Karena Aku Ingin Mencintaimu dan Memberimu Banyak Cinta, Shinobu.
Rate; T
Kimetsu No Yaiba milik Koyoharu Gotōge-sensei.
Author hanya pinjam untuk merealisasikan ide mendadak setelah kemarin malam begadang pegang hp dari jam 10 pagi sampai jam 4 subuh cuman demi ngebut baca manga KnY dan berakhir jatuh hati pada keindahan DouShino.
WARNING! Walau pair utamanya DouShino bukan berarti pair belok gaakan nyelip. GiyuuTan dan KyojuGiyuu dipastikan akan nyelip didalamnya. (UzuZen sepertinya tidak karena author denial mereka di pasangkan. DEMI APA UZUI UDAH PUNYA TIGA ISTRI. YAKALI KURANG?! Tapi interaksi mereka lucu jadi aku denial mereka dipair-in huhuhu.)
Ekhem! Lalu akan ada potongan-potongan ingatan di manga. Jangan lupakan alur yang abstrak. KARENA DEMI APAPUN INI IDE DADAKAN. JADI PASTI GAK JELAS/udah woi.
Typo yang manusiawi juga tak luput dari kesalahan author, diusahakan (amat sangat) untuk IC dan tidak OOC.
.
.
.
Happy reading!
.
.
.
Semuanya sama seperti biasanya.
Udara pagi yang segar, mentari hangat yang menyentuh kulit, dan jalanan penuh guguran kelopak bunga.
Langkah-langkahnya ringan seolah-olah ia terbang. Tasnya yang berisi buku-buku sekolah tidak berpengaruh pada kecepatan langkah pada tubuh pendeknya.
"Ah!" gadis dengan mata ungu itu mempercepat langkah dan menyapa teman baiknya. "Tomioka-san, ohayou."
Yang dipanggil Tomioka tampak biasa saja. "Ohayou. Kenapa kau mengangguku?"
Gadis dengan nama lengkap Kachou Shinobu tertawa kecil, "Mou, karena inilah orang membencimu, Tomioka-san!"
Tomioka tampak kesal, lihat saja wajah datarnya yang mendadak menunjukkan raut terkejut. Sungguh tampak lucu dimata Shinobu.
"Aku tidak dibenci." Jawaban tak terduga itu datang, membuat Shinobu diam sejenak sebelum tertawa menyebalkan.
"Ya, ya, Tomioka-san tidak dibenci oleh Tanjirou-kun dan Rengoku-san, Sabito-kun juga tidak membencimu. Tapi Tomioka-san dibenci yang lainnya."
Sungguh, pemuda bernama lengkap Tomioka Giyuu itu kesal. Kenapa gadis serangga ini tidak menganggu orang lain saja sih?
"Oh! Itu Giyuu-san dan Kachou-san! Ohayou!" suara sehangat mentari menyapa indra pendengaran. Itu Tanjirou. Dengan Zenitsu dan Inosuke.
Shinobu baru saja ingin membalas ucapannya sebelum Giyuu malah berjalan mendekati Tanjirou dan memeluknya erat.
"Eh? Eh? Eeehhh? Gi-giyuu-san? Kau baik baik saja?" Tanjirou panik saat Giyuu sedikit merunduk untuk menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Tanjirou.
"Tanjirou... kau tidak membenciku kan?"
...
Shinobu lupa bagaimana cara menutup mulutnya, onigiri Zenitsu jatuh dan Inosuke teriak-teriak bingung.
"Eh? Tentu saja aku tidak membenci Giyuu-san!"
"Pfft—hahahah! Yaampun Tomioka-san!"
Shinobu terkikik geli. Memang tidak salah ia memilih Tomioka sebagai orang yang dapat selalu ia jahili. Rasanya menyenangkan menjahili orang sebodoh itu.
.
.
.
.
Hari ini dimulai dengan adanya pengumuman dari Amane-sensei mengenai pertukaran pelajar yang diadakan. Siswa itu akan masuk di kelas 12 IPA 1 menggantikan Kibutsuji Nakime yang sudah lebih dulu pergi ke Kanada untuk pertukaran pelajar.
"Wah, siswa pertukaran pelajar ini nanti akan masuk ke kelas kita!" Kanroji Mitsuri memekik bahagia, tidak memperdulikan pacarnya, Iguro Obanai yang sudah garuk-garuk meja dengan aura tidak enak dipojok ruangan.
