Gesu na Yume (c) faihyuu

Naruto (c) Kishimoto Masashi

Rated M

Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC, etc.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apapun dari cerita ini selain kepuasan batin.


Tadi malam dan beberapa hari terakhir memang bukanlah mimpi basah pertama yang dialami seorang Naruto Uzumaki. Hanya saja, efeknya benar-benar dahsyat sampai-sampai serasa mencekik mati.

Mungkin, para manusia jantan di luar sana akan tidak terlalu mempermasalahkan mimpi nakal mereka semalam. Terkadang ada pula yang malah bersyukur karena setidaknya dapat tidur bersama orang dipuja walau hanya di dalam mimpi. Namun, Naruto juga tidak mengerti mengapa dirinya menjadi risau begini.

Pemuda pirang itu masih menatap bagian dari seprainya yang basah. Dari sana pula menguar bau yang khas, tetapi bukan bau pesing tentu saja. Naruto juga yakin, walinya, Iruka yang sering memeriksa kamarnya tak akan peduli dengan hal remeh temeh para pria yang suka berdelusi. Buktinya saat menemukan tumpukan koleksi majalah dengan cover wanita telanjang dan folder berisi film biru seminggu yang lalu, ia malah tertawa dan berpesan nakal jika mau melakukannya harus pakai pengaman karena masih sekolah—apalagi dia sedang berada dalam tahun ketiga dan sedang berusaha masuk universitas.

Sedikit membuka aib, Naruto biasanya bermimpi bercinta bersama dengan artis-artis idolanya, terkadang pula ia bermimpi tidur bersama salah satu pemain film biru yang menurutnya cantik. Tidak pernah sekalipun ia bermimpi bermain bersama dengan orang yang dikenalnya di dunia nyata. Apalagi teman sekelasnya.

Jadi, atas dasar apa mimpinya beberapa hari ini?

Kenapa bisa dia bermimpi menggagahi seorang gadis teman sekelasnya yang selugu Hinata Hyuuga?

Padahal interaksi mereka selama hampir tiga tahun lamanya SMA bukanlah interaksi yang spesial—menurutnya. Narutopun merasa bahwa sekalipun ia bakal bermimpi tidur dengan salah satu temannya, ia kira Sakura adalah kandidat pertama. Karena pemuda itu lumayan menyukai gadis itu karena rambut merah mudanya yang indah dan terlihat sangat cantik di mata pemuda Uzumaki. Walaupun tubuh gadis itu termasuk tergolong kalangan kelas rendah dari para idolanya.

Lalu mengapa harus si gadis Hyuuga? Gadis yang menjadi manusia terpendek di angkatannya, kulitnya pucat walau tak sepucat Sai, rambutnya indigo dan panjang, jangan lupakan juga matanya yang amethyst pucat tanpa pupil menjadikan gadis itu memiliki julukan sadako. Tubuh gadis Hyuuga itupun bisa dibilang gemuk, makanya gadis itu selalu mengenakan baju-baju kebesaran. Sama sekali bukan tipe Naruto.

Namun, mengapa pula dalam mimpinya beberapa malam ini, Hinata harus semenggoda itu? Mengapa pula di dalam mimpinya Hinata jadi terlihat sangat cantik dan semenggemaskan itu?

Bahkan Naruto merasa mimpinya akhir-akhir terasa sangat-sangat nyata. Sentuhan gadis itu benar-benar terasa halus dan seakan membekas, harum tubuhnya yang berbau lavendel seakan-akan dapat menghipnotis Naruto untuk terus menjelajahi lekuk-lekuk tubuhnya, dan juga desahan yang bagai rapsodi untuk telinga pemuda Uzumaki itu semalam bagai sebuah kekuatan yang membuatnya makin terus bergerak di dalam tubuh Hinata—juga memenuhi si Hyuuga dengan cairan yang ia miliki.

"Sial," Naruto merasa bagian yang menggantung di antara kedua kakinya mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit kembali. Pemuda itu mengerang frustasi dan mulai menyugar rambut pirangnya asal—lebih ke arah menjambak tepatnya. Ia butuh mandi lagi. Kali ini dengan air dingin.

.


.

"Ah, cantik."

