Disclaimer: Hogwarts Mystery © Portkey Games.

Warning: Seting waktu awal tahun ke-6. Player Character berjenis kelamin perempuan; Asrama Slytherin.

.

.

.

Beautiful Dragon

Hanya sore yang biasa. Tidak begitu cerah, juga tak hujan seperti kemarin. Hari ini membosankan. Semua terasa biasa walaupun tadi ia berhasil membuat ramuan sleeping drought secara sempurna dan membuat Snape memujinya dengan kalimat yang tak terdengar seperti pujian. Setidaknya berkeliling-keliling lapangan quidditch seperti ini membuat sorenya sedikit segar. Meskipun tanganya mulai terasa kebas, tapi Charlie masih tak mau berhenti berkelok-kelok di udara dengan sapunya.

Selang beberapa saat setelah kembali dari putaran-putaran yang membuat tanganya semakin kebas, Charlie melihat sesuatu yang menarik di bawah sana. Sosok dengan rambut pirang panjang mengisi tribun yang tadinya sepi. Gadis berseragam Slytherin itu melambaikan tangan kearahnya. Dengan senang hati Charlie menghampiri gadis itu.

"Hai, Princess of Slytherin" Sapa Charlie.

"Hai juga, the Brother of Griffindor Prince." Sapa balik gadis itu dengan senyum miringnya.

"C'mon! Bahkan Bill sudah pergi dari Hogwarts. Griffindor Prince apanya." Ucap Charlie dengan bibir manyun yang dibuat-buat. Gadis itu hanya tertawa melihat reaksi yang memang diharapkanya.

"Sudah tidak bosan?" Tanya gadis itu seraya membantu Charlie melepas sarung tanganya untuk sedikit meredakan kebasnya.

"Lumayan. Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Charlie yang menyerahkan tangan dengan suka rela dipangkuan gadis itu.

"Aku sedang bosan. Jadi aku mau menonton orang yang lebih bosan."

"Jadi, sudah tidak bosan?" Charlie membalik pertanyaan itu seraya mengibas-ngibaskan tanganya yang sudah lepas dari sarung tangan kulit kesayanganya.

"Lumayan." Gadis itu mengembalikan jawaban Charlie. "Aku bawakan sesuatu." Si pirang itu menyerahkan sebotol kaca bening berisi minuman yang didalamnya terdapat beberapa potongan buah lemon dan stroberi yang melayang-layang.

"Thanks" tanpa pikir panjang Charlie membuka dan mulai meneguk minuman itu sampai tersisa setengah cairan dalam botol itu dengan potongan-potongan lemon jatuh didasar botol.

Charlie bergidik dengan raut wajah tak nyaman.

"Kenapa? Tidak enak?"

"Asam." Jawab Charlie polos.

Gadis itu tertawa lagi seraya mengelap dahi Charlie yang sedikit berkeringat mengunakan tanganya. Pupil Charlie bergeraj-gerak memperhatikan wajah gadis yang berjarak satu jengkal di hadapanya itu. Merasa diperhatikan, gadis Slytherin itu mengehentikan tawanya. Perlahan Charlie menarik tangan yang digenggamanya terasa kecil itu untuk berhenti mengusap wajahnya. Mata abu terang memandang Charlie dengan tanya. Charlie tau gadis itu sedang bingung dengan apa yang dilakukanya, tapi dia hanya menjawabnya dengan satu gerakan cepat melekatkan bibirnya dengan bibir seseorang dihadapan sebelum ada kata yang keluar.

Tak menolak.

Ciuman tenang yang seketika membuat tubuh Charlie terasa hangat ternyata berbalas. Setelah beberapa detik, gadis itu menarik tubuhnya untuk memisahkan diri. Canggung. Mereka hanya saling pandang untuk beberapa detik.

"Aku minta ma.."

"Asam." Celetuk gadis itu menyela pernyataan Charlie yang belum selesai.

"What?" Tanya Charlie. Meyakinkan dirinya atas apa yang ia dengar bukanlah sebuah penolakan atau penyesalan.

"Rasanya asam." Jelas gadis itu dengan senyum malunya. Dan tak ada nada penolakan disana.

"Sudah kubilang." Jawab Charlie seraya tersenyum dan menarik kembali wajah itu untuk melanjutkan apa yang mereka mulai.

Charlie menarik gadis itu keatas pangkuanya. Tanpa elakan, gadis pirang itu malah memposisikan tubuhnya dengan nyaman berada di pangkuan Charie, mereka saling berhadapan dengan tumpuan kedua lutut gadis itu menghimpit pinggul Charlie. Charlie meremas pelan pinggul dipangkuanya yang membuat pemiliknya semakin mengeratkan kedua lenganya di punggung Charlie. Bukan hanya jantung Charlie yang semakin berdebar, sesuatu miliknya juga membuat celananya semakin ketat, apalagi ditambah gesekan kedua paha dibalik rok bergaris hijau itu terus dirasakanya.

Shit! Hormon sialan!. Charlie merutuki dirinya dalam hati.

