Kakinya semakin mengayun lebih cepat. Sesekali bertubruk bahu dengan pejalan kaki yang lainnya, tapi itu bukan lagi perihal penting saat ini. Saat ini yang ia butuhkan adalah pergi jauh-jauh dan menghilang. Kemanapun. Selagi ia tidak menemui sosok berambut merah yang juga berlari beberapa langkah dibelakangnya. Sesekali berteriak memanggil namanya, memohon agar ia berhenti dan mendengarkan penjelasan dengan apa yang baru saja ia saksikan secara langsung. Tapi untuk apa? Penjelasan tidak dapat mengembalikan hatinya yang sudah terlanjur hancur berkeping-keping.
Ia merasa dikhianati. Hatinya lebih dari hancur. Air mata dan keringat saling berlomba-lomba berseluncur diwajahnya. Membentuk jejak-jejak samar. Pikirannya sudah tidak lagi jernih. Kejadian tersebut terputar berulang-ulang seperti rekaman rusak. Tumpang tindih dengan sejuta pertanyaan yang ia miliki.
Kenapa, Sei? Kenapa kau melakukannya?
"Tetsuya,"
Tiin. Tiiiiinnnnn.
Tetsuya—laki-laki berambut biru muda tersebut menghentikan langkahnya. Ah tidak, sebenarnya lebih kearah kakinya berhenti mendadak ketika cahaya yang sangat terang mulai mendekat kearahnya. Tubuhnya tidak mampu untuk bergerak. Dan dalam hitungan detik semua terjadi secara cepat.
Brak.
"TETSUYAAA!"
Terlambat.
- Forgotten Memories -
Three days after the incident.
Kyoto Hospital.
Laki-laki berambut merah menatap sosok yang terbaring lemah di balik daun pintu di depannya. Tubuh mungilnya dipenuhi oleh banyak selang. Monitor pendeteksi detak jantung menunjukan grafik naik turun tak henti-henti. Setidaknya hal baik yang ia dapatkan adalah Tetsuya selamat dari insiden tersebut. Meskipun sampai saat ini, laki-laki berambut biru muda tersebut masih belum sadarkan diri.
Akashi meremas bajunya kencang. Jika saja ia lebih cepat, jika saja ia tidak melakukan hal berdosa tersebut, Tetsuya-nya tidak akan berada di kondisi seperti ini.
"Akashi-cchi!" beberapa laki-laki dengan warna rambut yang berbeda-beda serta satu perempuan berambut merah muda menghampiri Akashi.
"Minna…"
"Bagaimana keadaan Kuroko?" tanya laki-laki berambut merah dengan tinggi 190cm. Akashi hanya terdiam. Ia tidak mampu menjelaskan semuanya kepada teman-teman yang merupakan mantan dari anggota klub basketnya sejak sekolah menengah pertama.
Suasana berubah hening. Beberapa tertunduk dalam. Beberapa lagi menghela nafas. Ini tentu bukan kabar yang baik untuk di dengar.
"Kau sudah makan?" tanya laki-laki berambut hijau. Akashi menggeleng. Kejadian menyakitkan tersebut terus menghantuinya. Membuatnya bahkan lupa untuk makan atau pun tertidur. Setiap kali ia memejamkan matanya, kejadian tersebut akan terus terputar tanpa henti seperti rekaman rusak.
"Aka-chan…" lirih Momoi Satsuki. Satu-satunya gadis diantara mereka. Matanya sendu melihat keadaan Akashi saat ini. Mata yang merah yang ia yakini Akashi belum tertidur setelah kejadian tersebut. Kemudian kemeja putih yang masih sama dengan bercak darah Tetsuya. Membuat Akashi semakin terlihat menyedihkan. Berbeda sekali dengan Akashi yang selama ini ia lihat. Akashi saat ini terlihat sangat hancur. Tidak ada mata yang selalu mengintimidasi dan membuat semua orang takut padanya. Saat ini hanya ada mata yang redup dan tubuh yang bergetar.
"Sebaiknya kita harus mengurus Akashi terlebih dahulu," ucap Momoi pada kelima laki-laki di depannya yang dijawab dengan anggukan serentak.
"Kalian berlima pergilah, aku yang akan menjaga Tetsu-kun,"
"Tidak perlu, Satsuki. Aku ingin tetap bersama Tetsuya."
"Tidak Aka-chan, kau harus makan dan bersihkan dirimu."
