Disclaimer:

Naruto dan semua karakter di sini saya pinjam dari NARUTO karya Masashi Kishimoto.


A/N:

Ini cerita gila, hasil ketikan random tanpa makna.

Hanya sebagai pelarian sementara, jauh membelok dari ide awal.

Jangan dihina! Kritisi saja! Ahahahaha


ForgetMeNot09

dengan

.

.

.

Padan

.

.

.

Kutatap dirinya, dia balik menatapku. Aku tersenyum padanya, ia menunduk malu. Aku tertawa, manis sekali gadis itu. Wajah putih yang merona kontras, rambut biru gelap yang panjang, dan iris matanya yang istimewa.

Ungu pudar.

Dia cantik sekali. Aku sampai tak bosan menatapnya. Biar saja kali ini tatapanku tak menderma balasan. Yang penting aku senang.

Lalu pada menit yang telah berlalu, aku menyadari, bahwa ia mencuri pandang tatkala aku beralih. Bibirku lantas menyeringai, oh nona muda itu nakal sekali. Aku yang tidak mau menolak kesempatan, tentu saja memandangnya lebih intens. Hampir tak berkedip jika saja mataku tak terasa kering. Aku tumpukan sisi kepala pada telapak tangan dan kembali menyeringai tipis, saat pandangan mata kami bertemu.

Dia merona.

Ya Tuhan, lucu sekali. Itu membuatku tertawa.

"Berhentilah mencari mangsa, Naruto!"

Kudengar ucapan sinis dari gadis di sebelahku. Aku melirik malas dan mendengus.

"Jangan mengganggu kesenangan orang dong Ino!" ujarku lalu beralih kepada minuman segar yang telah tersedia di meja.

"Sekarang saja kau bilang kesenangan, nanti ketika dia tahu siapa kau sebenarnya dan dia lari, kau baru memasang raut sedih, seharian."

Yang ini gadis lain di samping Ino. Gadis berambut merah muda yang omongannya sama pedas dengan Ino.

"Kau tidak membuat pernyataan lebih baik, Sakura!"

Aku jengkel setengah mati, sementara laki-laki di sebelah Sakura memilih diam dan oh tidak, sudut bibirnya tersemat seringai. Kendati tipis, aku bisa melihatnya.

"Tertawalah sepuasmu, Sasuke!"

Aku mengaduk-aduk isi gelas yang tinggal setengah. Kemudian kembali menatap ke arahnya. Sayang sekali Nona, gadis secantikmu sendirian saja di sana?

Detik selanjutnya pikiranku dibuat bungkam. Kulihat dengan mata nyalang, dua orang laki-laki mendekatinya. Mau apa mereka?

Hatiku laksana rontok saat melihat mereka tertawa bersama. Gadis itu bahkan terlihat ceria, menikmati setiap lontar kata dari sang kawan.

Aku jengah. Aku tidak suka jika ada yang menginterupsi kesenanganku. Apa lagi, dengan gadis itu rasanya hatiku sudah menyatu.

Gila? Mungkin iya, tapi feelingku tak pernah salah. Maaf, insting tepatnya.

"Belum apa-apa sudah cemberut begitu."

Kali ini sang Uchiha membuka mulut. Ya, meski lebih banyak diam, sangkala bersuara tak kalah menusuknya dibanding Sakura dan Ino. Aku tertawa kali ini.

"Kalian ini benar-benar."

Aku membuka tasku, mengambil kamera dan mengatur lensa untuk membidik gambar gadis itu. Segera kufokuskan padanya yang sedang tertawa di depan sana.

Cklik!

Aku mengernyitkan dahi. Gadis itu menyadarinya dan bukan hanya dia, tapi juga kedua temannya. Yang satu tak bisa kutebak ekspresinya lantaran kaca mata hitam yang dipakai. Yang lain memandangku sengit, sebelum memandang satu per satu teman-temanku. Oh aku tak suka ini, dia meremehkanku dan teman-teman? Rasanya perlu diberi pelajaran.

