Eijun berhenti di depan gerbang sekolahnya. Melihat banyak anak-anak dengan seragam sama seperti yang ia kenakan berjalan mendahuluinya, menyapa seorang guru yang berjaga di depan dan melenggang menuju loker sepatu. Beberapa dari mereka saling menyapa yang kemudian memutuskan untuk masuk bersama.

Pemandangan ini adalah hal biasa yang selalu terjadi setiap hari, tapi entah kenapa pagi ini rasanya jadi sedikit berbeda. Jadi lebih berwarna, bermakna, dan Eijun bersyukur bisa menyadari seberapa indahnya kesederhanaan pagi ini.

"Apa yang kau lakukan? Ayo masuk."

"Oh, Kaz—Miyuki-senpai." Sedikit malu, Eijun menundukan kepalanya, menghindari sepasang mata yang terbingkai mengarah padanya.

"Ada apa?"

"Ti-tidak ada apa-apa. Ayo masuk senpai."

Kazuya mengangkat sebelah alisnya tidak paham. Tapi kemudian senyumnya terukir, mengira Eijun hanya sedang senang atau ada hal baik yang terjadi. Dia berjalan lebih dulu mendahului Eijun yang tersenyum tulus di belakang. Mengikuti kakak kelasnya dan ikut menyapa sekitar juga gurunya. Mereka mengganti sepatu mereka dan berjalan bersama ke ruangan masing-masing.

Kazuya melambaikan tangannya pada Eijun, dia menaiki tangga menuju tangga, sementara Eijun berjalan lurus ke kelasnya.

"Senpai, nanti jangan lupa tangkap lemparanku ya. Hari ini giliranku, jangan ingkar janji!" seru Eijun menunjuk Kazuya tanpa sopan, jangan lupakan cengiran lebar itu.

"Enggak mau." balas Kazuya menjulurkan lidahnya. Sambil tertawa kabur, dia biarkan Eijun uring-uringan di sana.

Setelah Kazuya hilang di ujung lorong, Eijun menghela napas lega. Sejak di gerbang bertemu dengan Kazuya irama jantungnya jadi aneh dan sangat berisik. Debarannya hampir merusak gendang telinganya sendiri.

Tapi syukurnya Kazuya masih seperti biasa. Walau rasanya sedikit kecewa.

Kemarin malam dirinya dan Kazuya sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Ada rasa takut kalau hari ini bakal jadi hari yang canggung, tapi ada juga harapan kalau hari ini bakal jadi hari paling manis.

"..tapi ya sudahlah. Seperti ini mungkin lebih baik."

Eijun berbalik, berjalan menuju kelasnya sambil berharap dia bisa meminimalisir rasa berbunga-bunga dalam dirinya ini.

Dirasakannya telepon genggam di sakunya bergetar dua kali. Eijun merogohnya dan mendapati satu pesan e-mail dari Kazuya. Sudah terbayang imajinasi banyak hal tentang apa yang Kazuya kirim, jadi dengan cepat Eijun membuka pesan itu dan membacanya.

'Aku tunggu di halaman belakang saat makan siang.'

Itu isinya.

Eijun menggendikkan sebelah alisnya bingung, untuk apa mereka ke taman belakang saat makan siang? Eijun berpikir lama sampai dia duduk di bangkunya.

Sedikit penasaran dengan apa maksud Kazuya mengajaknya bertemu di halaman belakang, tapi Eijun tidak ada niat untuk bertanya balik.

Toh, siang nanti mereka bertemu, kok.

Tapi sebelum itu dia harus membatalkan janjinya dengan Furuya dan Kanemaru.

"Nah-nah, Furuya, Kanemaru." Eijun mendekati mejanya dan membuat kedua kawannya menoleh, "Nanti istirahat kalian berdua saja, ya. Aku ada urusan."

"Urusan apa?" Furuya mendekat.

"Rahasia." Sahut Eijun. "Pokoknya hari ini aku tidak makan bersama kalian."

"Kau ditembak cewek ya?" Tebak Kanemaru dengan ekspresi kecutnya. Furuya yang berdiri di samping bangku Kanemaru membeliak kaget, menatap Sawamura meminta penjelasan yang lebih rinci.

"Bukan!" Seru Sawamura protes, "kenapa juga harus ada yang nembak aku?!"

"Terus urusan apa?" Tanya Kanemaru lagi, mengintrogasi.

"Uhh," dengan gugup, Sawamura memainkan kedua telunjuknya, "ada pokoknya. Ini masalah pribadi."

"Ohh, pribadi ya."

