Outset by Hayi Yuki

Bleach by Tite Kubo

Happy reading


Harta, tahta, dan wanita.

Kalian tentu tidak asing dengan kalimat ini, yang menjadi incaran banyak manusia. Harta, diburu agar hidup bisa dijalani dengan makmur. Tahta, diincar agar hidup tidak dipandang sebelah mata oleh khalayak. Wanita―dan pria bagi gender yang berbeda―dicari agar hidup tak kesepian.

Tak sedikit yang mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mencapai tiga kata itu. Tak sedikit pula yang di tengah perjuangannya terpaksa melepaskan semua impian karena kondisi yang tak memungkinkan. Beberapa cukup beruntung, dapat meraih apa yang diinginkan. Beberapa lebih beruntung lagi, ketika mereka tak hanya dapat meraih, namun juga mempertahankan.

Tentu tidak semua harus berjuang demi mencapai apa yang diinginkan oleh kebanyakan. Beberapa orang memang terlahir dengan nasib yang baik. Tidak perlu usaha banyak untuk mencapai harta, tahta, dan pendamping hidup yang kau inginkan.

Kuchiki Byakuya adalah salah satu dari sedikit kaum adam yang tak perlu berbuat banyak agar bisa merengkuh tiga hal diatas.

Harta? Klan Kuchiki mungkin adalah klan terkaya di Soul Society, dapat dilihat dari luasnya rumah keluarga Kuchiki yang bahkan dapat menampung banyak agenda Asosiasi Shinigami Wanita tanpa mengganggu para penghuni rumah—kecuali Byakuya itu sendiri.

Tahta? Merupakan ketua klan dan kapten dari salah satu divisi Gotei 13 tentu membuatnya menjadi salah satu orang paling disegani oleh kolega sesama shinigami.

Satu-satunya hal yang mungkin patut dipertanyakan adalah poin terakhir; wanita. Sepanjang pengetahuan orang, Byakuya hanya pernah terlibat dalam satu kisah kasih, yakni bersama sang istri tercinta, Hisana. Sayangnya, wanita yang dapat menaklukkan hati Byakuya sudah lama meninggalkan dunia ini. Masa depan klan Kuchiki yang awalnya terjamin pun mendadak menjadi suram.

Tetua silih berganti datang untuk bertanya apakah ketua klan mereka berniat untuk mencari pengganti Hisana dan memiliki keturunan, tetapi Byakuya tidak pernah menjawab pertanyaan mereka. Sering pula ia tidak berada di rumah, melainkan menyibukkan diri di kantor divisi enam, dan tentunya para tetua tidak ada yang tertarik untuk menginjakkan kaki ke dalam area kerja para shinigami.

Alternatif lainnya adalah adik angkat Byakuya, Kuchiki Rukia. Gadis ini merupakan adik kandung Hisana, yang ditemukan Byakuya nun jauh di pedalaman Inuzuri. Para tetua tidak terlalu menyukai gadis ini, sebagaimana mereka juga tidak menyukai Hisana. Tidak dalam satu derajat yang sama, ucap mereka pongah.

Tidak semua tetua klan Kuchiki yang berpendapat demikian pastinya. Beberapa yakin bahwa Rukia mampu membanggakan nama klannya. Tengok saja kiprah gadis itu dalam berbagai peristiwa yang mengguncang Seireitei. Nama Rukia selalu muncul menjadi tokoh utama―yang baik, tentu.

Maka itu, para tetua pun sepakat, jika mereka tidak dapat meyakinkan Byakuya untuk memiliki keturunan, Kuchiki Rukia dapat dijadikan sebagai pilihan kedua. Terdengar agak kejam memang, tapi mau bagaimana lagi? Tetua tidak ingin klan Kuchiki punah hanya karena kakak beradik itu keukeuh menjomblo seumur hidup. Mau diwariskan kemana harta dan tahta yang berharga itu?

