Summary : Baekhyun itu sudah lelah dengan kehidupan sekolahnya yang selalu begitu-gitu saja. Hingga akhirnya seorang drummer band lokal datang merubah atau lebih tepat disebut merusak segalanya. "Pergi ga lo?", " Kalau gue gamau gimana?"

Main Cast : Byun Baekhyun - Park Chanyeol

Length : Chapter

Rate : T+

Genre : Comedy Romance, Yaoi


Put your hand in mine...

"Hadeh- bosen banget gue denger itu lagu tiktok."

Baekhyun mendengus, menatap malas Luhan yang bodo amat dengan keluhannya, malah lebih mengeraskan lagu yang ia putar. Kelas memang sedang sepi karena jam kosong, seperti mayoritas siswa sekolah lainnya yang jam kosong langsung lari ngibrit ke kantin. Hanya tinggal Baekhyun dan Luhan yang ada di kelas XI Sosial 2 ini.

"Matiin ga!?" sungguh Baekhyun muak denger itu lagu. Kalau sekali dua kali mah gapapa, ini sudah hampir 20 kali lagu dari Public berjudul Make You Mine itu di putar oleh Luhan. Memang lagu itu lagi booming-boomingnya, setelah banyak video-video yang menurut Baekhyun alay menyebar di tiktok dengan lagu itu sebagai backsound.

Luhan memutar kedua bola matanya malas, "Apa sih, Baek! Nikmatin aja elah, enak gini lagunya."

"Iya, awalnya enak tapi lo muter itu lagu berkali-kali. Enek gue lama-lama dengernya."

"Bodo amat."

"LUHAAAAN."

"Berisik gue lagi baca."

Baekhyun mengerucutkan bibir kesal mendengar suara Kyungsoo. Dia lupa dengan temannya yang satu itu karena diam saja dengan sebuah novel di tangan. Terlampau kesal dan juga karena mood nya sedang di titik terbawah, Baekhyun akhirnya bangkit memilih keluar kelas abai dengan panggilan Luhan yang bertanya mau kemana.

Helaan napas ia keluarkan lagi, sekotak susu rasa stroberi disedot perlahan. Hari ini merupakan hari terburuk dari hari-hari membosankan lainnya. Telat bangun karena bundanya ternyata pergi bulan madu dengan sang ayah, jajan yang dikurangi karena nilai ekonomi-nya menurun, lalu begitu ia yang tergopoh lari masuk ke dalam kelas ternyata satu harian ini jamkos karena ada rapat pembahasan pensi. Sungguh pengorbanan menguras tenaga yang sia sia. Baekhyun mendengus keras-keras membuat lubang hidungnya kembang kempis. Kesal dengan hidupnya yang sangat-sangat membosankan. Belum lagi saat salah memilih tempat untuk menyelamatkan telinganya, di sekitar taman belakang sekolah banyak sekali siswa yang pacaran menambah kekesalan saja.

"Pengen punya pacar..." ucap Baekhyun setelah mendaratkan tubuhnya di kursi sedikit jauh dari beberapa siswa yang mojok.

"Tipe lo yang gimana emang?"

"Yang tinggi, dada bidang, bibirnya harus tebal karena bibir gue tipis, terus punya lengan yang keras biar gue bisa gelantungan di lengannya." Baekhyun menutup mata membayangkan laki-laki idamannya sambil tersenyum.

"Gelantungan kayak monyet?"

Mendengar itu ia mendelik baru sadar jika ada orang yang mengisi bangku kosong di samping. "Mau gue deketin sama ajal lo, Dae?"

Jongdae tertawa keras menepuk bahu Baekhyun yang langsung membuat laki-laki bersurai pink itu meringis.

"Sakit goblok!"

"Punya lengan kekar biar bisa gelantungan, emang lo monyet suka gelantungan?"

"Gagitu anyink. Bodo amat gue lagi kesel."

Jongdae mengangguk masih dengan kekehan kecil. "Tiap hari juga lo kesel mulu elah," seplastik cilok diulurkan ke Baekhyun, "makan, gratis nih dari adkel yang naksir gue."

