・
Oke, sebelumnya saya minta maaf karena membuat Kalian omong kosong! Saya baru saja menulis lagi setelah beberapa waktu, saat memeriksa kembali apa yang telah diposting — saya bisa bilang itu agak kacau dalam hal pengetikan dan bahasa. Tapi beberapa dari kalian benar-benar crazy cool, ese — bahkan memberi Reviews positif. Terima kasih banyak! Meskipun FFN apps masih melawak dengan tidak bisa mengupload file docx (bcuz I don't have a freakin PC), dan bullsh * bleep * ponsel yang direset, beruntung Drive itu bisa diakses :D! Jangan ragu untuk memberi saya saran sebab orang dungu ini sudah sedikit paham tentang cara kerja situs dan Apps and all that S * bleep , so yeah.
PS: Apakah sobat semua masih membaca manga Naruto, atau Bruto? Nuh-uh, jangan tanya aku, netraku tertutup satu sejak kecil, haha!
・
" Hei Naruto! Jangan dilempar kertasnya! "
" Mana mungkin bulan akan jatuh ke bumi-ttebayo! "
" Karena itu aku hanya mengatakan bila seandainya saja. "
" Itu tidak akan terjadi, percayalah. "
.
" BISA! "
…
" Jangan seenaknya Kau memutuskan takdir seseorang, bodoh! Hajar orang itu, HINATA! "
.
" Sebenarnya, aku kira kau itu hanya orang pendiam dan sedikit aneh. Tapi aku … suka orang sepertimu. "
Naruto-kun ...
"Hinata …!"
"Hei! Hinata!"
Hyūga Hinata tersentak dari lamunan, seketika itu juga kenyataan kembali padanya. Kini di depannya, Kiba memperhatikannya dengan ekspresi frustrasi yang tampak jelas, namun berusaha ia sembunyikan. Saat itulah Hinata memperhatikan sekeliling, tidak ada lagi rambut pirang, tidak ada lagi jaket oranye, tidak ada lagi wajah berkumis dihiasi senyum ceria. Yang dia lihat dengan mata lembayungnya adalah cakrawala bertatahkan awan kapas yang berguling - dibawa ke suatu tempat oleh sang angin yang mengalir lembut, rumput emerald yang kini mulai menguning pertanda datangnya musim gugur. Dedaunan melepaskan dirinya dari cabang kehidupan untuk bersatu dalam tanah. Sinar mentari pagi memancarkan cahayanya yang menyilaukan, seakan ikut menjernihkan pandangan mata sang gadis, bayangan dari seorang pria yang berdiri di hadapannya tak lantas mengurangi hangatnya udara pada saat itu. Sekali lagi kesadaran memasuki pikirannya, dia tidak bersama Naruto Uzumaki — seseorang yang sangat ia kagumi, melainkan rekan satu timnya - Kiba Inuzuka dan Shino Aburame di tempat latihan Tim 8. Guru mereka absen dari sesi latihan itu, karena lebih merupakan semacam reuni daripada sesi pelatihan yang sebenarnya. Namun, Guru Jounin yang bernama Kurenai Yūhi menyatakan bahwa ia akan segera datang setelah menyelesaikan beberapa hal.
"Ada apa, Kiba-kun?" Hinata merespon, berusaha terdengar acuh tak acuh kepada rekan timnya yang terkadang liar.
Si Pecinta doggy hanya menghela nafas panjang. "Kau sudah berdiri diam selamanya!"
"... Selamanya …?" Hinata berkedip. Perjalanan mengenang masa lalu sepertinya tidak terlalu lama. Netra berwarna Lavender mengarahkan pandangan ke teman dan rekan timnya yang lebih dewasa, Shino. Dia umumnya pendiam, tapi sungguh pria yang baik. "Memangnya selama itu kah, Shino-kun?"
Rasa malu mantan pewaris Hyuga semakin bertambah, si pengendali serangga mengangguk. "Yah, mungkin hampir sepuluh menit." Shino terdengar geli.