Dan malam ini, di tengah jamuan makan malam yang biasanya diadakan oleh Byakuya beberapa kali dalam setahun, tiga tetua klan Kuchiki yang paling terhormat berniat untuk mengutarakan pikiran mereka.

Kuchiki Byakuya dan adik perempuannya sudah menunggu di ruang makan ketika para tetua masuk.

Rukia duduk diatas tatami dengan perasaan yang lain dari biasanya. Hari ini ia sengaja diminta agar pulang lebih cepat untuk bersiap-siap sebelum makan malam. Bukan hal yang aneh, seandainya ini tidak terjadi di akhir bulan.

Rukia heran, ia yakin Byakuya pasti tahu kalau akhir bulan adalah saat paling sibuk bagi setiap divisi. Divisinya―yang belum memiliki kapten―serasa kuburan saja hari ini. Bukan karena banyak yang meninggal akibat terlalu lelah mengerjakan laporan, tapi karena nyaris tidak ada yang berbicara selama jam kerja. Bahkan Kiyone dan Sentarou yang biasanya ribut itu pun hari ini fokus di meja kerja masing-masing, mengejar ketertinggalan laporan mereka yang harus dikumpulkan dua hari lagi.

Meski divisi enam masih memiliki anggota yang lengkap selepas perang melawan Quincy, Rukia bisa memastikan Byakuya dan Renji juga belum menuntaskan pekerjaan mereka. Lantas, mengapa makan malam bersama para tetua dilaksanakan hari ini?

Penjelasan yang mungkin adalah bahwa bukan Byakuya yang ingin makan malam ini dilaksanakan, tapi para tetua itu sendiri.

Hmm, ada yang janggal sepertinya.

"Ehm, karena semuanya sudah menyelesaikan makan malam, lebih baik kita langsung membicarakan maksud kedatangan kami ke sini," salah satu tetua―yang paling tua―memulai pembicaraan.

Tuh kan, pasti ada sesuatu. Rukia tidak tahu pasti apa yang akan mereka omongkan, tapi dari tampang ragu para tetua dan alis mengkerut kakaknya, ia merasa ini adalah sesuatu yang seolah memecah belah Byakuya dan para tetua.

"Seperti yang kalian semua sudah tahu, saat ini klan Kuchiki hanya memiliki dua anggota keluarga utama, Byakuya-sama dan Rukia-sama. Belakangan ini kami selaku tetua klan Kuchiki mengkhawatirkan kelangsungan klan yang berada di tangan kalian berdua," si tetua tampak berusaha menjaga suaranya tetap tegar dibawah tatapan maut Kuchiki Byakuya.

Tapi bukan tanpa alasan para tetua mengkhawatirkan hal itu. Klan Kuchiki adalah salah satu dari Empat Keluarga Bangsawan, dan jika tidak memiliki penerus klan, tentulah klan tersebut akan dikeluarkan dari jajaran keluarga bangsawan.

Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Kuchiki-taichou dan Kuchiki-fukutaichou di hadapan mereka ini suka sekali mengundang bahaya mendekat. Perang melawan Quincy tempo hari nyaris menewaskan keduanya, dan ini membuat beberapa tetua senewen. Bagus kalau mereka kembali dengan selamat, kalau tidak?

Rukia mendadak was-was. Ia yakin sekali Byakuya tidak akan mau mencari wanita lain sebagai istrinya. Hal ini membuat beban memiliki penerus klan berpindah ke pundaknya. Ia pucat pasi memikirkan pernikahan dan memiliki anak. Enak saja, ia baru saja dipromosikan menjadi letnan dua tahun yang lalu. Bukannya Rukia tidak mau menikah dan punya anak, tapi ini terlalu cepat.

Byakuya tentunya melihat perubahan ekspresi wajah adiknya, karena itu ia berkata, "Lalu? Kalian mau menjodohkan aku atau Rukia dengan orang tak dikenal? Rukia masih terlalu muda untuk itu."