Sontak saja Naruto mengatupkan kedua belah bibirnya rapat-rapat saat tiba-tiba saja gumaman kecil itu keluar dari bibirnya. Sapphire itu melirik ke kanan dan ke kiri, aman. Tidak ada satupun yang sadar akan gumamnya tadi. Melihat teman duduk bagian belakangnya yang sedang sibuk sendiri, Naruto menghela napas penuh kelegaan. Sasuke yang masih tenang memperhatikan ke depan sekaligus mencatat, Kiba yang malah membaca majalah gravure, dan Shikamaru yang malah tertidur. Artinya Naruto sedari tadi aman.

Saat ini, seorang Naruto Uzumaki tengah memandangi seorang Hinata Hyuuga di tengah pelajaran biologi yang diajarkan oleh Kakashi-sensei. Dari tempat duduknya yang berada di paling belakang dan berbeda satu bangku dari jendela, memperhatikan si gadis Hyuuga yang duduk tepat di bawah jendela—berbeda dua bangku di depan darinya.

Naruto sama sekali tidak mengerti mengapa kalimat tadi meluncur begitu saja. Padahal gadis itu hanya sedang menyampirkan helai anak rambutnya ke belakang telinga karena ia sedang menulis catatan. Dan sesekali gadis itu juga menggembungkan pipinya yang lebih berisi daripada anak-anak perempuan kebanyakan karena mendengar penjelasan Kakashi-sensei tentang soal yang akan keluar saat ujian masuk universitas yang akan mereka hadapi dua bulan lagi.

Masih menatap Hinata tanpa ada gangguan yang berarti, Naruto harus dikejutkan dengan sebuah kenyataan yang menamparnya saat ini. Si pemuda pirang merasakan detak jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat ketika sapphirenya bertubrukan dengan amethyst pucat. Alias Hinata kini juga tengah menatapnya!

Misi Naruto gagal, digagalkan oleh tujuan dari misinya itu sendiri.

Namun, dengan jelas dan pasti. Naruto dapat menangkap rona merah di pipi gembil sang gadis yang memilih langsung menghentikan kontak mata mereka.

Apa dia akan marah? Jujur Naruto sedikit ngeri akan kemungkinan itu. Naruto memilih untuk berpura-pura tidur saja—toh, Kakashi-sensei bukanlah guru yang senang memarahi ataupun membawa kasus siswa ke Bimbingan Konseling, dia bahkan menanyakan rekomendasi film biru dari para anak lelaki. Guru yang agak kurang moral, tapi bertanggung jawab.

Memejamkan mata, bukannya sedikit menenangkan, Naruto malah makin tersiksa. Panas juga. Dalam bayangannya, malah terlihat Hinata yang sedang berada di pantai dengan dress musim panas yang manis dan gadis itu sedang menyampirkan anak-anak rambutnya ke belakang telinga akibat dipermainkan oleh angin nakal.

Sial!

Sumpah, Naruto bukanlah orang yang terpancing gairah walaupun suka membaca majalah porno. Bukan, dia bukan remaja mesum yang suka meniduri wanita—tentu saja. Malah, jikalau ditilik dari lingkup pertemanannya, dirinya mungkin menjadi yang terpolos. Karena manusia yang terlihat tidak memiliki tujuan hidup seperti Shikamaru bahkan pernah meniduri pacarnya.

Naruto sama sekali tidak pernah melakukan seks. Pacar saja tidak ada. Untuk orang yang disukainya saja, Naruto sama sekali tidak ingin menjalin hubungan. Ia hanya sekadar suka, ya karena suka. Naruto kebetulan suka warna merah muda akibat kebiasaannya menyantap gula kapas dan permen karet, yang kebetulan Sakura memiliki surai yang serupa dan gadis itu juga salah satu teman dekatnya.

Walinya, Iruka memang sering menggodanya dan memberikan banyak nasihat tentang dunia orang dewasa. Namun, lagi-lagi Naruto hanya bisa mengiyakan saja. Ya, karena dia memang tidak pernah. Merasakan minuman beralkohol saja juga tidak pernah, berbeda dengan sahabatnya, Sasuke yang malah selalu mabuk-mabukkan tiap malam minggu.

"Naruto-kun..."

KRINGG—

"Gaaahhh!!" Naruto merasa sudah gila, ia mendengar suara Hinata yang disusul oleh bel sekolah pertanda waktu istirahat.

