#HappyBirthdaySakura2020
Mari kita melihat sejenak kepada melodi usang yang terus berputar dalam ingatan tentang hari ini. Kilas balik penuh syahdu tentang kisah sederhana; caraku yang membuatmu tersenyum, caraku yang melembutkan kedua iris kelam itu, dan ... me-musim semikan hati yang bersalju.
.
.
.
.
.
.
.
Ingatkah kau tentang hari ini?
.
.
.
.
.
.
.
.
Memory : In Our Dream
Author : Azizah Rielvn
Disclaimer : Naruto and all characters only belong to Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance
Pair : U. Sasuke x H. Sakura
Warning : (-) PUEBI, OOC, AU, Typo.
.
.
.
.
.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang itu, jalanan tampak lenggang. Hanya beberapa orang yang memaksakan diri untuk bertahan dari dinginnya salju yang semakin menyelimuti kota kecil ini, Konoha. Aku menggesekkan telapak tangan dengan cepat untuk menciptakan rasa hangat. Sudah sepuluh menit aku menunggu kehadirannya yang belum mengirimkan kabar. Akhirnya, beberapa umpatan kesal untuknya sudah aku ucapkan, sembari memeluk tubuh.
Lampu jalan menjadi tempat bersenderku guna mengurangi rasa pegal di kaki. Beberapa butiran salju berjatuhan mengenai helaian rambut pinkku. Aku rasa, pakaian musim dinginku tak berpengaruh apa-apa terhadap cuaca ini. Bahkan, embusan angin yang menerpa kulitku cukup membuat bibir bergetar tak karuan.
Argh! Kalau bukan dia yang meminta, aku tidak akan pernah mau melakukan hal semacam ini. Menunggu di tengah turunnya salju tanpa kepastian yang jelas.
Lagi-lagi aku mengumpat. Setidaknya emosiku sedikit keluar walau hanya sedikit. Meski jam sudah menunjukan hampir tengah hari, namun ... langit tampak berwarna keabuan.
Atensiku beralih ke cafe yang berada di seberang jalan. Ada sepasang pria dan wanita yang tengah asyik bercengkrama. Tawa keduanya seolah menjadikan dunia adalah milik mereka. Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
"Sakura," panggil seorang lelaki dengan suara yang tidak familiar lagi di telingaku.
Aku segera menarik atensiku kepada pemilik suara itu. "Kau lama."
Dapat kulihat rambut pantat ayam kebanggaannya terkena butiran salju. Embusan napasnya mengepulkan asap dingin. Lalu, detik selanjutnya Sasuke segera menggenggam tangan kananku. Dingin. Sama seperti sifatnya yang dingin.
"Ayo, aku tidak mau kita terlambat," ujarnya datar tanpa ekspresi sama sekali.
Aku menghela napas sebentar, lalu segera menariknya untuk berangkat. Sasuke menurut, dan akhirnya kami berjalan beriringan dengan kedua tangan saling menggenggam. Hangat dan nyaman. Aku suka dengan genggaman ini.
—OoO—
Setelah hampir setengah jam kami berjalan kaki di antara lebatnya salju, akhirnya kami tiba di rumah kecil. Letaknya tak jauh dari pusat kota, tapi sangat tersembunyi di balik rimbunan pohon—yang kini dedaunan pohon telah gugur dan menyisakan ranting yang telah diselimuti salju.
Tak ada yang berubah sejak terakhir kali kami ke sini. Lebih tepatnya, sejak perayaan ulang tahun Sasuke. Rumah kecil yang hanya memiliki dua jendela ini mampu menciptakan kenangan indah tentang diriku dan Sasuke. Mengingat tentang kenangan itu membuat bibirku mengulum senyum.
"Mau sampai kapan kau berdiri di sana?"
Suara berat milik Sasuke membuyarkan lamunanku. Sontak, aku segera menoleh Sasuke. "Ah, iya, Sasuke-kun. Ada apa?"
Sasuke sedang menggelar karpet berbulu abu-abu tanpa menjawab pertanyaanku. Akhirnya, aku memutuskan untuk segera menghampiri Sasuke setelah melepas sepatu. Sejujurnya, aku cukup malu karena tadi berdiri mematung tidak jelas di ambang pintu. Dasar pikiranku saja yang suka membuatku melamun.
