NARUTO © Masashi Kishimoto | Naruto U. & Mikoto U. | Mature Drama


.

Suatu hari menjelang siang.

Permukaan langit yang kebiruan disertai gerakan awan membuat fokus seketika teralihkan. Pena berputar antara jemari sebelah kanan akibat bosan yang selalu dirasakan. Naruto Uzumaki menghela napas, menginginkan sebuah kebebasan. Pemuda berambut pirang keemasan dengan permata biru bagai lautan bergerak tidak nyaman, bermaksud mencari perhatian dari seseorang yang sedang fokus dalam menghadapi beragam soal matematika.

Naruto memperhatikan Sasuke Uchiha dalam diam; begitu dalam dengan beberapa kemungkinan.

Sasuke melirik. "Berusahalah sendiri, Naruto."

Naruto merengut. "Aku tidak meminta jawaban kok."

Iris hitam memantulkan ekspresi bodoh sang sahabat yang menjadi telah menjadi kebiasaan. Sudah rahasia umum apabila Naruto Uzumaki, sang sahabat yang selalu menempel-nempel di dalam kehidupan baik dari fisik mau pun mental, tidak pernah suka dengan hal-hal mengenai teori pembelajaran. Pemuda pirang yang memiliki sikap ekspresif lebih identik dengan praktek di lapangan dan membuat kebisingan, sehingga terus menerima perhatian penuh oleh bimbingan serta kepala sekolah. Naruto membenci pelajaran. Naruto menyukai kebebasan. Naruto tidak suka dengan peraturan. Naruto lebih bahagia jika diajak bersenang-senang dalam hal signifikan.

— mendadak, nama seseorang entah mengapa terlintas begitu saja.

Naruto diam-diam melirik Sasuke yang sudah tidak peduli dengan apa yang dirinya lakukan.

— ide bodoh pun terlintas, senyum misterius menjadi sebuah permulaan.

.

PHONE CALL

© enthusiasta • FanFiction 2020

Mature & Sexual Content | Alternate Universe | Crack

.

Mikoto menatap ponsel yang menyala.

Wanita berusia tiga puluhan dengan rambut panjang berwarna gelap, memiliki mata berwarna hitam serta kulit mulus yang memang terlihat seperti belum pernah menua. Ia tampak terduduk di pinggir kasur dengan memasang ekspresi lesu, terkesan sepi dan merindu. Kembali, permata bagai langit malam memperhatikan layar ponsel yang menunjukkan kekosongan.

"Fugaku…" Mikoto berbisik pelan, nada suara terkesan cemas luar biasa. "…kapan kau akan menghubungiku?"

Fugaku Uchiha, pasangan hidup sekaligus suaminya dari dulu hingga sekarang, memiliki pekerjaan yang cukup menuntut dan berat apabila dipikirkan dari segi keluarga. Memiliki perusahaan dengan cabang di mana-mana tentu adalah arti dari kesuksesan, namun pemimpin pun mempunyai beban lebih dan mengharuskan untuk sering pergi ke luar kota; meninggalkan keluarga, meninggalkan kasih sayang, fokus terhadap keuangan, pun perlahan melupakan seseorang yang selalu menunggu kabar kepulangan.

Mikoto pun seperti itu; dengan setia, dia selalu menunggu.

Lirikan pada jarum jam membuat dirinya menghela napas. Saat ini masih pukul tiga, tersisa dua jam lagi sebelum membuat makan malam dan menunggu salah satu anaknya pulang dari sekolah. Sasuke Uchiha adalah putra bungsu yang masih berusia enam belas—memiliki prestasi gemilang, jenius, ambisius, namun tetap seorang remaja yang lugu. Itachi Uchiha, sang anak tertua, memiliki kesempatan untuk mengikuti jejak sang ayah agar mampu menjadi seorang pebisnis besar; berkeliling dunia dalam maksud melebarkan sayap ke bidang ekonomi hingga membuat pria itu lebih bersikap fleksibel dan tidak ingin menikah.

— mereka meninggalkan wanita itu sendirian tanpa memberi kabar.

