Suasana kamar hening oleh dua pemuda yang sedang mengerjakan beberapa soal sosiologi dengan ranjang sebagai meja dadakan. Salah satu dari mereka yang masih mengenakan seragam sesekali melirik temannya yang duduk di sebelahnya dengan tatapan khawatir.
Benar-benar temannya, lho, ya. Bukan lembar soal sosiologi yang sore tadi dibagikan buat dikerjakan di rumah.
"Dos-kun beneran bisa ngerjain?"
"Suhu badanku sudah turun tadi siang, tenang saja." Yang ditanya hanya mengangguk.
Nikolai menatap kawannya itu dengan tatapan tak yakin–yang mana langsung dibalas dengan tautan alis dari Fyodor yang merasa risih. Pada akhirnya, ia hanya mangut-mangut sambil mengulas senyum.
"Baiklah~"
~o~
Friends
By Vira D Ace
Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa Sango
[little note(s): a drabble for Nikolai Gogol's birthday (April 1), little (maybe) OOC for Fyodor, anggap aja sequel dari fic "Bolos" tahun lalu :'v]
DLDR!
~o~
"Aku kira Dos-kun mau balas dendam gara-gara yang kulakukan tahun lalu, lho."
Selesai mengerjakan tugas, Nikolai duduk dan menjadikan ranjang kamar Fyodor sebagai sandaran. Fyodor yang sudah kembali naik ke ranjangnya hanya menatap Nikolai datar.
"Memangnya aku dirimu?"
"Ya, mana tahu ..." Nikolai tidak tahan untuk tidak tertawa–berkebalikan sekali dengan sikapnya saat mengerjakan tugas tadi. "Eh, ternyata beneran sakit!"
Fyodor mendengus pelan. "Diam kau ..."
Alasan Nikolai berspekulasi demikian ialah karena ini tanggal 1 April. Hari di mana ia dilahirkan bertahun-tahun lalu, dan kebetulan sekali, Fyodor tidak masuk sekolah. Nikolai berpikir temannya itu mau balas dendam padanya dengan cara yang sama dengan cara yang ia lakukan pada tanggal 11 November, begitulah ia berpikir sampai satpam sekolah mengantarkan sebuah surat ke kelas yang berisi soal izin tidak masuk. Fyodor demam, katanya, makanya tidak bisa hadir.
Sebagai kawan yang baik, begitu pulang sekolah Nikolai langsung menjenguk, lengkap dengan lembaran tugas rumah yang dititipkan padanya–buat catatan kalau Fyodor tidak mau menyalin, tinggal difotokopikan besok sore dan diberikan besoknya lagi.
"Dos-kun sudah makan, omong-omong?" Gabut yang melanda membuat Nikolai bertanya. Sepasang irisnya menatap lurus Fyodor yang memerhatikan jendela.
Fyodor menoleh. "Sebelum kau datang tadi," ujarnya. "Kenapa?"
Nikolai nyengir. "Kalo belum, aku mau masak, hehe~"
"... Nggak perlu ..."
(Satu hal yang Fyodor pelajari selama menjadi teman Nikolai adalah, jangan biarkan temannya itu memasak, jangan.)
"Omong-omong, gara-gara kamu ngomong tentang balas dendam, aku jadi teringat sesuatu," Fyodor balas menatap Nikolai. "Ini tanggal 1 April, kan? Selamat ulang tahun."
Senyum Nikolai merekah. "Wuaaah, makasiiih!" serunya.
"Tiap tahun aku mengucapkannya dan reaksimu selalu sama. Nggak bosan?"
"Nggak bakalan bosan kalo Dos-kun yang ngucapin, hehe~"
"Dasar ..."
Lalu Nikolai terkekeh lagi.
Iris pemuda itu mulai mengedar ke seluruh kamar temannya. Di atas meja belajar yang sudutnya dihuni oleh bermacam buku paket, ada sebuah foto lama, terbingkai oleh kayu bertekstur mengkilap yang kemiringannya 85 derajat ke arah belakang. Potret yang selalu ia lihat tiap berkunjung ke rumah Fyodor, isinya dua anak kecil yang sedang bergandengan tangan sambil tersenyum ceria ke arah kamera.
