang kau mau, hah!?" Dice menyentak. "Bukankah kau pernah bilang tak mau melihatku lagi!?"
Otome memejamkan mata, dan kemudian, ekspresi merendahkan itu hilang. "Aku salah, Dice."
"Aku menyesal mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak pernah kukatakan. Aku berdiri di sini saat ini, bukan sebagai seorang pemimpin, melainkan sebagai perempuan yang telah melahirkanmu. Aku ingin meminta maaf ... serta meminta sesuatu."
Dice menggertakkan gigi. "Tapi kau membenciku."
"Tidak."
"Kau membenci laki-laki. Tentu saja kau membenciku."
Otome terhenti sejenak. Kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah tertahan di tenggorokan. Bagi Otome, sulit untuk mengatakannya. "Tidak, Dice. Hanya satu laki-laki yang tidak mungkin bisa kubenci. Kaulah orangnya." suaranya meninggi, tidak lagi datar seperti biasa. "Mana mungkin aku membenci darah dagingku sendiri."
Tetapi memang itu kenyataannya.
"Sudahlah." tukas Dice sembari mengembuskan napas. "Daripada kau tersiksa mengucap dusta, lebih baik kau kembali ke istanamu tercinta."
Otome Tohoten melangkah, Dice tak gentar di tempatnya. "Dice, dengarkan aku. Aku menyesal, sangat-sangat menyesal. Aku ingin kau kembali. Pulanglah."
"Kembali ke penjara itu? Maaf saja, lebih baik aku jadi gembel di sini." Dice tertawa parau, suaranya terdengar menakutkan bahkan di telinganya sendiri.
"Lagipula untuk apa Chuuoku membutuhkan laki-laki? Kalau kau mencari budak, kau salah orang, karena aku tidak becus mengerjakan apapun."
Ia lantas menggeleng. "Chuuoku membutuhkanmu, Dice ... Aku tidak bisa menjelaskan alasannya sekarang ... tapi aku janji, semuanya akan baik-baik saja."
Otome mengulurkan tangannya, wajahnya melunak dan Dice dapat melihat senyum tulus yang terukir. Senyum yang ia kira sudah hilang bertahun-tahun lalu.
.
Wanita itu terpuruk di lantai, bekas memar yang tercetak di wajah serta tangannya baru lagi.
Dice mendekat dengan langkah takut-takut, lalu menempelkan tangan ke pundak ibunya.
Ia tersentak dan menengadah. Pundaknya naik turun. Wajahnya yang basah bersimbah air mata terlihat mengerikan. Ekspresi ketakutan, bercampur kebencian dan dendam kesumat terpancar dari matanya.
"Jangan sentuh!" suaranya melengking tinggi bergaung ke seluruh penjuru.
Otome Arisugawa menjambak rambutnya sendiri, begitu kuat hingga beberapa helai biru ikut tercabut. "Dasar terkutuk ... laki-laki terkutuk ... mengapa Tuhan menciptakan laki-laki begitu kuat sedangkan perempuan begitu lemah!?"
"Ma ..." Dice benci melihat kondisi ibunya begini. Semakin hari semakin parah. Lebam dan memar dari kemarin hari masih terlihat jelas. Ia benci luka-luka itu. Benci betapa ringkihnya tubuh wanita itu.
Dice benci pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi ibunya.
"Jangan sentuh aku! Kau ... kau keturunan iblis itu!"
2 tahun kemudian, Otome Arisugawa memperoleh kebebasannya. Nama Arisugawa akhirnya ia lepas, setelah hampir satu dekade melekat menjadi identitasnya. Iapun kembali memakai nama gadisnya dulu. Saat itulah, pendiri Party of Words, perdana menteri Jepang di masa depan, Otome Tohoten terlahir kembali.
Otome mendapatkan hak asuh atas anak laki-laki satu-satunya, dan mimpi buruk Dice pun dimulai.
.
"Dice, aku ingin melindungimu. Jujur saja, keselamatanmu terancam jika kau masih terus bersama tim mu."
Itu dia. Dice menghirup napas panjang. Perkataan Otome memutus kilas balik masa lalunya. Tidak boleh. Tidak ada yang boleh berkata buruk tentang Posse-nya. Lagipula, punya hak apa Otome berkata begitu? Tidakkah ia ingat saat-saat Dice bersamanya, keselamatan fisik dan jiwa putranya itu ia hancurkan sedemikian rupa?
"Kau mengerti, 'kan, Di—"
"Maaf saja, tetapi aku tidak mengerti!" Dice melangkah maju, hanya menjarakkan setengah meter di antara mereka. "Kau boleh memakiku sesuka hati, tapi kalau kau menjelek-jelekkan Fling Posse, aku tidak terima! Mereka memberiku makan! Membiarkanku menginap di rumah mereka! Bagian mananya yang mengancam keselamatanku!? Harusnya kau bertanya kepada dirimu sendiri!"
Sebelum Otome dapat bersuara, Dice menyembur lagi. "Percuma saja kau memohon seperti apapun, aku tidak punya keinginan untuk kembali! Kau tidak bisa menyeretku kembali ke rumah itu!"
