Selamat membaca!
.
.
.
Tubuhnya ia senderkan pada kap lamborghini merah miliknya. Tangannya bersilang di depan dada, dengan sebelah Kaki tertekuk satu ke belakang.
Jaket hitamnya di biarkan terbuka, memperlihatkan tubuh kokohnya yang terbalut kaos hitam pula didalamnya. Raped Jeans hitam dengan sobekan di lutut berpadu sempurna dengan sepatu putih yang di kenakannya. Tampilannya semakin memukau dengan beanie hitam yang membalut di kepalanya.
Siapapun yang melihatnya jelas terpesona. Terbukti dengan sekumpulan gadis berseragam sekolah yang saling berbisik dan menahan pekikan ketika melewati gerbang sekolah. Beberapa bahkan dengan berani mengambil foto dirinya. Ia membiarkan, karna memang sudah terbiasa.
"Sehun?"
Kepalanya menoleh begitu suara lembut sang kekasih memanggil namanya. Ia tersenyum dan menegakkan tubuhnya untuk menanti sang kekasih yang tengah menghampirinya dengan riang.
"Kenapa disini? Aku sudah bilang untuk jangan menjemputku."
Ia mengusak rambut lelaki mungil di hadapannya karna gemas. Dan semakin menggemaskan ketika lelaki tersebut merengek dengan bibir mengerucut lucu setelahnya.
Ia terkekeh dan mencubit gemas kedua pipi bulat sang kekasih.
"Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu, Baekhyun. Sekarang, ayo kita pulang."
Ia lalu menggandeng tangan kecil sang kekasih untuk memasuki lamborghini miliknya.
...
Keduanya kini tengah menyantap makan siang di sebuah restaurant. Sehun memang sengaja mengajak Baekhyun makan siang terlebih dahulu ketika mengetahui kekasih mungilnya tersebut melewati jam makan siangnya tadi.
Dengan lahap, Baekhyun memasukan stik daging ke dalam mulut kecilnya. Bibirnya tidak berhenti berdecak nikmat ketika kelembutan tekstur daging yang di makannya menyatu dengan lidahnya. Sehun didepannya terkekeh gemas, sembari sesekali tangannya terjulur untuk membersihkan sisa-sisa saus yang tertinggal di sela bibir Baekhyun.
"Apa selezat itu sampai kau mengabaikanku, hmm?"
"Ini sangat lezat, Sehun. Kau harus mencobanya."
Sehun menggeleng ketika Baekhyun menyodorkannya sepotong daging menggunakan garpunya.
"Makanlah yang banyak, aku sudah bosan dengan daging seperti ini."
"Ck, wajar saja karna kau orang kaya. Tidak sepertiku yang miskin, dan hanya tinggal di panti asuhan."
"Sst, berhenti berkata seperti itu. Aku sudah menawarimu untuk tinggal bersamaku, tapi kau selalu menolak."
"Bagaimana aku bisa menerima permintaanmu, Sehun. Aku harus membantu bibi Jung mengurus panti, karna ia sudah semakin tua. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja karna ia adalah orang tua tunggalku selama ini."
Sehun tersenyum mendengarnya. Kekasihnya itu memang memiliki hati yang lembut. Ia tahu Baekhyun tidak bisa melupakan barang sedikitpun kebaikan yang orang lain berikan padanya.
Baekhyun kembali menyantap makan siangnya. Tidak menyadari Sehun yang kini menatapnya sendu dengan telapak tangan terkepal di pahanya.
...
"Baekhyun, ada yang ingin kukatakan padamu."
"Hmm, apa?"
"Malam ini, maukah kau menemaniku untuk menghadiri pesta ulang tahun temanku?"
"Sehun, kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri jika mengajakku."
Baekhyun tertunduk mengatakannya. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal tersebut. Itu karna Sehun pernah mengajaknya bertemu dengan teman-temannya. Namun mereka mengolok-olok Sehun karna memiliki kekasih seperti dirinya. Penampilan sederhana dan tinggal di panti asuhan. Baekhyun enggan bertemu dengan mereka setelahnya.
Sehun menepikan mobilnya kepinggir jalan. Ia menghadapkan tubuhnya pada Baekhyun yang masih menundukan kepalanya. Di raihnya sebelah tangan Baekhyun untuk di kecupnya.
"Tatap aku."
Sehun tersenyum lembut saat Baekhyun menatap wajahnya.
"Jangan pernah pedulikan apa kata mereka, Baekhyun. Kau memiliki aku yang mencintaimu. Itu sudah lebih dari cukup untukku, Baek."
"Maafkan aku."
Sehun membawa tubuh Baekhyun kedalam pelukannya. Membiarkan lelaki yang dicintainya menangis di pelukannya.
Seharusnya aku yang meminta maaf, Baekhyun. Meskipun aku tahu kau tidak akan pernah memaafkanku setelah ini.
...
Baekhyun mengeratkan genggamannya pada tangan Sehun saat kakinya melangkah semakin dekat untuk memasuki sebuah hotel tempat pesta ulang tahun tersebut berlangsung.
Hiruk pikuk terdengar sesampainya mereka di dalam. Canda tawa membaur bersama musik kencang yang di nyalakan. Baekhyun merapatkan tubuhnya pada Sehun begitu beberapa pasang mata menatapnya dan saling berbisik kemudian.
Meskipun teredam dengan musik dan gelak tawa yang lain, namun sekilas pembicaraan mereka tertangkap oleh telinganya.
"Kudengar kekasihnya adalah anak panti asuhan."
"Aku juga mendengarnya. Aku yakin pasti dia hanya di jadikan pelampiasan nafsu oleh Sehun, melihat bagaimana hanya tubuhnyalah yang cukup bagus."
Baekhyun ingin menyalak. Menyangkal apa yang mereka katakan. Sehun bukan lelaki seperti itu. Kekasihnya itu bahkan tidak pernah berbuat lebih selain memeluknya, mengecup keningnya, dan mencium pipinya. Sehun sangat menjaganya. Lelaki itu menghormatinya. Tapi lagi-lagi Baekhyun hanya mampu menunduk tidak berani.
"Jangan dengarkan." Bisik Sehun sebelum meraih pundak Baekhyun untuk di rangkulnya.
"Oh Sehun?"
Sehun menoleh dan mendapati sosok yang tengah berulang tahun hari ini mendekatinya dengan segelas bir di tangannya.
Sehun menatap tajam lelaki tersebut, dan semakin menarik Baekhyun kebelakang tubuhnya.
"Oh, kau membawa kekasihmu?"
Park Chanyeol. Lelaki itu menatap Baekhyun di belakang Sehun. Meskipun sebentar, namun kedua pasang mata itu sempat bersitatap sebelum Baekhyun menundukan kepalanya dan semakin menyembunyikan tubuhnya di belakang Sehun.
Baekhyun ingat lelaki itu. Dia adalah teman Sehun yang paling mengoloknya saat itu. Ia bahkan berujar tidak sopan padanya. Baekhyun bahkan hampir di lecehkan jika saja Sehun tidak ada disana. Sejak saat itulah Baekhyun tidak lagi ingin bertemu dengannya. Tapi kenapa Baekhyun tidak berpikiran sama sekali mengenai sosok lelaki itu ketika Sehun mengajaknya untuk kemari?
Sementara Chanyeol hanya menyeringai melihat Baekhyun yang sepertinya takut terhadap dirinya.
"Kuharap kau tidak lupa dengan pertaruhan kita, Sehun." Ujar Chanyeol sebelum melangkah pergi.
"Sehun?"
Lirih suara Baekhyun membuat Sehun segera berbalik untuk menghadapnya yang menunduk dengan tubuh sedikit bergetar. Sehun menyadari apa yang di khawatirkan kekasihnya tersebut. Ia lalu mengusap pipi Baekhyun membuatnya mendongak.
"Tidak apa-apa, aku bersamamu."
Biasanya Baekhyun akan langsung tenang jika Sehun sudah berkata demikian. Namun kali ini perasaannya tidak berkurang dan semakin gelisah. Baekhyun adalah pribadi yang peka. Meskipun ingin menyangkal, namun Baekhyun tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa terdapat keraguan pada perkataan Sehun.
Baekhyun kembali menunduk dengan iris bergetar sebelum kembali berujar dengan lirih.
"Aku ingin pulang."
...
Malam semakin larut, Semua orang semakin hanyut dalam alkohol dan musik yang semakin menggema. Terkecuali Sehun yang terduduk di kursi pojok ruangan dengan Baekhyun di sampingnya.
Sehun kalut dengan pikirannya. Dadanya bergemuruh menyesakkan. Baekhyun yang merengek di sampingnya sejak tadi semakin memperburuk suasana.
"Sehun, aku ingin pulang."
Baekhyun bahkan hampir menangis karna kegelisahan yang dirasakannya. Perasaannya sungguh tidak enak. Terlebih Sehun hanya mengabaikannya sejak tadi.
"A-aku akan pulang sendiri jika begitu."
Tidak tahan, Baekhyun pun beranjak hendak meninggalkan Sehun.
"Baekhyun, tunggu."
Sehun meraih tangan Baekhyun dan menatapnya lembut.
"Ikut aku sebentar."
"Ke-kemana?"
Sehun tidak lagi menjawab pertanyaan Baekhyun. Ia menarik cukup kuat tangan Baekhyun untuk mengikutinya.
"Sehun, kita mau kemana?"
Baekhyun semakin gelisah begitu Sehun membawanya di koridor dengan deretan pintu kamar-kamar hotel di samping kiri dan kanannya.
"Sehun,"
Sehun hanya terdiam dan semakin mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Baekhyun.
