Nge-Trap salah, Giliran Jadi Pria kok Malah Dilamar?!
Rate: T menjurus M (tidak akan sampai yang uhuk-uhuk kok--cuma jaga-jaga saja.)
Kimetsu No Yaiba milik Koyoharu Gotōge-sensei.
Author hanya pinjam karakternya demi menistakan Kibutsuji Muzan yang cantik sekali walau dalam setelan macho (stt, jangan sampe ketahuan orangnya ya, nanti dianya marah.)
WARNING!!! Ini AU, karena genrenya humor (yang diriku tidak tau apakah akan lucu atau tidak) maka dipastikan 100 persen akan OOC. Aku masih baru 2 hari ini SKDH (sistem kebut dua hari) nonton KnY. Jadi kesalahan penulisan nama mohon dimaklumi (aku akan berusaha menuliskannya dengan benar.) tidak terlupa typo yang sangat manusiawi bagi author yang sudah lama tidak mengetik ff lagi seperti saya.
Oke, cukup sudah saya melakukan pembukaan yang cukup panjang (dan tidak jelas) ini.
Happy Reading!
.
.—
EH TUNGGU TUNGGU TUNGGU! INI YAOI YA! KALO HOMOPHOBIA TOLONG JAUH JAUH DAN TEKAN TOMBOL BACK. Terimakasih akan pengertian anda /bungkuk.
.
.
.
.
Jemari lentik dengan kuku bercat merah ceri memoles bibir tipis nan menggoda dengan pelembab sebelum memolesnya lagi dengan lipstik berwarna sama dengan kuku. Iris mata bewarna Plum Red yang memikat menatap pantulan dirinya pada cermin sebelum mengulas senyum. Untungnya fanfiction ini tidak bergenre horor.
Ia sudah siap.
Diambilnya tas tangan, lantas melangkah keluar dari kamarnya, berniat berpamitan pada adik-adiknya sebelum—
BUAKH!
"ADUH!" ia memekik kesatitan saat bokongnya tanpa aba-aba mencium lantai yang dilapisi tatami. "SIAPA YANG MEMBUANG KULIT PISANG SEMBARANGAN HAH?!" teriaknya sebal. Ayolah, ia sudah susah payah berdandan dengan cantik untuk mencari pasangan hidup di festival yang sedang diadakan, malah jatuh dengan tidak elit hanya karena kulit pisang.
Doma yang makan pisang (dan seenaknya melempar kulitnya ke lantai) sambil kipas-kipas dengan kipas yang didapatnya dari souvenir sebuah pernikahan hanya menatap Muzan yang terduduk diatas lantai sambil nyengir.
"Gomen, Muzan-niichan~, atau mau kupanggil nee-chan saja?" Doma masih santai. Masa bodo dengan sang kakak yang terpeleset. Pisangnya harus segera dihabiskan sebelum Rui menemukan bahwa ia mencuri pisang kesukaannya.
"Dasar... adik kurang ajar!" Muzan berdiri dengan susah payah (yukata yang dipakainya menghalangi pergerakannya), lalu segera memukul kepala adiknya menggunakan vas.
"Ittaiiii! Niichan jahat!" Doma mengeluarkan air mata buayanya sambil memegangi kepalanya yang benjol. "Huaaa! Vasnya tidak apa apa kan, niichan?! Itu vas mahal lho! Aku dapat ngambil dari istana inggris!"
Cukup. Muzan lelah menghadapi adiknya yang mungkin mabuk karena kebanyakan makan pisang.
"Tidak. Vasnya baik baik saja. Aku akan ke festival. Mungkin aku akan pulang malam."
"Eeh? Niichan ngapain ke festival? Mana dandan cantik lagi."
Muzan melangkah keluar rumahnya setelah memakai sandal yang cocok dengan Yukata hitam bermotif bunga merah miliknya. "Mencari jodoh." Teriaknya.
Blam.
Doma memiringkan kepala, "Lho, bukannya niichan sedang dandan jadi banci?"
.
.
.
.
Wanita itu melangkah anggun ditengah keramaian. Wajahnya yang begitu dingin tidak menutupi kecantikan yang terpancar. Sepanjang jalan kenangan bersama mantan yang telah meninggalkan kisah pahit dalam hidup, orang yang melihatnya saling berbisik. Mengagumi kecantikan yang begitu pekat.