"Aku penasaran seperti apa wajahnya." Shinazugawa Sanemi yang paling nakal satu sekolah tapi pintar di mata pelajaran Kokushibo-sensei itu menggerakkan leher, seolah-olah siap memalak sang murid pindahan.
"Sanemi-kun, jangan menganggunya, oke?" Akaza yang selalu tenang tapi kalau marah kelakuannya sebelas-duabelas dengan Sanemi itu mengingatkan.
Suara tepukan terdengar, murid kembali diam dan mendengarkan Amane-sensei. "Murid itu akan datang besok. kuharap kalian bisa menyambutnya dengan baik. Nah, untuk sekarang ayo kalian buka buku matematika kalian halaman lima puluh enam."
Suara buku dibuka dan gesekan kertas langsung tedengar. Amane-sensei terkenal kalem dan baik hati. Namun wibawanya tidak main-main dan membuat murid sangat patuh padanya.
Shinobu berpangku tangan, memperhatikan dengan perasaan aneh yang mendadak menyergap.
Tubuhnya merinding dan firasatnya buruk. Kepalanya berdenyut-deyut seolah akan meledak.
"Kachou-san, tolong bacakan soal nomer tiga."
"Ha'i sensei." Shinobu memaksakan berdiri, tangannya gemetar. Setelah mengambil beberapa nafas, ia baru kembali mendapat ketenangannya. "Lima buah—"
'Yah, mungkin itu semua hanya perasaannya.'
.
.
.
.
Sepotong kepala manusia lama-lama terbentuk, menegaskan wujudnya dan mulai membuka mata.
"Wah, akhirnya kau mati juga? Baguslah. Aku bisa mati dengan tenang." Shinobu tersenyum dengan kata-kata yang berkebalikkan dengan senyumnya.
Kepala yang nyatanya adalah milik seorang iblis itu tersenyum kecil, matanya yang berwarna pelangi sedikit melotot karena kesal. "Hey, Shinobu-chan, bukan? Atau Kanae-chan?"
"Aah tidak usah repot-repot mengingat. Aku tidak sudi namaku atau nama kakakku disebut oleh makhluk menjijikkan sepertimu. Jadi jangan sebut nama kami."
Kepala iblis itu tertawa kecil, "Racunmu mengesankan. Aku bahkan tidak sadar saat aku menyerapmu."
Shinobu masih tersenyum, aura dendam dan marah masih menyelimutinya. "Tentu saja. aku mendapat bantuan dari iblis bernama Tamayo. Dan dia membantuku membuat racun itu."
Iblis dengan mata pelangi yang indah namun terlihat kosong itu tampak berusaha mengingat, "ah, wanita itu. Yang mengkhianati Muzan-sama."
"Tapi ini sangat menyebalkan ya, Douma-san. Rasanya benar-benar menjengkelkan. Aku ingin membunuhmu dengan racunku sendiri. Kalau saja aku bisa. Tapi seperti ini pun tidak masalah. Yang penting semuanya akan baik-baik saja." senyumannya yang terlihat mengerikan pelan-pelan luntur tergantikan senyuman hangat, aura kebenciannya pun menghilang. Membuat kepala sang iblis bertanya-tanya kenapa mendadak rasanya menyenangkan sekali bersama wanita yang secara tidak langsung telah membunuhnya ini.
"Kibutsuji Muzan masih hidup, tapi aku yakin itu tidak masalah. Teman-temanku pasti akan menghabisinya. Aku yakin hal itu."
Iblis yang dipanggil Douma itu tersenyum saat mengerti apa yang dirasakannya. "Whoa! Apa ini? Apa ini? Rasanya hatiku yang kosong mulai berdetak. Perutku mulas seakan ada sesuatu yang bergerak didalamnya. Apa ini yang disebut dengan cinta? Ah setelah kuperhatikan, kau imut sekali Shinobu-chan."
Shinobu terdiam dengan wajah seolah-olah mengatakan ewh?
"Hey Shinobu-chan, hey, mau pergi ke neraka bersamaku? Ayolah, ayo pergi bersamaku. Aku jatuh cinta padamu!"
Shinobu tersenyum kembali dengan sadis, "membusuklah sendiri di neraka, keparat menjijikkan."
