Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Sugar © Black Hat

Warning: OOC, Oneshoot/Multichap(?), M for Stories, typo(s), AU, ide pasaran, bertele-tele, abal dan masih banyak lagi kekurangan lainnya di dalam fic ini.

A/N: Jika ada kesamaan cerita itu bukanlah kesengajaan. Plot fic ini murni punya saya dan jika menemukan kesamaan dengan cerita lain, mohon dikonfirmasi ke saya yah. Hope You like, Minna ^^

.

Don't like, don't read.

Sasuke meneguk salivanya begitu iris kelamnya menjelahi seluruh ruangan yang ia dan kedua sahabatnya masuki sekarang. Seketika kepalanya pusing mencium bau yang begitu ia benci, alkohol—walau sebenarnya ia cukup akrab dengan bau itu ketika sedang menemani klien kantornya dalam perjamuan maupun ketika ia merasa sedang stress ia akan meminumnya. Iris kelamnya melirik kedua sahabatnya dari sudut mata, Naruto dan Kiba terlihat senang dan familiar dengan tempat ini. Sedangkan ia? Sepanjang hidupnya, ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi Inner Bar, sebuah bar terbesar dan terkenal di Tokyo yang diperuntukkan untuk orang yang ingin 'bersenang-senang' barbalut dosa.

Jadi, bagaimana ia bisa sampai di sini? Oh silahkan tanyakan pada Naruto, sang pencetus ide gila ini.

"Ayo, Teme. Kita ke sana." Uzumaki Naruto, pria tinggi dengan rambut kuning menunjuk salah satu ruangan yang berisi sofa panjang di sudut ruangan. Ia merangkul bahu Sasuke dan Kiba dan membimbing—lebih tepatnya menarik Sasuke—ke tempat yang ia maksud.

Begitu mereka menyamankan diri di sofa, beberapa wanita cantik berpakaian minim langsung menghampiri mereka. Naruto maupun Kiba menerima keempat wanita itu dengan tangan terbuka. Kedua pria itu bahkan tak segan-segan menggoda balik wanita-wanita yang berada di rangkulan mereka.

Berbanding terbalik dengan Sasuke, pria tampan berkulit putih itu merasa risih pada dua wanita yang mencoba merayunya. Ia mendorong dua wanita itu dan menatap tajam mereka, yang dibalas dengan ekspresi manyun yang jelas dibuat-dibuat. Demi Tuhan, rasanya Sasuke akan menjambak rambut panjang mereka dan seketika menyesal dengan ajakan Naruto.

"Ne, Naruto-kun. Temanmu ini jahat sekali," ujar salah satu wanita yang bertugas untuk merayu Sasuke. Naruto menoleh pada wanita berambut merah itu. "Dia memang seperti itu, Sasami-chan. Kau hanya perlu sedikit bersabar."

"Ah begitu." Seolah seperti mendapat ilham, wanita bernama Sasami makin gencar mendekati Sasuke. "Ne Tuan, kau tahu, tak baik menolak wanita yang mencoba bersikap baik pada—"

"Berhenti mendekatiku, sialan!" Sasuke yang sudah merasa jengah mendorong Sasami dan berdiri dengan tangan terkepal. Perlakuannya tersebut menarik perhatian Naruto maupun Kiba. Mereka berdua geleng-geleng kepala, merasa tak heran dengan sikap Sasuke sekarang.

"Kau sendiri bilang, kalau kau ingin 'mencoba' nya, Sasuke? Tapi kau malah bersikap seperti ini," kata Kiba mendelik pada sahabatnya.

"Aku memang berkata begitu, tapi bukan dengan cara seperti ini! Kau mau aku berhubungan dengan para pelacur, hah!?"

"Hei Teme," Naruto berusaha menenangkaan sahabatnya, "Ini satu-satunya cara. Kau mau dapat wanita dari mana yang bersedia berhubungan denganmu secara cuma-cuma tanpa mendapat tamparan dari mereka? Kau bahkan tidak mau memanfaatkan gadis-gadis yang menjadi fansmu itu."

"Aku tidak mungkin menghancurkan hidup mereka hanya demi kepuasanku, Dobe! Kau pikir aku serendah itu!"

"Kalau begitu, ini satu-satunya cara, bukan?"

"Tapi aku tidak mau dengan seorang pelacur seperti mereka!"

Naruto berdecak. "Oke, kita telah membicarakan ini sebelumnya." Pria kuning itu melepaskan rangkulan manja dua wanitanya dan mendekati Sasuke yang sedang menatapnya tajam. Ia menepuk punda Sasuke dan tersenyum kecil.

"Kalau kau memang tidak mau, kau tidak akan bisa merasakan bagaimana rasanya." Seringai rubah muncul di senyuman Naruto. "Bukannya ini waktu yang tepat? Ingat, kau adalah Uchiha Sasuke, CEO muda kaya raya yang mampu melakukan apa saja, namun tidak pernah menyentuh seorang wanita? Ck, lucu sekali. Para karyawanmu akan memandangmu aneh jika tahu kau seperti ini." Kentara sekali Naruto berusaha memanas-manasi sahabatnya itu.

"Aku jamin, kau tak akan menyesal, Teme. Ini mudah, kau sisa memilih salah satu wanita itu, membawanya ke kamar, melakukan apapun yang kau inginkan, setelah itu selesai. Setidaknya kau tidak harus merasakan kenikmatan itu dengan bertanggung jawab, seperti ikatan pernikahan? Oh ingat, kau membenci ikatan itu."

Berhasil! Sasuke mulai goyah! Pria berambut raven itu mulai melunakkan wajahnya dan itu membuat Naruto makin bersemangat. "Jadi, kau tak perlu memikirkan hal tidak berguna lagi. Kau cukup mencoba rileks. Hei ingat, kau benar-benar penarasan bagaimana rasanya kenikmatan itu, kan?" Naruto menyeringai sambil menaik-turunkan alisnya.

