"Should have said hello

But

Does it matter

Is it worth it

Should we

Why bother

What for

What's the point

When we know that a goodbye is sulking, lurking, trailing not far behind?"

Ada banyak hal yang kusukai di dunia. Americano panas, cruffins, lemon cheesecake, morvalley, Audrey Hepburn, Cody Simpson, aroma buku-buku tua, udara bersih Seoul pukul empat pagi, halter-neck dress, koleksi tas Christian Dior, produk make-up Chanel, dan oh, stiletto, tentu saja—heel boots milik Schutz, ombre heel milik Louboutine dan milik Gucci yang berkilauan mempesona. Aku menyukai banyak hal, dan jika tidak menyukai (benci) aku pun tidak akan setengah-setengah. Misalnya, aku benci menunggu. Aku adalah tipe manusia dengan tingkat kedisiplinan tinggi-terimakasih pada Mum dan Dad yang telah mendidikku dengan baik. Aku tidak suka membuang-buang detikku yang berharga dengan segelas coklat panas di kursi nomor empat sambil menggelar pikiran dengan sejuta pertanyaan tidak penting seperti kapan dia datang atau apakah pekerjaan masih menahannya atau apakah dia terjebak macet yang praktis menumbuhkan satu cabang perasaan lain yang sebenarnya tidak perlu; cemas. Jonathan Estrin pernah berkata, "the way we spend our time defines who we are". Jadi begitukah jati dirinya yang sebenarnya?

Sudah kukatakan aku benci menunggu. Dan dia tahu. Sangat tahu, tentu saja. Dua puluh tiga bulan sudah status kekasih terpampang jelas di dahi kami dengan huruf kapital dan spidol merah.

Pertemuan pertama kami begitu sederhana. Di Belvia's Coffee, meja nomor empat. Saat itu adalah musim dingin dan aku hampir menangis frustasi karena kursi di kafe sudah diklaim oleh masing-masing individu yang juga mencari kehangatan di tiap tetes minuman panas dan roti lezat yang menguarkan kepulan hangat. Kim Kai si kasir yang melihatku berdiri putus asa di ambang pintu segera menghampiri dan menawarkan satu kursi di meja nomor empat yang salah satunya telah diisi oleh seorang pria asing, temannya. Aku tidak akan malu mengatakan bahwa aku terlalu tunduk pada keberatan-keberatan yang sedari sore diteriakkan oleh perutku yang menuntut cruffins dan americano. Kai mengantarku ke meja nomor empat dan kami praktis berkenalan. Pemuda itu asyik dan obrolan kami mengalir santai. Batinku memberi nilai 8/10 karena kemampuan partner semejaku atas keahliannya menuntunku menjauh pada lembah kecanggungan. Jika rupanya masuk kategori penilaian, batinku tidak akan segan-segan memberi nilai 20/10. Kedekatan kami terjalin begitu saja. Sangat sederhana. Kim Kai si kasir menjadi saksi saat dia akhirnya mememinta hatiku untuk diikat dengan miliknya, dan tentu saja kuterima—dewi batinku akan murka jika aku menolak—tiga bulan kemudian, di meja nomor empat. Musim semi tidak pernah semerah-muda ini sebelumnya.

Awalnya semua terasa menggebu-gebu. Hubungan kami dipenuhi semburat merah-muda lembut. Namanya Oh Sehun. Seorang general manager di sebuah perusahaan manufaktur. Dia adalah pemuda sederhana yang selalu memanjakanku dengan perlakuan-perlakuan istimewa. Biar kubuat buket bunga warna-warni yang setiap pagi diantar oleh asistennya ke kantor firma arsitektur tempatku bekerja oleh sebagai contoh. Jangan lupakan berlembar-lembar kertas bertulis tangan berisi pujian maupun rayuan yang selalu Sehun selipkan. Pria itu tidak suka literatur tapi selalu mengutip kalimat picisan Beethoven, Shakespare, Dante, dan pria-pria lain yang mampu menuang keromantisan mereka diatas lembar kertas dalam pena hitam. Dan aku tidak mengeluh.