"A-ano, Naruto-kun,"

Naruto makin menyugar surainya kasar, "Apa aku sudah gila?"

"E-eh maksudnya?"

Dan kini Naruto menahan jerit ketika sapphirenya mendapati Hinata Hyuuga tengah berdiri di sampingnya, dengan membawa sebuah buku tebal di dalam dekapan gadis itu.

"O-oh Hinata," Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal. Berusaha memberikan senyuman seakan tak ada hal yang terjadi, "Ada apa?"

Naruto takut dirinya terkena schizophrenia karena delusinya tadi, jujur saja.

Si gadis Hyuuga itu menunduk, "Uhm, itu bukankah kemarin N-naruto-kun ingin diajari materi kimia?"

Ah, barulah Naruto Uzumaki ingat.

Hinata Hyuuga adalah mentor belajarnya selama beberapa hari terakhir. Berawal dari nilai yang tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik, tetapi dengan tidak tahu dirinya memilih ilmu lingkungan hidup di Universitas Tokyo. Benar-benar keparat, tak ingat tempat. Naruto kadang merutuki mengapa mimpinya terkadang tinggi sekali dari apa yang ia bisa. Bahkan saat memilih jurusan tersebut ia hampir ditampar oleh Iruka. Bahkan wali kelasnya juga sempat menertawakannya sebelum menunjuk gadis Hyuuga ini sebagai mentor belajarnya selama dua bulan nanti.

Ada rasa enggan yang mendorong Naruto. Dimulai dari ia yang mulai rajin itu terlihat menggelikan, juga teman-teman laki-lakinya yang kini mulai meninggalkan kelas tanpa mengajak serta dirinya.

"Baiklah, ayo kita belajar di perpustakaan."

Tidak, Naruto merutuki mengapa mulutnya jadi hipokrit begini. Dia tidak ingin menghabiskan waktu di perpustakaan dengan gadis di dekatnya ini. Tidak, Naruto sama sekali tidak mau. Dia ingin berkumpul bersama teman-temannya; membicarakan gim, mendiskusikan anime dan manga, bahkan berencana bertukar majalah dewasa. Bukan dengan memacari materi-materi yang membuatnya mual.

"N-nanti saja, Naruto-kun. Pergilah ke kantin dan makan siang bersama teman-teman yang lain saja dahulu. A-aku ke sini hanya untuk menanyakan kepastiannya saja, kok. Lagipula rumus yang Naruto-kun kemarin minta ajarkan tidak terlalu sulit. Kurasa setengah jam sudah cukup waktunya. Sampai bertemu di perpustakaan, Naruto-kun."

Gadis itu membungkuk kecil dan mulai pergi dari hadapannya. Naruto tahu, gadis itu pasti akan melabuhkan tujuannya ke perpustakaan. Dan gadis itu juga seharusnya tahu, jika Naruto sudah berkumpul bersama degan teman-teman dekatnya pasti akan menghabiskan waktu istirahat —walau nyatanya waktu istirahat yang diberikan sekolahnya lumayan panjang, dua setengah jam.

Dengan penuh kebimbangan, Naruto berdiri dari tempat duduknya. Pemuda Uzumaki itu mulai melangkahkan kakinya menuju kantin dengan perasaan yang bimbang entah karena apa.

.

"Makan siang hari ini penuh tomat, kelihatannya ini hari keberuntunganmu, Teme."

Naruto hanya bergumam sembari mengaduk sup tomat yang disajikan sebagai katering siang hari ini dengan tak minat. Sementara, Sasuke yang berada di hadapannya malah memandang menu hari ini dengan tatapan penuh bahagia, tentu saja, dia pecinta tomat.

"Jangan terlalu sering mengaduknya, Dobe. Kalau tidak mau, kau berikan saja padaku." Cibir sang Uchiha muda dengan datar.

Naruto menghela napas, dan mengangguk lemas. Dia kira dengan menyusul ke kantin, dia bisa bertemu dengan seluruh teman-teman dekatnya. Ternyata hanya ada Sasuke yang saat ditanya perihal anak laki-laki lainnya, pemuda Uchiha itu malah bergumam tidak jelas. Namun, kelihatannya Naruto baru menyadari sesuatu.

Lagi-lagi Naruto menghela napas, "Sial, pantas saja."

