Kimetsu no Yaiba (c) Koyoharu Gotouge.

.

iii. 生き甲斐 (ikigai)—a reason for being alive.


生き | life is calm and shall i too?

Kamu menangis meraung-raung di depan pintu.

Keras sekali, sampai-sampai barangkali orang-orang yang memiliki kesulitan pendengaran pun tetap akan menganggap suara itu memekakkan telinga mereka. Tak dapat dipahami bagaimana bisa manusia dengan kemampuan mendengar yang sensitif sepertimu justru mampu menghasilkan bunyi sebegini bising. Di hadapanmu, Jigoro memandang iba. Kaigaku di sebelahnya menaikkan alisnya satu, keheranan. Ia sedang bertanya-tanya apakah sesungguhnya tinggal tunggu waktu saja, sampai kamu tahu-tahu mati sebab gendang telingamu diledakkan oleh suaramu sendiri.

Hari ini adalah hari keberangkatanmu menuju lokasi Seleksi Akhir.

Seleksi yang akan menentukan apakah kamu layak atau tidak menjadi bagian dari Pasukan Pembasmi Iblis. Kalau kamu bisa berpikir secara rasional, tentu kamu akan bangun pagi-pagi, mengulang latihan sedikit, lalu sarapan sebelum berangkat. Tapi tentu saja hal itu tak sempat kamu lakukan. Jangankan melakukan salah satu dari tiga hal rasional itu, kamu bahkan tidak bisa tidur semalam.

"Kek, haruskah aku berangkat sendiri? Ini beneran? Bahkan aku nggak akan bisa sampai dengan selamat!"

"Wah, terima kasih karena sudah menyuarakan pikiranku," tukas Kaigaku sarkastis. "Baguslah kalau kamu mati di jalan. Aku dan Sensei nggak akan tahu betapa mengenaskannya kenyataan itu! Karena kami akan berpikir kamu mati dengan penuh hormat di Seleksi Akhir. Kesempatan yang bagus untukmu yang ingin dikenang dengan penuh nilai, kan?" Kalimat demi kalimat merepet terus dari mulutnya, sepertinya sudah sejak tadi ia berusaha menahan diri agar tidak menyemprotmu.

"Sssh, Kaigaku." Jigoro menyikut. Tatapannya belum lepas darimu. "Zenitsu, kamu harus berangkat sendiri. Kamu pasti bisa melakukannya."

Pikirmu sebelum itu, apa pun yang dikatakan Jigoro akan membuat tangismu makin deras. Tapi kamu justru berhenti menangis. Kamu tertegun. Kamu menangkap keragu-raguan dan kesedihan dalam suara Jigoro. Apakah itu adalah kata-kata yang jujur? Atau tidak? Dalam saat-saat tertentu—biasanya pada saat ketika kamu lebih tenang—kamu mampu membedakan kebohongan dan yang bukan. Apakah ini termasuk dalam saat-saat itu? Ataukah kegentingan membuatmu lebih sentimentil, sehingga kamu dengan negatifnya menganggap kata-kata penyemangat sebagai bual belaka?

"Zenitsu?" Namamu dipanggil oleh Jigoro. Ini karena kamu tiba-tiba diam. "Ada apa?" Oh, ayolah, kamu tidak boleh meragukan kepercayaan gurumu. Kamu telah merasakan ketulusannya selama mengajarimu bertahun-tahun, dalam setiap kata-kata yang kamu dengar tak ada satu pun kekesalan terselip di sana, jadi kenapa sekarang?

Kamu mengusap wajahmu. "Kek, apakah aku sungguh-sungguh akan bisa?"

"Pertanyaan ini lagi?" Kaigaku meledak. Kamu memang sudah menanyakannya kali kesekian. Tapi ini bukan tanpa alasan. Kamu mengajukan hal yang sama karena sebelum-sebelum itu, kamu merasa masih juga belum mendapat jawaban. "Dengar ya, bocah ingusan—"

"Kaigaku, masuklah ke dalam," potong Jigoro. Kalimat itu begitu mengejutkan dan membuatmu mendongak. Kamu melihat Kaigaku juga menatap Jigoro, kedua bola matanya membelalak. Mereka bertukar pandang penuh arti. Jigoro menganggukan kepala. Kaigaku menatapmu dengan tatapan jengkel. Ia membentak, "Mati saja sana!" serunya, lalu masuk rumah. Ia membanting pintu keras-keras, menimbulkan suara dengingan di telingamu, hingga sebelah matamu perlu berkedut karenanya.

