Shiguru memijit kepalanya sendiri. Tidak, ini bukan karena efek catok kepala dari antek-antek Yodonheim beberapa hari yang lalu, tapi memang dikarenakan sakit dari dalam dirinya sendiri. Sebagai aktor laga terkenal di negeri ini, jadwal Shiguru sungguh padat merayap. Hal ini juga yang menyebabkan Shiguru tidak bisa bersantai di markas CARAT bersama rekan-rekan seperjuangannya terlalu lama. Setelah mengalahkan musuh mereka, Shiguru langsung bertolak ke tempat syuting. Beruntung, Jetta selalu siap mengantar jika pemuda stoic itu ingin ke tempat syuting secepat kilat.
Sakit kepala ini sungguh mengganggu, pikirnya. Mau sekeras apapun dia menahan, ekspresi kesakitan itu cukup jelas tergambar di wajah tampan itu dan membuat seorang gadis berambut ponytail dan berbaju tim CARAT berwarna forest green tampak khawatir di ujung stage.
.
.
.
.
.
.
HEADACHE
Mashin Sentai Kiramager © Toei
Fanfics by thebasecamp10
.
.
.
.
.
.
Sejak insiden catok kepala itu, Shiguru harus mengakui jika teman-teman satu timnya mengetahui sisi lain dari dirinya selama ini. Bukan sesuatu yang buruk sih, tapi tetap saja cukup memalukan - mengingat Shiguru lebih nyaman menjadi seorang tokoh yang stoic dan berwibawa seakan-akan tanpa cela. Akibatnya, teman-temannya sering mengerjainya dengan terus mengulang kata-kata terakhir yang dia ucapkan saat talkshow.
"Sungguh aneh, bukan?"
Bagaikan gema, kalimat darinya itu terus diucapkan oleh teman-temannya dan membuatnya gemas. Ada dua orang yang terus mengucap kalimat itu di setiap waktu, yaitu Tametomo dan Sena. Ah, rasanya ingin sekali menjitak Tametomo yang mulutnya seperti talang air bocor.
Kenapa tidak menjitak Sena? Oh sori, Shiguru itu pantang menjitak seorang wanita. Begitu katanya, walau sebenarnya tidak meyakinkan.
"Shiguru!"
Suara gadis ponytail bernama Sena itu terdengar dari jarak beberapa meter. Pemuda itu melihat ke arah sumber suara dan melihat Sena yang tengah melambaikan tangannya.
Dia itu ngapain sih, bukannya seharusnya dia pergi latihan lari?, pikir Shiguru. Sesaat rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, ini gawat!
"Permisi, aku boleh kesana kan, pak? Kumohon! Sebentaaaar saja!"
Meski berjarak beberapa meter, suara Sena yang tengah berbicara dengan kru film itu terdengar jelas hingga ke kursi Shiguru saat ini. Ah, dia begitu nyaring sekali. Rasanya Shiguru ingin berpura-pura tidak mengenalinya. Namun tak lama, Sena menepuk bahu Shiguru dan membuat pemuda itu terkesiap.
"Shiguru! Akhirnya aku bisa sampe sini juga!" seru Sena dengan ekspresi berseri-seri.
"Sena? Ngapain lo disini? Lha, kan orang luar gak boleh sampe sini?" tanya Shiguru dengan memasang ekspresi stoic khasnya.
"Aku kesini karena aku ingin melihatmu bekerja sebagai aktor! Lagipula, menghindari kru film itu mudah buatku!"
Ah iya, Shiguru lupa jika Sena adalah pelari wanita tercepat se-Jepang. Berlari menghindari para kru itu terlalu mudah untuknya.
"Memangnya lo gak ada latihan?"
"Nggak. Lagian aku pun bosan jika hanya bertiga dengan Putri Mabushiina dan Hakataminami-san. Yang lainnya sibuk dengan kegiatannya masing-masing."
Shiguru mengangguk. Namun setelah itu, pemuda itu kembali merasakan sensasi yang menyakitkan di kepalanya. Spontan saja, Shiguru menyentuh keningnya dan memijitnya perlahan. Sena yang menyadari hal itu langsung memegang lengan Shiguru.
"Shiguru sakit kah? Kupanggil tim medis aja ya? Trus nanti gak usah syuting dulu? Ya ya ya?"
Shiguru menatap Sena dengan tatapan tajamnya. Soal tim medis sih dia setuju, tapi kalo menunda bagiannya? Oooooo tidak bisa bosque, begitu pikirnya. Insiden catok kepala waktu itu saja tidak menghalanginya untuk tetap syuting. Apalagi kalo sekarang?
"Gue cuman minta obat saja. Sisanya gue akan tetap lanjut. Lo bisa nunggu di ujung tadi saja." kata Shiguru dengan nada (yang dibuat) santai. Mendengar jawaban itu, pipi Sena mengembang dan raut wajahnya tampak kusut. Gadis itu sungguh tidak puas dengan jawaban itu.
"Ayolah, Shiguru. Aku tau kalo kamu sudah menahannya dari tadi lho." celetuk Sena. "Memangnya aku nggak memperhatikanmu di ujung sana?"
Shiguru terdiam dan menatap gadis di sampingnya dengan tatapan penasaran. Sejak tadi, Sena terus memperhatikannya?
"Aku khawatir jika kamu kesakitan lagi seperti insiden itu. Tolong ya? Aku gak mau kalo Shiguru kenapa-kenapa dan jadi gak maksimal syutingnya." pinta Sena lagi. Kali ini, gadis itu berlutut di samping Shiguru dan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya seperti sedang memohon. Tak lupa juga dengan ekspresi memelas sembari berharap Kiramablue itu luluh dengan permintaannya.
Oi, lo gak usah kek gini kali!?, pekik Shiguru dalam hati melihat gadis itu berpose seperti itu dan menarik perhatian beberapa kru yang bekerja disana. Namun pada akhirnya, pemuda itu luluh dan akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Nanti gue bilang sama manajer dan sutradara biar gue bisa rehat dulu."
Senyum Sena mengembang ketika mendengar jawaban itu. Satu tangannya menepuk bahu Shiguru dengan spontan.
"Nah begitu dong! Kalo Shiguru sakit, syutingnya nanti gak maksimal! Apa perlu kutemani juga nanti?"
"Ng-nggak usah!"
Balasan itu membuat Sena terpaku. Merasa kagok, akhirnya Shiguru kembali berbicara dengan nada yang lebih pelan dari biasanya.
"Nanti gue sama manajer dan tim medis saja."
Sena mengangguk pelan dan langsung berdiri. "Kalo begitu, aku akan menunggumu disini. Tenang saja, aku gak bakalan ganggu siapapun kok!"
"Hah? Ngapain? Gak us-"
"Kalo gitu, aku panggil tim medis dulu ya! Shiguru duduk aja!" potong Sena yang langsung berlalu mencari kru film yang merupakan tim medis disana. Shiguru menghela napasnya panjang begitu mendengar gadis itu langsung memotong perkataannya. Namun ketika sosok gadis itu menjauh darinya, semburat kemerahan muncul begitu saja di wajah Shiguru.
THE END
P.S: Hai hai! Aku anko, ownernya thebasecamp10. Setelah bertahun-tahun hiatus menulis fanfics, akhirnya aku comeback lagi nih! Kali ini aku nyobain bikin fics dari francise Super Sentai yaitu Mashin Sentai Kiramager! Berhubung ini pertama kalinya, RnR sangat diharapkan sekali agar aku bisa bikin fics yang lebih baik dari ini ne. Akhir kata, arigathanks yak yang udah baca! X3
