Selamat membaca!

.

.

.

"Kenapa muncul lagi yang baru?"

Jari telunjuknya menusuk-nusuk pelan bagian pipi di wajahnya. Tidak jarang ia meringis linu ketika jari telunjuknya tidak sengaja menekan cukup kencang bagian yang di sentuhnya.

"Yang ini bahkan belum kempis sama sekali. Haruskah aku mengeluarkannya? Bagaimana jika membekas seperti yang lain?"

Ia semakin mendekatkan wajahnya pada cermin di depannya. Kedua telunjuknya ia satukan untuk menekan tonjolan kecil berwarna merah dengan putih di pucuknya. Ia kembali meringis untuk yang kesekian kalinya ketika kedua kuku telunjuknya semakin dalam menekan bagian tersebut.

"Yak, anak nakal!"

"Arghh! Ibuuu!!"

Jeritan itu tidak terelakan begitu gebrakan pada pintu yang di buka kasar, membuatnya terkejut hingga refleks kedua telunjuknya menekan kuat jerawat yang matang itu. Air mata bahkan tidak bisa di tahannya ketika rasa perih dari jerawat yang pecah merambat ke seluruh wajahnya.

...

"Mau sampai kapan kau merajuk seperti itu, huh?"

Wanita dengan celemek maroon di tubuhnya itu meletakan semangkuk sup di hadapan putranya. Sementara sang putra hanya menekuk wajahnya sebal dengan bibir yang di manyunkan.

"Ibu tidak tahu saja rasanya. Bahkan sampai sekarang sakitnya masih berdenyut-denyut." Rajuknya dengan bibir semakin di majukan.

"Bukan salah ibu mendobrak pintu kamarmu! Salah siapa kau tidak menyahut saat ibu panggil!" Sangkal sang ibu sembari menyendokan nasi untuk sang putra.

"Aku kan sedang konsentrasi!" Elaknya sembari mengambil sendok.

"Konsentrasi bokongmu! Sudah ibu katakan berkali kali berhenti memencet jerawat di wajahmu! Itu akan membuatnya membekas! Apa kau tidak lihat seperti apa wajahmu sekarang, huh?!" Sentaknya disusul jitakan gemas pada kepala sang putra.

"Akh! Aku masih puber, bu! Wajahku akan berubah tampan saat aku melewati masa puberku nanti!" Jawabnya sembari mengusap bagian yang di pukul oleh sang ibu.

"Aish, anak ini. Selalu menjawab saat aku berbicara! Habiskan sarapanmu dan jangan lupa cuci piringnya!" Ucapnya sebal. Ia lalu berlalu pergi menuju keranjang baju kotor untuk kemudian ia cuci.

"Oh, satu lagi. Pergi mandi dan ganti celana dalammu, Baekhyun! Baunya menyengat sampai ke penjuru rumah, astaga!" Lanjutnya sebelum benar-benar meninggalkan sang putra.

"Ibuuu!!!"

...

Baekhyun mematut tubuhnya di depan cermin. Ia memperhatikan dengan seksama tubuh berisinya yang hanya terbalut handuk di bagian pinggangnya.

"Apa yang salah dengan tubuhku sekarang? Aku bahkan masih 15 tahun. Kenapa ibu cerewet sekali masalah tubuhku? Menyebalkan!" Ucapnya dengan bibir yang di manyun-manyunkan.

Sebenarnya Baekhyun memiliki kulit yang putih. Jika saja ia lebih merawat tubuhnya, maka akan terlihat sangat indah. Tidak seperti sekarang. Baekhyun menyentuh kedua pipi bulatnya dengan kedua tangan. Ia tekan dan memijatnya memutar. Namun gerakannya terhenti ketika jerawat yang pecah tadi pagi tidak sengaja di tekannya. Ia meringis dan menyentuhnya dengan hati-hati.

"Ah, kenapa wajahku berjerawat seperti ini? Terlihat lebih buruk dengan minyak berlebih yang keluar. Apa ini yang di sebut hormon remaja? Astaga, aku bahkan baru mendapatkan mimpi basahku dua minggu yang lalu. Bagaimana bisa dampaknya seburuk ini?"

Baekhyun kemudian menurunkan pandangannya pada tubuhnya. Ia menekan-nekan dadanya yang berisi. Seiring dengan iris sipitnya yang bergulir turun, begitu pula kedua tangannya yang bergerak meraba tubuhnya. Tidak ada yang patut di banggakan. Ia berdecak sebal mendapati daging berlebih di mana-mana. Terutama lemak di perutnya. Oh astaga, Baekhyun memiliki pikiran untuk menyedot habis lemak disana.

