Disclaimer: Naruto dan Highschool DxD bukan milik saya.

Saat ini, Naruto berjalan menuju ruang kesehatan sekolahnya. Dia ingin istirahat di tempat itu, entah kenapa ia merasakan sakit dibeberapa bagian tubuhnya. Dia menggunakan alasan itu pada guru yang mengajar untuk mengistirahatkan tubuhnya, sebenarnya Naruto tak ingin melakukannya, namun daripada bertambah sakit, dia pun pergi ke ruang kesehatan.

"Permisi!" Pintu rumah kesehatan itu dibuka oleh Naruto, dia tak melihat sosok yang menjadi penjaga ruangan itu. "Kosong?" Naruto pun masuk dan tak lupa untuk menutup ruangan tersebut. "Tak ada orang, kemana Shuri-sensei pergi?" Naruto pun menyibak tirai yang menutupi ranjang milik ruang kesehatan itu. Keringat dingin keluar dari permukaan kulit Naruto, kedua matanya membulat sempurna. "Sial," gumam Naruto.

Di sana, terlihat sosok wanita yang tengah tertidur pulas, rok yang dipakainya tersingkap ke atas, menampilkan paha putih yang siap untuk disantap, lalu wajah tidurnya yang akan membuat para lelaki langsung menerkamnya.

"Shu-shuri-sensei?!"

Naruto sangat terkejut melihat sosok guru penjaga ruang kesehatan yang sedang tertidur. Kesialan apalagi yang diterima pemuda itu? Tetapi yang paling mencolok adalah, sebuah benda yang tengah di genggam oleh wanita satu anak itu.

"Uhhh, itu dildo?!"

Narutk merasakan celananya yang mulai sesak, benar-benar diluar dugaan, pemuda itu kemudian mengintip keluar korden, tak ada seorang pun yang masuk ke dalam ruangan itu. Dia pun berinisiatif untuk mengunci ruangan itu sehingga tak akan ada yang masuk.

Setelah menguncinya, Naruto kembali ke ranjang yang ditempati oleh gurunya itu, dia mencoba untuk mengambil benda laknat itu dari tangan Shuri. "Mengambil barang orang tanpa permisi itu sungguh tidak sopan, Uzumaki-kun."

Naruto terkejut setengah mati mendengar sebuah suara, dia langsung menatap Shuri yang tengah tersenyum menatap dirinya. "A-anu..."

Shuri bangun dari tidurnya, dia meletakkan benda itu di samping tubuhnya, dan menatap Naruto yang tengah gugup saat dia ketahuan akan mengambil benda miliknya. "Jadi kenapa kau sampai ingin mengambil benda ini? Lalu kenapa kau juga mengunci pintu?"

Wajah Naruto merona seketika, dia seolah ketahuan tengah mencuri sesuatu dari seseorang. Helaan napas keluar dari mulutnya, dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, dia pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi barusan. Mulai dari dirinya yang ingin istirahat di ruangan itu, sampai pada dia tak ingin Shuri malu karena membawa benda laknat itu.

"Begitukah, Uzumaki-kun? Sensei mengapresiasi apa yang kau lakukan barusan, tapi..."

"Tapi?"

Shuri pun duduk di pinggiran ranjang ruang kesehatan, dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Naruto, lalu menariknya untuk mendekat. Bibir seksinya pun mencium bibir Naruto, lidahnya masuk ke dalam mulut Naruto, mengobrak-abrik mulut pemuda itu.

Naruto diam mematung dengan wajah merah merona saat dia di cium oleh Shuri, tapi lama-kelamaan Naruto menikmati ciuman itu, dia malah memeluk pinggang ramping milik Shuri, dan memperdalam ciuman tersebut.

Shuri menarik bibirnya, dia menyunggingkan sebuah senyuman manis pada Naruto. "Fufu, kukira kau adalah pemuda polos, Naruto-kun."

Naruto mengalihkan wajahnya, dia terlalu malu untuk menatap Shuri.

..

..

Saat ini, Naruto sudah berada di atas ranjang ruang kesehatan, Shuri sendiri berada di atas tubuh Naruto. Wanita itu mulai membuka kancing dari kemeja yang dikenakan Naruto saat ini, pantat seksinya bergerak maju mundur untuk merangsang gundukan yang menyesakkan celana Naruto.

