Graaaaak–!

Kursi itu berderak keterlaluan keras. Suaranya mencekat setiap tarikan napas murid dan atensi mereka beralih sepenuhnya dari sang guru baru kepada si ketua kelas–yang biasanya, begitu anti dalam membikin keributan, apalagi jadi pusat perhatian.

Hijikata Toshiro meneguk saliva. Tungkainya berdiri tegak, menyamakan tinggi pandangan pada manusia di hadapan. Seluruh kata-kata tertahan pada ujung lidah dan pita suara seolah diremat erat–pantang untuk bergerak.

Sakata Gintoki terkesiap, mengusap dada dengan gaya hiperbola, lalu membetulkan kacamata. "Hei! Bikin kaget saja! Jantung Gin-san lemah, tahu?"

"Tak usah takut, Hijikata-kun. Bahkan di kehidupan selanjutnya, aku akan terus mengingat kelakuan binalmu itu."

Toshiro mengerjap. Satu kali. Dua kali. Kagura tidak sangka reaksinya akan tertahan oleh pemuda bersurai jelaga. Shinpachi merasakan hal yang sama. Sebab itu mereka hanya diam nihil protes. Sougo untuk suatu alasan juga tidak bertingkah seperti bajingan dan merusak hening dengan gurauan sampah. Tapi, sebetulnya ia tahu–seharusnya ia menyela sesuatu sebelum segalanya terasa canggung. Dan nalarnya berkata ini akan berakhir buruk.

"Apa-apaan ini," Gintoki mendengus, menopang buku absen pada pundak. Ia mengusap-usap surai seputih dan selembut bulu domba sebelum melanjutkan, "Tadi kalian berisik, sekarang mendadak diam? Mengerikan! Apa kalian segitunya terkejut Madao yang bodoh itu jatuh dari tangga, lalu akhirnya digantikan guru sementara sepertiku? Hei! Begini-gini, Gin-san itu guru yang baik. Lalu, kau!"

Toshiro tidak gentar, bahkan ketika gurunya menuding sarat emosi dan ketertarikan akan sikap anehnya.

"Namamu siapa? Apa kau ketua kelas? Jika, ya, siapkan kelasmu, bodoh!"

"Ingatan yang kaubanggakan itu hanya seperti tahi ayam; hangat sebentar saja. Tidak usah banyak tingkah, Yorozuya!"

"…. Ya," Toshiro menjawab pada akhirnya. Cukup sadar nada suara begitu menantang. Entah guru itu sadar atau tidak–persetan. "Ya, aku ketua kelas. Namaku Hijikata Toshiro."

"Ah." Gintoki mengangguk-angguk. "Kalau begitu, Hijikata-san–"

Hijikata-san. Toshiro menahan hasrat untuk segera menghajar lelaki dewasa itu. Amarah membungkus tanpa tedeng aling-aling, begitu mendadak, begitu tumpah ruah–dan rasanya sesak.

"–ayo segera ucapkan salam!"

"Heiii! Gin-san itu pengingat handal."

"Ya. Dan juga pembual ulung."

"Hijikata-kun, kau segitunya benci padaku?"

Toshiro sekali lagi menelan bulir ludah hingga terpelosok ke dasar lambung sebelum suara itu terogoh dari pangkal paru-paru, "Berdiri!"

Kondo Isao sadar akan murka yang merajai setiap silabel. Pun setiap murid yang masih memiliki rasa dan logika untuk mengobservasi suasana.

"Beri salam!"

"Selamat pagi, Sakata-sensei!"

"Duduk."

Gintoki menarik sebelah bibir, puas. Ia menyatukan kedua telapak tangan terbuka, timbulkan bunyi tepuk yang merasuk pada gendang telinga. "Baik, Ketua Kelas, duduklah. Kalian bawa buku cetak, kan? Buka bab lima. Kita lanjutkan apa yang sudah Madao ajarkan."

Pembual ulung.

Toshiro kembali duduk pada kursinya. Meremas surai sepekat abu. Mengepal erat tangan di pangkuannya sendiri.

"Ya. Aku benci padamu."

"Ah, tsundere. Tapi, gak apa, karena Gin-san sayang padamu dan akan selalu mengingatmu."

Pembual ulung.


Gintama © Hideaki Sorachi

Liar by Saaraa