Bibir Yaoyorozu membentuk kurva yang tidak terlalu kentara. Laki-laki yang juga teman sekelasnya masih belum pulang sedang melakukan pekerjaan sebagai perwakilan kelas baik, mengecek satu persatu loker bawah meja untuk memastikan tidak ada barang teman-teman tertinggal. Todoroki menghampiri Yaoyorozu yang sejak tadi masih memegang hasil ujian matematika. Jangan salah paham, baik Todoroki maupun Yaoyorozu sama-sama perwakilan kelas. Wajar mereka pulang paling terakhir.

"Dapat nilai tertinggi lagi, seperti biasa?"

Yaoyorozu menarik napas dalam lalu menghembuskan dengan panjang yang sama, kepalanya menggeleng menjawab pertanyaan. Tetap saja, seratus kali melihat nilainya tidak akan berubah. Awalan sembilan terdiri dari dua angka. Todoroki pasti di bawahnya, selalu begitu. Yaoyorozu pertama, Todoroki kedua.

"Khas Ectoplasm sensei, selalu memasukan soal menjebak yang jelas tidak bisa di selesaikan anak sma. Kurasa mungkin tidak ada yang bisa dapat nilai sempurna dari kelasnya."

"Malah aku berpikir kali ini aku tidak dapat nilai sembilan…."

Todoroki menatapnya, "Oh?"

"Kadang aku bosan kalau terus nomor satu…." Jawab Yaoyorozu menatap pemandangan luar jendela. Saat itu pemandangan langit sedang bagus-bagusnya. Merah kekuningan. Suara langkah kaki dan tawa menggema di lorong luar kelas. Yaoyorozu menangkap itu suara Itsuka dengan anak-anak perempuan kelas B. "Kamu tidak mau sekali-kali ada di atasku?"

"Aku tidak terlalu suka nomor satu, tapi mungkin kalau bisa menarik perhatian Midoriya senpai itu lain lagi."

Yaoyaruzu memandang laki-laki berambut dua warna. Todoroki selalu pintar menampilkan wajah. Bahkan mungkin saat dia marah, wajahnya akan tetap sama. Mungkin…

"Kalau itu, aku tidak bisa mengalah,"

Kedua tersenyum. Lalu segera buru-buru menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum hidung Houndog sensei berhasil mengendus. Ya biarlah, bahkan jika seandainya ada mata siswa siswi yang rakus gosip tidak akan berpengaruh apa-apa. Hal-hala semacam itu bukan urusan mereka.

"Sudah dua hari senpai tidak menjawab pesanku. Tidak seperti biasa," kata Todoroki.

"Ponselnya hilang. Sepertinya terjatuh sewaktu magang."

"Darimana kau tahu?"

"Sudah aku bilangkan, kalau soal senpai aku tidak bisa mengalah."

Keduanya berjalan menelusuri lorong. Hal yang paling menyenangkan menjadi perwakilan kelas adalah bisa menikmati kesunyian Yuei. Sesuatu yang amat jarang. Langkah kaki mereka menggema begitu juga isi kepala yang sibuk, meski keduanya mungkin memikirkan topik yang sama.