afternoon tea. © tarinapple | 2020
boku no hero academia © horikoshi kouhei
JIRO KYOKA mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Semua sudah tertata rapi, semua pakaian sudah dicuci, disetrika, dan diletakkan di lemari, tidak ada sesuatu yang bisa ia lakukan lagi. Jadi Jiro memutuskan untuk duduk, mengambil gitarnya.
Perempuan itu memetik asal senarnya, tidak tahu lagi lagu apa yang kini masuk ke pendengarannya. Matanya terpejam, menikmati sekaligus mengingat nada-nada yang keluar dari petikan gitarnya.
Dulu, kalau Jiro boleh mengingat-ngingat, ia sangat merindukan sore-sore damai di mana ia bisa membersihkan rumah, membuat kue, dan memetik gitar atau sekadar mendengarkan musik. Tetapi kini damai itu datang setiap hari, dan membuatnya sedikit terusik.
Tetapi tidak apa, Jiro mengingatkan diri untuk tetap bersyukur, kendati kini ia meletakkan gitarnya asal di sofa dengan cemberut. Matanya melirik ke arah jam dinding. Sial, jadi sudah pukul lima sore, ya.
Ia mengambil remote televisi yang juga tergeletak di sofa, menyalakan benda persegi panjang itu. Dengan gerutuan yang tidak terjamah telinga, ia memindahkan chanel televisi terus menerus, seolah memang tidak ada acara yang bagus.
Dan akhirnya tangan kurus itu berhenti, ada breaking news yang ditampilkan. Jiro mengerutkan dahi saat mengenali pria dengan kaos putih polos dan kemeja flanel yang tidak dikancing—sedang ribut dengan pria lain yang diduga adalah seorang villain.
"Pikachu," gumam Jiro sebelum berdecak. Di sana ada Kaminari Denki dengan plastik di tangan kirinya, dan berusaha memfokuskan tembakan listrik dari tangan kanannya. Entah mengapa itu lumayan menghibur Jiro karena perempuan itu mendengus.
"Coba kalau aku bisa menolongnya."
Tetapi sesaat kemudian ia menyilangkan tangan di depan dada, dua menit kemudian mengetukkan jemarinya asal, dan beberapa waktu kemudian saat pintu terbuka semua gerakan terhenti dengan sendirinya. Jiro Kyouka kembali menyilangkan tangan di depan dada, menolak melihat siapa yang baru saja kembali.
"Kyouka!"
Jiro memutar mata, dan akhirnya menoleh ketika mendapati Kaminari Denki tersenyum canggung dengan giginya seraya melepas sepatu. Jiro akan membuat perhitungan dengan pria itu kalau saja tidak ada yang menarik ujung bajunya.
"Mama!"
"Ada apa, Chisaki?"
Gadis kecil berhelai hitam keunguan itu terlihat berbinar, antusiasmenya mengalir ke seluruh sel hingga ia tidak bisa diam dalam posisinya. "Tadi, ya, tadi … Saki melihat penjahat! Dia mau mencuri dan Saki berteriak pada Papa. Dia malah hampir meledakkan seisi toko kalau saja Papa tidak menyetrumnya!"
Jiro—Kaminari Kyouka tertawa kecil. "Lalu? Saki dan Papa menyelamatkan seisi toko?"
"Uhm!" Chisaki mengangguk, senyumnya tidak luntur saat ia kembali menceritakan, "Lalu … Papa berkata pada Saki untuk tetap diam sementara Papa menarik villain itu dan menyetrumnya lagi! Dan ternyata mereka ada satu komplotan! Saki sampai disuruh mengevakuasi seisi toko dan memanggil pro-hero!
"Tapi pada akhirnya Papa dan Saki menang! Untung juga akhirnya barang-barang yang Mama minta tidak hancur, hihihi!" Chisaki tertawa lagi, baik Kyouka maupun Denki ikut tersenyum.
"Saki mau jadi hero!"
"Iya, iya," Denki meletakkan plastik belanjaan di meja. "nanti belajar yang rajin supaya bisa keterima di Yuuei."
"Harus di Yuuei?"
"Hahahaha, di mana saja juga boleh!" Denki mengusap pucuk kepala Chisaki yang masih kegirangan. "Kyouka, afternoon tea-nya? Gunakan semua kue yang aku beli?"
"Simpan beberapa untuk besok," kata Kyouka sembari melihat isi plastiknya. "cokelat semua?"
"Chisaki yang pilih," Denki menjawab seraya menghela napas. Tangannya berpegangan pada kursi Kyouka. "mau aku bawa ke dapur?"
Kyouka mengangguk, kemudian merasakan kursinya di dorong oleh Denki ke dapur mereka. Senyum getir terlukis di paras cantiknya saat kedua matanya menatap sepasang kaki yang dibalut celana hitam. Kakinya. Kakinya yang kehilangan fungsi setahun lalu.
"Kau lihat di sini saja," Denki berkata dengan senyum satu juta voltnya. "Aku yang akan menyajikan afternoon tea kita sore ini!"