"Padahal aku selalu bermimpi memiliki tubuh kekar seperti pria-pria di majalah celana dalam. Tapi apa yang kumiliki pada tubuhku sekarang? Oh, Luar biasa."

"Kau menyadarinya sekarang?"

Baekhyun menatap ibunya yang baru saja memasuki kamarnya dari cermin. Ia memutar matanya sebal dan memutar tubuhnya dengan kedua tangan bertolak pinggang.

"Ibu, sejak kapan aku memiliki tubuh gempal seperti ini?"

"Kau yang memiliki tubuh, kenapa bertanya pada ibu?" Jawab sang ibu sembari memunguti baju kotor putranya yang berserakan.

Baekhyun menghampiri lemari dan mengambil selembar celana dalam untuk kemudian di pakainya.

"Oh, apa ini? Yak, Baekhyun!" Sentak sang ibu sembari meraba seprai di ranjang Baekhyun.

Baekhyun berdecak dan memutar tubuhnya untuk menatap sang ibu. Ia memakai kaosnya asal, sembari menghampiri sang ibu.

"Ada apa sih, bu?"

"Kau sudah mimpi basah? Oh, benarkah?" Ujar sang ibu menatap Baekhyun dengan mata berkaca-kaca.

"Akan sangat lucu di usiaku jika aku belum mengalami mimpi basah. Lagipula jerawat di wajahku yang berminyak bermunculan setelah aku mengalami mimpi basah." Jawab Baekhyun acuh.

"Oh, benarkah? tapi jerawat ibu selalu muncul sebelum ibu datang bulan."

"Ibuuuuu!!"

...

Ini hari minggu, Baekhyun yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP tentu saja masih bergelung di dalam selimut meskipun matahari di atas sana sudah hampir di atas kepala.

Dengan kotoran mengering di sudut matanya, liur di sepanjang dagunya, Baekhyun mendengkur keras di setiap tarikan nafasnya. Sesekali jemarinya akan bergerak pelan entah itu menggaruk perut buncitnya atau bokong gempalnya.

tok tok tok

Baekhyun tersentak namun tidak terbangun ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia hanya menggaruk pipinya dan membalikan tubuh menghadap jendela.

tok tok tok

Lagi, ketukan pintu terdengar. Baekhyun mulai terganggu sehingga mengerang sebal dengan tangan bergerak menutup telinganya dengan bantal.

tok tok tok

"Ibuu, kenapa tidak buka pintunya?!" Baekhyun berteriak sebal dengan mata yang masih terpejam.

tok tok tok

Baekhyun mengumpat. Dan dengan setengah kesadaran yang dimilikinya, ia membangkitkan tubuhnya dari atas kasur dan berjalan dengan sempoyongan menuju pintu utama.

"Yak, siapa yang bertamu sepagi ini?!" Ujar Baekhyun sembari membuka pintu rumahnya.

"Oh, hai."

Baekhyun membuka sebelah matanya ketika sapaan berat itu terdengar di telinganya. Ia mengerjap untuk memperjelas penglihatannya. Sontak kedua irisnya terbelalak mendapati sosok tinggi yang sialnya sangat tampan itu tersenyum canggung padanya.

...

"Aku tidak memaksamu untuk memasuki rumahku yang kumuh ini."

Lelaki jangkung yang sebelumnya tengah memperhatikan setiap sudut rumah Baekhyun dari meja makan itu sontak menatap Baekhyun yang baru saja muncul dari kamar mandi. Wajahnya yang berjerawat terlihat basah karna baru saja cuci muka. Tanpa repot-repot mengeringkan wajahnya, Baekhyun melangkah menuju kulkas dan mengambil dua kotak susu strawbery dari sana dan memberikannya kepada si jangkung yang masih tersenyum menatapnya .

"Jadi kau baru saja menempati rumah di sebelahku itu." Baekhyun mengangguk-nganggukan kepalanya dengan sedotan di sela bibirnya.

"Emm. Ibuku menyuruhku memberikan ini untukmu. Anggap saja sebagai sapaan tetangga baru. Senang berkenalan denganmu, mmm..."

"Namaku Baekhyun." Potong Baekhyun.

"Ah, yaa. Senang berkenalan denganmu, Baekhyun."

"Tentu. Minumlah susumu, aku mengambil itu untuk kau minum." Ucapnya acuh.