Ciuman mereka berhenti karena kebutuhan oksigen. Dengan nafas yang masih memburu, mereka tak mengalihkan padangan satu sama lain. Charlie yakin, pemilik mata abu terang dihadapanya memiliki perasaan yang sama denganya, antara ragu dan menginkannya. Namun, mereka sepakat untuk melanjutkan.

Dengan kompak mereka merekatkan kembali bibir mereka dengan tangan masing-masing bergerilya di balik rok yang membentang di atas pangkuan Charlie. Dirasakanya sepasang tangan berusaha membebaskan miliknya dari dalam celana yang terasa sesak, dan Charlie dengan gemetar namun tak sabar meraba bagian dalam pangkal rok itu untuk melengserkan apa yang dikenakan gadis yang diam-diam menjadi pujaan hatinya itu. Misi mereka berhasil. Tampak bagian bawah Charlie menyebul membuat gundukan yang tertutup rok dipangkuanya, di balik rok itu juga Charlie tak sepenuhnya manarik apa yang ada disana, cukup hanya membuatnya sedikit turun untuk membuka ruang. Mereka melepaskan bibir masing-masing, memberi jarak untuk saling memandang dan meyakinkan diri mereka masing-masing,untuk apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dengan perlahan Charlie membantu mengangkat pinggul gadis dipangkuanya untuk menemukan posisinya. Gadis itu juga membantu Charlie menemukan sasaranya.

Charlie mengeram merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya saat mereka berhasil bersatu. Dilihatnya mata abu itu menggelap, mulai berkaca-kaca dan perlahan terpejam. Bibir yang sedikit memerah itu tampak dipaksa tertutup dengan gigitan erat pada bagian bawahnya. Wajah cantik dengan garis rahang tegas itu mendongak menghadap langit dengan nafas tertahan. Memberikan pemandangan indah dihadapan Charlie berupa leher jenjang dan dada yang sedikit terlihat dibalik kemeja yang berantakan itu. Dan itu menjadi landasan yang tepat bagi bibir Charlie. Ia menghirup dalam-dalam aroma perpaduan mawar dan madu yang selama ini hanya bisa ia curi-curi saat berdekatan dengan gadis Slytherin itu.

"Mmmhhh…" Lengguhan lembut lolos begitu saja seraya meremas rambut merah khas keluarga Weasley itu.

Charlie memimpin setiap gerakan yang awalnya begitu lembut dan teratur, kini semakin tak terkontrol. Apapun yang mereka lakukan sekarang seperti tak terkendali lagi, hingga sesuatu di dalamnya serasa ingin meledak. Charlie tak bisa menahanya lagi, dan dirasakanya sesuatu mengalir di celananya. Basah. Pantas saja, separuh minuman di sampingnya tanpa sengaja tersenggol tumpah ketempat duduknya.

"Basah.." keluh Charlie seraya mengelap celananya dengan gopoh.


"What?" Tanya samar seseorang, yang suaranya tak terdengar asing di telinga Charlie. "Apanya yang basah?" Tanya suara itu lagi, yang kali ini Charlie yakin itu suara Jae Kim, teman satu dorm-nya.

Who? Jae?. Pikir Charlie merasa janggal.

Mata Charlie seketika terbelalak dari tidurnya ketika ia menyadari sesuatu.


"Jadi kau hanya mimpi basah? Hahahahahahha." Tawa Andre meledak mendengar cerita Charlie. "dan Jae memergokimu? Hahahahahah"

Andre memeluk erat perutnya yang mulai kram karena tertawa. Sedangkan Chalie hanya bisa menutup wajahnya dan menyesal telah menceritakan hal yang terjadi semalam pada Andre.

"Cepat beri Jae uang sogokan sebelum kejadian semalam menjadi cerita gelap yang dikomersilkan, hahaha" Andre tak berhenti mengejek.

"Shut up, Andre." Charlie mulai kesal. "yang kupikirkan bukanlah si Jae. apa istimewanya dengan mimpi basah, toh dia juga tidak tau siapa aku melakukanya."

"So? Apa yang jadi masalahnya sekarang?" Andre mengelap air matanya yang sedikit keluar karna tertawa tadi.

"Semua terasa nyata!" Charlie menghadap Andre dengan wajah serius. "Disini!" Charlie menujuk tempat duduknya sendiri, yang merupakan tempat duduk di tribun timur lapangan Quiditch. "Bahkan aku ingan semua detailnya, tanganya yang terasa kecil, tawanya, rambutnya yang sedikit kusut, sampai tahi lalat…di lehernya…"

"Ya?" Andre turut serius menunggu kelanjutan.

"Aaarrrgh! Sudahlah!" Charlie mengacak-acak rambutnya sendiri, pusing. Andre hanya geleng-geleng melihat tingkah sahabatnya itu.

"Asal kau tau, Dude. Semua mimpi basah itu terasa nyata. Maka dari itu disebut basah" Andre menepuk pundak Charlie.

Charlie hanya mendongak memandang langit yang mulai menguning.

