Chapter 1
Ini adalah sebuah Fic yang khusus di persembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren.
•
…The Boy And The Power Of Magic…
Summary: Naruto bocah yang dianggap aib dan dibenci oleh warga desanya, karena dikira tidak memiliki chakra. Tetapi walaupun begitu, didalam tubuh Naruto terdapat kekuatan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Dunia Shinobi.
Naruto by Masashi Kishimoto
This story by Me
Genre: Advanture, Action, Fantasy, Friendship, dan mencoba menyelipkan Humor(yang garing)
Pair: …X…
Rated: T - M
Warning: OC, OOC, GaJe, EYD Salah, Penggunaan Kata Tidak Sesuai, Typo(s), Miss Typo(s), Alur Berantakan, Semi-Canon, And Many More.
Enjoy it~
Prologue
Chapter 1: Sebuah Ikatan
Perkenalkan namaku Namikaze Naruto, aku anak dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Aku dibenci oleh warga desaku sendiri, karena mereka pikir aku tidak memiliki chakra dan itu membuat diriku seolah-olah aib bagi desa ini. Tetapi, walaupun tidak memiliki chakra, aku tetap dicintai keluargaku dan orang terdekatku.
Aku sekarang sedang beristirahat setelah berlatih Kenjutsu dan Taijutsu ditempat seperti biasa. Bicara soal tempat latihan, aku selalu berlatih dihutan dekat dengan danau yang sangat luas, karena menurutku tempat ini sangat cocok digunakan untuk berlatih. Apalagi tempat ini memiliki pemandangan yang sangat indah, khususnya dipagi hari dan sore hari. Seperti yang kulakukan saat ini, melihat matahari terbit sambil merebahkan tubuhku di atas rumput yang hijau.
Srekk..srekk..
Seketika acara istirahatku terganggu saat mendengar suara daun yang bergemerisik. Kubangunkan tubuhku dari acara tiduranku, dan langsung kuedarkan pandanganku ke segala arah untuk mencari suara tersebut.
Srekk..srek..swuush..tak tak tak
Dengan cepat aku melompat ke belakang sambil membawa sebuah pedang [katana] di tangan kananku, ketika melihat tiga shuriken yang mengarah kepadaku.
Tap!
Aku mendarat ditanah dengan sempurna. Kulihat tidak jauh di depanku, tiga shuriken yang tadi mengarah kepadaku menancap ditanah, tempatku tadi berdiri.
Swussh..tap tap tap
Tiba-tiba didepanku muncul tiga Anbu Ne. Yah..aku yakin pasti mereka yang melempar tiga shuriken tadi.
Aku memandang dengan santai tiga Anbu yang ada di depanku. "Coba aku tebak, hmm..kalian pasti ingin membunuhku, kan?", tanyaku santai dengan mumukul-mukulkan pelan katana yang masih tersarung pada pundakku.
"Jangan terlalu percaya diri, bocah. Kami pastikan hari ini kau akan mati, karena apa..?" tanya salah satu Anbu yang sepertinya sengaja menjeda ucapannya, "..karena Itachi dan Shisui sedang menjalankan misi bersama, dan sekarang tidak ada yang menjagamu. HAHAHA!"
Aku tidak memedulikan tawanya yang keras itu. Aku lebih memikirkan keadaanku sendiri, bagaimana jika yang dikatakan Anbu tadi benar?!, tidak tidak tidak..aku tidak ingin mati muda! Dapat kurasakan kakiku yang sedikit bergetar. Ah, sial. Tenangkan dirimu sendiri Naruto..ingat yang selalu dikatakan Tou-chan.
'…Kau harus tetap tenang di setiap keadaan...'
Ya, tenang. Tapi tetap saja aku tidak tenang bisa di saat seperti ini! Gehh..sial. 'Meskipun begitu, aku harus mencoba untuk tetap tenang', batinku untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Kenapa kau diam saja, bocah. Apa kau sudah merasa takut~..hehehe.." kutatap Anbu lainnya yang berkata tadi.
"Cih, kau pikir aku takut, walaupun harus melawan kalian bertiga sendirian!?", kuucapkan itu dengan lancar. Yah..jujur saja aku memang merasa takut. Bahkan jika aku selamat, aku tidak yakin apa aku akan mendapat luka yang ringan.
