disclaimer © Animonsta Studios
warning AU!Future, semi-islami, siblings!HalilintarTaufan, mualaf!Ying, fiancee!HaliYi, slightpair marriage!TauYa, OOC, salah tag genre, miss EBI, typo(s), plotless.
submitted to #DailyDrabbleChallenge Day 3 dengan tema "Belanja Bulanan".
prompt by Furene Anderson

["Dorongin aku naik trolly."]

["Emangnya kamu umur berapa?"]

cakaran A/N trus terang Edel gatau kesambet apa nulis ini hshshs maafkan Edel, Kak Fur, prompt-nya sulit buat Edel :"D dan oh ya, karena sebenarnya Edel bukan muslim, hal-hal di sini Edel kutip dari referensi teman. Kenapa bisa jadi ke islami? Karena Edel mau mencoba mempelajari agama lain, bukan bermaksud sok atau sebagainya. Jadi kalau misalnya salah atau ada pihak yang tersinggung, segera beritahu Edel, oke?


Kalau Halilintar dilema, dahinya akan mengerut seperti kondisi botol saus akhir bulan. Bola matanya tak akan pernah berhenti bergulir, mengawasi hal yang membuatnya kalut bak elang yang mengincar mangsanya. Jika saja Halilintar peduli pada situasinya saat ini, maka dia akan menyadari kalau seorang pramuniaga memandanginya penuh curiga, mengiranya sebagai seorang teroris yang mau bunuh diri dengan mengebom supermarket.

Sebenarnya tidak mengherankan, karena perlu diketahui bahwa Halilintar sudah bergeming selama hampir separuh jam. Taufan lelah menanyakan kapan kakak sulungnya itu bisa mengambil keputusan. Ying masih sabar menunggu, menanti tunangannya yang masih melakukan ritual mengambil dan mengembalikan sampo pada tempatnya.

Sampo yang diambil pertama kali adalah merk yang biasa dipakai Halilintar, sementara sampo kedua adalah merk baru tapi dengan harga yang lebih murah ditambah promo gratis satu. Lalu Halilintar kembali mengambil sampo pertama, meletakkannya, kemudian mengambil sampo kedua, ditaruh ke tempat semula, akhirnya membawa sampo pertama ke dalam genggaman lagi, mengulang siklus yang membosankan. Isi pikiran Halilintar terbagi dua, antara ingin memuaskan dirinya atau lebih memilih menghemat uang bulanan.

Sudah jelas, Halilintar galau.

"Eh? Kakak Halilintar belum memilih juga?" Suara Yaya terdengar. Kedua tangannya mendorong troli belanjaan. Kebanyakan isinya adalah barang-barang dapur, termasuk bahan-bahan membuat kue. Yaya punya kebiasaan membuat biskuit sejak zaman sekolah dasar yang legendanya mampu mengantarkan siapa saja ke akhirat bebas biaya pendaftaran. "Ying, kamu tidak belanja dulu? Sambil menunggu Halilintar memilih."

"Pegangan trolinya digaet Halilintar," jawab Ying dengan muka masam.

"Yaya, kamu temani Ying di sini, ya? Biar aku yang mengantre di kasir." Taufan segera mengambil alih troli belanjaan sang istri sambil mengedipkan sebelah matanya. "Aku tidak rela istriku bersentuhan dengan orang lain."

Yaya terkekeh pelan. "Bisa saja. Bilang saja kalau kamu bosan menemani Kakak Halilintar dan Ying."

Taufan tidak menjawab dan langsung bergegas mendorong troli memasuki salah satu area pembayaran, meninggalkan Yaya bersama kakak ipar dan sahabatnya.

"Umm ... Ying," panggil Halilintar ragu. "Menurutmu, yang mana yang harus aku pilih?"

Terkejut dengan Halilintar yang tiba-tiba menanyakan pendapatnya, ada jeda sebelum Ying menjawab, "Ya-Yang kamu suka sajalah! Pilih saja satu, kita belum belanja apa-apa lho!"

"Tapi yang merk ini lebih murah, ada bonusnya."

Seorang Halilintar takluk dengan barang bonusan? Ying nyaris melongo tak percaya kalau tak ingat tempat. "Ya sudah, kalau begitu yang itu sajalah!"