Kamu panik. Air mata baru mengalir di kedua pipi. Gawat, kamu meninggalkan Kaigaku saat ia marah! Padahal ini saat-saat yang sangat penting, ini adalah hidup-matimu, dan alangkah baiknya kalau kamu tidak membuat orang justru makin membencimu, apalagi sampai membuatnya menyumpahimu mati. Dasar bodoh. Kamu sungguhan akan mati. Mati, mati, mati, matimatimati—

"Zenitsu, setelah aku mengatakan ini, aku akan menyusul Kaigaku masuk," ujar Jigoro. Kamu mendongak. Jigoro mengucapkannya dengan dalam dan serius, suara yang jarang kamu dengar. "Terserah kalau kamu masih mau meratap di depan pintu hingga berjam-jam kemudian. Aku dan Kaigaku akan mendiamkanmu. Kamu yang menentukan aba-aba untuk dirimu sendiri, kapan kamu merasa siap, kapan kamu harus berangkat."

Setiap katanya diucapkan dengan sepenuh hati hingga kamu ingin menangis. Kamu merasa bahwa itu kalimat yang tidak pantas diucapkan kepadamu. Ada orang-orang putus asa di luar sana yang butuh dikuatkan sedemikian rupa, dan kamu mendapatkannya. Padahal kamu tidak layak menerima itu. Kamu tahu bahwa kamu tak pernah bisa merasa siap. Kamu tahu bahwa kamu akan butuh waktu selamanya untuk memutuskan keberangkatanmu. Percuma kamu mendengarkannya.

Kamu menyedot ingus. "Kakek akan memotivasiku?"

"Nggak. Aku akan menjitakmu." Jigorou mengepalkan tangannya, dan memukul-mukul puncak kepalamu. Pukulan itu sakit, tapi tidak terlalu keras—mengingatkanmu pada saat ia menjitakmu terus-terusan, sambil terus menguliahi perlunya menempa baja terus-menerus agar dapat menjadi pedang. Terus, dan terus, kepalamu dipukuli terus, sampai kapan?

Pukulan itu berhenti. "Zenitsu."

Entah kenapa, kamu tidak berani mengangkat kepala. "Ya, Kek?"

"Apabila ada sesuatu yang kamu alami nantinya," katanya, serius—kamu merasakan kesungguhan dari kata-kata itu, "dan sesuatu itu membuatmu sangat, sangat, sangat takut, percayalah bahwa seumur hidupmu, kamu telah melalui ketakutan itu melebihi apa pun."

Kamu diam.

Kamu merasa Jigorou akan mengatakan sesuatu lagi. Kadang kamu bisa merasakan itu, ketika kalanya orang membuka mulut dan hampir mengutarakan sesuatu, tapi tertahan karena suatu sebab. Jigorou mengurungkan keinginan untuk kembali bicara. Kamu pikir akan ada hal yang perlu kalian lakukan—entah saling berpelukan, bersalaman, atau sekadar melambaikan tangan—tapi tidak. Jigorou berbalik badan.

Terdengar suara pintu tertutup dan barulah kamu mengangkat kepala.

Ah. Kamu bahkan tidak sempat untuk benar-benar melihat wajahnya. Air mata menggenangi pelupuk, memikirkan bahwa ini kali terakhir kamu bisa menemuinya lagi. Kamu ingin meledak dalam tangis, kamu ingin berteriak memintanya jangan pergi meninggalkanmu, kamu ingin berjongkok dan membenamkan kepalamu, membanjiri teras dengan air mata hingga sepuasmu. Tapi, sesuatu menahanmu untuk melakukan itu.

Pintu membuka. Kamu membelalak.

"Nggak usah kaget begitu," sahut Kaigaku. Ia bahkan tidak mau repot-repot mengubah suasana hatimu menjadi baik, dan ia sekejam itu untuk tahu-tahu datang menghancurkan suasana sentimentil yang sedang kamu resapi. "Aku hanya mau bilang sesuatu."

Kamu merasa kedua pipimu terbakar, dan kedua matamu panas oleh asapnya. Kaukepalkan kedua tanganmu kuat-kuat. Jangan menangis, jangan menangis, Agatsuma Zenitsu, ayolah. Kaigaku tidak mengangkat dagu seperti biasa. Kaigaku tidak menghunuskan tatapan menyakitkan yang membuatmu merasa disuruh untuk menundukkan kepala.