Yah siapa peduli. Dengan cepat kutarik katanaku dari sarung pedangnya dan memasang kuda-kuda bertarungku. Tangan kananku lurus kedepan memegang katana dengan ujung pedang kearah atas, sementara tangan kiriku memegang sarung pedang yang kutempelkan pada lengan kiriku bagian luar.
"Jangan sombong kau, bocah. Meskipun Kenjutsu dan Taijutsu mu cukup hebat diusiamu saat ini, kau tidak akan menang melawan kami bertiga!" teriak Anbu terakhir karena mendengar ucapanku tadi. Kemudian, ketiga Anbu itu kulihat melesat kearahku yang berjarak kira-kira sepuluh meter lebih.
Kueratkan cengkraman kedua tanganku, bersiap bertarung dengan Anbu di depanku. Ketika jarak kami tinggal tiga meter lebih, kulihat mereka mencabut pedang kecil dipuggung mereka, yang kalau tidak salah aku ingat bernama Tanto. Mataku melebar saat mereka mulai berpencar. Sial.
Traannk..
Bunyi besi yang saling bertemu terdengar jelas oleh indra pendengaranku, saat Anbu pertama kulihat mengayunkan Tantonya secara vertikal, tapi berhasil kutahan dengan Katana milikku yang kuarahkan secara horizontal.
Tap!
Aku menghela nafas lega setelah kembali melompat kebelakang, saat Anbu kedua yang hampir saja berhasil menusukku dari samping.
Tubuhku menegang saat merasakan bahaya dari arah belakangku. Dengan cepat kuputar sarung pedang ditangan kiriku, sehingga ujungnya menghadap keatas, lalu kuayunkan kearah belakang secara vertikal sambil membalikkan tubuhku..tapi gagal. Belum selesai sampai disitu, kuayunkan Katana ditangan kananku secara diagonal..
Trrank..
Ternyata Anbu terakhir itu berhasil memblok seranganku dengan Tantonya. Kembali, aku ingin memukulkan sarung pedangku pada pinggangnya. Tapi belum sempat aku menggerakkan tangan kiriku, aku lebih dulu terlempar diikuti rasa sakit yang muncul pada rusuk kananku. Aku bahkan tidak sadar jika ada serangan yang mengarah padaku.
Tubuhku terlempar cukup jauh, sebelum akhirnya berhenti setelah punggungku mencium batang pohon dengan keras. "Arrgh!" sial, ini benar-benar sakit kau tau!
Swuushh..tak tak tak
Aku menghindar kesamping kanan ketika melihat beberapa shuriken mengarah padaku, dan membuat shuriken tadi hanya menancap di batang pohon, tempatku tadi berada.
'Gawat, aku harus kabur. Aku tidak mungkin menang melawan mereka' batinku. Aku bangkit berdiri, tidak lupa untuk membawa Katanaku setelah kumasukkan kedalam sarung pedangnya. Kemudian aku berlari kearah Desa secepat yang bisa kulakukan.
"Dia kabur, cepat kejar dia!"
Aku tidak menggubris ketiga Anbu itu yang sepertinya mengejarku, bahkan sepertinya sambil melempariku kunai dan shuriken yang mereka bawa..karena memang dapat kulihat ada beberapa yang melewatiku bahkan menggores kulitku.
Sraat..jleb...srat..sratt..jleb
Aku terus berlari, melewati semak-semak dan batang pepohonan, tak memedulikan luka goresan disetiap tubuhku, bahkan sepertinya ada kunai dan shuriken yang menancap di punggungku. Gehh..ini benar-benar sakit~..
Bugh. Aku jatuh tersandung sesuatu–sepertinya akar pohon–. Dapat kurasakan lututku sakit sekali..sepertinya berdarah, karena jatuhku tadi yang cukup keras. Aku kembali ingin berlari. Tapi belum sempat aku bangun, dapat kulihat satu Anbu muncul disebelah kiriku dan menendang tepat diulu hatiku.
Aku mengeluarkan sedikit air liur lewat mulutku, yang sedetik kemudian dapat kurasakan tubuhku berguling-guling ditanah dan berhenti setelah menabrak batang pohon sedikit keras. Uhh..dapat kurasakan setiap lekuk tubuhku terasa sakit sekali.
"Uhukk.." kuusap sudut bibirku yang baru saja mengeluarkan sedikit darah.
