REINCARNATION

Summary: Inspired by A Good Day to be a Dog. Chanyeol yang telah menunggu selama ribuan tahun untuk reinkarnasi kekasihnya yang mati di tangan ayah kandungnya harus bertemu dengan wujud berbeda dari orang terkasih tersebut. Baekhyun punya wajah yang sama namun perbedaan itu sangat jelas.

Main Cast : Park Chanyeol • Byun Baekhyun

Length : Chapter

Rate : T+

Genre : Romance, Drama, Angst


"Aku bisa menunggu untuk seseorang yang bisa menyukaiku sampai dia lahir kembali."

"Aku percaya diri kalau soal menunggu."


Seekor elang terbang tinggi membentangkan sayap indahnya melintasi sebuah kota, desa kecil dan sungai panjang yang menjadi pembatas sebuah hutan yang lebat. Sayap lebar berbulu abu itu menukik tajam ke bawah lalu bertengger tepat di salah satu dahan pohon tertinggi di tengah hutan. Sedetik kemudian elang itu melompat, menelan wujud berbulu abunya hilang terganti oleh tubuh gagah seorang pria berbaju putih khas bangsawan. Helai rambut hitam yang di ikat ekor kuda menyisakan sejumput menjuntai di leher dan tengkuknya yang sedikit panjang. Kedua bola mata tajam sekelam langit malam, hidung bangir dan bibir yang sedikit tebal bak mempertegas paras sempurnanya.

Langkah kaki membawanya masuk pada sebuah gua, menyalakan obor yang menggantung di tembok batu lalu membaringkan tubuh yang lelah setelah membasmi makhluk pengganggu daerah kekuasaannya.

Chanyeol, begitu ia dipanggil. Menyampirkan satu lengan guna menutup kedua mata yang sudah sangat lelah tanpa tidur selama 3 hari. Menjadi sosok Dewa penjaga negeri Shima bukanlah hal mudah walau ia sudah menjalani kehidupan yang membosankan ini selama lebih dari 2 abad. Chanyeol ingin merasa bosan namun takdirnya telah ditetapkan. Mau mengeluh ia merasa itu hanya akan membuang waktu, lebih baik mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang seakan remuk.

Namun tidak sampai sepuluh menit ia menutup mata, suara halus tapak kaki membangunkannya. Isakan lirih itu membuat ia bangkit melangkah keluar goa yang jadi tempatnya berteduh lalu mengikuti isak lirih tersebut. Suara itu berjarak beberapa meter, Chanyeol memilih melompat dari satu pohon ke pohon lainnya lalu mendaratkan kaki jenjangnya di sebuah pohon di tepian sungai. Ada seorang gadis yang bisa ia perkirakan berusia 15 tahun, duduk di atas tanah menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Chanyeol sebenarnya ingin memilih meninggalkan saja gadis itu dengan tangisannya. Namun ketika sadar awan yang semakin gelap dan tangisannya semakin terdengar pilu akhirnya ia melangkah. Mendekati gadis kecil berambut hitam legam, tergerai indah menutupi punggung kecil berbalut hanbok merah muda.

"Apa yang dilakukan anak kecil sepertimu di tengah hutan seperti ini?"

Chanyeol bisa melihat bahu itu tersentak, perlahan wajah yang sedari tadi tertutup oleh kedua tangan mungil terlihat. Sedikitnya sang Dewa Penjaga tertegun. Wajah itu begitu mungil, memerah di bagian hidung, pipi dan bibir. Sedikit air mata masih menggenang di pelupuk matanya. Chanyeol bergumam dalam hati mengatakan jika gadis kecil itu mempunyai wajah yang sangat cantik dan manis.

Hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Chanyeol, gadis kecil berhanbok merah muda itu perlahan bangkit, menepuk sedikit bagian yang kotor oleh tanah lalu mendongak menatap sosok tinggi Chanyeol. Untuk kesekian kalinya Chanyeol merasa terhipnotis oleh keindahan paras manis itu. Bola mata bak lelehan madu seolah menenggelamkannya dalam manis sebuah tatapan polos.

"Tuan siapa?"

