Sweet Chaos
.
.
.
"Geeem! Temenin aku belanja bulanan, yaaah?"
"Eh?"
"Pretty pleeease? With sugar on top?"
Dan ketika Hanna melancarkan kitty eyes no jutsu, Gempa pun dibuatnya mati kutu.
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)
Cover fanart oleh Fanlady.
Fanfiction "Sweet Chaos" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
AU. GemHan. Untuk #DailyDrabbleChallenge. Maybe OOC.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
Libur akhir pekan.
Gempa sudah berdiri di depan minimarket terdekat dari rumahnya pagi-pagi sekali. Belum juga jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan. Biasanya dia tak pernah pergi berbelanja sepagi ini. Tapi kalau ada seorang Hanna yang minta ditemani, tentu ceritanya lain lagi.
"Heee ... Hanna udah bisa modus sekarang? Ecieee~"
"Jangan samakan Hanna denganmu, dasar Kipas Angin Rusak. Palingan Gempa mau dijadiin kuli buat bawain barang belanjaan yang seabrek."
Gempa terkekeh sendiri, teringat kata-kata kedua kakak kembarnya, Taufan dan Halilintar, ketika dirinya berpamitan hendak berangkat. Apa pun itu, mana bisa Gempa menolak permintaan tolong dari gadis manis sepupu tetangga sebelah? Sejak kecil mereka semua selalu bermain bersama, belajar bersama. Dan makin beranjak dewasa, Gempa tak bisa memungkiri tumbuhnya satu perasaan yang berbeda.
"Ecieee~"
Wajah Taufan yang meledeknya tadi pagi kembali terbayang. Ngeselin, seriusan. Tapi tetap saja sukses membuat rona samar mampir di pipi Gempa.
"Hai, Gem!"
Suara nan berdenting laksana lonceng malaikat, membuat jantung Gempa nyaris melompat dari tempatnya.
"Hanna ...?"
Gadis itu sudah berdiri di hadapan Gempa, dengan gaun terusan berwarna merah jambu bermotif polkadot. Sebuah bandana berwarna dan bermotif sama, tampak menghias rambut cokelat sebahunya. Sepatu yang dipakainya pun senada buah persik warnanya. Ditambah make-up natural tak berlebihan.
Sederhana, lembut, dan tetap manis. Gempa yang hanya berpakaian kasual seperti biasa dengan kaus putih dibalut jaket cokelat kesayangannya, sontak merasa seperti seonggok kentang.
"Sudah lama?"
Gempa hanya menggeleng menjawab pertanyaan itu. "Kita langsung masuk aja?"
"Sebentar." Hanna melihat berkeliling dengan waspada, membuat hati Gempa curiga. "Selain belanja bulanan, ada event spesial di sini, tepat jam delapan nanti."
Alis Gempa terangkat, heran mengapa Hanna harus berbisik-bisik.
"Sengaja bikin event-nya pas momen belanja bulanan, sih, biar rame. Nanti pas jamnya baru diumumkan. Tapi aku punya intel, makanya tahu duluan."
"Intel?"
"Sepupuku 'kan kerja di sini."
Tangan kanan Hanna membentuk lambang victory dengan dengan wajah berseri-seri. Benar juga, Gempa baru ingat, Yaya—sepupu Hanna merangkap tetangga sebelah rumahnya—memang bekerja sambilan di sini.
"Terus, event apa itu?" Gempa jadi penasaran juga.
"Promo varian baru Kokotime dengan diskon setengah harga!"
Antusiasme Hanna membuat alis Gempa terangkat. Dia tahu sih, Hanna memang penggemar cokelat sejati. Dan merk Kokotime itu katanya adalah cokelat terenak sepanjang sejarah Planet Bumi.
Kata iklannya di TV sih, begitu.
"Selain itu, ada undian berhadiah selama masa promo. Hadiah utamanya tiket masuk gratis ke Koko Land, lho!"
Sepasang iris madu Hanna berbinar-binar seperti anak kecil. Sementara, Gempa hanya bengong.
"Lho? Gempa nggak tahu?" Hanna bertanya seolah paham isi pikiran teman masa kecilnya. "Koko Land itu, taman hiburan baru yang mengusung konsep 'the land of chocolate'. Grand opening-nya hari Sabtu minggu depan, cuma 30 pemenang tiket undian yang boleh masuk. Besoknya baru dibuka untuk umum. Aku pengiiin banget ke sana~"
"O-Oh ..."
Gempa hanya terkekeh canggung ketika melihat tatapan Hanna yang seperti sudah berpetualang ke dunia fantasi.
"Aku udah dapat bocoran dari Yaya. Nanti aku kasih tahu lokasinya. Gempa jaga di dekat sana aja, nanti ambil cokelat Kokotime sebanyak-banyaknya! Oke?"
"Emang habis kalau beli banyak-banyak?"
"Kan bisa disimpen di kulkas~"
Hanna dan obsesinya terhadap cokelat.
"Ya udah. Masuk, yuk."
Dan begitu melihat berjubelnya pembeli di dalam minimarket hari ini, Gempa merasa akan memasuki medan perang sebentar lagi.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Sesuai info yang didapatkan Hanna, event diumumkan oleh suara bidadari berhijab merah jambu, mbak-mbak kasir pujaan para pelanggan minimarket yang satu ini. Tak lain dan tak bukan adalah Yaya Yah. Informasi yang diberikannya persis seperti yang dikatakan Hanna.