Tap tap tap
"Sekarang..kau tidak bisa lari lagi, bocah"
"Sebaiknya terima saja, kalau kau akan mati hari ini"
"Tenang saja, akan kami buat ini tidak akan terasa sakit, karena kami akan membunuhmu dalam sekejap. HAHAHA!"
Kududukkan tubuhku dan bersandar pada batang pohon dibelakangku. Aku menundukkan kepalaku dan mendecih pelan. "Memangnya siapa juga yang ingin mati muda.." aku mencengkeram erat Katanaku, "..apalagi di tempat seperti ini"
"Sebenarnya aku cukup kagum dengan sifatmu bocah, diusiamu saat ini kau bahkan tidak merasa takut, padahal kau tahu saat ini hidupmu sedang terancam" ucap salah satu Anbu yang sama sekali tidak aku hiraukan. Dan apa tadi? tidak takut?! Apa kau tidak lihat jika dari tadi jari-jariku ini bergetar?!..ah! Peduli amat dengan pendapatmu tadi..toh aku juga akan mati sebentar lagi.
"Maaf saja, kami tidak bisa berlama-lama menyelesaikan tugas mudah yang diberikan Tuan Danzo. Jadi, kami harus segera membunuhmu. Ayo,teman-teman!" terserah..aku tidak peduli dengan ucapanmu, sialan.
Kuangkat kepalaku dan kupandang ketiganya yang sedang merapal handseal dengan cepat, setelah itu dapat kudengar mereka menyebutkan nama jutsu masing-masing.
"Katon: Goukakyuu no Jutsu"
"Futon: Daitoppa"
"Futon: Daitoppa"
Yah..dengan begitu, bola api tadi yang berukuran sedang, semakin membesar karena bertabrakan dengan jutsu Futon yang dikeluarkan.
Kulihat bola api itu membakar apa saja yang dilaluinya hingga hampir mencapai targetnya, ya..diriku sendiri..haha..
Aku mencoba untuk berdiri, tapi tidak bisa. 'Sial, aku bahkan tidak mampu sekedar hanya untuk berdiri. Dan lagi, sepertinya aku hampir kehilangan kesadaranku, mungkin ini gara-gara aku terlalu lama menahan rasa sakit ditubuhku, siaall' rutukku dalam hati, 'mungkin benar, ini akhir dari hidupku'
Sebelum aku benar-benar pingsan, sepintas bayangan lelaki terlihat dimataku, berdiri didepanku..sambil mengeluarkan cahaya ungu dari tangan kanannya–yang entah aku tidak tahu apa itu–.
"Siapa dia..?" itulah ucapan terakhirku, sebelum aku benar-benar pingsan.
.
.
~TBaTPoM~
.
.
Kantor Hokage
Didalam ruang Hokage, terlihatlah satu orang tua paruh baya yang duduk diatas kursi Hokage, sedang berbicara dengan dua orang Anbu yang menggunakan topeng kucing dan anjing.
"Baiklah, aku mengerti. Tolong panggil dia sekarang!" perintah orang tua tersebut kepada dua Anbu di depannya yang sedang berlutut hormat.
"Hai', Hokage-sama", jawab keduanya bersamaan, sebelum pergi dengan shunsinnya masing-masing.
Setelah kepergian dua Aanbu tadi, orang tua yang diketahui menjabat sebagai Hokage itu memutar kursinya, untuk melihat pemandangan desa yang dilindunginya itu pada pagi hari. Setelah memandang keluar jendela cukup lama, dia kemudian menghela nafas lelah, karena memikirkan apa yang baru saja dilaporkan kedua Anbu tadi.
Tak lama kemudian, muncul seorang laki-laki manggunakan shunsin-nya. Dia memiliki penampilan, rambut jabrik berwarna kuning cerah cukup panjang dan memiliki jambang di kedua telinganya, memakai pakaian kaos biru gelap yang ditutupi oleh rompi jounin dan memakai kain berwarna biru yang diikat pada kedua lengannya. Dia juga menggunakan celana panjang yang berwarna senada dengan kaos-nya, lalu tidak ketiggalan sepatu standar shinobi berwarna biru juga.
"Anda memanggil saya, Sandaime-sama?", tanya laki-laki tadi tengah berlutut hormat.
Pria tua tersebut memutar kembali kursinya, dan memandang lelaki yang berusia lebih muda darinya itu. "Ya, Minato. Ini tentang Naruto."