Setiap akhir pekan Sehun akan mengunjungi apartemenku. Dia akan datang bersama tas belanjaan yang membungkus nama perancang terkenal. Pertanyaan dan pengingat makan siang tidak pernah absen. Semua begitu sempurna. Inilah jenis pria yang selalu diributkan dan diimpikan setiap wanita di seluruh belahan dunia. Walaupun dalam hubungan ini aku lebih banyak diam dan menerima, Sehun tidak pernah menuntut. Dia tahu aku bukan tipe wanita yang akan menjerit histeris dan menendang jauh-jauh malu dengan memeluknya di trotoar jalan saat Sehun menjemputku dengan buket bunga raksasa yang berisi seratus tangkai mawar merah sebagai peringatan seratus hari kami. Aku hanya menggelar senyum sebatas mata dan Sehun akan membuka pelukannya untukku. Saat Sehun membisikkan "i love you" dengan suaranya yang berat dan rendah, aku akan menempelkan bibirku di pipi kanannya. Begitulah cara kami mempertahankan bangunan kokoh bernama hubungan selama dua puluh tiga bulan.

Atau setidaknya begitu, sebelum dewi batinku memutuskan tidak lagi menyukai merah muda dan selalu mengganti gaunnya dengan warna abu-abu di setiap pertemuan kami. Apa kalian pernah merasa bosan tiba-tiba tanpa alasan spesifik? Percikan-percikan kembang api itu tidak lagi menyentuh perasaanku. Dan yang lebih gawat, kutipan-kutipan rayuan Sehun tidak lagi mengembangkan bibirku ke sisi luar. Pertanyaan 'apakah kau sudah makan siang' kian mencekikku. Aku tiba-tiba butuh bernapas. Aku harus menghirup udara—bukan Sehun.

Bukan Sehun.

Tandanya mulai kutinggalkan. Pesan teks yang kubalas seadanya. Awalnya lima belas menit, kemudian berkembang menjadi satu jam, satu hari, dan berakhir dengan tidak ada balasan jika bukan pertanyaan mendesak yang Sehun kirimkan. Rutinitas menginap di setiap akhir pekan berubah menjadi kunjungan singkat. Kuusir Sehun dari rumahku karena aromanya tiba-tiba seperih racun yang harus segera kusingkirkan. Aku muncul terlambat di meja nomor empat. Awalnya dua puluh menit, menjadi satu jam, dan akhirnya adalah hari ini. Aku membiarkan Sehun menungguku selama dua jam penuh.

Saat aku duduk di hadapannya, coklat panasnya tersisa seperempat gelas. Sehun telah menghabiskan delapan dari selusin cruffins. Dewi batinku tetap mempertahankan gaun abu-abunya saat Sehun menyunggingkan senyum lega atas kedatanganku.

"Apa kau terjebak macet?"

Itu dia. Aku terlalu mengenal Sehun dan begitu pula sebaliknya. Sehun akan menyungging senyum lagi bahkan jika aku mengiyakan, padahal lelaki itu tahu jalanan Seoul begitu lengang. Padahal lelaki itu tahu aku sedang mendustkan alasan yang menciptakan jalan pintas pada akhir hubungan kami.

"Iya."

Sudah kukatakan kami terlalu mengenal satu sama lain. Senyum itu menghangat di wajah tampan Sehun. Tapi tidak cukup panas untuk mencairkan gunung es yang dibangun dewi batinku.

"Aku sudah memesan cruffins dan americano untukmu."

"Terimakasih."

"Bagaimana harimu, Luhan?"

Bagaimana mungkin dua puluh tiga bulan membekukan gelenyar hangat itu saat Sehun menjilat namaku dengan sangat lembut?

"Aku mengetuai proyek baru. Desain interior sebuah gedung lantai empat belas."

