disclaimer © Animonsta Studios
warning AU, AR, OOC, death chara(s), visualisasi buruk, typo(s), miss EBI, ketidakjelasan plot atau plotless.
submitted to #DailyDrabbleChallenge Day 5 dengan tema "Memories".
prompt by Fanlady

[Baby Nest]

cakaran A/N haeeeee Kak FanFan! Ini tebusan prompt-nya yeu! Kepikir mau bikin pure angst soalnya prompt ini angstable banget tapi bhahaha, kepikiran mau bikin ini. Semoga memuaskan :")


"Kabarnya, ritual Dear Minece bisa menjawab semua pertanyaanmu."

Shielda tersenyum kecut, tak begitu berminat menanggapi Sai yang entah sejak kapan percaya-percaya saja dengan hal-hal mistis. Hipotesisnya menunjuk Taufan, teman satu klub Sai, sebagai orang yang sudah meracuni otak kakak kembarnya.

Masih mempertahankan ekspresi remehnya, Shielda bertanya, "Lalu kau percaya?"

Sai diam sebelum memberi jawaban. "Tidak, tapi jika sudah ada korban, berarti kisah itu nyata."

Dua manik hijau muda menyipit. "Korban?"

"Ya." Sai mengacungkan jarinya. "Bayaran atas jawaban itu adalah nyawamu sendiri."


Sungguh, Shielda sangat ingin menampar dirinya sendiri yang kini sedang berselancar di internet, mencari hal-hal seputar ritual yang disebutkan si kakak kembar. Terkutuklah Sai yang berhasil membuatnya penasaran hingga insomnia sementara yang bersangkutan sudah ke alam mimpi terlebih dahulu.

Banyak situs yang membicarakan ritual tersebut, sedang viral ternyata. Disebutkan bahwa Minece adalah gadis yang terbunuh dalam pembantaian keluarganya dengan kondisi mendekap buku harian. Entah nyata atau tidak, Shielda tidak mau memusingkannya. Seperti yang dikatakan Sai juga, Minece bisa membawa seseorang yang meminta bantuannya mengarungi dimensi waktu untuk mendapatkan jawaban, dan biayanya adalah nyawa si klien.

Disebutkan cara untuk melakukan ritual itu. Cukup mengawali buku harian dengan Dear Minece. Terus terang, Shielda punya sebuah pertanyaan; apakah ibunya mencintainya?

Pascapersalinan, ibu mereka meninggal. Ayah lebih menyayangi Sai karena jenis kelamin. Sai selalu mendapatkan benda baru, sementara Shielda harus menggunakan barang-barang bekas yang dipakai Sai. Tidak heran mengapa Shielda cenderung maskulin, tetapi Shielda sendiri tidak keberatan. Entah memang karena terbiasa atau faktor preferensi, Shielda tidak menyukai hiasan renda yang bisa membuat kulitnya gatal ataupun rok yang membuat risih.

Tidak peduli bagaimana Shielda berusaha, ayah mereka tak pernah memandangnya. Setidaknya, Sai adalah kakak kembar baik hati yang selalu mengacuhkan Shielda. Oleh dari itu, Shielda penasaran, seandainya ibunya masih hidup hingga sekarang ... apa ibunya akan memberikan kasih sayang?

Shielda mengambil satu buku kosong dengan sangsi. Tidak. Shielda bukannya takut mati, tapi Shielda ragu apakah benar dia bisa mendapatkan jawabannya dengan cara ini. Kalaupun dia harus mati, bukankah itu memang sudah waktunya? Kenapa pula dia harus takut? Yang jadi pertanyaannya sekarang adalah ... apakah jawaban itu akan sebanding dengan nyawanya?

"Dear Minece ..." Shielda menggumam sambil menulis. Seumur-umur, dia tak pernah menulis buku harian. Sebuah kegiatan konyol, menurutnya. "... aku ingin tahu apa Ibu mencintaiku kalau Ibu masih hidup sampai sekarang."


"Ini …."

Oh, apakah yang berdiri depan Shielda kini adalah ibunya? Begitu cantik dan menawan. Perut besarnya menarik perhatian Shielda. Jadi ini waktu di mana ibunya masih hidup? Di sebelah wanita itu, ada seorang pria yang Shielda kenal sebagai ayahnya. Pasangan suami-istri tersebut sedang berada di sebuah toko perlengkapan bayi.