Mikoto menghempaskan tubuh ke kasur, tertidur dengan posisi menyamping. Kedua mata tampak menggelap, memikirkan sesuatu yang biasa namun terkesan tidak normal apabila dibicarakan. Tangan bergerak, memeluk dirinya sendiri, lantas mata perlahan setengah tertutup; membayangkan dirinya tengah dipeluk oleh sang suami yang sedang pergi jauh.

Bayangan seseorang perlahan muncul, merangkak pelan ke atas kasur dan menciuminya lembut. Mikoto membayangkan Fugaku telah ada di sana; bersamanya, menguasainya, memegang tangannya, memberikan dirinya sebuah rangsangan. Perlahan, mata pun terpejam disertai dengan rona pipi yang manis menggemaskan. Dapat dia rasakan sensasi hangat yang mulai melebar ke mana-mana; kala ia membayangkan tangan sang suami sedang memelintir puncak dadanya dengan gerakan sensual, mengecupi setiap inci dari tubuh putih yang berkeringat, serta mereka yang mulai dikuasai oleh hasrat akan bercinta. Ia merasa bahagia ketika Fugaku perlahan bergerak, membuka kakinya lebar-lebar, dan menuntun benda panjang itu ke dalam—

Trrrt…

— seketika, imajinasi pun terputus tanpa diperintah.

Mikoto menatap ponsel yang bergetar karena sebuah panggilan. Ia menarik napas, mencoba untuk meredam emosi akibat kesenangan yang telah ditunda. Ia menerima panggilan tersebut tanpa melihat nama, menatap langit-langit kamar dengan penuh kehampaan.

"Halo?"

"Mikoto Uchiha?"

Yang dimaksud terdiam, memberikan pandangan heran. Ia mengetahui bahwa nomor yang menghubungi bukanlah siapa-siapa, melainkan sosok asing yang kini terkesan asing namun terdengar familiar. "Ya, Mikoto Uchiha di sini. Siapa ini?"

"Apa kau sendirian?"

Dalam beberapa alasan, Mikoto merasa aneh. Telinga dapat mendengar deru napas seseorang yang berat, terengah-engah. Ia tidak tahu bagaimana nomor pribadi telah tersebar, namun wanita itu mengetahui bahwa hal ini bukanlah peristiwa normal yang dapat terlupakan begitu saja. Mikoto berusaha untuk tenang dan mengatur suara, berbincang seolah semua sedang baik-baik saja. "Akan kututup—"

"Sasuke Uchiha sedang bersamaku." Ketika mendengar salah satu nama sang anak disebut, insting seorang ibu lantas membuatnya terkejut. Iris hitam melebar pelan, kepala mulai berpikir mengenai berbagai kemungkinan. "Dia anak kesayanganmu, 'kan? Kalau ingin dia pulang dalam keadaan selamat, kau harus menerima perintahku."

— kepanikan mulai menjalar, pelipis berkeringat; takut dapat terasa di dalam dada.

Mikoto menggigit bibir, berusaha untuk bersikap sopan dan tidak menyumpahi. "Maaf, tapi aku tidak percaya. Apa yang bisa membuatku tahu bahwa Sasuke memang ada di sana?"

"Kalau begitu anakmu tidak akan pulang selamanya," Orang di seberang sana menjawab; begitu santai, begitu tenang, begitu sederhana. "Mungkin Fugaku tidak akan tinggal diam, tapi yah … itu bisa diurus belakangan, bukankah begitu?"

Mikoto Uchiha adalah salah satu perempuan paling cerdas saat berada di universitas. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa, hal tersebut adalah salah satu alasan mengapa Fugaku ingin menikahinya. Namun ketika tahu bahwa nama sang anak telah disebut oleh orang yang tak tahu bagaimana sikap mau pun rupa, gelisah serta kecemasan sebagai seorang ibu telah menghantui dan membuatnya tidak dapat berpikir cepat. Gemetaran adalah reaksi pertama. Kepanikan adalah reaksi kedua. Kepasrahan merupakan sesuatu yang telah menjadi keputusan.