"Sehun, aku tidak mau. Aku mau pulang."
Pertahanan Baekhyun hancur. Air mata yang sedari tadi di tahannya menetes begitu saja membasahi pipi. Jantungnya berdegup hebat. Baekhyun bahkan tidak mampu menyembunyikan getaran pada tubuhnya. Baekhyun takut.
"Sehun, kau menyakitiku, hiks."
Sehun menghentikan langkahnya dan segera berbalik untuk membawa Baekhyun kedalam pelukannya. Membiarkan Baekhyun terisak di dadanya.
Sehun bisa merasakan ketakutan Baekhyun. Tubuh kecil di pelukannya bergetar hebat. Begitupula cengkraman kuat pada jaket bagian belakangnya. Sehun mengeratkan pelukannya pada Baekhyun.
"Maaf, maafkan aku."
"Aku ingin pulang. Aku hanya ingin pulang, Sehun. Aku takut, aku tidak mau disini."
"Maaf, Baekhyun. Maaf."
Sehun melepaskan pelukannya dan mengecup lama kening Baekhyun. Sehun tersenyum lembut sebelum membuka pintu kamar di sampingnya.
Baekhyun menahan tubuhnya ketika Sehun kembali menarik pergelangan tangannya untuk memasuki ruangan tersebut. Baekhyun menggeleng dengan air mata yang semakin deras mengalir ketika Sehun menatapnya.
Namun Sehun justru menarik kasar tangannya dan menghempas tubuh Baekhyun hingga jatuh tersungkur di lantai kamar tersebut.
Belum tersadar dari keterkejutannya, Baekhyun di buat semakin kalut dengan Sehun yang menutup kasar pintu kamar tersebut dari luar.
Baekhyun segera bangkit dan mencoba membuka pintu kamar yang sialnya terkunci.
"Sehun, buka pintunya! Sehun!"
Baekhyun menggedor kasar pintu tersebut namun sayang tidak terbuka.
"Byun Baekhyun,"
Baekhyun mematung ketika suara berat tersebut terdengar di telinganya. Dengan gerakan patah-patah ia membalikan tubuhnya dan merasakan jantungnya berhenti berdetak saat menemukan Chanyeol berdiri tepat di hadapannya dengan sepuntung rokok di sela jarinya.
Baekhyun kembali berbalik dan semakin kasar menggedor pintu di hadapannya.
"Sehun, buka! Sehun, jangan tinggalkan aku! Sehun!"
...
Sehun mendengarnya, suara Baekhyun yang terus memanggil namanya meskipun lirih. Sehun pun merasakan getaran pelan pintu yang di gedor kekasihnya. Namun Sehun hanya diam memejamkan mata dengan permintaan maaf tiada henti di dalam hati.
Dengan langkah gontai ia mulai meninggalkan pintu kamar tersebut. Tanpa tahu bahwa Chanyeol kini tengah mencengkram kasar rambut Baekhyun untuk membuatnya mendongak. Tanpa tahu bahwa Chanyeol tengah memagut kasar bibir Baekhyun dengan penuh nafsu. Tanpa tahu Baekhyun yang terus memanggil namanya dalam hati di sela rontaannya untuk melawan Chanyeol.
Sehun melangkah dengan kepala tertunduk. Mengabaikan suara gelegar musik di ruangan yang di jadikan tempat berpesta. Ia terus menunduk, mengabaikan orang-orang yang setengah sadar menari mengikuti iringan musik tersebut.
Sehun hanya menunduk dengan untaian kata maaf dalam hatinya. Mengucap puluhan, ratusan, bahkan ribuan kata maaf tanpa tahu bahwa kini kekasihnya tengah diperlakukan dengan sangat kasar oleh Chanyeol. Tanpa tahu bahwa Baekhyun di pukuli ketika mencoba melawan. Tanpa tahu Chanyeol yang menghempas tubuh kekasihnya kasar keatas ranjang dan mencabik pakaiannya seperti binatang. Tanpa tahu kekasihnya berteriak pilu dengan air mata yang tiada hentinya.
Sehun hanya terus melangkah, meninggalkan bangunan tersebut dan memasuki lamborghini miliknya. Ia menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya di atas kemudi. Sehun menangis. Menyesali apa yang telah di perbuatnya. Sehun menangis, menyadari bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia membiarkan Chanyeol yang kini tengah mencumbu kasar tubuh Baekhyun. Ia membiarkan Chanyeol menghujam kejantanannya dengan sangat kasar di dalam Baekhyun. Ia membiarkan Baekhyun, kekasihnya yang selama ini ia jaga dengan segenap jiwa terhentak tidak berdaya mengikuti gerakan kasar yang Chanyeol lakukan. Ia membiarkan Baekhyun, kekasihnya yang sangat ia cintai meraung sakit dengan tangan mencakar-cakar punggung Chanyeol.
"Baekhyun,"
Hanya lirih panggilan itu yang ia persuarakan tanpa mampu menghentikan pemerkosaan Chanyeol terhadap kekasihnya.
Sehun merutuki dirinya yang bisa-bisanya jatuh pada perangkap Chanyeol. Ia tahu lelaki itu sangat licik, seperti yang ia tahu pula bahwa lelaki itu tertarik pada tubuh kekasihnya. Namun dengan bodohnya ia justru masuk perangkap Chanyeol hingga membuatnya mau tidak mau merelakan kekasihnya sebagai bahan taruhan.
Sehun menyadari orientasi seksualnya melenceng sejak ia masih duduk di bangku menengah pertama. Ia tidak tertarik sama sekali terhadap kemolekan tubuh wanita.
Beranjak dewasa ia semakin meyakini orientasi seksualnya yang melenceng begitu ia tidak sama sekali terangsang ketika wanita seksi menggoda dan menjamah tubuhnya.
Maka dengan separuh kesadaran akibat alkohol yang di tenggaknya bersama teman-temannya, Sehun menerima dengan yakin taruhan Chanyeol dengan Baekhyun sebagai jaminannya. Namun Sehun kalah telak ketika seorang wanita menggoda diri di hadapannya. Sehun terangsang dan tanpa memikirkan Baekhyun, ia meniduri wanita tersebut di hadapan teman-temannya. Mengabaikan gelak tawa mengejek dari teman-temannya, pun kamera yang menyorot dirinya sebagai barang bukti.
Sejak saat itulah ia menyesali kebodohannya, dan dengan ancaman yang Chanyeol berikan perihal reputasinya di sekolah pun dengan penyerahan video tersebut kepada keluarganya, Sehun pun terpaksa menyerahkan Baekhyun kepada Chanyeol seperti yang lelaki itu inginkan.
"Aku ingin kekasihmu sebagai hadiah di ulang tahunku."
Sehun memukul kuat kemudi di depannya dan meremat kasar rambutnya kemudian. Baekhyun tidak tahu apa-apa. Ia hanya lelaki sederhana dengan segala kelembutan hatinya. Hal itu pula yang membuatnya jatuh hati pada Baekhyun, ketika lelaki itu memayunginya dari hujan di emperan toko tengah malam. Ia jatuh hati saat Baekhyun dengan telaten mengobati lukanya sesampainya ia di panti asuhan tempat lelaki itu tinggal. Ia jatuh hati ketika tangan kecil itu menjabat tangan dinginnya dengan sebuah nama yang terucap lembut dari bibir tipisnya.
"Byun Baekhyun."
Namun sekarang, apa yang dirinya lakukan sekarang? Ia menyakiti Baekhyun sedalam-dalamnya, Ia menghancurkan Baekhyun sedalam-dalamnya.
"A-aku juga mencintai Sehun."
Dan Sehun tidak sanggup lagi. Ia keluar dari mobil dan berlari tanpa peduli teman-temannya yang mulai berhamburan keluar gedung tertabrak olehnya.
Ia berlari menelusuri koridor tempat ia menyeret Baekhyun menuju kehancuran. Sesampainya di pintu kamar yang beberapa waktu lalu ia tinggalkan, Ia segera menaik turunkan kenop pintu berusaha membukanya. Namun sayang pintu tersebut tetap kokoh tidak bergeser sedikitpun. Iapun lalu menggedor dan menendang pintu tersebut. Namun tidak bereaksi apapun.
Sehun menangis, semakin kalut dan frustasi lalu semakin kuat mendobrak daun pintu tersebut. Bibirnya tidak berhenti memanggil nama kekasihnya. Kekasih yang telah ia hancurkan sedalam-dalamnya.
"Baekhyun!"
...
Baekhyun membuka perlahan kelopak matanya begitu suara Sehun terdengar lirih di telinganya. Iris sipit itu terlihat merah dan membengkak karna tidak berhenti mengeluarkan air mata.
Tubuhnya masih terhentak mengikuti gerakan Chanyeol di atasnya. Baekhyun tidak mampu lagi meronta dan hanya membiarkan lelaki diatasnya berkehendak. Suaranya hilang karna tidak berhenti meraung dan berteriak.
Meskipun kabur, namun Baekhyun masih mampu melihat Chanyeol yang terpejam dengan kepala terdongak. Sesekali terdengar geraman berat dari bibirnya. Baekhyun hanya mampu meremat lemah seprai di bawahnya.
"Baekhyun!"
Lagi, lirih suara Sehun terdengar bersamaan gebrakan kasar berkali-kali pada pintu yang tertutup. Perlahan, Baekhyun menolehkan kepalanya untuk memandang daun pintu tersebut.
Air matanya semakin deras mengalir ketika sakit teramat menjalari dadanya. Baekhyun kecewa. Benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Sehun terhadapnya. Nafasnya tersengal dengan isakkan yang tak mampu lagi ditahannya. Baekhyun terus memandang penuh luka daun pintu itu, sebelum Chanyeol mengapit kuat dagunya untuk membawanya pada pagutan kasar lelaki itu.
