Author: Shirou Akira
Original Character disclaimer: Shirou Akira
D-Grayman disclaimer: Hoshino Katsura
Sebuah kereta kuda baru saja sampai di depan gerbang Black Order. Pintunya terbuka dan turunlah sepasang kaki kekar terbalut sepatu boots berwarna gelap. Dua orang pria turun dari kereta dan membawa koper mereka ke dalam gedung. Seorang jenderal rambut keriting dengan jubah coklat cappucino miliknya berjalan penuh wibawa disusul oleh seorang exorcist dibelakangnya. Mereka berdua memasuki ruangan Komui, menaruh koper mereka disisi ruangan, dan melepas jubah mereka.
"Se-selamat datang, Jenderal Tiedoll. Anda pasti lelah habis perjalanan panjang ke sini," sambut Komui sambil menyusun beberapa lembar kertas.
"Ah, ah, sudahlah Komui. Kamu santai saja. Aku mengerti kau sedang repot mengurus banyak hal." Tiedoll mengibaskan tangannya santai sambil bersandar di sebuah sofa yang tak jauh dari meja kerja Komui.
"Ah, iya. Terima kasih, Jenderal Tiedoll. Kanda juga selamat datang."
"Hm."
Pria berambut panjang diikat ekor kuda yang bernama Kanda ikut duduk disebelah jenderalnya dan mengistirahatkan punggungnya. "Komui, bagaimana kabar exorcist yang baru?" tanya Jenderal Tiedoll.
"Ia sedang dalam perjalanan ke sini, Jenderal Tiedoll. Aku meminta Reever dan Johny untuk menjemputnya pagi ini di pelabuhan." jawabnya.
"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."
"Oh ya, Kanda. Exorcist baru ini akan menggantikan Allen untuk sementara, selama itu kamu akrab-akrab sama dia ya." tambah Komui.
"Hn..."
"Kanda, harusnya semangat sedikit dong. Kita kan mau menyambut anggota baru." tegur Lenalee.
Alisnya mengerut tak suka ketika ia harus diomeli oleh Lenalee, apalagi ada kakaknya disini. Ia memilih diam merengut sendiri tanda tak suka. Lenalee mendekat dan mencubit kedua pipinya. "Aduh! Apa-apaan sih?!" gerutunya sambil mengusap kedua pipinya.
"Jangan merengut mentang-mentang Allen tidak ada. Kita juga masih sama-sama mencari. Berhubung ada tambahan anggota, harusnya kamu senang dong. Kerjaanmu juga jadi lebih ringan karena ada yang bantu." ceramah Lenalee.
"Iya iya, aku tahu itu."
"Apa yang dikatakan Lenalee benar, Yuu-kun. Maka dari itu, semangatlah ya." Jenderal Tiedoll menimpali sambil mengusap kepala Kanda yang pada akhirnya turun ditepis olehnya.
"Aku malas harus beramah-tamah disaat seperti ini. Menyebalkan." Kanda meninggalkan ruangan sambil membawa koper ke kamarnya.
"Kanda!"
"Sudahlah, Lenalee. Mungkin dia lelah habis perjalanan tadi." cegah Tiedoll.
Lenalee mengangguk mengerti dan membiarkan Kanda pergi. Komui menghela nafas dan kembali duduk di kursinya. Ia memegang salah satu kertas yang berisi identitas exorcist yang baru.
"Jenderal Tiedoll, boleh saya bertanya?"
"Silahkan saja."
"Soal exorcist baru ini, kenapa baru dipanggil sekarang? Aku dengar ia sebenarnya sudah menjadi anggota sejak lama, tapi kenapa Black Order tidak pernah menceritakan ini padaku?"
Pria tua itu mendesah sambil memposisikan kedua tangannya memangku dagunya. "Itu cerita lama, Komui. Aku ingin sekali menceritakannya, tapi tidak dengan Kanda."
Komui menelan ludahnya, sepertinya ini bukan sesuatu yang bisa didengar sembarangan. Ia menoleh pada Lenalee, "Lenalee, kau boleh kembali. Aku ingin bicara berdua dengan Jenderal Tiedoll."
