Naruto milik Masashi Kishimoto

Saya tidak mendapat keuntungan material apapun dalam menulis fanfiction ini. Cerita ditulis semata-mata hanya untuk kesenangan pribadi

AU, OOC, typo, etc

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata, etc

.

.

.

.

.

.

.

"Kau dan aku selalu bersama. Kapanpun dan dimanapun, tak terpisahkan. Sampai dia datang dan menghancurkan segalanya. Rencana yang telah kususun agar dapat bersamamu di masa depan kini hanya tinggal angan-angan. Apa aku salah jika mempertahankan kau disisiku? Tapi... aku tidak menyangka akan begini akhirnya."

.

.

.

.

.

.

"Naruto! Cepat!"

"Sebentar, Sakura-chan." ujar Naruto sambil berusaha menjejalkan sebelah lagi kakinya ke dalam sepatu. Entah kenapa kaki sebelah kirinya itu jadi sulit sekali masuk.

"Kalau kita sampai terlambat, kau akan kubunuh."

"AAAAARGH! SAKURA-CHAN, JANGAN MENGANCAMKU."

Sakura memutar bola matanya setelah Naruto sudah berada di sampingnya.

"Ayo, berangkat."

"Aku kan-"

Belum sempat Naruto melanjutkan perkataannya Sakura sudah melenggang pergi. Naruto rasanya hendak menangis saja.

Sakura-chan, kau kejam sekali.

.

.

.

.

.

.

Sasuke memandang malas pada kerumunan gadis di depannya. Ia lalu mengusap keringat di pelipisnya sambil terus menyapu seluruh penjuru lapangan dengan matanya untuk mencari sesosok gadis berambut ungu. Namun, sejak beberapa menit lalu dia berusaha, tak ada satu pun dari salah seorang gadis di kerumunan itu memiliki ciri seperti gadis yang ia maksud. Kemana gadis itu? Bukannya dia bilang akan menonton pertandingan basket timnya?

"Sasuke-kun." panggil seseorang yang berasal dari kerumunan. Ia datang dengan ngos-ngosan.

"Hah~ maaf aku tidak bisa menonton pertandinganmu karena aku terjebak dibelakang dan tidak bisa masuk."

"Hn." jawab Sasuke singkat sebelum duduk dikursi.

"Ini. Aku bawakan minum. Kau pasti haus." gadis itu menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diterima oleh Sasuke.

"Terima kasih."

Kerumunan itu tiba-tiba menjadi heboh tak terkendali. Salah satu dari mereka bahkan ada yang sampai gigit jari dan saling dorong-mendorong melihat adegan manis di depan mereka. Memang bukan hal baru lagi kalau hanya gadis itulah yang bisa leluasa berdekatan dengan Sasuke, sang pangeran sekolah.

Gadis yang bernama Hinata ini kemudian mengambil tempat duduk di samping Sasuke dengan sengaja sedikit memberikan jarak, sedangkan lelaki itu masih meneguk air pemberiannya.

"Semakin hari fansmu semakin bertambah, Sasuke-kun." komentarnya. "Lainkali aku akan menolak jika kau menyuruhku lagi untuk menonton pertandinganmu. Lihatlah, ekspresi mereka seperti siap menerkamku kapan saja." Hinata bergedik ngeri ketika ia melempar pandangan ke arah gadis-gadis di pinggir lapangan tak jauh dari tempat mereka berdua duduk. Sasuke yang telah selesai minum pun ikut melirik sebentar.

"Cukup tutup matamu. Masalahnya selesai."

"Kau selalu saja bilang begitu." Hinata kesal karena Sasuke tidak mengerti maksud ucapannya. Yang bisa kena masalah kan dia, bukannya Sasuke. "Pokoknya lain kali aku tidak akan menonton."

"Kau mau pulang sendiri?"

"Aku akan menunggumu."