Suara halus dan lembut, sesekali gadis itu mengusap pelupuk matanya yang basah. Lalu menatap Chanyeol yang masih mematung.

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, menatap remeh terkesan mengintimidasi, "Harusnya aku yang bertanya padamu gadis kecil. Apa yang kau lakukan di hutan seorang diri menjelang malam seperti ini?"

"... kau tidak takut seekor harimau akan memangsamu?"

Gadis kecil itu mendongak, memperhatikan wajah tampan Chanyeol, terlebih pada telinganya yang sedikit lebar. Sangat lucu. Kepala bersurai legam itu menggeleng lalu tersenyum kecil, "maka itu adalah takdir saya."

Chanyeol cukup terkejut mendengar jawaban itu. Lumrahnya seorang anak kecil terlebih perempuan pasti akan mengkerut takut setelah mendengar seekor hewan buas akan memangsanya. Tapi, gadis kecil ini bahkan menjawab pertanyaannya dengan tenang dan bijaksana, bak seorang dewasa.

"Pulanglah. Hutan bukan tempat yang tepat untuk gadis kecil sepertimu."

Chanyeol berbalik, berniat kembali ke dalam goa dan mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah. Tungkainya yang ingin melompat terhenti, menoleh sedikit pada eksistensi gadis tadi yang masih berdiri santai sambil memperhatikannya. Wajah polos itu sangat menggemaskan, membuat Chanyeol ingin sekali memakan pipinya yang gembil bersemu merah muda.

"Kau tidak pulang?"

Gadis itu sedikit tersentak, menundukkan kepala saat ketahuan memperhatikan laki-laki di hadapannya. Sang ibu yang merupakan seorang guru tata krama kerajaan pasti akan menghadiahinya sepuluh cambukan rotan pada kedua betisnya saat tahu ia memperhatikan seorang laki-laki dengan pandangan memuja.

"E-eum... Saya lupa arah jalan pulang, Tuan."

Suara itu begitu lirih, beruntung Chanyeol punya telinga yang sangat sensitif akan suara sekecil apapun. Alis tegas nan tebal itu naik sebelah menatap gadis kecil yang masih setia menundukkan kepalanya.

"Itu kenapa kau menangis?" Gadis itu mengangguk, dan Chanyeol menghela napas, bergerak mendekati ia yang terus menunduk. Sebuah kain halus berbahan sutra terlempar ke wajahnya, dengan sigap gadis itu menangkap lalu menatap wajah tampan Chanyeol dengan raut bertanya.

"Tutupi pakaianmu yang kotor. Dilihat dari mewahnya pakaianmu kau pasti dari kalangan bangsawan."

Baekhyun si gadis kecil mengangguk sekilas membenarkan, ayahnya adalah seorang Panglima Kerajaan Shima dan ibunya adalah seorang Guru Tata Krama kerajaan yang paling di segani. Pulang dengan pakaian kotor dan wajah sembab seperti ini pasti akan membuat orang-orang yang mengenal kedua orang tuanya curiga. Maka dengan menggerakkan sedikit demi sedikit tungkai kakinya menuju pinggiran sungai, Baekhyun membasuh wajah lalu membersihkan noda tanah di sekitar pakaiannya.

Chanyeol hanya memperhatikan, bagaimana kedua tangan kecil itu membasuh lembut wajah lalu kedua kakinya yang bergetar. Alisnya mengerut saat melihat beberapa luka seperti bekas cambukan di kedua betis gadis itu. Siapa kiranya yang tega melukai makhluk lemah seperti ini.

"Tu-tuan..."

Baekhyun mendekati sosok Chanyeol yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Menyelimuti tubuhnya yang sedikit kedinginan dengan kain sutra berwarna navy milik laki-laki di hadapannya. Kepala berhias surai legam bak langit malam itu mendongak, menatap Chanyeol seksama dengan kedua hazel semanis madu.

"Bisakah, Tuan menunjukkan arah jalan keluar hutan menuju istana Shima?"

