This is my first story and disclaimer milik Mashahi Kishimoto. Aku nggak tau sih perlu atau engga selalu cantumin disclaimer soalnya jelas ):
Btw ini rate M dan bener-bener tulisan pertama aku setelah yang GaaHina. Jadi sori banget kalo banyak kekurangan. Dan kayanya aku bakal post ini beberapa bulan sebelum nanti aku hapus… karena aku nggak mau nyimpen cerita dengan rate bangsat kaya gini aja alesannya meskipun aku sebenernya suka :D
Satu lagi aku bener-bener ga ngedit cerita ini :')
Cerita ini didedikasikan untuk diriku sendiri yang suka horny tapi kurang puas dengan cerita-cerita yang ada saat ini :')
Ceritanya mereka adalah sahabat. Oleh karena itu ketika sekolah telah usai, wajar jika Sakura selalu bermain ke rumah Sasuke.
"Sasuke-kun! aku akan bermain ke rumahmu lagi kali ini!" teriaknya ceria sembari memeluk lengan Sasuke yang sedang berjalan. Rambut panjangnya yang berwarna merah muda terbang begitu indah seperti yang selalu ada di iklan shampoo ternama. Rok ramplenya yang hanya pertengahan paha juga ikut bergoyang membuat sebagian besar mata lelaki fokus ke arahnya.
Sasuke yang biasa diperlakukan seperti itu hanya bisa membalasnya dengan ogah-ogahan. Sahabat merah mudanya ini memang termasuk gadis populer di sekolahnya. Tidak hanya pintar, Sakura merupakan model yang terkenal dikarenakan kecantikan dan keceriaannya. dan yang terpenting, Sakura itu jomblo akut. Lagipula Sasuke tidak peduli Sakura berkencan dengan siapa, dia akan selalu menempel padanya.
Ketika mereka sudah jauh dari sekolah dan siswa-siswi yang selalu memerhatikan mereka telah tiada, Sakura berbisik pelan di telinga Sasuke, "Ne, Sasuke-kun, aku kemarin membeli sebuah game dewasa."
Mendengar hal itu Sasuke menatap Sakura dengan mata membelalak, "untuk apa kau membeli sesuatu yang aneh seperti itu?" ujarnya agak membentak.
"Yah... memangnya kenapa? memangnya kau juga tidak penasaran?"
Sasuke terdiam. Lalu akhirnya berkata tidak sambil memalingkan wajahnya. Yah, siapa yang penasaran, dia bisa menonton apapun sesuka dia pada tengah malam?!
"Ayolah Sasuke-kun," bujuk Sakura bergelayut manja di lengan Sasuke. Sesuatu empuk yang tertahan oleh seragamnya tak luput dari indra peraba Sasuke.
"Lakukan saja jika itu maumu." Akhirnya ujar Sasuke sambil mengetatkan tinju pada tangannya. Sakura menyambut hal tersebut dengan sorakan yang riang gembira.
"Tadaima!" Ucap Sakura ketika masuk ke apartemen Sasuke yang memang biasanya kosong. Kedua orang tua Sasuke adalah orang yang sangat sibuk sehingga sering pergi dinas keluar negeri. Begitu pun juga kakak sulung Sasuke yang selalu bekerja dan baru pulang hingga larut malam. Hal itulah yang membuat Sakura selalu menyempatkan diri pergi ke rumah Sasuke, untuk menemani si bungsu tersebut.
Sasuke pergi ke kamarnya untuk mengganti baju dengan baju santai sedangkan Sakura langsung memasukkan kaset yang dia bawa ke dalam PS4 yang selalu terpasang di TV LCD rumahnya. Sasuke duduk di sofa sembari melihat Sakura yang sedang dalam posisi punggung menunduk dengan bertumpu pada lutut di kedua kakinya. Rok lipatnya yang memang sudah pendek semakin terangkat memperlihatkan paha mulusnya dan sedikit celana dalam berwarna putihnya menyembul keluar. Melihat hal tersebut, Sasuke buru-buru memalingkan wajahnya ke sisi lain sembari menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.
"Selesai!" ujar Sakura dan TV pun menyala menampilkan gameplay dari kaset yang baru saja diputarnya. Sakura bersandar pada sandaran sofa diantara kedua kaki Sasuke berada. Layar TV menampakkan layar penuh berwarna merah dengan tulisan 18 di layarnya.
Pada game ini, player adalah seorang detektif swasta yang tengah membereskan sebuah kasus. Namun, untuk menyelesaikan kasusnya tersebut, detektif tersebut harus merayu musuhnya agar mendapatkan sebuah clue. Tugas pelayer dalam game ini adalah... memikat orang-orang tersebut sebaik mungkin, hingga orgasme, agar mereka memberikan clue selanjutnya!