Mendengar pernyataan Naruto membuat wajah Sasuke memerah. Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa semua yang dikatakan Naruto adalah kebenaran. Ia malu mengakui bahwa selama 32 tahun ia belum pernah melakukan 'hubungan' seperti yang sahabatnya katakan tadi. Ia malu mengakui bahwa ia benar-benar penasaran dengan kenikmatan yang Kiba gambarkan sebagai surga duniawi. Oh bagaimana dengan pernikahan? Seperti kata Naruto, ia begitu anti dengan ikatan sejenis itu sehingga ia tidak punya pilihan lain untuk menyalurkan hasratnya. Tidak, tidak, ia tetap akan menikah, tapi tidak untuk waktu dekat ini. Mungkin 10 tahun dari sekarang.

Karena semua alasan itulah mengapa ia bisa sampai terjebak di tempat haram ini. Awalnya ia menolak keras, namun seperti yang sudah-sudah, Naruto dengan mudahnya membujuknya hingga tanpa sadar ia termakan bujuk rayuan itu. Oh sial, kenapa ia menjadi mesum seperti ini Naruto dan Kiba.

Setelah memikirkan beberapa saat, akhirnya Sasuke menghela napas. Ia menunduk dan melirik Naruto dari sudut matanya. "Carikan aku, kecuali mereka." Tanpa perlu menunjuk, Naruto paham bahwa Sasuke tidak ingin keenam wanita yang sedang bersama mereka. "Baik, baik, akan kucarikan sesuai seleramu."

Setelah itu Naruto memanggil seseorang yang bernama Tsunade, menjelaskan sedikit permasalahan yang ada dan detik itu juga Tsunade langsung mengangguk paham. "Aku mengerti, kalau begitu aku akan memanggilmu begitu wanita itu siap, Uchiha-sama," ujar Tsunade bersemangat. Mengetahui bahwa calon pelanggannya adalah seorang CEO dari Uchiha Corp, salah satu perusahaan besar dengan laba jutaan dollar per bulannya, membuat Tsunade yang merupakan wakil pemilik sekaligus mucikari handal akan melakukan 'tugas' nya dengan sangat baik. Ia tidak akan main-main dalam memilih dan menyodorkan ikan segar untuk kucing kaya raya yang sedang kelaparan ini.

"Untuk pembayaran, kita bisa melakukannya setelah semuanya selesai." Dengan itu, Tsunade berjalan menjauh untuk mencarikan 'wanita' Sasuke setelah mengedipkan matanya genit pada pria Uchiha itu. Oh yang tentu saja dibalas dengan tatapan jijik.

Sasuke melempar tubuhnya kembali ke sofa. Ia bersandar dan menatap langit-langit ruangan yang mereka tempati. Apakah ini keputusan yang tepat? Apakah tidak apa-apa jika ia menyentuh wanita lain sebelum menikah? Apa yang akan istri masa depannya nanti katakan jika ia tahu bahwa Uchiha yang terhormat ini telah merelakan keperjakaannya demi wanita lain? Dan ... ia tidak akan menyesali semua ini dikemudian hari, kan?

.

.

.

Sasuke berjalan santai di sepanjang koridor beralaskan karpet mewah berwarna merah maroon. Ia sekarang sedang mengikuti seorang wanita berseragam yang akan mengantarnya ke kamar yang telah ia sewa. Menurut Tsunade, 'wanitanya' begitu cantik dan ia takkan menyesal membuat Sasuke bertanya-tanya secantik apa ia. Wanita itu juga telah berada di sana, menunggunya dan tentu saja sudah 'siap saji'.

Walaupun ia terlihat santai, namun setiap langkah yang diambilnya membuat jantungnya makin bertalu kencang. Selain memikirkan segala konsekuensi dari tindakannya ini, ia juga memikirkan tentang—oh ayolah, ini adalah momen pertamanya. Gugup? Tentu saja! Selama ini ia hanya melihat tubuh wanita dari video, tidak secara langsung seperti yang akan terjadi sebentar. Sial, memikirkan itu malah membuat wajahnya makin memerah.

Mereka berdua tiba di sebuah pintu kamar berwarna coklat tua. Wanita tadi pamit undur diri meninggalkan Sasuke yang malah membatu di depan pintu bernomor 101 itu. Sasuke menarik dan menghembuskan napasnya kasar. Hei, ini akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah besar setelah ini. Ia cukup masuk, melakukan apapun yang ia inginkan dan selesai, seperti kata Naruto. Untuk itu, tanpa mengetuk Sasuke membuka pintu dan iris kelamnya menemukan sesosok wanita yang membelakanginya sedang duduk di atas ranjang.

Sasuke melangkah dan menutup pintu pelan, ia yakin wanita itu tidak mendengarnya. Ia masih begitu gugup saat mendekati ranjang. Bingung harus melakukan apa jadi ia berdehem singkat dan bisa ia lihat bahwa wanita itu nampak sangat terkejut.

"A-anda sudah di sini?" suaranya terdengar bergetar.

"Ya," jawab Sasuke singkat. Setelah itu keheningan tercipta, tidak ada yang berani bersuara sekecil apapun. Wanita itu masih duduk memunggungi Sasuke dengan rambut menjuntai di ranjang dan Sasuke pun hanya diam sambil menetralkan jantungnya agar kembali berdetak dengan normal. Mereka terus mempertahankan keheningan itu hingga Sasuke bersuara.

"Jadi?"

Lagi, wanita itu terkejut bukan main. "Ja-jadi?"

"Apa selanjutnya?"

"I-itu ..." Sasuke yakin, ia tidak salah dengar bahwa suara wanita itu bergetar. "A-aku harus... me-melayani Anda?"

"Ah ya." Sasuke menggaruk pipinya dengan telunjuk. Wajahnya kembali memerah dan detak jantungnya kembali memompa darahnya dengan cepat. Sial, padahal sudah susah payah ia menetralkannya tadi! Dan apa-apaan ini? Mereka akan melakukan 'itu' namun tingkah mereka seperti anak SMA yang sedang kasmaran?

Tanpa Sasuke duga, wanita di depannya membalik badannya takut-takut. Dan saat itu Sasuke melihatnya. Iris aquamarine yang bening, bulu mata yang lentik, bibir yang penuh, pipi yang ia yakin akan sangat empuk bila ditoel-toel, surai emas yang begitu panjang serta lembut dan ... dan ... Sasuke tidak bisa mendeskripsikannya lebih jauh karena ...

Wanita ini begitu cantik—manis lebih tepatnya.