"Eijun, punya masalah pribadi? Apa kau bertengkar dengan siswa lain?" Kali ini Furuya yang bertanya.

"Ha? Bertengkar? Untuk apa? Kan aku anak baik-baik. Apa gunanya aku bertengkar? Ketahuan boss mampus aku nanti."

"Oh, bukan ternyata."

"Jadi," Sawamura menepuk kedua tangannya dan sedikit membungkuk pada kedua temannta, "maaf aku tidak bisa ikut makan siang bareng. Besok deh." Serunya meminta maaf.

Furuya mengangguk tak masalah. Dan Kanemaru hanya mengibaskan tangannya malas tanda kalau dia juga tak masalah, "Asal kau tidak membuat dirimu dalam pertengkaran besar dan merugikan kita, aku tak masalah."

"Furuya! Kanemaru! Kalian benar-benar teman yang baik!"

Berkat restu dari kedua kawan baiknya, siang saat jam istirahat Eijun bisa pergi ke halaman belakang. Memilih satu spot teduh dekat sebuah pohon besar, tidak jauh dari perpustakaan.

Suasananya tenang, sejuk dan cocok untuk tidur siang. Tapi hatinya tidak bisa tenang. Sejak satu jam sebelum bel tanda istirahat berbunyi, debar jantungnya tiba-tiba saja menggila.

Eijun tidak pernah berpikir kalau punya janji temu rahasia dengan kekasih itu sebegini menegangkan. Padahal ia sering membuat janji temu dengan Kazuya sebelumnya. Dan ini pertama kalinya Eijun khawatir hanya karena akan bertemu Kazuya.

"Ayolah, jantungku. Lebih tenang sedikit." Tangan kirinya mengepal dan memukul pelan dada, berharap dengan itu bisa membuat tenang dirinya. "Kalau kau berisik seperti ini aku jadi takut bertemu dengan Kazuya."

"Kau sedang bicara dengan siapa?" Sosok yang menjadi penyebab jantungnya menggila muncul, mengagetkan Eijun yang belum siap bertemu. "Ada apa?"

"MIYUKI-SENPAI?!" Pekik Eijun langsung merangkak mundur sejauh yang dia bisa, seperti baru saja Eijun melihat hantu.

Kazuya menaikkan sebelah alisnya heran, "Kenapa kau menjauh?"

"Ah! Tidak! Itu, se–sejak kapan senpai datang?" Tanya Eijun, pipinya bersemu merah jelas dan itu menggemaskan.

"Baru saja," jawab Kazuya kemudian duduk bersandar. Dia menepuk rumput subur di sebelahnya, mengundang Eijun guna duduk di sebelahnya seraya tersenyum lembut, "Sawamura, sini. Aku tadi sempat buatkan bekal untuk kita berdua."

Eijun sedikit tersentak. Dia mengangguk paham dan mulai merangkak dan duduk di sebelah Kazuya. Jantungnya yang berdebar menjadi rasa candu tersendiri saat memperhatikan Kazuya yang membuka kotak bekal berwarna biru muda itu, menunjukkan enam buah nasi kepal dan enam iris telur gulung.

"Aku tidak sempat memasukkan sayurnya, jadi aku hanya menambahkan potongan dadu wortel dan seledri di telur gulungnya. Aku juga belikan minuman untukumu," Kazuya menaruh dua kaleng minuman berupa kopi pahit dingin untuk dirinya dan teh hijau dingin untuk Eijun, "Aku juga belikan roti yakisoba ini. Makanmu banyak kan. Apalagi nanti kau akan melempar banyak. Simpan banyak tenagamu dan jangan buang sia-sia." Jelas Kazuya, dia menunjukkan tiga bungkus roti yakisoba.

Iris emas itu berkerlip kagum. Perhatian dan kasih sayang lembut Miyuki Kazuya yang hanya ditunjukkan pada Eijun barusan sangatlah spesial. Bagaimana Kazuya bicara, bagaimana Kazuya memperhatikan Eijun, dan bagaimana Kazuya tersenyum sehingga membuat Eijun untuk kesekian kalinya kembali jatuh cinta pada Kapten Seido ini. Rasanya Sawamura tidak akan bisa menyingkirkan sirat merah malu dan degup jantung senangnya sampai nanti mau tidur.

Tapi kemudian Eijun tersadar, dirinya datang dengan tangan kosong ke sana.

Setelah bel tadi, Eijun tidak mengabil jalan memutar dan langsung menuju tempat ini.