Seorang pria yang memiliki rambut secerah matahari dengan gradasi merah memperhatikannya, lalu menepuk bahu temannya yang ia akan tinggalkan demi mengejar kehangatan bersama seorang wanita cantik.
"Giyuu, aku pergi dulu. Kau pergilah dengan yang lain." Kata pria dengan alis hitam pekat dan mata sewarna rambutnya—yang kita kenal sebagai Rengoku Kyojuro.
"Kyojuro, kau akan kemana?" tanya temannya dengan wajah tembok. Ditangannya ia memegang kantong belanjaan yang isinya makanan manis semua.
Rengoku menghela nafas, lalu merangkul Giyuu dan menyuruhnya untuk melihat seonggok wanita cantik dengan wajah dingin yang berjalan anggun. "Lihat! Cantik sekali kan?"
Tomika Giyuu memandang datar ke arah yang ditunjuk Rengoku, dalam hati juga menahan mual karena demi apapun, nafas Rengoku bau sekali. Mungkin kemarin ia habis makan jengkol limabelas kilo.
Manik biru gelapnya menatap wanita yang ditunjuk, melebar lalu sedetik kemudian melepaskan rangkulan Rengoku dan berjalan cepat kearah wanita yang disebut-sebut.
"Oi-oi! Giyuu! Dia itu incaranku!" Rengoku ikut berlari mengejar Giyuu...
Yang ternyata melewati wanita itu begitu saja dan malah membeli cumi bakar ditoko yang ada disebelah sang wanita cantik.
Muzan menoleh dan melihat Rengoku yang menatapnya terpesona dengan gerak tubuh yang ingin menyentuhnya (yang sebenarnya ia ingin menarik Giyuu.)
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya dingin.
"A-ah.. itu—aha-ahaha, anu... apa boleh kenalan?" Rengoku kaget karena mendengar suara wanita itu. Manly sekali suaranya! Tapi mana mungkin wanita secantik ini adalah banci. Ia mencoba mengendalikan diri yang nyatanya gagal.
Diluar dugaan Muzan malah tersenyum, sayang sekali kata katanya nusuk. "Tidak. Nafasmu bau jengkol."
Rengoku tertawa, lantas dengan kurang ajarnya menarik pinggang Muzan untuk mendekat padanya. Hm, mungkin ia terlalu gugup. Atau mungkin ia belajar dari Zenitsu. "Sayang sekali, namaku Rengoku Kyojiro. Kamu boleh panggil aku sayang." Gombalnya dengan nada yang bikin mau muntah.
Muzan terkikik, "Baiklah, Kyojuro. Walau nafasmu bau jengkol, tubuhmu bau matahari rupanya. Yah, diluar cara berpakaianmu yang norak sih." Muzan menjauhkan tangan Rengoku, menarik diri karena banyak yang memperhatikan. "Namaku Kibutsuji Muzan. Salam kenal, Kyojuro."
"Dan kamu bau wangi seperti bunga. Mau menemaniku minum?" Rengoku menggenggam kedua tangan Muzan, bertanya dengan sangat keras. Dasar manusia bodoh.
"Dengan senang hati, ayo cari tempat untuk kita berdua."
Mereka tidak sadar ada seorang pria lainnya dengan rambut hitam sebahu menatap mereka dengan kesal.
Sementara Giyuu disisi lain hanya memperhatikan temannya yang bodoh itu jatuh hati pada seorang banci... sambil memakan cumi bakarnya dengan wajah datar.
"Biarkan saja. Kan dia bodoh." Ujarnya saat ditanya temannya yang lain mengenai hilangnya Rengoku.
.
.
.
.
Tempat itu cukup sepi, tapi juga tidak terlalu tenang.
Tempat duduknya terbuat dari kursi anyam yang empuk, lalu meja tinggi yang berbentuk persegi tampak begitu pas untuk sepasang kekasih. Bisa saling dempet-dempet gituhhh.
"Tempat ini cukup nyaman ya, Kyojuro. Kau pintar memilih tempat." Muzan memuji. Diam-diam bersorak karena dapat seseorang yang mengejarnya. Mungkin setelah ini ia tidak akan jomblo lagi.
Rengoku tertawa keras, "Hah! Tentu saja! Aku memang hebat!"
Lah, dia malah memuji dirinya sendiri.