Baekhyun mengernyit dalam dan semakin mengeratkan rematannya pada seprai ketika Chanyeol semakin mempercepat gerakannya. Hingga akhirnya beberapa hentakan dalam ia terima saat Chanyeol kembali memenuhi dirinya untuk yang kesekian kali.
...
Sehun sontak menegakkan tubuhnya ketika pintu di hadapannya terbuka. Menampilkan sosok Chanyeol yang menyeringai puas ketika melihatnya. Keadaannya sangat berantakan. Kemejanya terbuka menampilkan tubuh kekarnya. Gesper pada celananya bahkan belum sepenuhnya benar terpasang.
"Terimakasih untuk hadiahnya, Sehun. Kekasihmu benar-benar menggairahkan."
Sungguh Sehun ingin sekali menghajar bahkan membunuh lelaki di depannya jika saja atensinya tidak teralihkan pada Baekhyun. Ia lalu segera menabrak kasar bahu Chanyeol untuk memasuki kamar tersebut. Mengabaikan Chanyeol yang tergelak dan meninggalkan kamar tersebut.
Sehun mencelos begitu sosok Baekhyun sepenuhnya terlihat oleh pandangannya. Kekasihnya terbaring tanpa busana di atas ranjang dengan keadaan yang begitu menyedihkan. Luka lebam terdapat di beberapa bagian tubuhnya. Kedua kakinya terbuka, memperlihatkan bagian bawahnya yang di penuhi sperma dan bercak darah. Jika saja Sehun bisa melihatnya lebih dekat lagi, lubang anusnya bengkak dan menganga dengan darah yang masih menetes bersama sisa-sisa sperma.
"Baek-hyun,"
Sehun melangkah perlahan mendekati Baekhyun yang menatap kosong langit-langit di atasnya. Sehun langsung jatuh berlutut sesampainya di tepi ranjang. Di raihnya wajah Baekhyun yang basah karna air mata. Luka lebam di sudut mata, rahang dan sudut bibirnya, Sehun usap dengan tangan gemetar.
"Baekhyun,"
Sehun kembali meneteskan air matanya begitu ibu jarinya beralih mengusap bibir Baekhyun yang sedikit terbuka. Bagian itu membengkak dengan luka sobek yang masih mengeluarkan darah.
"Ma-af. Baekhyun, ma-maaf."
Baekhyun kembali meneteskan air mata pesakitannya, namun tetap bergeming dengan pandangan kosong. Sehun yang tidak sanggup lagi melihat kondisi kekasihnya, segera membawa tubuh Baekhyun yang dipenuhi bitemark serta memar kepelukannya. Menangis sejadi-jadinya dengan ucapan maaf tiada henti.
Baekhyun terkulai begitu saja dalam dekapan Sehun. Membiarkan lelaki itu mendekapnya sedemikian erat. Baekhyun hanya terlalu kecewa. Benar tidak mampu menerima keadaan yang di alaminya. Baekhyun bahkan tidak tahu akan melakukan apa setelah ini. Berpijak di muka bumi tanpa harga diri? Baekhyun pikir kematian bahkan lebih baik. Lelah dengan pesakitan yang di deritanya, Baekhyun terpejam, benar membiarkan kegelapan merenggut kesadarannya.
...
Sehun menghela nafasnya berkali-kali. Sudah berlalu selama dua minggu sejak kejadian malam itu. Namun ia belum berani menampakkan batang hidungnya di hadapan Baekhyun. Dua minggu sejak ia membawa Baekhyun ke rumah sakit, dan ia hanya mampu memandangnya diam-diam dari kaca kecil di pintu kamar rawat Baekhyun.
Sehun hanya mengetahui kondisi Baekhyun dari suster yang keluar setelah memeriksa rutin keadaan Baekhyun. Selebihnya, ia hanya pecundang yang tidak mampu menampakkan dirinya di hadapan Baekhyun.
Sehun hanya takut dengan apa yang terjadi jika Baekhyun melihat sosoknya. Suster bilang, Baekhyun mengalami trauma. Terbukti dengan Baekhyun yang terlihat kosong, melamun, dan menangis setelahnya. Seperti tidak memiliki kehidupan lagi. Hal itu benar merobek relung hati Sehun sedalam-dalamnya.
Sehun kembali menghela nafas beratnya dan melanjutkan langkah kakinya. Sesampainya di pintu kamar rawat Baekhyun, ia mendekatkan wajahnya pada kaca kecil di pintu seperti dua minggu belakangan. Namun Sehun segera membuka kasar pintu tersebut ketika tidak menemukan Baekhyun di dalam ruangan. Hanya ruangan yang rapi dan tidak berpenghuni.
"Tuan Oh?"
Sehun membalikan tubuhnya ketika suara suster yang di kenalnya terdengar memanggilnya.
"Suster, dimana Baekhyun?"
"Keluarganya sudah membawa Tuan Baekhyun pulang. Kesehatanya memang sudah membaik."
Sehun mengernyit mendengarnya.
"Ah, ini ada titipan dari keluarganya untuk anda, Tuan."
Sehun menerima dua amplop putih yang di ulurkan suster padanya.
"Kalau begitu, saya permisi."
Sepeninggalan suster, Sehun mulai membuka amplop yang sedikit tebal. Sehun terbelalak begitu sejumlah uang terdapat di dalamnya. Sehun lantas membuka satu amplop lagi yang berisi selembar kertas.
"Sehun, maaf bibi sudah merepotkanmu. Bibi kembalikan semua uang yang sudah kau keluarkan untuk biaya pengobatan Baekhyun. Bibi juga tahu jika kau selalu datang untuk sekedar mengetahui kondisi Baekhyun. Sebelumnya bibi ucapkan terimakasih.
Baekhyun sudah menceritakan semuanya pada bibi. Kau lelaki baik, bibi tahu kau memiliki alasan kenapa melakukan hal tersebut. Namun bibi minta maaf, Sehun. Jangan pernah menemui Baekhyun lagi untuk kebaikan bersama. Baekhyun sudah baik-baik saja sekarang. Bibi akan menjaganya sebaik mungkin.
Tertanda,
Bibi Jung.
Sehun meremat kertas yang di pegangnya. Ia menghapus air matanya yang menetes, dan segera berlari keluar menuju panti asuhan tempat Baekhyun tinggal.
"Baekhyun, Baekhyun..."
Sehun tidak bisa berhenti memanggil lirih nama kekasihnya tersebut. Kekasih? Masih pantaskah ia menjadi kekasih Baekhyun setelah yang terjadi?
Setelah beberapa jam ia lalui dalam perjalanan. Sehun segera menuruni mobil dan memasuki gerbang panti. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat sebelum terhenti dengan panggilan Satpam yang tengah berjaga.
"Sehun,"
"Paman aku ingin bertemu dengan Baekhyun dan Bibi Jung."
Satpam Kang tersenyum sebelum menjawab perkataan Sehun.
"Paman minta maaf, nak. Baekhyun dan bibi Jung tidak lagi tinggal disini. Pengurusan panti asuhan telah berpindah tangan. Bibi Jung membawa Baekhyun bersamanya."
"Ke-kemana, paman?"
"Maaf, paman juga tidak tahu. Bibi Jung tidak memberitahu paman saat paman bertanya kemana mereka akan pindah."
Sehun mencelos mendengarnya. Bibi Jung benar-benar tidak membiarkannya untuk bertemu dengan Baekhyun lagi. Sehun meremat kasar rambutnya dan berteriak frustasi.
"Maafkan Paman, Sehun."
Satpam Kang menepuk pundak Sehun untuk menguatkan.
...
"Lepaskan aku, aku tidak mau! Sehun, tolong aku! Jangan!"
"Sa-sakit, Sehun to-tolong aku. Hen-tikan, kumohon."
"Se-sehun, Sehun, Se-hun tolong,-"
Chanyeol terbangun dan sontak mendudukan tubuhnya ketika mimpi itu kembali terulang. Nafasnya terengah dengan bulir keringat membanjiri tubuhnya. Chanyeol mengusap kasar wajahnya dan meneguk segelas air yang tersedia di atas meja nakas.
Chanyeol tidak mengerti dengan dirinya. Sudah tiga bulan sejak kejadian di malam pesta ulang tahunnya. Bayang-bayang wajah ketakutan Baekhyun terus terlintas di pikirannya. Wajah dengan raut kesakitan akibat perbuatannya selalu menghantui dirinya. Teriakan memohon, dan raungan lelaki itu entah mengapa mencambuk hati Chanyeol membuatnya tidak bisa melupakan lelaki kecil tersebut.
Chanyeol selalu mencari keberadaan lelaki tersebut, namun tak kunjung membuahkan hasil. Hubungannya dengan Sehun benar merenggang. Lelaki itu selalu terlihat dingin dan selalu mengabaikannya. Beberapa kali Chanyeol mencoba berbicara dengannya. Namun hanya tatapan dingin yang lelaki itu berikan.
Hingga seminggu yang lalu, Chanyeol mengetahui fakta bahwa Sehun pun tidak mengetahui dimana lelaki yang selalu menghantuinya itu berada.
Chanyeol semakin frustasi dibuatnya. Dan tanpa berpikir dua kali, ia lalu menyambar jaket kulitnya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
...
Sehun menatap dingin lelaki di hadapannya. Ia bisa saja menghajar bahkan membunuh lelaki tersebut sedari dulu. Namun tidak adil ketika Sehun berpikir ulang bahwa ia juga turut andil dengan apa yang terjadi kepada Baekhyun.