Lelaki yang dipanggil Minato itu, segera mengangkat wajahnya dan memasang wajah yang seolah-olah untuk meminta penjelasan.
Melihat raut wajah Minato, Sandaime Hokage yang bernama lengkap Sarutobi Hiruzen atau ninja yang mendapatkan gelar Profesor itu hanya menghela nafas lelah, sebelum kemudian mengambil sesuatu dan menyodorkannya kearah Minato.
Melihat itu, Minato kemudian mengambil apa yang diberikan Hiruzen kepadanya. Sesaat kemudian, matanya terbelalak kaget saat mengetahui apa itu, "i-ini..."
"Benar. Kemungkinan besar itu milik Naruto, karena hanya dia yang menggunakan kaos dengan lambang klan Uzumaki di desa ini" ucap Hiruzen lirih.
"Darimana anda menemukan ini, Sandaime-sama?" tanya Minato dengan nada sedikit khawatir. Bagaimana tidak khawatir? putra yang dia dan kushina miliki kemungkinan sedang dalam bahaya, apalagi Naruto tidak memiliki chakra, walaupun kenjutsu dan taijutsu-nya cukup hebat di usia mudanya saat ini, tapi tetap saja..lawannya kemungkinan adalah Anbu Ne suruhan Danzo.
Kenapa Minato bisa yakin kalau yang menyerang Naruto adalah Anbu suruhan Danzo?, yah..karena peristiwa ini sudah terjadi berkali-kali. Bahkan Naruto bisa selamat karena selalu dilindungi oleh Duo Uchiha–Itachi dan Shisui–. Dan sekarang, Itachi dan Shisui sedang menjalankan misi bersama..tentu saja sekarang tidak ada yang menjaga Naruto, jika dia sedang dalam masalah.
"Dua Anbu tadi yang melapor kepadaku, mengatakan kalau mereka menemukannya diluar desa. Sobekan kaos ini tersangkut di ranting pohon, dekat dengan danau yang sangat luas"
"Baiklah, saya mengerti. Sandaime-sama, saya juga minta izin untuk mencari Naruto, saya takut kalau dia sedang terluka parah" ucap Minato dengan tenang. Walaupun terlihat tenang, sebenarnya di hati Minato saat ini,,dia sangat merasa gelisah karena memikirkan keadaan Naruto.
Mendengar permintaan Minato, Hiruzen hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat itu, Minato segera pergi menggunakan shunsinnya untuk mencari Naruto ketempat yang di beritahukan kepadanya.
.
.
~TBaTPoM~
.
.
Gelap..
Semuanya gelap..
Dimana ini..?
Apa aku sudah..mati?!
Uhh..kurasakan sakit disekujur tubuhku. Kubuka mataku dan kukerjapkan beberapa kali,,dan yang pertama kulihat adalah cahaya remang-remang. Kukerjapkan kembali mataku beberapa kali untuk menyasuaikan cahaya yang masuk kedalam mataku.
"Kau sudah sadar?", kudengar sebuah suara yang entah ditujukan kepada siapa. Kuedarkan pandanganku untuk mencari asal suara tadi, dan pandanganku terkunci pada seorang lelaki yang sedang duduk di kursi kayu, tidak jauh dari posisiku.
Kuperhatikan penampilan lelaki itu dengan seksama. Rambut berwarna putih yang diarahkan kebelakang, lalu pakaiannya, baju dan celana panjang berwarna hitam dan,,,jubah berwarna merah?, hmm..entahlah,,aku belum pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya. Lalu sepatu berwarna hitam -yang juga belum pernah kulihat sebelumnya-.
"Bagaimana keadaanmu?, apa sudah merasa lebih baik?"
Apa dia bertanya padaku?, kualihkan pandanganku kesekitar,,,dan tidak ada orang lain selain kami berdua. Yah..sepertinya dia bertanya padaku, "ya, kurasa begitu. Oh iya,,apa paman yang menolongku?"
Kulihat paman itu menganggukkan kepalannya. Kurasa maksudnya,,benar. Setelah itu, aku mengucapkan terima kasih dan kuperkenalkan diriku, "oh iya, namaku Namikaze Naruto, paman bisa memanggilku Naruto. Lalu..siapa nama paman?"