Sakura sangat bersemangat memainkan game ini. Sakura dihadapkan oleh sebuah pembunuhan seorang direktur perusahaan ternama. Beberapa rekan bisnis sekaligus jajaran direksi yang berada di bawah pimpinannya merupakan tersangka!
Pertama-tama, Sakura mencoba untuk mendekati CEO untuk mendapatkan bukti. Dia menyelinap di kamar hotelnya ketika CEO tersebut sedang menjalani acara di hotel tersebut.
"Mengapa kau memilihnya terlebih dahulu?" tanya Sasuke dengan malas-malasan sambil menatap layar televisinya.
"Karena apalagi? Karena dia tampan!" jawab Sakura dengan bersemangat. Entah mengapa, dahi Sasuke berkedut menahan kesal. Ketika sudah lama bermain, Sakura mulai rajin menggerak-gerakkan kakinya. "Sasuke?"
"Hn?"
"Bukankah udara disini sekarang menjadi terasa semakin panas?" Sakura menoleh kepada Sasuke dengan pipi yang memerah.
"Perasaan kau saja." jawab Sasuke terlihat malas-malasan. Meskipun begitu, dia merasa ada yang menegak didalam boxernya. Yang dia yakini bukanlah keadilan.
Sasuke turun dari sofa dan duduk tepat dibelakang Sakura. Hembusannya jatuh tepat dibelakang tengkuk Sakura yang berkilat karena keringat. "A-apa yang kau lakukan?!" Tanya Sakura, kaget dengan perilaku Sasuke yang tiba-tiba tersebut.
"Bukankah kau merasa kepanasan?" bisik Sasuke tepat di telinga Sakura. "Bagaimana jika aku membuatmu merasa mendingan?" ucapnya. Lalu tangan Sasuke beranjak ke arah kerah baju Sakura.
"A-apa yang kau lakukan Sasuke?!" tanya Sakura merasakan tangan Sasuke berada di kerahnya.
"Sshh.. kau diam saja dan main dengan benar." meskipun Sakura masih ragu-ragu, namun Sakura kembali fokus kepada game yang sedang dimainkannya.
Tangan Sasuke melepaskan kancing pertama Sakura. Kancing kedua serta ketiga..
"-kau..!" Ucapan Sakura tertahan ketika Sakura merasakan tangan Sasuke menyelinap memasuki seragamnya dan meremas payudara kanannya. Merasakan hal tersebut, Sakura hanya bisa mendesah. Tangan kanan Sasuke mendorong kepala Sakura dengan lembut sehingga kepalanya menyandar pada bahunya yang bidang.
Sakura ingin menolak sensasi yang diberikan oleh Sasuke tersebut namun hal tersebut terlalu enak dirasakannya. Akhirnya Sakura hanya pasrah dan meneruskan bermain game. Tangan Sasuke menelusup ke dalam bra yang sedang dikenakan Sakura dan merasakan puting miliknya sudah tegang. Sasuke mencubit puting itu pelan yang dihadiahi oleh pekikan oleh Sakura. Sasuke menyeringai dan melakukan hal yang sama pada puting satunya lagi.
Akhirnya, tangan Sasuke bergerak ke dalam punggung Sakura dan melepaskan kaitan bra yang menghalaginya sebelumnya. Entah mengapa, Sakura merasakan perasaan lega sesaat sebelum akhirnya merasakan kedua tangan besar Sasuke menangkup kedua payudaranya.
"Sa-Sasuke..." ucap Sakura dengan lemas.
"Ada apa?" jawab Sasuke. Meremas. "Bukankah ini yang kau inginkan?" Meremas lagi. "Kau juga sedang diremas di layar TV itu."
"Nghh... yah..." Jawab Sakura. Memejamkan mata sejenak merasakan sensasi tangan Sasuke yang meremas, mencubit, dan memelintir buah dadanya. Kaki Sakura bergerak-gerak tak enak karena miliknya dibawah sana menjadi lengket.
"Teruskan saja." Perintah Sasuke. Kepalanya maju kemudian menjilat putingnya yang sekarang menonjol dibalik seragamnya karena telah kehilangan bra. Setelah itu, dia menggigitnya. Sakura melenguh panjang merasakan sensasi tersebut dan badannya semakin lemas sehingga menyandar sepenuhnya ke bahu milik Sasuke.
"Kau sudah basah di bawah sini, Sakura." Ujarnya ketika tangannya menjelajah kebawah, ke arah celana dalam Sakura yang sekarang sudah sangat melekat memperlihatkan belahan vaginanya.