Rukia menghembuskan napas lega, lalu berpaling untuk mengucapkan terima—

"Kami baru saja mendapat kabar bahwa anak terakhir dari klan Ukitake tertarik untuk bertemu dengan Rukia-sama di perjamuan makan malam keluarga bangsawan yang akan dilaksanakan minggu depan, dan kami pikir itu bukanlah ide yang buruk, jika Rukia-sama dan Ukitake-sama menghadiri perjamuan bersama," tetua klan yang lain dengan senang hati memberikan kabar buruk untuk Rukia.

―tidak jadi terima kasih!

Kapten Kuchiki melirik iba pada sang adik. Ukitake yang dimaksud oleh tetua tentulah bukan mendiang Ukitake Juushiro, melainkan salah satu kerabatnya, yang umurnya sedikit lebih muda dari Byakuya. Lelaki itu mengerutkan kening. Ukitake ini masih terlalu tua untuk Rukia.

Setali tiga uang dengan kakaknya, Rukia pun berpikir kerabat mantan kaptennya itu bukanlah pria yang pas untuknya. Ia merinding saat membayangkan akan menghadiri perjamuan makan malam dengan orang tak dikenal yang ia yakini bukanlah seleranya.

Terus apa selera Rukia? Well, gadis itu sendiri masih bingung mengenai kriteria orang yang suatu saat akan menjalin hubungan dengannya. Yang jelas ia tidak mau dijodohkan dengan sembarang orang! Mau orang itu bangsawan paling kaya sekalipun, tidak akan sudi dia menyerahkan dirinya hanya demi kelangsungan klan.

"A-Apa tidak ada pilihan lain? Saya tidak ingin menghadiri acara dengan seseorang yang tidak saya kenal dekat," Rukia memberanikan diri untuk bertanya. Tiga pasang mata serentak menatapnya seolah dia ini hama yang susah sekali dibersihkan. Iya, ia tahu ia memang masih dianggap hama oleh sebagian keluarga Kuchiki, tapi tidak perlu memaksakan dirinya masuk ke dalam perjodohan seperti ini, dong!

"Tentu saja tidak, kau ini―"

"―ada, Rukia-sama."

Ucapan salah satu tetua garang dipotong oleh tetua yang pertama kali berbicara. Nampaknya kakek itu mulai kasihan melihat wajah pucat adik angkat ketua klan mereka.

"Ada? Apa maksudmu?" Byakuya menaikkan sebelah alis. Ini hal baru. Selama ini yang ia dengar hanyalah paksaan untuk menikahi salah satu perempuan dari kaum bangsawan lain.

Rukia juga menunggu jawaban tetua. Ia tidak berani menghembuskan napas lega terlebih dahulu, bisa-bisa pilihan yang berikutnya malah lebih buruk dari yang pertama. Kalau itu sih, namanya lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya.

"Jika Rukia-sama tidak ingin datang ke perjamuan minggu depan dengan Ukitake-sama, tidak masalah. Tapi Rukia-sama harus datang bersama seseorang, yang kemungkinan besar dapat dijadikan suami untuk Rukia-sama di masa depan," ultimatum dilancarkan oleh tetua klan.

Salah satu tetua yang lain ikut menyambar, "Atau bisa juga Byakuya-sama yang mencari pendamping untuk menjaga kelangsungan klan."

Masa bodoh, Rukia yakin kakaknya tidak akan mau mencari istri baru. Ia menangis di dalam hati. Tahu begini, mending ia pura-pura sembelit saja malam ini dari pada menghadiri makan malam.

Oh Rukia, memangnya hanya karena kau sembelit lantas tetua tidak mau membebanimu dengan tanggung jawab seperti ini?

.

.

.

.

Matsumoto Rangiku mungkin termasuk ke dalam jajaran shinigami yang dapat diandalkan seantero Soul Society. Wanita itu seorang letnan, lumayan cerdas, mengerti kidou, ahli dalam memegang zanpakutou, dan tentu saja memiliki fisik yang dapat dikatakan sempurna.

Ya, tentu saja ia dapat diandalkan, tapi bukan oleh sang kapten, yang saat ini tengah menyerukan berbagai perintah yang sayangnya hanya masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri Rangiku.