"Sensei sudah lama tak melakukan ini, sudah berapa tahun? Hmm, semenjak suamiku meninggal sepertinya." Naruto terus diam tak mengatakan apapun, dia pasrah saat kemejanya dibuka oleh Shuri. "Ahh, kejantananmu sepertinya besar ya, Naruto-kun?"

Shuri membuka pakaian Naruto, wajahnya merona melihat tubuh atletis milik Naruto, jemari lentiknya menyentuh tubuh Naruto yang sudah terbentuk sedemikian rupa. Wanita itu meneguk ludahnya sendiri saat menyentuhnya, dia tak menyangka kalau murid pendiam dan terkenal penyendiri ini memiliki tubuh seksi seperti itu.

"Sensei sudah tak tahan." Shuri melepas jas putihnya, lalu mulai membuka kancing kemeja yang dikenakannya, dia membuka kemejanya. Dua buah payudara memantul setelah Shuri membukanya. Bra berwarna hitam renda di sana membuat Naruto tak kuasa untuk meneguk ludahnya. "Lihat apa? Dua buah dada sensei yang mengiurkan ini?" tanya Shuri. Dia memantulkan kedua dadanya untuk menggoda murid pendiamnya itu.

Naruto meneguk ludahnya lagi, kedua tangannya terangkat. Dia ingin menyentuh dua benda menggemaskan itu. "Permisi," gumam Naruto. Tangannya bergetar sesaat sebelum menyentuh dua benda itu.

Kedua tangan Shuri bergerak, dia menggenggam pergelangan tangan Naruto, lalu menyentuhkan kedua tangan itu ke buah dadanya. Shuri tersenyum melihat wajah terkejut dari Naruto. "Uzumaki-kun, jika kau penasaran, kau bisa menyentuhnya, ataupun meremasnya." Naruto mendapatkan lampu hijau dari Shuri, dia pun mencoba untuk meremas gundukan daging yang masih tertutupi bra hitam itu. "Ahhnn..."

Naruto terkejut mendengar desahan merdu yang keluar dari mulut wanita tersebut, kedua iris Shappire miliknya langsung menatap Shuri yang tengah memenjamkan matanya serta menggigit bibir bawahnya, Naruto kembali meremas kedua buah dada Shuri. "Sensei..."

"Hmm?" Shuri mencoba untuk fokus, tetapi bagian bawahnya serta gundukan Naruto serasa mencoba untuk terus merangsang dirinya, ditambah lagi kedua tangan Naruto yang meremas payudaranya. "Uzumaki-kun..."

Kedua tangan Shuri bergerak ke bawah, tepat di atas gundukan milik Naruto. Dia pun membuka resleting celana milik pemuda itu, di dalam sana dia mengambil sebuah benda yang sudah mengeras serta membuatnya takjub. Kedua tangannya tak muat untuk menggenggam benda panjang dan berurat itu. Ia tersenyum lebar, lidahnya membasahi bibir seksinya.

"Nee~, Uzumaki-kun, kau tak ingin memasukkannya ke dalam tubuh sensei?" Shuri melepas genggamannya, dia pun membuka seluruh pakaiannya, kecuali rok mini yang masih dipinggangnya. "Sensei sudah tak kuat lagi disini."

Dengan rasa takut, Naruto mengangguk kecil mengiyakan permintaan Shuri. Wanita itu tertawa senang, dan menyuruh Naruto untuk melepas remasannya terhadap dadanya. Dia melepas bra hitam itu dan membuangnya sembarangan, sang penjaga ruang kesehatan itu mengangkat pantatnya naik, dan mengarahkan kejantanan Naruto untuk masuk ke liang senggamanya.

Shuri sedikit meringis saat dirinya merasakan benda besar itu masuk ke dalam tubuhnya, dia mendorong pelan pantatnya untuk turun kebawah. "Ahh..." Naruto tak tinggal diam, dia mencoba untuk mendorong pinggulnya ke atas. "Uzumaki-kun... akh! Be-besar!"

"Sensei!"