"Jadi, benar kau bagian dari keluarga bangsawan? Apa kau putri kerajaan Shima?" tanya Chanyeol yang entah kenapa merasa penasaran. Selama lebih dari 200 tahun umurnya, Chanyeol tidak akan pernah mau mencampuri setiap urusan manusia termasuk keturunan-keturunan mereka. Tapi dari yang ia ingat, kerajaan Shima tempat dimana yang ia jaga selama dua abad ini, Raja yang baru hanya memiliki 3 pangeran bahkan bayi yang ada di dalam perut Permaisuri kerajaan juga berjenis kelamin sama, laki-laki.

"Tapi, ku dengar mereka hanya memiliki 4 pangeran dan yang satunya masih ada di dalam perut Permaisuri kalian." Chanyeol menambahkan, gelengan yang ia dapat dari kepala bersurai hitam itu membuat alisnya mengernyit.

"Saya hanya anak dari seorang Panglima Kerajaan dan Guru Tata Krama, Tuan."

Chanyeol mengangguk, membalikkan badan berjalan lebih dulu namun saat telinganya tidak mendengar satu suara langkah pun ia kembali menoleh kebelakang. "Kau tidak ingin pulang?"

Baekhyun mengerjap, kedua tangannya memegang erat pinggiran kain yang menutupi tubuhnya. "Saya-"

"Cepatlah, kuantar kau keluar hutan."

Tidak ingin mendengar sanggahan apapun, Chanyeol memilih melangkah kembali. Melihat itu Baekhyun akhirnya mengikuti, menutupi kepalanya lalu memeluk erat pinggiran kain agar orang-orang tidak bisa mengenalinya. Bukannya sombong, Baekhyun hanya tidak ingin bertegur sapa mengeluarkan senyum kosong pada orang-orang yang mengenalinya untuk hari ini. Dia cukup lelah dengan semua masalah dan desakan kedua orangtuanya. Kedua betis yang masih sakit akibat cambukan sang ibu masih membuat hatinya berdenyut. Memang tidak sekali dua kali ia merasakan cambukan di kedua kaki atau anggota tubuhnya yang lain sesuai kesalahan yang ia dapatkan. Bahkan saat dulu umurnya sekitar 7 tahun ia pasti setidaknya mendapat 8 cambukan jika tidak bisa mengikuti pelajaran tata krama dengan baik.

Baekhyun menghela napas, menatap kedepan dimana seorang laki-laki gagah berpakaian khas bangsawan berwarna putih dengan pinggiran navy melangkah dengan gagah. Sebenarnya ia merasa bingung, bingung kenapa bisa menemukan seseorang di dalam hutan yang konon katanya menjadi tempat bernaungnya seorang Dewa Penjaga. Hutan itu tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, jika kau masuk kabarnya kau tidak akan bisa keluar lagi. Maka dari itu ia yang menyadari telah masuk kedalam hutan dan tidak bisa menemukan jalan pulang akhirnya menangis dengan keras. Merasa bodoh dan tolol, karena bisa-bisanya membahayakan dirinya sendiri.

Jalan keluar menuju hutan telah terlihat, jembatan merah yang menjadi perbatasan hutan dan desa. Senyum di bibir tipis sewarna persik itu terulas. Baekhyun hanya tinggal melewati desa Seolim lalu ia akan menemukan kota Shima dan istananya dan pulang ke rumah sebelum sang ayah.

"Terima kasih, Tuan." ujar Baekhyun semangat, menatap penuh rasa terima kasih pada sosok Chanyeol.

Chanyeol mengangguk, membalas datar tanpa ekspresi tatapan itu, "Pulanglah, senja hampir tiba."

Chanyeol berniat berbalik, namun sebuah tarikan halus di ujung lengan bajunya membuat ia berhenti. Disana Baekhyun menatapnya gugup, dengan kedua pipi yang memerah dan kedua tangan yang memilin ujung kain.

"S-saya belum tau nama anda, Tuan."

Seulas senyum tipis Chanyeol urai, walau ia tau senyum itu tidak akan terlihat jelas di mata Baekhyun. "Chanyeol, panggil saja aku seperti itu."

"Nama saya Baekhyun, Byun Baekhyun. Senang bertemu dengan anda Tuan Chanyeol, dan terima kasih untuk bantuannya."

Baekhyun membungkukkan badannya, lalu berbalik melangkah sedikit berlari melewati jembatan kayu dan berakhir hilang ditelan keramaian desa. Meninggalkan Chanyeol yang memperhatikannya dengan kerling mata jenaka.