"Eta terangkanlah!" Muzan nyeletuk, gemas pada Rengoku yang urat malunya (mungkin) sudah putus. Ditambah dia bodoh sekali ternyata. "Eta terangkanlah Kyojuro ini!"
Eh diluar dugaan Rengoku malah balas nyeletuk, "Eta jiwa yang berkabut~ eta dengan langkah penuh dosa~" sambil joget joget lagi. Dan darimana musik tak tuntuang tak tuntuang itu berasal?!
"Ampunilah, ampunilah~ ampunilah Kyojuro!" Muzan mengangkat tangan, seolah olah sedang meminta berkah kekuatan dari YME.
BRAK!
Sebuah gebrakan pada meja terdengar, disusul dengan teriakan kesal.
"BERISIK! JANGAN NYANYI DISINI DONG! TAU TIDAK SIH AKU SEDANG MENCOBA PEDEKATE DENGAN NEZUKO-CHAN?! DIKIRA KALIAN NGAMEN GITU DISINI?!"
Muzan menatap datar, "Oh." Responnya. Justru bocah aneh ini yang menganggu acara mereka. "Tunggu—pengamen? Beraninya kau!"
Waduh, Muzan ini tidak terima! Hati-hati wahai orang bodoh sok berani!
"HO! Kamu sedang mencoba pendekatan rupanya! Ayo berjuang bersama!"
"Iyi birjiing birsimi. Hilih kyntil." Ucap Giyuu dari kejahuan. "Kyijiri bidih. Bidih bidih bidih bidih!" nadanya sangatlah bikin kesal. Untung yang bersangkutan tidak mendengarnya.
Zenitsu yang malah diajak bicara dengan Rengoku langsung ambil langkah sejuta.
"Buset gile itu nafas bau amat. Gak pernah sikat berapa tahun?!" Zenitsu teriak-teriak. Bau banget sampai-sampai dianya mau muntah nyiumnya.
"HeHe! Aku dengar lho! Aku tidak pernah sikat selama 2 tahun belakangan ini! Hebat kan aku!?" Rengoku membuat tanda peace dengan jari telunjuk dan tengahnya, lantas tertawa keras-keras. Lalu menghembuskan nafas baunya kesepenjuru ruangan.
Krik. Krik. Krik.
"Hm... bau apa ini?"
"Wah, baunya harum sekali. Aku sampai bisa melihat surga."
"Semerbak wangi ini pasti berasal dari gembel menyedihkan yang tadi teriak-teriak disana."
Begitulah komentar orang orang yang tengah ikut berada di ruangan itu.
Sudahlah Author sudah lelah melihat kebodohan ini. Kebodohan Rengoku benar-benar sudah tidak tertolong lagi.
"Wahai nona Muzan yang cantik, kenapa anda mau-mau saja bersama orang bodoh ini?" author mendadak masuk kedalam cerita dan mencoba bertanya tanpa merusak cerita...
Atau mungkin tidak.
"Mana aku tau? Kan kau yang menyuruhku." Muzan menatap kesal. Lalu ia menarik lengan baju Rengoku dan membuat pria bodoh itu menatapnya.
"Kenapa Muzan manisku?" tanya Rengoku dengan suara besarnya (dan nafasnya yang bau.)
"Kita berhenti disini. Sebenarnya aku juga laki-laki. Dan aku lelah denganmu yang bodoh. Kita putus!"
Lah, ditembak aja belum kok sudah putus? Ada-ada saja nona Muzan ini.
Eh tunggu sebentar.
"Nona Muzan! Tolong jangan menghancurkan cerita! Anda harus membawa Rengoku kedalam hotel kan?!"
"Bodo! Saya pergi sekarang. Carikan jodoh lain untukku!" Muzan mengambil sandalnya, lantas pergi sambil nyeker.
... baiklah. Lupakan saja. Ayo mencari jodoh untuk nona Muzan.
"Muzan sayang! Tolong tunggu sebentar!" tak disangka Rengoku mengejar Muzan dan menarik tangannya, sedangkan yang lain cuma memperhatikan. Barang kali ada drama opera sabun kan. "Tolong jelaskan padaku! Aku masih belum mengerti!"
Muzan terperangah. Rengoku tampak begitu lucu. Rupanya nona Muzan sudah kembali jatuh.
"... ah, tidak jadi. Aku hanya merasa panas karena yukata ini..."