"Kau sakit, Sakura?" tanya Sasuke. Kini, ia sedang berjalan menuju rak tua yang berisikan beberapa gelas dan piring.
"Memangnya kenapa, Sasuke-kun?" tanya balikku. Aku merutuki diri sendiri karena malah bertanya yang tidak penting.
"Hn?" Iris kelam itu fokus kepada gelas berwarna pink. Seperti sedang meneliti sesuatu, Sasuke terus memutar dan membolak-balikan gelas itu.
Aku tak terlalu menghiraukannya. Lalu, segera mengambil tempat duduk di karpet berbulu tadi sambil meluruskan kedua kakiku yang pegal karena berdiri dan berjalan cukup lama. Detik selanjutnya, aku kembali memperhatikan Sasuke dengan raut aneh. Kali ini, Sasuke sedang memperhatikan piring kecil berwarna pink.
"Apa yang sedang kau lihat, Sasuke-kun?" tanyaku penasaran.
Jarak kami tak terlalu jauh, hanya beberapa meter. Sasuke melihatku sejenak, lalu berjalan menghampiriku sambil membawa gelas dan piring pink tadi.
"Kau mau cokelat hangat?" tawarnya.
Aku langsung mengangguk. Sasuke segera mengeluarkan termos berukuran sedang dari tas punggungnya. Lalu menuangkan cokelat hangat itu ke gelas pink yang tadi.
"Ambil lah," ucap Sasuke sambil menyodorkan segelas cokelat hangat kepadaku.
Aku menurut, dan mengambilnya. "Gelas untukmu mana, Sasuke-kun?"
"Tidak perlu," jawabnya singkat.
Akhirnya, aku berinisiatif untuk mengambil gelas di rak tadi. "Aku ambilkan, ya."
"Tidak perlu," ujarnya cepat.
Keningku berkerut bingung. Lagi-lagi pikiranku mengatakan kalau Sasuke hanya ingin melihatku minum saja. Aku segera menggeleng cepat sambil berkata, "Aku tidak mau minum sendirian. Kau juga harus minum."
Sebelum aku bendak berdiri. Sasuke segera menahan tanganku. "Aku minum juga, Sakura."
Perlahan-lahan aku kembali duduk sambil memandang si pemilik wajah datar itu dengan bingung. "Minumnya pakai apa, Sasuke-kun?"
"Pakai termos ini," jawabnya.
Kedua mataku mengerjap tak percaya. Tawaku pecah seketika. Aku sedang membayangkan seorang Uchiha yang terkenal angkuh, dingin, menyebalkan, datar, dan inginku cakar itu minum dengan termos yang lubangnya cukup ... err besar.
Sasuke adalah Uchiha teraneh. Setahuku, seorang Uchiha akan lebih baik minum dengan gelas yang bersih, steril, mulus, dan mengkilat.
"Kau meragukanku?" tanyanya yang membuatku terkesiap.
"Ah, tidak-tidak, kurasa kau bisa minum dengan termos sebesar itu," ujarku sedikit menyindir.
Kulihat bibirnya menyungging sedikit. Ia segera menekan tombol berwarna hitam di termos itu lalu muncul lah sebuah sedotan. Lagi-lagi aku mengerjapkan kedua mata. Jadi, ini caranya untuk minum.
"Saranku, lebih baik minumnya menggunakan gelas saja, Sasuke-kun," ujarku.
Sasuke terdiam, lalu menatap termos itu sejenak dan beralih menatapku. "Gelas di sana berdebu. Aku tidak mau."
Oke, aku semakin menyadari satu hal. Sasuke tidak mau menggunakan gelas serta piring karena berdebu. Sedangkan, aku? Aku menggunakan gelas yang ada di sini untuk minum. Kau curang sekali Uchiha menyebalkan!
"Tenang saja. Aku jamin gelasmu itu bersih," ucapnya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Pada akhirnya, kami saling menikmati hangatnya cokelat dan suasana tenang di tengah lebatnya salju yang semakin dingin. Perlahan, Sasuke semakin menunjukkan sifat hangatnya kepadaku. Terkadang ia bercerita tentang beberapa masalah di kantornya, atau hanya sekadar menanggapi ceritaku yang terkadang bermutu dan tidak.