"Eh? Tapi, aku juga penasaran, Kak."
"Aku mengerti, tapi aku belum bisa berbagi cerita sekarang. Tolong ya."
"Uh, baiklah. Aku pergi dulu. Jenderal, saya pamit."
Tiedoll tersenyum pada Lenalee sebelum ia menutup pintu. Lalu, Komui kembali duduk dan menghadap jenderal tua itu. "Ceritakanlah, Pak."
Tiedoll berkedip. "Kuharap ini tidak akan mengecewakanmu, Komui."
Reever mengetuk kakinya dan melihat jam tangannya. Entah sudah berapa lama ia menunggu. Matahari sudah semakin meninggi ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang. Kapal yang berangkat dari Jepang masih belum kunjung datang. Johny, pemuda berambut ikal diikat dua, tengah mengunyah roti yang sudah menjadi porsi terakhir sarapan paginya sambil bersandar ditiang bendera tepi pelabuhan. Ia mendesah sambil menaikkan kacamatanya yang turun.
"Kapalnya masih belum datang?" tanyanya.
Reever menggeleng. Namun, tak lama para penunggu kapal mulai ramai ketika seseorang melihat ujung kapal yang muncul dari ujung lautan. Suara peluit kapal mulai terdengar. Reever dan Johny menegakkan badan mereka dan bergabung dengan orang-orang saat bendera Jepang mulai terlihat.
"Itu kapalnya!" seru Johny.
Mereka menunggu sampai kapal itu berlabuh hingga ke dermaga dengan sempurna. Para awak kapal menurunkan tangga ke dermaga dan membuka dek kapal untuk para penumpang untuk turun. Reever menajamkan matanya untuk mencari sosok exorcist yang akan ia jemput. Kemudian, ia melihat sosok wanita tinggi memakai hakama, berambut pirang diikat ekor kuda, membawa busur panah dan koper turun dari kapal. Wanita itu menoleh padanya dan sontak Reever langsung menghampirinya.
"Yuki!"
"Oh hai, kalian dari Black Order?"
"Iya. Kenalkan, aku Reever."
Reever berjabat tangan dengan Yuki dan disusul oleh Johny. "Aku Johny."
"Aku Yuki Todou. Salam kenal ya." ucapnya sambil tersenyum.
"Ayo kita ke Black Order. Komui pasti sudah menunggu. Oh, aku bantu bawa kopermu."
Yuki menyerahkan kopernya pada Reever dan mengikuti dia menuju kereta kuda yang parkir tak jauh dari dermaga. Ia masuk ke kereta kuda dan merapihkan rok hakamanya agar tidak terduduki oleh Johny yang duduk disebelahnya. Setelahnya, kereta mereka pun berjalan keluar pelabuhan. Perjalanan menuju Black Order akan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit karena keadaan pelabuhan yang cukup ramai pagi ini. Beberapa kali kereta kuda mereka terhenti karena kemacetan yang cukup padat. Mata Yuki melirik pemandangan kota yang sangat jauh berbeda dengan Jepang. Pendengarannya terhadap percakapan Bahasa Inggris pun mulai menggelitik telinganya. Selama di Jepang, ia lebih sering berbicara dalam Bahasa Jepang. Namun, kakek Yamada juga mengajarkannya Bahasa Inggris sejak kecil. Ia meraasa agak canggung ketika ia harus berbahasa Inggris dengan para exorcist nantinya, tapi ia yakin seiring waktu ia akan terbiasa. Reever melihat Yuki yang gugup pun berdeham.
"Uhm…Yuki. Bagaimana perjalananmu ke sini? Ada kendala?"
"Ah, tidak ada kendala sama sekali kok. Tapi, ketika sampai di laut Atlantik cuacanya kurang bagus. Untungnya cuma sebentar."
"O-oh…oke. Syukurlah kalau begitu."
"Oh, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Johny.
"Boleh saja."