"Terimakasih. Ngomong-ngomong kau sendirian?" Tanya si jangkung sembari kembali memperhatikan rumah Baekhyun.

"Aku tinggal bersama ibuku. Dia pergi bekerja dan akan kembali sore nanti." Jawab Baekhyun dengan pandangan menelisik lelaki jangkung di hadapannya.

Bagaimana dia bisa memiliki wajah tampan seperti itu? Tidak ada noda sama sekali di wajahnya. Dan lihatlah tubuhnya itu. Sempurna. Ucapnya dalam hati. Menyebalkan karna ia dibuat iri ketika melihatnya.

"Ah, namaku Park Chanyeol. Kudengar kau juga sekolah di SMP Wangdong. Kita bisa berangkat bersama besok, karna aku juga telah mendaftarkan diri sebagai siswa disana."

Baekhyun memperhatikan Chanyeol dari atas ke bawah dan sebaliknya. Lelaki di hadapannya ini, apa tidak risih melihat wajah dan tubuhnya? Oh, astaga. kenapa Baekhyun jadi membanding-bandingkan tubuhnya dengan lelaki itu?!

"Oh, yah. Tentu, Chanyeol. Sekarang kau boleh pulang karna aku akan lanjut tidur setelah ini."

...

"Selamat pagi, bibi."

Nyonya Byun terperangah menatap Chanyeol yang berdiri di depan pintu utama. "Kau temannya Baekhyun? Aku tidak tahu anak itu memiliki teman setampan dirimu, nak."

Chanyeol tertawa canggung mendengarnya. "Sebenarnya kami baru berkenalan kemarin."

"Ah, kau tetangga baru yang mengantarkan puding kemarin? Terimakasih sebelumnya. Oh, masuklah dahulu, nak. Baekhyun masih bersiap."

"Terimakasih, bi." Chanyeol tersenyum dan mengikuti Nyonya Byun memasuki rumah tersebut.

"Baekhyun, temanmu menunggumu! Bergegaslah!" Panggil nyonya Byun. Chanyeol di belakangnya menggaruk belakang kepalanya tidak enak.

"Ya, bu!" Seru Baekhyun di kamarnya.

Lelaki gempal itu tengah memakai kemeja sekolahnya di depan cermin. "Apa aku bertambah gemuk? Kenapa kemejanya menjadi sesak?"

Baekhyun menekuk alisnya dalam ketika jemarinya dengan susah payah mengancingkan kemejanya yang kekecilan. "Hah, haruskah aku meminta ibu untuk membelikanku seragam baru? Tapi aku baru menggantinya sebulan yang lalu."

Baekhyun terus mengoceh sepanjang dirinya memakai seragam sekolahnya. Ia hampir putus asa begitu celana seragamnya tidak bisa di kancingkan. Baekhyun menghembuskan nafasnya menyerah. Ia memang harus meminta seragam baru kepada ibunya.

Setelah selesai dengan seragamnya, ia pun meraih ranselnya dan melangkah hendak keluar kamar. Namun langkahnya terhenti begitu atensinya jatuh kepada timbangan digital di bawah meja belajar. Ragu, ia menghampiri meja belajar tersebut, dan mengeluarkan timbangan itu dengan kakinya. Baekhyun menghela nafasnya sejenak dan menutup mata. Perlahan kakinya menaiki timbangan tersebut dengan kedua mata yang masih terpejam. Setelah kedua kakinya berhasil menapak di atas timbangan, Baekhyun perlahan membuka matanya dan melirik takut-takut ke angka yang tertera di timbangan tersebut. Dan yang terjadi selanjutnya adalah...

"Ibuuuuuu!!!!"

...Chanyeol yang tersedak teh hangatnya, dan Nyonya Baekhyun yang menumpahkan sup yang tengah di tuangnya. Keduanya saling pandang sebelum kemudian tergopoh-gopoh menghampiri kamar Baekhyun.

"Ada ap..." Pertanyaan Nyonya Byun terhenti ketika Baekhyun menoleh dengan air mata di wajahnya. Sontak semua mata terpaku padanya dan pada apa yang membuatnya seperti itu.

Byun Baekhyun, 15 tahun dengan tinggi badan 165 cm dan berat badan mencapai 60 kg.

"Baekhyuuuuunnnn!!!"

...

"Bagaimana bisa berat badanku naik tujuh kilo dalam waktu seminggu?"

Chanyeol di depannya menatap Baekhyun yang sedari tadi tidak berhenti meratap. Ia menghela nafas jengah dan memutar bola matanya sebal.