Ah Tsunade tidak berbohong.

Wajah Sasuke makin memerah melihat 'wanitanya'. Ia sudah sering melihat wanita cantik dan manis namun ini terasa berbeda. Ia begitu manis, semanis gula. Hingga rasanya Sasuke akan langsung menerkamnya saat itu juga.

"A-anda Uchiha Sasuke-sama?" Sasuke tersentak, memfokuskan pikirannya dan mengangguk. "Ya."

Wanita di depannya mengangguk kaku. Gaun malam berwarna merah muda yang ia kenakan terlihat begitu cocok, menampilkan kulitnya yang putih bersih dan itu membuatnya makin terlihat manis alih-alih seksi. "Aku Yamanaka Ino."

Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan terjadi lagi. Keheningan kembali melanda. Ino hanya menatap jemari yang ia mainkan sedangkan Sasuke mengagumi keindahan wanita di depannya. Sungguh, ia begitu manis!

"Well," ucap Sasuke memulai. "Kau tahu apa tujuanku kemari."

Ino mengangguk kaku dan makin memainkan jemarinya. Melihat reaksi yang Ino keluarkan malah membuat Sasuke makin salah tingkah. Hei, apa ia benar-benar wanita malam!? Kenapa reaksinya malah seperti gadis SMA yang bahkan belum pernah melakukan ciuman pertama?

Sasuke memilih duduk di atas ranjang yang sama dengan Ino, jarak yang cukup jauh untuk pasangan yang akan berhubungan. Sasuke merasa bingung sekarang, ia tidak tahu harus melakukan apa pada wanita yang bahkan tidak berani menatapnya. Jika ia mendekat dan memaksanya, ia akan terlihat seperti om-om mesum yang akan memperkosa gadis SMA. Tunggu, tunggu, tapi kan ia membayar untuk semua ini.

Pria Uchiha itu melirik Ino sekali lagi. "Apa... kita bisa memulainya?" Hoo lihatlah dia. Dia makin berani padahal tadi ia sempat ragu dan gugup setengah mati. Tapi mau bagaimana lagi, kan? Jika terus seperti ini, ia tidak akan mendapat haknya.

Sasuke mendengar napas Ino memburu. Wajah wanita itu makin memerah. "Ba-baik." Mendengar jawaban lampu hijau dan wajah bersemu Ino yang makin membuatnya terlihat manis membuat Sasuke tanpa sadar mendekati wanita itu. Ia menduduki dirinya di samping Ino, menatap wajah Ino lebih dekat, menambah kadar manis yang begitu Sasuke kagumi.

Tangan Sasuke mencoba mengelus pipi Ino, ingin merasakan kelembutannya namun tangannya tiba-tiba saja ditepis dengan kasar. Mata Sasuke membola, begitu juga dengan Ino. Seolah tersadar apa yang barusan ia lakukan, Ino dengan panik meminta maaf, tubuhnya bergetar dan air mata mulai menganak sungai.

"Ma-maafkan aku, Uchiha-sama! Maafkan aku! A-aku—kumohon jangan lapor pada Tsunade-sama. Aku tidak ingin di pecat."

Sasuke menatap terkejut wanita di depannya. Bukan karena ia baru saja menerima penolakan, namun lebih kepada reaksi yang Ino keluarkan. Pertanyaan yang tadi sempat muncul di kepalanya kembali terlintas sekarang. Apa wanita ini benar-benar wanita malam? Dan ada apa dengannya? Kenapa Ino terlihat begitu takut bahkan saat ia hanya ingin mengelus pipinya? Apa jangan-jangan...

"Apa kau ... wanita baik-baik?"

Ino tersentak. Aquamarine yang telah basah dengan air mata itu mendongak dan menemukan mimik bingung kliennya. Mendengar pertanyaan itu entah kenapa membuat dada Ino makin sesak.

"A-aku..." Ino terisak. "Maafkan aku, Tuan. Ini adalah pengalaman pertamaku—"

"Pertama?"

Ino mengangguk. "Be-benar."

Mendengar Jawaban dan reaksi Ino membuat Sasuke yakin bahwa Ino adalah wanita baik-baik.

"Tapi kenapa?"

Ino memandang bingung.

"Kenapa kau bisa berada di tempat seperti ini?"

Ino tersentak dengan pertanyaan itu. Ia menundukkan kepalanya dan memilih untuk memilin gaun malam yang ia kenakan. "Ibuku menderita tumor otak dan aku harus mencari uang agar ibuku segera dioperasi." Ino masih terisak saat memulai untuk menceritakannya pada Sasuke dan pria itu dengan seksama mendengarnya.

"Tapi kami tidak punya cukup uang untuk membayar biaya operasi. Minggu lalu aku baru saja dipecat dan sekalipun aku tetap bekerja berpuluh tahun sebagai pelayan restoran, aku tetap tidak akan pernah bisa untuk membayarnya."

"Anda tahu, itu mahal sekali dan aku ... aku terpaksa memilih pekerjaan ini. Ini satu-satunya pekerjaan yang cepat menghasilkan uang. Aku hanya lulusan SMA jadi tidak mungkin untuk mendapat pekerjaan dengan gaji yang besar. Aku ... maafkan aku, Uchiha-sama. Aku harusnya melayanimu dengan baik, tapi aku malah takut seperti ini. Maafkan aku." Isakan Ino makin kencang. Ia bahkan sampai sesegukan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Sungguh, melihat itu membuat hati Sasuke menjadi sesak. Air mata itu membuat wajah manis semanis gula tadi memudar. Tidak, tidak, ia begitu menyukai wajah manis itu, jadi rasanya ia akan melakukan apapun untuk mengembalikan wajah manis tadi.

Seketika ia merasa sungguh keji dan hina. Ia hampir merebut kesucian wani—gadis di depannya di saat gadis ini melakukannya dengan terpaksa, melakukannya demi tujuan mulia. Dan jika tadi ia benar-benar menyentuhnya, ia tidak bisa bayangkan bagaimana rasa bersalahnya karena telah menghancurkan hidup Ino.

Ino gadis baik-baik, ia suci dan harusnya terus seperti itu hingga ia menikah. Dan rasanya ia takkan rela jika Ino harus menjual dirinya pada pria hidung belang lainnya termasuk dirinya.