"Kau bisa memanggilku Archer"
Hmm, nama apa itu?, "nama yang aneh". Eh? dengan cepat aku meminta maaf setelah menyadari apa yang baru saja kukatakan, karena ucpanku tadi yang keluar begitu saja. Tentu saja,,begini-begini aku diajari oleh kedua orang tuaku tentang tata krama yang baik.
"Tidak apa-apa, lagipula itu bukan nama asliku. Bisa dibilang itu adalah kode kelasku" ucapnya dengan senyuman yang ramah. Dan hanya kubalas dengan ber 'oh' saja.
Kuedarkan pandanganku kesegala penjuru tempat ini, yang bisa kuasumsikan sebagai sebuah rumah. Pandanganku kembali jatuh pada paman Archer,"kalau begitu..siapa nama asli paman?"
"Hmm,,begini saja, besok kau datang lagi saja kesini, tenang saja rumahku ini tidak jauh kok dari desamu. Aku juga ingin mendengar ceritamu kenapa kau bisa dihutan sendirian. Lagipula,,ini sudah sore, apa kau tidak dicari oleh orang tuamu?"
Dengan gerakan yang sangat cepat aku mengalihkan pandanganku kearah jendela di sampingku,,dan kulihat langit yang sudah berwarna orange. Kurasakan keringat dingin keluar dari tubuhku, dan aku yakin wajahku pasti terlihat pucat sekarang.
"Kau tidak apa-apa, Naruto? wajahmu terlihat pucat" paman Archer sepertinya khawatir dengan keadaanku, terlihat jelas dari ekspresinya itu.
Uhh..apa benar terlihat jelas jika wajahku saat ini sedang pucat? kugelengkan kepalaku pelan, "tidak apa-apa, paman. Aku akan segera pulang saja, mungkin orang tuaku sedang mencariku karena belum pulang"
Aku bangun dari ranjang, tempatku tidur tadi. Kuambil kaosku yang ada di atas meja dekat ranjang, yang telah terkotori oleh noda darah..lalu kupakai, untuk menutupi tubuhku yang sudah terlilit banyak perban.
Kuambil katanaku yang bersandar dimeja dekat ranjang, sebelum berjalan keluar rumah ditemani oleh paman Archer. Saat sudah di depan rumah, aku memandang kembali paman Archer sambil tersenyum, "sekali lagi, arigatou sudah menolongku dan merawatku, paman Archer…"
"Hmm..ya, sama-sama, lagipula itu bukanlah masalah besar"
"Kalau begitu,,sampai bertemu besok, paman. Jaa ne~"
"Jaa ne~"
Aku pun mulai berlari menuju desaku. Kulihat langit diatasku sudah mulai menggelap. 'Gawat, kalau aku tidak segera sampai dirumah mungkin Kaa-chan akan memarahiku habis-habisan, bahkan mungkin akan memukuliku…' batinku bersedih dalam hati.
Tentu saja aku bersedih, aku tidak peduli jika kalian menganggapku cengeng atau apa. Asal kalian tahu, ibuku tidak seperti kebanyakan ibu lainnya, bahkan dia tidak akan segan-segan memarahi dan juga menghajar anaknya sendiri,,jika mendengar anaknya–yaitu aku–membuat masalah dan tidak mau mendengarkan ucapannya. Membayangkan apa yang akan Kaa-chan lakukan kepadaku saja sudah membuat bulu kuduk ku berdiri. Hiiyy~…
Tap tap tap...
Tak lama kemudian, aku sudah dapat melihat gerbang desaku. Tapi pandanganku terhenti saat melihat siluet seorang lelaki yang sangat aku kenali, tengah memandangku dengan pandangan terkejut sekaligus khawatir disaat yang bersamaan.
Dengan cepat kulangkahkan kakiku untuk mendekati orang yang telah kuanggap sebagai ayahku itu. Saat sudah ada di depannya aku pun berniat menyapany-
"Apa kau baik-baik saja? bagaimana keadaanmu? apa ada yang terasa sakit? ap-"
-tapi tidak jadi, karena aku sudah disemprot pertanyaan oleh ayahku dengan sangat cepat..
"Weehk, cukup Tou-chan, cukup.." teriakku dengan keras untuk menghentikan pertanyaan ayahku yang kelewat cepat itu, "..tidak bisakah kau bertanya dengan pelan?!"
Ayah yang mendengar teriakkanku hanya tertawa garing sambil menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin 'tidak gatal'.