Tepat pada detik itulah, genderang perang tak kasatmata ditabuh.
Rusuh!
Kacau balau!
Gempa memang tahu, banyak kawannya yang memuja-muja kelezatan Kokotime. Bahkan Halilintar yang kalau marah ngamuknya tak karuan, bisa dijinakkan Taufan hanya dengan sebatang cokelat mede yang masih sangat baru di pasaran itu.
Memangnya seenak apa, sih? Setelah ini aku harus mencobanya.
Gempa masih sempat bermonolog sendiri di dalam hati, sementara tubuhnya terombang-ambing, terdorong-dorong di antara pelanggan minimarket yang kesetanan.
Setengah harga.
Kupon undian berhadiah.
Hadiah utama free pass Koko Land.
Gempa mulai mengerti mengapa para maniak Kokotime ini bisa jadi beringas. Dia pun hanya bisa bertahan semampunya. Mencoba menggapai stok Kokotime yang terbatas, berebut dengan pembeli-pembeli lain dengan mempertaruhkan nyawa dan harga diri.
Sampai pada suatu masa, pemuda 18 tahun nan tampan dan berani itu pun kena tonjok juga.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
"Gem, kamu nggak apa-apa?"
Yang ditanya masih berjongkok dengan kepala tertunduk lemas di teras minimarket.
"Aku masih hidup," racaunya. "Maaf, Hanna. Aku cuma dapat tiga cokelat tadi."
Gempa mengangkat kepala, lantas berdiri.
"Nggak apa-apa, Gem. Aku juga cuma dapat tujuh, kok."
Hanna tersenyum. Gempa menatap gadis lemah lembut itu dengan tatapan horor.
'Cuma', katanya.
"Aaah~kuharap aku dapat tiketnya~" Hanna menatap Gempa, memamerkan senyumnya sekali lagi. "Makasih ya, sudah membantuku hari ini."
"Sama-sama. Lagipula aku ke sini sekalian belanja bulanan juga, kok." Gempa balas tersenyum. "Ya udah. Pulang, yuk."
Hanna mengangguk dengan wajah cerah ceria. Gempa langsung mengucap syukur atas pemandangan indah itu. Walau harus kena tonjok, terjatuh, terinjak, sampai kena cakar, rasanya segala perjuangannya sepadan.
"Oh iya, Gem. Aku kasih satu cokelatnya buat kamu. Nih."
"Eh? Nggak usah—"
"Ayo, ambil~"
"I-Iya ... Makasih."
Sama seperti cokelat Kokotime, begitu manis terasa.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
* Author's Note *
.
Halo, haiii~! :"D
Kali ini melayarkan kapal sendiri, deh. Makasiiih buat para Pejuang Drabble, terkhusus Blacklist Name yang udah kasih prompt "chaos" untuk tema "belanja bulanan". Maaf kalau kurang rusuh, wahahaha ...
Ini penginnya bikin romcom sih, tapi jadinya begini. Ini genre apa yah cocoknya ...? XD
Omong-omong, ku baru tahu penulisan 'kasatmata' yang benar itu ternyata disambung. Jadi selama ini aku salaaah? TTATT *plak*
Buat semuanya, semoga menikmati cerita singkat ini. Masih ada ekstra dikit di bawah, nih.
.
Regards,
kurohimeNoir
28.03.2020
.
.
.
Extra
Gempa sedang bersantai menonton TV sendirian di ruang keluarga. Di tangannya ada cokelat Kokotime berukuran sedang pemberian Hanna. Baru saja ia mulai membuka kemasannya, tiba-tiba kedua abangnya ikut duduk di kanan dan kirinya, di sofa panjang yang sama dengannya.
"Heee? Sejak kapan Gempa suka makan cokelat?" Sepasang iris safir Taufan berkilat jahil. "Jangan-jangan Hanna yang kasih, yah~?"
Gempa hanya tersenyum. Tetap fokus membuka kertas pembungkus cokelat dengan hati-hati. Sampai matanya menangkap sepasang delima yang terus menatapnya tanpa suara.
Ralat, menatap cokelat di tangannya.
"Kak Hali, cokelat itu pemberian gadis pujaan hatinya Gempa. Jangan diminta, dong~"
"Enggak, kok."
Halilintar membuang muka dengan tampang bete. Gempa hanya terkekeh canggung, sedangkan Taufan terang-terangan tertawa.
"Eh, apa itu?"
Pertanyaan Taufan membawa Gempa memperhatikan cokelat yang bungkus kertasnya sudah dia buka. Terselip secarik kertas tebal segiempat berwarna emas mengilat, dengan tulisan bertinta hitam.
Free pass Grand Opening Koko Land.
Berlaku untuk dua orang.
"Woah~! Gempa dapat golden ticket-nya~!" Taufan heboh sendiri. "Buat dua orang tuh, Gem! Bisa kencan sama Hanna, nih~"
"Kak Taufan, apaan, sih?"
Taufan terbahak melihat muka adiknya bersemu merah. Halilintar melirik sambil tersenyum samar.
"Good for you," katanya setengah bergumam.
"Ya udah," sambung Taufan lagi. "Cepat beritahu Hanna. Dia pasti senang."
Tak usah disuruh pun, Gempa pasti akan melakukannya. Terbayang bagaimana Hanna akan berbunga-bunga, membuat Gempa tak bisa berhenti tersenyum seharian itu.