"Ah, jahatnya! Kalau kita dilahirkan kembali, aku akan memastikan kau menjadi istriku!"
Sinobu melempar kepala itu, ia sendiri akan segera menghilang. "Aku tidak sudi menjadi istrimu. Matilah dan tidak usah bereinkarnasi!"
Kepala itu jatuh dan menggelinding tidak jauh dari Shinobu yang mulai transparan, "Waaa! Shinobu-chan jahat! Tapi tenang saja! Aku besyukur bisa merasakan apa itu cinta di saat-saat terakhir kehidupanku ini. Bahkan aku bersama denganmu sekarang!"
Douma memandangi Shinobu yang sebentar lagi akan benar-benar menghilang.
"Aku mencintaimu! Shinobu-chan! Walau kau membenciku, aku pastikan kau akan jadi milikku!"
Dan Shinobu menghilang, meninggalkan Douma dalam kegelapan abadi.
.
.
.
Cause die before being loved is very painful, you know?
.
.
.
Nafas Shinobu memburu, apa itu barusan? Mimpi?
"Shinobu-neechan, daijobu desuka? Kau berkeringat dan tanganmu gemetaran."
Shinobu mencoba menenangkan dirinya sendiri dan mencoba duduk, "Da-daijobu desuyo. Tidak perlu khawatir, Kanao-chan. Neechan baik-baik saja..."
Ia ada di kamarnya, bajunya bukan hitam dengan haori pink keunguan. Ia tidak memegang pedang dan sebuah kepala. Tidak ada yang berubah. Mungkin itu tadi cuma mimpi buruk karena ia kelelahan.
"Benarkah?"
"Ti-tidak apa-apa Kanao-chan. Ada apa kekamarku? A-apa neesan memanggilku?"
Kanao menghembuskan nafas, "sudah jamnya makan malam. Tapi apa neechan benar baik-baik saja? Tingkahmu agak aneh."
Shinobu tersenyum kecil, masih berusaha menguasai dirinya sendiri. "Neechan hanya mimpi buruk, tenang saja..."
Adiknya mengalah, "Aku akan mengatakan agar tidak menunggu neechan. Neechan harus beristirahat dulu. Kurasa kau cukup terguncang karena bermimpi Douma-Douma itu. Neechan menggumamkan namanya tadi. Bahkan berkata membunuh dan balas dendam."
"Terimakasih, Kanao-chan.." Shinobu menjatuhkan punggungnya diatas kasur saat pendangannya menggelap. Untung Kanao tidak menyadarinya dan tidak kembali membuka pintu.
Siapa Douma itu? Ia iblis? Kenapa Shinobu bermimpi hal yang tidak masuk akal seperti itu? Ia bahkan tidak mengenal pria yang dimimpikannya. Tidak ada iblis di era modern ini. Jadi mimpi barusan pasti hanya mimpi buruk. Dan lagi, apa-apaan dengan mengatakan jatuh cinta padanya itu? Jangan bilang ia ditempeli arwah gentayangan?
Memikirkan hal itu membuat Shinobu merinding, lalu beranjak untuk menyalakan dupa bunga wisteria.
Wanginya membuatnya sedikit rileks. Tidak semua orang suka dengan bau bunga wisteria ini. Namun entah mengapa Shinobu merasa kalau wangi ini merupakan penyelamat hidupnya.
Beberapa kali ini ia memang selalu memimpikan hal aneh. Tapi mimpinya itu tidak pernah se-aneh ini. Iblis? Yang benar saja. Tidak ada yang namanya iblis di dunia ini.
"Sepertinya aku harus bertanya pada Oyakata-sensei atau Yoriichi-sensei tentang hal ini."
Ya, Shinobu akan mencoba bertanya pada guru sejarah dan kepala sekolahnya yang baik hati itu. Mungkin saja kan, keduanya mengetahui sesuatu?
.
.
.
.
I very very love you, Shinobu-chan.
.
.
.
.
"Ohayou, ara ara, Rengoku-san dan Tomioka-san sudah bermesraan saja. Ini masih pagi lho." Shinobu menyindir dua orang yang duduk depan-belakang itu. Dan lagi, Kyojuro sedang mengusap rambut hitam Giyuu yang tidur berbantalkan tangan. Tatapannya sangat lembut. Tidak salah jika Shinobu menggoda mereka.
