disclaimer © Animonsta Studios
warning OOC, AR, salah genre, no super power, miss EBI, typo(s), diksi menyedihkan, plotless. Prekuel dari under the pine tree, we meet.
dedicated to Blacklist Name
cakaran A/N HEPI BESDEI NAENAE! Maaf kadonya maleeeeeem banget heuheuheuheu—dan maap kadonya begini modelnya wkwkwk :"))
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; mati.
Sayap kecil Ying mengepak lembut. Bibirnya terus menggumam nada-nada kecil yang kemudian dibawa larian angin. Lalala ... lulilalila ….
Tangan kecilnya mencoba menyentuh ujung patera, namun tak bisa. Terbang turun dan beralih mencoba meraba batang pohon, tangannya ditelan transparansi yang tak mendengar kotak suaranya mengucap mohon.
Dalam senyap, sebuah pertanyaan menggaung putus harap.
Untuk apa aku hidup?
Ying suka dengan kegelapan malam penutup hari. Di saat itu, dia tak perlu bersembunyi dari matahari. Sejujurnya, Ying cinta dengan cahaya matahari, namun ada sensasi yang entah mengapa bisa membakar kulit sehingga Ying benci. Ying tidak ingin mati dalam keadaan tersiksa abadi. Kadang Ying bingung atas eksistensinya dalam dimensi hidup dan mati. Dia hidup namun tak terpengaruh waktu dan takdir, dia mati namun masih memiliki afeksi.
"Halo, sampai kapan kamu mau di situ? Sudah malam, kautahu?"
Ying menoleh ke bawah, menuruti sinyal yang dikirim saraf pusatnya. Pandangnya bersua dengan seorang anak laki-laki yang berdiri di sana, menemukan mata merah yang berkilau indah menakjubkan. Helaian rambut berkibar, gagal menyembunyikan diri dalam bentangan langit hitam.
Ying membulatkan matanya, terkejut. "Kamu ... bisa melihatku?"
Anak itu balas bertanya, "Tentu saja, memangnya kenapa? Wah, kamu mirip dengan peri dalam buku cerita yang Kakak belikan!"
"Tinggalkan tempat ini," usir Ying dingin.
"Kenapa? Fang suka datang ke sini setiap pagi sampai sore. Buku cerita Fang tertinggal jadi Fang datang lagi." Buku cerita dianggap tinggi-tinggi, mengira Ying akan menaruh setitik atensi pada benda itu. "Fang selalu suka datang ke sini, kalau Fang jadi temanmu, bolehkah Fang tetap datang?"
"Tidak mau. Kau hanya ingin memanfaatkanku."
"Tidak begitu!"
"Tapi terserah kau saja, aku tidak peduli."
"Namamu?"
"... Ying."
"Salam kenal, Ying!" Tersenyum cerah, si anak memperkenalkan diri. "Namaku Fang!"
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; mati.
Masa bodoh dengan kehidupan abadinya yang membuat semua manusia iri. Masa bodoh dengan kemampuan terbangnya yang menjadi angan hampir setiap makhluk dalam mimpi. Masa bodoh dengan lantunan melodi tak bermakna yang peri lain tak sukai sehingga dirinya dijauhi. Masa bodoh dengan kesendirian, dia tak butuh teman yang hanya membuat dirinya tersakiti. Ying tidak butuh semua itu dan memilih untuk lari.
Dari dalam pohon pinus, Ying tahu di pagi hari Fang datang dengan buku gambar, pewarna, dan sebuah kotak. Kotak itu berisi beberapa benda bulat dengan lubang di tengah dan potongan-potongan oranye di atas. Siangnya, Fang lenyap, namun saat sore Fang datang lagi dengan buku cerita yang sama seperti kemarin, membaca sambil menyanyikan sebuah lagu.
Malam menjelang, Fang menghilang. Ying tidak tahu mengapa dia berniat mengawasi Fang sepanjang hari. Ternyata benar, Fang menghabiskan waktu di tempat tinggalnya. Selama ini, Ying hanya menghabiskan waktu dengan memasuki masa dormansi hingga malam menariknya bangun dari mimpi.