"Apa?" Sasuke yang tengah menikmati sup melirik sekenanya.

Mengerucutkan bibir, Naruto memilih untuk segera bangkit dari duduknya. "Ambil saja punyaku, Teme. Pantas saja yang lain pergi, menunya begini." Yang pemuda pirang itu ingat, Kiba paling anti dengan tomat dan Shikamaru memiliki Temari yang selalu membawa bento.

"Hn," Sasuke hanya cuek menanggapinya. Daripada makin kesal, Naruto memilih pergi dari sana dan menuju vending machine dekat kantin untuk membeli susu coklat dan roti sebagai pengganjal perut.

Sembari menikmati susu coklatnya dengan berjalan, pikiran Naruto melayang lagi. Sekarang pemuda itu bingung ingin ke mana. Jika kembali ke kelas, ia yakin, bakal mendapat tatapan intimidasi dari para anak gadis yang sedang bergosip sembari menguyah bento. Jika ingin mengikuti Shikamaru, maka dia harus rela menjadi serangga. Jika ingin mengikuti Kiba, Naruto yakin pasti dirinya akan bolos sekolah, dan mungkin jika ketahuan, Iruka akan memotong uang jajannya.

Mungkin pilihan yang tepat adalah menuju perpustakaan dan bertemu Hinata. Setidaknya, lebih bermanfaat. Walaupun menyiksa juga karena terkadang gadis itu tiba-tiba membuatnya sedikit gila dan dia harus berhadapan dengan materi yang mungkin saja membuat kepala botak.

Dan Naruto juga baru menyadari, dirinya dan Hinata dua minggu terakhir memang lumayan dekat. Tiap dua kali dalam seminggu, Naruto merelakan waktu bersantainya saat pulang sekolah untuk belajar bersama Hinata. Belum lagi jika ada materi yang benar-benar ia tidak mengerti, Naruto juga merelakan waktunya lagi untuk belajar bersama si gadis Hyuuga. Karena Naruto akui, dirinya memang lambat. Dan guru selalu mengajar dengan cepat, jadilah Naruto yang bodoh seperti sekarang. Hanya Hyuuga Hinata-lah yang sabar mengajarinya pelan-pelan. Berbeda dari teman-temannya yang lain, tiap kali ia bertanya, mereka pasti emosi.

Tugas-tugas yang diberikan oleh para guru pun, Naruto sudah bisa mengerjakannya sendiri—walau masih dengan sedikit bantuan dari Hinata. Biasanya Naruto enggan dan tak mampu, dia lebih memilih untuk menyontek tugas yang dikerjakan Sasuke atau Shikamaru. Si gadis Hyuuga itu pula yang membuatnya jadi rajin begini, Hinata selalu menanyakan apakah ada yang ia tidak mengerti tentang tugas yang diberikan para guru via pesan singkat. Begitu pula ketika ulangan, maka dari itu juga ulangan Naruto kemarin nilainya jauh lebih manusiawi—alias dia berhasil tidak mengikuti remedial.

Susu kotaknya habis. Naruto hanya menggigiti sedotannya dengan iseng.

Ah, omong-omong Hinata berarti sama sekali belum makan bukan?

Seingat Naruto tadi, gadis itu tampak tak membawa apapun selain buku kimia. Dan setahu Naruto pula, harusnya gadis itu membawa bento; memakannya sendirian di kelas tanpa berniat bergabung dengan anak perempuan yang suka sekali bergosip, dan kemudian gadis itu menuju perpustakaan untuk belajar apa saja setelah makannya selesai.

Menghentikan langkah kakinya, jarak Naruto dan vending machine yang baru saja dia kunjungi belum terlalu jauh. Dan Naruto juga tidak mengerti mengapa, tetapi dirinya malah berjalan menuju mesin penjual otomatis itu lagi dan kembali membeli sekotak susu coklat dan roti.

.

"Hai, Hinata." Tanpa tedeng aling-aling, Naruto memilih untuk duduk di samping Hinata.

Gadis Hyuuga itu memang tengah duduk sembari membaca sebuah buku di meja paling pojok perpustakaan yang berhadapan langsung dengan jendela.

"E-eh?" Dan sesuai dengan ekspektasi si Uzumaki, gadis itu terkejut akan kedatangannya.

Naruto memilih untuk melemparkan cengiran, "Ayo, belajar."