'Sungguh anak manusia yang menggemaskan.'


Deluxe Paradise Hotel - 3 May

Kedua kaki jenjang terbalut celana kain berwarna hitam melangkah dengan gagah. Pintu lift terbuka tepat saat langkah sepatu pantofel itu mendekat lalu masuk dan menekan tombol teratas gedung. Kedua mata sipit nan tajam fokus menatap baris kalimat yang baru saja dikirim oleh salah satu orang yang menurutnya sangat amat menyebalkan. Decakan lidah pertanda bahwa ia sudah tau dan bosan akan hal yang akan orang itu katakan. Harusnya ia menghabiskan saja waktu senggang seperti ini bersama pacar barunya.

Langkahnya sudah sampai pada sebuah pintu di ujung lorong, nampak gagah dan mewah sesuai dengan kategorinya, Penthouse. Rumah mewah di dalam sebuah gedung hotel ternama. Suara musik klasik Serenade mengalun memenuhi telinga saat pintu dibuka. Tubuhnya semakin ia bawa masuk ke dalam, menemukan laki-laki berkaos putih yang mencetak gagah tubuh berototnya dengan lengan kokoh dan dada yang bidang. Sosok itu nampak fokus pada hidangan yang sedang ia masak di dapur penthouse lalu berbalik sedikit terkejut atau hanya pura-pura pada laki-laki berpakaian bak CEO di depan pantry.

"Duduk Sehun, kita makan siang dulu. Aku memasakkan mu Grilled Salmon with BBQ sauce yang sangat spesial."

Sehun mendengus, kebetulan perutnya memang sedang berontak minta di isi. Menempati satu kursi di hadapan si kaos putih lalu mulai memotong halus salmon yang nampak sangat menggugah selera.

"Bagaimana?"

Sehun menatap jengah wajah antusias laki-laki di hadapannya. "Berhentilah Chanyeol hyung. Wajahmu menggelikan," sungutnya.

Chanyeol berdecak, susah memang mengambil hati Sehun si pria kulkas. "Aku akan kembali ke sekolah."

Sehun tersedak, meraih gelas berisi air putih lalu menenggaknya hingga tandas. Wajahnya mengernyit, sebelah tangan mengusap leher yang sedikit perih. "Maksudmu Hyung?"

"Kau tahu benar apa maksudku, Sehun-a."

"Masih berkaitan dengan reinkarnasi gadis yang kau cintai di masa lalu itu?"

Kedua piring telah kosong, Chanyeol berniat langsung mencucinya sebelum Sehun meraih dan membawa kedua piring kotor itu ke wastafel. Jas hitam yang membalut tubuh ia lepas, meninggalkan kemeja biru langit yang lengannya sudah ia gulung sampai siku. Sehun membuka mulut kembali sebelum mendengar sanggahan Chanyeol yang masih terdiam.

"Aku tidak perduli kau mau mencarinya sampai 1000 tahun kemudian. Tapi, apa kau tidak lelah, Hyung? Ini bahkan sudah memasuki abad ke 23 tapi gadis kecilmu itu belum bereinkarnasi sampai sekarang."

Chanyeol terdiam, bohong jika ia berkata tidak lelah. Beratus bahkan beribu tahun lamanya ia menunggu sosok itu lahir kembali tapi hingga saat ini tidak sekalipun ia menemukannya. Tidak ada satupun tanda-tanda gadis itu kembali terlahir. Ingin rasanya ia menyerah, namun janji yang telah ia dan gadisnya ucapkan tidak bisa ia ingkari. Chanyeol hanya terlalu mencintainya. Gadis yang telah pergi menutup mata beribu tahun yang lalu.

"Aku bisa menunggu untuk seseorang yang bisa menyukaiku sampai dia lahir kembali."

"Aku percaya diri kalau soal menunggu."

Sehun meletakkan piring-piring kotor itu di pinggiran wastafel. Tubuhnya berbalik setelah melap bersih kedua tangan lalu menghela napas lelah.

"Dan kenapa harus masuk sekolah kembali?" tanya Sehun sambil mendudukkan kembali dirinya di hadapan Chanyeol kembali.

