Demon Slayer Belongs to Koyoharu Gotouge
.
A/N : Ikut meramaikan kapal GiyuuTan sebagai jimat dua kesayangan author semoga baik-baik saja waktu lawan Muzan. IYA SOALNYA YA GUSTI GA KUAT LIATIN SPOILERAN CHAPTER 200 AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAa /ngamuk. BIAR SAKIT HATINYA MAKIN MAKNYUS SILAHKAN BACA FANFIK INI. BUKTIKAN KALAU ANDA MASOKIS SEJATI /salah. Authornya belum baca komik, cuma berani liat spoileran karena kokoro rapuh. Jadi harap maklum kalo cuplikan canon di sini ga akurat.
Fanfik ini author persembahkan untuk Higashi-san, halooo. Pemantik anda di kolom komentar sangat ampuh.
Fanfik ini terinspirasi dari lagu Avenged Sevenfold - Afterlife. Kalau mau dibaca sambil didengarkan silahkan, chorusnya enak kok. Ga suka musik yang dumdum takdes berisik? Coba covernya Nash yang aselole syahdu banget akustiknya /apa. Kalau ga mau dengerin ya ga papa si author endors juga ga dapet duit.
Yosh, tanpa banyak cincong!
Happy Reading!
Tidak ada waktu, hanya ada ketenangan, dan cahaya. Terlalu banyak cahaya hingga membuat kulitnya bersinar begitu cerah, hampir transparan. Namun Giyuu tidak perlu merasa takut. Dia sadar, dia tidak sedang terluka di tengah pertarungan melawan Muzan.
Lebih dari itu, Giyuu berhasil melewati batas bagi yang hidup dan mati.
"Selamat datang di akhirat, Giyuu-san."
Giyuu mengenali suara itu sebagai Tanjiro. Sempat kaget, tapi tidak akan bertanya kenapa Tanjiro berada di sini bersamanya. Giyuu baru saja menyaksikan kilas hidupnya. Kakaknya dan Sabito. Mereka pergi menjemput kematian karena Giyuu, tapi mereka mengatakan hidup di akhirat begitu menyenangkan. Giyuu bisa lega, setidaknya.
Kini Tanjiro berdiri di depannya, mungkin ucapan terima kasih dan kalimat penyemangat agar dia tidak bersedih lagi akan sekali lagi terdengar. Kilas balik memorinya sudah sampai saat Tanjiro sekarat. Menemukan Tanjiro di tempat seperti ini adalah hal yang lumrah.
"Aku tahu apa yang akan kau lakukan," ujar Giyuu. "Tapi sebelum kau mengucapkannya, aku ingin berterima kasih padamu, Tanjiro."
"Giyuu-san bicara apa? Sabito-san dan Tsutako-san sudah menyampaikannya, kupikir itu cukup. Aku ke sini ingin membicarakan hal lain."
Tanjiro menggandeng tangan kanan Giyuu. Iya, tangan kanan yang dia pikir sudah putus itu kembali terpasang dan berfungsi dengan baik untuk menautkan jemari mereka. Tanjiro menuntunnya berjalan, entah ke mana. Giyuu tahu tempat itu hanya putih sejauh mata memandang, hanya berisi ketenangan tanpa perlu mencemaskan pintu keluar.
"Kau mengajakku ke mana, Tanjiro?"
Tanjiro tidak menjawab, malah tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan yang bebas. Giyuu mengamati wajah pemuda yang lebih muda. Seperti tangannya yang kembali tersambung, wajah Tanjiro juga kembali utuh berbentuk. Entah salah lihat atau tidak, Tanjiro di sampingnya terlihat lebih muda. Mungkin karena anak itu sedang tersenyum? Tanpa beban dan tidak perlu mencemaskan iblis seperti apa yang akan dihadapi? Semua sudah tuntas terbayar dalam tebasan terakhir katananya.
"Giyuu-san akan tahu nanti. Tempat itu … tempat di mana kita seharusnya tinggal."
Tempat di mana mereka seharusnya tinggal? Giyuu jadi bertanya-tanya apakah Tanjiro di sampingnya ini adalah ruh Tanjiro yang sebenarnya (seperti ruh Sabito dan kakaknya yang sempat datang berkunjung) atau hanya wujud amal baik yang sedang menuntun Giyuu menuju tempat di mana dia akan menghabiskan hidup abadi?
"Apakah kau adalah Tanjiro yang selama ini kukenal?" tanya Giyuu memastikan, membuat Tanjiro menghentikan perjalanan mereka. Yang lebih muda menatap Giyuu sedikit kecewa, tapi detik berikutnya memilih tersenyum. Begitulah Tanjiro.