Saat aku berdiri, Ino menahan tanganku.

"Jangan macam-macam!"

Aku urung dan kembali duduk. Ya, mereka memegang kendali penuh atasku, sebab jika tidak, bisa jadi akan terjadi sesuatu yang berbahaya dengan aku sebagai tersangkanya.

Setelah duduk, aku menatap pemuda itu lagi. Ia sudah tidak menatapku, tetapi pandangannya terhenti pada gadis di sampingku.

Mungkin?

Aku menaikkan sebelah alis. Rasanya aku bisa merasakan sensasi dingin dari tangan Ino yang masih belum melepas pegangannya padaku. Aku menundukkan badan untuk menatap wajahnya. Benar saja, ia sedang merona.

"Kheh … kenapa kau Yamanaka?"

Sekarang giliranku yang tertawa mengejek. Ino terkejut dan menggelengkan kepala sebelum kembali fokus pada laptop di meja.

"Ti-tidak apa-apa."

Aku menyeringai. Kedua temanku yang lain mulai abai, mereka memilih menyibukkan diri dengan tugas kuliah.

Akhirnya aku memilih ikut dengan teman-temanku, dari pada harus menerima ejekan bahwa aku menumpang nama di tugas mereka. Kuperhatikan gadis itu juga seperti sedang mengerjakan sesuatu. Mungkin tugas kuliah juga.

Sesekali aku mencuri pandang lagi, dan saat yang selalu tepat teman laki-laki gadis itu sedang menatap ke arah kami, bukan, ke arah Ino tepatnya. Dan ketika aku menyeringai, laki-laki itu menatapku tak suka.

Aku sengaja mendekatkan diri ke Ino, bahkan merangkulnya. Gadis pirang itu menurut saja, atau tidak sadar lantaran terlalu fokus mengetik. Sekilas kulihat dari ujung mata, laki-laki itu memasang raut tak suka dan …

aku terkejut.

Dia menggeram?

Bahkan gigi taringnya terlihat memanjang.

Aku menaikkan sebelah alis. Apa dia itu? Monster? Lantas terkekeh dengan pikiranku.

Memutuskan untuk menahan diri, aku pun memutus urusan dengan laki-laki itu. Biarlah, nanti saja dibahas, terutama jika dia tertarik dengan Ino. Oh ya, mungkin kami bisa simbiosis mutualisme? Jadi aku bisa dekat dengan gadis itu.

-X-

"Kau harus siap Sakura," teriak Ino tidak tahu tempat.

Sakura sontak memukul lengannya keras, "Iya tahu, Bodoh!"

Baiklah, jika tetap begini pasti akan terjadi drama. Menghindari hal itu, aku menarik tangan Ino.

"Sudah, lanjutkan besok saja, aku ngantuk. Ayo Ino, kuantar pulang," ujarku.

Kami berpisah di halte. Aku dan Ino menunggu bus sedangkan Sasuke dan Sakura berjalan. Rumah Sakura cukup dekat dari kafe tempat kami berkumpul tadi.

Selama menunggu, aku lebih banyak mendengarkan obrolan gadis Yamanaka ini. Sungguh, gadis ini susah dihentikan ketika sedang berbicara. Bahkan untuk diriku yang notabene tukang bicara juga. Apa pun selalu ada topik, dia tak pernah kehabisan stok.

"Kalau tahu begitu kan aku tidak mau menolongnya," keluh Ino.

"Salah siapa, kan sudah kubilang Temari itu galak. Melebihi kau dan Sakura," candaku.

Saat suara kami saling beradu, aku mendengar tawa lain dari depan. Aku mengendus aroma yang sedikit kuat, lavendel dan … anjing?

Aku mengernyitkan dahi. Lalu sebelum menyadari keadaan, Ino mendadak berhenti berbicara.

"Kenapa kau?" tanyaku.

Gadis itu diam saja, tapi wajahnya merona merah. Ketika kembali menatap ke depan, barulah aku paham.