Senang sih, sudah dapat banyak makanan dari Kazuya. Tapi tetap saja, jadi sedikit tidak enak hati juga.

"Ano, senpai."

"Kenapa?"

Eijun menunduk, beberapa helai rumput hijau di bawahnya dicabut paksa sebagai bentuk penyesalan. "Maaf, aku tidak bawa apa-apa kemari."

Ada jeda beberapa saat sampai Kazuya tertawa dan mengundang Eijun kembali mengarahkan pandangan pada sosok sang kekasih. "Lalu kenapa? Kau tidak enak hati karena hanya aku yang bawa makanan?"

Eijun mengangguk. "Aku tidak ingin dianggap kekasih matre."

Dan sekali lagi, Kazuya terbahak keras karena mendengar jawaban Eijun.

Dia sampai mengusap air matanya sendiri yang keluar di pucuk kelopak matanya, "Ya ampun, kau lawak atau apa sih? Sawamura Eijun matre? Lelucon dari mana itu?!" Kazuya terus tertawa.

Membuat Eijun kesal dan mengepalkan tangannya, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menonjok kekasihnya sendiri.

Puas tertawa, Kazuya merilekskan otot perutnya dan menyengir pada Eijun, "Satu satunya yang aku tahu, kau itu rakus. Baik dalam baseball atau dalam yang lain. Ah, sekalian rakus natto ya."

"Tolong jangan bawa bawa natto! Apapun selain natto!"

"Natto bagus lo untuk penangkal panas. Ekspresimu lucu waktu dipaksa makan natto."

"Pass! Pass! Pass! Pass! Aku menolak keras sebuah eksistensi bernama natto! Mending aku milih Miyuki-senpai saja!"

Kazuya membeliak terkejut. Eijun yang tersadar akan kalimatnya sendiri juga terkejut dengan wajah memerah sempurna. Menatap Kazuya gugup dan malu.

"Oho," Kazuya menyeringai, "jadi kau lebih suka memakanku ya?" Ucap Kazuya sedikit melonggarkan dasinya.

"Bukan bukan!" Eijun sidikit mundur seraya mengibaskan kedua tangannya dan membuat tameng agar Kazuya tidak mendekat, "Ma-Maksudku bukan begitu!"

"Sawamura Eijun..."

"Bukan pokoknya!"

Kazuya baru menghentikan gerakannya setelah Eijun benar-benar jatuh terbaring di bawahnya, beralaskan rumput hijau berpatung teduhnya bayangan pohon, wajah memerah sempurna dan mata terpejam ketakutan.

"Senpai, kumohon." Suaranya pelan, tapi Kazuya bisa mendengar permintaan itu dengan jelas. "Aku belum siap. Jantungku bisa meledak rasanya."

"Ledakan saja kalau begitu."

"Hah?"

Kazuya kembali tertawa. Dia bangun dan memposisikan dirinya duduk seperti sebelumnya. Ingin hati untuk terus menggoda kekasihnya, tapi dia sendiri tahu Eijun butuh istirahat sebentar dari godaannya.

Setelah membantu itu kembali duduk di sampingnya, Kazuya memberikan satu hukuman untuk Eijun yang sudah menggodanya tapi justru memohon ampun tidak dibalas.

Hukumannya sederhana, hanya menarik hidung si berisik ini.

"Aww!"

"Hukumanmu."

"Eh? Kenapa aku yang kena hukuman?"

"Karena sudah menggodaku."

"Hah? Kapan?"

"Baru saja, sepersekian detik yang lalu." jawab Kazuya asal.

Eijun menggembungkan pipinya kesal dan menggemaskan. Dia mendudukkan diri seraya mengerutkan alsinya kesal pada sang kakak kelas, "Padahal senpai yang mulai duluan menggoda. Kok aku yang dihukum? Harusnya senpai juga dihukum. Kau membuat jantungku mau meledak tahu."

"Meledak seperti granat atau bom atom?"

"Seperti bo-" Eijun yang mengrem kalimatnya secepatnya begitu sadar akan mengikuti alur jahil kakak kelasnya.

"MIYUKI KAZUYA!"

Alhasil Kazuya tertawa terpingkal-pingkal mendapati reaksi Eijun yang berubah dari bunga indah yang malu-malu untuk membuka lebar kelopaknya menjadi setan uring-uringan yang gagal menghasut manusia. Sungguh lucu dan menggemaskan.

"Kenapa kau selalu begitu? Suka menggodaku dan menjadikanku bahan bullyan semuanya? Kau suka gitu lihat aku tersiksa? Jahat ya? Pacar macam apa kau suka sekali melihat kekasihmu tersiksa." Seru Eijun berkacak pinggang marah.