"…apa yang kau inginkan?" Mikoto menutup kedua mata. "Kalau uang, aku akan—"

"Aku tidak perlu uang. Kau pikir aku ingin hal bodoh seperti itu?"

"Jadi apa yang kau inginkan? Kumohon, Sasuke, dia—"

"Tenang, dia bersamaku—" Mikoto terkesiap kala mendengar napas sang penelepon semakin memberat. "—sekarang, buka bajumu."

Eh?

"Apa maksudmu?"

"Buka bajumu, Nyonya Uchiha Yang Terhormat."

Alis Mikoto mengerut. "Aku tidak mengerti—"

"Sasuke ada di sebelahku, dia pingsan." Mikoto membeku di tempat. "Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Kau mengerti apa maksudku, 'kan?"

Mikoto terdiam seribu bahasa. Kepala berusaha untuk berpikir mengenai beberapa pemikiran yang mungkin dapat dilakukan. Tetapi, ketakutan adalah perasaan yang membuat wanita itu menyerah. Ia adalah orang tua. Ia adalah sosok ibu dari Sasuke Uchiha. Ia paham bahwa ini sekedar ilusi semata. Ada kemungkinan yang mengatakan bahwa Sasuke memang tidak ada di sana dan orang ini hanyalah penelepon iseng yang sedang bersenang-senang.

bagaimana jika fakta mengatakan sebaliknya?

"Aku tahu kau belum melakukannya," Suara di ujung sana terdengar bosan, nada kecewa terkesan dibuat-buat. "Baiklah. Ucapkan selamat tinggal pada anakmu ini, Nyo—"

"T-Tunggu!" – sialan, brengsek, kurang ajar, tidak sopan, bangsat! "Akan kulakukan, t-tolong tunggu sebentar…"

Dengan tangan gemetar, Mikoto meletakkan ponsel di sampingnya dengan kondisi loudspeaker menyala. Kedua tangan mulai membuka kaus rumahan yang selalu dia gunakan saat di rumah, terpampang dua buah dada yang berisi dan kencang yang tidak dilapisi oleh bra. Padahal tidak ada siapapun di sana, hanya ada dirinya seorang. Tetapi, entah mengapa, ia merasa ada orang lain sedang berdiri, menatapnya, memperhatikannya, menelanjanginya.

"S-Sudah kulakukan," Mikoto berbisik. Ia merasa malu sendiri.

"Bagus," Wanita itu menggigit bibir dengan rona pada kedua pipi. "Sekarang, remas dadamu perlahan, sentuhkan ujung jari telunjuk ke putingmu sampai mengeras."

— apa orang ini berniat melecehkannya?

Mikoto terdiam ketika mendengar perintah dari pemuda tidak dikenal. Ingin membantah, namun ancaman yang telah dilayangkan membuat wanita itu terdiam tanpa sebab. Tangan kanan mulai bergerak, meremas payudaranya yang cukup besar dengan tempo pelan, sesekali jari telunjuk pun menyentuh serta menekan-nekan puncak kemerahan secara sembarangan.

"A-Ah…"

Iris hitam pun semakin menggelap, sentuhan individual yang mengundang pekikan. Mikoto mulai berpikir secara lumrah dalam fantasi, membayangkan seseorang tanpa nama sedang ada di sana dengan rasa simpati, memainkan tubuhnya sesuka hati. Tangan kiri mencoba meremas buah dada yang lain, melakukan gerakan memutar yang terkesan amatir.

"Mmh, ahh…"

"Ya, bagus. Teruslah begitu…"

Mikoto merasa lemas. Entah mengapa sentuhan seperti ini sudah membuatnya menjadi gila. Ditinggal Fugaku selama berbulan-bulan memberikan risiko akan dirinya yang tidak tahan untuk disentuh dan dicinta. Walau memiliki kesabaran ekstra, Mikoto tetaplah perempuan normal. Ia ingin seorang lelaki yang dapat memuaskannya hampir setiap malam. Ia juga menginginkan ada tangan kekar yang bisa menjamah sampai dirinya seolah berada di alam semesta.