"Haaahh…", aku menghela nafasku dengan keras, membuat ayahku menaikkan sebelah alisnya. "Tidak apa-apa", ucapku ketika melihat wajah ayahku yang bingung.
"Kalau begitu, aku akan membawamu kerumah sakit,,karena kulihat lukamu cukup parah"
"Tidak usah Tou-chan, lagipula lukaku sudah di obati, lihat!" aku menunjuk perban yang melilit di tubuhku.
"Tapi apa kau yakin, itu sudah tidak merasa sakit?", ayahku berkata dengan nada yang masih terdengar khawatir.
"Sudahlah, Tou-chan tidak perlu khawatir sampai seperti itu. Aku juga sudah merasa jauh lebih baik. Dan aku ingin segera pulang kerumah, mungkin Kaa-chan sudah menuggu kita terlalu lama", aku berkata dengan semangat, tentu saja untuk meyakinkan ayahku.
Aku hanya diam sambil menatap ayahku yang diam saja–sepertinya sedang berpikir–. Setelah beberapa saat, ayahku menganggukkan kepalanya menandakan kalau dia meyetujuinya. Kemudian, kami berdua berjalan memasuki gerbang desa untuk menuju rumah kami.
Saat di perjalanan, aku bertanya pada ayahku, bagaimana dia tahu kalau aku sedang dalam masalah. Kemudian, ayahku pun menjawab, kalau ayahku diberi tahu Sandaime-jiji kalau ada Anbu yang menemukan sobekan kaos dengan lambang klan Uzumaki, jadi mereka pikir aku sedang dalam masalah, karena mereka yakin,,sobekan baju itu adalah milikku.
Mereka yakin bukan karena suatu alasan belaka, karena memang hanya aku dan adikku saja yang meggunakan pakaian dengan lambang klan Uzumaki di desa ini, tentu saja selain rompi yang dipakai ole para jounin konoha. Setelah itu, ayahku meminta izin untuk mencaiku.
Tapi, karena sudah sore dan belum menemukanku, ayah memutuskan mencariku di daerah lain yang dekat dengan Desa Konoha. Dan ketika ayah lewat di depan gerbang desa, tanpa sengaja melihatku akan memasuki gerbang desa dengan banyak sekali perban ditubuhku.
Hmm..Aku benar-benar tidak menyangka, kalau Tou-chan sangat begitu peduli padaku.
Kami-sama..aku sangat berterima kasih, karena engkau telah memberikan kepadaku keluarga yang masih paduli terhadapku..meskipun mereka tahu bahwa aku memiliki kekurangan. Yaah..inilah yang benar-benar sangat aku butuhkan.
Walaupun aku dibenci oleh warga desaku sendiri, aku tetap bersyukur karena masih ada keluargaku dan juga orang-orang terdekatku yang sayang dan peduli terhadapku, juga masih menganggap keberadaanku di desa ini..
..inikah arti dari sebuah ikatan..?
.
.
.
To Be Continued
[A/N]:
Halooo! Saya Author baru disini. Yah..meskipun saya sudah di fanfiction cukup lama, tapi ini pertama kalinya saya buat fic. Jadi tolong berikan saya kritik, saran, dan dukungan yang baik,,,agar saya bisa memerbaiki fic ini kedepannya…
Mungkin cuma itu dulu dari saya…
.
.
.
Preview for the next chapter:
"BANGUN NARUTO…!"/ "Tentu saja kami menunggumu, Baka Onii-chan"/ "Sudahlah Menma, abaikan saja. Bukankah setiap hari kita memang selalu dipandang seperti itu…"/ "dengar ya, Naruto..aku tidak peduli meskipun jika dia ini adalah adikmu. Jika ada salah satu muridku yang melakukan kesalahan, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghukumnya.."/ "Oi..oi..namamu juga toping ramen, apa kau lupa hah?!"
Selanjutnya di The Boy And The Power Of Magic: Chapter 2 Adik - Kakak
"Terima kasih karena telah menjadi kakak yang hebat bagiku.."/ "Ya. Dan terima kasih juga untukmu, karena telah menjadi adik yang mau mendengarkan ucapan dari kakak yang payah sepertiku.."
•
•
Please favorit and follow me..!
Give me a Review..?
Tolong berikan saya kritik, saran, dan dukungan yang baik..agar saya bisa memerbaiki cerita ini untuk kedepan nya..
Tertanda. AkaRyuu666. (27-03-2020)