Pria 32 tahun itu ingin menepuk pundak Ino, berusaha menenangkannya, namun ia urungkan. Takut jika Ino makin tak nyaman. Jadi, pria itu hanya melihat dengan khawatir sambil berpikir apa yang harus ia lakukan.

Beberapa saat kemudian, isakan Ino perlahan mereda, tidak kencang seperti tadi. Sedangkan Sasuke masih saja menatap Ino, otaknya sudah menyusun beberapa rencana yang bisa ia gunakan.

"Aku akan membayar semuanya." Perkataan Sasuke terdengar setelah beberapa menit terlewati dengan hanya isakan Ino. Gadis manis itu tersentak dan memandang Sasuke dengan irisnya yang memerah.

Mengetahui tatapan bingung Ino, Sasuke kembali menjelaskan. "Aku akan membayar biaya operasi ibumu."

Iris Ino melebar. "Anda yakin, Tuan? Itu... mahal sekali."

Sasuke menggeleng. "Yang penting ibumu selamat."

Perkataan Sasuke membuat Ino terharu. "Anda baik sekali," ujar Ino pelan. "Tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak punya uang untuk menggantinya."

"Kau tidak perlu menggantinya."

"Tapi itu terlalu banyak. Aku merasa tidak pantas menerimanya."

"Kalau begitu, sampai kapanpun ibumu tidak akan sembuh."

Ino mengigit bibir bawahnya. "Aku akan bekerja."

"Seperti ini?"

Entah kenapa nada serta suara pria di depannya meninggi membuat Ino takut-takut mengangguk.

"Kau tidak akan takut?"

"Aku ... tidak punya pilihan lain—atau kita kembali ke tujuan awal, Tuan? A-aku akan melayanimu sehingga aku bisa mendapatkan bayaran dari Tsunade-sama."

"Aku yakin bayaran yang akan kau terima tidak akan cukup. Jadi kau harus melayani pria hidung belang lainnya. Itu yang kau mau?" Demi Tuhan, aura Sasuke tiba-tiba berubah. Pria itu entah bagaimana menjadi dingin, tatapannya tajam, nada bicara yang tiba-tiba rendah dan itu membuat Ino takut.

Gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya. "A-aku bilang aku tidak punya pilihan—"

"Kau punya pilihan," potong Sasuke tegas. "Aku telah menawarkanmu untuk membayar semuanya. Tapi kau malah menolak dan lebih memilih menjual diri."

"Aku tidak bisa menerimanya! Aku sungguh tidak enak jika Anda harus menanggung semuanya. Ini tanggung jawabku dan aku tidak ingin merepotkan Anda."

Sasuke menggeram tertahan. Ia harus membujuk bagaimana lagi agar gadis ini mengerti. Ia benar-benar tak habis pikir sekarang. Gadis ini ... harga diri gadis ini begitu tinggi hingga ia menolak bantuannya namun di satu sisi ia menjual harga dirinya untuk orang lain!?

Astaga ... kenapa ada gadis sebodoh Ino di dunia ini!?

"Tu-tuan, a-ayo, kita lanjutkan yang tadi—"

"Kalau begitu menikahlah denganku."

Ino terkejut bukan main mendengar pernyataan atau lebih tepatnya permintaan Sasuke. Bibir serta mulutnya melebar, tak menyangka pria di depannya mengatakan hal semacam itu. Sasuke melamarnya. Ya, pria itu baru saja melamarnya!

"Anda ... yakin?" tanya Ino terbata.

Sasuke walau terlihat ragu menganggukkan kepalanya. "Ya."

Lagi, Ino terkejut. Gila! Kliennya benar-benar gila! Bagaimana mungkin ia melamar dirinya!? Mereka baru saja bertemu—belum sejam lamanya, bahkan tadi pria itu akan merebut kesuciannya dan yang terpenting adalah mereka tidak saling mencintai, namun pria ini berani melamarnya!?

"Anda gila!"

Sasuke menatap serius Ino. "Itu lebih baik daripada membiarkanmu disentuh oleh pria hidung belang."

Deg.

"Setidaknya dengan kita menikah kau tidak akan merasa tidak enakan jika aku membantumu."

Deg.

"Aku tahu ini terdengar gila—seperti yang kau bilang tadi, tapi aku tidak ingin kau melakukan hal ini lagi. Aku tidak ingin kau menjual dirimu disaat kau masih punya pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa ibumu."

Deg.

"Aku juga bahkan tidak peduli jika kita tidak saling mencintai. Hanya itu, aku hanya memintamu untuk tidak menyia-nyiakan diri dan masa depanmu. Jadi kumohon ..."

...

Sasuke terlihat menahan napas beberapa saat, sebelum melanjutkan.

"Kita menikah?"

Apa-apaan ini? Pria ini benar-benar gila! Bukan ... bukan hanya Sasuke yang gila. Ia juga sudah berubah menjadi gila dengan kembali memikirkan tawaran tadi! Kenapa hatinya seolah berkhianat dengan otaknya? Kenapa hatinya benar-benar tersentuh dengan seluruh ucapan yang Sasuke katakan? Padahal bisa saja kan pria itu hanya menggombal?

Tapi, tapi, ia sama sekali tak melihat keraguan di mata pria itu. Sasuke serius. Ia yakin Sasuke serius dengan semua ucapannya. Ini memang terdengar gila, tapi ia yakin bahwa Sasuke—pria yang belum lama dikenalnya—akan berusaha membahagiakannya.

Pria tampan itu bahkan begitu memikirkannya walau ia harus menikah dengan gadis yang tidak dikenalnya. Hanya karena apa? Hanya karena Sasuke tidak ingin dirinya menjual diri. Itu saja. Dan harusnya itu cukup membuktikan bahwa... pria ini benar-benar gila.

"Yamanaka-san?" Sasuke memasang raut wajah khawatir ketika Ino hanya terdiam setelah ... ehem setelah aksi melamarnya tadi. Ino benar, ia telah gila! Ia benar-benar gila ketika melamar gadis yang tidak dikenalnya ini. Ia juga tidak habis pikir kenapa ia mengeluarkan semua kalimat itu. Baru pertama kali ia bisa mengatakan hal 'romantis' seperti tadi.