"Ha—ah, ahh, ha…"

"…bukankah menyenangkan?" Napas pemuda di ujung sana juga berat, terdengar suara 'kecipak' yang dapat didengar oleh sang wanita berambut gelap. Mikoto menggigit bibir, sempat berpikir dalam delusi,

— apakah ini yang disebut sebagai phone sex?

"Berbaringlah, kau perlu menyentuh bagianmu yang lain."

Mikoto tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Ia juga tidak mengerti mengapa instruksi kurang ajar itu dapat membuat dirinya bertekuk lutut dan menurut begitu saja. Ia pun berbaring lemas, menatap ponselnya yang tengah menyala sembari terus meremas gundukan miliknya yang memberi sengatan nikmat. "L-Lalu … ngh, apa yang harus—"

"Apa warna celana dalammu?"

"Eh? P-Putih…"

"Manis sekali," Mikoto dapat mendengar suara kekehan. Ia tahu bahwa sang penelepon juga sedang melakukan hal terlarang. "Sekarang jilat jari-jarimu, hisap pelan-pelan. Bayangkan itu penis milikku."

Ketika mendengar salah satu sebutan yang terdengar begitu frontal, Mikoto nyaris berteriak tidak suka. Ia mencoba untuk bertahan dalam meredamkan sikap emosional. Wanita itu dengan keraguan mulai menjilat jari tengah tanpa diminta, mengecupinya, melumurinya dengan cairan; menganggap bahwa jemari itu adalah suatu benda tumpul yang selalu dirinya temui apabila sedang bercinta. Ia menutup mata, berusaha untuk menikmati apa yang sedang mereka lakukan.

slurp, slurp.

— terus begitu; lidah terjulur keluar, saliva yang mengalir di atas permukaan bantal, membasahi jari telunjuk hingga jari tengah.

"Nggh … hnn…"

"Ahh, ya—seperti itu…"

Mikoto dapat mendengar desahan aneh yang terjadi di seberang. Tanpa berpikir dua kali pun, ia tahu bahwa pemuda itu sedang ejakulasi—menyentuh kejantanan dengan cengkraman kuat dan menaik-turunkan benda itu hingga menegang.

"Buka kakimu lebih lebar, selipkan jemarimu di sana. Aku ingin kau menyentuh bagian bawahmu sendiri, Nyonya…"

Mikoto menutup mata. Dengan pipi merona serta tubuh yang panas, ia mulai menyelipkan jari tengah serta telunjuk ke dalam celana dalam yang dirinya gunakan. "Mmh…"

"Sentuh klitorismu, cubit pelan-pelan. Lalu, masukkan jari tengahmu. Anggap saja itu jariku."

Setelah mendengar instruksi kurang ajar yang sangat tidak sopan, Mikoto mengalami perang batin untuk beberapa saat. Ia merasa ragu bahwa melakukan hal ini demi sang anak merupakan hal berlebihan, pun dia tetap melakukannya. Jari tengah tampak berkelana, mencari sesuatu berupa daging kenyal yang perlahan mengeras. Mikoto mengatur napas. Ia mengikuti apa yang telah diminta; jemari tengah bergerak, membelai lipatan merah kepuasannya, mengelus benjolan kecil yang mulai berdenyut-denyut lincah, menekannya kuat dalam tempo lambat.

"Ngh … ahn—hmph…"

"—suaramu … nhh … seksi sekali…"

Mikoto mulai menggila. Tanpa diminta, ia membuka kakinya lebih lebar dan memasukkan tiga jari sekaligus. Kedua pipi merona hebat, pusing menghampiri kepala, sensasi nikmat yang sudah lama tidak dirasakan mulai datang. Adrenalin berpacu, gerakan jantung pun terus memburu. Air liur menetes membasahi kasur, bibir dengan kurang ajar terus terbuka, mendesah-desah seperti pelacur bayaran yang mencari mangsa setiap malam.

"Ahhn, ha! Ah! Mmph! Oh!" Mikoto tidak bisa berhenti. Tangannya bergerak sendiri, demi tuhan.