—OoO—
Kedua iris hijauku meneliti seisi gubuk ini. Foto-foto kebersamaanku dengan lelaki dingin itu masih terpajang, meskipun sudah berdebu. Sebingkai foto yang tergantung di sudut ruangan selalu membuatku tersenyum tidak karuan. Di sana terdapat Sasuke remaja yang tersenyum lagi setelah hampir dua belas tahun selalu menunjukkan wajah yang super datar tanpa senyuman. Aku sempat terkekeh geli mengingatnya, karena waktu itu tak sengaja aku lah penyebab ia tersenyum.
"Aku jadi ingin kau tersenyum seperti ini lagi, Sasuke-kun," bisikku sambil mengulum senyuman.
"Sakura?" panggil Sasuke secara tiba-tiba.
Sontak aku terkejut dan segera membalikkan tubuh untuk berhadapan dengannya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu," ujarnya.
Di luar, salju semakin lebat. Aku dan Sasuke memutuskan untuk menginap di sini. Lagi pula hari ini sudah malam. Beruntungnya kami, dulu kami sudah menyediakan peralatan tidur, lampu, dan beberapa perlengkapan lainnya. Jadi, kami tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu ingin menginap di sini.
Aku mengikuti Sasuke yang berjalan ke salah satu rak buku. Sampai sekarang pun aku tidak tahu, buku apa saja yang Sasuke taruh di situ. Aku sudah terlalu malas membaca buku sewaktu sekolah, dan ... sampai sekarang pun kurasa buku bukanlah salah satu kesukaanku sampai sekarang.
Sasuke menarik laci yang berada di bawah rak, lalu segera mengambil buku usang berwarna coklat tua. Di tengah buku itu terdapat cover bergambar sepasang laki-laki dan perempuan yang saling bergandengan tangan disertai senyuman lebar.
"Apa cita-citamu sekarang, Sakura?" tanya Sasuke sembari membuka lembar demi lembar isi buku itu.
Aku hanya menatap kegiatan Sasuke. Lalu, aku mengangkat kedua bahuku sebagai jawabannya dan berkata, "Aku tidak tahu, aku hanya ingin berusaha lulus sebagai mahasiswi terbaik."
Sasuke tersenyum tipis. Ia berhenti di salah satu halaman yang penuh dengan tulisan, dan itu menarik keingintahuanku.
"Apa kau tidak penasaran kenapa aku mengajakmu ke sini?" tanyanya dan pandangannya beralih menatapku. Iris kelam itu melembut, raut wajah Sasuke seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Kurasa kau sedang merindukan tempat ini, Sasuke-kun," jawabku seadanya.
"Anak pintar," ujarnya, dan mengalihkan lagi pandangannya ke buku itu.
"Ish! Kau ini ... selalu saja seperti itu, Sasuke-kun!" sungutku tak terima.
"Kemarilah," ucap Sasuke tanpa mempedulikan perkataanku tadi.
Aku segera berjalan mendekat ke arah Sasuke, dan ia segera menunjukkan buku itu kepadaku. Seketika, kedua mataku menatap tulisan itu dengan tak percaya.
[20 Februari ...]
[Sakura, apa cita-citamu?]
[Ingin terus bersama Sasuke-kun!]
[Bodoh! Itu bukan cita-cita namanya.]
[Terserah apa kata Sasuke-kun! Sakura menjawab apa adanya.]
[Baiklah.]
[Sasuke-kun?]
[Hn?]
[Kenapa tanggal ini selalu membuatku bahagia, ya?]
[Menurutmu?]
[Aku bertanya!]
[Aku menjawab.]
[Baiklah, kurasa aku tahu jawabannya.]
[Memangnya apa?]
[Tanggal ini kita dipertemukan sewaktu kecil dulu. Iya, kan?]
[Tidak juga.]
[Jadi, ada yang lebih benarnya?]
[Hn.]
[Apa itu, Sasuke-kun?]
[Tanggal ini adalah tanggal aku akan melamar seseorang.]
[Kau masih berumur 15, Sasuke-kun!]
[Kata siapa aku akan melamar orang itu sekarang?]