Kiba tertawa dengan keras dan di sampingnya Akamaru menggonggong, mungkin juga menertawakannya seperti sang majikan. "Kiba-kun!" Hinata memprotes. Kemudian tawa kecil muncul dari tenggorokan Shino juga. "Shino-kun!"
"Oh, tenanglah, kita hanya bercanda." Ucap Kiba saat bersandar pada sebuah pohon, tawanya mereda. "Fiuh, senang rasanya bisa keluar dari rumah sakit 'kan, Akamaru?"
Akamaru menggonggong, mengibas-ngibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri.
Hinata tersenyum lembut pada kejenakaan Ninja Hewan, dia juga merasa senang. Belum lama berselang, Kiba telah pergi bersama beberapa orang lain dalam sebuah misi Pengawalan para bangsawan, yang menurut si majikan Akamaru sangatlah membosankan dan 'payah'. Dia menceritakan tentang bagaimana semua orang kaya malas itu terjebak di kepala mereka yang hanya penuh dengan uang dan aksen ahasa eksotis para kalangan atas, walau pada akhirnya misi tersebut tetap dijalani. Itu dimulai dengan cukup mudah, namun dalam perjalanan kembali ke Desa Konoha, mereka disergap oleh sekelompok bandid. Meskipun Kiba tidak terluka terlalu parah, hanya luka katana di perutnya, sayangnya Akamaru telah melompat melindungi sahabatnya dari serangan lain dengan menggunakan tubuhnya sendiri.
"Pastikan agar jangan sampai memaksakan dirimu, Kiba." Suara Shino mungkin akan terdengar apatis kepada siapapun di luar tim 8, tetapi Kiba dan Hinata, bahkan Akamaru bisa mengatakan bahwa pria berkacamata hitam itu khawatir.
Kiba tersenyum nakal, "Heh, aku akan baik-baik saja, Mama." Ujar remaja bertatto merah dengan nada bergurau
Satu-satunya perempuan di tim 8 menyuarakan keprihatinannya sendiri. "Tapi apa kamu yakin telah siap untuk pelatihan dan misi saat ini, setelah diliburkan?" Luka yang dialami Kiba di perut mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi jika dia tidak merasa nyaman dengan tugas-tugas itu, Hinata tidak berpikir jika ini akan baik-baik saja untuk berlatih. "Kiba-kun, tolong jangan memaksakan dirimu." pinta Blunette itu.
"Bisakah kalian berhenti bertingkah seperti induk ayam?! Nona Tsunade berkata kalau kami boleh pergi, jadi yah kami boleh pergi!" Kiba memutar matanya dengan jengkel, merasa seolah-olah sudah mendengar hal ini berkali-kali. "Kau sendiri? Bahkan aku tidak pergi sejauh itu sampai berlatih di tengah malam."
"Woff!" Akamaru menggonggong.
"Yap, begitulah sobat!"
Shino menghela nafas kesal tetapi dia tidak mengatakan apa-apa sebagai balasan, sedangkan Hinata hanya bisa mengatupkan bibirnya, upaya agar senyum kecil tidak menyebar di wajahnya, mata gadis itu sedikit tertunduk menatap ke tanah.
Aku tidak bisa menahannya, setelah melihat Naruto-kun selama ini terus berlatih begitu keras. Aku sendiri tidak mengerti ...
"Oh ya," kata Kiba sambil berpikir, usahanya dalam mengubah topik ke arah lain. "Apa yang kau lamunkan tadi? Pasti itu tentang Naruto, 'kan?"
Pertanyaan yang lolos dari lisan Kiba, meski sedikit membuat rasa gugup Hinata muncul, gadis itu dengan tenang menjawab. "Tidak." Tetap saja, jari-jarinya ia mainkan dan dia benar-benar ingin menghilangkan kebiasaannya sejak kecil itu. Matanya mengalihkan pandangan dari tatapan rekan setimnya yang menyipit. "Aku hanya berpikir kapan Guru Kurenai akan datang! Ini sudah cukup lama."