"Hhh—brengsek, desahanmu membuatku gila!" Orang di ujung sana yang mendengar dari ponsel pun menggeram kesal. Tampaknya sosok tak dikenal juga melakukan hal sama—menaikturunkan genggaman pada kejantanan dalam tempo cepat. "Tusuk lebih keras, lebih dalam, Mikoto … fuck, sial—"

Mendengar namanya disebut menggunakan kata kasar, tak ayal membuat Mikoto menggelinjang tak sabar. Ia mencubit puting dadanya dengan sensual, mengundang kembali desahan erotis yang membuat pria itu mengerang tak berdaya. Ia mendekatkan diri pada ponsel dengan kedua tangan masih bergerak; yang satu masih menggerakkan tiga jemari sampai membuat basah, satu lagi terus saja memilin puncak dada hingga keras dan kemerahan.

"Ah, a-aku—hampir…" Mikoto menggerakkan tiga jemari dengan gerakan memutar, menggesek-gesek permukaan kewanitannya begitu kuat. Napasnya terdengar putus asa. Ia hampir menuju klimaks. "Mmph! Oh, t-tolong aku—"

"Akh—ya, lakukan…" Wanita itu tahu bahwa sang penelepon sedang menyeringai kejam. Ia hanya bisa menggigit bibir akibat pasrah. "Keluarkan semuanya, Mikoto. Buat dirimu puas—"

Mikoto mendapat perizinan. Ia mengeluarkan cairan itu sekarang. Ia mempercepat tempo dan meremas dadanya begitu kuat, mengerang hingga melolong penuh kenikmatan saat jemarinya menemukan titik sensitif dengan tepat. Wanita itu terlonjak ke belakang, berteriak, merasakan cairan panas mulai keluar dari dalam dan membasahi jemari hingga paha. Ia terengah-engah, bergetar akibat sensasi nikmat terus membuat tubuhnya bergejolak tanpa makna.

"—bagaimana?"

Ketika mendengar suara berat itu—sepertinya dia juga telah sampai—tangan dengan segera meraih ponsel yang menyala.

"Kau … brengsek—"

"Terserah apa katamu, Nyonya. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau bermain denganmu cukup menyenangkan." Tawa bodoh membahana, Mikoto dapat mendengar suara resleting dinaikkan. "—terima kasih sudah menemaniku, kau yang terbaik."

"T-Tunggu," Mikoto tahu sambungan akan segera berakhir. Ia sempat mengabaikan getaran aneh kala ingin berdiri, mengingat cairan cinta terus saja menetes dan mengalir. "Bagaimana dengan—"

"Sasuke Uchiha akan pulang dengan selamat." Suara sang pria terdengar mutlak. "Aku akan menghubungimu lagi nanti."

"Ap—hei, sebentar—"

Pip.

— sambungan pun terputus begitu saja.

.

phone call © enthusiasta

.

Suasana perpustakaan mulai sepi saat sore menjelang.

Sasuke menatap buku catatan dengan tatapan malas, menyumpahi seseorang yang pergi ke toilet sekitar tiga puluh menit yang lalu dan sampai sekarang belum juga menampakkan badan. Ia hampir menyebutkan segala nama binatang sebelum dirinya menangkap afeksi berupa pirang yang telah kembali dari singgasana. Sasuke memandangi Naruto yang hanya bisa memberi cengiran tanpa dosa.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali?"

Naruto tersenyum tidak enak. "Wajahmu mengerikan, Teme. Sekarang aku tahu kenapa sampai sekarang kau belum punya pacar."

"Berkacalah sebelum kau mengatakan itu, baka-dobe."

Naruto tertawa dan duduk di sebelah Sasuke yang kembali memberikan penjelasan mengenai pembelajaran logaritma yang sempat tertunda. Naruto bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, Sasuke pun juga terlihat tidak keberatan.

Hanya saja, ada satu hal yang tidak diketahui oleh pemuda berambut hitam.

— ia sama sekali tidak tahu bahwa ibunya telah menjadi korban pelecehan yang dilakukan oleh sang sahabat.

.

phone call – end

.

a/n: asta datang degan fiksi baru. sampai jumpa di karya selanjutnya, stay tuned!

review!