"Matsumoto, kenapa berkas yang ini tidak kau antarkan ke divisi tiga, hah?" Toushiro melambaikan secarik kertas di tangan kirinya. Tangan kanannya menggebrak meja Matsumoto, dimana sang pemilik meja sedang mengerjakan laporan dengan kecepatan yang bahkan siput pun bisa menang dengan mudah.

Rangiku memanyunkan bibir. "Taichou, salahmu sendiri malah menaruh kertas itu di tumpukan yang ini. Aku kan tidak lihat," ucapnya santai seolah Toushiro tengah menanyakan cuaca hari ini.

Urat di dahi Toushiro berkedut. Ia sangat bersyukur diberi letnan macam Matsumoto, sangat. Letnannya ini dapat diandalkan ketika suasana genting, tengok ketika ia mengkhianati Gotei 13 untuk berhadapan denagan Kusaka, dan Matsumoto ternyata masih setia dan percaya pada kaptennya. Akan tetapi, dalam situasi yang tidak genting seperti ini, Toushiro merasa ia akan terkena serangan jantung saking kesalnya dia kepada sang letnan.

"Kalau begitu antarkan ini sekarang ke divisi tiga!"

"Tidak, ah! Di luar panas sekali, lebih enak duduk-duduk di dalam kantor seperti ini," Rangiku memang hobi sekali membuat kesal kaptennya.

Merasa ia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak mengayunkan Hyourinmaru jika satu menit lagi masih berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Rangiku, Toushiro menghentakkan kakinya dan berjalan ke luar kantor. Baiklah, ia sendiri yang akan mengantarkan berkas sialan itu ke divisi tiga.

Rangiku tersenyum penuh kemenangan saat kaptennya membanting pintu ruangan mereka. Sedikit banyak ia merasa tidak enak juga telah menjadi bawahan kurang ajar, tapi apa boleh buat. Wanita itu kasihan pada Toushiro yang sudah dua hari ini kerjaannya hanya laporan dan laporan saja. Kapten itu bahkan belum sempat pulang ke rumahnya dan hanya membersihkan diri di kamar mandi divisi. Mungkin saja dalam perjalanan ke divisi tiga, sang kapten dapat melepaskan penat sejenak.

Matsumoto lalu kembali menekuni kembali pekerjaannya seraya bersenandung kecil. Tiga menit kemudian, pintu ruangan dibuka dari luar. Rangiku heran, apa jangan-jangan Toushiro menggunakan shunpo alih-alih berjalan untuk mengantar berkas? Wah, tidak seru sekali.

"Selamat siang, Matsumoto-fukutaichou," suara lembut Nona Kuchiki menyambangi telinganya. Oh, ternyata Rukia yang datang.

Rangiku langsung melompat dari kursinya. Laporannya dengan cepat terlupakan.

Rukia membawa setumpuk kertas di tangannya. Ada beberapa berkas yang juga harus ditandatangani oleh kapten divisi sepuluh. Tetapi, dari kondisi Rangiku yang berwajah cerah dan menarik Rukia untuk duduk di sofa, ia yakin berkas ini tak dapat segera ditandatangani. Kapten Hitsugaya sepertinya tidak akan berada di kantor dalam waktu dekat.

"Ada apa panas-panas begini mengunjungiku, Kuchiki?" Matsumoto bertanya dengan percaya diri berlebihan.

"Er, sebenarnya saya mau minta tanda―"

"―mau dengar tentang berita terbaru dari Dunia Manusia, tidak?"

Rangiku malah mengalihkan pembicaraan. Dan sialnya bagi Rukia yang memang selalu tertarik dengan Dunia Manusia, dia patuh saja mendengar omongan Rangiku yang tidak ada habis-habisnya.

Puas bercerita mengenai kabar burung yang baru ia dapat dari salah satu intelnya, Rangiku menyesap ocha dingin yang entah sejak kapan berada di tangannya.