Dan bukankah ia benci dengan pernikahan? Namun lihatlah ia sekarang, ia dengan gilanya melamar Ino disaat ia tidak berniat untuk menikah dalam waktu dekat. Tapi, benarkah? Benarkah ia masih berprinsip belum akan menikah ketika ia menyadari satu fakta bahwa jika ia tidak melakukan lamaran dadakan tadi, ia akan 'kehilangan' si gadis manis seperti gula ini?

Oh silahkan bunuh dirinya dengan senjata apapun.

Iris Sasuke kembali melirik Ino, terpantul dari retinanya bahwa Ino masih terlihat syok dan wajahnya memerah. Sasuke tertawa dalam hati, tentu saja Ino akan menolak lamaran abal-abalnya tadi. Mana mungkin ia mau menerima lamaran dari pria yang tidak ia cintai, kan?

Dengan pemikiran itu, Sasuke menghela napas. Mungkin ia keterlaluan sudah memaksanya untuk menerima—

"Anda ... serius, Tuan?"

—bantuannya.

Sasuke juga menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan Ino. Apakah ia serius? Atau ia hanya merasa kasihan atas cerita Ino tadi? Atau ia merasa tersinggung karena Ino menolak bantuannya? Apapun itu, ia rasa ia harus bertanggung jawab apa yang telah ia mulai. Ya, ya, ya, ia telah menjadi gila, sehingga tidak ada salahnya untuk menjadi gila sedikit lagi.

"Apa semua perkataanku tadi tidak cukup meyakinkanmu, Yamanaka-san?"

Ino menggigit bibirnya. "Ti-tidak."

"Kalau begitu semua cukup jelas. Aku tetap pada penawaranku tadi."

"Bagaimana ... bagaimana kalau aku menerima bantuanmu tapi kita tidak menikah?"

Sasuke terdiam. Tiba-tiba ia tidak menyukai pertanyaan yang Ino lontarkan. Seolah gadis itu memang tidak menyukainya—sudah jelas Sasuke yang terhormat. Mana mungkin Ino menyukaimu! Lihat, ia kembali menggila sekarang.

"Tidak masalah," ujar Sasuke ragu. "Tapi sepertinya aku lebih menyukai opsi kedua tadi."

"Opsi kedua?"

"Ya. Yang kita menikah."

Ino tercekat dan Sasuke mengutuk dirinya karena perasaannya kembali tidak sinkron dengan otaknya.

"Kita tidak saling mencintai," kata Ino pelan.

"Aku tahu."

"Anda tidak mengenalku."

"Aku tahu."

"Aku juga tidak mengenalmu."

"Aku tahu."

"Kita baru saja bertemu."

"Aku tahu."

"Aku belum siap menikah."

"..."

"Aku belum siap menjadi seorang istri juga ibu."

"..."

"Aku masih ingin bekerja mengumpulkan banyak uang. Aku benar-benar ingin keliling dunia, membeli ponsel, rumah, mobil dan apapun itu yang membuatku senang."

"..."

"Aku tidak yakin jika kita menikah, pernikahan kita akan berhasil."

"..."

"Aku takut akan sakit hati nantinya."

"..."

"Aku—"

"Tapi aku tetap ingin menikahimu." Ino memandang sayu Sasuke. Pria itu terlihat tertekan, namun tetap berusaha mengatakan apa yang ia pikirkan dan rasakan.

"Aku akui, semua yang kau bilang itu benar. Kita tidak saling mengenal, baru saja bertemu bahkan tidak saling mencintai," ujar Sasuke. "Aku juga sama sepertimu. Aku belum siap menikah. Ah bahkan aku tidak menyukai ikatan seperti itu. Rasanya seperti aku akan terkurung dan diperalat selamanya dengan seseorang dan itu menyebalkan." Sasuke kembali melanjutkan yang diakhiri tawa kecil di akhir kalimatnya.

"Aku juga belum siap menjadi seorang suami, terlebih seorang ayah. Aku juga takut aku akan menyakiti istriku dengan sikapku yang tak bersahabat. Yah banyak alasan mengapa aku belum siap."

Ino mendengar Sasuke dengan seksama. Ritme jantungnya perlahan meningkat seiring kalimat per kalimat yang dikeluarkan pria di depannya. "Namun entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin mengubah semua pikiran buruk itu. Aku tidak mengharapkan apa-apa dari calon istriku kelak, namun jika ia sama tidak siapnya denganku dalam memasuki dunia pernikahan, menjadi orang tua maupun saling memahami sikap, aku tidak masalah, malah aku lega. Karena setidaknya, kami akan jalan beriringan, saling membantu dan aku yakin ia takkan meninggalkanku karena kami memulainya bersama."

Sasuke menarik napas pelan. "Dan seperti yang kubilang tadi, aku tetap pada opsi kedua. Aku tahu ini situasi yang gila, aku juga tidak tahu kenapa aku malah seperti ini. Tapi—" Onyx bertemu aqumarine. Dan Ino melihat sesuatu di sana. Kesungguhan. "Aku benar-benar memintamu menjadi istriku."

Deg.

Ino ingin menangis sekarang. Setelah beberapa saat ia menahannya, pertahan itu runtuh. Ia tidak bisa menahan gejolak yang Sasuke berikan untuknya. Ia sudah mengeluarkan semua sanggahan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa menikah dengan Sasuke bukanlah hal yang tepat. Namun, lihat, pria itu dengan mudah mematahkan segalanya. Sasuke dengan segala yang ia punya berhasil meyakinkan bahwa menikah dengannya adalah pilihan terbaik.

Sekalipun dalam mimpi terliarnya ia tidak pernah membayangkan akan berada pada situasi seperti ini, namun sekarang ia malah berhadapan dengan seorang pria asing yang melamarnya dan ia malah dengan mudahnya jatuh hati hanya dengan mendengar suara itu.

Ino mengusap matanya, masih memilin gaun malamnya sebelum menatap Sasuke dengan diam. Dan Sasuke hanya tersenyum tipis. Sedikit lega ia telah mengeluarkan isi hati dan kepalanya.

"Jadi... " Sasuke kembali bertanya dengan gugup. "Kita menikah?"