"Yuki sudah mendapat innocence dari kapan ya?"
"Sudah lama sepertinya. Memangnya kenapa?"
"Hmm, aku bingung kenapa Black Order baru memanggilmu sekarang. Padahal setiap kami menemukan exorcist baru harus segera bergabung ke markas pusat. Tapi, kenapa hanya Yuki yang dipanggil sekarang?"
Yuki mengernyitkan alisnya. "Aku pun juga tidak tahu. Aku hanya tahu kalau aku dapat panggilan beberapa minggu lalu dari Putri Hinoto."
"Putri Hinoto?"
"Dia peramal masa depan dan ibu angkatku. Dulu dia bekerja sama dengan Black Order cabang Asia dan sekarang menetap di Jepang."
Johny dan Reever saling bertatapan. Raut wajah mereka terlihat bahwa mereka tidak pernah mendengar ini sebelumnya. Yuki mengerti kebingungan mereka dan tersenyum. "Mungkin kepala cabang belum pernah cerita sebelumnya. Kalian mungkin akan mendapat penjelasan langsung darinya."
"Tapi, kamu terlihat santai sekali. Tidakkah kamu curiga kenapa kamu baru dipanggil sekarang?" tanya Reever. Johny pun terlihat penasaran.
Yuki diam sebentar, lalu menghela nafas. "Aku pun juga tidak pernah tahu kalau aku sebenarnya sudah menjadi anggota sejak lama. Maka dari itu, aku merasa aku perlu menggali informasi tentang identitasku yang sebenarnya."
Reever menahan nafas. Ini akan menjadi masalah baru bagi wanita ini, batinnya. "Begitu ya. Kuharap kau bisa segera mendapat informasi itu secepatnya. Kalau ada yang perlu ditanya, kamu bisa datang padaku atau Johny. Teman-teman dari Black Order juga akan membantumu."
"Terima kasih banyak, Reever."
Tak terasa kereta kuda yang mereka naiki sudah memasuki gerbang markas utama Black Order. Mereka semua turun di depan pintu markas, lalu berjalan menuju kantor kepala cabang. Yuki melihat bangunan khas Eropa yang tinggi dan mewah membuatnya seperti terlempar ke dunia lain. Sangat berbeda dengan rumah khas Jepangnya yang ada di Kyoto. Orang-orang menatap Yuki penasaran dan saling berbisik. Ia merasa risih dengan tatapan mereka karena berpenampilan berbeda dari kebanyakan orang Eropa. Jantungnya berdebar ketika ia akan memasuki ruangan kepala cabang yang akan menyambutnya. Reever membukakan pintu untuknya dan ia masuk ke ruang kerja Komui.
"Ah, selamat datang, Yuki!" sambutnya tersenyum lebar. Yuki berjabat tangan dengannya Tiedoll. Saat berjabat tangan, ia merasa tidak asing dengan jenderal satu ini. Namun, ia tak bisa mengingat kapan ia melihat wajah Tiedoll. Yuki memutuskan untuk diam saja untuk menghindari kesalahpahaman.
"Duduklah dulu, Yuki. Kau pasti lelah setelah melewati perjalanan panjang dari Jepang ke sini."
Yuki menurut dan duduk bersebelahan dengan Jenderal Tiedoll.
"Senang bisa bertemu denganmu, Yuki. Aku minta maaf kalau ruanganku berantakan dan menyambutmu dalam keadaan seperti ini."
"Tidak apa-apa, aku mengerti keadanmu, Pak Komui."
"Haha, terima kasih. Kuharap kamu betah disini. Oh ya, aku akan panggilkan Lenalee untuk mengantarmu ke kamar barumu ya. Selain itu, kami berencana untuk membuat pesta penyambutan untukmu mala mini. Jangan lupa datang ya."
"Ah iya, terima kasih sudah mau repot-repot." Yuki menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal.
"Tidak usah gugup begitu. Kami memang menyambut exorcist baru seperti ini supaya bisa berbaur dengan yang lain. Kau santai saja."
"Baiklah."
