.

0o0o0o0o0

Diamond no Ace © Terajima Yuuji

Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)

Okumura Koushuu, Miyuki Kazuya,

.

De straat is stil

0o0o0o0o0

.

Sama seperti kemarin, hari ini juga hampir tidak ada pengunjung yang datang. Jalanan di luar sana terbentang sepi, setiap jamnya hanya beberapa mobil yang melintas dan jeda antara setiap mobil itu terasa jelas bagi Koushuu yang hampir sepanjang hari duduk memperhatikan jalan dari dalam kafe ini.

Sudah satu bulan berlalu sejak kebijakan membatasi kegiatan di luar rumah keluar secara resmi di negaranya, dan sudah hampir dua bulan sejak kasus pertama dari virus yang sedang meneror dunia saat ini masuk dan menakut-nakuti semua orang di negara ini. Keadaan berubah derastis, hanya dengan melihat jalanan di depan kafe ini saja Koushuu tahu sudah ada perubahan besar yang terjadi di dunia.

Beberapa toko di sekitar sini juga sudah memilih untuk menutup usaha mereka sampai keadaan kembali seperti semula. Hanya beberapa toko lain yang menjual keperluan sehari-hari, tempat makanan cepat saji juga kafe seperti miliknya yang memilih untuk tetap buka.

Bukan karena ingin mencari untung disaat sebagian besar pesaing lain mengamankan diri di dalam rumah, alasan Koushuu tetap membuka kafe ini bukan karena alasan seperti itu. Sebagai pemilik serta Barista utama kafe ini rasanya menyakitkan juga kalau harus menutup kafe ini dan membuat beberapa pelanggan kafenya yang biasa memesan kopi di sini harus pergi mencari tempat lain—memang sebagian besar pelanggannya sudah tidak ada yang datang sejak kasus pandemik ini meneror, tapi masih ada beberapa dari mereka yang tetap bekerja di luar rumah, menjadi salah satu dari bagian barisan depan yang berusaha melindungi dan mencegah orang lain ikut terjangkit dari virus tadi.

Hanya empat atau lima orang memang. Tidak banyak, tidak bisa dibandingkan dengan saat semua masih baik-baik saja, tapi mereka tetap pelanggan yang datang ke kafe ini untuk memesan kopi buatannya. Paling tidak Koushuu ingin membantu pelanggan-pelanggannya yang masih harus berjuang menyelamatkan orang lain dengan membuatkan mereka kopi, memberi mereka sedikit kafein untuk mempertahankan kesadaran setelah bekerja siang-malam tanpa ingat waktu, memberi mereka sedikir rasa nyaman dengan aroma kopi di dalam sini, juga memberi mereka sedikit ruang untuk menghela napas di kafe ini.

Walau hanya sedikit, Koushuu masih ingin menjadi bagian yang ikut mendukung kemenangan umat manusia melawan pandemik yang sedang menyerang saat ini. Dengan kopi buatannya Koushuu ingin sedikit membantu.

Kling~

Bel kecil di pintu kafenya berdenting saat terbuka, salah satu dari pelanggannya yang masih sering mendatangi kafenya setiap hari sebulan terakhir ini masuk. Masker bedah sekali pake yang dia kenakan dibuka saat memasuki kafe ini, dibuang langsung pada satu tempat sampah yang ada di sisi pintu masuk (tadinya itu tempat payung saat musim hujan, tapi sekarang Koushuu menggantinya dengan tempat sampah demi memudahkan pelanggannya menukar masker mereka).

Koushuu juga menyambut seperti biasa. "Selamat datang," serta menambahkan kalimat tambahan yang menjadi keharuskan setelah keadaan berubah menjadi seperti sekarang, "Silahkan cuci tangan anda terlebih dulu di sana, Miyuki-san."

Pelanggan yang satu ini adalah salah satu pekerja medis, seorang dokter muda. Dia bekerja di rumah sakit yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari kafe ini. Biasanya dia datang berdua ke kafe ini dengan temannya yang seorang perawat, tapi beberapa hari ini dia hanya datang sendiri.

"Satu Espresso aku minum di sini, dan buatkan dua Americano untuk aku bawa kembali ke rumah sakit—oh, yang satu tolong buat seperti pesanan Sawamura biasanya."

Pesanannya Koushuu terima. Sambil membuat pesanan itu sesekali Koushuu melirik pada pelanggan setianya yang kali ini memilih duduk di bangku dekat jendela samping. Helaan napas sarat akan rasa lelah lepas beberapa kali sebelum akhirnya Koushuu bisa mengantarkan kopi pesanan tadi.