Kiba membuat suara yang terdengar seakan dia percaya jawaban rekan timnya, tetapi ekspresi di wajahnya mengatakan hal lain. Dia sudah tahu bahwa Hinata sedang memikirkan seseorang.
Hampir dua tahun berlalu sejak ujian Chūnin, namun Naruto - seperti yang Sasuke Uchiha lakukan - telah meninggalkan Desa Konoha.
Hal ini membuat gadis dari Klan Hyuga sedih, tetapi dia berpikir jika kepergian Naruto demi kebaikan dirinya, karena dia kini dilatih oleh salah satu Sannin yang Legendaris. Kemungkinan besar perjalanan dan pelatihan tersebut akan memperluas pandangan Naruto terhadap dunia, namun Hinata tidak begitu yakin. Dia melihatnya ketika Ninja yang Tak Terduga pergi, gelombang kebanggaan kecil memenuhi hati mantan Pewaris Hyuga. Dia belum melihat orang lain di dekatnya ketika Naruto meninggalkan desa, mungkin dia telah memperhatikannya! Pastinya itu harus dihitung sebagai hal baik! Sayangnya kebanggaan kecil itu dengan cepat surut oleh awan kesuraman.
... Naruto-kun bahkan tidak memperhatikanku saat itu ...
" Aku … sangat menyukai orang sepertimu! "
Hinata, harus mengakuinya atau tidak, memikirkan kata-kata dari Naruto saat itu. Wajahnya menghangat dan jantungnya mulai berdetak kencang. Dia berusaha sekuat tenaga agar senyum kecil tidak menyebar di bibirnya, hal terakhir yang sangat ia butuhkan adalah Kiba dan Shino melihatnya. Mereka selalu menggoda Hinata dalam setiap hal kecil ketika itu berhubungan dengan perasaannya terhadap Naruto. Sementara Hinata mungkin telah menyayangi timnya, dia lebih suka tidak ada yang tahu perasaan kagumnya untuk Naruto.
"Hey, mari kita mulai berlatih! Aku sudah terlalu lama libur dari misi!" Kiba dengan semangat meninju kedua tangannya ke udara untuk menunjukkan betapa seriusnya dia. "Ayo, Akamaru, mari kita coba gaya Dynamite Marking!" Dan dengan gonggongan semangat, kedua sejoli itu bersiap menuju hutan yang ada di tempat latihan itu.
"Kiba … ! Aku tidak akan memaafkanmu jika mengganggu serangga di hutan itu!" Shino menarik bahu si rambut coklat, nada suaranya rendah dan berbahaya. "Aku bersumpah … !"
"Gah! Jangan bicara di leherku seperti itu, Shino! Ya ampun!"
Tawa kecil keluar dari bibir Hinata ketika menyaksikan Ninja Hewan tersentak kaget menjauhi Pengendali Serangga yang semakin diselimuti oleh aura mencekam. Tim 8 akhirnya memulai latihan rutin mereka. "Aku harus berlatih juga!" Mata lavender remaja muda itu bersinar dalam cahaya tekad. "Aku tidak boleh kalah!"
Dia berlari ke depan mengikuti Kiba, Shino, dan Akamaru tetapi berhenti tiba-tiba ketika dia merasakan rasa sakit yang berdenyut memasuki kepalanya. "A-apa?!" Hinata meraih kepalanya dengan cepat, jari-jari menempel ke rambut biru gelapnya. "Rasa sakit apa … ini …?" Air mata mulai membengkak di sudut matanya, tetapi dia menolak untuk membiarkannya jatuh. Namun dia dengan cepat menemukan dirinya berlutut. "S-Sakit! Mengapa … mengapa-"
Dia bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Hinata menggertakkan giginya menahan rasa sakit, kesadarannya makin menghilang ketika visinya mulai menjadi keruh. Aku, aku tidak bisa menahannya lagi! Ugh! Suara tercekat keluar dari tenggorokannya. Dia merasakan hal yang sama ketika menyaksikan ayahnya menggunakan Segel Burung Terkutuk pada Neji.