"Jangan disitu Sasuke..." Jawab Sakura lemas. Sticknya hanya tergeletak di sebelah badannya.
"Kenapa?" Jawab Sasuke. Lidahnya menjilat dan mengemut telinga Sakura yang sekarang berwarna semerah tomat. Sedangkan tangan kirinya mengelus-elus diluar celana dalamnya yang sudah sangat lembab.
"...Masuk," cicit Sakura.
"Hm?" Tanya Sasuke pura-pura tidak mengerti. "Masuk apa Sakura?" Jarinya bermain-main di sekeliling kulit vaginanya yang tidak terkena kain.
"Masukan ke dalam itu-ku Sasuke..."
"Itu apa?"
"Apa kau bodoh?" Cerca Sakura.
Sasuke tertawa kecil kemudian menurunkan celana dalam Sakura hingga ke pahanya dan mulai memasukkan jarinya ke dalam vagina Sakura. "Ngghh... Sasuke-h," desah Sakura mencapai pendengaran Sasuka.
Sasuke menambah jarinya menjadi tiga dan terus memompa Sakura agar vaginanya menjadi lebih longgar. Ibu jarinya ikut menggesek-gesek klitoris Sakura secara bersamaan. Tangan kanan Sasuke dengan telaten masih memainkan payudara Sakura. Meremas, menekan, dan mencubitnya hingga putingnya tersebut memantul di antara jemarinya.
Sasuke lebih menekan-nekankan jempolnya dengan kuat kepada klitoris Sakura sembari jarinya yang lain tetap menggenjot vagina Sakura. Hingga akhirnya-
Sakura merasakan sensasi yang sangat aneh dan pinggulnya bergetar hebat dan akhirnya keluarlah cairan orgasme pertamanya. Sakura membalikkan badannya hingga menghadap Sasuke dan meletakkan kepalanya pada bahu lelaki yang telah membuatnya orgasme tersebut. Tangannya memeluk leher Sasuke. "Ngghh... enak, Sasuke-sun." ujarnya disertai desahan.
Sasuke hanya tertawa mendengar lanturan teman masa kecilnya tersebut. "Ini semua belum selesai, Sakura." kemudian menurunkan boxernya dan mengeluarkan adik kecilnya yang sudah begitu tegak sedari tadi.
Dengan telaten, Sasuke mengangkat pinggang Sakura sehingga sekarang kepalanya menghadap ke adiknya tersebut dan sembari menyadarkan bahu lebih ke bawah, dia berhadapan dengan bokong Sakura yang celana dalamnya sudah terlepas dan hanya bertengger pada pahanya. Sasuke mengelus-elus pahanya tersebut sebelum akhirnya lidahnya menjilati vagina Sakura yang sudah agak melebar dan mengeluarkan cairannya yang berwarna bening dengan cukup deras. Selain menjilatnya, tangan Sasuka membuka vaginanya tersebut dengan jarinya dan menyeruput cairan itu keras-keras.
Merasakan hal tersebut, Sakura hanya memekik pelan. Tangan kanan Sasuke bergerak ke arah kepala Sakura dan mendorongnya agar lidahnya menyentuh penisnya yang sudah berkedut-kedut dan mengeluarkan cairannya. Dengan agak terpaksa, Sakura mulai menjilati kepala penis yang berwarna merah tersebut. Mulutnya membuka, mencoba melumatnya agar cairan putih tersebut menghilang. Merasakan hal tersebut, Sasuke menahan desisannya agar tidak keluar. Sakura mulai memasukkan mulutnya lebih dalam, terbawa rasa penasaran sejauh apa dia bisa memasukkan benda tersebut. Tangan Sasuke ikut berada di belakang tenggorokkannya dan hampir membuat dia tersedak. Sakura memperlihatkan tatapan mematikannya kepada Sasuke sebelum kembali melumat benda tersebut.
"Gunakan tanganmu Sakura," Sasuke memerintah dengan sabar, menggerakkan satu tangan Sakura untuk memompa barangnya tersebut. "Seperti ini, ujarnya."
Tangan Sasuke bergerak membuka kancing seragam Sakura dan akhirnya membuat dua bukit Sakura menggantung manis dihadapan Sasuke. Tangan Sasuke meremas dan mencubit-cubit gumpalan tersebut sembari tidak lupa, lidahnya sembari mencoba masuk dan menjilat lubang vaginanya.