"Momoi-cchi benar, Aka-cchi. Setidaknya kau harus mengisi perut dan mengganti pakaianmu. Hanya sebentar setelah itu kita akan kembali lagi kesini. Kau tidak ingin membuat Kuroko-cchi khawatir bukan jika ia melihat keadaanmu yang seperti ini?"
Selama ini, tidak ada yang pernah memerintahkan ia untuk melakukan apapun. Justru Akashi lah yang memiliki kekuatan untuk menyuruh siapapun menuruti perkataannya. Seluruh perkataannya adalah absolute dan selalu benar. Tidak boleh dilanggar dan harus dituruti. Tapi saat ini, ia mengalah dan mengangguk mengerti. Menuruti perkataan orang lain selain Tetsuya. Kali ini, ia membiarkan teman-temannya melihat sisi lemahnya dan Tetsuya lah kelemahan sekaligus kekuatannya. Apapun akan ia lakukan demi Tetsuya-nya.
- Forgotten Memories -
Hening.
Waktu seperti terhenti seketika. Lima pasang mata menunjukkan ekpresi kaget. Setelah kembali dari 'membenahi Akashi' kelima orang tersebut mendengarkan seluruh kronologi mengapa semua ini terjadi kepada Tetsuya, termasuk penyebab awal mula kejadian memilukan ini.
"Oi, Akashi. Gurauan macam apa yang baru saja kau katakan?!" Aomine Daiki—laki-laki berambut biru tua dengan kulit kecoklatan mengepalkan ke dua tangannya geram. Matanya berkaca-kaca penuh amarah dan rasa tidak percaya dengan semua yang baru saja ia dengar. Akashi hanya diam bergeming, menggigit bibirnya kencang berusaha agar tidak menangis. Butuh kekuatan besar ketika menceritakan semua hal yang memilukan ini. Dan ini semua adalah kesalahannya.
"Ini salahku, aku tidak bisa menjaga Tetsuya."
Bruk.
Akashi tersungkur di tanah. Pukulan keras dari Aomine telak mengenai wajahnya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Oi, Aomine!"
"Aomine-cchi!"
"Mine-chin!"
Keempat orang lainnya berseru. Kaget dengan apa yang baru dilakukan oleh Aomine, sedangkan Aomine yang merasa belom puas dengan pukulannya menarik kerah baju Akashi yang masih bergeming di tempatnya.
"KENAPA, AKASHI?! APA SALAH TETSU SAMPAI KAU TEGA BERBUAT SEPERTI ITU, HAH?! BUKANKAH SELAMA INI IA SELALU BERUSAHA MENJADI YANG TERBAIK?! APAKAH TETSU MEMANG TIDAK CUKUP UNTUKMU?!"
Lagi. Akashi hanya bisa diam. Ia tidak tau harus menjawab apa atas semua pertanyaan itu. Apa salah Tetsuya? Tidak ada. Tetsuya tidak pernah bersalah. Laki-laki mungil yang sangat ia cintai tidak pernah melakukan kesalahan kepadanya. Laki-laki yang sempurna untuk dirinya. Baginya, Tetsuya bukan hanya sekedar cukup. Tapi kehadirannya jauh lebih dari cukup untuknya. Tetsuya adalah anugerah bagi si pendosa sepertinya. Tetsuya adalah kesempurnaan bagi dirinya yang tidak sempurna.
Bruk. Bruk. Bruk.
Aomine terus memukuli Akashi tanpa henti. Ia seperti lepas kontrol. Bagi Aomine, siapapun yang berani menyakiti Tetsuya harus mati. Tidak terkecuali adalah orang yang begitu dicintai oleh Tetsuya. Sedangkan Akashi hanya pasrah. Tidak melakukan perlawanan sama sekali. Mungkin memang seharusnya begitu, lebih baik ia mati.
"Hentikan Aomine!" Kagami dan Midorima mengapit kedua tangan Aomine. Menariknya menjauh dari tubuh Akashi. Sedangkan Aomine semakin memberontak. Ia belum puas menyakiti Akashi. Setidaknya Akashi harus merasakan sakit yang sama seperti yang ia lakukan kepada Tetsu.
"Lepaskan, Kagami! Midorima!"
"Kau bisa membunuhnya, bodoh!" teriak Kagami.
"He deserved it! Just let me go, bastard!"