"Aku adalah Tanjiro yang kau kenal, Giyuu-san." Tanjiro mengangkat tangan kanan Giyuu, lalu dia dekatkan ke pipinya, ke sisi wajahnya yang sempat hancur karena Muzan. "Kau bisa merasakannya?"
Memang benar sosok di depannya adalah ruh Tanjiro. Giyuu langsung merasakan dinginnya es saat pertama kali bertemu dengan anak itu, berganti menjadi musim semi saat Tanjiro mengajaknya menonton bunga sakura mekar di sebuah desa tempat mereka menjalankan misi bersama, berganti menjadi musim panas saat Giyuu mengajak Tanjiro berlatih di bawah air terjun, berganti menjadi musim gugur saat mereka menikmati teh hangat di halaman rumah.
Tanjiro melepaskan tangan Giyuu, dan pria itu menyayangkannya. Dia ingin merasakan memori itu lagi. Kilas balik tidak akan terasa sama seperti saat Giyuu mengulang kembali memori mereka berdua dengan cara menyentuh Tanjiro.
Giyuu menginginkannya lagi, tapi Tanjiro memundurkan langkah menjauh.
"Kau bisa memintanya lagi nanti, Giyuu-san."
Giyuu mengerutkan dahi tidak mengerti. "Nanti?"
"Ya, nanti … di waktu yang tepat."
Waktu yang tepat bagaimana? Giyuu, sekali lagi, mencoba untuk meraih Tanjiro. Anak itu tidak bergerak, tidak menjauh, tapi lantai putih di bawahnya seolah memberi jarak. Celah di antara mereka nyata, semakin lebar dan lebar hingga Giyuu menatap Tanjiro dengan penuh ketakutan.
"Tanjiro! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tanjiro tidak menjawab apa pun selain tersenyum. Tangannya melambai seolah menyampaikan perpisahan. Apa? Kenapa mereka harus berpisah? Bukannya mereka sama-sama sudah mati? Jawaban itu Giyuu temukan saat lantai putih berhenti bergerak dan mengantarkannya pada sebuah lubang hitam yang begitu dalam, atau mungkin tidak berujung.
Bunyi detik jam dan dentuman jantungnya sendiri adalah hal pertama yang Giyuu dengar. Waktu telah kembali, hatinya tidak tenang, dan hanya kegelapan yang bisa Giyuu lihat. Oh, atau itu terjadi karena dia masih menutup mata. Kelopaknya dipaksa terbuka, perlahan namun pasti.
Jam di dinding depannya, dan degup jantungnya yang begitu keras terdengar karena ruang perawatan begitu sepi. Tidak apa, toh Giyuu menyukai ketenangan. Dia hanya perlu menemukan cara menenangkan jantung.
Terbangun di sebuah ruang perwatan adalah kepingan mimpi buruknya. Tidak mungkin dia hidup. Dia sudah mati, setelah terbangun akan mencari Tanjiro yang asli. Mencari seseorang di akhirat tidak akan mudah, tapi Giyuu tidak peduli.
"Tomioka-san sadar!"
"Tomioka-san masih hidup!"
"Oh, Kami-sama!"
Keributan di luar sana bertambah, bertahan lama. Giyuu menunggu saat di mana dia terbangun di akhirat, tapi kesempatan itu tidak datang juga. Bahkan mimpinya semakin parah saat beberapa orang masuk dan menanyakan kondisinya saat ini.
"Aku … baik."
Pria di depan Giyuu menceritakan kejadian terakhir sebelum pilar air itu mengalami koma yang cukup panjang sementara wanita di sampingnya mencuri kesempatan untuk menyuntikkan sesuatu ke lengan Giyuu. Pilar air itu meringis merasakan ujung jarum menembus kulitnya.
Sakit.
Kenapa dia bisa merasakan sakit? Bukankah ini hanya mimpi?
"Hei," Giyuu memotong cerita pria di depannya. "Apakah ini mimpi?"
Pria itu mengedipkan mata beberapa kali, ragu ingin menjawab, tapi mata biru Giyuu menuntut jawaban secepatnya. "Ini bukan mimpi, Tomioka-san."
"Oh." Giyuu memainkan selimut yang menutupi pahanya. Hanya ada lima jari yang memainkan kain tebal itu. Lima sisanya entah ke mana, Giyuu tidak bisa merasakan mereka. Dia terlalu takut untuk melihat lengan kanan kemejanya yang menggelayut lemas. Lebih baik menanyakan sesuatu yang bisa memperbaiki suasana hatinya.
"Lalu, Tanjiro bagaimana?"
Anak itu pasti baik-baik saja, kan?
Tidak ada jawaban. Hanya tundukan dan wajah menyesal yang Giyuu dapat.
.
End