Komui mengambil interkomnya yang terhubung dengan golem. Ia berbicara beberapa saat dan menutup interkomnya. Tak lama kemudian, masuklah seorang gadis berseragam exorcist. Ia terlihat muda dan seumuran dengan Yuki. Rambutnya diikat dua menyisakan rambut pendeknya menutupi leher. Ia memakai rok merah muda diatas paha dan mengekspos kaki jenjangnya yang terbalut kaos kaki putih, serta mengenakan sepatu hak dengan gelang di kedua kakinya.
"Oh, ini exorcist yang kakak maksud?"
"Iya. Yuki, kenalkan ini adikku, Lenalee."
"Salam kenal!"
Lenalee menjabat tangan Yuki antusias. Kemudian, mereka berpamitan dan pergi menuju kamar yang akan ditempati Yuki. Perlu berjalan sekitar lima menit, mereka sudah sampai di mess mereka. Mess exorcist terdiri dari beberapa kamar. Lenalee mengantar Yuki ke kamar yang paling ujung dekat jendela besar.
"Malam ini kamu menempati kamar ini ya,"
Lenalee membuka pintu kamar Yuki yang baru. Sebuah kamar yang sudah lengkap dengan perabotan didalamnya dan ukurannya pun cukup besar. Yuki menganga melihat kamar barunya. Sebuah lemari pinus dengan dua pintu, sebuah meja dan kursi lengkap dengan sebuah lampu belajar, selain itu kasurnya yang besar berukuran king size cukup untuk dua orang, dan sebuah jendela besar berada tepat diatas ranjangnya. Semua ini hanya untuknya.
"Nah, aku tinggal dulu ya. Sampai jumpa nanti malam, Yuki. Besok kuajak untuk keliling markas juga, oke?"
"O-oke."
"Jangan sungkan begitu. Kita disini keluarga kok." Lenalee menepuk pundaknya.
"Ahaha, aku hanya agak gugup. Ini pertama kalinya aku ke markas setelah sekian lama."
"Tidak apa. Beberapa exorcist sebelum kamu juga berkata seperti itu. Tapi lama-lama kamu akan terbiasa. Dah ya, sampai ketemu."
Lenalee pun meninggalkan kamarnya dan menutup pintu. Akhirnya ia bisa membaringkan tubuhnya yang lelah setelah perjalanan panjang, suara kretek terdengar dari punggungnya hingga bergetar ke seluruh tubuhnya saat ia merenggangkan diri. Ia menatap sekitarnya, semua serba baru, dan besok pasti akan menjadi hari yang menyibukkan dirinya. Kamarnya juga terdapat kamar mandi dalam yang tak jauh dari kasur tempat ia berbaring. Ia kembali bangun dan turun untuk membuka kopernya. Semua pakaian yang ia bawa dipindahkan ke dalam lemari pakaian satu per satu, lalu mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandinya untuk membersihkan dirinya. Ia mengenakan kaus hitam dengan leging yang berwarna senada dan membentuk lekuk badannya setelah menyelesaikan mandinya.
Setelahnya, Yuki berbaring diatas kasur dan memutuskan untuk beristirahat sampai pesta malam penyambutan tiba.
Malam harinya, kantin markas terlihat ramai dengan orang-orang yang mendekorasi dengan pita dan balon. Sebuah banner bertuliskan 'welcome' pun dipasang diantara tiang tinggi. Sang koki, Jerry, bersenandung sambil memasak dan disebelahnya seorang pria pirang, Howard Link, tengah mengoleskan krim pada kuenya. Dengan cekatan, tangannya meratakan krim itu dengan spatula. Meski Jerry terlihat tidak suka dengan keberadaan anggota Crow satu itu, ia diam saja sambil terus mengerjakan masakannya. Mereka menyelesaikan hidangan hingga Johny masuk ke kantin dan berseru, "Hei, orangnya sudah datang. Ayo cepat matikan lampunya!".