"Pikirkan tentang perasaan Kuroko!" Teriakan kagami membuat Aomine tersadar dari amarahnya yang memuncak. Tetsuya. Laki-laki yang sedari dulu begitu ia cintai. Laki-laki yang sedari dulu ingin selalu ia jaga dan membuatnya bahagia. Meskipun ia harus merelakannya untuk orang lain, selagi Tetsuya bahagia Aomine akan melakukannya. Dan Akashi adalah laki-laki yang dipilih Tetsuya dibanding dirinya. Sejak awal, dirinya tidak pernah menjadi opsi yang akan dipilih oleh Tetsuya. Aomine sangat tau seberapa besar cinta Tetsuya kepada Akashi. Tapi itu bukan masalah untuknya. Selama Tetsuya bahagia, selama ia tau Tetsuya dicintai dengan benar, semua itu sudah cukup bagi Aomine. Dan sekarang, laki-laki yang ia percayai untuk menjaga Tetsuya justru adalah orang yang membuat Tetsuya hancur hingga tak bersisa.
"Sejak awal, aku mempercayai Tetsu padamu, Akashi. Aku membiarkanmu memiliki Tetsu sepenuhnya. Dan sekarang, kau membuatnya hancur. Aku tidak akan membiarkanmu memilkinya lagi kali ini." Aomine menghempaskan kedua tangannya yang masih diapit oleh Midorima dan Kagami. Kemudian memilih untuk masuk ke dalam rumah sakit lebih dahulu.
Midorima menghela nafasnya. "Tolong bantu Akashi mengobati lukanya, Murasakibara, Kise. Aku akan menyusul Aomine ke dalam." Titah Midorima sambil berlalu
"Aku juga akan ke dalam terlebih dahulu, berjaga agar Aomine tidak lepas kontrol lagi." Ucap Kagami sambil ikut berlalu menyusul Aomine dan Midorima. Murasakibara dan Kise mengangguk mengerti kemudian membantu Akashi yang masih tersungkur di tempatnya.
"Arigato, Ryota, Asutshi."
- Forgotten Memories -
One week after the incident.
Kyoto Hospital.
Entah mengapa waktu seakan berjalan begitu lambat. Mungkin apa yang dikatakan oleh semua orang benar. Tidak ada yang lebih jahat selain waktu. Ia akan berjalan begitu cepat ketika kalian sedang merasa bahagia, tapi justru berlaku sebaliknya jika yang terjadi merupakan hal menyakitkan dan menyedihkan. Setiap detik yang terlewat seakan-akan membunuh kalian secara perlahan-lahan.
Hari ini adalah hari ketujuh setelah kejadian mengenaskan itu terjadi. Tetsuya masih belum sadar dari masa kritisnya. Selama empat hari kebelakang, generation of miracle bersama dengan Momoi dan Kagami masih memilih untuk bertahan mendampingi masa-masa kritis Tetsuya. Sesekali bergantian menjaga, itu pun hanya untuk pergi ke toilet, makan, atau istirahat sebentar. Selain itu mereka tetap bergeming di tempatnya. Menunggu kabar baik yang akan dibawakan oleh dokter.
Setelah kejadian Aomine memukul Akashi, mereka berdua tidak lagi saling berinteraksi satu sama lain. Anggota generation of miracle maupun Kagami dan Momoi juga tidak berusaha untuk membuat mereka kembali akur. Hal yang percuma dilakukan.
Sreett.
Pintu ruangan Tetsuya bergeser. Membuat seluruh yang ada di depan ruangan Tetsuya tersadar dari pikiran mereka masing-masing, kemudian mengerubungi dokter yang baru saja memeriksa keadaan Tetsuya. Berharap kali ini, ada kabar baik yang dibawakan.
"Bagaimana keadaan Tetsu-kun, sensei?" Tanya Momoi lebih dulu. Ada binar-binar harapan yang besar dari ke dua bola matanya.
"Doa kalian terkabulkan. Pasien Tetsuya sudah mulai melewati masa kritisnya. Kita tunggu beberapa jam lagi sebelum ia benar-benar membuka matanya." Lapor sang dokter yang kali ini dengan senyuman terpatri diwajahnya. Semua orang yang mendengar menghela nafas lega. Seakan-akan beban yang sangat berat seperti hilang begitu saja. Wajah-wajah sendu mulai hilang tergantikan dengan senyum penuh haru.
"Syukurlah," ucap mereka serentak.