"Nah, Kuchiki, kalau kau bagaimana? Sedang ada masalah, tidak? Siapa tahu bisa kucarikan solusinya," meski Rangiku adalah tukang gosip sejati, ia takkan pernah menggosipkan masalah pribadi temannya sendiri ke ranah publik. Ia malah suka membantu para teman untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.

Rukia menimbang-nimbang. Kasih tahu, ia bisa saja jadi bahan gosip satu Seireitei―meski ia yakin Rangiku bukanlah orang yang suka menusuk dari belakang. Tidak kasih tahu, masalahnya takkan berubah, bisa-bisa otaknya makin lelah memikirkan besar kemungkinan lari dari kenyataan yang besarnya kurang dari satu persen.

Oke, letnan Matsumoto sepertinya bisa dipercaya. Rukia pun menuturkan kejadian semalam yang membuatnya pusing tujuh keliling. Sesekali ia berhenti ketika Rangiku bertanya untuk lebih jelas, dan akhirnya malah menjelaskan sistem klan bangsawan yang memang sulit dan tidak jelas bahkan untuk dirinya sendiri.

Rangiku mendengarkan curhatan Rukia dengan seksama, agak kasihan dengan masalah pelik Nona Kuchiki. Jadi bangsawan memang tidak pernah mudah, walau ia belum pernah merasakan kehidupan layaknya seorang bangsawan.

"Jadi, masalahmu adalah kalau kau tidak bisa menemukan lelaki untuk perjamuan makan malam minggu depan, maka kau harus datang dengan kerabat Kapten Ukitake, kan?" Rangiku memastikan.

"Iya," Rukia mengangguk lesu. Berpikir tentang itu saja dapat membuatnya mau menumpahkan air mata. "Kalau tidak dalam konteks calon suami sih tidak apa, tapi masalahnya kalau saya terima tawaran itu, bisa jadi di masa depan saya malah harus menikah dengannya," ini dia yang paling ia takutkan.

Otak Rangiku berputar, mencari beberapa nama yang sekiranya bisa dipertimbangkan oleh Rukia. Harus lelaki yang cerdas, menawan, berkharisma, mampu meluluhkan hati bagaikan baja seorang Kuchiki Byakuya, dan yang paling penting; mampu jadi suami yang baik untuk Rukia dan ayah yang baik pula untuk anak mereka kelak.

"Bagaimana dengan Renji?" ia melontarkan nama pertama. Sebenarnya ia tidak yakin apakah Renji bahkan mampu memenuhi salah satu persyaratan diatas―jahat sekali―tapi pria berambut merah itu dekat dengan Rukia. Patut untuk dipertimbangkan.

Rukia menggeleng. "Orang sudah tahu kalau kami hanya sebatas teman dekat. Lagipula, bukannya baru beberapa hari yang lalu Renji menggendong Hinamori-fukutaichou di hadapan kita semua?" mengacu pada misi berujung Renji panik dan tanpa sadar mendeklarasikan perasaannya di depan khalayak ramai sembari menggendong Momo yang setengah sadar akibat terluka. Buat ini, dibahas kapan-kapan saja.

Benar juga, Rangiku lupa, padahal ia sendiri masuk ke dalam jajaran terdepan saat kejadian berlangsung.

"Ichigo?" Rangiku mencoba nama kedua.

Bibir Rukia cemberut. "Matsumoto-fukutaichou, Ichigo itu kan sudah mau menikah dengan Inoue!" sebenarnya belum, tapi di mata Rukia yang buta masalah percintaan itu, Ichigo mencium Inoue berarti mereka akan segera menikah.

"Hisagi?"

"… saya kan tidak dekat dengan Hisagi-fukutaichou."

"Yumichika? Atau Ikkaku?"

"… sepertinya tidak."

Rangiku menelengkan kepala. Masih ada beberapa nama yang belum ia sebutkan, tapi ia yakin pasti akan ditolak juga oleh letnan divisi tiga belas ini.