"Terima kasih, Okumura-kun. Aku bersyukur kafe ini masih buka bahkan di saat keadaaan kacau seperti sekarang." Pujian itu sudah sering Koushuu dengar dari beberapa pelanggan lain, sebelumnya Miyuki Kazuya—pria yang duduk di hadapannya ini juga pernah mengatakan itu. Rasa terima kasih yang mereka ucapkan itu tidak sebanding dengan rasa terima kasih Koushuu pada mereka yang masih bertahan demi nama kemanusiaan dan berhadapan langsung dengan virus itu sertiap hari.

Sebaliknya rasa terima kasih itu kadang membuat Koushuu malu karena tidak ada banyak hal yang bisa dia lakukan untuk ikut menyelamatkan umat manusia dari teror virus ini.

"..aku benar-benar bersyukur tempat ini masih ada dan aku masih bisa menikmati kopi buatanmu." Miyuki Kazuya sedikit mendongak menatapnya sebelum menunduk pada Espresso yang baru saja Koushuu sajikan. Pria itu menghirup aroma kopinya sebentar.

"Omong-omong Miyuki-san, aku sudah beberapa hari tidak melihat Sawamura-san."

Satu lagi helaan napas lepas dari sosok di hadapannya. Sepasang mata dengan iris cokelat terang di balik bingkai kotak itu tiba-tiba menggelap. Satu senyum disertai dengusan sinis ikut lepas kemudian. Miyuki Kazuya menoleh pada jalanan sepi di sisi lain sebelum memberi jawaban, "Empat hari lalu Sawamura pingsan dan setelah pemeriksaan dia dinyatakan positif terjangkit virus itu. Kini dia menjadi salah satu pasien yang harus diisolasi. Satu kopi itu titipan dia yang tidak bisa langsung datang ke sini." Miyuki Kazuya menunjuk satu Americano yang sudah terbungkus rapih siap dibawa.

"Padahal jelas dia tidak bisa meminumnya, tapi dia tetap mengirim aku pesan untuk membelikan satu Americano kesukaannya." Koushuu tidak tahu harus bagaimana dia menjelaskan senyum yang Miyuki Kazuya tunjukan padanya saat ini, tapi satu hal yang pasti hatinya ikut sakit melihat bagaimana pria itu tersenyum sekarang. "Aku ingin ini semua segera berakhir."

Koushuu pun berharap demikian. Ia ingin semuanya kembali seperti semula, bisa menyajikan kopi buatannya kepada pelanggan-pelanggan setianya dan mendengarkan keluhan mereka tentang seberapa berat namun menarik pekerjaan yang mereka lakukan juga hari yang mereka lalui, seperti sebelumnya. Koushuu rindu lalu-lalang ramai di depan kafe ini dan beberapa pekerja paruh waktu yang dia pekerjakan di kafe ini. Koushuu rindu suasana tenang namun hangat dan ceria kafe ini.

Saat Miyuki Kazuya dan Sawamura Eijun sering singgah bersama dan duduk di dekat meja counter, mengajak dirinya yang sibuk membuat kopi untuk pelanggan lain mengobrol, bercerita tentang macam-macam pasien yang mereka tangani juga kasus-kasus khusus yang sedang terjadi di rumah sakit tempat kerja mereka, jujur saja Koushuu merindukan saat-saat seperti itu juga.

Tapi sekarang ... untuk mendekat memberi tepukan pada pundak salah satu pelanggan setianya dan memberi beberapa kata demi meringankan beban di pundak itu saja Koushuu tidak bisa. Walau baru tahu beberapa saat lalu Koushuu mengerti betul rasa kehilangan yang Miyuki Kazuya rasakan saat ini. Ada sebagian dirinya yang terguncang karena rasa kaget dan membuat kedua kakinya gemetar lemas.

Meja yang memisahkan tempat Miyuki Kazuya duduk dan Koushuu berdiri adalah jarak aman yang bisa Koushuu jaga untuk saat ini, walau ingin dirinya tidak akan bisa lebih dekat lagi. Tangannya tidak bisa meraih pria itu dan memberikan sentuhan apapun, semuanya terlarang sekarang—bukan karena norma tapi karena situasi.

Miyuki Kazuya mendekatkan lagi gelas Espresso-nya, menanggak habis kopi buatan Koushuu dengan sekali gerak, kemudian berdiri dan memamerkan senyum yang seolah menyampaikan 'aku baik-baik saja' secara paksa. Pria itu menunjukan ponselnya dan berkata, "Aku mau bayar."

Mengikuti kemauan pelanggannya Koushuu kembali ke belakang meja counter, memasukan tagihan kopi pesanan Miyuki Kazuya ke dalam komputer dan meminta Miyuki Kazuya untuk memindai kode QR pembayaran di kafenya.