"Souka! Kalau begitu ayo kita pergi mencari es!" Rengoku dengan tenaga badak langsung mengangkat Muzan layaknya karung beras. Sungguh tidak romantis. Tapi tampaknya nona Muzan malah menyukainya karena mereka jadi pusat perhatian.
Bisik-bisik juga terdengar.
Seperti, "Wah, romantis sekali." Atau "Yaampun, aku juga mau dong digendong."
Lalu bagaimana dengan Zenitsu tadi? Bagaimana dengan pembayaran untuk minuman yang mereka pesan tadi?
Oh tentu saja minuman mereka Zenitsu yang bayar. Dan karena ia sudah membuat kekacauan dengan membuat pelanggan kabur (juga tidak punya uang untuk membayar minuman mahal yang Muzan pesan) maka ia dihukum untuk jadi pembantu selama seminggu.
Sungguh kasihan sekali. Yang bersangkutan sampai nangis guling-guling tuh. Sudah dituduh gembel, disuruh jadi pembantu, acara pedekatenya gagal pula!
Mari beralih pada Rengoku yang entah bagaimana bisa sampai salah memesan es. Lihat, Muzan sampai terkulai lemas begitu kan? Hih, jangan-jangan dikasih racun tikus lagi.
"Kau meminta topping apa tadi?"
"Potongan permen ment*s, lalu bubuk Doxylamine, lalu coklat dan jahe. Hanya itu kok."
PLAK!
Muzan tanpa belas kasih langsung menggeplak dahi Rengoku. "Goblok!"
Wuih, tolong bahasanya dijaga ya nona Muzan.
"Doxylamine itu obat tidur! Kenapa kau meminta topping itu?!"
"Tentu saja! Karena namanya unik dan rasanya pasti enak!" Rengoku menjawab dengan nada kuatnya seperti biasa. Mulutnya sudah tidak bau lagi karena tadi Muzan memaksanya memakan es krim peps*dent sampai mulutnya berbusa dan Rengoku sakit perut.
Muzan menepuk jidat. Yaampun, pria ini bodoh sekali.
"Kyojuro... pesankan aku kamar disekitar sini. Aku pusing.. rumahku terlalu sulit dijangkau."
Rengoku tertawa, "Serahkan padaku!" dalam hati senang-senang saja malah. Lumayan bisa dapat kehangatan buat semalam. Toh Muzan tampaknya bukan wanita baik-baik.
Giyuu yang sedang bersama Tanjiro dan Nezuko (Nezuko dijemput Tanjiro tadi. Zenitsu entah kemana) di tempat lainnya hanya memandang datar.
"Sirihkin pidiki. Disir bidih. Bidih bidih bidih." Ujarnya lalu mengigit permen kapas yang diulurkan Tanjiro.
"Kamu bergumam apa, Tomioka-san?"
"Bukan apa-apa. Kalian masih mau berkeliling?"
.
.
.
.
Kamar sempit dengan kasur kasar, kalau saja Muzan tidak pusing ia akan mengomel sedari tadi karena kamar yang terbilang sangat buruk.
"Muzan sayang—" Rengoku sudah memerah, membayangkan yang iya-iya. Sayang sekali Muzan malah mendorongnya keluar kamar.
"Terimakasih sudah mengantarku. Pulanglah, aku ingin tidur."
"Kalau begitu kutunggu kamu tidur!" Rengoku menahan gerakan pintu yang akan tertutup, ia kan dari awal sudah mengincar kesempatan ini. Kan lumayan kalau Muzan hamil ia bisa langsung menikahinya.
"Hoaaam~ terserah..." Muzan dengan setengah sadar membuka yukatanya, lalu membiarkan kain yang melilit tubuhnya itu meluncur turun begitu saja.
Rengoku memerah, tubuhnya mulus sekali! Sayangnya bahunya tampak terlalu lebar bagi seorang wanita. "Muzan sayang... tidakkah kamu terlalu terburu-buru dalam membuka pakaianmu?"
Muzan berbalik dan memandang Rengoku dengan pandangan buram. "Kyojuro. Tadi sudah kubilang kan, kalau aku pria. Sama se—"
"GYAAAAAAAAAAHHH! KAMU MENIPUKU YA?! KUKIRA KAMU ADALAH WANITA CANTIK YANG BISA KUNIKAHI KEMUDIAN HARI!" Rengoku teriak kesetanan. Sampai sampai Giyuu dan Tanjiro yang lewat didepan hotel yang mereka sewa menoleh ke sumber suara.
