Re-Upload


Back to You

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : Gaara/Hinata


You're stuck in my head and i can't get you out of it

If I could do it all again

I know I'd go back to you

Selena Gomez ~ Back to You


"Ayolah Hinata, ini tidak akan seburuk yang kau bayangkan." Ino berujar sembari duduk di ujung ranjang Hinata, mengekspresikan senyum memohon yang benar-benar membuat si gadis Hyuuga jengah.

"Yang benar saja deh Ino. Gaara juga pastinya datang ke acara reuni itu, dan kau tahu itu bakal jadi hal paling buruk yang pernah ku bayangkan." Hinata memutar bola matanya, jengkel dengan bujuk rayu Yamanaka yang begitu memaksa. Mentang-mentang Kiba juga datang ke acara itu, dia jadi ngotot ingin pergi ke acara reuni SMA tersebut. "Lagipula, kau kan sudah ada Kiba. Ngapain ngajak aku juga?"

Ino mendesah pelan. "Kurang asyik tanpamu."

"Omong kosong." Si rambut indigo merebahkan tubuh ke ranjang dan menatap langit-langit kamarnya setengah jengah. "Lagipula minggu-minggu ini aku sibuk. Banyak tugas yang harus dikerjakan."

"Astaga, demi Tuhan, Hinata. Acara reuni ini nggak bakal menyita satu hari waktumu. Kita hanya harus datang ke kafe di dekat rumah makan China favorit kita dulu, dan bertemu teman-teman SMA. Paling tidak cuma 3-4 jam saja." Ino berhenti mengetikkan sebaris pesan di ponselnya, dan mengerling tak paham pada si lawan bicara. "Pokoknya kau harus datang malam minggu nanti, harus!"

"Kenapa kau memaksa sekali sih?" Ingin rasanya menimpuk Ino dengan bantal sampai pingsan, andai saja gadis itu bukan teman baiknya.

"Aku hanya ingin menghiburmu. Kau selalu saja menghabiskan malam minggu sendirian, sekali-kali keluar dong biar pikiran suntukmu itu nggak tambah parah." Si pirang terkikik dengan guyonannya sendiri.

"Sialan kau." Hinata mengerang kesal. Memang sih, semenjak putus dengan Gaara tiga tahun lalu, ia nyaris tak tertarik dengan cowok mana pun. Katakan saja ini konyol, tapi kenyataannya begitu. Teman-teman sefakultas tak ada yang menarik minatnya, mereka cenderung terlalu serius dalam menggapai mimpi hingga lupa caranya bercanda. Setidaknya menurutnya begitu. "Jadi kau senang melihatku datang dalam keadaan jomblo ke acara reuni itu sementara yang lain sudah punya pasangan?"

Tawa pelan Ino makin terdengar ketika si lawan bicara menyelesaikan kalimatnya. "Ya Tuhan, negatif sekali sih pemikiranmu terhadapku. Niatku benar-benar tulus tahu." Kali ini biru jernih matanya mengerjap, terpaku pada si sahabat yang memperhatikan langit-langit kamar dengan kesal. "Datang ya, ayolah.

Setelah helaan napas panjang, Hinata menatap Ino yang tampak serius. "Akan ku pikirkan lagi."


Sejujurnya itu bukan acara luar biasa yang bisa Hinata puji mati-matian. Justru ia ingin segera pulang dan meringkuk di ranjang kamar tidur. Teman-temannya asyik membicarakan kehidupan mereka selama menjadi mahasiswa di kota perantauan. Dengung tawa, panggilan akrab, suara-suara familiar yang sedikit berubah karena pengaruh usia, sepenuhnya memenuhi udara di sekitar mereka. jujur itu agak mengganggunya.

Jika Sakura dengan pede bercerita mengenai praktikum kedokterannya yang banyak menguras adrenalin. Lain lagi dengan Tenten yang kesal setengah mati pada jurusan perawat yang dia ambil, katanya itu sama sekali tidak menarik.

"Lah kenapa kau dulu memgambil jurusan itu?" Naruto nyeletuk.

"Diam deh, sebelum gelas ini mendarat di kepalamu." Gadis blasteran Jepang-China itu sepertinya tengah PMS. Entah juga, karena siapa yang paham sih dengan sifatnya yang uring-uringan tersebut. Dan Naruto langsung diam seribu bahasa, sementara yang lain berusaha menahan tawa yang nyaris lepas.