Chanyeol masih di sana dengan sebuah tab yang memuat pekerjaannya sebagai pemilik perusahaan ternama, pekerjaan kamuflase untuk penyamarannya.

"Aku tahu wajahmu itu berhenti menua saat umurmu 18 tahun. Tapi, apa kau tidak lelah selalu mengikuti semua pelajaran yang sudah kau hafal mati itu?"

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, terkikik kecil melihat ekspresi menggelikan Sehun.

"Tidak akan. Karena tahun ini akan berbeda."

"Maksudmu?"

"Kau akan ikut denganku masuk ke sekolah itu. Bersiaplah besok adikku, seragammu sudah kuantar ke apartemenmu."

"Ha?"

Belum sempat Sehun mencerna kalimatnya, Chanyeol sudah pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan Sehun dengan wajah bingung dan tidak percaya.

Kadang ia merasa ingin menyerah saja jadi siluman rubah putih yang immortal dan memilih untuk jadi manusia biasa saja. Hidup bersama dengan Dewa Penjaga jelmaan elang putih itu benar-benar menguras kesabarannya selama ribuan tahun.

'Orang tua yang menyebalkan.'

'Aku mendengarnya, Sehun-a'

'Shit!'


Kerajaan Shima, Paviliun Jangmi

Sebagai seorang Permaisuri tentu adalah kewajibannya melahirkan seorang anak laki-laki sebagai penerus kerajaan. Sudah memiliki tiga calon penerus tahta, Sang Permaisuri ingin melahirkan seorang putri yang cantik, namun seolah dewa enggan mengabulkan doa nya. Bahkan bayi yang ia kandung saat ini pun berjenis kelamin laki-laki. Hidupnya terasa kurang sempurna jika kedua tangannya belum menyisir kemudian menata cantik rambut halus putrinya nanti.

Helaan nafas Sang Permaisuri membuat sosok gadis kecil yang setia duduk di sampingnya menoleh. Gadis berumur lima belas tahun itu sudah tidak cocok sebenarnya jika dikatakan masih kecil namun tubuh mungil dan sifatnya yang kadang seperti anak kecil yang membuat ia masih di panggil gadis kecil.

"Permaisuri? Apa teh yang saya sajikan tidak terasa nikmat?" Kedua mata hazelnya menatapi gelas keramik dengan ukiran sakura di meja.

Sang permaisuri tersentak mendengar suara itu, wajahnya menyiratkan rasa bersalah. Halus tangannya mengelus kedua tangan yang nampak sangat rapuh dan kecil.

"Maafkan aku, Baekhyun-a. Teh mu sangat nikmat seperti yang biasa kau sajikan di acara minum teh kita. Hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu."

Baekhyun mendongak menatap wajah cantik Permaisuri kerajaan Shima itu yang nampak gelisah. "Ada yang mengganggu anda, Permaisuri?" Kedua mata yang tadi menatap wajah cantik Permaisuri beralih pada bagian perut yang sedikit membuncit di balik baju kebangsawanan. "Apa Pangeran kecil menendang anda terlalu keras?"

Sang Permaisuri terkekeh, mengelus lembut surai halus sewarna langit malam milik Baekhyun. "Tidak, dia justru anak yang sangat penurut. Aku hanya berpikir kapan aku bisa mempunyai anak semanis Baekhyun-ie."

Bibirnya mengerucut saat wanita nomor satu negeri Shima itu menggodanya. Baekhyun hanyalah anak seorang panglima dan guru. Namun karena kecantikan, kebijaksanaan, dan kecerdasannya membuat ia di lirik oleh Raja dan Ratu kerajaan Shima. Ingin mengangkat gadis manis itu sebagai anak mereka untuk memancing kelahiran bayi perempuan namun ditolak sangat halus oleh yang bersangkutan.

Baekhyun hanya merasa menjadi salah satu bagian kerajaan pasti akan sangat berat, dan ia juga merasa ibu nya pasti akan sangat menolak.