Rukia menatap gelas ocha dengan tatapan lesu. Bahkan Matsumoto-fukutaichou yang biasanya selalu dapat menemukan kesempatan di tengan kesempitan itu tidak bisa menangani masalahnya. Manik ungunya melirik kalender yang tergantung manis di dinding. Enam hari tersisa sebelum makan malam. Sepertinya ia memang harus menghadirinya dengan bangsawan Ukitake itu. Rukia tidak sampai hati untuk melarikan diri dari rumah, kasihan Byakuya yang pasti akan pusing sendiri.

Jauh di lubuk hatinya ia ingin berteriak pada sang kakak, harusnya Byakuya yang saat ini pusing mencari perempuan untuk menemaninya di perjamuan makan malam merepotkan itu!

Permohonan maaf sudah ingin diucapkan oleh Rangiku ketika wanita itu mendadak mendapat ilham dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Tolol, kenapa nama ini tidak muncul dari tadi di pikirannya? Padahal, dibandingkan dengan nama-nama yang baru ia sebutkan, orang inilah yang paling memenuhi semua kriteria di atas.

Cerdas, menawan, berkharisma, mampu meluluhkan hati Kuchiki-taichou, dapat menjadi suami dan ayah yang baik.

"Oh, aku tahu, Kuchiki!" ia berseru dramatis.

Rukia terkesiap. Kali ini Rangiku terlihat pede. Apa masih ada harapan kalau ia bisa keluar dari situasi ini?

"Kenapa kau tidak pergi saja dengan Hitsugaya-taichou, hm?" Rangiku kini memegang kedua tangan Rukia dalam katupan tangannya. Matanya berkilat terang, layaknya menemukan permata di tengah tumpukan laporan yang tak kunjung selesai.

Tanpa sadar Rukia menelan ludah.

"Ngg, Hitsugaya-taichou kan―"

"―tampan, cerdas, seorang kapten, dan masih banyak lagi! Sudahlah, kurasa dia yang paling cocok untuk jadi pasanganmu di perjamuan itu!" Rangiku tidak menerima penolakan.

Lidah Rukia serasa kelu. Ingin menolak, tapi ia juga tidak tahu nama lain yang lebih cocok dari kapten yang semenjak perang melawan Quincy itu berangsur menjadi salah satu teman mengobrolnya dikala senggang.

Tidak tertarik juga memikirkan nama yang lain.

"Lagian, kalian kan juga saling mengenal dengan baik. Kau juga sudah sering mengobrol dengan nenek Hitsugaya-taichou, dan sepertinya sudah mendapat restu dari Hinamori," hanya dua kali Rukia mengobrol dengan Baa-chan ―tidak begitu lama―dan sepertinya Hinamori yang mendapat restu darinya selaku sahabat masa kecil Renji, bukan sebaliknya.

Melihat Rangiku memekik girang seperti ini, Rukia jadi tidak sampai hati untuk menghentikan khayalan Matsumoto yang nampaknya sudah mulai terlalu jauh.

Mungkin ia memang harus memberanikan diri bertanya kepada Toushiro, apakah kapten itu mau pergi dengannya atau tidak.

Mungkin.

.

.

.

.

Berdiri dalam diam dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan punggung bersandar di daun pintu, Hitsugaya Toushiro mengulas senyum tipis.

Pergi ke jamuan makan malam bangsawan bersama Kuchiki, eh?

Toushiro tidak suka dengan segala tetek bengek kehidupan bangsawan. Ia selalu menghindari hal-hal yang berhubungan dengan nama baik klan, harta warisan, dan sebagainya. Not that he has a reason to care about them, truthfully.

Tapi ini Kuchiki Rukia.

Ia menyimpulkan, kenapa tidak?


A/N : Random abis bikin HitsuRuki lagi, mumpung kuliah lagi gabut karena jadi belajar online. Karena lama banget udah nggak nulis jadinya ya gini, makin berantakan saja cara penulisan dan kosakataku wkwk. Stay safe ya guys, jangan keluar rumah kalo emang nggak perlu-perlu banget.