"Osh! Ohayou Kachou-san! Giyuu katanya kurang tidur karena mimpi buruk, jadi ayo kita biarkan dia tidur! Haha! Aku pacar yang pengertian!" Kyojuro membalas sapaan Shinobu dengan bersemangat seperti biasanya. Membuat Uzui Tengen dan Tokito Muichiro bertanya-tanya betapa hebatnya Tomioka Giyuu yang tidak terbangun akibat suara besar seorang Rengoku Kyojuro.
Shinobu duduk di kursinya, tepat disebelah kanan Giyuu yang posisi duduknya tepat disebelah jendela. Tanpa sengaja melihat sebuah earphone biru yang menutup telinga Giyuu. "Ara, pantas saja Tomioka-san tidak bangun, telinganya sudah disumpal rupanya."
"Sudah kuduga. Sasuga Tomioka." Azaka yang duduk diam dengan buku ditangan memuji, sedangkan Kyoujuro mengusap helai hitam Giyuu yang menutupi telinganya.
"Wah, dia memang memakai earphone. Pengelihatanmu tajam sekali Kachou-san!"
Shinobu tertawa, "Ara, biasa saja kok."
"Ohayou! Huh, pagi-pagi sudah tidur! Dasar lemah!"
"Osh! Ohayou Shinazugawa-kun! Giyuu kurang tidur karena mimpi buruk, jadi biarkan dia tidur!" Kyojuro menyapa dengan semangat membara. Sungguh, dia tidak takut dijewer Giyuu karena tidak bisa menjaga suara.
"Oh! Bicara tentang mimpi buruk, aku belakangan ini juga memimpikannya." Tengen masuk dalam pembicaraan, duduk diatas meja dengan tidak sopan sedangkan Mitsuri yang baru datang langsung mengambil tempatnya di belakang Shinobu.
"Eh? Kau memimpikan apa, Uzui-san?"
Tengen mengerutkan dahi, tangannya menopang dagu seolah sedang berpikir.
"Aku bermimpi kehilangan tangan kiri dan mata kiriku." Ia menghembuskan nafas dengan lelah, "di mimpiku itu aku melawan Gyutaro dan Kaigaku. Mereka memiliki jurus aneh dan tubuh aneh. Anehnya lagi aku bermimpi bahwa aku bertarung melawan mereka berdua bersama Kamado-kun dan dua temannya itu."
Shinobu mengerukan kening, "Gyoutaro dan Kaigaku anak kelas sebelah itu? Yang kembar tidak identik?"
Tengen menggangguk. "Siapa lagi kalau bukan mereka? Dimimpiku mereka tidak seperti mereka yang sekarang. Mereka tampak seperti...iblis? Bahkan aku memenggal kepala mereka berdua dengan bantuan Kamado-kun dan kawannya."
"Iblis? Apa di mata mereka ada sebuah huruf atau angka, Uzui-san?"
"Ada—tunggu, bagaimana Kachou dapat mengetahuinya?"
Shinobu tersenyum, "Hanya menebak, Uzui-san."
'Mimpinya sama denganku, hanya berbeda orang.' Shinobu membatin, nanti ia harus segera ke ruangan Oyakata-sensei atau menemui Yoriichi-sensei diruang guru.
"Nah, mungkin itu adalah ingatan tentang masa lalu kalian, anak-anak." Sebuah suara terdengar, membuat gerombolan itu melongok dan melihat Himejima-sensei sudah didepan kelas sambil mengatupkan kedua tangan.
Gerombolan itu langsung bubar, Tengen bahkan langsung lari ke tempat duduknya. Giyuu dengan ajaibnya juga terbangun dan melepas earphonenya.
"Sensei, apa maksudnya itu adalah ingatan masa lalu kami?"
Himejima-sensei menghembuskan nafas dengan sabar, "Sebelum aku memberitahu kalian, ada baiknya jika kalian menyambut teman baru kalian, Douma-kun."
Seorang pemuda menggeser pintu dan memasuki kelas dengan senyum cerah.
Ah, satu kelas setuju jika pemuda itu memiliki senyum yang sama seperti Shinobu.
Tampak cerah namun ada aura mematikan didalamnya.