Dengan gugup, Hinata mengangguk pelan dan menutup buku yang dibacanya tadi, yang ternyata sebuah novel berjudul Hakai karya Tōson Shimazaki. "N-naruto-kun sudah makan siang?"

"Menu hari ini membuatku mual, sup tomat kesukaan Teme. Namun, aku juga sudah makan roti kok tadi, ttebayo. Jangan khawatir, aku juga tidak terlalu lapar."

Hinata mengangguk lagi. Kini gadis itu mulai membuka buku kimianya yang tadi berada di atas meja.

"Kau sendiri? Kau sudah makan, Hinata?" Naruto bersyukur dirinya dikaruniai kecerewetan yang luar biasa. Karena terkadang itu berguna, apalagi jika harus berhadapan dengan manusia macam Hinata. Dan bukan tanpa alasan pula Naruto bertanya begini, wajah Hinata yang terlihat pucat membuat pemuda itu sedikit khawatir.

Si gadis menggeleng pelan, "Bentoku ketinggalan, dan aku memang belum lapar juga."

Senyum Naruto makin mengembang. Tidak sia-sia ia kembali ke vending machine tadi. Dirogohnya roti dan sekotak susu yang disimpannya di kantong blazer, dan disodorkannya pada si gadis Hyuuga.

"Makanlah dulu,"

"T-tidak usah, Naruto-kun. Terima kasih," Senyuman tipis Hinata berikan. "N-naruto-kun kemarin masih bingung dengan materi Benzena 'kan?"

Sedikit mengerucutkan bibir, Naruto masih setia memaksa Hinata untuk menikmati roti dan sekotak susu yang dibelinya tadi. "Ayolah, Hinata. Makan dulu. Nanti kalau kau lapar, ttebayo."

"A-ano—"

"Kumohon, Hinata. Aku tidak menerima penolakan. Wajahmu sudah pucat begitu, ttebayo."

Dengan raut wajah mengalah, Hinata mengangguk. "Terima kasih, Naruto-kun. Nanti akan—"

"—sekarang, Hinata. Makanlah sekarang." Naruto bukan orang yang pemaksa memang, tapi bukan berarti ia tidak bisa memaksa.

"I-ini perpustakaan," Ujar Hinata kecil. "Di perpustakaan tidak boleh makan dan minum. Bahkan membawanya saja sudah dilarang, nanti kalau Naruto-kun ketahuan bisa dihukum."

"Tapi Sarutobi-sensei sedang tertidur, Hinata. Dia tidak akan tahu, kau juga pasti tidak akan membuang sampahnya sembarangan 'kan?" Naruto tidaklah membual, Hiruzen Sarutobi selaku penjaga perpustakaan sedang tertidur di meja penjaga. Dan tak ada yang mengunjungi perpustakaan selain mereka. Lagipula, posisi mereka juga strategis untuk bersembunyi.

"T-tapi—"

"Please, Hin." Naruto menggunakan puppy eyes, kalau tidak berhasil juga, ya pasrah. Namun Naruto juga tidak mengerti mengapa dirinya jadi gigih sekali agar gadis itu makan.

Menghela napas pelan, Hinata mengangguk. "T-tapi aku masih t-takut,"

Senyum mengembang di bibir Naruto, "Santai, kau tahu sendiri Sarutobi-sensei juga orangnya tidak pedulian."

"B-baiklah," Dengan lembut, Hinata mulai membuka bungkus roti. "S-sekali lagi terima kasih Naruto-kun. Dan maaf juga, a-aku tidak membawa dompetku saat ini."

"Astaga, Hinata. Tidak usah, ttebayo. Aku ikhlas, kok!"

"T-tapi—"

"—ini ketiga kalinya kamu bicara tapi, lho, Hin. Sudah, tidak apa-apa. Anggap saja itu rasa terima kasihku. Kau 'kan selama ini membantuku belajar."

Senyum Hinata mengembang malu-malu, dan Naruto merasa itu manis sekali.

"Sekali lagi terima kasih, Naruto-kun." Pipi gembil gadis itu terlihat memerah. Dan baru Naruto sadari pula kalau warna mata Hinata itu cantik; Naruto bisa melihat amethyst pucat, lilac keperakan, dan bahkan bulan purnama. Aneh memang, tetapi sangat unik. Se-unik tanda lahir sang pemuda yang berupa tiga garis di masing-masing pipi.