Tapi dari semua cerita temannya, cuma cerita versi Gaara saja yang membuatnya tertarik setengah mati. Tapi Hinata tidak terang-terangan menunjukkan gelagat penasarannya. Seingatnya, pemuda Sabaku itu bukan cowok yang banyak bicara dan terbuka. Namun, entah bagaimana kali ini dia cukup banyak mengambil porsi waktu untuk bercerita mengenai salah satu pengalaman buruknya.

"Serius? Lagipula kenapa sih praktikumnya sampai malam begitu?" Kiba dengan kerutan di keningnya tampak serius memperhatikan penjelasan si rambut merah.

Gaara yang baru saja bercerita mengenai pengalamannya melihat makhluk astral di depan salah satu laboratoriun kampusnya hanya mengedikkan bahu.

"Ah Gaara, kau membuatku merinding tahu." Ino mengeratkan pegangan tangannya pada Kiba, dan membuat cowok itu terkekeh pelan akibat ulahnya.

"Praktikumku bisa menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh. Itu hal biasa." Gaara melihat satu-persatu ekspresi teman-temannya. Dan tanpa sengaja tatapannya jatuh tepat pada sosok gadis Hyuuga.

"Eh, nggak enak ternyata ambil farmasi." Shikamaru mendengus. Yeah, meski jurusan matematika yang ia ambil cukup sulit tapi setidaknya ia tidak harus berkeliaran malam-malam di kampus.

Si rambut merah memaksakan bibirnya tersenyum. Ia sepenuhnya tak bisa mengalihkan pandangan dari sosok rambut indigo di hadapannya. Entah perasaannya saja atau ini memang kenyataan, Hinata tambah cantik. Apalagi rambutnya sekarang dibiarkan panjang terurai, beda dari terakhir kali mereka bertemu. Ketika sadar jika Hyuuga membalas tatapannya dengan malu-malu, Gaara mengalihkan pandangan pada Sakura yang duduk tepat disebelah Hinata. "Oh ya, Sakura. Apa kau sudah sampai pada praktek pembedahan mayat?" Yang lain tampak shok dengan pertanyaan itu.

"Belum, kurasa itu baru semester depan."

Dan, yeah, cuma begitu-begitu saja pembahasannya sampai Hinata rasanya mengantuk parah dan ingin lari dari sana. Andai saja senyum Gaara tak membuatnya merasa berdebar parah.


"Pulang bareng aku saja."

Hinata yang tengah berdiri menunggu taksi menoleh tak nyaman pada asal suara. Oh well, ia tidak berharap bakal disapa cowok itu. Yang benar saja deh. "Ng-nggak ah, sebentar lagi pasti ada taksi lewat kok."

Gaara tersenyum melihat kegugupan si cewek. "Sudah hampir pukul dua belas malam loh, yakin bakal ada taksi lewat? Yang ada mungkin taksi hantu." Dia menahan tawa ketika si lawan bicara mendekat dengan ekspresi agak panik. "Ikut aku saja, aku bakal mengantarmu sampai rumah kok."

Hinata mendesah pelan, ia bukannya tidak mau diantar pulang. Ayolah ia sudah setengah membeku dengan rasa takut yang nyaris melahap isi otaknya. Bukankah tawaran Gaara terdengar begitu menggiurkan. Well, jangan lupakan juga penampilan Gaara dengan motor ninjanya yang keren itu, ah bikin gigit jari saja.

"Ayo, tunggu apalagi?"

Jadi selama berjalan dan susah payah naik ke boncengan Gaara, Hinata tidak berhenti merutuk dalam hati. Lain kali ingatkan ia untuk menimpuk wajah Ino dengan bantal karena sudah meninggalkannya pulang bersama Kiba.

"Pegangan yang erat ya."

Tapi belum juga sempat berpegangan, Gaara sudah melajukan motornya dengan kencang, bikin jantung Hinata copot. Dan karena masih sayang nyawa, Hinata mengesampingkan egonya dan memeluk Gaara erat. Ah, urusan malu itu bisa dipikirkan nanti.

Yang tanpa diketahui Hyuuga, Gaara diam-diam tersenyum sembari fokus pada jalanan.