"…"

"Aku ingin memulai semuanya bersamamu. Aku—kita akan saling saling belajar mencintai. Tidak masalah jika kau membutuhkan waktu lama ataupun—"

"Mana cincinnya?"

"Eh?" Sasuke mengedipkan mata beberapa.

"Mana cincinnya? Anda harusnya memberikanku cincin jika ingin melamarku."

Sasuke tercekat menyadari maksud Ino. Astaga Ino benar. Ia harusnya memberikannya cincin! "A-ah itu ... tujuan utamaku ke sini tadi bukan untuk melamarmu jadi aku hanya membawa—" Sasuke mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celananya.

Ino mengetahui kotak apa itu dan seketika wajahnya memerah padam. "A-anda mesum!"

Sasuke tidak sempat menghindar ketika Ino menghujaninya dengan pukulan kecil. Awalnya ia tak mengerti kenapa gadis di depannya tiba-tiba marah, namun begitu menyadari kotak apa yang ia keluarkan tadi ia terkejut bukan main dan langsung memasukkannya kembali ke tempat semula.

"I-ini dari Naruto. Ia memberikanku sebelum aku ke sini." Sial, kenapa ia malah melakukan hal memalukan seperti ini? Kenapa ia harus menunjukkannya pada Ino? Lihatlah akibat perbuatannya, gadis itu pasti telah berpikiran aneh-aneh.

Sedangkan Ino menyembunyikan wajah panasnya dengan menunduk. Ia tidak menyalahkan Sasuke, ia juga sadar bahwa tujuannya ke kamar ini untuk melayani Sasuke makanya ia memakai gaun tipis berenda seperti sekarang. Namun entah kenapa, setelah aksi 'lamaran' tadi membuat segalanya jauh lebih memalukan daripada saat pertama kali Sasuke menegurnya.

Dan kembali diam. Kedua sejoli itu memilih bungkam akibat malu yang melanda. Tak ada yang berani bersuara, bahkan mereka bisa mendengar detak jantung masing-masing. Namun Sasuke yang sedari tadi menunduk menyadari sesuatu.

Ia sontak mengangkat kepalanya dan memandangi Ino.

Tunggu, tadi Ino mengatakan bahwa ia harusnya membawa cincin jika ingin melamarnya. Itu artinya—

"Kau menerimaku?"

Dan jawaban dari Ino membuat senyum lebar terbit di wajah tampan Sasuke. Semburat merah di wajahnya masih bertahan dan ia pikir itu tak terlalu buruk.

"Ah terima kasih," balas Sasuke kikuk. Ia mengusap lehernya, berharap dengan gerakan kecil itu ia tahu harus melakukan apa lagi. "U-untuk cincin … aku akan membelikanmu nanti. Setelah ini."

Ino mengangguk malu-malu.

"Jadi kita... pulang?" tanya Sasuke terbata. Ino mendongak. Wajahnya masih merah. "Pulang?"

"Y-ya. Kita sudah tak ada keperluan di sini. Aku akan mengantarmu pulang."

Ino mengangguk. "Anda benar. Kita tidak jadi berhubungan—"

"Tapi kita akan menikah," potong Sasuke. Menyadari apa yang baru saja ia katakan membuat mereka kembali tersipu.

"A-ah kalau begitu aku akan menunggumu di parkiran. Jangan lupa beritahu Tsunade bahwa kau tidak akan bekerja lagi dengannya. Pe-permisi."

Setelah berpamitan secara singkat, Sasuke langsung berlari kecil keluar kamar meninggalkan Ino yang meremas dada kirinya. Oh Tuhan, ia bisa mati kalau jantungnya terus menerus seperti ini.

.

.

.

"Wah kenapa cepat sekali?"

Adalah kalimat pertama yang Sasuke dengar begitu ia sampai di ruangan yang Naruto dan Kiba tempati tadi. Ia mendecih sebentar lalu merampas alkohol dari tangan Kiba.

"Woh, woh, ada apa ini? Kau baik-baik saja?" tanya Kiba melihat Sasuke menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. Ia tahu Sasuke hanya akan 'minum' ketika pria itu lagi banyak pikiran.

"Yah, aku baik-baik saja." Sasuke melempar dirinya ke atas sofa dan memijit-mijit pangkal hidungnya.

Melihat ada yang tak beres, Naruto meminta ke enam wanita yang bersama mereka untuk keluar dari ruangan. Pria berambut kuning itu mendekati sahabatnya dan merangkulnya. "Jadi, bagaimana? Kau menikmatinya, kan?"

Sasuke mengangguk dan itu membuat dua pria lainnya menyeringai.

"Bagaimana wanita itu? Secantik dan seseksi apa dia?" Kiba bertanya dengan semangat diikuti Naruto yang siap mendengar pengalaman pertama sekaligus luar biasa sahabatnya.

Sasuke melirik mereka berdua. "Ia cantik—manis lebih tepatnya. Dan aku tidak begitu memperhatikan bagaimana tubuhnya tadi."

"Apa!?" seru Naruto dan Kiba bersamaan. "Bagaimana bisa kau tidak memperhatikan tubuhnya?" Naruto geleng-geleng kepala.

Berbanding dengan Naruto yang menatap heran, kiba malah menampilkan seringai andalannya. "Mungkin saking menikmatinya, sampai-sampai Sasuke tidak memperhatikannya."

"Woah, benarkah itu?"

Dan kemudian Naruto dan Kiba heboh sendiri dengan fantasi mereka. Sasuke tidak peduli, ia hanya fokus memperbaiki ritme jantungnya dan menyadari bahwa apa saja yang ia lakukan tadi.

Yah, ia melamar Ino dan gadis itu menerimanya. Benar-benar gila, bukan? Ia bahkan tadi berbicara terbata-bata, ah bukan Uchiha sekali.

Beberapa saat kemudian Sasuke tersadar bahwa ia belum membayar jasa Ino pada Tsunade. Walaupun ia dan Ino tidak melakukan apa-apa selain berbicara namun ia merasa ia harus tetap membayarnya. Ia tidak ingin hal itu menjadi masalah dan akan berdampak pada Ino ke depannya.