"Memangnya kau tidak ada shift apa?"
"Oh? Biarkan Bakugou si Lajang mengurus semuanya."
Kyouka terkekeh seraya memelintir earphone jack-nya, sebuah kebiasaan yang tak pernah hilang. "Kau ini, ya."
Ia melihat Denki yang sibuk mendidihkan air, dan Chisaki yang berlarian ke sana kemari dengan kue di mulutnya. Kyouka merasa meski kakinya hilang, tumpuan hidupnya tidak akan pernah lenyap.
Selama ada Denki, dan Chisaki, Kyouka sanggup hidup sampai napas terakhir.
Kendati mimpi-mimpinya raib oleh serangan besar-besaran villain setahun lalu. Kendati yang bisa ia lakukan hanya duduk dan menunggu kedua malaikatnya kembali di rumah. Kendati yang bisa ia lakukan hanya memetik gitar dan memutar kaset usang, Kyouka tidak apa-apa.
"Kita afternoon tea di balkon?"
"Yeaaa, balkon!" Chisaki melompat. Netra hitamnya berkilat senang. "Aku akan dorong Mama sementara Papa bawa kuenya."
"Mama bisa sendiri," kata Kyouka dan itu membuat Chisaki cemberut. Gadis itu kemudian berbalik dan mengambil kue yang tengah ditata oleh Denki. Dan pria itu memekik konyol sebelum mengejar Chisaki. Kyouka hanya bisa terkekeh.
Kendati ia kehilangan kaki, tangan, ataupun kepalanya—Kyouka tidak apa. Asalkan Denki dan Chisaki ada di sisinya, meskipun Kyouka kehilangan semua, perempuan tidak apa.
"Kyouka?"
Kyouka berkedip, pipi kemudian memerah saat menyadari wajah Denki hanya berselat seinchi dari wajahnya. "Apa?!" tanyanya galak.
"Aku dorong?"
Perempuan itu mengembungkan sebelah pipinya sebelum menggerakkan roda kursinya dengan tangan, menuju balkon.
Kaminari Denki, entah sampai kapanpun, akan tetap merasa sakit, akan tetap merasa bersalah, akan tetap merasa berdosa, akan tetap merasa tidak berdaya. Karena pada saat itu ia tidak ada di sisinya, di sisi Kyouka yang dengan putus asanya melindungi Chisaki dengan tubuhnya sendiri kendati kakinya sudah tak berbentuk lagi. Karena pada saat itu ia terlalu sibuk berada di garis depan tanpa tahu apa yang para penjahat lakukan pada keluarganya, pada istri dan anaknya.
Kaminari Denki, entah sampai kapanpun, akan merasa ada sesuatu yang menggerogoti dadanya—entah itu karena Kyouka yang diam-diam memukul kakinya dan bergumam 'bodoh, aku bisa hidup tanpamu, mengerti?' atau mimpi buruk Kyouka yang menyertakan namanya—Denki akan selalu, selaluselaluselalu merasa semua itu adalah salahnya.
Karena pada akhirnya Kyouka berjuang sendirian, dan menutup diri dari pertolongan siapapun.
"Denki."
Ia terhenyak, mendekati Kyouka yang beberapa langkah di hadapannya. "Uh huh, kenapa?"
"Dorong."
Ada sesuatu dalam mata Kyouka yang membuat Denki agak terpaku. Pria itu tidak sanggup mengatakan apapun sebelum tangan Kyouka meremas tangannya. Perempuan itu awalnya menunduk, sebelum menatapnya kembali dengan senyum itu. Senyum yang selalu ia berikan padanya, khusus padanya, sejak mereka masih sama-sama memakai seragam.
"Tidak apa, oke? Dorong aku," katanya lagi.
Denki mengangguk, mendorong kursi roda itu sesuai keinginan sang istri. Dan ia tidak pernah berhenti berpikir, kenapa, ya … kenapa …
Perempuan tangguh berhati baja seperti Jiro Kyouka jatuh ke pelukannya?
"Mama! Papa! Cepat atau tehnya dingin!"
"Iya, iya, kami ke sana!"
Dan bahkan dengan sukarela jatuh ke pelukannya.
selesai
author notes:
UDAH GILA ANJIR. TEGA BANGET AKU BIKIN GINIAN HUHUHU.
But kamijirou is too cuteeeeee, saya jadi ingin menulis fic yang … bittersweet? Ahaha, semoga gak ada yang aneh karena ini ngetiknya ngebut banget kayak dikejar setan;'(
DAN PLEASE INI PERTAMA KALINYA SAYA BISA BIKIN FICLET, 1K AJA. Uhuhu, lemme celebrate this karena saya sbenarnya lemah bgt kalau bkin fic dibawah 1k;''
Okey, kawan-kawan sekapal atau yang kebetulan mampir … boleh minta review-nya ga? ehehehe
PUSH YOUR LIMIT—PLUS ULTRAAA!
tari.