"Kyah!" Shuri menggigit bibir bawahnya saat dia mengeluarkan pekikan imut. "Uzumaki-kun!" dia pun menggerakkan pinggulnya naik turun, kejantanan Naruto keluar masuk di dalam tubuh wanita satu anak tersebut. Shuri mendesah nikmat merasakan kejantanan tersebut bergesekan dengan dinding rahimnya yang sudah sangat basah.

Sementara Naruto sendiri menikmati bagaimana kejantanannya itu keluar masuk di dalam tubuh gurunya itu. "Shuri-sensei!"

"Uzumaki-kun!"

Keduanya pun klimaks secara bersamaan.

..

..

"Sensei!" Shuri menoleh kebelakang, dia mendengar Naruto yang memanggil dirinya. "A-aku akan memasukkannya." Wanita itu tersenyum mendengarnya, dia kemudian mengarahkan kejantanan Naruto untuk memasukki tubuhnya.

"Ahhh..."

Naruto mendorong pinggulnya maju mundur, kedua tangannya memengang pinggul seksi milik Shuri, lalu merayap naik hingga ke kedua payudara Shuri, pemuda itu meremas payudara Shuri, sembari memainkan puting susu milik wanita itu. Dia sangat suka dengan dua benda kenyal itu, seolah ingin terus memainkannya.

"Uzumaki-kun, ahhh..." Shuri terus mendesahkan nama belakang Naruto, wanita tersebut menikmati kejantanan yang ukurannya lebih besar daripada mendiang suaminya. "Aku..."

"Keluarkan, sensei!"

Tubuh Shuri menegang merasakan dirinya sudah klimaks untuk yang kesekian kalinya, tubuhnya langsung ambruk di atas ranjang. Tapi Naruto masih kuat untuk menggerakkan pinggulnya. Dia terus memaju mundurkan pinggulnya, kejantanannya semakin licin akibat cairan cinta milik Shuri yang membasahi benda miliknya.

Kedua tangannya masih berada di buah dada Shuri, sembari dirinya terus meremas benda kenyal tersebut. "Sensei!" Naruto menancapkan dalam-dalam kejantanannya ke liang senggama Shuri, dia mengeluarkan banyak cairan ke dalam tubuh wanita itu. Lalu, tubuhnya ambruk tepat di atas tubuh Shuri. "Sensei," gumam Naruto memanggil sang Guru.

"Ya? Kau menikmatinya? Uzumaki-kun menikmati seksnya dengan Sensei?" Naruto mengangguk kecil, dia sungguh menikmati hubungan intim dengan Shuri. Tawa merdu terdengar sampai ke gendang telinga Naruto. "Sensei tak keberatan jika Uzumaki-kun yang mengajak, atau yang bisa sensei panggil, Naruto-kun."

Naruto tersenyum lebar lalu mengubah posisinya menjadi memeluk wanita itu, dia mencium bibir mungil Shuri dengan mesra, tubuh mereka berdempetan sehingga buah dada Shuri seperti tergencet oleh dada bidang Naruto. Pemuda itu menarik ciumannya, dan menatap Shuri yang saat ini tersipu malu. "Sensei, aku mau lagi."

Wanita itu tertawa kecil, lalu mencubit hidung Naruto. "Ih, nakal."

...

..

.

Beberapa hari kemudian.

"Sensei, badanku tak enak. Aku akan ke ruang kesehatan untuk istirahat sejenak!"

Kakashi selaku wali kelasnya pun menganggukkan kepalanya untuk mempersilahkan Naruto pergi ke ruang kesehatan, pemuda itu pun keluar kelas dengan perasaan senang. Dia berjalan kaki ke ruang kesehatan tempat dimana Shuri berada.

Dia pun membuka pintu geser ruang kesehatan, dan melihat Shuri duduk sembari membaca sebuah buku. "Ah, Ohayou, Naruto-kun, ada yang bisa dibantu?"

"Anu, aku ingin Istirahat sebentar."

Shuri tersenyum mesum, dia membasahi bibir seksinya. "Silahkan ke ranjang, sensei akan merawatmu. Jangan lupa untuk mengunci pintunya ya?" Shuri mengedipkan sebelah matanya, dan melepas mantel miliknya. "Mari dimulai, Naruto-kun."

"Ha'i, sensei!"

...

..

.

END!