Ia kemudian mencari Tsunade dan tanpa basa basi langsung mengeluarkan kartu kreditnya. Tsunade mengatakan bahwa ia telah mendengar semuanya dari Ino, bahwa mereka hanya berbincang namun entah kenapa tiba-tiba Ino meminta keluar dari pekerjaannya. Sebenarnya Sasuke tidak ingin memberitahu, namun Tsunade terus mendesaknya untuk mengatakan alasan apa yang membuat Ino tiba-tiba keluar sehingga mau tidak mau ia memberitahunya.

Tsunade nampak terkejut sekaligus kecewa. Kecewa karena Ino adalah orang baru—jadi masih perawan dan gadis itu begitu cantik, manis dan mempunyai badan yang bagus. Jadi dengan keluarnya Ino tentu akan berpengaruh pada 'usahan'nya. Jadi bisa dikatakan bahwa Ino adalah 'aset' berharganya walau gadis itu masih dalam masa 'percobaan'. Mendengar semua yang Tsunade katakan membuat ia yakin bahwa apa yang telah ia lakukan (melamar) pada Ino adalah pilihan yang tepat.

Setelah bertransaksi dengan Tsunade dan wanita itu mengharapkan kedatangannya lagi, Sasuke kembali pada Naruto dan Kiba yang masih di kelilingi oleh enam—tujuh wanita.

"Aku pulang duluan," ujar Sasuke tiba-tiba.

"Kenapa cepat sekali?" Naruto keberatan. "Duduklah dulu dan minum sedikit lagi."

"Benar, Tuan. Tinggallah sebentar." Seorang wanita berpakaian minim mendekati Sasuke dan berusaha merangkulnya. Namun dengan kasar Sasuke menepisnya dan menatap tajam sekaligus jijik wanita itu. "Jangan menyentuhku, sialan."

Dan dengan kalimat terakhir itu, Sasuke beranjak keluar dari ruangan mereka, tak peduli dengan teriakan Naruto juga Kiba yang berusaha memanggilnya.

.

.

.

Ino menendang-nendang kerikil kecil di bawahnya, merasa itu adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan kebosanannya. Hampir 20 menit ia menunggu di parkiran seperti orang bodoh demi pria bernama Uchiha Sasuke.

Mengenai pria itu... ingatannya kembali ke kejadian di kamar tadi. Rasanya seperti mimpi tiba-tiba seorang pria tampan melamarnya. Padahal baru dua hari yang lalu ia diterima bekerja menjadi wanita malam di sini namun secepat itu 'takdir' nya berubah. Bukan berubah ke arah buruk, namun malah ke arah yang jauh lebih baik. Setidaknya ia tidak merelakan kesucian dan tubuhnya ke pria hidung belang dan yang terpenting ibunya akan segera sembuh. Memikirkan itu saja cukup membuat Ino bahagia.

Ino melirik jam di pergelangan tangannya. Bertanya-tanya apakah Sasuke menunggunya di parkiran mobil di sebelah sana? Atau jangan-jangan pria itu menipunya? I-itu tidak mungkin, kan? Sasuke tidak mungkin seperti itu! Ia sudah merelakan pekerjaan juga perasaannya demi seorang pria yang mungkin saja menipunya.

"Ah sial." Ino mengutuk dirinya sendiri yang mudah percaya sama orang asing. "Kalau ia menipu, habislah aku. Aku mau cari kerja di mana lagi?"

"Menipumu?"

Ino tersentak kaget dan segera sadar bahwa ada orang lain yang berbicara padanya. Ia menoleh ke belakang untuk mendapati sesosok pria tinggi dengan kemeja hitam memandangnya bingung.

"A-ah, hai," sapa Ino malu. Astaga pria itu mendengar gumamannya tadi.

Sasuke tersenyum kecil. "Maaf membuatmu menunggu. Aku tadi harus bertemu temanku dan Tsunade. Aku juga sempat mencarimu, kupikir kau menungguku di parkiran."

Ino mengangkat sebelah alisnya. Ia memandang sekelilingnya dan kembali menatap Sasuke. "Ini juga parkiran."

"Parkiran mobil maksudku."

"A-ah." Ino mengangguk kikuk menyadari kesalahannya. Sudah jelas Sasuke menunggunya di parkiran mobil, bukannya motor. Di lihat dari ia mau membayar biaya operasi ibunya sudah dapat dipastikan bahwa Sasuke adalah pria kaya, jadi mana mungkin ia membawa motor. "Ma-maafkan aku, Uchiha-sama."

Sasuke menggeleng dan tersenyum melihat tingkah lucu—ehem calon istrinya. Ia melihat bagaimana Ino sekarang. Calon istrinya itu hanya memakai jaket tebal berwarna ungu muda, rok selutut, sepatu kets dengan kaos kaki panjang serta syal yang melingkari lehernya. Tampilannya sekarang jauh berbeda dengan yang tadi. Sekarang ia terlihat begitu polos dan lugu, orang-orang sama sekali tidak akan menyangka bahwa ia hampir saja menjadi ... wanita malam.

Dan entah kapan ia menghela napas lega, begitu bersyukur bahwa ia tidak sampai merusak gadis ini. Ia tidak membayangkan bagaimana jika ia melakukan hal tidak-tidak terhadap Ino, gadis manis semanis gula. Yah apalagi jika kesucian Ino sampai diambil oleh pria lain. Memikirkan itu membuatnya takut seketika.

"Kalau begitu, ayo," ajak Sasuke. Ino mengangguk dan mereka berjalan beriringan ke parkiran mobil. Awalnya terjadi keheningan sebelum Sasuke memecahkannya.

"Kau tidak perlu berbicara formal lagi denganku."

Ino menengadahkan kepalanya melihat Sasuke yang jauh lebih tinggi darinya. Pria berambut raven itu juga melirik Ino dan lagi-lagi menampilkan senyuman yang Ino yakin akan membuat banyak wanita jatuh hati.

"Kau cukup memanggilku Sasuke, tanpa embel-embel -sama atau Tuan."

Ino membalas senyuman Sasuke. "Panggil aku Ino juga, Uc—Sasuke." Sasuke mengiyakan permintaan Ino dan setelah itu keheningan kembali terjadi bahkan saat di dalam mobilpun tak ada yang berusaha untuk memulai percakapan.