Sakura yang tiba-tiba merasakan semua sensasi tersebut. Melumat serta memompa milik Sasuke dengan tubuh yang bergetar. Sakura menggelinjang dan keluar kembali karena tidak tahan dengan semua sensasi tersebut dan hal itu membuat seringai Sasuke semakin lebar karena dapat menyiksa Sakura kembali dengan menghabisi semua cairan yang keluar hebat dari vaginanya hingga mengalir ke pahanya yang putih.
Sasuke merasakan dirinya sudah di ambang batas dan menghentikan Sakura dengan menarik kerah bajunya. "Sudah cukup. Berbaliklah di atas sofa dan taruhlah tanganmu di atas kepalanya. Tunjukkanlah bokongmu dengan menantang ke arahku."
Saking sudah bergairahnya Sakura, dia tidak terpikir untuk melawan ucapan Sasuke seperti sebelumnya dan mulai melakukan apa yang disuruh oleh teman masa kecilnya tersebut.
Sasuke melihat teman masa kecilnya tersebut membungkuk di atas sofanya masih menggunakan pakaian lengkap. Rambutnya lepek hanya menempel berantakan pada lehernya. Sasuke merapikan rambutnya tersebut dan merapikannya ke samping dan mulai membuka semua kancing Sakura sehingga sekarang Sakura sudah topless didepannya. "Cepat, Sasuke!" rajuk Sakura yanh dibalas oleh tawa kecil dari si Uchiha tersebut.
Sasuke mengocok-ngocok johny-nya tersebut dan mulai menggesek-gesekkannya ke vagina Sakura. Sasuke mendesis pelan merasakan sensasi tersebut. Sasuke memasukkan ujung penisnya dengan pelan hingga akhirnya menyentaknya hingga masuk sepenuhnya. Merasakan sentakan tersebut, Sakura hanya bisa melenguh dengan kencang sembari badannya tersentak ke depan.
Sasuke berbisik di telinganya, "Maaf, Sakura." Kemudian menggigit telinganya tersebut. Sasuke mulai memaju mundurkan penisnya keluar masuk dari vagina teman masa kecilnya tersebut. Cairan yang dikeluarkan oleh Sakura membuat penisnya terasa licin dan cairan yang lengket terbentuk di antara keduanya.
Tangan Sasuke tidak tinggal diam. Dia paling menyukai payudara Sakura yang menggantung dengan manis dan sangat pas dengan tangannya tersebut sehingga sudah pasti Sasuke memainkannya sembari payudara tersebut bergoyang-goyang mengikuti irama genjotan penis Sasuke kepada Sakura tersebut.
"Aku lupa belum memberikanmu tanda," Ujar Sasuke, kemudian menundukkan kepalanya ke ceruk leher Sakura dan menggigit serta menjilati tiap centi lehernya tersebut.
Sasuke terus menerus menggenjotnya sembari menekan-nekan serta mencubiti clitoris milik Sakura tersebut. beberapa kali penisnya tersebut mengenai titik sensitif milik Sakura yang membuat Sakura mendesah. Sakura hanya memejamkan mata sambil menikmati sensasi yang diberikan oleh Sasuke. Sasuke berbisik kembali di telinga Sakura, "Sakura," terengah. "Di luar atau di dalam?"
Sakura tidak habis pikir mendengar pertanyaan tersebut. Sakura menjawab sambil terengah, "Diluar! Sasuke! Aku tidak mau hamil." Suaranya dibarengi oleh suara berisik yang disebabkan penis Sasuke yang keluar masuk.
Sasuke tertawa kemudian menggigit telinga Sakura sekali lagi, "Aku keluar."
Dan akhirnya keluarlah cairan Sasuke dengan sangat banyak sedetik setelah Sasuke mengeluarkannya dari vagina milik Sakura.
Setelah itu Sasuke bersandar pada Sofa dan melemparkan kaosnya yang penuh dengan peluh ke sembarang arah. Sakura menatap tajam Sasuke namun tetap merangkak mendekatinya. "Awas saja jika kau tadi mengeluarkannya di dalam!" ancamnya. Sakura menduduki menduduki paha Sasuke yang sedang berselonjor di sofa tersebut.
"Kalau iya kau aka apa?" tantang Sasuke balik, meletakkan tangannya pada pinggang telanjang Sakura.
"Aku- aku akan...!" Sakura kehilangan kata-katanya dan tidak tahu harus membalas apa. Melihat hal itu, Sasuke memegang tengkuk Sakura dan mendekatkannya kepada wajahnya dan melumat bibir mungilnya dengan lembut.
"Kalau iya aku akan bertanggung jawab, Sakura." Hening sesaat lalu Sasuke menambahkan, "Kan aku yang menanamkan benihnya."
-Fin-