Kazuya menghentikan tawanya sejenak. Dia berdehem sejenak dan tersenyum lembut pada Eijun seraya menjawab, "Iya."

"AAKKKHH! KOK AKU MERASA KESAL YA!" Pekik Eijun frustasi mengacak rambutnya kesal.

Kazuya kembali tertawa. Perutnya sampai kaku melihat reaksi Eijun itu.

"Berhenti tertawa!" Dia merajuk, pipinya mengembung dan itu justru membuat Kazuya semakin ketagihan.

Dia berdiri, kedua tangannya bertolak pinggang, alisnya menukik tajam. Kazuya tahu kekasihnya ini mulai kesal. Tapi tawanya tidak bisa berhenti begitu saja. Eijun terlalu lucu. "Kubilang ... BER-HEN-TI TER-TA-WA!"

Untuk berapa saat Kazuya tetap tertawa. Baru setelah Eijun mebalikan badan, hendak berjalan meninggalkan tempat janjian mereka itu, tawanya berhenti.

"Tunggu dulu." Tangan Eijun ditangkap sebelum menjauh dari jangkauan. "Baiklah-baiklah, maaf."

"..." Tatapannya masih sinis saat berbalik.

"Ayo duduk lagi, kita belum selesai makan." Kazuya kembali menata makanan yang ada, menepuk satu tempat di sampingnya.

Tentu saja Eijun luluh dengan kebaikan Kazuya, semu pink samar terpatri tidak begitu jelas pada pipi empuknya. Dia kembali duduk di sebelah Kazuya dan memeluk lututnya, menyembunyikan rasa senang dan berbunganya, "Miyuki-senpai..." panggil Eijun lirih pada kakak kelasnya. Kazuya tersenyum lembut dan manis pada Eijun, menatapnya menunggu apa yang akan dikatakan Eijun, "benar kau mencintaiku?"

Terdiam, Kazuya cukup terkejut mendengar Eijun menanyakan hal demikian, "Kenapa menanyakan itu?"

"Aku senang kita sepasang kekasih sekarang. Dan aku senang ternyata perasaan kita saling terbalaskan juga. Tapi terkadang aku mendadak meragukan perasaanmu. Apakah itu serius atau tidak? Apakah kau akan mendadak meninggalkanku tanpa alasan seperti apa yang orang dewasa lakukan? Apakah kau setelah memasuki dunia pro akan tiba-tiba menjadi dingin? Aku banyak meragukan hal hal yang menurutku sendiri tidak penting. Karena itu aku menanyakan itu."

"Karena kau selalu ragu?"

Eijun mengangguk, iris emasnya menatap serius pada manik karamel Kazuya, "Jadi sekarang aku tanyakan, apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?"

"Eijun," napas Eijun tercekat langsung mendengar nama panggilannya meluncur halus dari bibir Kazuya seperti itu sesuatu yang natural, menekan jantungnya dan menghambar diafragmanya, menghasilkan sensasi candu berupa remasan nikmat yang mencekik kerongkongannya, "Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku akan terus mengutarankan ini sampai kau bosan dan aku sendiri lelah. Sampai bukan lagi kalimat yang menunjukkan nyata bagaimana perasaanku padamu, tapi sebuah tindakan nyata yang benar-benar mengutarakan bagaimana cintaku padamu yang sangat tulus dan tidak akan pernah habis."

Sekali lagi Eijun harus mengingat bagaimana caranya bernapas di saat-saat seperti ini. Bagaimana Kazuya mengutarakannya, bagaimana Kazuya menatapnya, dan bagaimana Kazuya yang sekarang mengusap pipinya lembut penuh kasih, Eijun harus mengingat kalau dirinya masih bangun seratus persen dan ini bukanlah mimpi belaka.

"Nah, sekarang makan makan siangmu. Hari ini giliranku menangkap lemparanmu kan? Kau bilang ingin melatih nomormu lebih banyak lagi? Hari ini kau mau melatih nomor berapa?"

"No-nomor sebelas.." jawab Eijun lirih, jangan lupakan semburat merah jelas melintang dari ujung telinga kiri ke telinga kanannya, menambah kesan imutnya.

"Baiklah, mana yang mau kau makan duluan?"

"Telur gulung..."