Hidung Baekhyun mengerut mendengar itu namun tetap mengambil cilok yang di kasih, "Yang naksir lo pasti punya telinga yang kuat dan mata yang rabun."

"Gini gini gue ganteng yes."

"Huwek banget. Ganteng tapi suaranya cempreng kek toa."

"Ngaca ngapa anjir?"

Baekhyun ketawa kecil melihat wajah kesal Jongdae. Langsung menusuk beberapa cilok dan mengunyahnya cepat. Cilok Mang Agus nih pasti, sedap bener.

"Btw gue baru ingat, lo kan sekretaris 2, ga ikut rapat?" tanya Baekhyun masih dengan menusuk-nusuk cilok, ia ingat perihal jamkos seharian karena rapat guru dan osis perihal pensi sekolah.

"Sekretaris dua."

Jongdae menyeruput es teh di tangan sambil memperhatikan ke depan lebih tepatnya siswa-siswa yang pacaran, mau dia tandain terus lapor ke Seungwoo Kabid Keamanan Sekolah. "Lagipula ada Sejeong yang jadi sekretaris satu."

Baekhyun ngangguk aja, dia itu males banget kalau udah bahas osis. Gumoh pake banget. Lebih tepatnya ke Waketos mereka si Sehun, enek dia lihat muka sok ganteng cowok itu.

"Masih gedeg lo sama Sehun?"

Baekhyun mengangguk, "Masih lah anjir. Gara-gara dia gue hampir di musuhin sama Luhan."

"Ya temen lo juga goblok. Mau aja bucinin playboy," ucap Jongdae sambil ikut menusuk cilok di pangkuan Baekhyun. Bumbunya berasa banget, bikin lidah lemes. Emang cilok Mang Agus yang paling top.

Membahas Sehun, Baekhyun jadi ingat lagi saat dimana ia dan Luhan marahan selama lebih seminggu karena Sehun yang gencar banget pepetin dia padahal udah jelas kalau Luhan naksir laki-laki pucat itu dari awal masuk sekolah. Gara-gara itu juga dia harus bujuk Luhan yang dibantu Kyungsoo buat jelasin kalau dia ga punya perasaan dan ga akan mau punya perasaan apa-apa ke Sehun si playboy cap ayam itu.

Hello~ Sehun ga masuk ke tipe cowok idamannya sama sekali, cuma tingginya aja.

"Luhan kan emang bulol."

Jongdae naikin alisnya sebelah mendengar sebutan aneh dari Baekhyun. "Apaan tuh bulol?"

"Bucin tolol."

Jongdae tertawa keras sampai beberapa penghuni taman merasa terganggu dan memilih pergi melanjutkan acara apel mereka.

"Receh lo anjir, Bebek Ungu."

"Anjir bebek karet kesayangan gue jangan di bawa-bawa."

Baekhyun bangkit meninggalkan Jongdae yang masih tertawa, emang itu pecinta bebek karet selera humornya rendah banget. Dia masih sayang sama telinganya buat ga dengerin suara tawa Jongdae yang cemprengnya sebelas duabelas sama klarinet Squidward.

Lorong sekolah ramai karena memang jamkos dan beberapa kali Baekhyun harus tersenyum menyapa orang-orang yang dikenalnya. Hingga saat ingin naik ke tangga menuju kelasnya di lantai 2 suara panggilan dari arah kanan membuat Baekhyun menoleh. Ada Kak Minseok gebetan Jongdae yang sampai sekarang ga peka-peka mau di kodein atau di gas langsung. Kasian temennya itu, udah jomblo ngenes lagi karena doi ga pernah peka entah terlalu polos atau mungkin lemot.

"Kamu mau ke kelas, Baek?"

Aduh, liat Kak Minseok emang suka adem bawaannya. Mana doi kalem banget terus sopan, senyum terus walau di ledekin lemot sekalipun. Emang malaikat punya batas kesabaran yang tak terhingga.

"Iya kak, kenapa tuh? Mau nitip ke Kyungsoo beli bolu kukusnya lagi?"