Hingga mereka tiba di depan sebuah apartemen kumuh dan Ino meminta Sasuke untuk berhenti. "Di sini aku tinggal."

Sasuke memandang bangunan beberapa tingkat yang terlihat tak terawat dengan baik. "Lantai berapa?"

"Lantai 3 nomor 33."

Sasuke mengangguk mencoba mengingatnya.

"Kau tidak mau turun?"

"Lain kali. Ini sudah tengah malam, aku tidak ingin menganggu ibumu."

"Baiklah."

Dan hening. Sasuke hanya diam dan Ino tak kunjung turun dari mobil. Ia bingung harus berkata apa sebagai salam perpisahan untuk eerr calon suaminya.

"Terima kasih, Sasuke." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ino. "Terima kasih sudah mengantarku pulang."

"Sama-sama." Sasuke lalu mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam kantong celana dan memberikannya pada Ino.

"Simpan nomor ponselmu. Besok aku hubungi."

Ino mengikuti perintah Sasuke, mengetik angka-angka di sana. Sebelum menyerahkannya pada Sasuke, ia sempat mengagumi ponsel tersebut. Dilihat dari luar saja sudah dapat dipastikan bahwa itu ponsel mahal. Entah kenapa melihat itu membuat semangat Ino untuk mencari kerja muncul kembali. Selain ingin ibunya sembuh, ia menginginkan sebuah ponsel, yang setidaknya bisa digunakan untuk media sosial.

"Aku tidak memakai ponsel pintar, jadi kau hanya bisa mengirimiku pesan." Jujur saja, Ino merasa minder sekaligus malu. Di semua gadis seusianya berlomba-lomba mengganti ponsel pintar mereka ke yang lebih 'pintar', apalah daya ia hanya memiliki ponsel biasa yang bahkan tak memiliki kamera.

Sasuke menerima ponselnya dari tangan Ino. "Tak masalah. Aku akan meneleponmu nanti."

Ino mengangguk. "Kalau begitu, aku turun. Bye."

"Bye—ah Ino." Baru saja Ino menutup pintu mobil ketika Sasuke kembali berseru. Ino menunduk demi melihat Sasuke yang menatap cemas ke arahnya. "Ada apa?"

Sasuke terlihat ragu untuk berbicara. "Kita ... akan menikah, kan? Kau serius menerimaku tadi, kan?"

Pertanyaan sekaligus mimik Sasuke yang harap-harap cemas entah kenapa membuat hati Ino membaik akibat masalah ponsel pintar tadi. Gadis itu mengangguk pelan dan berkata 'tentu saja' dan disambut helaan napas lega oleh Sasuke.

"Masuklah. Aku akan memastikanmu aman."

"Hei, pintu apartemen hanya beberapa meter dari sini."

Gelengan Sasuke terlihat. "Masuklah."

Tak ingin memperpanjang, Ino melangkah menuju pintu utama apartemen. Ia menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya pada Sasuke sebelum memasuki apartemen tersebut.

Sedangkan Sasuke lagi-lagi tertawa kecil. Ah ia sudah gila hari ini. Mulai dari menginginkan kenikmatan duniawi, melamar hingga takut jika Ino hanya bercanda menerima lamarannya adalah hari yang tidak akan pernah ia lupakan. Ia telah gila dan ia akan lebih gila jika ia tidak bertemu dengan hari ini.

Iris Sasuke melihat deretan angka yang tertera di ponselnya. Memikirkan nama apa yang akan ia sematkan untuk kontak Ino. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia mengetikkan beberapa huruf di sana dan puas saat melihat hasilnya.

Sugar.

Yah, Ino begitu manis semanis gula. Ia memang kurang menyukai makanan manis, namun entah kenapa untuk yang satu ini ia takkan pernah keberatan. Hei, manusia juga membutuhkan gula untuk energi, kan? Jadi dengan adanya Ino, ia tetap akan bisa mendapat 'gula' walau tanpa memakan makanan manis. Ah suatu saat nanti ia akan 'memakan gula' yang satu ini juga. Bukan sekarang memang, tapi ia akan pastikan itu tidak akan lama lagi—setelah mereka menikah tentu saja.

Sasuke tersadar apa yang baru saja ia pikirkan. Ia menggeleng menertawakan dirinya sendiri yang benar-benar berubah menjadi budak cinta gila hanya karena seorang Yamanaka Ino, gadis manis yang bahkan belum sehari dikenalnya. Sekarang Sasuke mengakui bahwa cinta itu ajaib.

Sasuke meletakkan ponselnya di tempat Ino duduk tadi dan menyalakan mesin mobilnya.

Hei, tapi itu serius! Ia hanya tidak menyangka akan secepat ini berubah pikiran setelah sebelumnya ia begitu anti dengan pernikahan. Namun karena ini adalah hari tergila yang ia alami, jadi ia akan mengganggap prinsipnya lalu hanyalah omong kosong.

Lagipula, sekali lagi ia tidak keberatan menjadi gila asal bersama Sugar nya.

.

.

.

End/TBC?

A/N: Hai minna… ada yang rindu Hat gak? #plak ah gk ada yah :" Well sepertinya Hat udah kelamaan 'semi hiatus' nya yah :') ah maafkan Hat, rencana awal Hat bakal aktif akhir Desember kemarin. Namun karena berbagai hal, salah satunya kerjaan membuat baru hari ini Hat aktif lg. Jadi maafkan Hat yang udah menelantarkan fic My Boyfriend is a Gigolo T.T

Dan yah, ini adalah fic pertama setelah Hat hiatus, hitung-hitung sebagai pemanasan untuk ngelanjutin fic lainnya. Jadi maaf banget kalau fic ini rada ancur. Udah lama Hat gk nulis jadi sekalinya nulis malah kaku gini wkwkwk :p

Apakah ini oneshoot atau mc? Hat bingung sih, maunya oneshoot aja biar gak banyak utang, tapi Hat suka liat Sasu-chan di sini, jd sayang klo gk dilanjut. Tapi nanti diliat yah dan tergantung suara terbanyak juga. Jadi, untuk sementara statusnya Hat tulis Complete.

Well, Hat sangat mengharapkan kritik dan saran lagi dari minna-san sekalian yah ^^

Sankyu…

Black Hat.