Suara langkah kaki tergesa membuat dua sosok itu menoleh, salah satu prajurit kerajaan datang dengan langkah tergopoh, berkata jika Pangeran Pertama pulang dengan luka sayatan sebuah pisau beracun di bagian punggung oleh sekelompok perompak. Sang Permaisuri hampir terjatuh, Baekhyun sigap menahan tubuhnya di bantu oleh para dayang. Membawa Sang Permaisuri masuk ke dalam kamar Pangeran Pertama. Tabib berkata jika luka sayatan tidak terlalu dalam namun racun Aconite Kuning yang dibubuhkan di pisau mulai melumpuhkan seluruh saraf bahkan jika fatal Pangeran bisa saja mati.

"A-apa yang harus kita lakukan?" suara Sang Permaisuri tersendat, senggukan halus memenuhi ruangan.

"Raja masih di perbatasan dan akan sampai lusa, kita tidak mungkin menunggu hingga Raja tiba dan membiarkan anakku menderita kesakitan. Tabib, kita harus apa? Apa kau tidak punya obat penawarnya?"

Tabib itu menunduk, bibirnya ingin mengucap sesuatu namun seakan ragu ia hanya menatap tubuh pucat Pangeran Pertama. Baekhyun masih disana, memperhatikan tubuh kaku sang Pangeran yang selalu suka menyempatkan diri menggoda bahkan menjahilinya terbujur kaku dengan bibir yang sangat pucat tak berwarna.

"Saya hanya tahu jika Aconite Kuning hanya bisa dinetralkan dengan Aconite Biru."

"Tunggu apalagi? Prajurit cari Aconite Biru dimanapun tempatnya."

"Tapi, Yang Mulia Permaisuri. Aconite Biru hanya ada di hutan terdalam Seolim. Tempat di mana Dewa Penjaga berada."

Seolah suasana kurang mencekam, gagasan yang dikatakan oleh tabib tersohor itu semakin membuat kamar itu sunyi senyap. Seluruh orang terdiam, tahu pasti hutan yang disebut layaknya hutan kematian. Sekali masuk kau pasti tidak akan kembali. Kabar jika Dewa Penjaga dengan sosok seekor elang putih yang sangat besar bahkan kadang muncul menjadi sosok macan berbulu putih, tidak akan segan menyakiti orang-orang yang mengganggu teritori-nya. Berhasil membuat orang-orang merasa enggan untuk masuk. Bahkan untuk melirik saja terasa berat.

Sang Permaisuri kembali menangis tersedu, mengelus rambut cokelat anak sulungnya. Kedua Pangeran yang baru saja kembali dari acara berburu langsung berhambur masuk ketika mendengar kabar jika kakak mereka sedang terkena musibah. Baekhyun menunduk, ingin rasanya membantu namun ia ragu jika perihal masuk kembali ke hutan. Namun hanya ia yang mampu keluar dari sana, dan hanya ia yang tahu kabar itu. Atau mungkin laki-laki bertelinga peri yang sudah membantunya keluar. Baekhyun mengangguk, merasa bodoh saat lupa akan sosok penolongnya yang sangat baik hati walau wajahnya tidak berekspresi.

"Y-Yang Mulia..."

Permaisuri dan kedua pangeran yang setia merangkul ibu-nya beralih menatap Baekhyun yang nampak gugup menggigit sudut bibirnya.

"Kenapa Baekhyun-a?" tanya Permaisuri, wajahnya basah oleh air mata walau Pangeran Ketiga tidak berhenti menghapus air mata itu lewat sapu tangan berbahan sifon berukir emas.

Baekhyun menelan ludah gugup, menghela napas setelah membulatkan tekadnya. "Saya akan membantu mencari Aconite Biru itu di dalam hutan."

"Jangan bercanda, Baekhyun-a." Sang Permaisuri menolak keras, "statusmu memang anak seorang Panglima terkuat kerajaan tapi kau hanyalah seorang anak perempuan. Tolong, jangan bahayakan dirimu."

Baekhyun menunduk, sebuah tepukan lembut membuatnya mendongak mendapati Pangeran Kedua yang menatapnya dengan senyuman manis. "Tidak apa, Baekhyun. Cukup doakan saja yang terbaik untuk Pangeran Pertama."

