Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei.

Warning: Incest, Typo, Canon, Alive!Kushina, Smut, Mature content, OOC, and many more.

...

..

.

Enjoy it!

Hari ini semua murid Academy yang telah lulus akan mendapatkan guru pembimbing serta anggota kelompoknya, para genin penasaran akan siapa yang akan satu kelompok dengan mereka, termasuk sosok bocah berambut pirang jabrik ini. Dia penasaran akan orang yang menjadi rekan satu timnya, yah walaupun dia tak banyak berharap sih.

"Baiklah, kita mulai pembagian kelompok kalian..." bocah berumur tiga belas tahun itu mendengarkannya dengan seksama, dia belum dipanggil oleh Iruka, sang guru Academy. "Kelompok 7 di isi oleh Sasuke Uchiha, Ryuji Senju, dan Haruno Sakura sementara itu guru pembimbingnya adalah Kakashi Hatake. Lalu kelompok 8 di isi oleh Kiba Inuzuka, Hyuuga Hinata, serta Aburame Shino, dengan guru pembimbing Kurenai Yuuhi, kelompok 9 masih aktif, jadi kita lewati." Iruka pun mengambil kertas lainnya, dan membacakannya. "Kelompok 10 di isi oleh Shikamaru Nara, Chouji Akimichi, dan Ino Yamanaka, dengan Asuma Sarutobi sebagai pembimbing."

Kedua mata Iruka melihat bocah pirang yang tengah berharap cemas, dia tersenyum tipis saat melihat bocah yang baru saja ia luluskan itu.

"Kau masuk ke dalam kelompok spesial, Naruto."

Naruto tersentak mendengarnya, dia menatap Iruka yang tengah tersenyum pada dirinya. Memang benar dia adalah dead last, tetapi Iruka meluluskannya karena Naruto terus berusaha untuk menggapai impiannya.

"Kelompok zero, dan guru pembimbingnya adalah Kushina Uzumaki."

Wajah bocah itu merona, senyuman mulai terlihat semakin melebar saat mendengar sebuah nama yang sangat familiar bagi dia. "Terima kasih Guru Iruka!" bocah itu membungkukkan badannya untuk berterima kasih pada Iruka dari bangku yang di dudukinya. Dirinya sangat senang akan guru pembimbing dipilihkan oleh Hiruzen.

"Nah, sepertinya sudah semua. Selamat untuk kalian yang lulus menjadi Genin. Silahkan menunggu guru pembimbing kalian disini, sampai jumpa lagi." Iruka pun pergi dari kelas itu, meninggalkan para Genin yang baru saja lulus.

Banyak di antara mereka yang sedikit tak suka dengan rekan satu tim mereka, karena semua gadis yang ada di kelas itu ingin satu kelompok dengan Sasuke 'The Last' Uchiha yang tampan.

Namun, kegaduhan kelas terhenti saat pintu masuk itu terbuka. Seorang wanita berambut merah panjang dengan gaya kuncir kuda pun masuk ke dalam kelas itu, dia melihat-lihat kelas tersebut seolah mencari seseorang, sebagian besar bocah laki-laki yang ada dikelas itu pun merona melihat kecantikan Jounin pembimbing itu.

"Aa, maafkan aku, tapi Naruto ada disini?" Naruto yang terpanggil pun segera berdiri, lalu berjalan mendekati wanita itu. "Seperti yang Iruka katakan, kau ada disini ternyata, Sochi."

Semua teman-temannya langsung menatap Naruto yang tengah tersenyum pada wanita merah tersebut, mereka semua sedikit curiga dengan hubungan Naruto dengan wanita berambut merah itu. Terutama Sasuke, kedua mata hitamnya menatap intens wanita yang tengah berdekatan dengan Naruto.

"Maafkan aku yang belum memperkenalkan diri. Namaku Kushina Uzumaki. Ibu serta Guru pembimbing bagi Naruto, salam kenal," ujar Kushina memperkalkan dirinya. Dia memberikan sebuah senyuman manis pada para penghuni kelas tersebut. "Baiklah, kita akan ke tempat latihan, Naruto."

Bocah itu tersenyum sebelum akhirnya ikut keluar dari kelas itu, meninggalkan teman-temannya yang masih diam.

"Ibu Naruto cantik sekali."

"Kau benar, seperti bidadari."

"Di-dia Ibu Naruto?!"

Mereka semua tak percaya akan hal tersebut, terutama Sasuke. Dia dari pertama Kushina muncul sudah terpesona akan kecantikan wanita berambut merah itu, tapi ekpetasinya berubah setelah dia mengetahui kalau Naruto adalah anak dari wanita yang berstatus single parent itu.

Mari tinggalkan para Genin yang cengo, kita fokus pada Naruto serta Kushina yang saat ini berada di sebuah lapangan luas yang menjadi tempat latihan mereka nantinya.