"Kalian sudah boleh menunggu di dalam ruangan. Alangkah lebih baik jika orang pertama yang ia lihat setelah terbangun dari tidur panjangnya adalah wajah dari orang-orang yang ia sayang. Dan jika terjadi sesuatu, tolong langsung temui saya."
"Hai', Sensei. Arigato."
- Forgotten Memories -
Tetsuya membuka kelopak matanya perlahan. Dahinya mengernyit, berusaha untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya ruangan. Kepalanya terasa sakit dan sangat berat, seakan-akan ia baru saja tertidur sangat lama. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih.
Dimana?
Tanyanya dalam hati.
"Tetsu!" Sebuah suara yang terdengar familiar memanggil namanya. Dan perlahan-lahan visualisasi yang sebelumnya membuyar mulai terfokus dan hal pertama yang ia dapati adalah wajah Aomine.
"Aomine-kun?" Tetsuya semakin mengernyitkan alisnya. Mengapa Aomine ada disini? "Ugh," rintihnya sambil memegangi kepalanya ketika berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya.
"Oi! Jangan paksakan dirimu." Aomine memegangi tangan Tetsuya dan membantunya untuk bersender di kepala kasur.
"Arigato, Aomine-kun."
"Kuroko-cchi! Syukurlah kau sudah tersadar!" Kise berhambur memeluk tubuh Tetsuya. Air matanya tidak berhenti mengalir mendapati bahwa saat ini Tetsuya sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"K-kise-kun?"
"Oi, Kise! Kau membuat Kuroko susah bernafas, aho!" Kagami menarik kerah baju Kise untuk menjauh dari tubuh Tetsuya.
"Ah gomen. Itu karena aku begitu senang Kuroko-cchi sudah kembali."
"Kagami-kun?" Tetsuya semakin tidak mengerti. Mengapa semua orang berada disini.
"Yo!" jawab Kagami dengan senyuman. Senyum pertama setelah ia mendengar hal yang menimpa Tetsuya. Mengabaikan jawaban Kagami, Tetsuya mengalihkan pandangannya ke penjuru ruangan. Dan mendapati Midorima, Murasakibara, dan Momoi berada di ruangan ini. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
"Midorima-kun, Murasakibara-kun, Momoi-chan? Mengapa kalian semua ada disini?"
"Kau membuat kami khawatir, Tetsu-kun." ucap Momoi dengan air mata yang mengumpul di kelopak matanya.
"Ah gomen, aku sudah membuat kalian khawatir."
"Tch! Tidak bisakah kau berhenti membuatku khawatir, Tetsu? Selalu saja berbuat ceroboh."
"Gomenasai, Aomine-kun. Sekarang sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi." Aomine menghela nafas kemudian mengacak rambut Tetsuya pelan. "Tch! Mattaku,"Melihat Tetsuya tersenyum seperti sekarang ini, membuat dirinya semakin lega.
"Ne~ Ne~ Aka-chin, kau tidak ingin melihat Kuro-chin?" tanya Murasakibara kepada laki-laki berambut merah yang tertutupi oleh tubuh Kagami. Kagami yang menyadari hal tersebut langsung memberikan ruang, sehingga Tetsuya dapat melihat Akashi yang berdiri tepat di seberangnya.
Akashi perlahan mendekati ranjang Tetsuya. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Perasaannya saling berlomba-lomba untuk menjadi yang dominan. Rasa lega, rasa bersalah, rasa sedih, penyesalan, semuanya bercampur menjadi satu. Apa yang akan dikatakan Tetsuya-nya ketika melihat dirinya? Setelah semua yang ia lakukan pada Tetsuya dan setelah insiden kecelakaan yang disebabkan oleh dirinya, akankah Tetsuya membenci dirinya?
"Tetsuya…" lirih Akashi pelan. Rasanya ingin sekali ia berlari memeluk tubuh Tetsuya. Menciumi keningnya bertubi-tubi. Tapi apa daya. Ia tidak mampu melakukan semua itu. Karena ialah penyebab mengapa Tetsuya seperti ini.
Tetsuya menatap datar laki-laki yang berdiri di depannya. Mata birunya menatap lurus tepat ke arah mata herekom Akashi. Tatapan sendu, tatapan bersalah, tatapan syukur, tatapan penuh penyesalan, semua seperti terpancar jernih disana.
Dan setelah ini, pertanyaan yang terlontar di mulut Tetsuya membuat semua orang di ruangan tersebut tercengang.
"Siapa?"
- Forgotten Memories –
- To Be Continued -