"Ohayou minna, namaku Douma, aku dari Korea tapi aku memilik darah jepang! Panggil aku Douma saja. Semoga kita bisa menjadi kawan baik, yoroshiku onegaishimasu!" dari ucapannya, tampaknya pemuda itu adalah pemuda yang ceria. Rambutnya berwarna aneh, dengan merah diujungnya, hitam, lalu warna oranye pudar nyaris pirang. Kulitnya putih nyaris pucat. Tubuhnya tinggi, mungkin setinggi Tengen dan Himejima-sensei sendiri. Lalu iris mata yang bewarna pelangi—
'Pelangi?'
Shinobu gemetaran ditempatnya duduk, wajah itu, suara itu, nama itu.. mengingatkannya pada mimpinya kemarin.
'Apa ini semua sebuah kebetulan?'
"Douma-kun, silahkan duduk di sebelah Rengoku-kun. Rengoku-kun, tolong angkat tanganmu."
"Baik sensei! Salam kenal ya Douma!"
Shinobu baru menyadari satu hal...
Tempat Nakime duduk ada tepat didepannya. Dan tempat yang akan dipakai Douma selama satu semester ini adalah tempat duduk Nakime.
Douma tersenyum pada Kyojuro dan mengucapkan terimakasih. Lalu mata pelanginya menangkap sosok Shinobu sebelum duduk. Gadis itu tampak gemetar dan sangat benci padanya.
"Mohon bantuannya ya, Shinobu-chan." Sapanya ramah. Dalam hati tersenyum puas karena menyadari bahwa tidak hanya ia yang memiliki ingaan lama. Tapi Shinobu juga memilikinya. Gadis pujaannya itu pasti sekarang sedang menahan hasrat untuk membunuhnya.
"Ya, mohon bantuannya, Douma-san." Diluar dugaan Shinobu malah tersenyum manis dengan aura hangat, sepertinya ia sudah menguasai dirinya kembali.
Douma nyaris saja memeluk Shinobu jika saja ia tidak menguasai dirinya dengan baik.
"Shinobu-chan kenal dengan Douma-san?"
"Tidak, mungkin tadi ia melihat nama pada seragamku, Mitsuri-san."
Bisik-bisik itu dapat Douma dengar dengan jelas, ia memiliki pendengaran yang bagus, tau.
"Kembali ke pelajaran. Kita buka pelajaran ini dengan pertanyaan Azaka-kun tadi." Himejima-sensei membuka pelajaran dan menuliskannya di papan. "Apa kalian pernah mendengar reinkarnasi?"
.
.
.
.
Oyakata sedang membaca laporan siswa pertukaran pelajar saat pintu ruangannya diketuk.
"Masuklah, ah, Shinobu-chan, apa yang membawamu kesini?"
"Sensei, ada yang ingin saya tanyakan. Saya yakin sensei bisa menjawabnya dengan bijak." Shinobu menunduk dalam, lalu mulai menceritakan perihal mimpinya dan anak baru dikelasnya.
"Begitu ya, jadi sekarang kamu sedang bingung karena takut akan mimpimu, dan tanpa sadar akan melukai Douma-kun?"
"Ya, sensei. Saya mendengar dari Himejima-sensei bahwa mimpi yang saya dapatkan mungkin adalah ingatan masa lalu saya."
"Hm...begitukah? Shinobu-chan, menurut sensei, semua orang layak mendapatkan kesempatan kedua. Jika ia benar-benar sudah berubah, maka tidak ada alasan untuk membencinya. Kehidupanmu yang sekarang bukanlah kehidupanmu di masa lalu, Shinobu-chan. Kamu hidup di zaman yang sudah berbeda."
Shinobu terdiam. Apa yang dikatakan Oyakata memang benar. Ia yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Kehidupannya sudah berbeda. Kakaknya tidak mati, ia pun masih hidup sekarang.
"Giyuu-kun tadi datang keruangan sensei ditemani oleh Kyojuro-kun dan Tanjirou-kun. Ia bercerita tentang mimpi buruknya dimana ia kehilangan Kyojuro-kun dan Tanjirou-kun saat berperang. Mereka berdua bahkan sampai terkejut dan panik karena Giyuu-kun mendadak menangis saat menceritakan mimpinya."
"To-tomioka-san menangis?!" sungguh, Shinobu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Orang datar nan cuek itu sampai menangis?
Oyakata mengangguk, "semua ada ditanganmu sendiri, Shinobu-chan."