"...!" Hinata menarik napas dalam-dalam dan Netranya bergetar. Apakah ayahnya berada di sini dan akhirnya memutuskan untuk menaruh Segel Kutukan yang diwariskan Klan Hyuga selama beberapa generasi padanya?
Itu adalah pemikiran terakhir Hinata ketika kegelapan akhirnya menghampirinya.
ー
Hinata bangun dengan perlahan, mengedipkan matanya sekali, dua kali. Tiga kali sebelum menempatkan dirinya dalam posisi duduk.
Ruangan itu terlalu gelap oleh tirai, tetapi menawarkan suasana yang terasa aman dan tempat tidurnya juga sangat nyaman. Gadis berkulit pucat itu berkedip sekali lagi dalam kebingungan. Apakah Kiba dan Shino kembali dan menemukan tubuhnya tak sadarkan diri atau apakah Kurenai telah tiba di sana? Tangan dinginnya menyentuh dahinya yang diselimuti poni rambut dengan perlahan, tak lagi berdenyut kesakitan, namun hanya terasa dingin. Itu, sepertinya tidak berbeda ...
Hinata hampir menghela nafas lega, tetapi dia tahu masih ada kemungkinan bahwa memiliki Segel Burung Terkutuk tidak terasa berbeda dari yang tidak ada.
Gadis blunette menggigit bibirnya dan mengepalkan selimut dengan tangannya.
Dia tidak ingin menemui siapa pun setelah apa yang terjadi. Keluarganya menganggap dirinya lemah dan mereka menempatkan Segel untuk lebih mengukuhkan pendapat tersebut. Dan karena kini sudah malam, Hinata tahu dia telah tidur sepanjang hari setelah apa yang terjadi. Dia mungkin akan ditegur untuk itu juga.
" Hyuga harus selalu pulih dari luka lebih cepat. " Suara dan tatapan Hiashi yang tajam, ketika menatap sosok putrinya yang jatuh di lantai kayu terngiang-ngiang. " Ingatlah itu dengan baik. Sekarang berdiri dan serang aku sekali lagi, mengerti? "
" Ba … Baik, Ayah! "
Mata lavendernya berkabut karena depresi.
Ini hanya akan membuat keadaan lebih buruk jika aku tetap berpura-pura masih tidur… Gadis muda itu meletakkan tangannya yang lain di selimut dan menggenggamnya dengan erat. Jadilah kuat!
Sambil mendorong selimut dari tubuhnya, Hinata mengangkat dirinya dari tempat tidur, kepalanya terasa sedikit lebih berat. Dia tidak memperdulikannya, mungkin karena itu adalah efek dari segel. Dia hanya ingin menarik tirai dan melihat keindahan bintang-bintang sebelum pertemuan tak terhindarkan yang harus dia lalui untuk membahas mengapa Segel telah ditempatkan pada dirinya.
Tangan kecilnya menyentuh tirai dengan hati-hati dan terkejut melihat teksturnya berubah. Terasa halus, bahkan ini kain beludru. Apakah ayahnya merasa bersalah karena telah membiarkan Segel Burung Terkutuk ditempatkan pada putrinya dan memutuskan untuk mengasihaninya? Hinata menggigit bibirnya sekali lagi, memiliki perasaan campur aduk tentang masalah ini. Namun dia segera menggelengkan pikiran tersebut dari kepalanya, itu bukanlah sifat ayahnya. Dia melanjutkan untuk membuka tirai dan menatap langit berkilauan.