"Aku harap kau akan baik-baik saja, Miyuki-san. Datanglah kembali saat kau ingin minum kopi, akan aku dengar semua hal yang ingin kau ceritakan."

Senyum tipis yang sama seperti saat dia mengatakan tentang keadaan Sawamura Eijun tadi tergambar singkat begitu transaksi tagihan kopi Miyuki Kazuya lunasi dengan satu tombol persetuannya di ponselnya.

"Hm." Suara Miyuki Kazuya pelan menjawab.

"Dan aku harap Sawamura-san akan lekas sembuh, sampaikan salamku untuknya."

"Akan aku sampaikan nanti." Miyuki Kazuya berjalan menuju tempat cuci tangan dan mencuci tangannya lagi sebelum menarik satu masker baru dari pack kecil masker sekali pakai yang dia bawa di mantelnya. Menutup hidung serta mulutnya baru setelah itu mengambil dua gelas Americano yang dia pesan untuk di bawa kembali ke rumah sakit.

Kling~

Bel kecil di pintu yang Miyuki Kazuya buka kembali berbunyi, pelakunya tidak langsung melangkah keluar. Miyuki Kazuya menoleh sekali lagi padanya, Koushuu tidak bisa memastikan seperti apa ekspersi yang ditunjukan dokter muda pelanggan setianya itu, kaca mata dan masker yang dikenakan Miyuki Kazuya menghalangi Koushuu untuk menebak ekpresi seperti apa yang ditunjukan saat pria itu berkata, "Aku harap aku masih punya banyak kesempatan untuk tetap kembali ke kafe ini dan minum kopi buatanmu, Okumura-kun."

Tidak ada kata yang bisa Koushuu sampaikan balik, Miyuki Kazuya terlanjur berjalan keluar dan meninggalkan kafe ini, kembali ke rumah sakit tempat tugasnya. Punggung lesu yang sempat Koushuu tangkap sesaat belum Miyuki Kazuya hilang dari pandangannya sudah cukup untuk memberi tahu Koushuu kalau perpisahan antara dirinya dengan pelanggan setia kopinya itu bisa terjadi kapan saja. Mungkin malam ini adalah malam terakhir pertemuan mereka. Mungkin besok sampai beberapa hari ke depan mereka masih bisa bertemu, Miyuki Kazuya masih bisa menikmati kopi buatannya. Atau mungkin juga dalam beberapa hari Koushuu akan kehilangan Miyuki Kazuya seperti dirinya kehilangan sosok perawat seceria Sawamura Eijun malam ini.

"..aku ingin ini semua segera berakhir." Kalimat Miyuki Kazuya tadi dia ulang karena memang itu harapan yang juga dia ajukan pada langit.

.

0o0o0o0o0

.

01/04/2020 16:29

Hay-hay, apa kabar kalian yang baca ini? Semoga sehat ya. Aku juga berharap semua ini segera berakhir, sama kaya yang Kazuya dan Koushuu harapkan—dan aku yakin kalian juga mengharapkan hal yang sama. Jadi ayo kita sama-sama lindungin diri kita dan bantu mereka yang berjuang demi kita di barisan paling depan dengan meringankan pekerjaan mereka.

Sejujurnya aku bikin FF ini karena aku sendiri udah dapet banyak kabar tentang teman-temanku yang kerja di RS. Ada beberapa berita buruk yang aku terima dan itu bikin aku sedikit marah sama semua orang termasuk diriku sendiri. Makanya aku bikin FF ini, semoga kalian semua dapet pesannya dan lebih aware lagi sama diri kalian sendiri juga ya.

Kebetulan tema MothlyFFA bulan ini Coffe Shop jadi aku bikinnya begini, kalaupun tema lain yang kepilih aku juga bakal tetep nyari plot lain untuk bikin FF dengan situasi sama seperti ini sebenernya.

Sekali lagi, ayo jaga kesehatan kita dan saling menguatkan serta mengingatkan.

Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan jejaknya.

Segitu dulu dariku, maaf kebanyakan bacot.

Bye~

.

0o0o0o0o0

INFO PENTING!

Buat kalian pembaca fanfiksi jangan lupa follow Twitter dan IG dari Fanfiction Addict. Di sana kalian bakal dapet banyak info tentang fanfiksi apik, untuk yang sesama penulis kita juga punya prompt-prompt bagus buat yang mungkin aja bisa jadi hidayah untuk kalian saat bikin fanfiksi dan akan ada banyak event-event seru untuk sesama penulis.

Nah, sebelum ketinggalan, ayo follow kami di IG ffa_id dan Twitter FFA_ID.

Oh, dan bagi yang berminat langsung gabung dengan GC Fanfiction Addict, bisa PM langsung ke sini.