Semuanya langsung bergerak dan berbaris dibawah banner ucapan selamat datang. Reever mematikan lampu dan semua menjadi hening. Suara langkah kaki terdengar mendekati kantin markas. Lenalee memandu Yuki yang ditutup matanya dengan kain masuk ke dalam.
"A-apakah kita sudah sampai?" tanya Yuki.
"Aku hitung sampai tiga baru boleh buka mata ya. Satu, dua, tiga!"
Yuki menarik kain penutup dan membuka matanya. Pandangannya tiba-tiba menjadi terang dan mendengar orang-orang berseru didalamnya. "Selamat datang, Yuki!"
Matanya terbelalak karena terkejut dengan sambutan yang diberikan oleh mereka. Konfetti pun bertaburan di atas kepalanya. Yuki tertawa dan membungkuk hormat sambil berterima kasih. Ia pun dipersilahkan duduk diantara para exorcist yang lain dalam satu meja yang sudah penuh dengan hidangan mewah.
"Selamat datang, Yuki! Mulai hari ini kamu jadi bagian dari keluarga Black order." ucap Lenalee.
"Terima kasih semuanya sudah mau repot-repot menyambutku."
"Jangan sungkan begitu. Oh ya, kita kenalan dulu dengan anggota yang lain ya."
Seorang wanita berambut coklat bergelombang menyalaminya. "Namaku Miranda Lotto, panggil saja Miranda. Salam kenal ya."
"Aku Marie Noise, panggil saja Marie. Selamat ya." pria botak dan buta menyalaminya.
Kemudian, seorang pria dengan poni perak berkulit pucat menjabat tangannya. "Arystar Krory III, panggil Krory. Senang bertemu denganmu, Yuki."
Seorang beralis tebal berbadan besar menyusul. "Chaozi. Aku dari China. Salam kenal ya."
Dan terakhir, seorang anak kecil dan wanita berambut pirang bermata biru mendatanginya. "Timothy Hearst. Salam kenal ya, kak!"
"Aku Emilia Galmar, walinya Timothy. Salam kenal ya."
Setelah berkenal dengan semuanya, mereka pun makan malam bersama. Terlihat mereka saling tertawa dan berbincang seperti layaknya pesta pada umumnya. Namun, Lenalee baru merasakan ada sesuatu yang ganjal. Yuki pun menaikkan alis padanya.
"Ada apa, Lenalee?"
"Aku merasa ada yang kurang. Apa ya?"
"Lenalee, dimana Kanda?" tanya Miranda.
"Oh iya! Kanda belum muncul juga. Kemana sih anak itu?" Lenalee menggerutu sambil melihat sekitar.
Yuki hanya bisa menatap bingung pada Lenalee yang mencari keberadaan seorang 'Kanda'. Mungkin orang itu tidak suka pesta, pikirnya. Ia merasa pesta penyambutan ini tidaklah buruk. Ia sangat menyukainya karena semua terlihat ramah.
"Lenalee, boleh aku bertanya?"
"Hm? Apa?"
"Sebenarnya, Kanda ini siapa ya?"
"Dia juga exorcist seperti kita. Anaknya memang introvert dan ngeyelan kalau diajak kumpul seperti ini. Selain dia juga ada lagi sih, tapi…" Lenalee terdiam.
"Tapi?" ulang Yuki.
"Mereka menghilang." Lenalee tersenyum pahit.
"Oh begitu. Maaf kalau aku bertanya soal itu."
"Ti-tidak apa-apa, Yuki. Aku mengerti kalau kamu penasaran. Suatu saat kalau kita menemukan mereka, kamu juga akan tahu kok."
"Baiklah…"
Mereka melanjutkan pesta hingga jam sepuluh malam, lalu bubar menuju kamar masing-masing. Pesta yang meriah ditengah konflik seperti ini juga tidak buruk, pikir Yuki. Ada kalanya kita perlu bersantai sebelum perang dimulai. Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, ia masih memikirkan siapa sosok 'Kanda' yang disebut oleh Lenalee tadi. Ia membayangkan sosok orang yang introvert dan tidak suka keramaian yang tidak datang saat pesta penyambutannya.
