Jika kau sudah sampai di bulan, jangan engkau buka helmnya.

Di bulan kandungan oksigennya sangat sedikit, atau bahkan tidak ada.

Pakaian ruang angkasa yang engkau pakai adalah satu-satunya penyambung hidupmu. Pakailah maka engkau akan hidup.

Jangan kau buka, atau engkau akan mati kehabisan napas.

Jika oksigen di dalam tabung sudah meinipis, maka kembalilah.

Jangan biarkan diri anda mati kehabisan napas di bulan sana.

Kami menunggu anda kembali ke bumi ini.

.

Amane berjalan.

Melompat.

Langkah demi langkah ia lakukan dengan perlahan dan berhati-hati.

Berhati-hati agar tidak terbang begitu jauh dari titik melompat.

Berhati-hati agar tidak terpeleset dan terjatuh.

Manik madu miliknya itu mengamati sekitar. Teliti meniti seluruh permukaan bulan. Perlahan namun pasti ia berjalan kembali, mengikuti petunjuk yang telah diberikan sebelum mereka mendarat di atas bulan.

Ia berjalan sendiri menuju titik itu. Itulah petunjuknya.

Masing-masing awak memilih satu arah. Selama satu jam mereka menjelajah area tersebut dan kembali ke dalam kapal. Kemudian mengumpulkan informasi, dan seterusnya.

Begitulah kehidupan sebagai seporang peneliti. Dimanapun dan bagaimanapun, mereka mengumpulkan informasi dan membahasnya bersama-sama.

Lompatan-lompatan kecil kemudian terhenti.

Kelinci raksasa itu berhenti. Matanya mengerjap-ngerjap. Tangannya mencoba mengusap kaca helm antariksanya, mengusap segala debu yang mungkin menempel.

Apa yang ia lihat barusan?

Kaki-kaki itu kembali melompat, kali ini sang kucing hitam di dalam kostum kelinci itu mengejar sosok misterius yang menangkap retina matanya.

Sosok apa itu?

Sosok siapakah itu?

Mengapa ia menggunakan yukata?

Apakah dia putri bulan? Kaguya?

Sosok itu berjalan mendekat. Dan semakin mendekat.

Surai putih panjang dari sosok misterius itu membuat Amane berhenti.

Terdiam.

Tidak mempercayai kedua matanya.

Gadis dengan manik merah itu membuka mulutnya.

Amane tidak bisa mendengar apa-apa darinya.

Gadis itu masih mencoba mengutarakan sesuatu kepadanya.

Amane ingin mengetahuinya.

Gadis itu terus saja bercerita tentang sesuatu.

Haruskah?

Amane tidak tahu. Ia penasaran.

Namun apa yang lebih penting? Nyawanya?

Atau apapun yang diucapkan gadis itu?

Kedua tangannya berhasil meraih katup pembuka helm antariksanya.

Saat ia bisa mendengar suara familiar dari sang gadis, semuanya menjadi hitam.

.

.

.

.

.

"Amane, Amane."

Ia membuka matanya. Perlahan. Terlalu dalam mimpi itu menariknya.

Ia tidak ingin bangun, namun adiknya telah memanggil.

Ia mendapati sang adik kembarnya, Tsukasa, mencoba membangunkan dirinya.

"Ada apa, Tsukasa?"

"Bulannya gede banget hari ini, liat deh ke luar!"

Bulan…?

Amane menarik dirinya, bangun dan merangkak ke dekat jendela. Tsukasa yang mengikutinya dari belakang kemudian menyodorkan sebuah batu kecil.

"Amane amane, lihat deh batu ini. Pasti dari bulan!"

Sang kakak ingin menyangkal. Batu tersebut terlihat seperti batu kerikil kebanyakan. Mana mungkin.

"Barusan aku liat batu ini jatuh dari sana loh. Jatuhnya ke halaman rumah, jadi aku pungut saja. Lihat deh, teksurnya mirip kan sama bulan?"

Semuanya hanya terdengar seperti omong kosong belaka.

Namun Amane tidak mengatakan apa-apa, hanya mendengarkan adik kembarnya itu bercerita sepanjang air mengalir.

"Maka aku ingin memberikan ini ke Amane karena Amane ingin pergi ke bulan, kan?"

Ah….

"Berarti batu ini benar-benar berasal dari bulan."

Amane menangkap tangan Tsukasa yang memegang batu tersebut.

Keduanya saling bertatapan, menghiasi wajah mereka dengan senyumannya masing-masing.

"Terima kasih Tsukasa."

Terima kasih.

Tamat.


"Bulan super adalah istilah yang digunakan oleh para astrolog untuk menggambarkan keadaan bulan penuh ketika bulan berada dalam posisi terdekatnya dengan Bumi." - Wikipedia