Apakah Naruto-kun baik-baik saja saat ini? Bibir Hinata melengkung membentuk senyum kecil ketika membayangkan mata berwarna biru cerah, iris yang berkilauan dengan takjub memandang bintang. "Mungkin ... mungkinkah dia sedang melihat bintang juga? Atau berlatih dengan keras bersama Tuan Jiraiya?" Pipinya sedikit memerah dan dia memejamkan Netra lembayung mudanya perlahan, udara malam yang dingin sedikit menghilangkan rasa hangat di wajahnya. "Jaga dirimu, Naruto-kun." bisikannya terbawa angin malam.
Hinata menghembuskan nafas, merasa jauh lebih baik dari sebelumnya dan perlahan ia membuka mata opalnya, namun merasakan pikirannya berhenti ketika ia melihat ke bawah pada Kompleks Hyuga.
Dia tidak berada di Kompleks Hyuga.
Di mana aku? Mata Opal melebar, rasa takut mulai merayap ke dalam dirinya. Dia melihat ke kiri, lalu dia melihat ke kanan. Kemudian Hinata mencari Monumen Hokage dan merasa sedikit lega ketika melihat lereng batu yang sudah familiar dari ukiran wajah Hokage. Paling tidak, dia masih di Konoha. Namun senyum setengah lega di bibir Hinata turun sekali lagi ketika dia melihat wajah lain terukir di batu.
Rambutnya miring dan runcing. Meskipun gelap, Hinata masih bisa mengenali gaya rambut Kakashi Hatake di mana saja.
Hinata langsung berlari keluar dari kamar dan mengaktifkan Byakugannya, kemudian berlari ke apa yang tampaknya adalah ruang tamu. Rumah itu berukuran sedang, dengan tiga kamar tidur, dapur, balkon, dan ruang tamu yang sedang ia masuki.
Hinata memperlambat langkahnya, dengan hati-hati memasuki ruangan. Selain dari dua orang yang dia lewati dari dua kamar lain di belakangnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan lain di rumah tempat dia berada. Namun pertahanannya tidak menurun. Untuk sesaat, Hinata mempertimbangkan kemungkinan bahwa dua orang lain di rumah itu adalah penculiknya tetapi mereka terlalu kecil. "Apakah mereka juga diculik?" Blunette berpikir untuk kembali dan melihat dua kamar lainnya setelah dia melakukan pencarian menyeluruh.
Dia memasuki ruang tamu.
Jelas tidak ada orang lain di sana selain dari dua orang Konoha yang tertidur.
Hinata menghela nafas lega; dia akan bisa melarikan diri.
Dia berbalik kembali dan melihat dua lainnya yang ada di rumah, perlahan-lahan membuka pintu paling dekat dengan ruangan yang baru saja dia masuki. Suara nafas tidur yang damai menghantam telinganya dan sekarang dia lebih memerhatikan, menyadari bahwa orang yang tidur adalah anak yang masih kecil. Dia mengarahkan pandangannya ke orang di ruangan lain, itu juga seorang anak kecil. Betapa kejamnya! Hinata menonaktifkan Byakugannya dan muncul rasa simpati untuk anak-anak. Hinata meraba dinding dan menyalakan sakelar lampu, karena musuh pada saat itu cukup ceroboh untuk membiarkan pangkalan operasi mereka tidak terjaga.
Anak itu seorang gadis, Hinata bisa tahu dari sisi pandangannya. Rambutnya biru tua gelap seperti miliknya dan dengan rambut yang menjorok keluar serta ahoge menjulur di tengah-tengah kepalanya, tampak seolah olah gadis itu punya daun di rambutnya. Hinata meletakkan tangannya di kepala gadis kecil yang sedang tertidur dan mencatat bahwa jauh lebih lembut daripada kelihatannya. Suhunya normal. Ini bagus.