Yuki membuka pintu kamarnya dan melihat sekitarnya yang nampak sepi. Ada beberapa pintu di depannya yang juga merupakan kamar exorcist, namun terasa sekali sepinya lorong ini ketika ada beberapa orang yang belum kunjung kembali. Di ujung kanan lorong terdapat sebuah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan malam yang disinari bulan sabit. Yuki menghampirinya dan melihat pemandangan malam pertamanya disini. Ia duduk di sisi jendela dan menyenderkan kepala ke kaca jendela sambil memeluk lututnya. Kedua iris emasnya memandang bulan yang sedang beristirahat diantara awan-awan di angkasa. Suasana baru tempat ini membuatnya rindu dengan keadaan rumahnya di Jepang.
'Kira-kira kakek sedang apa ya? Hime (sebutan untuk 'tuan putri') juga apa sudah makan malam ya?'
Semua pertanyaan itu meluncur begitu saja di dalam kepalanya. Ia menyunggingkan bibirnya dan mendesah pelan. Tiba-tiba terdengar suara dentingan samar-samar dan membuyarkan lamunannya. Yuki bertanya-tanya siapa yang tengah berlatih di malam hari seperti ini. Rasa penasarannya membuat matanya menangkap sosok manusia yang berada hutan belakang gedung Black Order. Matanya bisa melihat sosok itu, namun ia tak bisa menangkap raut wajah pemiliknya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mengambil busurnya, lalu pergi menuju lokasi orang yang ia lihat tadi. Kaki jenjangnya berlari cepat hingga suara langkah kakinya nyaris tak terdengar agar tidak membangunkan orang lain yang tengah beristirahat malam ini.
Saat ia sampai di tepi hutan, matanya mencari-cari sosok yang ia lihat sebelumnya. Yuki menoleh ke kiri dan ke kanan sambil berjalan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang itu. Sampai akhirnya ia dikagetkan oleh sebuah suara. "Siapa itu?". Yuki membeku saat orang itu berada di belakangnya. Kepalanya menoleh patah-patah, adrenalinnya mengalir deras, dan menatap sosok dibelakangnya. Sebuah pedang ditodongkan padanya dan mata pria berambut panjang itu tertutup oleh sebuah kain. Yuki bisa simpulkan ia bisa mengetahui keberadaannya, tapi ia tidak bisa melihat dirinya. Sepertinya orang ini tengah melatih seluruh indranya dengan membutakan matanya seperti ini. Yuki pun tertantang untuk melawan pria ini karena sepertinya ia bukanlah orang yang main-main di medan perang.
Dengan perlahan ia angkat busurnya dan menyentuh ujung pedangnya hingga terangkat. Pria itu terkesiap dan langsung menghunuskan pedangnya maju ke arahnya. Yuki sontak menghindar dan melayangkan serangan langsung padanya, pria itu menepisnya dengan sebelah tangannya dan membalas dengan sebuah tendangan kuat padanya. Namun, Yuki cukup gesit untuk menghindar hingga ia dapat menjaga jarak dengan si pria rambut panjang. Yuki berusaha tetap tenang dan tidak membuat suara agar tidak dicurigai oleh pria di depannya. Pria itu akhirnya kembali maju cepat ke arahnya dan menghunuskan pedangnya, Yuki menangkisnya dengan menggunakan lengkung busurnya. Kakinya menendang tubuh pria itu, namun ia langsung membalikkan posisinya dan kembali menghunuskan pedangnya bertubi-tubi ke arahnya. Gerakannya yang cepat membuat Yuki cukup kewalahan untuk menghindari serangannya agar tidak langsung membunuhnya ditempat, ia tak mau mati muda. Saat bilah pedangnya menghunus kembali, ia menangkisnya lagi, namun Yuki salah prediksi. Ia terkena tendangan langsung hingga ia terlempar hingga beberapa meter dari pria itu dan jatuh tersungkur di atas tanah.