"Apalagi yang kau inginkan, Brengsek? Sudah kukatakan bahwa aku tidak mengetahui dimana Baekhyun berada."
"Aku mengerti, Sehun. Bukan itu tujuanku untuk menemuimu."
Sehun terdiam menunggu Chanyeol melanjutkan perkataannya.
"Kau berhubungan cukup lama dengan Baekhyun sebelumnya. Selama ia menjadi kekasihmu, aku yakin ia mengatakan suatu tempat dimana kemungkinan sekarang ia berada."
"Aku tidak tahu."
"Kumohon, Sehun. Aku tidak bisa jika Baekhyun terus menghantui hidupku. Aku harus menemukannya untuk bertanggung jawab."
Sehun mendengus dan tertawa mendengarnya. Sementara Chanyeol hanya menatap Sehun dalam diam.
"Bukankah itu bagus? Itu karma yang harus kau tanggung dari perbuatanmu, sialan!"
"Terserah mau kau anggap aku apa, aku tidak peduli. Kumohon ingat lagi. Bukankah kau juga ingin menemukan Baekhyun untuk menebus kesalahanmu?"
Sehun terdiam mendengar perkataan Chanyeol. Sedikit banyak membenarkan apa perkataan lelaki itu. Namun seberapa keraspun ia mencoba, ia tetap tidak bisa menemukan petunjuk mengenai keberadaan Baekhyun.
"Aku pergi."
"Sehun, tunggu!"
Tanpa mempedulikan panggilan Chanyeol, Sehun tetap memasuki mobilnya dan meninggalkan lelaki itu disana.
Chanyeol segera memasuki mobilnya untuk mengejar Sehun. Ia tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan lelaki albino itu.
Sementara Sehun di mobilnya tengah menangis frustasi. Tiga bulan. Sudah tiga bulan ia mencari keberadaan Baekhyun. Namun tidak ada hasil barang sedikitpun. Bukan hanya Chanyeol yang di hantui perasaan bersalah. Sehun bahkan tidak bisa hanya untuk memejamkan matanya. Dosa itu membekas di hati dan pikirannya.
Ia semakin kencang mengemudikan mobilnya. Tanpa mengetahui bahwa Chanyeol tengah mengikutinya di belakang. Lampu lalu lintas bahkan di terobosnya begitu saja. Tanpa menyadari sebuah truk yang melaju kencang dari arah sampingnya.
Waktu seperti berputar dengan sangat pelan. Sehun hanya mematung ketika sorot lampu dari truk tersebut menerangi wajahnya. Sehun merasa detak jantungnya berhenti tepat ketika Truk tersebut menghantam mobil miliknya hingga terseret dan terjepit diantara tembok trotoar dan truk tersebut.
Tidak ada yang mampu ia pikirkan kecuali wajah ceria kekasihnya. Bahkan ketika segerombolan orang-orang datang menghampirinya, yang Sehun lihat hanya wajah penuh air mata milik kekasihnya.
"Baekhyun,"
...
Chanyeol mondar-mandir di depan ruangan tempat Sehun tengah melakukan operasi. Keadaannya sangat memprihatinkan ketika Chanyeol membawanya ke rumah sakit. Sekujur tubuhnya dipenuhi darah, terlebih pada bagian kepalanya.
Chanyeol meremat kuat rambutnya. Kejadian naas beberapa waktu yang lalu benar masih tidak di sangkanya. Bagaimana truk besar itu menabrak mobil Sehun tepat di depan matanya.
Chanyeol kalut. Bagaimanapun Sehun adalah teman dekatnya sebelum kejadian tiga bulan yang lalu. Ia tidak menyangka lelaki albino itu melindungi kekasihnya sedemikian rupa ketika ia menginginkannya. Biasanya Sehun akan menyerahkannya begitu saja dan tidak peduli dengan bagaimana keadaan kekasihnya setelah itu.
Namun berbeda, ketika itu Baekhyun. Harusnya Chanyeol mengerti bahwa Sehun begitu mencintai Baekhyun. Seharusnya ia tidak menginginkan Baekhyun dan menjaga pertemanannya dengan Sehun.
Chanyeol sendiri tidak mengerti. Ketika Sehun membawa Baekhyun bersamanya saat itu, ada perasaan tak rela jika Baekhyun merupakan kekasih Sehun. Chanyeol menginginkannya dalam artian berbeda. Dan emosinya tersulut begitu mengetahui bahwa Sehun benar melindungi kekasihnya yang ini.
Chanyeol semakin dibuat menyesal ketika mengetahui fakta bahwa Baekhyun masih 'bersih' ketika ia menyetubuhi Baekhyun malam itu. Semakin menyesal pula ketika mengingat bahwa lelaki kecil itu tidak berhenti memanggil nama Sehun di sela pesakitannya.
Chanyeol mendudukan tubuhnya dan menunduk dalam tangis penyesalan. Terisak ketika menyadari perasaannya pada Baekhyun semakin berubah seiring bayangan dosa yang telah dilakukannya.
Chanyeol bukan sekedar ingin bertanggung jawab. Karna faktanya, Chanyeol telah menyimpan perasaan lebih pada lelaki yang telah di hancurkannya itu.
"Tuan Chanyeol?"
Chanyeol berdiri setelah dokter yang menangani Sehun selama 6 jam memanggilnya.
"Apa ada keluarga yang bisa dihubungi?"
"Keluarganya sedang dalam perjalanan dari luar negri. Dokter bisa menyampaikannya padaku sekarang. Biar aku yang akan menyampaikan pada keluarganya nanti."
Dokter di hadapannya mengangguk sebelum menjelaskan kondisi Sehun saat ini.
"Beberapa bagian tubuhnya mengalami patah tulang. Namun luka pada kepalanya adalah yang paling parah. Benturan pada kepalanya membuat pembuluh darah di otaknya menegang. Hal tersebut membuat Tuan Sehun koma dalam kurun waktu yang belum bisa di pastikan. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah Tuan Sehun dipindahkan ke ruang rawat."
Chanyeol mematung dengan otak blank mendengar penjelasan Dokter. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. Chanyeol limbung menabrak dinding di sampingnya tepat setelah Dokter tersebut pamit untuk pergi.
...
Waktu berlalu begitu cepat. Chanyeol tidak lagi turun tangan untuk mencari keberadaan Baekhyun. Ia mengerahkan beberapa orang suruhan untuk membantunya. Namun sudah lima bulan sejak Sehun mengalami kecelakaan, belum ada hasil berarti yang di dapatkannya.
Chanyeol memasuki kamar rawat Sehun seperti hari sebelum-belumnya. Lelaki albino itu masih terbaring dalam kedamaian. Tidak ada tanda-tanda untuk lelaki itu terbangun. Dan Chanyeol hanya menatap sendu lelaki tersebut.
Atensi Chanyeol teralihkan begitu ponsel di saku jaketnya bergetar. Ia pun menerima sebuah panggilan yang masuk. Ia beranjak sedikit menjauh dari Sehun.
Bukan panggilan penting. Hanya sebuah laporan dari orang suruhannya mengenai ketidakberadaan Baekhyun di daerah tertentu. Chanyeol kembali membalikan tubuhnya setelah sambungan telepon tersebut terputus.
Chanyeol hendak memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jaket, sebelum pergerakan jemari Sehun membuatnya terbelalak dan segera menghampiri lelaki tersebut.
"Sehun,"
Chanyeol segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan lelaki albino itu.
...
Chanyeol menunggu dengan gelisah di luar ruangan Sehun sementara dokter memeriksa keadaan lelaki itu.
Tidak lama seorang Suster membuka pintu dan berbicara kepadanya.
"Tuan Chanyeol, Tuan Sehun telah siuman dan ingin bertemu dengan anda."
Chanyeol yang mendengarnya segera memasuki ruangan Sehun dan menghampiri lelaki itu. Dokter dan beberapa perawat mengambil jarak dari mereka.
"Sehun,"
Sehun menatap sayu kearah Chanyeol. Bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Chanyeol lalu mendekatkan telinganya pada bibir Sehun.
"Ber-berjan-jilah pa-padaku,"
Meskipun terbata dan hampir seperti bisikan, Chanyeol masih mampu mendengarnya.
"Ja-jaga Baek-hyun un-untuk untuk-ku."
Chanyeol masih bersabar untuk menunggu kelanjutan ucapan Sehun.
"Per-perbatas-an Ul-ulsan, pe-pesi pesi-sir pan-pan-tai."
Sehun terbatuk hebat setelah mengatakan hal tersebut. Sebelah tangannya mencengkram lengan Chanyeol kuat. Nafasnya tersengal hebat dengan iris yang semakin memutih.
Chanyeol panik bukan main. Kedua tangannya mencengkram dan mengguncang pundak Sehun. Dokter dan beberapa Suster di pojok ruangan segera mengambil tindakan.
Dan Chanyeol meraung, begitu Dokter mengambil keputusan bahwa nyawa Sehun tidak tertolong. Chanyeol berteriak dan mengguncang kasar tubuh Sehun. Benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Chanyeol belum sempat meminta maaf pada lelaki albino itu, Chanyeol belum sempat menebus kesalahannya. Namun Sehun telah pergi untuk selama-lamanya.
...
Seminggu setelah pemakaman Sehun, Chanyeol mendatangi tempat yang di sebutkan Sehun. Angin pantai langsung menerpa wajahnya begitu Chanyeol menuruni mobilnya. Begitu sejuk dan menenangkan. Chanyeol hanyut dalam kedamaian tersebut. Sejenak melupakan segala keresahan yang di deritanya.
