Hari itu aku tak mengira …

—————

.

.

Merasa diperhatikan oleh sepasang mata, Halilintar bertanya, "Ada apa, (Name)?"

"Ti-tidak apa-apa," jawab (Name) dengan gugup. "U-um, Halilintar ... ?"

"Ya?"

"A-ah! Nggak jadi, deh."

Sudah keempat kalinya Halilintar memergoki (Name) memandang dirinya intens. Memang pada dasarnya pacarnya itu seorang pemalu, jadi terkadang susah untuk berbicara pada Halilintar.

"(Name)?"

"Ma-maafkan aku! Jangan marahi aku, Lili!"

"..eh?"

"Tadi kamu panggil aku apa?"

Refleks (Name) menutup mulutnya dan menggeleng cepat. Sungguh tadi itu tidak sengaja. Ketika mata bertukar pandang dengan Halilintar, mukanya spontan pucat karena tatapannya menggambarkan kemurkaan.

"Li-lili ... Ja-jangan marah dulu!" Sebenarnya seseram apa muka Halilintar sehinggan membuat (Name) ketakutan. "Gini loh— namaHalilintarkanpanjangdanbanyakyangpanggilkamugitujadiitupanggilankhususdariakubiarbedadariyanglain"

"Bicaramu terlalu cepat, (Name)," keluh Halilintar. " ... intinya itu panggilan khusus untukku, 'kan?"

"Huwaaa! Jangan marah—!"

'Aku nggak marah, meski panggilannya kayak ke cewek, sih.'

Halilintar menghela napas pelan. "Terima kasih, (Name). Aku suka, kok," ujarnya seraya tangan yang mengusap kepala (Name) dengan lembut dengan diiringi senyuman tipis andalannya.

.

.

• Bonus •

"Kamu nggak marah, 'kan?"

"Astaga, kamu harus katakan itu sampai berapa kali, sih?"

"Ha-habisnya dari tadi Lili melihatku terus."

.

.

—————

... Dia begitu manis saat dirinya gugup karena ulahku sendiri.


Pasti akan kukatakan ...

—————

.

.

"Meow~"

Terdengar suara anak kucing mengeong sedikit kencang. Tepatnya berasal dari sebuah kardus di pinggir jalan dekat pohon rindang. Beberapa orang yang melewatinya kebanyakan hanya melirik saja tanpa ada niat benar-benar menghampiri makhluk kecil berbulu tersebut. Sampai (Name) dan Halilintar tertarik untuk melihatnya— err.. sebenarnya (Name) saja.

Memang pada dasarnya (Name) menyukai kucing, jadi saat melihat kucing di sekitarnya pasti ia akan menyempatkan diri sekadar mengelus bulunya saja.

"Hei, hei, lihat deh, kucingnya lucu ih!" seru (Name) kegirangan seraya mengangkat makhluk mengeong itu.

Melihat gadisnya tampak senang sehingga Halilintar tidak bisa menahan untuk tersenyum geli. "Mana coba lihat." 

"Nih!" Si anak kucing dihadapkan langsung ke depan wajah Halilintar.

Halilintar bergantian memandang (Name) dan anak kucing bergantian. "Wah, iya lucu ..." matanya menatap langsung ke dalam manik (Name).

.

.

.

.

.

"... kamunya."

.

.

• Bonus •

"Muka kamu merah, tuh"

"Diam."

"Hei, kasihan kucingnya nggak bisa napas, tuh. Kamu meluknya kekencangan."

"E-eh?! Maaf!"

.

.

—————

... sesuatu yang hanya untuk melihatnya bersemu malu.



Meski salah paham ...

—————

.

.

Sepulang sekolah Halilintar dan (Name) mampir ke kedai Kokotiam milik Tok Aba— kakek Halilintar. Duduk berhadapan di gazebo di sana sambil menikmati secangkir cokelat panas dengan gumpalan krim di atasnya.

"Aku baru tahu kalo kakekmu ternyata punya kedai cokelat, Lili," ujar (Name) disela acara minumnya.

Halilintar tersenyum tipis melihat kekasihnya terlena dengan air bersuhu hangat itu. "Atok memang semenjak muda sudah mengolah usahanya ini." Ia menjeda ucapannya untuk menyeruput kembali. "Bahkan, beliau pernah bilang akan mewariskan Kokotiam ke cucunya."

"Benarkah?!" tanya (Name) antusias dan dibalas anggukan dari orang di depannya. "Pasti asyik ya ... punya kedai cokelat dan bikin sendiri," lirihnya pelan.

"Ada apa, (Name)?"