Bicara begitupun, ia tidak bisa berkutik bila dibawa paksa. Sang perdana menteri tentu saja tidak pergi sendirian. Pengawalnya bersembunyi entah di mana, menunggu perintah tanpa suara.
Lalu, kilatan itu muncul lagi di mata Otome.
Tetapi sedetik kemudian, Otome malah memejamkan matanya. Ketika ia berbicara, suaranya terdengar seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri dibanding kepada Dice.
"Tentu saja, tidak semudah yang dibayangkan."
Otome membuka kembali kelopak matanya, kedua iris ungu saling bersitatap. Napas Dice menderu menunggu Otome melanjutkan.
"Baiklah, nikmati waktumu dengan teman-teman Posse-mu itu selagi masih bisa." Ia tersenyum. Dice tak bisa menebak arti senyum itu. "Aku tidak berhak menghakimi jalan yang kaupilih. Tapi kalau kau berubah pikiran, pintu gerbang Chuuoku selalu terbuka untukmu."
"Aku harap kau memikirkan baik-baik perkataanku, Dice."
Tanpa menunggu jawaban, Otome berbalik dan mulai berjalan, meninggalkan Dice dengan lubang menganga di dada. Selain suara langkah hak tinggi Otome yang tinggi makin lama makin samar, jalanan Shibuya entah mengapa begitu sunyi malam ini.
Dice menatap telapak tangannya, matanya menerawang jauh. Luka-luka yang pernah tergurat di kulitnya sudah hilang, tapi luka di hatinya masih terus terasa sakit. Dan Dice belum menemukan penawarnya.
"Apa karena ... aku mirip orang itu ...?"
Otome terhenti, namun tidak mengatakan apapun. Sejurus kemudian, ia kembali melangkah.
Dice menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Punggung yang dulu begitu rapuh, seolah sapuan angin bisa mematahkannya, kini menjadi tegak sekokoh besi. Padahal pikulan tanggung jawab sebuah negara membebani pundaknya, pun konsekuensi serta rasa bersalah yang membayang di setiap langkahnya, mencoba menyeretnya jatuh sekali lagi. Tapi ia tetap kukuh berdiri di hadapan dunia yang memusuhinya.
Otome Tohoten telah membuktikan bahwa semua orang dapat bangkit berdiri lagi setelah dirobohkan sampai hancur lebur, demi keadilan yang diyakininya. Demi ribuan perempuan yang bernasib sama seperti dirinya.
Begitupun dengan Dice, yang juga bertahan hidup dengan prinsip yang menurutnya benar.
Dari suatu tempat, terdengar alarm mobil yang berbunyi berkali-kali. Suaranya samar namun berhasil mencabik keheningan yang mencekik. Tekanan di dadanya mengendur mengetahui ia tidak sendirian. Dice berusaha menentukan darimana asalnya, tapi tidak bisa. Suara itu terdengar dari semua penjuru, mengambang di udara, namun seolah berasal dari tempat yang amat sangat jauh.
.
Dice berjalan tersaruk-saruk di jalanan Shibuya yang lengang tanpa satupun kehidupan kecuali ia sendiri. Rambutnya yang memang sudah berantakan ia acak-acak lagi. Pandangan Dice tertunduk ke bawah, pikirannya mengawang jauh ke masa lalu, memutar klip memori dalam otaknya.
Dia tidak pernah terlalu memikirkan masa lalunya. Apa yang sudah terjadi, biarkan berlalu. Tapi setelah malam ini, pikiran-pikiran itu merangsek masuk menyesaki kepalanya sampai ia mual. Kekecewaan dan amarah meletup-letup membanjiri pembuluh hingga hatinya terasa pahit.
Tapi, ia sekarang sudah tidak apa-apa. Kendati urusannya dengan Otome masih belum diluruskan, ia baik-baik saja. Ia punya teman-temannya, Posse-nya. Ia punya tujuan untuk hidup. Dice akan baik-baik saja.
Ia merogoh saku, dan langsung terkejut menemukan segepok uang di dalamnya. Sedetik kemudian, ia baru ingat sore tadi kemenangan besar menimpanya di pachinko.
"Hmph, sepertinya memang benar, kalau tiba-tiba menang banyak begini artinya akan ada kejadian buruk."
Sekian detik ia memandangi uang itu, lalu memasukkannya lagi. Dihirupnya udara banyak-banyak, lalu dihembuskannya keras-keras. "Ah, sudahlah! Malam ini tidur di mana ya? Ramuda saja, deh. Biasanya jam segini dia belum tidur, sekalian bayar utang minggu lalu. hehe …"
.
.
.
end.
.
.
.
"Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards."
―Søren Kierkegaard
.
a/n : hai, ini fanfic pertama saya di fandom Hypmic! Padahal udah agak lama masuk fandomnya, tapi baru nyumbang ff sekarang hehe.
terima kasih telah menyempatkan membaca! silakan beri kritik, saran, maupun komentar jika berkenan!
—11/4/2019