Kazuya mengambil sumpit kayu berwarna coklat kehitaman dan menyumpit telur gulung dengan campuran wortel dan seledri itu, menyuapkannya pada Eijun yang langsung dilahap dalam satu gigitan. Rasanya enak, walau berbeda dengan bagaimana cara ibunya memasak di Nagano, tapi Eijun dapat dengan jelas tahu kalau rasa ini adalah rasa khas yang hanya seorang Miyuki Kazuya yang bisa.

"Enak?"

Eijun mengangguk sebagai jawaban, "Senpai juga makan, jangan cuma aku saja."

"Tentu saja aku akan makan," balas Kazuya, "Setelah satu suapan ini." dia menyupit satu telur gulung lagi, dia suapkan pada Eijun sekali lagi.

Selama makan siang, Kazuya seperti terus memanjakan Eijun. Seperti kekasihnya adalah anak kecil yang sangat manja dan bandel dan selalu minta disuapkan. Padahal nyatanya bisa makan sendiri, tapi saking malunya dan senang jadi hanya merengut manyun sementara dalam hatinya berbunga-bunga. Pacar memang gitu ya, di belakang memuji, di depan pasang ekspresi kecut. Seperti, "Hanya Miyuki-senpai yang boleh melihatku berekspresi seperti ini."

Namun Kazuya menikmati bagaimana setiap ekspresi dan tindak yang Eijun lalukan. Bagaimana dia ngambek, bagaimana dia merajuk, bagaimana dia serius, terutama bagaimana dia tersenyum lebar. Kazuya merasa bahagia dan tenang melihat kekasihnya bahagia. Seperti dia rela mengorbankan apapun hanya demi kebahagiaan Eijun.

Bucin ya namanya?

Entahlah, intinya Kazuya rela kalau itu untuk Eijun.

Bekal mereka sudah habis, sekarang Kazuya hanya duduk di samping Eijun sambil menikmati minuman kaleng mereka masing-masing. Merasakan angin sejuk musim semi yang mau berpindah ke musim panas. Membiarkan helaian rambut mereka berkibar lembut mengikuti ritme angin.

Dan saat itu Eijun begitu terkagum dengan bagaimana kakak kelasnya menikmati sang angin. Kelopak matanya terpejam, alis lentiknya tersembunyi di balik bingkai hitam berkaca persegi. Senyum terukir begitu saja, senyum lembut dan kesenangan yang tidak ada duanya di dunia ini. Ketika itu, Tangan Eijun tergerak mengusap rambut Kazuya. Menyibaknya sampai helaian itu kembali terlepas ke posisinya kembali menutup kening Kazuya.

"Kenapa, Sawamura?" tanya Kazuya tersenyum.

"Rambut Miyuki-senpai sangat lembut dan tipis. Seperti jarum." Puji Eijun dengan sirat mata terpana.

"Jarum tajam dan tipis. Bisa-bisa kepalaku berdarah nanti."

"AKU MEMUJIMU!" Bentak Eijun marah, dia langsung menarik tangannya dan mengepalkannya kesal.

"Tapi seperti jarum bukan pujian, itu sindiran."

"Terserah deh." Eijun langsung memunggungi Kazuya, kesal sendiri karena kekasihnya tidak bisa sekali saja tidak membalas setiap ucapan Eijun dengan kalimat mengesalkan.

Kazuya tersenyum. Dia meremas kecil lengan kiri Eijun dan menariknya sampai hampir terjungkal ke belakangn. Dalam hitungan sepersekian detik, Kazuya mencium kecil pipi kenyal Eijun. Membuat sang adik kelas hanya terpaku membelalakkan mata dan membeku di tempat.

"Nah, sudah jangan ngambek. Cepat balik kelas sana. Pelajaranmu berikutnya pelajarannya pelatih kan. Cepat sana." Ucap Kazuya setelah melepas ciumannya. Dia meminum kopi kalengannya sampai habis lalu merapikan kotak bekalnya juga sampahnya. Kemudian tanpa pamit dia langsung berdiri beranjak dari tempat mereka duduk tadi.

Tersadar kalau ditinggal, Eijun dengan wajah memerah dia segera berdiri dan mengejar kakak kelasnya, "Miyuki-senpai, tunggu!" serunya mengejar Kazuya.

Sungguh, harus berapa kali Eijun dikejutkan dengan segala tindakan Kazuya kalau hanya berdua? Jiwa raganya benar-benar tidak siap. Terkutuknya siapa yang menciptakan Miyuki Kazuya, Eijun ingin berterima kasih padanya dengan sepenuh hati dan jiwa. Sungguh, Kapten Seido itu membuat dirinya jatuh cinta padanya berkali-kali.

.

.

.

END