"Sayang, lihat ini." Ibunya tersenyum sambil menunjuk sesuatu. Shielda mendekat, melihat sebuah baby nest yang dibungkus plastik bening dan dilabeli harga. "Tidakkah ini lucu untuk putri kita? Dari tadi kamu sibuk membeli perlengkapan bayi laki-laki. Lupakah kamu kalau kata dokter anak kita kembar?"

"Diam. Anakku hanya satu," tanggap ayahnya. Shielda hanya tersenyum miris mendengarnya.

"Jangan berkata begitu!" seru ibunya.

"Aku tidak mau memulai perdebatan denganmu." Tampak ibunya ingin melancarkan protes, tapi ayahnya bicara lagi. "Kita pulang sekarang."

"Tidak sebelum aku membeli ini untuk putri kita! Hanya satu ini saja, kalau tidak, kau pulang sendiri sana!"

Latar berganti. Suasana ramai toko digantikan dengan suasana sunyi rumah. Shielda merasa sedikit pusing karena distorsi yang tiba-tiba. Ayah ibunya masih dalam jarak pandangnya, tetapi kali ini mereka masing-masing menggendong seorang anak.

Itu ... dia dan Sai?

Tunggu, bukankah ayahnya bilang ibunya meninggal setelah melahirkan mereka? Lalu ... yang dilihatnya ini ... apa?

"Namanya Sai dan Shielda, aku nyaris tidak bisa membedakan mereka, hahaha." Begitu merdu tawa ibunya. Wanita yang melahirkannya benar-benar baik hati, dan dia yakin akan tetap sama andaikata ibunya tak meninggal.

Pemandangan berubah lagi. Shielda bisa melihat dua buah baby nest yang dibeli ibunya di toko. Ibunya sedang menimang Shielda kecil. Kakak kembarnya telah tertidur nyenyak dalam baby nest berwarna biru langit. Sebuah tangan berusaha memperbaiki posisi baby nest merah muda yang terletak terbalik. Ada sebuah kain yang dijahit pada bagian dasar baby nest yang menarik perhatian Shielda.

Teruntuk putri kecilku, Shielda. Aku mencintaimu, selalu.

Pertanyaannya sudah terjawab. Tidakkah seharusnya dia sudah kembali ke dunia aslinya?

Shielda kecil yang sudah tertidur ditempatkan di atas baby nest, menutupi tulisan itu. Tiba-tiba saja, ayahnya mendobrak masuk ke dalam kamar. Untuk yang pertama kalinya, Shielda begitu takut melihat bola mata ayahnya yang melebar nyaris keluar dari rongganya.

Dengan kasar, ayahnya mendorong ibunya hingga tersungkur jatuh ke lantai. Shielda berteriak sambil berusaha membantu ibunya berdiri, namun tangannya menembus tubuh ibunya. Dilihat ayahnya yang mengambil Shielda kecil. Ibunya segera bangkit sambil merebut Shielda kecil.

"Kau gila!" umpat ibunya sambil terisak. Meski bukan Shielda yang dipeluk, tapi Shielda bisa merasakan hangatnya dekapan ibunya pada Shielda kecil. Shielda tersenyum lirih, ternyata dia begitu menginginkannya. "Kenapa kau benci sekali pada putrimu, hah?!"

"BERISIK!"

Ibunya kembali meletakkan Shielda kecil di atas baby nest, kemudian mencengkeram kerah baju ayahnya. Shielda tak menyangka ibunya mampu mendorong ayahnya hingga menabrak meja. Beberapa properti di atas meja berpindah posisi akibat benturan kuat yang terjadi.

Lalu, kurang dari satu menit, dengan jelas Shielda melihat pigura foto yang dihantamkan ayahnya ke kepala ibunya. Ibunya jatuh dengan kepala berdarah, tak bergerak lagi.

"IBU! IBU!" jerit Shielda. Pandangannya menghitam setelah itu.


"IBU—"

Shielda mengerjapkan kedua matanya. Apa barusan semua itu ... mimpi?

Tangannya masih menadah buku yang terbuka. Masih ada tulisannya yang menjadi tanda bahwa dia sudah melakukan ritual Dear Minece. Yang dilihatnya sekali tadi sama sekali bukan bunga tidur. Kalau ritualnya berhasil, bukankah seharusnya dia tak lagi bernyawa?

"I-Ibu ...," Kedua tangan Shielda bergemetar hebat, "... ternyata ... dibunuh ... Ayah?"

"Jadi ... kau sudah tahu, Shielda?"

As people said, curiosity killed the cat.


tamat


~himmedelweiss 30/03/2020