"Ibunda, biarkan aku dan beberapa pengawal kerajaan berangkat malam ini ke dalam hutan."

Permaisuri menatap khawatir anak kedua-nya ingin menyanggah namun terhenti setelah mendengar kalimat Pangeran Kedua. "Tak apa Ibunda. Biarkan aku yang pergi atau gadis kecil ini yang akan terus merengek."

Sapuan di antara helai rambutnya membuat Baekhyun merengut, cukup membuat tiga sosok di sana merasa sedikit terhibur.

"Hyung, biarkan aku ikut denganmu."

"Tidak. Kau jagalah Ibunda dan Pangeran Pertama. Aku akan menyiapkan beberapa perlengkapan untuk nanti malam."

Setelah kepergian Pangeran Kedua, Baekhyun semakin gelisah. Bagaimana jika Pangeran Kedua tidak bisa keluar? Bagaimana jika terjadi sesuatu di dalam sana? Bagaimana jika Sang Dewa Penjaga marah dan melukai Pangeran?

Akhirnya setelah berpamitan dengan Permaisuri dan Pangeran Ketiga, Baekhyun keluar. Mengejar langkah Pangeran Kedua yang masih terlihat di gerbang Paviliun Dogsuli, Paviliun milik Pangeran Kedua.

"Pangeran Kedua."

Lelaki berpakaian khas bangsawan kerajaan itu berbalik, menatap kedatangan Baekhyun dengan alis terangkat dan senyum kecil. Tangannya terangkat menyuruh seluruh dayang dan prajurit pengawal memberi jarak yang cukup untuk pembicaraannya dengan Baekhyun.

"Perhatikan langkahmu Baekhyun. Kau bisa saja terjatuh," ucapnya dengan senyum manis saat gadis berhanbok kuning lembut itu berdiri tepat di hadapannya.

"Pangeran, tolong jangan ke hutan itu."

"Lalu siapa yang akan mencari penawar untuk Hyung-ku?"

Baekhyun terdiam, menatap sekeliling paviliun dengan dahi berkerut dalam. "M-Mungkin aku?"

Kedua lengan kokoh itu memegang erat kedua bahu kecil Baekhyun, sorot mata kelam menatapnya hangat namun tegas. "Baekhyun, kau hanya lah seorang gadis kecil. Jadi, cukup berdiam di dalam kamar membaca kajian atau merajut bersama ibumu. Urusan seperti ini cukup serahkan padaku."

Rambutnya yang dikepang cantik oleh Sang Permaisuri di elus oleh Pangeran Kedua, membuat Baekhyun menunduk menatap kedua kakinya yang terbalut sepatu putih. Ia hanya ingin membantu Pangeran Pertama, namun kenapa semua orang seolah meragukan dirinya.

"Aku pergi. Tolong jaga Ibu dan Adikku, oke?" hanya anggukan yang ia dapat. Sang Pangeran kembali melangkah memasuki Paviliun miliknya dan mulai mempersiapkan alat untuk masuk kedalam hutan guna mencari penawar racun di tubuh Pangeran Pertama.

Namun kembali Baekhyun seolah tuli, setelah mengganti hanboknya dengan yang lebih sederhana dan menggunakan topi bercadar guna menutupi wajahnya. Baekhyun berlari kecil, melewati kota dan desa hingga sampai pada sebuah jembatan merah yang jadi penghubung antara hutan dan desa.

Perlahan kakinya melangkah, melewati jembatan hingga sampai pada gerbang menuju hutan Seolim. Baekhyun mendongak menatap hutan yang nampak sangat gelap bahkan di siang hari sekalipun.

"Tuan? Tuan Chanyeol!?"

Baekhyun berteriak, menaruh harap pada lelaki yang membantunya seminggu lalu keluar hutan. Dan ia merasa bodoh untuk tidak mencari di desa dan malah berteriak di depan hutan seperti ini.

'Sungguh Baekhyun kau sangat bodoh. Mana mungkin dia akan munc-'

"Kenapa memanggilku?"

"Tuan Chanyeol."

Chanyeol melompat turun dari dahan sebuah pohon, tepat di hadapan Baekhyun yang mengerjap merasa takjub.

"Tersesat lagi anak kecil?"

to be continued