Dengan lembut, Hinata mengguncang tubuh gadis kecil itu dan akhirnya dia terbangun, menatapnya dengan ekspresi mengantuk. Hinata tidak bisa tidak memerhatikan bahwa gadis ini memiliki empat tanda kumis yang dikenalinya, dua di setiap pipi, dan matanya adalah warna biru yang indah. Dia akan tumbuh menjadi wanita muda yang cantik, Hinata akan memastikan hal itu. Dia akan mengeluarkan mereka bertiga dari sini!
Gadis kecil itu mulai membuka mulutnya lebar-lebar, tetapi Hinata dengan tenang menyuruhnya berhenti. "Tidak apa-apa, gadis kecil," Ujarnya dengan nada hangat, terkejut betapa dewasa suaranya terdengar pertama kali. "Aku akan mengeluarkan kita dari sini, aku janji. Siapa namamu?" Kecantikan bermata Lavender memberi gadis itu senyum lembut yang meyakinkan.
"Himawari ..." Gadis itu, yang bernama Himawari, menjawab dengan ragu-ragu. Mata birunya penuh kebingungan.
"Himawari." Nama yang terasa asing namun akrab di lidah Hinata saat dia mengatakan nama itu untuk pertama kalinya. "Nama yang sangat cantik - sama sepertimu. Sekarang aku akan membawa anak yang lain ke sini, lalu kita bertiga bisa pergi. Duduk saja dan berteriak jika ada yang datang, ya?" Hinata ingin membangunkan anak-anak satu per satu, tidak ingin membanjiri anak kedua dengan begitu banyak orang setelah bangun tidur. Namun ternyata, bocah itu telah mendahuluinya ketika Himawari menyapa si bocah itu.
"Kakak?"
Kakak? Hinata mengulangi secara mental dan berbalik untuk melihat siapa yang Himawari sebut.
Itu adalah anak kedua di rumah dan tidak seperti Himawari, rambutnya pirang. Bentuknya yang berkobar ke atas dan seperti saudara perempuannya, dia memiliki ahoge di kepalanya, menjadi anak kepala-berbentuk-daun lain. Anak itu juga mempunyai empat tanda kumis di pipinya. Sama seperti Himawari, matanya biru cerah. "Anak kecil yang lucu …" pikir Hinata, merasa sedikit kewalahan karena dikelilingi oleh begitu banyak anak yang lucu. Hinata membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi bocah pirang itu terlebih dahulu memotongnya.
"Hei, ibu. Kamu sedang apa-ttebasa?"
"A-apa?" Hinata terpana sekali lagi. "Ibu?" Dia mengulangi dengan kebingungan. Dia bahkan tidak memperhatikan bahasa verbal yang terdengar familiar - yang baru saja digunakan anak itu.
Si pirang mengangguk, memiringkan kepalanya ke samping. "Iya," jawabnya. "Ibu, kamu baik-baik saja?"
Himawari berbicara dari belakangnya. "Mungkin mama masih mengantuk, Kakak." si gadis kecil berpindah dari apa yang nampak seperti tempat tidur, ke sisi kakak laki-lakinya. Dia tampak khawatir dan lelah.
Hinata perlahan menggelengkan kepalanya, tidak sedikitpun memperhatikan cahaya ungu tergores di punggungnya. "Aku, aku … B-Bukan ibumu …" Dia mengedipkan matanya yang berwarna lembayung muda dengan tak percaya. "A-Aku masih lima belas tahun!"
Anak berambut pirang itu terlihat sangat bingung sekarang, "Tapi … Ibu-"
'Ibu' adalah hal terakhir yang didengar Hinata, sebelum pingsan lagi.
ー
Mata lavender berkedip terbuka.
Dia tidak lagi berada di kamar Himawari dengan dua anak yang mengklaim bahwa dia adalah ibu mereka. Itu semua hanya mimpi. Dia mendapatkan Segel Burung Terkutuk yang ditempatkan padanya dan berada di sebuah ruangan dengan dua anak (lucu) yang belum pernah dia temui sebelumnya.