Hinata pusing, serius, soal fisika ini bikin otaknya kesemutan dan mendadak perutnya mual parah. Well, demi Tuhan. Kenapa dulu ia malah iseng ambil jurusan ini waktu mengikuti jalur undangan. Akibatnya benar-benar fatal sekarang, setidaknya menurutnya begitu.

Sembari memijit pelipisnya, ia merebahkan diri pada ranjang sempit kamar kos. Merasa harus mengistirahatkan diri lebih cepat sebelum kepalanya makin pusing. Dan ketika matanya nyaris terpejam, suara denting pesan mengusik pendengarannya. Ugh, siapa sih yang mengirim pesan malam-malam begini. Pasti cuma Yamanaka Ino yang kurang kerjaan dan butuh teman curhat untuk memamerkan pacar romantisnya yang jenius bukan main itu. Aish, bikin darah mendidih saja. Kendati ia yakin jika itu dari Ino, Hinata tetap berusaha mengecek langsung. Dan, oh bukan Ino. Tapi Gaara. Hell, kenapa Gaara mendadak mengirim pesan, dari mana cowok itu dapat nomornya.

Oh hai, ini Gaara.

Maaf mengirim pesan malam-malam begini.

Gadis Hyuuga itu mengerjap, menghela napas pelan. Masih lekat ingatannya mengenai malam ketika Gaara mengantarnya pulang. Rasa ngeri bercampur adrenalin masih pekat menguasai otaknya. Dan, yang benar saja, Sabaku malah tertawa ketika Hinata gemetaran turun dari motornya. Bukannya minta maaf tapi malah berekspresi puas seolah itu adalah hiburan yang menyenangkan. Karenanya, waktu itu Hinata cuma mengucapkan terima kasih pelan, tanpa repot-repot menawari cowok itu untuk mampir. Well, lagipula saat itu juga tengah malam, tidak pantas menyuruh seorang cowok mampir ke rumah.

Setelah dipikir-pikir lagi, membiarkan pesan Gaara terabaikan begitu rasanya kurang etis. Maka dengan jantung berdebar aneh dan sensasi setengah malas, jarinya mengetikkan balasan.

Ada apa Gaara?

Jadi, balasan ini masuk akal tidak sih? Atau ini terlalu aneh? Tidak lama kemudian ponselnya berdenting lagi.

Cuma ingin berbincang denganmu saja. Kau nggak sedang sibuk kan?

Cuma ingin berbincang denganmu? what the hell. Astaga, apa coba yang sedang direncanakan si Sabaku ini? Tapi meski ia tak yakin jika meladeni pesan-pesan Gaara yang bermuara tak tentu arah ini adalah hal yang benar, toh Hinata juga cukup menikmatinya. Dan, dia beberapa kali tersenyum melihat balasan-balasan dari sang mantan pacar itu. Hingga tak sadar, mereka menghabiskan waktu sekitar tiga jam hanya untuk saling berkirim pesan tak jelas.

Hinata

Kenapa cowok itu malah mengetikkan namanya?

Ya?

Balasan Gaara muncul beberapa detik berikutnya.

Cuma mau bilang

"sqrt(cos(x))*cos(300x)sqrt(abs(x))-0.7)*(4-x*x)0.01,sqrt(6-x2),-sqrt(6-x2) from -4.5 to 4.5."

Search

Hinata mengernyit, memahami isi pesan itu. Apa sih maksudnya cowok itu? Tapi demi menuntaskan rasa ingin tahunya ia menggerakkan jemari untuk masuk ke halaman google, mengetik apa yang baru saja dikirim si mantan pacar tersebut.

Dan, oh. Demi Tuhan, apa maksud Gaara mengirim rumus aneh yang berujung membentuk grafik itu? Bikin jantungnya bertalu-talu saja.

end

What the hell, ah nggak tahu mau ngomong apa. Yang jelas ini adalah fic Gaara-Hinata pertamaku, sorry kalau feelnya kurang ngena. Bingung juga ini mau tak buat berchapter atau udah sampai sini aja.

Eh, ada yang paham rumus aneh di atas nggak? Barangkali ada yang udah tahu. Kalau misalnya penasaran, coba search di google aja.

Kritik dan sarannya please

~Lin

24 Maret 2020