"Seperti suara Rengoku-san ya? Kira-kira ada apa didalam sana?" Tanjiro bertanya khawatir, bisa saja ada sebuah kasus, kan?
"Jangan dipikirkan. Ayo, Urokodaki-san pasti sudah menunggu bersama Nezuko." Giyuu tidak peduli. Ia berjalan mendahului Tanjiro dan bergumam, "Disir bidih. Sidih kibiling kilii dii idilih binci kin. Bidih bidih bidih."
Yaampun, Giyuu, tolong hentikan ucapan anehmu itu. Ternyata selain dibenci, kau juga aneh ya. Author seenak udel menghina husbu sendiri. Maafkan aku Giyuu. Tapi kamu enak buat dinistain. Te-he~
Muzan yang nyaris tertidur sambil berdiri (emang bisa?) langsung terbangun dan sadar bahwa Rengoku tengah melotot sambil memandangi dadanya yang rata.
'Yah, gagal deh dapat pasangan hidup.' Batinnya ngenes.
Kesal karena Rengoku tampak berubah seolah sangat jijik padanya (dan tampak makin jelas bodohnya), Muzan ikut berteriak "KAN KAU SENDIRI YANG PERTAMA KALI MENDEKATIKU! KOK SEKARANG MARAH KARENA AKU PRIA?!"
"YAKALI AKU MAU SAMA PRIA. KAMU YANG SALAH! COBA KALAU KAMU PAKE YUKATA BUAT PRIA, AKU KAN PASTI GABAKAL NGEDEKETIN KAMU!"
"LAH, SUKA-SUKA AKU KAN MAU PAKAI BAJU APA!"
"KOK NGEGAS?!"
"YA KAMU TERIAK, AKU JUGA TERIAK DONG!"
BRAK!
"ADA APA RIBUT-RIBUT INI?! SAYA MAU ENA-ENA DENGAN SELINGKUHAN SAYA JADI TERGANGGU KAN!"
"INI LHO MAS! SAYA JUGA MAU ENAK-ENAK INI! LHA KOK TERNYATA PASANGAN SAYA BERBATANG JUGA!" Rengoku berbalik, niat meninggalkan ruangan yang membuat otak bodohnya berasap. Sayang sekali author ini senang mem-bully-nya.
Cuppp.
Saat Rengoku berbalik, ia malah langsung bertatapan dengan seorang pria lainnya berambut putih dengan banyak bekas luka di jawahnya. Tidak hanya itu, bibir mereka juga saling bersentuhan mesra.
Muzan terdiam saat melihat kedua pria didepannya.
Saat ia menguasai dirinya, ia langsung berteriak. "KYOJURO! KURANG AJAR KAU! BAJINGAN KEPARAT! BERANINYA KAU MENCIUM PRIA LAIN DIHADAPANKU SEDANGKAN KAU MENOLAKKU?!"
Mendengar teriakan kesal itu, mereka langsung saling berjauhan dan mengusap kasar bibir mereka. Lalu memaki-maki entah siapa.
"KELUAR KALIAN BERDUA DARI KAMARKU!"
Rengoku langsung berlari pergi dan pria berambut putih itu membanting pintu reot kamarnya.
"JAN*K! ANJ*NG!" kata-kata makian berulang kali terdengar sampai pada akhirnya hilang digantikan suara wanita yang sepertinya sedang menenangkan selingkuhannya.
"Sanemi-kun! Tenanglah!"
Muzan menjatuhkan diri diatas ranjang, sungguh kepalanya pening.
Mungkin besok ia tidak akan berdandan lagi. Kapok sudah ia ingin diperkosa pria mesum nan bodoh. Besok ia akan menjadi Kibutsuji Muzan yang biasanya saja. Dengan jas dan topi fedora.
"Aduh!" desisnya saat sadar bahwa sanggul palsunya belum dilepas. "Sial... sudahlah aku tidak usah jadi perempuan lagi! Ini menyusahkan."
.
.
.
.
Jas hitam dengan aksen emas di bagian ujungnya membalut tubuhnya dengan elok. Celana kain warna putih membungkus kakinya yang ramping dengan sangat pas. Lalu dengan tambahan topi fedora warna putih, Kibutsuji Muzan berangkat ke pertemuan dengan kolega perusahaannya.