Hinata menyeka dahinya, tidak tahu apakah dia harus merasa lega atau kecewa.
Mata Hinata berkedip sekali lagi, lalu sekali lagi, merasakan kepanikan menghampirinya. Dia masih di kamar yang tidak ia kenalli.
Seketika, gadis muda duduk, Byakugan aktif. Matanya melihat dari jendela yang dia buka sebelumnya, dia masih di Konoha. Dia mendorong selimut dari kakinya lalu memperhatikan sesuatu yang lain, rambutnya mengalir ke bawah punggungnya. "ini …?" Hinata tersentak. Rambutku tidak sepanjang ini ... Setelah Naruto pergi, gadis itu memutuskan untuk menumbuhkan rambutnya lebih panjang, tetapi rambut tidak tumbuh secepat ini dalam semalam. Kemudian ia memandangi kakinya, mengenakan celana pendek dan kakinya lebih panjang atau - apakah Hinata mengatakannya - seperti orang dewasa?
Mata Hyuga melebar. Apa yang terjadi pada tubuhku?
Namun, kepanikan Hinata terputus di tengah jalan saat pintu kamarnya berderit terbuka.
"Oh, syukurlah, kau sudah bangun-ttebayo!"
"Suara itu …" Suara hati Hinata mulai berdebar kencang.
Deg! deg!
Deg! Deg!
Itu jauh lebih dewasa dan tidak melengking sejak terakhir kali dia mendengarnya - tetapi secara keseluruhan, Hinata tahu pasti - dia tahu suara itu. Kepalanya berbalik perlahan.
Rambut kuning, Mata biru, kumis, dan senyum lebar ceria.
Itu dia. Naksir masa kecilnya:
"Na-Naruto … -kun!?" Hinata terkesiap sebelum ia bisa menghentikan dirinya sendiri. Walaupun rambut pria itu dipotong pendek, tetapi gadis Hyuga itu tahu. Dia berpakaian Kasual dengan kemeja oranye dan abu-abu sementara di tangannya ada nampan berisi semangkuk sup. Itu untukku …? Si rambut biru merasakan dorongan untuk pingsan sekali lagi, tapi dia sangat mendesak dirinya agar tetap sadar. Tolong … jangan pingsan, jangan pingsan, jangan pingsan! Hinata secara mental berteriak pada dirinya sendiri, bernapas perlahan untuk menenangkan hatinya.
Naruto balas menyeringai pada gadis Hyuga yang sangat terkejut, "Ya, satu-satunya-ttebayo!" Seringainya turun sesaat tetapi kemudian kembali dengan cepat, bahkan lebih lebar dari sebelumnya. "Aku tahu kau senang melihatku, tetapi tidak perlu tersipu segala!" Naruto tertawa terbahak-bahak karena Hinata yang salah tingkah, kemudian ia menjepit tangannya ke wajah gadis yang sangat merah. "Hei, kau baik-baik saja? Ada apa, Hinata?"
"Ka … kamu terlihat berbeda, N-Naruto-kun." Hinata membela diri. ... Ada apa ini? Dia menatap tangan di pangkuannya, tidak yakin ke mana harus mengarahkan pandangannya sekarang. Mengapa Naruto-kun berbicara begitu akrab denganku …?
"K-kapan kamu kembali dari pelatihan bersama Tuan Jiraiya, Naruto-kun …?"
Dia merasa Naruto duduk di sampingnya, meletakkan nampan makanan di meja tempat tidur yang sedang dia tempati. Hinata melirik anak itu, yah, dia terlihat lebih seperti seorang pria dewasa sekarang. Naruto tidak lagi tersenyum, sikap cerianya berubah menjadi kebingungan. "Kau baik-baik saja, Hinata? Aku tidak pergi berlatih ke mana pun baru-baru ini."