Setelah cukup lama meresapi angin pantai yang menerpanya, Chanyeol membuka kedua kelopaknya. Irisnya berpendar menelusuri pantai yang cukup ramai tersebut.
Anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki dengan layangan di tangan tidak luput dari pandangannya. Chanyeol melayangkan pandangannya pada para nelayan yang tengah menurunkan sekeranjang ikan-ikan dari kapal.
"Akh!"
Chanyeol mengalihkan tatapannya untuk mencari suara pekikan itu. Irisnya terpaku pada lelaki yang tengah membelakanginya. Tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
"Maafkan kami, Baekhyun hyung. Kami tidak sengaja."
Chanyeol tercekat ketika suara anak lelaki terdengar menyebutkan nama lelaki yang tengah di carinya.
"Hmm, tak apa. Aku baik-baik saja. Lain kali lebih berhati-hati."
Jantung Chanyeol berdegub semakin kencang begitu lirih suara tersebut lelaki itu persuarakan. Chanyeol masih mematung memandang sosok yang masih membelakanginya tersebut.
Chanyeol tidak mungkin salah. Lelaki itu adalah Baekhyun, lelaki yang di carinya selama ini. Dan Chanyeol di buat mencelos ketika lelaki itu berbalik memperlihatkan wajah datarnya yang dingin. Melangkah dengan perlahan menuju kearahnya.
Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat Chanyeol seolah berhenti bernafas. Namun gembungan besar pada bagian perut Baekhyun, membuat Chanyeol kehilangan dunianya saat ini.
"Baekhyun?"
Chanyeol masih memperhatikan Baekhyun yang menolehkan kepalanya dan mendapati seorang lelaki menghampirinya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, bibi Jung..."
"Ada apa dengan bibi?"
Lelaki itu tidak menjawab dan hanya meraih tangan Baekhyun untuk menuntunnya menuju sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
...
Jongin segera menopang tubuh Baekhyun ketika lelaki itu limbung saat Dokter mengatakan bahwa Nyawa Bibi Jung tidak tertolong. Wanita paruh baya itu memang di vonis memiliki penyakit jantung kronis sejak tiga bulan yang lalu.
"Baekhyun,"
Jongin segera mendudukan tubuh Baekhyun di kursi. Jongin tahu, saat ini Baekhyun tengah terguncang dengan kabar yang di dengarnya. Terbukti dengan tubuhnya yang bergetar. Iris sipit itu mulai meneteskan air mata. Sedang bibir bergetarnya terbuka seperti hendak mengeluarkan kalimat. Namun tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir tipis itu.
Tidak sanggup melihatnya lagi, Jongin segera memeluk tubuh ringkih itu dan membiarkan Baekhyun meraung di pelukannya.
Jongin menyayangkan nasib lelaki manis di pelukannya itu. Pertama kali ia melihat Baekhyun, lelaki itu begitu tertutup dan seperti tidak memiliki kehidupan. Jongin yang menaruh simpati, berusaha mendekatinya. Hingga suatu hari ia mendapati Bibi Jung yang keluar rumah dengan keadaan panik. Jongin pun menghampiri wanita paruh baya itu dan membiarkan wanita tersebut menarik lengannya.
Ia menemukan Baekhyun jatuh tidak sadarkan diri di sebuah ruangan yang ia tebak adalah kamar lelaki itu. Jongin pun segera membawa Baekhyun ke rumah sakit dengan tangan Bibi Jung yang tidak lepas menggenggam tangan Baekhyun.
Setelah cukup lama menunggu dokter memeriksa keadaan lelaki itu, Jongin di buat jantungan dengan fakta bahwa lelaki itu tengah mengandung. Tidak mendapat jawaban apapun dari Baekhyun, ia pun bertanya pada Bibi Jung dan wanita itu menceritakan segalanya.
"Kau memiliki aku, Baekhyun. Aku bersamamu."
Jongin terus mengusap lembut punggung sempit Baekhyun. Mencoba menenangkan lelaki itu bahwa ia tidak sendirian di sini.
Benar, Jongin akan menjaganya. Jongin akan terus berada disisinya. Karena Jongin, telah menjatuhkan hati padanya. Bagaimanapun kondisi Baekhyun, Jongin menerimanya. Pun dengan bayi dalam kandungannya.
...
"Baekhyun,"
Jongin menahan tangan Baekhyun lembut ketika lelaki itu hendak memasuki tempat tinggalnya bersama bibi Jung selama ini. Baekhyun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jongin dengan kepala menunduk.
Keduanya memang baru sampai kediaman Baekhyun setelah selesai melakukan pemakaman terhadap bibi Jung. Sebenarnya Jongin sudah menyarankan kapada Baekhyun supaya tinggal bersamanya menilik kondisi Baekhyun yang tengah hamil besar.
"Kau yakin tidak akan tinggal bersamaku? Aku sungguh tidak bisa meninggalkanmu sendirian, terlebih dengan keadaanmu yang seperti ini. Aku sudah berbicara dengan kedua orang tuaku, mereka tidak keberatan."
"Terimakasih, Jongin. Tapi aku tetap akan tinggal disini."
Jongin terdiam mendengar penolakan halus Baekhyun.
"Bagaimana jika aku tinggal disini bersamamu?"
Baekhyun sontak menatap Jongin dengan wajah sembabnya.
"Aku akan sangat kecewa jika kau menganggapku lemah hanya karna tinggal sendirian."
"Baek..."
"Jongin,"
"Baiklah, hubungi aku jika kau butuh sesuatu atau terjadi sesuatu. Aku akan langsung datang kesini."
Baekhyun mengangguk dan kembali berbalik untuk memasuki kediamannya.
...
Baekhyun berjalan dengan lunglai menuju kamarnya. Ia langsung jatuh terduduk setelah berhasil menutup pintu kamarnya. Baekhyun kembali menangis. Ia tidak sanggup dengan takdir hidupnya. Ini begitu sulit.
Baekhyun pernah mencoba mengakhiri hidupnya ketika mengetahui seonggok janin tengah tumbuh di rahimnya sepulangnya dari rumah sakit hari itu. Ia sungguh merasa hancur dan tidak sanggup menjalani kehidupannya. Namun Bibi Jung merangkulnya dan membantu Baekhyun untuk menghadapi masa sulitnya. Baekhyun yang awalnya membenci kehadiran jabang bayi tersebut pun perlahan menerimanya dan mulai menyayanginya. Namun sekarang, wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri telah pergi meninggalkannya. Bagaimana lagi cara Baekhyun untuk tidak menyalahkan takdir atas apa yang terjadi dengan hidupnya.
Baekhyun terus menangis dan menangis. Tubuhnya bergetar dengan dada yang menyempit karna sesak.
"Nak, K-kau ti-tidak ak-akan mening-galkanku, bu-bukan? hiks. Ku-mohon te-tetaplah di di-sisi i-ibu."
Baekhyun berucap pada bayi di perutnya di sela isak tangisnya. Di usapnya lembut perut besarnya dan ia peluk dengan kedua tangan. Bulan depan bayinya akan lahir. Jika boleh jujur, Baekhyun merasa belum siap. Baekhyun takut menjalani kehidupannya setelah bayi diperutnya lahir. Baekhyun takut anaknya akan menerima cacian dari orang-orang seperti halnya ia selama ini. Baekhyun hanya remaja berusia 17 tahun yang dipaksa menerima kehadiran bayi dalam perutnya. Selama ini bibi Jung telah melindunginya dari cacian orang-orang. Tapi sekarang Baekhyun sendirian. Karena tidak ada lagi yang di percayainya setelah Sehun mengkhianati kepercayaannya.
...
"Yak, Baekhyun! Kenapa tidak sampah seperti kau saja yang mati, huh? Kenapa harus Nyonya Jung?"
Baekhyun hanya menunduk mendengarnya. Ia tetap melangkahkan kakinya ke halaman rumah dengan seember cucian yang hendak di jemurnya.
"Cih, lihat jalang itu! Tidak tahu malu! Kau tahu kenapa Nyonya Jung meninggal dunia? Itu karna ia harus mengurusi jalang sepertimu. Bekerja seharian di usianya yang sudah tua untuk menghidupimu dan bayi harammu itu. Sementara kau hanya duduk manis di rumah dan menodongkan tangan untuk jerih payah yang dihasilkan Nyonya Jung!"
Baekhyun masih terdiam dan mencoba menulikan pendengarannya. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka menyentak pakaian basah yang di pegang Baekhyun dan membuangnya ketanah.
"Dasar tidak tahu diri."
Wanita paruh baya itu menampar keras pipi Baekhyun karena geram. Beberapa orang yang melihatnya pun bukannya iba justru turut mengerubungi Baekhyun dan memukul tubuh Baekhyun. Baekhyun hanya menangis tidak berani melawan. Bibirnya memohon belas kasih dengan tangan mencoba melindungi perutnya dari amukan ibu-ibu tersebut.
"Rasakan ini, jalang! rasakan!"
Baekhyun menjerit ketika seseorang menjambak rambutnya sangat kuat.
"Sakit! ku-mohon hentikan, Nyonya. Aku minta maaf."
"Maaf kau bilang?!"
Seseorang yang lain dengan tega mendorong kasar tubuh Baekhyun hingga jatuh tersungkur dengan kuat. Baekhyun tersentak begitu dirasa perutnya menegang dan sakit yang teramat menjalar di bagian perut bawahnya.
Baekhyun mencengkram bagian tersebut dan membiarkan ibu-ibu itu kembali memukul dan menendang tubuhnya. Pikirannya berkabut, ia hanya berharap seseorang datang dan menolongnya. Setidaknya, menyelamatkan bayi di kandungannya dari amukan ibu-ibu tersebut.