Omong-omong, di jarak yang sebegini dekatnya. Naruto bisa lebih merasakan aroma lavendel lembut yang menguar dari tubuh sang gadis Hyuuga. Aroma yang menenangkan sekaligus candu.

Mungkin aroma lavendel akan jadi salah satu aroma favorit Naruto.

Dan juga, Naruto tidak mengerti mengapa, tapi pipi tembam Hinata memang sangat halus dan lembut—menggemaskan ketika melihat pipi itu menggembung lucu untuk mengunyah.

Ternyata benar-benar lembut dan halus, bibir Naruto merasakan itu semua.

Sama seperti yang di mimpi—


Naruto tahu, dirinya memang tolol. Tolol, bodoh, bego, baka, dan entah masih banyak lagi.

Sampai hari ini, tepat saat hari di mana kelulusan tiba. Dirinya masih takut untuk mengucapkan kata maaf pada gadis Hyuuga yang tengah menyendiri keluar ruang upacara kelulusan saat para murid berebut mengabadikan foto.

"Di mana, Hinata?"

Suara Kiba menyentak si pemuda pirang yang entah sejak kapan melamun. Si pemuda Inuzuka tampak celingak-celinguk mencari keberadaan gadis yang tadi ditanyakannya.

"Ah iya, aku juga tidak melihatnya. Di mana dia? Aku ingin foto dengan si gadis Herodotus." Ino Yamanaka si gadis yang dari tadi sibuk meminta foto bersama juga melakukan hal yang sama dengan Kiba.

Si gadis Herodotus. Julukan Hinata yang baru, gadis yang berhasil meraih peringkat pertama angkatan di akhir perjalanannya. Sama sekali tidak terduga sebelumnya, karena Shikamaru, Sasuke dan Sakura yang digadang-gadang sebagai perebut nilai terbaik dikalahkan oleh gadis yang sama sekali tidak ambisius. Gadis yang biasanya hanya berani muncul di bawah nama mereka bertiga tadi, gadis yang tak dikenal banyak orang juga. Gadis yang mendapat nilai sempurna di mata pelajaran sejarah dan geografi—Herodotus masih bapak sejarah, bukan? Hinata juga si gadis perebut nilai tertinggi kimia. Gadis yang mendapatkan tawaran melanjutkan pendidikan di universitas terbaik, langsung dari Waseda.

"Jangan-jangan dia pulang duluan lagi," Kiba merutuk. "Kebiasaan sekali, dulu saat SMP dia juga begitu. Padahal keluarganya masih ada di sekolah, tapi kulihat dia sudah sampai rumah. Bahkan dia juga mampir ke rumahku, katanya mau main sama Akamaru."

Kiba memang lumayan dekat Hinata. Mereka bertetangga.

Naruto tetap terdiam. Rasa bersalah sampai sekarang masih bergentayangan. Rasa dosa juga masih menghantuinya.

Dua bulan lalu, di perpustakaan. Naruto sama sekali tidak tahu apa yang sedang merasukinya saat itu. Pemuda Uzamaki itu mencium pipi gembil si gadis yang sedang mengunyah roti.

Kala itu, Hinata terkejut. Sangat terkejut. Hingga yang Naruto lihat sat itu adalah Hinata yang menangis.

Sejak saat itu pula, mereka menjauh. Bahkan sampai berpura-pura tak mengenal. Sayangnya, tak ada satupun yang menyadari itu

"Aku keluar sebentar, Paman Iruka menungguku di luar." Ketika mendapat getaran ponsel di dalam saku celana, Naruto langsung tahu bahwa Iruka si pengirim. Pasti paman itu sedang di luar untuk mengucapkan selamat. Karena bagaimanapun juga, keajaiban telah terjad pada Naruto.

Pemuda Uzumaki itu berhasil memasuki universitas dan jurusan impiannya. Memang bukan karena nilai ujian, tetapi Naruto memang diberkahi prestasi non akademik yang baik sejak dulu. Sebagai juara kedua lomba renang remaja se-Asia saat kelas 11 dahulu, Naruto mendapatkan jalur prestasi di Universitas Tokyo.

