"Random"
Boboiboy © Monsta
Day 1 : "Taufan mau nulis tapi nggak tahu prompt-nya apa" dari Harukaze Kagura
#dailydrabblechallenge
.
.
.
.
"Aish. Sial."
Tulisan Game Over di layar ponselnya membuat Taufan mendecak kesal. Tertera juga jumlah score 2.649.126 yang ia dapatkan dari usahanya mempertahankan cacing. Iya. Game cacing bernama yang akhir-akhir ini lagi viral di semua kalangan umat. Saking booming-nya game itu, Tok Aba -kakeknya, juga ikutan main sampai ketagihan.
Taufan menatap jam di ponselnya yang memperlihatkan angka 23.59, karena ia tidak pernah mengecek pukul berapa di jam dinding disebabkan lampu kamarnya yang selalu ia matikan. Semua keluarganya pasti sudah tidur, terbukti tidak ada lagi suara televisi di ruang tamu ataupun tanda-tanda kehidupan lainnya. Taufan mengubah posisi tengkurapnya menjadi terlentang, menatap langit-langit kamarnya yang kosong.
Ia bingung ingin melakukan apa lagi. Rasa kantuk yang seharusnya sudah hadir sama sekali menghampiri dirinya. Mungkin karena tadi pagi Taufan baru bangun pada jam satu siang, jadi sekarang tidak ngantuk.
Memikirkan kembali kegiatan apa yang sekiranya bisa menghibur dirinya, Taufan mengubah posisi lagi menjadi duduk. Netranya menatap MacBook di atas meja belajar dekat pintu. Alis Taufan terangkat kala satu ide terlintas di kepalanya. Tak lama, senyum tipisnya terbit.
"Okeh!" serunya entah sebab apa, kemudian dirinya bangkit untuk mwngambil MacBook itu dan kembali ke kasurnya.
Dibukanya MacBook itu dan menyalakannya sehingga terlihat layar home di sana. Taufan mengklik aplikasi Microsoft Word, menempatkan jari-jarinya di atas keyboard.
Iya. Otaknya memberinya ide yaitu menulis sesuatu di MacBook untuk mengusir rasa gabutnya.
Namun, pemuda itu malah mendadak diam sembari memandangi kursor yang kedap-kedip di layar MacBook-nya. Ia tidak tahu ingin menulis apa.
"Nulis apa ya?" Taufan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berpikir sejenak, lalu tak lama berdecak kesal, entah pada siapa. "Bodo lah. Suka-suka aku~" katanya.
Malam itu jam 12 Taufan menulis–mengetik lebih tepatnya–cerita singkat hidupnya yang penuh lika-liku.
Alias curhat.
Buat yang baca ini, jangan disebarin ke siapa-siapa yak. Ini rahasia negara. Gaboleh bocor. Oke, gais?
Taufan terkekeh sendiri melihat tulisannya.
Pertama. Sebentar– aku lupa mau nulis apa.
...
...
Ah, ya. Kenalan dulu. Namaku Taufan. Nama panjangnya Taufaaaaaaaaaannnnn. Eh, salah ding. Boboiboy Taufan maksudnya. Panggil aja Taufan. Jangan manggil sayang, nanti baper.
Aku punya dua saudara kembar. Halilintar dan Gempa. Beda lima menit doang sih, sama kek Upin Ipin. Jadi kita juga nggak manggil 'kak', atau 'Bang', atau sebutan buat saudara yang lebih tua lainnya. Langsung manggil nama ajah.
Sebentar...
Aku bingung (lagi) mau nulis apa
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selang satu menit, jari jemarinya kembali bertubrukan dengan papan ketik.
Hobi aku itu main skateboard. Andai skateboard itu manusia, mungkin dia udah aku jadiin pacar kedua aku. Kenapa kedua? Karena posisi pertamanya udah diambil sama dia.
Iya dia.