"Ying hanya keluar pada saat malam saja, ya?"
"Kamu datang lagi?" Ying spontan bertanya. Baru sebentar Ying duduk di puncak pohon pinus untuk menikmati cahaya bulan yang menenangkan, ada manusia itu lagi yang memanggilnya. "Atau buku ceritamu tertinggal seperti kemarin?"
Embusan angin menginterupsi, memberikan keheningan sejenak.
"Fang ... mau menemui Ying."
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; mati.
Dari pagi hingga petang, Ying tahu Fang ada di luar sana. Seringkali Ying berharap dia tidur lalu tak bangun lagi, melawan kehidupan lestari yang dia miliki, namun hingga kini, Ying masih tak bisa melewati hukum itu.
Berbicara soal tidur, seminggu sejak mengenal Fang, Ying tak pernah tidur. Entah sejak kapan mengamati Fang masuk ke dalam lingkaran rutinitas Ying. Untuk penyebabnya, Ying tidak tahu karena jawabannya masih kelabu.
"Ying ... kata kakak Fang, mulai besok Fang tak akan bisa ke sini lagi …."
Ying tidak tuli. Ying mendengar kalimat itu.
"Ying, bisakah Fang bertemu dengan Ying? Kita main bersama! Ular tangga, permainan kartu, apa pun! Ah, kita bisa bernyanyi bersama-sama!"
Ying tidak tuli. Ying mendengar kalimat itu.
"Kalau tidak bisa bernyanyi dengan Ying, Fang mau mendengar Ying bernyanyi Bintang Kecil."
Ying tidak tuli. Ying mendengar kalimat itu.
"Tersenyumlah seperti bintang! Kata kakak Fang, Fang akan kembali ke sini suatu waktu! Sampai saat itu, tetaplah hidup, Teman!"
Ying tidak tuli. Ying mendengar kalimat itu.
Batang pohon menerima rangsangan dari telapak tangan mungil Fang.
"Selamat sore, Tuan Pohon Pinus! Namaku Fang, temannya Ying! Tolong lindungi Ying selama Fang tidak ada, ya!"
Ying menangis kala menemukan sebuah alasan untuk hidup; menemui Fang di bawah sinar matahari.
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; hidup.
Satu bulan berlalu, Ying selalu menunggu di sana, namun Fang tidak ada.
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; hidup.
Satu tahun berlalu, Ying masih menanti, walakin Fang tak pernah menunjukkan eksistensi.
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; hidup.
Ying tidak tahu berapa lama dia telah menunggu. Ying tidak tahu berapa air mata yang sudah dia keluarkan untuk menahan rasa sakit yang membuatnya menderita. Ying tidak tahu berapa lirihan kecil yang sudah dia lantunkan, meneriakkan pedihnya rasa yang menyiksa, menjerit saat sepasang sayapnya tanggal akibat kelemahannya, menyerukan kerinduannya pada Fang—
"Fang …."
—yang baru dia anggap sebagai teman.
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; hidup.
Ying masih belum bisa menemukan Fang. Dua puluh empat jam, Ying tak pernah berhenti menantinya.
"Fang, selama ini apa kamu berkeinginan untuk bernyanyi bersamaku? Aku minta maaf, aku tidak tahu lagu Bintang Kecil yang kamu minta, tapi kurasa kita bisa membuat lagu tentang bintang bersama."
Di atas pohon pinus, Ying mengutarakan keinginannya; hidup.
"Aku ingin menukar keabadianku dengan sebuah pertemuan, jika aku bisa."
Aku masih ingin menunggu dan menemui Fang.
Fang kehilangan memorinya, Ying tidak tahu itu.
Ying adalah temannya, Fang tidak tahu itu.
"Halo! Sampai kapan kamu mau di situ? Sudah malam, kautahu?"
Mulai kini, Ying mengabaikan sinar matahari yang kini bisa membunuhnya.
"Mau seorang teman?"
"Siapa?"
"Aku. Jadi, namaku Ying. Kamu?"
tamat
~himmedelweiss 10/04/2020