"Akh!"
Keadaan hening tiba-tiba ketika seorang wanita paruh baya yang baru saja menendang kuat perut Baekhyun tersungkur dengan sangat kasar ketika seseorang mendorongnya. Semua pasang mata menatap pelaku tersebut.
"Siapa kau?! Salah satu lelaki yang telah menikmati tubuh jalang ini?"
Lelaki itu menghiraukan pertanyaan wanita itu dan segera menghampiri Baekhyun yang meringkuk tidak sadarkan diri. Lelaki itu membawa Baekhyun kedalam gendongannya. Rahangnya mengeras ketika menyadari darah yang merembas banyak dari sela paha Baekhyun.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bernafas dengan tenang di muka bumi ini jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Baekhyun dan bayiku."
Ucapnya sebelum melangkah membawa Baekhyun menuju lamborghini miliknya. Meninggalkan sekumpulan ibu-ibu yang masih tercengang dengan perkataannya.
...
Chanyeol menatap lekat bayi merah di dekapannya. Hatinya menghangat selama irisnya menyelami pahatan Tuhan yang begitu indah tersebut.
"Selamat datang, boy."
Chanyeol meneteskan air matanya tepat setelah ia mengecup pipi gembil milik si bayi. Ia menghapus air matanya sebelum membawa bayi tersebut mendekati lelaki yang tengah terlelap di atas ranjang.
Chanyeol mengeraskan rahangnya ketika melihat kembali beberapa luka lebam yang terdapat di wajah pucatnya. Ia segera mengambil ponsel di saku celananya dan mendial nomor seseorang.
Chanyeol menyadari sepenuhnya bahwa ia mencintai Baekhyun. Ketika ia melihat Baekhyun di pantai tempo hari dan mengikutinya kerumah sakit. Perasaan berdosa semakin menggerogoti hatinya. Namun, ada gelenyar menyenangkan ketika ia mengikuti Baekhyun menuju kediaman lelaki itu, ia melihat Baekhyun yang menolak permintaan Jongin. Dan ia murka bukan main ketika keesokan harinya ia mendapati Baekhyun tidak berdaya ketika sekumpulan ibu-ibu menganiaya dirinya.
Lalu bagaimana dengan kau yang telah menghancurkan Baekhyun sebegitu dalamnya, Chanyeol?
...
"Jadi kau adalah ayah dari bayi yang di kandungnya?"
Chanyeol tidak menjawab dan hanya mengusap darah yang keluar dari hidungnya setelah lelaki di hadapannya memukul habis wajahnya beberapa waktu yang lalu.
"Baekhyun hidup menderita selama ini. Butuh waktu yang lama sampai akhirnya dia dapat menerima bayi di kandungannya. Dan sekarang kau dengan seenaknya datang dan mengklaim bahwa bayi itu adalah milikmu. Berkacalah, bung. Apa yang selama ini kau lakukan, huh?"
Lagi-lagi Chanyeol diam tak menjawab. Apa yang dikatakan lelaki di hadapannya taunya meremat hati Chanyeol. Jika di ingat lagi bagaimana Baekhyun hamil, memang sudah jelas lelaki itu tidak semudah itu menerima keadaannya.
"Aku datang untuk bertanggung jawab." Ucapnya pelan.
Kim Jongin, lelaki di hadapan Chanyeol berdecih. Ia pandangi wajah Chanyeol yang telah babak belur. Jongin benci mengakui, tapi lelaki itu jelas serius dengan ucapannya. Jongin pun menggulirkan pandangannya dan menghela nafasnya berat.
"Aku harap kau memegang teguh ucapanmu, Tuan. Tapi semua kembali kepada Baekhyun. Aku tidak ingin kau memaksakan kehendakmu terhadap Baekhyun." Ucapnya sebelum berbalik meninggalkan lelaki itu.
Chanyeol tersenyum lega entah karena apa. Ia pun lalu mengambil Tas isi perlengkapan Baekhyun, dan menuju rumah sakit seperti tujuan awalnya sebelum Jongin datang dan memukulnya beberapa saat lalu.
...
Chanyeol hendak membuka pintu kamar rawat Baekhyun sebelum terhenti karna mendengar percakapan Baekhyun dan Jongin. Chanyeol pun memutuskan untuk mengintip sedikit apa yang mereka lakukan di dalam sana.
"Kau sudah menyiapkan nama untuknya, Baek?"
Baekhyun yang tengah mendekap bayinya pun melebarkan senyumnya. Baik Chanyeol maupun Jongin di buat tertegun melihat senyum manis Baekhyun yang baru kali ini mereka lihat.
"Byun Dayoung," Lirih Baekhyun sembari mengelus lembut pipi bayinya dengan telunjuk.
Jongin tersadar dari ketertegunannya dan berdehem untuk menetralkan detak jantungnya.
"Ah, Dayoungie, ini paman Jongin. Paman yang paling tampan yang Dayoungie miliki." Ujar Jangin memperkenalkan diri dengan segala kepercayaan dirinya.
Baekhyun hanya mengecup pipi gembil bayinya meskipun tergelitik mendengar perkenalan Jongin.
"Kau menginginkan sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu."
Baekhyun menggeleng pelan mendengar penawaran Jongin. "Dokter hanya memperbolehkan aku untuk memakan makanan yang sudah disiapkan rumah sakit agar aku cepat pulih."
Jongin pun menganggukan kepalanya mendengar jawaban Baekhyun.
"Jongin,"
Jongin menatap Baekhyun ketika lelaki itu memanggil lirih namanya.
"Terimakasih sudah menolongku dan membawaku kerumah sakit. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada bayiku jika kau tidak menyelamatkanku."
Jongin terdiam mendengar penuturan Baekhyun. Jongin tentu tahu apa yang terjadi pada Baekhyun dan bagaimana lelaki itu bisa berakhir di rumah sakit. Namun ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Baekhyun. Hingga akhirnya ia pun hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi Dayoung di dekapan Baekhyun.
Sementara Chanyeol kembali menutup pintu kamar Baekhyun dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Lelaki itu lalu mendudukan dirinya di kursi tunggu yang tersedia di sana. Ia menunduk dan merenungi segala perbuatannya. Ia memejamkan matanya merasakan sesak yang menjalar didadanya.
Ia kecewa karna nyatanya Baekhyun memberikan marga lelaki itu pada nama putranya. Chanyeol ingin tertawa karna sedikitnya berharap lelaki itu menautkan marganya pada putranya.
Selain itu, ia juga kecewa karna Baekhyun sama sekali tidak mengetahui bahwa ialah yang telah menolong lekaki itu dan membawanya ke rumah sakit.
Chanyeol terkekeh menyadari sikapnya yang tidak tahu diri. Sebelum ponsel di saku jaketnya mengalihkan atensinya. Ia lalu menggeser ikon hijau pada panggilan telepon di ponselnya.
"Kami sudah membereskan orang-orang yang telah menyakiti Tuan Baekhyun seperti keinginanmu, Tuan. Saya bersumpah mereka bahkan enggan untuk sekedar melirik Tuan Baekhyun mulai sekarang."
Chanyeol tersenyum miring, puas akan apa yang di dengarnya. "Bagus."
Cklek,
Chanyeol segera memasukan ponselnya ke saku jaket begitu pintu kamar Baekhyun terbuka dan menampilkan Jongin yang keluar dari sana. Lelaki itu sempat terdiam menatap Chanyeol sebelum akhirnya menghampiri lelaki itu dan mendudukan dirinya di samping Chanyeol.
"Aku mewakili Baekhyun untuk berterimakasih karna kau telah menolongnya dan membawanya ke rumah sakit."
Chanyeol hanya tersenyum tipis mendengar ucapan lelaki disampingnya.
"Kau tidak ingin menemuinya?" Lanjut Jongin.
"Aku bahkan tidak siap melihat reaksinya ketika melihatku."
"Cih, pecundang."
Chanyeol hanya tersenyum mendengar sindiran Jongin. Ia membenarkan apa yang di katakan lelaki itu.
"Cepat atau lambat, kalian akan tetap bertemu. Aku tidak melarangmu untuk bertemu Baekhyun dan mendapatkan maafnya dengan caramu. Aku akan terima apapun keputusannya."
Chanyeol terdiam mendengar ucapan lelaki itu. Jongin pun berdiri hendak meninggalkan lelaki itu.
"Lebih cepat bukankah lebih baik. Aku tahu kau memiliki maksud baik terhadap Baekhyun. Aku akan membiarkanmu menebus semua kesalahanmu padanya. Satu pesanku, jangan memaksanya." Ucap Jongin sebelum meninggalkan Chanyeol setelah menepuk pundak lelaki itu.
...
"Kau yakin akan tetap tinggal disini sendirian, Baek?" Ini kesekian kalinya Jongin bertanya.
Lelaki itu tentu tidak bisa meninggalkan Baekhyun setelah melihat apa yang terjadi pada lelaki itu.
"Berhenti bertanya seperti itu karna kau sudah tau apa jawabannya, Jongin." Jawab Baekhyun.
"Bagaimana jika mereka kembali menyakitimu."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Pulanglah, ini sudah malam."
"Tapi, Baek.."
"Kau hanya akan membuat mereka salah paham dengan adanya kau disini. Kuharap kau mengerti situasinya, Jongin. Percayalah, aku akan baik-baik saja."