"Asik! Ceritain tentang doi!" Girang Taufan seperti anak kecil. Dirinya mendadak lancar menulis meski topiknya benar-benar random.
Dia.
Yaya Yah.
Kalo ngomongin dia, kayaknya nggak cukup buat semaleman doang. Karena bakal panjaaaaaaaaannggggg banget. Sepanjang jalan kenangan aku sama dia. Ehehe.
Taufan senyam-senyum sendiri. Ia membayangkan Yaya membaca tulisannya ini. Mungkin gadis itu akan menatapnya jijik setelah membaca gombalan recehnya tersebut.
Tapi mau dalam ekspresi apapun, Yaya akan selalu tetap cantik di mata Taufan. Maklum, lagi bucin ya pasti gitu.
Tapi karena aku lagi pengen ceritain dia, efek kangen mungkin yah :"(, jadi Mc. Word ini akan menjadi tentang Yaya.
"Wah, gila. Romantis bat dah ah." monolog Taufan sambil bersemangat mengetik.
Awal pertemuan kita adalah di Ruang BK. Ngape? Ngape? Mau bilang nggak romantis? Ya emang nggak, sama sekali nggak romantis. Itu pas kita kelas dua SMP. Aku kena masalah sama kakak kelas, dan digiring ke ruang BK dengan wajah babak belur.
Gimana bisa ketemu sama Yaya?
Dulu itu Yaya ketua OSIS. Dan kepsek, mengutus Yaya buat nanganin aku sama kakak kelas sialan itu. Singkat ceritanya, masalah kelar dengan ancaman dari Yaya untuk kita, bahwa kita disuruh jalan jongkok di tengah lapangan kalo nggak baikkan. Yaudahlah, nurut aja sama doi. Ogah banget jalan jongkok di tengah lapangan, siang bolong pula.
Abis acara maap-maapan, aku balik ke kelas. Tapi karena muka aku yang babak belur, guru BK menyuruhku untuk bersihin luka dulu di UKS. Aku iyain aja, biar cepet. Males debat panjang lagi.
Eh, gak taunya Yaya ngikutin aku ke UKS. Iya, dia bantuin aku bersihin luka aku. Ngeliat doi kayak gitu, aku bener-bener kaget banget. Shock woi. Ya gimana sih, tadi di ruang BK galak banget, giliran keluar dari sana langsung berubah jadi malaikat. Aku sempet ngira Yaya punya kepribadian ganda lho gara-gara itu.
Di tengah-tengah ngobatin luka aku, Yaya tuh gak ngomong sama sekali. Mukanya dataaarr banget. Tapi anehnya cantik. Dia ngobatinnya lembuut banget, nggak kerasa perih sama sekali. Yaya pakai kekuatan cinta kali ya ngobatinnya?
Setelah ngobatin, Yaya nyelonong pergi gitu aja. Kayak nggak nyadar sama keberadaan aku. Aku nahan dia dong, narik tangannya biar nggak pergi. Tenang, nariknya pelan kok. Nggak kenceng.
Dia liat aku tuh. Jutek banget, astaga. Nggak heran dia jadi ketos. Aku bilang makasih sama, yang dibales cuma ngangguk terus abis itu pengen pergi lagi. Buset dah. Aku tahan lagi 'kan, terus
Drrrtttt. Drrrrtt.
Taufan menoleh pada ponselnya m dan menemukan notifikasi pesan masuk. Dari Yaya. Taufan melebarkan matanya.
From : Ratu Pinky
Tidur, Taufan. Nggak usah flashback tentang aku deh.
Astaga...
Bagaimana dia bisa tahu?
.
.
.
.
Finizh
a/n :
WKWKWKWK, GATAU DAH NI APAAN. NULISNYA PAS LGI RANDOM, JADINYA HASILNYA JUGA RANDOM /NGOMONG APA SI MEL
MAAFIN KALO GAJE YACH MWEHEHEHE