"Apa?!" Hinata berkata sebelum dia bisa berpikir lagi. Bagaimana mungkin, Naruto telah pergi selama hampir dua tahun dan dia cukup yakin bahwa naksir masa kecilnya itu tidak akan kembali dalam waktu dekat. Hinata tersentak keluar dari pemikirannya ketika dia merasakan tangan besar dan hangat mendorong poni rambutnya dan menempel di dahinya. Gadis Hyuga merasa wajahnya memerah dan dorongan tiba-tiba untuk pingsan sekali lagi muncul, jika Naruto tidak berhenti menyentuhnya. Beruntung, seseorang mendengarkan karena pria bermata biru itu melipat tangannya setelah beberapa detik.
Ekspresi cemberut tampak jelas di wajahnya. "Yah, kau tidak terlihat demam. Tapi kau yakin tidak bekerja terlalu keras, Hinata? Kau membuat anak-anak sangat ketakutan tadi malam." Bibirnya tiba-tiba membentuk sebuah senyuman. "Boruto memberitahuku kau bilang dirimu berumur lima belas tahun! Haa! Yang benar saja, lima belas tahun-ttebayo!" Naruto tertawa sangat keras, memukul tangan ke lututnya. "Apa selanjutnya? Bikochōu datang ke sini?!" Dia berusaha menahan diri, hanya kekeh ringan sebagai hasilnya.
Hinata benar-benar merasa malu, meskipun dia tidak bisa mengerti mengapa. Dia sungguh berusia lima belas tahun, namun di sinilah Naruto menertawakan pemikiran belakanya bahwa ia masih remaja. Hinata, merasa sedikit lega sebab tidak dalam bahaya. Namun ini masih terasa tidak nyata, berbicara dengan Naruto seperti ini, adalah sesuatu yang hanya ia impikan! Saat itulah sesuatu terlintas di benaknya. "Oh …!" Hinata menurunkan tangannya perlahan dan Naruto akhirnya berhenti tertawa, menatap matanya. "Kamu … tahu siapa anak-anak itu, Naruto-kun?"
...
Semua bentuk keceriaan dan gurauan di wajah Naruto keluar jendela. "... Ya," Netranya mulai berkabut karena khawatir dan bingung. "Itu Boruto dan Himawari."
Cara Naruto mengatakannya membuat Hinata merasa sangat buruk, sudah jelas dia seharusnya mengenal anak-anak itu. Si Blunette tersentak ringan dan tersipu sekali lagi ketika Naruto meraih bahunya dan membawanya lebih dekat. "Kau tidak ingat melahirkan mereka … Hinata?" Suaranya terdengar mendesak.
"Apa?" Itu bahkan bukan pertanyaan saat ini. "M-Me … lahirkan?" Hinata berbisik dengan tak percaya. "Mereka!?
Cengkeraman Naruto di bahunya semakin erat dan dia mengangguk dengan kuat. "... Kau berumur dua puluh tujuh tahun." Hinata tidak bisa mempercayainya, tak ada satu pun lelucon yang dimaksudkan serta raut wajah Naruto memperkokoh bagaimana ia mulai mulai merasa di dalam dirinya. "Apa kau ingat kita sudah menikah, Hinata?"
Menikah.
Dalam sekejap, Hinata merasa dirinya tidak bisa mendapatkan sirkulasi udara yang cukup ke otak. Terasa sulit bernafas. Dan untuk ketiga kalinya berturut-turut, Hinata merasakan matanya berputar ke belakang kepalanya dan pingsan
"Ini … Ini pasti kebohongan, 'kan? Mana mungkin …"
Dan tanpa diketahui oleh gadis yang sekarang tak sadarkan diri, dia mengatakan pikiran terakhirnya dengan lantang.
Kali ini, darah di nadi Naruto mengalir dingin.
Istrinya tidak bisa mengingat apa pun tentang hubungan mereka.
A / N: Terima kasih banyak. Jaga diri Kalian sobat, tetap di rumah dan Strike Back Those Coronas by protecting your body.