[Lalu?]
[Di masa depan aku ingin melamarnya di tanggal ini.]
[Hah? Sama siapa?]
[Rahasia.]
[Ishh ... kau ini! Lalu, kapan menikahnya, Sasuke-kun?]
[Segera, setelah aku diterima lamarannya.]
[Hah? Sama siapa, Sasuke-kun?]
[Rahasia.]
Aku segera menutup buku usang itu. Ternyata tulisan itu berisi surat-suratan konyolku dengannya. Seketika aku langsung tertawa mengingatnya. Sekarang, umur kami sudah menginjak 25 tahun. Artinya, sudah sepuluh tahun yang lalu kami melakukan hal seperti ini. Tapi, menit berikutnya, ada satu hal yang menjanggal di benakku. Dulu masih kecil, dan sekarang sudah dewasa ... tandanya Sasuke akan segera ...
"Sasuke-kun? Kau akan melamar siapa?" tanyaku tiba-tiba.
Kulihat ia menghela napas sesaat, lalu berkata, "Kau sudah ingat?"
Aku mengangguk. "Cepat katakan. Aku penasaran, siapa wanita yang akan kau lamar?"
Entah mendapat kekuatan dari mana aku bisa bertanya seperti itu. Antara sedih, jika Sasuke sudah memiliki kekasih, atau senang, karena akhirnya Sasuke bisa menemukan wanita yang bisa menemani hidupnya. Argh! Kepalaku jadi berdenyut nyeri karena itu. Begitu pula hatiku yang seolah patah jika Sasuke benar-benar telah menemukan tambatan hatinya selain ... denganku tentu saja.
"Kau ingin tahu?" tanyanya memastikan yang membuatku semakin penasaran.
"Iya, Sasuke-kun. Jangan mengatakan 'rahasia'. Harus jawab dengan jelas pertanyaanku" jawabku penuh penekanan.
Senyumnya terukir manis di bibir tipis itu. Jantungku semakin berdetak tak karuan entah kenapa. Padahal, jika wanita yang dinikahkan Sasuke bukan aku, tentu saja malu sekali. Aku berpura-pura seolah bersikap biasa saja. Aku tak mau malu sendirian di atas kesenangan Uchiha menyebalkan itu. Godaannya tak akan berpengaruh apapun. Sungguh!
"Wanita yang mempunyai cita-cita terbodoh karena ingin terus bersamaku," ujar Sasuke.
Mataku mengerjap tak percaya. Berulang kali otak dan pikiranku mengingat serta mencerna apa maksud yang dikatakan Sasuke. Perasaan itu adalah cita-citaku dulu. Cita-cita yang membuatku malu setengah mati jika aku mengingatnya untuk diriku yang sudah dewasa ini.
"M-maksudmu?" tanyaku meminta penjelasan.
"Selamat, Sakura. Cita-citamu terkabulkan," ujarnya tanpa menjawab pertanyaanku.
Malam semakin larut. Hari ini adalah hari yang tak terduga untukku. Aku tak menyangka jika Sasuke bisa mengatakan seperti itu. Sebelum kedua mataku benar-benar belum terpejam, aku terus mengingat perkataan Sasuke yang terus terngiang di kepalaku.
"Aku akan mengatakannya sekali dan ini adalah pertama kalinya untukku. Aku kira setelah membawamu ke sini dan mengingat memori lama kita di rumah kecil ini, kau akan mengharapkan jawaban dariku tentang perempuan itu. Ternyata tidak. Jadinya, mau tidak mau aku harus mengutarakannya sendiri. Aku ingin melamarmu lalu menikahimu. Mewujudkan semua cita-citamu di masa lalu tentangku, dan aku akan menjadikanmu bagian dari cita-citaku yang berhasil aku raih untukku di masa depan. Kau telah memusim semikan hati yang bersalju, Sakura. Aku mencintaimu, Sakura."
Entah mengapa kedua pipiku bersemu merah mengingat perkataannya itu. Dia sungguh Uchiha yang unik dan paling aneh, serta tidak ada romantisnya. Namun, ketika bersamanya aku merasa nyaman dan mengatakan bahwa aku ingin terus bersamanya.