Rupanya gadis yang tadi kugoda dan kawan laki-lakinya. Weh beruntung sekali diriku. Keduanya terhenti dari perbincangan ketika mencapai halte dan menemukan kami.

"Kau?"

Laki-laki di hadapanku menggeram. Kubalas pula dengan geraman saat melihat tangannya menggandeng erat tangan gadisku.

Gadisku?

Yeah … sudah kutandai dia sebagai gadisku.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar tidak suka melihat mereka terlalu dekat.

"Ki-Kiba-kun."

Kudengar gadis itu memanggil kawannya. Ya Tuhan, suaranya lembut sekali. Ketika aku menatap penuh damba, laki-laki itu justru merentangkan sebelah tangannya di depan gadisku.

Oh dia mengajak perang?

Seketika emosi memenuhi pikiranku, mengabaikan panggilan Ino dan cengkeraman tangannya di lenganku.

Guratan di pipiku menajam, iris biruku berubah merah menyala, taringku mulai memanjang. Aku menyeringai, sudah pasti setelah ini mereka akan ketakutan dan lari. Well lalu secepat kilat aku akan menahan gadis itu, tentu saja.

Sayang, yang terjadi membuatku bingung. Bukannya lari, laki-laki itu justru menampilkan pemandangan yang cukup membuat Ino tercengang. Iris mata laki-laki itu memanjang dan sepasang taring mencuat keluar dari bibirnya.

Apa dia ….

"Na-Naruto …."

Aku menoleh, kulihat Ino sudah pucat pasi. Aku cemas jujur saja. Melihatku berubah mungkin Ino sudah terbiasa, tapi melihat orang lain berubah, aku tidak tahu.

"Kiba-kun …."

Dengan enggan aku menoleh lagi pada laki-laki itu. Dia menggeram … mau tidak mau aku juga balas menggeram. Sekarang dua gadis di samping kami terkesiap dan menahan napas. Jika pada awalnya aku dan laki-laki itu yang berusaha melindungi kawan, sekarang mereka berdualah yang sibuk menyadarkan.

"Kau pasti Uzumaki!" seru laki-laki itu dengan seringai melebar.

Aku pun tak mau kalah, jika dia menantangku, dengan senang hati aku layani.

"Inuzuka!"

-X-

Ganti Sudut Pandang

"Ayolah Inuzuka, kau tahu aku tidak akan berbuat kurang ajar."

"Tidak bisa Uzumaki. Kau serahkan dulu temanmu itu, baru kuizinkan kau mendekati Hinata."

"Cih! Aku tidak percaya padamu! Lihat wajahmu saja sudah menunjukkan tingkat kemesuman akut. Mana sudi aku menyerahkan Ino padamu."

"Hei! Kalau bicara ngaca! Kau pikir wajahmu tidak mesum?"

Keributan itu sungguh membuatku jengah. Apa-apaan mereka itu? Seenaknya saja tawar menawar dengan aku dan gadis ini sebagai objeknya. Dipikir kami ini barang dagangan. Sebenarnya aku masih ingin melihat pertunjukan ini lebih lama.

Pertunjukan?

Ya, lihat saja dua pemuda konyol itu duduk di bangku halte, sedang bersilat lidah dengan wujud sudah setengah manusia setengah yang lain. Aku tak bisa menahan tawa saat melihat sepasang telinga dan sehelai ekor berbulu milik mereka bergoyang-goyang dengan lucunya. Namun, ketika melirik jam tanganku, aku mendengus. Tepat ketika sebuah bus berhenti di depan kami.

"Namamu Hinata kan?"

Gadis di sebelahku mengangguk.

"Kau masih mau menonton mereka?" tanyaku sambil tertawa.

Gadis itu terkikik geli, "Kita pulang saja bagaimana?"

Aku mengangguk. Biar saja mereka berdua begitu sampai pagi. Yang jelas aku harus pulang sekarang, karena ini bus terakhir.

Sembari berdoa, agar tak ada yang melihat mereka atau dunia akan heboh.

.

.

.

Sudah kukatakan, ini absurd XD