"Btw, kalo dipikir-pikir ... udah berapa lama, ya, kita temenan?" Nikolai tiba-tiba berpindah tempat ke atas ranjang–tanpa minta izin dari yang bersangkutan, meski sebenarnya Fyodor juga tidak keberatan.
Lagi, Fyodor melirik. "Ng?"
"Udah lama gitu, kan?" Dia yang bertanya, dia pula yang menjawab. Fyodor yang melihatnya jadi berpikir kalau Nikolai sebenarnya bermonolog, hanya bicara sendiri tanpa bermaksud menuntut jawaban dari orang lain.
"Dari SD?" dan kali ini tatapan Nikolai jatuh pada si pemilik iris violet. "Iya nggak, sih?"
Kali ini Nikolai benar-benar bertanya. Menyadarinya, Fyodor hanya mengangguk. "Hmm ... dari SD ..."
Hari pertama masuk sekolah dasar adalah waktu di mana keduanya bertemu untuk kali pertama. Nikolai melihat Fyodor yang terlihat kesulitan mengeja nama wali kelas yang ditorehkan di papan tulis, hingga membantunya buat membacakan–ujung-ujungnya malah membantu menghafal hiragana, karena ternyata Fyodor sendiri belum mahir lantaran baru pindah dari Moskow ke Yokohama 6 bulan sebelumnya.
Sejak saat itu keduanya jadi dekat, apalagi setelah mengetahui kalau mereka sama-sama punya bahasa ibu yang sama–meski lama kelamaan mereka lebih senang mengobrol dengan bahasa Jepang. Ke mana-mana selalu berdua, juga hobi main ke bangunan setengah jadi yang terlantar di belakang sekolah mereka yang tak mereka temukan kala masih kelas 2 SD.
"Aku jadi kangen main ke basecamp lagi~" Nikolai menggumam. "Dos-kun kangen, nggak?"
"Mungkin ..." Fyodor mengangkat bahu.
"Kapan-kapan ke sana lagi?"
"Terserahmu ..."
"Nanti kita rayakan lagi ulang tahunnya Dos-kun di sana–tapi sebelumnya tempat itu harus kubersihkan dulu–"
"Kalau maksudmu mau bolos lagi, aku rasa nggak perlu." Fyodor buru-buru memotong.
Nikolai tersenyum kecut. "Nggak bolos lagi, kok–suer dah," katanya sambil membentuk lambang peace dengan tangan kirinya. "Tapi ulang tahun Dos-kun masih lama juga, sih. Nanti kalo aku bolos lagi, pasti Dos-kun sudah lupa kalo aku sudah janji."
"Hei!"
Nikolai tertawa lepas. Fyodor memandang kawannya itu dengan pandangan datar, sebelum mengerjap lagi karena tiba-tiba teringat sesuatu.
"Kamu membicarakan ulang tahun lagi, aku jadi teringat lagi kalau ini masih tanggal satu."
"Ng?"
"Gara-gara tadi aku jadi kelupaan kalau aku belum memberimu apa-apa." Pandangan Fyodor lurus pada Nikolai. "Ada sesuatu yang kamu inginkan? Aku bisa memberinya besok atau lusa–kalau nggak sakit. Anggap saja pengganti hadiah gara-gara hari ini aku nggak bisa ke mana-mana."
Nikolai menatap Fyodor, mengerjap beberapa kali sebelum terkekeh dengan senyumnya yang biasa. "Berteman dengan Dos-kun saja udah jadi hadiah terbaik tiap tahunnya, kok," ujarnya riang. "Aku ... bakalan seneng banget kalo Dos-kun masih mau berteman denganku sampai kapanpun."
Fyodor menghela napas. Temannya yang satu ini memang beda.
"Besok, kalau aku masuk, ayo ke konbini sebelum pulang. Kutraktir es krim."
"Hee, Dos-kun mau traktir?!"
"Hmm ..."
"Yosh!"
-end-
For Nikolai Gogol, happy birthday :"D Kamo masih bernapas ternyata, bahagia akutu :")
Btw ini lebih gaje ketimbang tahun lalu. Benang merahnya nggak keliatan astogeh /mojok