"Baiklah.. terimakasih sensei, maaf menganggu pekerjaan anda." Shinobu membungkuk hormat, sangat berterimakasih akan pengertian dari kepala sekolahnya.
"Iie, iie, kamu tidak mengganggu kok. Tugas seorang guru ialah membantu muridnya menemukan jalannya masing-masing." Oyakata memasang senyum hangat, membuat Shinobu merasa sedang berbicara kepada ayahnya sendiri.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Oyakata-sensei."
Sekeluarnya Shinobu dari ruangan Oyakata-sensei, ia langsung menuju ke atap sekolah. Tempat itu biasa digunakan oleh teman-temannya untuk makan siang karena dikantin selalu penuh sesak.
Yah, bekalnya sudah dititipkan pada Muichirou tadi. Semoga saja tidak salah dimakannya.
"Shinobu-chan, darimana saja kau?" sebuah suara terdengar dibelakangnya bersamaan dengan tubuhnya yang menabrak dada bidang seseorang. "Aduh, Shinobu-chan ternyata mungil sekali ya. Pas sekali dengan tubuhku. Hey, bagaimana kalau sepulang sekolah kita ke hotel—ufhh!"
Shinobu mencakar wajah pemuda yang seenaknya saja memeluknya itu. Ia menekan amarahnya dan mencoba mengabaikan pemuda yang masih saja mengekorinya sambil mengaduh.
"Uhuhuhu, Shinobu-chan tidak berubah! Aku mencintaimu Shinobu-chan! Jadilah istriku!" lamaran itu diucapkan dengan lantang, membuat Shinobu kesal karena beberapa pasang mata yang lewat langsung memperhatikan. "Jadilah istriku, Shinobu-chan! Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu!"
Shinobu tersenyum, ia sungguh kesal. "Tidak, terimakasih."
Ia melepaskan genggaman pada tangannya dengan lembut, tapi Douma tidak bergeming.
"Douma-san, tolong lepaskan tanganku."
"Tidak akan kulepaskan! Shinobu-chan tidak akan kulepaskan sebelum kau menerima lamaranku!"
"Kenapa kau begini? Kita baru saja bertemu dan kau langsung melamarku? Bahkan kau belum mengenalku." Shinobu sudah memasang kuda-kuda, sebelum jawaban Douma menghentikannya.
"Karena kau adalah cinta pertama dan terakhirku, Shinobu-chan. Aku ingat bahwa kau menemaniku sampai akhir dalam kegelapan. Kau membuatku merasakan jatuh cinta disaat terakhir kehidupanku." Nada suara Douma melembut, bahkan ia sampai berlutut. "Izinkanlah aku mencintaimu, Shinobu-chan. Izinkan aku untuk mencintaimu dengan hatiku dan memberimu banyak cinta."
Netra ungu Shinobu melebar, "Kau mengingatnya?"
Douma tersenyum tulus, ini pertama kalinya Douma tersenyum dengan caranya yang lembut. Shinobu sampai terperangah. "Aku ingat semuanya, Shinobu-chan."
Semua orang layak mendapat kesempatan kedua. Suara Oyakata-sensei terdengar di telinganya, mungkin Shinobu juga harus melupakan mimpi buruknya dan memberikan Douma kesempatan.
"Kalau begitu, aku menunggu kau membuktikan perkataanmu." Shinobu tersenyum, lalu melepaskan tangan Douma dengan lembut. "Aku menunggu caramu untuk memberiku banyak cinta." Bisiknya.
Mata pelangi Douma bersinar, "Ya! Shinobu-chan! Ya! Aku akan membuktikannya! Dan kau akan menjadi istriku!"
Shinobu tertawa, lalu pergi meninggalkan Douma ditengah-tengah sorakan siswa lain yang mendapatkan drama gratis.
.
.
.
Karena setiap orang berhak mendapatkan cinta dan kesempatan kedua didalam kehidupannya.
.
.
.
END
A/N
Halo, Zian disini dengan cerita ini.
Terimakasih sudah membaca. Semoga tidak OOC terlalu parah (atau mungkin ini sudah benar-benar OOC?)
Aku membuat ini karena merasa kekurangan asupan DouShino dan KyojuGiyuuTan (abaikan yang terakhir.)
Semoga kalian menyukainya. Dan ini fanfiksi kedua aku di fandom KnY, mohon bantuannya ya, senpai-senpai yang di fandom ini!
Minat review?