"Wow, kau akan lebih sibuk dari seorang general manager." Sehun nyengir sebelum memasukkan cruffin ke dalam mulut kecilnya.

Aku tersenyum.

Memang selalu begini. Dewi batinku mungkin sudah menyiapkan gaun hitamnya berminggu-minggu lalu, tapi cengiran itu selalu berhasil membuatku mempertahankan gaun abu-abu.

Empat puluh menit berikutnya kami habiskan dengan obrolan kecil tentang hari masing-masing. Sehun bertanya ini-itu, menceritakan harinya dengan semangat sementara aku menjawab dan mengangguk singkat.

Dalam keadaan seperti ini, gelas americano lebih menarik perhatianku.

.

.

.

Arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku menunjuk angka sepuluh saat kami akhirnya melangkah keluar Belvia. Kim Kai si kasir melambai riang dari dalam dan Sehun membalas tak kalah riang. Mereka berdua tertawa-tawa setelah menyebutkan beberapa lelucon garing pria yang tidak kupahami. Lengan kanan Sehun kini melingkari pinggulku, menimbulkan sedikit perasaan—apa sebutannya, risih? tidak nyaman? Kami berjalan menuju mobil putihku yang terparkir rapi di pinggir jalan.

"Sehun." Itu bukan aku. Itu dewi batinku yang telah menyerah atas gaun abu-abunya.

"Hm?" Suara Sehun masih sama hangatnya dengan matahari di musim panas. Tapi aku dan dewi batinku telah menyelam di samudra Atlantik begitu dalam hingga matahari tidak lagi bisa membakar kami.

"Kita—kau tahu, akhir-akhir ini.."

"Ada apa, Luhan?

"Kau tahu gerimis, kan?"

Sehun mengangguk pelan.

"Kau adalah gerimis, Sehun." Matanya tidak dapat lebih berhati-hati atas kalimatku yang terjeda. "Dan aku payungnya."

Sehun adalah gerimis, yang mencoba menembus sebuah payung bernama Luhan. Kami bersama, tapi tidak pernah—tidak dapat menyatu. Kami saling menyentuh tapi tidak dapat membaur. Ada yang menghalangi, dan mungkin saja itu aku yang membentengi diriku sendiri tanpa kusadari. Aku tidak pernah benar-benar membiarkan Sehun sepenuhnya masuk ke dalam kehidupanku. Dia hanya ada.

Sehun memandangku lekat. Apa pria itu bernafas? Karena aku tidak bisa merasakan hembusan udara padahal wajah kami sedekat ini.

Senyum gelinya mulai terhampar, menampilkan gigi taring yang terletak di sisi berlainan. "Butuh dua puluh tiga bulan untukku mendengar seorang Luhan mengucap rayuan seperti barusan."

"Pulanglah. Hati-hati." Sehun mengusak pelan rambutku. Membukakan pintu mobil dan mengecup puncak kepalaku.

Saat tiba di rumah, ponselku bergetar. Pesan dari Sehun.

I can only either live wholly with you or not at all.

Oh continue to love me, never misjudge the most faithful heart of your beloved.

Ever thine.

Ever mine.

Ever ours.

Bagus, Ludwig.

Aku menghembuskan nafas panjang. Dewi batinku butuh mengistirahatkan lelah yang mendera.

.

.

.

Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih baik. Kesibukanku memimpin proyek memanjangkan jembatan antara aku dan Sehun. Oh, pria itu masih setia mengutus asistennya dengan mawar merah ke kantorku setiap pagi. Pesan-pesannya masih membuat gula termanis kehilangan percaya diri. Hanya saja ketumpulanku tidak lagi dapat diasah oleh keduanya. Semakin intens perhatian yang Sehun tawarkan, semakin berkeras dewi batinku atas gaun hitamnya. Aku butuh keluar dari kubangan bosan yang kian hari kian menarikku ke dasar, membuatku kehilangan kemampuan bernafas.

"Luhan."