Iya Kyungsoo punya usaha sendiri, jualan bolu kukus buatannya sendiri. Galak-galak gitu doi punya jiwa chef yang handal, masakannya bikin orang lapar terus.

Minseok menggeleng, merangkul lengan Baekhyun dengan senyum manis. Membuat Baekhyun langsung celingukan tengok kanan-kiri, takut di pergokin Jongdae dan berakhir kayak kejadian Luhan.

"Engga, kakak mau minta tolong sama kamu."

"Tolong apa Kak Min?"

"Minta tolong tanyain kakak kamu ada ga temennya yang punya band atau kakak kamu punya band sendiri?"

Baekhyun mengernyit, mengingat sebentar. "Gatau juga sih, Kak. Entar deh pas balik aku tanyain Bang Yuto."

Minseok mengangguk senang, menepuk lengan Baekhyun pelan. "Thanks banget, Baekhyun. Nanti kakak chat ya buat lebih jelasnya."

"Sip, Kak Min."

Minseok pergi, Baekhyun langsung menaiki tangga menuju kelasnya. Karena jamkos seharian, para guru akhirnya memulangkan siswa lebih cepat. Baekhyun tentu aja seneng, dia mau menguras dompet abang satu-satunya yang paling nyebelin itu karena udah kalah main ps kemarin. Sekalian nanya yang diminta Kak Minseok.

"Jodohin Kak Minseok sama Bang Yuto seru kali ya?"

Baekhyun emang suka gitu kalau lagi gabut, pikiran absurd suka mampir ke kepalanya. "Eh jangan deh. Bisa-bisa di teror bebek ungu gue."

Setelah merapikan semua barang, Baekhyun langsung ngacir keluar kelas. Tanpa peduli pada Mina yang ngamuk karena ia lepas tugas piket lagi. Menguras dompet Yuto lebih penting saat ini.


Tin Tin

Suara klakson mobil di dekat halte bus tempat Baekhyun menunggu berhasil mengganggu konsentrasinya yang lagi pushrank freefire. Baekhyun langsung aja masuk ke kursi penumpang saat tahu jika itu mobil Yuto. Memakai seatbelt lalu duduk anteng dengan ponsel di tangan, nanggung dikit lagi pangkatnya naik.

"Bang ga lupa kan traktirannya?" tanya Baekhyun tanpa menoleh. Jempolnya lincah bergerak di atas ponsel bercasing dot bayi motif stroberi. Selera yang terlalu girly tapi itu pemberian bunda langsung jadi Baekhyun bisa apa selain terima aja.

Yuto mengacak gemas surai pink Baekhyun, "Iya elah. Dompet gue udah siap tempur nih."

Baekhyun nyengir, mengeluarkan permainan setelah squad-nya menang lalu beralih mengutak-atik mp3 player mobil Yuto memutar lagu Powfu-Deathbed lalu menghadapkan tubuhnya ke Yuto.

"Hanamasa ya? Pengen makan daging, Bang. Terakhir kesana kan ulang tahun ayah tahun lalu."

"Buset, mau nguras nyawa dompet gue lu?" Yuto menoleh menarik pipi tembem Baekhyun yang menggembung.

"Bang Yuto udah janji mau traktir ya!"

"Iya iya. Kuras aku sepuasmu seyenk."

Baekhyun tertawa keras berbanding terbalik dengan Yuto yang cemberut. Dalam hati berdoa semoga saja setelah pulang honeymoon ayahnya berbaik hati ngirim uang saku bulanan lebih cepat. Mati aja nanti dia ngajak doi jalan tapi ga di jajanin.


Baekhyun memanggang daging khas sapi itu dengan iler yang terus diusap dari sudut bibir. Ini sudah piring ke dua dan ia masih saja lapar. Pasti karena semalam ga makan karena ga nafsu liat bawang goreng di soto buatan bunda-nya. Baekhyun itu benci bawang goreng, karena bau-nya yang ga enak plus bikin mewek. Belum katanya bikin ketek bau, ogah banget dia punya wajah imut kayak boneka tapi ketek kayak supir angkot.