Pakaiannya yang mencolok membuat orang berpikir dia miskin. Sungguh kasihan. Salah sendiri tidak menggunakan kereta kuda dan malah jalan kaki. Dianggap kaum duafa kan.
"Tuan, jika anda memang kurang memiliki, tidak usah bergaya glamor seperti itu. Itu hanya akan membuat kantong tuan menjerit." Seorang pria tua yang sudah bungkuk mengatakan hal itu padanya. Lalu tertawa hangat.
Muzan kesal. Jadi ia mengeluarkan segepok uangnya dan menampar pria tua yang beruntung itu.
"Nih! Lihat nih! Saya ini kaya-raya!"
Yang melihat malah mengabadikannya dalam bentuk video dan membuat konten;
SEORANG PRIA (SOK) KAYA MENAMPAR SEORANG PRIA TUA MENGGUNAKAN UANG PALSU!!!
Sungguh malang nasip no—tuan Muzan ini. Duh nyaris saja keceplosan manggil nona.
Muzan tidak lagi suka dipanggil nona sejak hari dimana ia pulang dini hari dengan keadaan yukata yang berantakan dan sanggul yang lepas. Sejak itu juga ia selalu berpenampilan pria pada umumnya.
Yah, terlepas dari pakaiannya yang mencolok itu.
Kembali ke topik.
Anggap saja Muzan sudah sampai pada gedung pertemuannya. Ini dikarenakan author sudah malas bergerak dari tempat sekarang alias mager karena baterai laptop tengah-akan-sekarat dan charger jauh dari jangkauan.
Saat masuk, Muzan disuguhi pemandangan cantik bunga-bunga yang dirangkai indah.
"Selamat datang, Tuan Kibutsuji, silahkan masuk. Tuan Oyakata sudah menunggu anda." Seorang gadis kecil dengan rambut putih dan yukata menunduk sopan padanya. "Biar saya antar, tuan Kibutsuji."
Muzan mengikuti gadis kecil itu sambil memperhatikan sekitar.
Ini perasaannya saja, atau memang hanya jalan yang ditempuhnya yang berhiaskan bunga?
Gadis kecil itu berhenti didepan sebuah pintu besar. Ia mengetuk dengan sopan dan membukakan pintu untuk Muzan. "Silahkan masuk, Tuan."
Saat kakinya melangkah masuk, yang terangkap pada mata plum red-nya adalah taman bunga didalam ruangan.
"Ini..." ia terperangah sampai tidak sadar bahwa kakinya telah membawanya melangkah masuk lebih dalam.
Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, membuatnya menoleh dan bertemu pandang dengan rekan koleganya.
Ubuyashiki Kagaya.
Atau yang lebih dikenal sebagai tuan Oyakata.
"Kau menyukainya?" Oyakata membuka pembicaraan. Ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Muzan mengangguk. "Ini indah. Kenapa kau membuang uangmu hanya untuk pertemuan ini?"
Kali ini Oyakata baru melangkah mendekat, "Muzan, kamu masih mencari pasangan hidup kan?"
Merasa sedikit aneh, Muzan menjawab "Ya. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Oyakata diam saja, sampai ia berlutut didepan Muzan. "Eh! Untuk apa kau berlutut seperti itu?!"
Muzan diam saat Oyakata mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil, lantas membukanya didepannya. "Kibutsuji Muzan, apa kau mau menikah denganku?"
Diam mengudara. Hingga suara teriakan-teriakan bodoh Inosuke di luar sana pun terdengar.
Sungguh. Muzan tidak menyangka ini.
Lyke—yang benar saja! Ia susah payah berdandan seperti wanita dan tidak ada yang melamarnya seperti ini. Sekarang ia mencoba menjadi normal dan malah dilamar?!
"Jadi, apa jawabanmu, Muzan?" Oyakata tersenyum, menunggu jawaban.
Muzan meneguk ludah, "Aku..."
.
.
.
.
END.
A/N
Halo, ini ff pertama aku di KnY.
Ff ini dibuat untuk Synstropezia a.k.a Vey, lalu Vira D Ace a.k.a Vira dan Reauvafs a.k.a Rea.
Lalu... aku mengucap terimakasih karena sudah membaca ff yang sangat tidak jelas ini (iya aku sadar diri kok.)
Okay, cukup sampai disini, semoga kita bertemu lagi di ff lainnya.
Salam, Zian.