"E-enggak, bukan apa-apa kok. Hanya saja cokelat buatan Tok Aba memang enak."

"Heee? Padahal aku yang membuatnya, loh. Karena tadi tak ada seorang pun yang jaga kedai, jadi aku seduh cokelat panasnya sendiri."

"A-ah, begitu..." (Name) segera menunduk, malu sebab salah bicara.

Kemudian atmosfer sekitarnya jadi sedikit canggung. (Name) berulang kali memilin ujung rambutnya untuk menyingkirkan rasa gugup. Sementara itu, Halilintar masih sibuk dengan cokelat panasnya.

Memberanikan diri untuk mendongak dan memperhatikan pemuda di depannya, (Name) tersentak kala temukan noda krim di wajah Halilintar. "U-um, Lili ..," bisik gadis itu seraya mengodekan telunjuk di pipinya, bermaksud agar Halilintar segera menghapus krim tersebut.

Halilintar bangkit dari duduknya kemudian---

Cup~

--- mencium pipi yang ditunjuk oleh (Name).

Seketika otak sang gadis mendadak korslet (eror). "Awawawawa," racaunya dengan muka yang memerah. Sedangkan si pemuda terkekeh geli mendapat respons seperti itu.

.

.

• Bonus •

"You're stupid!"

"Ga usah pukul-pukul. Sakit tau!"

"Biarin siapa nyerobot gitu!"

"Kan kamu yang minta cium, kok aku yang dimarahin?"

"Ih, maksud aku tuh .. kasih tau kalo di pipi kamu ada krimnya. Lili yang salah paham."

"Ya maaf, biasanya kalo adikku tunjuk pipi ... artinya minta cium."

"Itu beda!"

.

.

—————

... Aku tidak menyesalinya.



Bagaimana bisa aku tahan jika …

—————

Halilintar menjemput (Name) di kelasnya. Meski berbeda lorong dan jaraknya agak jauh, ia suka rela melakukan hal merepotkan tersebut.

Sejujurnya Halilintar bukan tipe yang dengan mudahnya perhatian kepada orang lain, apalagi perempuan. Namun, semenjak bertemu (Name), perlahan ia menjadi sedikit lembut dan tidak mudah tersulut oleh amarah.

Mungkin benar kata orang, cinta akan merubah sikap seseorang.

"(Name)," panggil Halilintar dari depan kelas. Ia melihat kekasihnya sedang merapikan meja kemudian menghampirinya.

"Ke kantin, 'kan?" tanya (Name) dengan suara parau.

Halilintar tetap bergeming, melihat muka (Name). "Mata kamu kenapa? Kok berair gitu?"

"Abis nangis, bukan—"

"Siapa yang bikin nangis?! Sini aku hajar orangnya!" geram Halilintar seraya mengepalkan tangannya.

(Name) menghela napas. "Kamu mau hajar buku?"

"Buku?"

"So-soalnya isi cerita novelnya sedih. Heroine-nya mati pas ending dan gak sempat ketemu sama pasangannya," lirih (Name), matanya kembali berkaca-kaca. "Tuh kan… jadi pengen nangis lagi. Diingetin lagi, sih!"

Kirain karena apa, ternyata…

"Ya udah, aku beliin es krim, deh. Dasar cengeng."

.

.

• Bonus •

"Jangan baca buku lagi."

"Tapi, tapi…"

"Mukamu jadi jelek kalo nangis."

.

.

—————

… Pacarku menangis, meski hanya gara-gara terbawa perasaan.



Dia pernah bilang jangan pakai kekerasan …

—————

.

.

(Name) hari ini pulang sekolah tanpa ditemani Halilintar. Ia terpaksa pulang selarut ini— mendekati malam —karena ada yang harus ia kerjakan di sekolah, biasalah anak OSIS, apalagi (Name) jabatannya sebagai sekretaris.

Sialnya, (Name) harus mengambil arah jalan pulang ke tempat yang lumayan rawan. Ia tidak punya pilihan lain, itu satu-satunya jalan untuk pulang.

"Nona sendirian saja? Gimana kalau kita temani?"

Hal yang ditakutkan terjadi, di depannya setidaknya ada tiga pria sedang menghadangnya.

"Permisi, saya mau lewat," cicit (Name), ia benar-benar takut.

"Sebentar saja," goda salah satu pria, mungkin dia ketuanya. Sedang kedua temannya tertawa keras.

Gadis itu sudah ancang-ancang kabur jika saja tangannya dicekal. "Lepas!" seru (Name).