"Nih buat abang-ku tercinta. Di panggang dengan sepenuh hati." Baekhyun menyumpit 3 potong daging lalu meletakkannya di piring Yuto.

Yuto mendengus, menyumpit daging lalu melahapnya setelah mencelup daging ke dalam saus. Masih meratapi lembar demi lembar uang yang terbang dari dompet cantiknya.

"Btw Bang Yut, aku mau nanya."

"Apaan?"

Baekhyun menyuap beberapa daging lalu mengunyahnya semangat. "Ada temen Abang yang punya band ga?"

Yuto menaikkan alisnya, "Lo ga inget gue ngapain aja kalau tiap weekend?"

"Lah band Abang masih jalan?"

Raut wajah bodoh Baekhyun membuat Yuto kesal, melempar potongan timun yang tepat mengenai jidat mulus adik satu-satunya itu. "Masih lah anjir. Tega amat lo ngira band gue mati."

Baekhyun memutar kedua matanya malas, "Kan Abang sendiri yang bilang band-nya ga bakal aktif kalau udah lulus sekolah," bibirnya menyeruput es lemon sampai habis lalu melanjutkan, "bener kan?"

"Iye sih. Gatau tuh tanya aja drummer nya labil amat."

"Kenapa sama drummer bandnya?"

"Dia kan mau lanjut kuliah ke Jerman, tapi tiba-tiba gajadi karena katanya Jerman ga seenak yang dia bayangin. Terus, alasan keduanya karena mau move on dari pacarnya yang mutusin hubungan mereka gitu aja."

Baekhyun mengangguk, sebenarnya ia tidak mendengar dengan jelas perkataan Yuto. Perutnya kalau sudah kenyang punya efek samping yang membuat mata langsung berat alias pengen langsung merem di atas kasur.

"Trus dia milih balik ke sini ngeband lagi sama kalian?"

"Hooh. Yuk pulang, mata lu udah mau hilang gitu."

"Eum..hm ngantuk."

"Kebiasaan abis kenyang langsung tidur."

"Hehehe... Kakak gendong~"

"Gini ae sok imut lo bebegig."


Baekhyun menguap lebar, jam 10 pagi ia baru saja membuka mata. Ga ada bunda yang berteriak atau nyubit pipinya nyuruh dia bangun buat sekolah. Karena satu, ini hari libur dan dua ayah sama bunda-nya masih sibuk honeymoon. Baekhyun mendengus kalau ingat itu.

'Udah tua sok-sok an honeymoon.'

Kedua kakinya diturunkan dari kasur, Baekhyun bangkit sambil menaikkan sedikit piyama di bagian perut. Agak gatal di bagian bawah perut deket pinggul. Sambil menggaruk dengan wajah khas bangun tidur bahkan poni rambutnya yang masih diikat hasil karya Yuto semalam sebelum tidur-kebiasaan kecil Yuto yang suka iketin poni Baekhyun-dengan jepitan warna pink Baekhyun melangkah keluar kamar.

"Laper~" rengek Baekhyun.

Ia merasa jika rumah sedikit ramai, terbukti dengan suara gaduh di ruang keluarga tepatnya di depan TV tapi Baekhyun acuh, paling juga temen-temen abangnya yang suka ngerusuh kalau hari libur. Langkahnya semakin ia bawa masuk kedalam dapur, tangan yang tadi menggaruk perut sekarang berganti mengelusnya. Ia lapar setelah mencium bau wangi yang sedap dari arah dapur.

Di sana di depan kompor yang menyala ada sosok tegap berkaos hitam, posisinya yang membelakangi Baekhyun membuat ia tidak bisa tahu siapa sosok itu. Namun karena ia yang mengantuk dan perut yang semakin lapar membuatnya melangkah lebih dekat menyandarkan kepala ber apple-hair pada punggung tegap itu.

"Bang Yut, laper~" rengek Baekhyun sambil mengusel wajahnya pada punggung yang ia kira adalah Yuto.