Lagipula, Naruto memang sudah agak berubah. Ia tak lagi malas, nilainya pun membaik—bahkan nilai ujian akhirnya saja rata-rata berkepala delapan.

"Selamat,"

Senyum Naruto mengembang ketika Iruka memeluknya. Pemuda itu membalas pelukan dari sang paman yang sudah dianggap orangtuanya sendiri.

"Terima kasih—" Belum juga selesai mengatakan rasa terima kasihnya pada sang paman. Sapphire Naruto membulat ketika dari jauh menemukan Hinata yang tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala padanya dan kembali pergi menuju gerbang.

Gadis itu benar-benar terlihat ingin pulang.

.


.

Tingginya yang bertambah, potongan rambut cepak khas orang dewasa, juga pakaian formal yang dikenakan Naruto saat ini menunjukkan bagaimana kehidupannya berlangsung.

Lima tahun berlalu semenjak lulus dari SMA ini. Naruto mulai tumbuh dewasa. Panggil ia seorang pria mapan sekarang.

Belajar dengan giat saat menuntut ilmu di Todai, menyelesaikan masa perkuliahannya dengan tepat waktu dan menjadi sarjana. Bahkan langsung mendapat pekerjaan sebagai konsultan lingkungan. Membuat Naruto menjadi sasaran empuk godaan dari gadis-gadis angkatannya dulu yang sering kali meremehkannya.

"Naruto kau berubah jadi dewasa dan tampan,"

"Kudengar kau akan melanjutkan S2, ya? Kau mau akan ke mana? Di sini saja atau mengambil di luar?"

Hanya senyum penuh keterpaksaan yang bisa Naruto berikan pada mereka. "Iya, aku akan mengambil S2. Di sini saja kok. Omong-omong aku mau menghampiri yang lain dulu, ya."

Dengan segera Naruto menjauhi kerumunan gadis yang telah menjadi wanita dewasa itu dan menghampiri Sasuke yang menyesap koktail sambil memandangnya dengan tatapan mengejek.

"Jadi populer, eh?"

Decihan Naruto berikan, "Sialan kau, Sasuke. Dan kau bersembunyi ternyata." Melihat keadaan Sasuke yang tenang di pojok ruangan ballroom acara reuni. Membuat Naruto harusnya juga mengikuti si Uchiha tadi.

"Hn,"

Daripada menyesali terus, Naruto memilih untuk mengedarkan pandangannya. Mencari teman-teman dekatnya yang lain. "Di mana yang lainnya? Kau tidak bersama yang lain?"

"Paling sebentar lagi datang,"

"SASUKE-KUN!!!"

"Ck," Sasuke mendengus.

Dari jauh dua orang wanita berbeda warna surai dan beberapa lelaki di belakanganya menghampiri mereka berdua.

Tentu dua orang wanita yang meneriakkan nama Sasuke tadi ialah Sakura Haruno dan Ino Yamanaka, yang segera memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Sasuke, yang membuat pria Uchiha itu sakit kepala.

Naruto tertawa, membuat atensi kedua wanita itu teralih.

"Err—Naruto? Kau potong rambut?" Sakura yang menyadarinya lebih dahulu.

Selama lima tahun ini Naruto memang masih berkomunikasi via pesan singkat dan telepon biasa dengan teman-temannya. Namun, mereka tidak pernah bertemu langsung karena telah terpisah-pisah. Kecuali Sasuke yang memang satu kampus dengannya.

Sakura melanjutkan pendidikannya sebagai dokter di Korea Selatan, Ino mengambil jurusan tata busana di Perancis, Shikamaru yang berhasil mendapatkan beasiswa penuh Oxford di Inggris, dan Kiba yang melanjutkan pendidikan bidang seni di Osaka.

Mereka tak kalah dari Naruto.

"Iya, nih. Tampan 'kan?" Naruto tertawa.

"Lumayan, tapi masih tampan Sasuke-kun. Kau sudah punya pacar, Naruto?" Ino dengan segala keingin tahuannya.

Naruto menggeleng sembari melemparkan sebuah cengirannya, "Belum, nih. Ada yang berminat?"

Bukan sebuah bualan. Namun memang Naruto sama sekali tidak tertarik pada gadis manapun saat ini. Rasa sukanya pada Sakura akibat warna rambutnyapun kini sudah hilang entah ke mana. Bahkan Naruto sempat meragukan orientasi seksualnya sendiri. Untung saja, saat menonton film porno Naruto ternyata masih normal.