"Huu~ galaknya~"

Ketiga pria itu tertawa puas melihat (Name) yang sudah ketakutan menahan tangis.

"Apa kalian tuli? Gadis itu bilang suruh lepaskan, bed*b*h!"

Tiba-tiba Halilintar datang dengan tatapan sangarnya. Entah dari mana ia bisa tahu kalau (Name) ada dalam bahaya. Kakinya melangkah ke tempat ini dengan sendirinya.

"Ha-halilintar…," lirih (Name).

Dengan satu tarikan pemuda itu mendekap kekasihnya. "Jangan berani kalian ganggu dia. Dia itu milikku."

Dalam hitungan cepat bibirnya sudah menempel bibir (Name). Halilintar mencium (Name).

Sang gadis hanya terbelalak, ia terlalu syok. Tiga pria di depannya juga ikut kaget. Sedangkan Halilintar tampak tak begitu peduli.

"Pergi atau kupatahkan tulang kalian."

.

.

• Bonus •

"Syukurlah mereka sudah pergi. (Name)…?"

"…"

"(Name)?"

"…"

"Jangan bilang kau tidur …atau pingsan."

.

.

—————

… ya sudah kucium saja.


Dia mendadak berubah …

—————

.

.

Tubuh yang biasanya berdiri tegap, kini hanya bisa terbaring di tempat tidur. Wajah yang selalu tampak galak, sekarang agak layu.

Kenyataannya seorang Halilintar pun bisa sakit.

(Name) menatap khawatir Halilintar. "Kok sakit nggak ngabarin?" dia duduk di tepi ranjang.

"Cuma panas sama flu doang, besok juga sembuh," balas Halilintar dengan lesu.

"Cuma kamu bilang? Gempa tadi pas kasih tahu aku, demam kamu belum turun dari semalam," ucap (Name) lalu menyentil pelan dahi Halilintar.

Ia sendiri yang mencari Gempa—notabenenya adalah adik Halilintar dan langsung memborongnya dengan pertanyaan berkenaan alasan mengapa tidak hadirnya kekasih merahnya ini di sekolah.

"Bandel sih kalo dibilangin suruh bawa payung. Ya gitu kalo hujan datang, masih aja nekat nerobos hujannya," gerutu (Name), ia memasang wajah cemberut.

Halilintar hanya bisa kicep melihat (Name) yang sekarang banyak bicara. Gadis yang sering tergagap karena rasa malunya.

"Padahal aku sering ingetin kamu buat bawa payung. Mentang-mentang gak bisa pulang bareng. Terus sekarang siapa juga yang repot—"

Dan omelan (Name) terus berlanjut sampai Halilintar malah merasa seperti didongengkan.

.

.

• Bonus •

"Kamu dengar nggak, sih?"

"Dengar, (Name)…"

"Aku bakal bikin bubur, habis itu kamu minum obat."

"Iya-iya, bawel."

.

.

—————

… tidak akan kusakit lagi, sungguh dia jadi berisik.



Sudah kuduga …

—————

.

.

Sebagai pasangan kekasih, Halilintar merasa ia harus mengenalkan (Name) kepada teman-temannya. Ia sebenarnya tak ingin, tapi apalah daya jika (Name) yang menginginkannya.

"(Name), kau yakin dengan ini? Aku sarankan sih mending tidak usah, mereka hanya kumpulan orang bodoh," ucap Halilintar, matanya menatap khawatir (Name) yang tengah menahan gugup.

"Aku bisa, Lili …," kata (Name) dengan yakin.

Halilintar menghela napas. Ia tidak begitu yakin dengan rencana ini. "Baiklah …"

Pemuda tersebut masuk ke dalam ruangan klub anggar sambil menggandeng tangan (Name).

"Wah, wah, sudah berani kau telat ya…," ucap Kaizo dengan penuh sarkasme.

Halilintar menatap datar lelaki muda di depannya. "Maafkan saya pelatih. Baru kali ini saja saya terlambat, daripada Anda yang sering absen melatih kami," ucapnya tidak kalah sengit.

(Name) merasa tidak begitu nyaman ada di antara tatapan saling membunuh mereka berdua. "A-anu…"

"Kau bawa siapa, nih?" 

Tiba-tiba Fang memecahkan atmosfer menegangkan itu.

"Anak kecil dilarang untuk masuk, Dik," tambah Sai dengan datar.

"Adikmu imut sekali, Halilintar…," ucap Shielda sambil menjewil pipi (Name).

"Dia itu pacarku," ungkap Halilintar penuh tekanan.

.

.

• Bonus •

"Mulai besok kau harus minum susu."