Tidak ada jawaban membuat Baekhyun mengerucutkan bibir kesal, beralih menyelipkan kepala di antara lengan yang lincah menggoyang-goyangkan teflon. Sontak kedua bola mata yang menyipit terbuka lebar, kagum melihat atraksi masak yang hanya ia lihat di TV.

"Baru tau Bang Yuto bisa atraksi kayak chef gini," ucap Baekhyun sedikit takjub lalu mendongakkan kepala sambil tersenyum cantik yang perlahan menghilang berubah jadi tatapan kaget.

"E-eh...?"

Suara langkah kaki yang mendekat membuat dua sosok di depan kompor yang sudah mati itu membalik. Yuto yang tadi mencari adiknya buat ikut sarapan bareng kaget.

"Ngapain lo berdua!?"


Yuto menghela napas, rumahnya yang tadi ramai mendadak sepi tersisa 3 orang yang duduk dengan dua lainnya menunduk, sebenarnya hanya satu karena yang satunya tengah asik menggenjreng-genjreng gitar kesayangan Yuto. Acuh dengan tatapan tajam bak pisau samurai milik sulung keluarga Byun.

"Jadi?" tanya Yuto dengan suara khas seorang ayah yang menangkap basah anak perempuannya mojok di balik pohon.

"I-itu ga seperti yang Bang Yuto pikirin," ucap Baekhyun dengan wajah yang merah, masih malu dengan kejadian beberapa menit lalu. Dimana ia yang seenak udelnya memeluk temen abangnya yang lagi masak bahkan mengusel wajah penuh beler di punggung sosok itu.

"Emang gue mikirin apa?"

"Ya itu! Ih abang mah bodoamat, aku mau mandi."

"Woy jangan kabur lo bogel."

"Bodo!"

Mendengar kekehan dari sosok yang hanya diam membuat Yuto langsung melempar bantal sofa yang berhasil di hindari.

"Lo juga, Yeol."

"Sensi amat, Yut." Yuto menghela napas, memijit keningnya yang sedikit pusing. Matanya beralih pada Chanyeol, yang masih asik dengan gitar sambil tersenyum kecil menatap pintu kamar Baekhyun.

"Adek lo manis juga," ucap Chanyeol dengan senyum yang menurut Yuto mirip om om yang suka manggil diri mereka daddy.

"Ngomong lagi sendal gue nyampe ke muka lo nih?"

Chanyeol tertawa kecil, memetik senar gitar yang melantunkan melodi lagu lama, T.R.I.A.D - Selir Hati. Lagu yang akhir-akhir ini jadi sering ia putar setelah putus dari mantan yang sudah ia pacari 2 tahun ini.

"Kenalin ke adek lo dong." Chanyeol melirik Yuto yang diam dengan ponsel di tangan setelah lantunan gitarnya selesai.

Yuto yang mendengar itu mendengus remeh, "Gosah deketin adek gua kalau lo masih gamon."

Chanyeol memutar kedua bola matanya malas. Ia bukan gamon, cuma suka mengingat masa lalu aja. Ingatannya berlari ke beberapa menit lalu, saat ia yang sedang fokus memasukkan beberapa bumbu untuk nasi goreng terkejut dengan sepasang lengan kecil yang memeluknya erat. Bau stroberi dan vanila yang manis memenuhi hidungnya, aroma manis yang menenangkan. Chanyeol membiarkan sepasang lengan itu melingkar di perutnya karena ia suka dengan bau manis itu dan saat merasakan kepala yang mencoba masuk ke sela lengan membuat Chanyeol sedikit terkejut.

Manis

Imut

Lucu

Chubby

Chanyeol masih ingat dengan jelas wajah mungil itu yang merona saat ia tersenyum. Juga bola mata sipit yang langsung membulat mendorong punggungnya saat Yuto datang memergoki.

Yuto menaikkan sebelah alis melihat kelakuan aneh teman sekampus-nya itu, "Masih waras kan lo?"

"Yut."

"Apaan?"

"Kalau gua deketin adek lo boleh ya?"

- to be continued