Hatiku menghangat mendengarnya. Lalu, dapat kurasakan sekarang tubuhku sudah berada di dalam pelukan hangatnya. Mimpi terakhirku itu akan segera terwujudkan bersama dengan Uchiha yang sama sekali tak pernah peka. Betapa aku ingin mengutarakan perasaanku kepada musim semi nanti.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat datang dirimu di musim semi. Dinginnya kini telah berubah menjadi hangat. Lalu, berpadu dengan manisnya kelopak-kelopak bunga sakura bermekaran.
Memanjakan rasamu yang telah membeku dalam selimutnya salju. Kini, dirimu telah bebas, dan Sakuramu akan selalu bersamamu, dan menemani setiap musim berganti seraya mewujudkan mimpi-mimpi lama itu.
Bolehkah kuceritakan ulang tentang mimpi lama itu? Aku tak ingin ia usang dan terhapus dalam kenangan semu yang masih terbayang.
Untuk setiap tahun berikutnya, 'kan kita sambut bersama dalam takdir benang merah yang telah ditetapkan.
Cincin manis di awal musim semi telah melingkar indah di jari manisku. Sasuke seolah pangeran berkuda putih yang datang menjemputku dengan segala pesonanya. Cukup membuatku berdebar tidak karuan, seraya berharap denyut waktu berlalu dengan cepat.
"Jangan melamun." Suara milik Sasuke yang selalu menghantui pikiran membuatku tersadar.
"Cepat habiskan kuenya," ujarnya lagi.
Seolah mengetahui wajahku yang kebingungan dan pikiranku yang berlari kemana-mana. Sasuke berujar lagi. Sungguh, Uchiha kali ini sangat peka daripada sebelumnya.
Aku segera memakan kembali kue ulang tahun yang Sasuke pesan tadi.
"Hari ini ... aku ingin sesuatu," ujar Sasuke yang sukses membuatku menahan suapan kue berikutnya.
Bukankah yang ulang tahun aku? Tapi, kenapa Sasuke yang menginginkan sesuatu? Sedangkan aku sedari tadi tidak meminta hadiah apapun darinya.
"Ingin apa, Sasuke-kun?" tanyaku penasaran.
Sasuke terdiam sejenak. Iris kelamnya menatapku dengan sedikit ragu. Seperti ada sesuatu yang ingin ia jelaskan.
"Kau, Sakura," jawab Sasuke to the point.
Aku mencerna ulang keinginannya tentangku. Pikiranku yang selalu tidak karuan kembali menghantuiku. Uchiha ini menginginkanku untuk apa?.
"Maksudmu?" Aku bertanya lebih lanjut. Guna meminta penjelasan.
Aku benci pikiranku saat ini, dan aku tidak mau dianggap aneh oleh Uchiha menyebalkan itu. Apalagi mengingat statusku dengan Sasuke yang sebentar lagi akan menikah. Tidak mungkin jika ia tak memikirkan hal semacam itu.
"Aku ingin kau, Sakura," jawabnya to the point.
Oke, aku semakin membenci pikiranku sekarang. Sasuke benar-benar menginginkanku, dan kurasa indera pendengaranku masih berfungsi untuk tidak salah dengar. Aku merasakan keringat telah mengalir di pelipisku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Membayangkannya sudah membuatku geli dan merinding.
Satu hal yang harus aku ingat. Sasuke Uchiha adalah laki-laki normal yang juga membutuhkan asupan diri. Tapi, apakah harus secepat ini? Bisakah ia menahan setidaknya sampai menik—
"Jangan berpikiran macam-macam. Aku menginginkanmu untuk menemaniku membeli tomat segar hari ini. Kurasa jika bersamamu nanti aku tidak akan malu."
Rasanya untuk detik ini juga aku ingin mencakarnya.
"Uchiha sialan! Tak berperasaan!"
.
.
.
.
.
.
Setidaknya, untuk hari ini ... kau ingin mengatakan bahwa kau ingin bersamaku sepanjang hari kan, Sasuke-kun?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—Selesai—
Note:
Happy birthday, Sakura!
Terima kasih yang sudah membaca. Kritik dan saran aku terima dengan sopan, ya~ bijaklah dalam mengapresiasi karya.~
Love,
Rielvn