Andai itu bukan mimpi. Batin Charlie, gila.

"Jangan terlalu berharap itu jadi kenyataan." Andre menepuk pundak Charlie untuk mendapat perhatianya. "Kau tau Avery dan Barnaby kan…."

"Hai kalian!" Sapa seseorang memotong pernyataan Andre.

Kini perhatian keduanya teralih pada sumber suara itu. Ternyata bukan hanya seorang, tapi sejoli.

"Hai Avery, Barnaby." Andre melambai riang kearah dua orang yang datang dari balik pintu tribun itu. Charlie merutuki nasibnya hari ini. Perasaanya tidak tenang melihat wajah cengengesan seseorang disampingnya itu.

"Darimana saja kalian?" Tanya Andre membuka obrolan pada dua orang yang kini berdiri dihadapan mereka.

"Kami barusaja membantu Hagrid memandikan Fang, kalian sudah lama disini?" Jawab Barnaby sekaligus kembali bertanya.

"Yeah, kita sedang ngobrol beberapa hal." Jawab Charlie berusaha membuat dirinya terlihat santai dengan sedikit menegakan tubuhnya.

"Kalian tampak membicarakan sesuatu yang serius tadi. Apa ada masalah?" Bukan Avery jika dia tidak jeli akan keadaan yang ada. Tapi kali ini Charlie melihat raut khawatir di kerutan alis Avery. Gadis itu tepat dihadapannya sekarang, persis seperti di mimpinya.

Holyshit! Kenapa aku harus mengingatnya lagi. Charlie menggeleng panic. "No, no, no. tidak ada apa-apa" jawab Charlie cepat. Kemudian saling bertatapan dengan Andre yang tengah menahan tawa. Charlie melebarkan matanya pada Andre untuk memberi ancaman agar tidak kelepasan.

Raut khawatir pada wajah Avery berubah menjadi penuh tanya.

"Whats wrong guys?" Avery tampak bingung. Barnaby hanya menganggukan kepalanya cepat tanda dia memiliki pertanyaan yang sama dengan pacarnya itu.

"Jelaskan saja, Dude. Sebelum Avery memakai legilimency. Hahaha." Goda Andre. Kali ini Andre tak bisa menahan tawanya hingga sikutan keras dari Charlie mendarat di dadanya. Andre semakin terbahak melihat sahabatnya itu salah tingkah.

"Jika kalian tidak mau cerita, terpakasa aku memakai ide dari Andre." Ancam Avery, tentu saja hanya bercanda. Tapi cara itu berhasil membuat Charlie semakin panik.

"Please don't!" Jawab Charlie setengah berteriak sangking paniknya. Ia tak bisa membayangkan jika Avery tau apa yang ada di isi kepalanya selama ini. Selain naga, ia sendiri menyadari bahwa dia terlalu sering memikirkan gadis itu. "Aku hanya…. hanya mimpi! Ya, cuma soal mimpi!" Charlie benar-benar bingung mencari alasan.

"Mimpi yang indah." Sahut Andre membantu.

"Ya.. indah, dan aku… suka." Sahut Charlie gagu.

"dan Charlie benar-benar menginkanya." Sahut Andre lagi.

"Ya.. tentang itu saja!" Sahut Charlie berusaha tenang.

"dan kau, Barnaby, pasti juga menginginkanya." Tambah Andre jahil. Charlie kembali menyikut dada Andre.

"Apa itu?" tanya Barnaby polos.

Charlie dan Andre saling padang lagi, mengatur strategi untuk jawaban selanjutnya.

"Mimpi basah."… "Naga!" Ucap Andre dan Charlie serentak.

"Maksudnya mimpi basah dengan naga," Sahut Andre menarik kesimpulan yang menurutnya terbaik. Sedangkan disampingnya, Charlie menepuk jidat dengan keras, wajahnya juga mulai memerah, malu. "Naga yang sangat cantik." Imbuhnya lagi.

Seketika Avery dan Barnaby saling pandang. Bingung. Lebih tepatnya, Barnaby memastikan respon Avery karena ini topik yang tidak nyaman untuk didengar perempuan. "Tenang saja, aku tidak pernah kepikiran ingin bercinta dengan naga kok." Ucap Barnaby tiba-tiba, berusaha meluruskan pernyataan Andre sebelumnya.

"You guys, so gross!" Celetuk Avery.

"Emm..dan aku tidak menyaka kau begitu terobsesi dengan naga," Jawab Avery hati-hati, dengan tidak nyaman tentunya.

"Begitulah,kadang imajinasi laki-laki memang seliar itu." Jawab Andre asal namun ia anggap sebagai penyelamatan.

Kali ini, Charlie hanya bisa menutup wajahnya erat-erat. Harga dirinya terasa menguap begitu saja.

-The End-

.

.

Setelah sekian lama, saya tak bisa menahan diri untuk mencurahkan cerita ini XD

Cerita ini khususon yang maen dan mengikuti alur Games Hogwarts Mystery. Terima Kasih sudah membaca, harap maklum jika banyak salah kata.