Mungkin kalau hidupnya selama lima tahun ini dibilang lurus, tidak juga. Nyatanya dia sempat bermain di kelab malam saat sedang stres akan kuliahnya, pernah menyewa beberapa orang wanita juga—tapi Naruto malah memilih untuk curhat saja pada mereka.

Perempuan yang paling ia cintai saat ini mungkin memang hanya mendiang ibunya saja. Itupun rasa cinta anak pada orang tua.

"Cih, jangan sok kau Naruto." Kiba datang dan mengambil koktail yang tersedia di meja sudut ruangan itu.

Naruto mengabaikan Kiba, karena jujur Naruto lumayan malas untuk berdebat saat ini. Ia lebih baik menyapa Shikamaru yang datang dengan wajah mengantuk.

"Oi, Shikamaru. Kau tetap seperti dulu saja ya, ttebayo."

"Memang aku harus apa? Mendokusai,"

Merekapun akhirnya larut dalam obrolan dan tawa akan kerinduan. Dan ruangan ini juga makin dipenuhi oleh para tamu undangan.

.

"Eh itu si sadako? Herodotus?"

"U-uh? Iya kah? Kok jadi cantik, ya? Dia operasi?"

"Agak lucu sih, dia malah pakaian formal begitu di saat kita yang perempuan pada pakai gaun pesta. Tapi kelihatannya dia itu diet, deh. Tubuhnya jadi bagus,"

Bisik-bisik para perempuan itu lumayan terdengar keras. Dan Naruto yang tengah mencicipi aneka hidangan kecil yang tersedia jadi sedikit terganggu. Namun, sapphirenya membulat begitu bertemu dengan sebuah pemandangan yang tersaji di sana, di dekat meja panjang yang di atasnya tersaji minuman tanpa alkohol yang ada di seberangnya.

Hinata Hyuuga. Wanita cantik bersurai indigo panjang itu mengenakan pakaian formal wanita daripada mengenakan gaun pesta seperti yang lainnya.

Wajahnya menjadi lebih dewasa, dan make up tipis juga terlihat di sana.

Dan tubuhnya,

Astaga walau dibalut kemeja dan jas—

—Naruto mengingat lagi mimpinya lebih dari lima tahun yang lalu. Sebuah mimpi yang menurutnya agak hina, tapi itu adalah sebuah mimpi yang wajib dimiliki oleh para laki-laki.

.


.

Naruto mencium bibir wanitanya penuh. Tubuh mereka kini penuh dengan peluh. Erangan dan desah wanita yang sedang menyatu dengannya ini membuat sang pria Uzumaki makin menggila untuk bergerak—melepaskan cairan kental yang ia miliki entah sudah yang keberapa kali, di tempat yang seharusnya.

Entah sudah berapa waktu terlewat, mereka seakan-akan belum puas. Lebih tepatnya, Naruto yang terlalu bersemangat menikmati tubuh wanitanya.

"N-naru—"

Dikecupnya lagi leher jenjang si wanita yang dipenuhi tanda kepemilikannya. "Hm?"

"A-aku—"

"—tunggu sebentar lagi sayangku, ini pelepasan terakhir dan aku janji ini ronde terakhir kita pula malam ini."

Dikecupnya dengan lembut pipi wanita itu.

Sama seperti beberapa tahun yang lalu.

.

Naruto terbangun dari tidurnya. Ranjangnya terasa seperti kapal pecah, sepreinya sudah tak lagi terpasang dengan benar.

Bau-bau khaspun menguar pula dari sana.

Menyibak selimut, Naruto baru menyadari bahwa ia hanya mengenakan celana boxer—itupun juga terpasang asal.

"Naruto-kun?"

Senyum Naruto mengembang. Dia menoleh ke sumber suara dan menemukan wanita cantik yang hanya mengenakan kaos kebesaran—milik si pria Uzumaki.

Dipeluknya wanita yang terlihat berantakan itu. Dikecupnya surai indigo milik wanita itu,

"Ohayou, Hinata."

.

.

end.

.

.

A/N : Judulnya memang terinspirasi dari lagu 48G; Gesu na Yume (Mimpi yang Hina)