heaven's feel

Sanemi x Kanae; didedikasikan untuk Sanekana Week hari ke-1 (setsunai)

Koyoharu Gotouge adalah kreator asli Kimetsu no Yaiba

Saya hanya meminjam dan tidak mengambil keuntungan apa pun selain untuk bersenang-senang dan menambah asupan.

Peringatan: typo(s), berpotensi out of character (menyesuaikan plot), headcanon

.

Adalah aroma bunga wisteria yang pertama kali Shinazugawa Sanemi rasakan kala kelopak matanya terbuka. Terdengar suara merdu seorang perempuan menyelinap masuk ke dalam rongga telinga. Perempuan itu bersenandung. Lirik yang ia ingat, tetapi tidak dengan si pemilik suara.

Aku berikan bunga paling cantik untukmu perempuan cantik yang duduk di tepi sungai

Aku bertanya, sedang apa kau di sini?

Kau berdiam diri sambil menyisir rambutmu

Angin, angin, datanglah padaku

Angin, angin, ceritakan padaku

Sanemi merasa tidak asing. Kehangatan dari setiap kata yang diucapkan oleh perempuan itu. Membuatnya hampir meledak. Namun, tidak membuat langkahnya terhenti untuk mendekati sumber suara. Karena rasa penasaran yang sudah di ujung kepala, membuat Sanemi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Hanya putih warna yang ia lihat. Berpendar dan silau menusuk mata. Sanemi pikir, luka di matanya mungkin sangat parah sehingga penglihatannya semakin memburuk. Hanya suara itu yang menuntunnya untuk terus melangkah.

Angin, angin, datanglah padaku

Angin, angin, ceritakan padaku

Dengan terseok-seok, ia sampai di ujung jalan. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya punggung seorang perempuan tengah berdiri dengan rambut hitam panjang yang digerai. Helaian rambutnya diterbangkan oleh angin dari arah timur. Sanemi tanpa ragu menepuk bahu perempuan itu.

"Kochou ..." Wajahnya terlihat terkejut melihat Kanae Kochou—rekan sesama Pillar yang telah gugur—berdiri di hadapannya. Ia tersenyum masam sembari berkata, "Jadi aku sudah mati, ya?" Kemudian, melirik sekilas senyum Kanae yang terlihat menawan.

"Shinazugawa-kun, kau sudah berjuang," ucapnya seperti sebuah bisikan. Aroma wisteria semakin kuat dan membuat dada Sanemi sesak. Ingin rasanya ia menangis detik itu juga.

"Kochou, aku—" Sanemi mulai terisak. Tubuhnya terasa lemah dan ambruk di pelukan Kanae. "Maafkan aku."

Dengan kelembutan pada jari-jarinya. Kanae mengelus pelan punggung Sanemi. Ia bersenandung seperti seorang ibu yang berusaha menenangkan bayinya yang ketakutan. Tanpa sadar, Sanemi hanyut dalam belaian itu dan pakaiannya tidak lagi kotor penuh darah. Penampilannya kembali menjadi bersih seperti saat hidupnya belum mengenal iblis dan pertempuran.

Angin, angin, ceritakan padaku

Angin, angin, ceritakan padaku

Angin, angin, ceritakan padaku

Kanae mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Sanemi yang turut bersih tanpa luka. "Shinazugawa-kun, sekarang sudah saatnya kita pergi."

Kemudian, menggenggam tangan Sanemi tanpa ragu dan mereka berjalan beriringan. Kali ini, Sanemi tersenyum dengan tulus dan mengikuti langkah Kanae menuju pendar lain dengan aroma wisteria yang semakin kuat. Ia juga bisa melihat warna lain selain putih. Membuat hatinya semakin menghangat secara tiba-tiba.

"Kochou, sekarang aku tahu warna bola matamu." Genggaman itu menguat. "Mulai sekarang, aku ingin selalu melihatnya."

The end