"Kai, ada apa menelpon ke kantor?"

"Apa kau memiliki janji dengan Sehun hari ini?"

"Ah, benar."

"Hei, cepatlah datang. Apa kau tidak tahu Sehun sudah duduk sendiri selama empat jam?"

"Aku akan segera kesana setelah membereskan kubi—"

"Luhan.. Kalau kalian ada masalah, tolong selesaikan baik-baik. Jangan membuat seseorang membuang waktu sia-sia padahal kau sendiri membencinya setengah mati."

Aku tidak sempat pulih dari desisan Kai yang menamparku keras karena pria itu telah mengakhiri hubungan telepon kami secara sepihak. Otakku mulai memutar tuas yang berkarat, menyingkirkan dewi batin yang bersikeras untuk memperlebar jarak hubungan kami.

Kai benar. Ada apa denganku? Aku benci menunggu tapi malah membuat Sehun menghabiskan waktunya percuma.

Aku segera meraih mantel coklat yang berada di sandaran kursi dan berlari ke parkiran. Saat aku menghidupkan ponsel, kotak notifikasiku langsung penuh. Empat puluh tujuh pesan masuk dan tiga puluh dua panggilan dari Sehun. Kubuka salah satunya dan hatiku langsung pecah. Waktunya dua jam lalu.

Luhan, aku ingin pulang karena cuaca sangat dingin dan aku tidak memakai apapun selain kemeja dan jas tipis. Tapi kau tidak menjawab satupun telepon dan pesanku. Aku takut saat kau tiba tapi aku tidak disini.

Apa yang telah kulakukan?

Dua hari lalu Sehun menelponku dan membuat janji bertemu di Belvia. Dan aku mengiyakan. Saat mengingatnya siang tadi, batinku mendecih. Dia tidak lagi ingin melilitkan gaun hitam itu di tubuhnya—dia menutupkan gaun hitam pada hati, pada simpatiku.

Aku memacu mobil dengan kecepatan menakutkan. Saat tiba, mataku bersibobrok dengan mata Sehun melalui kaca bening yang membatasi ruangan itu dengan dunia luar. Aku menggigil. Bukan karena salju yang menghujani tubuhku, tapi karena kenyataan bahwa Sehun dengan setia menungguku selama empat jam di meja nomor empat.

Aku melangkah dengan terburu. Saat ini aku ingin menjadi wanita norak yang berlari ke arah prianya dan melompat dengan histeris ke dalam pelukannya. Kehangatan mulai menjalari perasaanku lagi. Gunung es itu telah mencair tepat saat salju menghujani bumi.

Aku menghampiri meja nomor empat dan bersiap melompat, tapi Sehun tidak membiarkanku melakukannya. Priaku menatap dengan hancur. Jemarinya saling bertautan.

"Kau akhirnya datang, Luhan."

"Sehun maaf, aku—"

"Aku gerimis dan kau payungnya."

"Sehun.."

"Aku mengerti, Luhan. Kau tidak dapat, tidak ingin ditembus. Seberapa keraspun aku menghujammu, kau adalah payung yang indah dan sempurna dan tidak akan pernah membiarkan tetesanku lolos." Suaranya yang biasanya jenaka kini begitu terluka.

Apakah itu air mataku atau air matanya yang menggenang dan mengaburkan pandangan kami?

Sehun bangkit. Gelas cokelat panasnya telah kosong sepenuhnya. Dan ada dua piring. Apa itu artinya Sehun telah menghabiskan dua lusin cruffins?

Perlahan, Sehun berjalan ke arahku. Aku tidak ingin melompat lagi. Aku ingin meringkuk di cerukan lehernya dan membaui aroma Sehun atau apapun. Apapun yang bisa kulakukan untuk menahan pria itu karena saat ini Sehun terus memantapkan langkahnya, melewati bahuku dan tidak berhenti untuk merengkuhku padahal aku menggigil dan mendadak kehilangan kemapuan menggerakkan tubuh. Aku ingin berbalik dan menahannya sendiri, tapi baik otak maupun batinku sedang shock dan kalut dengan pikiran-pikiran terburuk.