"Kita masih anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kurus gendut itu relatif. Jangan terlalu bebani pikiranmu hanya karna hal seperti ini." Ujar Chanyeol ringan sebelum kembali melanjutkan makan siangnya.

Baekhyun mengangkat kepalanya dari lipatan tangannya di atas meja. Ia menatap Chanyeol sebelum kemudian berpaling muka dan berdecih sebal.

"Kau mengatakan itu karna kau tidak berada di posisiku. Kau memiliki tubuh ideal dan wajah tampan. Sedangkan aku? heol, tidak ada satupun yang bisa ku banggakan."

"Yak, berhenti membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing." Jawab Chanyeol.

Lelaki itu dengan entengnya berkata demikian. Membuat Baekhyun menggerutu dalam hati. Ia pun dengan sebal bertanya menantang pada Chanyeol.

"Lalu menurutmu, apa kelebihanku?"

Chanyeol berhenti menyuap dan meletakan sendoknya di atas nampan. Ia menatap Baekhyun lekat-lekat dan tersenyum sangat manis kemudian. Baekhyun yang ditatap sedemikian rupa entah mengapa salah tingkah dan melarikan pandangannya ke berbagai arah. Oh, wajahnya bahkan memerah panas. Mungkinkah Baekhyun, malu?...

"Berat badanmu, tentu saja. hahahahaha!"

...atau memerah karna kesal, sekarang?

"Park Chanyeol!!!!"

Dan yang terjadi setelahnya adalah semua mata yang menatap horor Chanyeol yang terjengkang dari bangkunya karna Baekhyun yang meninju wajahnya. Lelaki jangkung itu bahkan tidak bergerak dengan mata yang beradu di ujung hidung. Oh lihatlah darah yang keluar dari lubang hidungnya. Baekhyun melongo tidak percaya dengan yang telah di perbuatnya.

well, well, well

...

"Pokoknya bukan salahku."

Chanyeol meringis dengan tangan yang mengompres hidungnya. Ia tatap Baekhyun yang duduk di bangku dengan wajah yang di palingkan. Chanyeol di atas ranjang UKS menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.

"Ya ya ya. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak bermaksud meledekmu. Aku hanya bercanda."

Baekhyun melirik Chanyeol, namun enggan menolehkan kepalanya. Ia merajuk. Pokoknya Baekhyun merajuk.

Sebenarnya mereka berdua itu lucu. Mereka berdua baru saja saling mengenal kemarin. Tapi anehnya, mereka seolah telah berteman sejak lama. Tidak ada canggung sama sekali di antara keduanya. Sebelumnya, Baekhyun bukanlah anak yang memiliki banyak teman. Oh, maksudnya disini Baekhyun yang minder untuk berteman. Baekhyun merasa dirinya itu buruk rupa dan tidak pantas berteman dengan siapapun. Seharusnya dengan Chanyeol pun sama. Tapi entah mengapa, Baekhyun tidak merasa minder dengannya. Baekhyun, ingin berteman dengannya. Walaupun perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi.

Baekhyun juga bertanya-tanya. Apa Chanyeol tidak malu berteman dengannya? Selihat Baekhyun, Chanyeol tidak mencoba berbaur dengan anak-anak yang lain disekolah barunya ini. Meskipun anak-anak menyapanya dengan hangat, Chanyeol hanya membalas seadanya. Lelaki itu tetap menempel padanya. Baekhyun kan jadi gede rasa.

"Emh, Chanyeol? Apa kau tidak malu berdekatan denganku?" Tanya Baekhyun ragu.

Chanyeol sontak menatap Baekhyun dan mendapati anak itu tengah menunduk dengin bibir bawah yang di gigit gugup. "Apa maksudmu?"

"Kau kan tampan dan easy going, sementara aku? Gendut, buruk rupa, dan menyebalkan." Jawab Baekhyun masih dengan kepala tertunduk. Enggan menatap Chanyeol.

"Baekhyun?"

"Hmm?" Baekhyun mendongak dengan bibir bawah yang masih ia gigit.

"Jangan bertanya, aku juga tidak tahu."

"Yak!"

Benar juga. Kenapa? Aku juga tidak tahu. Bagiku, dia...Batin Chanyeol.

Bersambung..


Bikin cerita angst, lama-lama otak aku buntu juga. Jadi, aku coba bikin cerita kaya gini. Semoga menghibur.

Review juseyooooo :-*