"Mari kita ulangi lagi, Namaku Kushina Uzumaki, walaupun aku Ibumu, tapi disini aku menjabat sebagai guru pembimbing untukmu. Jadi kau harus memanggilku sensei. Kesukaanku; Sochi¸ serta Ramen, ada beberapa hal yang tidak aku sukai; termasuk Kumogakure. Lalu hobiku menjahili Sochi." Kushina mencubit hidung Naruto dengan gemas, dia mendapatkan sebuah protes dari putranya itu. "Cita-cita menjadi seorang kunoichi hebat. Eh, sekarang sudah hebat ya, wah." Kushina menghakhirinya dengan sebuah tawa.

"Giliranku, Naruto Uzumaki, kesukaanku membaca buku serta memakan ramen, lalu yang tak kusukai; menunggu ramen matang, hobiku membaca buku? Entahlah, dan cita-citaku menjadi seorang Hoakge."

Kushina tersenyum mendengarnya, dia kemudian memegang kedua bahu Naruto. "Untuk saat ini tak ada yang akan aku ajarkan untukmu, mungkin besok atau lusa akan aku beri beberapa pelajaran serta latihan berpedang." Kushina terlihat menggerakkan tangannya untuk mengipasi dirinya. "Kau tahu, hari ini sungguh panas ya?" wanita itu membuka resleting jaket Jounin miliknya, membiarkan angin semilir menerpa kaos yang mulai basah akan keringat.

"Kau benar, sensei."

Kushina tak tahu jika Naruto saat ini tengah menahan sesuatu. Dia berusaha untuk tak melihat cetakan yang tercipta saat kaos dalam Kushina basah akibat keringat. Lekukan tubuh wanita itu terlihat oleh kedua mata birunya, dia tak berani menatap sang Ibu saat ini.

"Ada apa?" tanya Kushina. Dia pun langsung menatap jaketnya yang terbuka, lalu tersenyum menggoda. "Kau melihatnya 'kan? Dibalik jaket ini, tercetak jelas benda milikku, dan sochi melihatnya." Kushina tertawa melihat reaksi terkejut yang dibuat oleh Naruto, dia pun mendekati putranya itu, dan memeluknya dari belakang, buah dadanya menempel pada punggung Naruto. "Tak apa kalau begitu."

"..."

"Sensei akan memberikan pelajaran tambahan nantinya," bisik Kushina tepat di telinga Naruto.

...

..

...

Keesokan harinya, Naruto duduk di pohon rindang, pagi hari ini dia berangkat ke lapangan latihan agak pagi. Dia sendiri bangun lebih pagi daripada sang Ibu yang tengah mendengkur di atas kasur.

"Ohayou, Naruto!"

Naruto sedikit tersentak, dia melihat Kushina yang tengah membungkuk dengan sebuah senyuman manis yang terpampang di wajah cantik wanita itu. "U-um, Ohayou."

"Kenapa lemas begitu sih? Aku tak menemukan api yang membara di kedua mata birumu itu."

Jujur saja, Naruto masih mengingat betul kejadian kemarin, dimana Kushina tengah menggoda dirinya. "Bu-bukan itu, aku memang seperti ini, kecuali bersama sensei dirumah."

"Begitu ya? Kukira kau ada masalah." Kushina pun memberikan sebuah pedang kayu pada Naruto. "Kita latihan berpedang, pastinya kau sudah ku ajari sebelum masuk ke Academy?" Naruto mengangguk kecil menjawab pertanyaan Kushina, keduanya bersiap untuk melakukan latihan berpedang.

Beberapa saat kemudian, Naruto terlihat tiduran di atas rumput, napasnya sudah tak beraturan karena latihan berpedangnya bersama Kushina, dia meletakkan pedang kayunya di samping tubuhnya, sembari menatap langit biru.

"Kita istirahat sebentar." Kushina duduk di samping Naruto yang terbang berbari di atas rumput. "lima belas menit lagi kita akan melakukan latihan tanding lagi, kalau kau menang, akan aku berikan sebuah hadiah."

Naruto bangun dari tempatnya rebahan, dia mengambil pedang kayu miliknya untuk kembali ke tengah lapangan. Kushina tersenyum melihatnya, dia pun melepas rompi yang dikenakannya.

"Kita mulai!"

..

Beberapa saat kemudian, Kushina terduduk sembari memegang pedang kayu miliknya, dia kalah dari putra semata wayangnya itu. Wanita itu menggaruk pipinya, dia telah berjanji pada Naruto untuk memberikan sebuah hadiah pada anak itu.

"Kemarilah! Hadiahmu ada disini!"

Naruto menuruti permintaan Kushina, dia pun berjalan mendekati wanita itu. "Hadiahnya?"

Kedua tangan putih Kushina menyambar kerah jaket yang dikenakan putranya, dia menariknya langsung pada dirinya. Kedua bibir mereka menyatu, Kushina mengecap bibir milik bocah itu.

Dan Naruto tak menyangka jika hadiahnya adalah sebuah ciuman mesra dari Kushina-sensei.

...

..

.

To be y Meguire... To Be Continue.

..

.

Hai, kembali sama Shinn, saya datang dengan sebuah fict baru, dan ini hanya ada adegan intim serta beberapa adegan pertarungan. Mungkin nggak bakal intens jika saya buat adegan pertarungan, bakal ngambil sedikit saja.

Magic x Fist masih tahap penulisan, serta percarian ide. Ditunggu saja, sabar!

Okay, Shinn out, adios!