Saat ia mau bangkit, pedangnya sudah menancap disamping lehernya. Sudah berakhir pertarungan dan perkenalan malam ini. Nafasnya tersengal karena lelah dan denyut nadinya memompa cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Pria diatasnya sudah memenangkan permainan mereka dan akhirnya melepas penutup matanya. Kedua iris birunya bertemu dengan iris emas milik Yuki. Saat itulah ia menyadari keberadaan dirinya yang sebenarnya.
"Ternyata kau..."
"Se-selamat malam,...uhm, Kanda-kun?" sapanya ragu-ragu.
Kanda mencabut pedang darinya dan memasukkannya ke dalam sarung pedang dipinggangnya. Ia menatap tajam pada Yuki yang sekarang sudah dapat mendudukkan dirinya diatas rerumputan dan tanah yang lembab. "Kenapa kau kemari?" tanyanya. "Aku hanya jalan-jalan sambil menghafal denah," Yuki menggaruk lehernya canggung. Ia pun berdiri sejajar dengan Kanda dan menatapnya mantap.
"Salam kenal, aku Yuki. Mulai hari ini aku jadi teman kamar sebelahmu," Ia mengangkat tangannya, namun tak dibalas oleh Kanda.
"Sebelah kamarku? Pasti kerjaan perempuan itu. Mentang-mentang dia tidak ada malah seenaknya memasukkan orang lain disekitarku." gerutunya mulai meninggalkannya.
Yuki menurunkan tangannya. "Tunggu dulu! Maksudmu Lenalee? Memang dia salah apa denganmu?"
Kanda berbalik dan memicingkan mata pada Yuki. "Bukan urusanmu."
"Biarlah kalau itu bukan urusanku, tapi Lenalee mencarimu ketika pesta penyambutanku."
"Pesta penyambutan? Oh, jadi kau exorcist baru itu."
"Iya. Dan mulai sekarang aku juga akan menjadi rekan kerjamu."
"'Rekan kerja' ya." Kanda mengangguk entah ia mengerti atau tidak, ia tidak peduli. Ia memutuskan untuk berbalik membelakangi Yuki. "Terserahlah apa maumu."
Yuki akhirnya tersenyum dengan jawaban terakhirnya itu dan memutuskan untuk mengikutinya kembali ke markas. Lagi-lagi sebelum ia sempat berterima kasih, Kanda menoleh kembali padanya, "Kenapa kau mengikutiku?"
"Kan sudah kubilang kalau aku teman sebelah kamarmu mulai saat ini."
Kanda kembali mengernyitkan alis dan menggelengkan kepala. Ia berjalan dan Yuki mengikutinya. Tiba-tiba Yuki menghentikan langkagnya. Waktu seolah berhenti, pandangannya berubah menjadi serba putih dan samar-samar melihat sosok lain di dalam ingatannya. Ia tidak tahu siapa pemilik sosok itu, tapi ia merasa pernah bertemu dengannya disuatu tempat. Nafasnya tertahan dan tangannya terangkat ke atas seraya meraih sosok itu di depan matanya. Namun, saat ia hampir meraihnya semua tergantikan oleh wajah Kanda yang kini berada di depan matanya.
"Oi, oi! Jangan melamun, bodoh!" tegurnya sambil mengguncang pundaknya.
"Hah?" Yuki terbelalak saat kesadarannya kembali.
"Kamu ini kenapa sih? Tiba-tiba berhenti mematung seperti itu?" tanya Kanda heran.
"Hah? Aku? Memangnya aku sedang apa tadi?"
"A-, kamu tidak sama sekali? Kau tiba-tiba berhenti dan membeku ditempat tahu!" jelas Kanda.
Yuki terdiam. "Maaf, sepertinya aku kelelahan karena perjalanan dan pesta penyambutan tadi. Da-dan aku juga sepertinya sedikit melamun."
Kanda menaikkan alisnya bingung. Namun, mereka tetap kembali ke markas dengan suasana canggung. Yuki tidak mengerti dengan dirinya tadi. Ia memutuskan untuk diam dan menganggapnya hanya kelelahan biasa.