"Hei.." Itu bukan Sehun. Itu suara Kai si kasir yang mencoba mencegah entah Sehun yang melangkah keluar Belvia atau mencegahku untuk tidak menahan nafas lebih lama.

Suara jam yang berdetik tiba-tiba menjadi sangat jelas. Dan deru mobil yang dihidupkan membawaku kembali pada keinginan untuk melompat. Aku berbalik dengan tertatih-tatih dan menatap Sehun yang baru saja menstarter mobilnya melalui jendela kaca.

Aku ingin berlari tapi kakiku menjadi selembek agar-agar. Jadi aku duduk di kursiku di meja nomor empat. Membiarkan air mataku jatuh hingga ke rahang dan menunggu Sehun kembali dan menghapusnya. Apa Sehun tidak melihat? Ini pertama kalinya aku menangis untuknya—untuk hubungan kami dalam dua puluh tiga bulan terakhir. Mungkin sebentar lagi pria itu akan kembali dan mengejekku dengan cengiran paling menyebalkan.

Kemudian pikiran jahat itu kembali menghampiriku. Apa aku terlalu lama membuatnya menunggu dalam dingin padahal Sehun hanya dibalut kemeja dan jas tipis? Apa coklat panas dan cruffins kami tidak lagi menghangatkannya? Apa—apa sebenarnya Sehun selama ini hanya memberi kami waktu untuk mengembalikan percikan kembang api itu dengan mawar merah dan pesan manis yang selalu dia kirimkan? Apa—

"Luhan."

Kai si kasir berjalan mendekatiku. Ragu-ragu, dia menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua.

Tidak mungkin.

"Kalau kau memperhatikan, Sehun mengosongkan kafe ini untuk kalian malam ini."

Aku terhenyak. Bagaimana bisa aku tidak sadar bahwa tidak ada seorangpun selain kami bertiga? Bibirku bergetar.

"K-kai.."

"Dia hanya dikuasai emosi sesaat. Sehun sangat mencintaimu, kau tahu."

Aku mengangguk lemah dan meraih kotak beludru. Tanganku agak ragu sebelum membukanya.

Kai mendengus dan terkekeh bersamaan. "Norak sekali. Dia menyuruhku menaruhnya dalam americano-mu."

Aku tersenyum memandangi cincin putih yang memiliki hiasan biru. Sehun akan melamarku. Dengan pikiran itu, aku kembali ke rumah.

Aku ingin mengirim pesan teks untuknya tapi nyaliku terlalu kecut. Sudah berminggu-minggu aku tidak menulis pesan untuknya. Dan aku jelas tidak ingin menelpon karena yang akan terdengar hanyalah suara serakku yang bergetar.

Jadi aku kembali keesokan harinya ke Belvia dan memesan americano dengan sepiring cruffins. Tapi Sehun tidak datang. Dan aku masih belum menajamkan keberanian untuk mengirim pesan atau menelponnya. Hari itu tidak ada kiriman bunga ke kantor. Tapi aku tidak memperhatikan dan tidak peduli karena sudah sejak lama bunga-bunga itu berakhir di meja resepsionis alih-alih di mejaku.

Esoknya aku kembali lagi. Dan Sehun belum mau datang. Jadi aku terus kebali. Hari ketiga, keempat, kelima, keenam, dan seterusnya. Sehun tidak datang dan otakku mulai membuatku mengetikkan beberapa kata untuk kukirimkan ke email Sehun sebelum dicegah oleh si gaun abu-abu.

Aku terus menunggu. Dan Kai si kasir menjadi saksi bisu atas berlusin-lusin cruffins yang masuk dalam lambungku.