Jongin tidak lagi mampu membantah ucapan Baekhyun. Apa yang dikatakan lelaki itu jelas ada benarnya. Jika ia tetap disini maka akan semakin menimbulkan fitnah di mata orang-orang disana. Tapi meninggalkan Baekhyun yang baru saja terpaksa melahirkan karna perbuatan mereka, tentu keraguan menyelimuti hatinya.
"Baiklah, aku akan pulang. Kumohon segera hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Setelah mendapat anggukan dari Baekhyun, akhirnya Jongin meninggalkan kediaman lelaki itu setelah sedari pagi mengantar lelaki itu pulang dari rumah sakit.
Perasaan tidak rela semakin menggerogoti hatinya. Terlebih ia menyadari tatapan-tatapan intens yang terarah padanya di balik sekat-sekat tempat mereka bersembunyi. Jongin sungguh di buat muak dengan itu.
"Aku pulang."
Baekhyun mengangguk dan berterimakasih sekali lagi kepada lelaki itu. Ia lalu mengantar Jongin hingga ke pintu utama dan menatap kepergian lelaki itu.
Baekhyun menutup pintu rumahnya ketika Jongin tidak lagi terlihat di pandangannya. Baekhyun merosot dan memeluk tubuhnya yang bergetar. Baekhyun takut tentu saja. Terlebih bayinya telah lahir kedunia. Baekhyun takut mereka turut menyakiti putranya. Setelah mencoba menenangkan dirinya dengan menghela nafas berkali-kali, Baekhyun pun memasuki kamarnya dimana Dayoung masih terlelap disana. Baekhyun pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Dayoung dan menatap lekat setiap pahatan di wajah putranya tersebut.
Semakin lama Baekhyun memandangi wajah lelap putranya, semakin pula sesak menyelimuti dadanya. Hingga setetes air mata mengalir di wajahnya disusul oleh tetesan-tetesan yang lain.
"Mengapa kau sangat mirip dengannya, Dayoung-ah?"
...
Baekhyun membuka pintu rumahnya dengan ragu. Ia harus menjemur cuciannya setelah sebelumnya memandikan Dayoung dan membuat bayi itu tertidur. Namun ia mengernyit bingung ketika beberapa kantong pelastik terdapat di depan pintu yang telah berhasil ia buka seutuhnya. Baekhyun mengedarkan pandangannya kesana kemari namun tak mendapati siapapun. Ia lalu mengambil kantong tersebut dan membawanya kedalam rumah, lalu melanjutkan tujuan awalnya untuk menjemur pakaian.
Baekhyun meneguk ludahnya kasar ketika melalui ekor matanya, ia mendapati beberapa ibu-ibu berada di depan rumahnya masing masing. Beberapa bergerombol dan saling bercengkrama. Namun yang baekhyun bingungkan, mereka seolah tidak menyadari kehadiran Baekhyun disana. Atau tidak peduli? Tapi bagaimana bisa? Mengingat sebelum-sebelumnya mereka akan menatap sinis Baekhyun berikut dengan kata-kata kasar yang di tujukan untuknya. Terlebih kejadian terakhir yang membuat Baekhyun di larikan ke rumah sakit.
Tanpa memikirkan apapun lagi, Baekhyun pun mempercepat pekerjaannya dan kembali memasuki rumahnya dengan kepala tertunduk. Ia segera menutup pintu rumahnya sesampainya di dalam.
Ia melangkah menuju kantong kantong plastik yang di temukannya di depan pintu. Baekhyun mengira bahwa itu memang di berikan untuknya karna tidak ada yang mengambilnya sebelum Baekhyun keluar. Perlahan, iapun membuka kantong-kantong tersebut dan mendapati beberapa macam sayuran, bumbu-bumbu, beberapa potong daging dan buah-buahan. Yang membuat Baekhyun lebih yakin kalau perlengkapan itu untuknya adalah ditemukannya susu untuk ibu menyusui di salah satu kantung.
Baekhyun memikirkan kiranya siapa yang mengirimkan perlengkapan tersebut. Tepat ketika tangannya bergerak untuk membereskan semuanya, ia mendapati selembar kertas yang terlipat di salah satu kantung palstik tersebut.
Maaf tidak memberikannya langsung padamu, Baekhyun. Masaklah makanan yang enak dan makanlah dengan baik. Jangan pernah merasa kau sendirian disini. Jaga Dayeong baik-baik. Jika waktunya sempat, aku akan menemuimu.
"Jongin," Ucapnya lirih.
Baekhyun tersenyum dan membaca kembali tulisan tersebut. Tanpa memikirkan apapun lagi, ia lalu beranjak membereskan bahan-bahan tersebut dan berencana membuat beberapa lauk untuk dimakannya.
...
Sebulan telah berlalu, selama itu pula Baekhyun mendapat kiriman yang berbeda setiap harinya. Entah itu berupa pakaian, vitamin, bahan makanan, ataupun uang. Selama itu pula ia tidak bertemu dengan Jongin. Baekhyun ingin sekali bertemu dengan lelaki itu, mengatakan terimakasih juga mengatakan keberatan hatinya jika lelaki itu terus melakukan hal ini untuknya.
Sebulan telah berlalu, selama itu pula Baekhyun tidak lagi mendapat gangguan dalam bentuk apapun dari orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut sedikit banyak mengubah perasaan Baekhyun. Ia tidak lagi merasa khawatir. Meskipun tidak ada yang menganggap keberadaannya, setidaknya Baekhyun dapat bernafas lega daripada mendapat kebencian seperti sebelum-sebelumnya. Toh kehadiran Dayoung di hidupnya sudah lebih dari cukup untuk Baekhyun.
Terkadang Baekhyun memikirkan kehidupan mereka kedepannya. Baekhyun ingin mencari pekerjaan untuk menghidupi putranya. Tapi siapa yang akan menjaga putranya?
"Baekhyun!"
Baekhyun yang tengah menimang putranya di halaman rumah memutar tubuhnya ketika suara itu menyerukan namanya. Baekhyun senang bukan main ketika sosok Jongin yang tidak dilihatnya sebulan inilah yang memanggilnya.
"Jongin," Lirihnya.
...
"Maaf."
Baekhyun tetap menundukan kepalanya tidak berani menatap sosok jangkung di depannya. Kedua tangannya semakin erat mendekap Dayoung di dadanya sementara tubuhnya mulai gemetar.
"Ke-kenapa dia disini, Tuhan. Kenapa a-aku harus melihatnya la-lagi?" Lirih Baekhyun dalam hati.
"Baekhyuna,"
Suara Jongin beserta sentuhan di pundaknya membuat Baekhyun tersentak.
"Ke-kenapa kau mem-bawanya ke-kemari?"
"Chanyeol hanya ingin meminta maaf atas perbuatannya terhadapmu. Ia menyesal, dan ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ujar Jongin lembut.
Tiga puluh menit yang lalu, setelah Baekhyun memutar tubuhnya ketika mendengar panggilan Jongin, ia memang benar menemukan Jongin disana. Namun yang membuat Baekhyun terkejut bukan main adalah sosok Chanyeol yang berada di belakang Jongin.
"A-aku tidak peduli. Bawa dia pergi, Jongin!"
"Baek,"
"Aku bahkan tidak pernah berharap dapat melihatnya lagi!" Sentakan Baekhyun memotong perkataan Jongin.
Sementara Chanyeol disana hanya terdiam menahan perasaan sesak di dadanya. Ia paham dan tidak keberatan mendapati Baekhyun yang seperti ini. Tapi ia tidak bisa jika terus-terusan hanya mengawasi secara diam-diam keseharian Baekhyun. Ya, yang tidak Baekhyun tahu adalah bahwa Chanyeol telah memasang CCTV dan penyadap suara di dalam rumah Baekhyun.
Terlebih kedatangan Jongin seminggu yang lalu, membuat Chanyeol bertekad untuk tidak bersembunyi lagi apapun konsekuensinya nanti.
Keadaan hening setelah kalimat terakhir Baekhyun sentakan. Baekhyun yang semakin tidak mampu menahan perasaannya, membalikan tubuhnya hendak meninggalkan mereka. Ia mendekap erat Dayoung yang menangis karna terkejut.
"Jika bukan karna Chanyeol, mungkin kau sudah kehilangan Dayoung saat itu, Baek."
Baekhyun menghentikan langkahnya mendengar kalimat yang di ucapkan Jongin.
"Chanyeol yang membawamu ke rumah sakit. Dia juga yang membiayai segala keperluanmu disana. Dan menurutmu apa aku punya banyak uang untuk memenuhi kebutuhanmu dan Dayoung setiap hari? Chanyeol yang melakukannya."
Jongin mengetahui semuanya tentu setelah ia mendatangi lelaki jangkung itu. Hilangnya ia sebulan yang lalu adalah karna ia telah mencari tahu seluk beluk lelaki jangkung itu dan mendapati fakta bahwa semuanya berhubungan dengannya. Dan setelah ia berhasil bertemu dengan Chanyeol, ia mengatakan segalanya bahwa ia adalah supir truk yang telah menabrak mobil Sehun beberapa bulan yang lalu. Meskipun tidak sepenuhnya salah, tapi Jongin rela melakukan apapun untuk menebus kesalahannya.
"Sehun meninggal dalam kecelakaan mobil, dan aku adalah supir truk yang menabrak mobil sehun." Lanjut Jongin.
Baekhyun yang mendengarnya jelas sangat terkejut. Sehun telah tiada?
"Aku mengatakan ini bermaksud supaya kau berusaha memaafkan Chanyeol. Karna aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku yang melarikan diri dari kejadian itu, Baekhyun."
"Jo-jongin.."
"Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku. Aku tahu kau sangat membenciku. Tapi sekiranya biarkan aku bertanggung jawab untuk Dayoung. Bagaimanapun dia adalah putraku. Kiranya kau mengijinkanku untuk tetap memenuhi kebutuhan kalian, dan tidak keberatan jika sewaktu-waktu aku ingin melihat Dayoung." Potong Chanyeol dengan tatapan memohonnya.
Untuk pertama kalinya, Baekhyun mendapat keberanian untuk menatap langsung ke iris gelap lelaki itu. Baekhyun tidak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa terdapat ketulusan didalamnya. Dan sentuhan lembut tangan Dayoung pada pipinya membuat Baekhyun mengecup kening Dayoung lama dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya.
...
"Bagaimana keadaanmu?"
Jongin tersenyum dari balik sekat kaca yang memisahkan mereka. "Aku merasa lebih tenang. Ah, dimana Dayoung?"
"Dia sedang bersama Chanyeol." Jawab Baekhyun lirih.
"Kau belum bisa menerimanya, Baek?"
"Aku tidak tahu, Jongin. Aku mungkin sudah memaafkannya, tapi aku tidak bisa menerimanya untuk masuk begitu saja kedalam kehidupanku."
"Aku mengerti. Seoul kemari membutuhkan waktu yang lama. Jangan terlalu sering mengunjungiku. Jalani hidupmu dengan baik, hmm. Bukankah kau bilang sebentar lagi Dayoung akan memasuki sekolah pertamanya? Dia membutuhkan bimbingan penuh ibunya."
Baekhyun tersenyum mendengarnya. Benar, ini sudah tahun kelima sejak pertemuannya dengan Chanyeol saat itu. Sehari sebelum Jongin menyerahkan dirinya ke polisi. Baekhyun mengingat jelas perjalanan hidupnya lima tahun ke belakang.
Chanyeol menepati janjinya seperti yang lelaki itu ucapkan. Ia tidak menuntut lebih apapun dari Baekhyun. Supir Chanyeol akan mengantarkan kebutuhan Baekhyun dan putranya setiap harinya. Kecuali ketika Chanyeol ingin bertemu dengan putranya, Seminggu sekali. Chanyeol akan datang dan menemani Dayoung bermain seharian. Tidak jarang lelaki itu ikut tertidur ketika waktunya Dayoung terlelap.
Hingga di tahun kedua, Chanyeol meminta kesediaan Baekhyun untuk pindah ke Seoul karna Chanyeol semakin sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Awalnya Baekhyun menolak keras karna berpikir ia akan tinggal bersama lelaki itu. Namun Chanyeol mengatakan dengan lembut bahwa Baekhyun akan menempati apartement yang telah disiapkan untuknya. Dan disanalah Baekhyun menjalani hidupnya hingga saat ini.
Tidak ada yang berubah pada hubungannya dengan Chanyeol. Baekhyun masih sedikit menyimpan trauma meskipun ia telah memaafkan lelaki itu. Chanyeol yang mengerti pun tidak pernah menuntut lebih. Ia hanya terus mengatakan terimakasih dengan wajah senangnya ketika ia akan meninggalkan Dayoung untuk kembali ke kediamannya.
Sementara Jongin, lelaki itu mendapat hukuman tujuh tahun penjara. Ia menolak ketika Chanyeol menawarkan pengacara untuk membuatnya terbebas dari hukuman tersebut. Padahal sangat mudah untuknya terbebas dari hukuman mengingat Sehunlah yang bersalah karna menerobos lampu lalu lintas begitu saja. Sebagai gantinya, ia meminta Chanyeol untuk selalu menjaga Baekhyun dan putranya.
...
"Kau sudah kembali?"
Baekhyun hanya menundukan kepalanya dan mengangguk kecil mendapat pertanyaan dari Chanyeol. Lelaki itu tengah menyajikan makanan di atas meja makan.
"Dayoungie tertidur setelah menghabiskan makan malamnya. Sepertinya ia lelah setelah seharian bermain. Ah, kebetulan kau pulang tepat setelah aku menyelesaikan masakanku. Pergilah mandi setelah itu habiskan makananmu. Aku akan pergi setelah ini."
"Chanyeol," Lirih Baekhyun.
Chanyeol merutuki jantungnya yang berdegub kencang karna demi apa, ini adalah pertama kalinya Baekhyun memanggil namanya. Ia menunggu dengan gugup apa yang akan Baekhyun katakan.
"Terimakasih untuk semuanya. Mungkin selama ini sikapku membuatmu tersinggung. Tapi aku sungguh meminta maaf karna aku benar-benar belum terbiasa dengan kehadiranmu."
Chanyeol tersenyum mendengarnya. Meskipun Baekhyun masih enggan untuk menatap dirinya ketika mengatakan hal tersebut, Chanyeol menghangat mendengarnya.
"Tak apa, aku sudah sangat bersyukur kau mengijinkanku untuk melakukan semuanya selama ini. Aku tidak akan pernah memaksamu, tolong jangan bebankan pikiranmu karna hal ini."
"Terimakasih," Cicit Baekhyun.
...
Chanyeol menghentikan mobilnya di tempat pertemuannya dengan Sehun sebelum kecelakaan malam itu terjadi. Ia keluar dan mendudukan tubuhnya di kap mobil miliknya sembari menatap langit malam kota Seoul.
"Sehuna, bukankah kau selalu mengawasiku dari atas sana? Maaf karna aku merasa cukup bahagia dengan apa yang aku jalani selama ini. Putraku tumbuh dengan baik, ia benar-benar memiliki pahatan yang sempurna. Aku bahagia karna ia seperti miniatur diriku. Aku berharap ia tumbuh menjadi sosok yang baik dan mampu menjaga Baekhyun dengan baik. Tidak seperti aku yang begitu mudahnya menghancurkan hidup seseorang."
Chanyeol mendecih ketika air mata ia rasakan menetes di pipinya. Ia lalu segera menghapus air mata tersebut dan terkekeh.
"Sehuna, aku telah menjaga Baekhyun seperti permintaanmu. Dia tumbuh sangat cantik dan dewasa. Kendati demikian, aku menjaganya karna aku begitu mencintainya. Tolong ijinkan aku memiliki perasaan ini. Aku berjanji tidak akan pernah memaksakan perasaanku terhadapnya. Aku akan berjuang sebaik mungkin hingga akhirnya Baekhyun menyadari perasaanku bukanlah sebatas penebusan atas kesalahanku. Sehuna, semoga segala pesakitan dari usahaku selama ini dapat menebus segala kesalahanku padamu."
Chanyeol tidak lagi mampu menahan air matanya saat ini. Ia menunduk membiarkan air mata tersebut membanjiri wajahnya. Ia menghela nafasnya dan kembali menatap langit malam dengan senyum dibibirnya.
"Maafkan aku yang telah merenggut Baekhyun darimu. Maafkan aku yang telah menghancurkan lelaki yang sangat kau cintai. Dan terakhir, maafkan aku karna telah begitu mencintai lelaki malang itu."
Baekhyun memang hidup menderita semenjak Chanyeol menyetubuhinya malam itu. Terlebih, beberapa minggu kemudian kehidupan mulai tumbuh di dalam perutnya. Hinaan demi hinaan ia dapatkan di setiap harinya. Cacian demi cacian berdengung di telinganya. Saat itu Baekhyun tidak tahu apa yang harus di perbuatnya.
Baekhyun tidak pernah mengharapkan hal tersebut. Hidupnya yang hampa di panti asuhan mulai berwarna ketika Sehun datang dan menggenggam tangannya. Perlakuan lelaki albino itu membuat hidupnya menghangat dan merasa berharga. Namun siapa sangka jika lelaki itu pula yang membuat harga dirinya terhempas begitu saja. Lelaki itu menumbalkan masa depannya kepada singa yang tengah kelaparan. Sentuhan kasar, ucapan hina, yang di tujukan padanya malam itu taunya benar membekas di hati dan pikiran Baekhyun hingga saat ini. Meskipun Baekhyun harus menahan segala perasaannya ketika lelaki itu datang walaupun hanya untuk putranya.
Malam kelam itu taunya mengikuti Baekhyun di setiap malam ketika ia hendak memejamkan matanya. Bahkan tidak jarang ia harus meminum obat penenang ketika wajah terlelap putranya mengingatkannya pada wajah bajingan lelaki yang menghentak kasar tubuhnya malam itu.
Maka bukanlah salah Baekhyun sepenuhnya ketika Chanyeol merasa dadanya seperti di remat sedemikian rupa ketika Baekhyun sedikitpun tidak pernah melirik dirinya. Bukanlah salah Baekhyun sepenuhnya jika Chanyeol bahkan harus menghisap inhaler untuk membantunya bernafas ketika sesak sudah menyelimuti dadanya, mendapati Baekhyun yang tidak pernah menanggapi perkataannya. Chanyeol bahkan hanya tersenyum pedih ketika Baekhyun hanya berucap seperlunya terhadapnya. Lelaki itu hanya akan menundukan kepalanya dan menjaga jarak tidak kurang dari tiga meter darinya.
Mereka mengalami pesakitannya masing-masing. Byun Dayoung atau yang sekarang berganti marga menjadi Park Dayoung adalah satu satunya jembatan agar mereka dapat membiasakan diri walaupun entah sampai kapan. Semoga seiringnya waktu berjalan dapat memberikan titik terang untuk memberi kesempatan kepada dua hati yang menyimpan sakit dapat bersatu dalam ketenangan dan kebahagiaan.
Sekian..
Yang membaca ulang cerita ini, mungkin menemukan beberapa perbedaan. Itu karna ada beberapa yang memang aku perbaiki untuk kenyamanan lebih ketika membacanya. Mohon di maklumi.