Mereka memang selalu pulang bersama. Itulah mengapa Sasuke agak sedikit heran mendengar Hinata tidak ingin menonton pertandingan basketnya lagi. Entah bagaimana ceritanya pertandingan basket itu sendiri selalu diadakan sepulang sekolah. Jadi, mau tidak mau Hinata yang selalu bersamanya akan ikut juga. Hal ini sudah seperti rutinitas bagi mereka. Pertandingan itu pun tidak setiap hari dilaksanakan. Menunda pulang beberapa kali dalam seminggu tentu tidak masalah bagi Hinata.

Sasuke masih menunggu lanjutan kata dari Hinata. Ia merasa sedikit tidak yakin dengan ide gadis itu.

"... aku akan menunggumu di bawah pohon dekat gerbang sampai pertandinganmu selesai." tukas Hinata yang langsung mengerti diamnya Sasuke.

Sasuke akhirnya beralih, melepas sepatu dan memakai sepatu yang satunya lagi. Antara sepatu untuk bermain basket dan sepatu sekolah Sasuke selalu mengenakan model yang berbeda. Hinata menyimpulkan bahwa dengan begitu berarti Sasuke menyetujui idenya. Karena tidak yakin ia menunduk untuk meneliti raut wajah Sasuke. Sebenarnya tidak terlalu membantu karena Sasuke selalu memasang ekspresi datar.

"Apa?" tanya Sasuke ketika sadar Hinata menatapnya.

"T-Tidak. Kupikir kau akan-"

"Jangan kemana-mana sampai aku datang. Aku tidak mau repot nanti mencarimu kalau kau sampai tersesat karena bosan menungguku dan malah jalan-jalan." potong Sasuke cepat meskipun suaranya tetap pelan.

Mata Hinata berbinar-binar, senang mendengarnya. Ia mengangguk-angguk dengan cepat. "Pasti. Aku akan diam ditempat sekalipun aku mau buang air kecil."

"Tsk." Sasuke tak kuasa menahan sunggingan bibirnya mendengar ucapan konyol Hinata.

"Kau tertawa?"

"Mana mungkin." elak Sasuke.

"Benar. Barusan kau sepertinya tersenyum."

"Tidak."

"Apa sesulit itu, ya, mengakui kalau kau tersenyum. Senyum itu kan hal yang wajar bagi manusia. Lagian kau tidak harus membayar dengan uang hanya karena tersenyum." Hinata seperti berbisik ketika mengatakan itu. Ia tidak ingin ada yang mendengar ocehannya. Tentu saja Sasuke tidak termasuk karena ia dengan sangat jelas dapat mendengar gerutuan gadis itu.

Sasuke hanya diam beberapa saat, sebelum berdiri dan berkata, "Harusnya kau jangan memerdulikan pandangan orang." Sasuke memutar-mutar pergelangan kakinya sambil melirik ke kerumunan gadis yang melambai-lambai kearahnya. "Kenapa baru sekarang kau takut pada mereka."

"Itu karena mereka semakin terlihat marah. Kau saja yang tidak memerhatikan."

Sasuke berbalik, Hinata masih duduk sambil menongak memandangnya dengan kesal. Wajah Hinata agak sedikit memerah, mungkin karena sinar matahari. "Aku memang tidak bisa mengerti jalan pikiranmu," katanya.

"Aku ragu kau akan mengatakan hal yang sama jika kau berada di posisiku."

Hinata lantas berdiri, berniat hendak jalan mendahului Sasuke. Ia jadi malas melihat tampang Sasuke apalagi ditengah terik begini.

Sasuke sendiri hanya terdiam. Perkataan Hinata membuatnya berpikir sejenak.

"Lain cerita kalau posisinya dibalik." lirih Sasuke. Ia menatap punggung Hinata yang berada sekitar satu meter didepannya.

"Apa kau barusan mengatakan sesuatu, Sasuke-kun?"

"Tidak. Ayo, pulang."

Hinata memandang penuh curiga saat lelaki dingin itu berjalan melewatinya.

"Kau tidak sedang mengejekku kan?"

.

.

.

.

.

TBC


Note : fanfic ini sebagai sarana mengisi waktu yang sebenarnya tidak terlalu luang(?) semoga kalian suka XD.