"Tapi aku sukanya yang merk itu."

"Haiya!" Aksen Cina milik Ying keluar. "Kamu belanja lebih lama daripada cewek!"

Suara Halilintar naik satu oktaf. Pemuda itu memang sangat cepat tersulut emosinya. "Kalau mau cepat, kamu harusnya membantuku memilih, dong!"

Ying menelan member card.


"Ying, turun dari troli. Kita harus belanja buat orangtuamu sesuai rencana awal."

Ying menggembungkan pipinya, ngambek. "Dorong troli dan aku sekaligus."

Halilintar mendecak sebal. "Sadar umur, tolong. Atau kamu sudah tidak ingat umur? Jangan bertingkah seperti anak kecil."

Dikatai begitu, Ying justru makin berniat untuk mogok bergerak. Yaya yang menyaksikannya bingung harus berbuat apa.

Sebenarnya Halilintar kuat-kuat saja mendorong troli itu bersama Ying, tapi tubuh Ying otomatis membuat jumlah barang yang dapat dimasukkan ke dalamnya semakin sedikit. Mereka punya niat awal menemani Taufan dan Yaya berbelanja untuk satu bulan, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan bulanan orangtua Ying. Saat melintasi rak-rak sampo, Halilintar teringat kalau samponya sudah habis. Melihat tulisan promo, Halilintar tak bisa berhenti memikirkannya yang berujung dilema.

Dasar pikiran mantan anak indekos.

"Ying, maaf ya. Ucapanku mungkin kasar sama kamu," tutur Halilintar. Sejutek-juteknya dia, Halilintar tak bisa melihat wanita—terlebih lagi yang dia amat cintai—cemberut seperti itu.

"Kamu megang troli selama setengah jam, sementara kamu sama sekali tidak pernah memegang tanganku!" Masih bersikukuh diam di dalam troli, Ying melipat kedua tangannya di depan dada. "A-A-Aku mau juga!"

Ying, dua puluh empat tahun, cemburu dengan susunan logam bernama troli.

Yaya segera menjelaskan, "Ying, mungkin karena kamu belum terbiasa dengan hukum Islam, kamu tidak tahu kalau sebenarnya laki-laki tidak boleh menyentuh wanita."

"Jadi makna tunangan itu apa, kalau tidak ada bedanya dengan pertemanan biasa?" tanya Ying sebal.

"Itu adalah tanda bahwa kau akan menjadi milikku. Kita hanya perlu melewati satu langkah lagi, yaitu pernikahan." Kali ini Halilintar yang menjawab. "Jika aku menyentuhmu sebelum hubungan kita sah sebagai suami-istri, apa bedanya aku dengan laki-laki tidak bermoral? Itu hanya akan membawa hubungan kita ke arah yang lebih buruk."

Tersadar akan perilakunya, Ying segera mengucap, "Astaghfirullah. Maafkan aku."

Mengulas senyum, Halilintar berujar lagi, "Ah, sayang sekali aku lupa memfoto ekspresimu tadi."

Ying mendadak khawatir. "Sejak kapan kamu jadi seperti Taufan?"

Menonton dialog antara Halilintar dan Ying, Yaya tertawa kecil. "Kalian berdua sudah berubah total dari sekolah dasar, ya."

"Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat, Yaya," tanggap Ying dengan kecepatan bicara tak tertandingi, memang sudah kebiasaan.

Suara Halilintar kembali terdengar. "Sekarang, turun."

Tadi disayang-sayang, sekarang dibuang.

"Biar saja. Dorong trolinya, cepat. Kasihan Yaya sama Taufan menunggu, tuh."

"Kamu yang membuat mereka menunggu."

"Haiya! Kamu milih sampo sampai setengah jam, betah pula sambil megang troli!"

"Tunggu bulan depan, ya."

Ying menekuk alis. Kok jawaban Halilintar tidak nyambung? "Hah?"

"Bulan depan. Habis ijab kabul. Setelah itu, baru kita boleh pegangan tangan."

Wajah Ying dengan cepat memerah seperti lobster kukus. Ying benar-benar kehabisan kata-kata sekarang. "A-Ah ...!"


tamat


~himmedelweiss 28/03/2020