Seniormu itu ingin kamu menatapnya, sebagai rekan seguru yang selama ini kamu inginkan. Entahlah karena apa. Barangkali, perjalanan menuju lokasi Seleksi Akhir pun belum tentu cukup untuk kaugunakan sebagai durasi berpikir mereka-reka jawabannya. Ada rasa canggung, dan kamu tahu bahwa Kaigaku memaksakan diri.

"Selama ini kamu telah terus-menerus takut. Gembeng. Pengecut. Nangis saja bisanya. Kamu menghabiskan hidupmu untuk takut dan nggak ada orang lain yang pantas mengatakannya selain kamu sendiri, bahwa hal itu nggak membawamu pada apa pun."

Uh-oh.

"Tapi nggak usah takut mati." Kedua mata Kaigaku seperti mengunci kedua matamu, dan betapa pun inginnya kamu memalingkan pandang, kamu tidak sanggup melakukannya. "Teruskan saja hidup dengan merasa takut. Tapi nggak usah takut mati. Begitu kamu mati, kamu nggak perlu merasa takut pada apa pun lagi."

Itu adalah pernyataan yang tidak memotivasi sama sekali. Itu bukan kalimat yang kamu duga, itu bukan kalimat yang kamu inginkan, itu juga bukan kalimat yang kamu butuhkan, bahkan. Kamu terpana. Merasa aneh bahwa kalimat pedas itu ternyata mampu membuatmu tenang. Padahal, sepertinya Kaigaku mengatakannya karena semata-mata merasa bahwa kamu takkan lagi kembali hidup-hidup ke sini.

"Sekarang lari!" bentaknya tiba-tiba, membuatmu terlonjak. "Kamu terlalu takut sampai-sampai kamu nggak akan bisa menentukan kapan saatnya kamu mulai melangkah. Dan meskipun Sensei merasa bahwa inilah saat yang tepat, kita berdua sama-sama tahu bahwa kamu nggak pernah bisa merasa siap. Lari! Sekarang!"

Kamu mundur beberapa langkah. Gigimu bergemeletuk. Kakimu bergetar.

Kaigaku menghentakkan kakinya. "Agatsuma Zenitsu! Lari!"

Air mata berjatuhan tanpa kamu pinta (dan kamu tidak pernah memintanya), tapi ada kekuatan yang menyisa selagi otakmu belum benar-benar membangunkan rasa takutmu mengenai sesuatu yang akan menanti di depan, jadi, kamu mulai berbalik badan dan berlari. Sekuat tenaga, seolah-olah terkejar sesuatu.

"Nangis saja! Nangis saja, dasar gembeng!" Kamu masih mendengar Kaigaku membentak lagi, kamu merasakan marah dan kekhawatiran tercampur jadi satu dalam suara itu. "Lari terus, ikuti jalur ke mana kamu harus pergi, dan, peduli setan, demi seluruh rasa takut yang kamu miliki, jangan berani-beraninya kamu berhenti!"

Perpisahan yang mengenaskan. Tidak ada pesan terakhir yang sempat kamu beri. Tidak ada lambaian tangan. Bahkan tidak ada sarapan pagi, mengulang latihan, atau tidur yang nyenyak malam harinya. Kamu terus berlari, ingusmu beleber bercampur air mata. Ikuti jalur ke mana harus pergi, teriakan Kaigaku terdengar lagi. Ikuti jalur. Lokasi Seleksi Akhir. Gunung Fujikasane. Gemerisik bunga-bunga wisteria begitu khas di telinga, terutama ketika hanya di situlah bunga wisteria tumbuh sebelum musimnya.

Napasmu berkejaran. Kedua kakimu terasa berat. Kamu tidak seharusnya selelah ini ketika Seleksi Akhir belum mulai, bisa-bisa kamu mati di menit pertama. Kamu memelankan laju larimu, makin pelan dan makin pelan, hingga kamu hanya berjalan. Yang penting jangan berhenti. Kamu bisa-bisa dimarahi Kaigaku. Kamu bisa-bisa dimarahi Jigorou. Jangan berhenti. Takutlah untuk berhenti.

Kamu memejamkan mata untuk mengambil napas panjang. Takutlah, takutlah, Amagatsu Zenitsu, suara Jigorou bergema di telingamu, dan ketahuilah bahwa seumur hidupmu telah melalui ketakutan itu melebihi apa pun.

Ketidaksadaran mengambil alih saat kamu perlu mengembuskan napas.***