Kalau saja aku sedikit memperhatikan, sedikit mengecilkan ego batinku yang lebih besar dari planet Neptunus, maka aku akan mendapati Sehun yang merentangkan pelukan dan mendekapku hangat di pintu rumah tepat setelah aku menekan tombol 'call' pada nomor ponselnya.

Sehun hanya butuh aku meloloskan tetesnya.

.

.

.

Namaku Luhan Yoo. Aku adalah wanita dengan tingkat kedisiplinan tinggi—terimakasih kepada Mum dan Dad yang telah mendidikku dengan sangat baik. Aku tidak pernah terlambat satu kalipun dalam hidupku. Ah, pernah sebenarnya. Beberapa kali.

Aku terlambat datang ke Belvia di malam Sehun hendak melamarku. Aku terlambat merengkuh Sehun saat tubuhnya melangkah meninggalkanku. Aku terlambat mengirimkan pesan dan panggilan untuk permohonan maaf pada Sehun.

Segala keterlambatanku hanya berpusat pada Sehun. Oleh karena itu aku bertekad menebusnya. Aku selalu datang ke Belvia tepat pukul lima, menunggu Sehun kembali selama berhari-hari dengan americano panas dan sepiring cruffins di meja nomor empat. Aku benci menunggu, sebenarnya. Tapi aku akan menyerahkan seluruh penantianku hanya pada Sehun karena sejujurnya aku tidak tahu kepada siapa lagi aku harus memberikannya.

Aku menunggu dan terus menunggu. Beberapa orang di kantor terus mempertanyakan keanehanku bersikap dengan pulang tepat waktu pukul empat lima puluh. Mereka tidak tahu saja aku sedang menanti Sehun. Berhari-hari.. Tapi tidak masalah.

Karena Sehun telah datang.

Hari ini salju turun dan Sehun terlihat sangat tampan dengan mantel coklat muda selutut itu. Aku masih memberinya nilai 20/10.

Sehun telah datang.

Dan aku tidak tahu apakah ini air mata bahagia atau—

"Sehun! Lama tidak berkunjung dan kau semakin tampan saja." Itu suara Kai si kasir yang dapat kudengar jelas dari meja nomor empat.

"Aku akan sering berkunjung." Cengiran tercipta di pipi Sehun, membuat salju yang menutupi Seoul leleh sepenuhnya.

Aku telah kembali menghangat.

"Coklat panas dan cruffins?"

"Ya, tolong. Tiga porsi."

"Ah, tidak. Dua cokelat panas dan teh. Melati, jika ada. Istriku suka teh melati."

"Siap! Teh melati akan segera meluncur ke meja nomor sembilan."

.

.

.

Namaku Luhan Yoo. Aku adalah wanita dengan tingkat kedisiplinan tinggi—terimakasih pada Mum dan Dad yang telah mendidikku dengan sangat baik. Aku hanya pernah terlambat beberapa kali dalam hidupku. Semuanya tidak berhubungan dengan pendidikan maupun pekerjaan. Semuanya mengacu pada satu orang. Dan yang paling parah adalah saat aku duduk di meja nomor empat, jelas-jelas terlambat padahal aku secara disiplin datang pukul lima setiap hari selama tiga tahun.

Aku jelas-jelas terlambat dan hanya bisa meleburkan seluruh ego yang tersisa di atas americano hitam saat kulihat pria di meja nomor sembilan dengan riang menyuapi putranya cruffin hangat sementara wanita di sampingnya, yang mengenakan cincin perak dengan hiasan merah, menyesap teh melati dengan khusyuk.

Pria itu bahkan tidak menatap meja nomor empat. Padahal setiap sore selama tiga tahun seorang wanita selalu siap menunjukkan cincin perak dengan hiasan biru telah melilit jari manisnya dengan anggun.

.

.

.

HAHAHAHA APA INI APAAAA XD

DAHLAH GJ BANGET POKONYA T.T

Mohon kritik saran dari para hyung sekalian /.\

: kutipan payung dan hujan sepenuhnya milik Citra Novy (novel Satu Kelas)