"Kenapa?"

"Kau pendek."

.

.

—————

… keputusanku sepertinya salah.



Kami berselisih …

—————

.

.

Di depan etalase toko es krim, (Name) dan Halilintar terlihat serius menatapi berbagai es krim yang tersedia di dalam etalase.

"Jadinya mau rasa apa, Kakak?" tanya sang penjaga toko.

"Cokelat/Vanila," jawab mereka bersamaan.

(Name) menoleh cepat sambil protes, "A-aku mau vanila, Lili!"

"Biasanya juga cokelat, 'kan?" kata Halilintar biasa saja.

Merasa tak terima kembali, (Name) merengut kesal, "Ta-tapi kan! Bosan rasa itu terus, mau coba varian rasa lain."

Kemudian pemuda serba merah itu mengusap kepala gadisnya dengan lembut. "(Name) … Aku nggak terlalu suka sama vanila."

Mata (Name) mulai berkaca-kaca. "Te-terus?"

"Aku sukanya kamu, gimana dong?" 

"EH?!"

.

.

• Bonus •

Penjaga toko: "Gimana kalau cokelat-vanila saja, Kakak?"

Halilintar: "Oh, boleh juga."

(Name): "…"

Halilintar: "(Name) kepada Bumi. Hei, sadar, (Name)!"

(Name): "…"

.

.

—————

… kok malah berakhir awkward, ya?



Meski dia pemalu …

—————

.

.

Mengisi waktu di akhir pekan, Halilintar berinisiatif mengajak (Name) ke taman bermain. Ia mempersilakan gadisnya itu untuk memilih wahana mana yang akan dicoba. 

Dan pilihan (Name) jatuh ke rumah hantu.

"Kau yakin mau masuk ke sini?" tanya Halilintar sedikit cemas.

(Name) mengangguk antusias. Gadis itu sudah lama ingin mencoba wahana satu ini.

Baru saja masuk melewati pintu masuk, suara-suara menyeramkan mulai terdengar.

(Name) menoleh, melihat Halilintar yang setia mengekornya di belakang.

"Lili, kau baik-baik saja?" tanya (Name). Kekasihnya itu menyilangkan tangannya di atas diafragma dengan sedikit angkuh.

"Aku tidak takut dengan semacam ini!" seru Halilintar seraya memalingkan muka.

Namun, perkataan dengan mukanya tampak berlawanan. Muka Halilintar begitu pucat dan mengeluarkan keringat.

(Name) jadi merasa bersalah telah memilih wahana rumah hantu ini. "Lili, mau bergandengan tangan?"

"I-iya."

.

.

• Bonus •

"Tanganmu dingin banget, lho. Aku jadi kayak lagi pegang es."

"Berisik! Cepat jalan saja biar bisa keluar."

"Ba-baiklah."

.

.

—————

… ternyata seleranya sedikit ekstrem juga.



Aku hanya bertanya …

—————

.

.

Halilintar menatap (Name) yang memakan bekalnya dengan lahap.

"Pelan-pelan saja makannya, (Name). Nanti tersedak," wantinya. "… apa kau begitu sukanya dengan tempura?"

"Aku lapar, Lili."

Kemudian hening menyelimuti mereka. Hanya terdengar renyahnya kunyahan (Name).

Terkadang Halilintar takjub dengan kelakuan ajaib gadisnya, berkebalikan dengan sifat pemalunya.

"Memang apa saja yang kau sukai?" celetuk Halilintar bertanya.

Kucing, es krim, Halilintar, nonton film, pikir (Name).

"Katakan apa yang kau pikirkan," titah Halilintar, melihat gadisnya sudah selesai berpikir.

"Kucing, es krim, nonton film," jawab (Name) dengan menghitung jari.

Halilintar mengangkat satu tangannya bermaksud memberi interupsi. "(Name), kau melewatkan sesuatu."

"Tidak."

"(Name), katakan!"

"Tidak ada yang terlewat, Lili. Hanya itu …," kekeh (Name).

"(Name) …" goda Halilintar sambil tersenyum miring, ditambah menekan sedikit suaranya.

Muka sang gadis memerah sempurna menahan malu. "IYA, IYA … AKU SUKA HALILINTAR, PUAS?!

.

.

• Bonus •

"Kok kamu tahu ada yang kurang dari ucapanku?"

"Gampang, kok. Aku punya kekuatan telepati."

"Se-serius?!"

"Ahahaha~ Ya.. nggak lah. Percayaan banget, sih."

.

.

—————

… Jawabannya memuaskan sekali.