"White"
.
.
A story by Fureene Anderson
#DailyDrabbleChallenge Prompt by Fanlady
.
Boboiboy is own of Monsta Studios
.
Warning: Highschool!AU Halilintar X Ying / OOC, maybe/ Typo
.
.
Happy reading
Halilintar sudah menduga jika ia keluar maka sorakan heboh yang akan menyambutnya. Ia sudah biasa berpakaian formal. Ayahnya yang merupakan direktur perusahaan ponsel sering mengajaknya ke acara-acara perusahaan yang mengharuskan Halilintar mengenakan jas.
Namun Halilintar tak pernah membayangkan jika ia akan berakhir menggunakan tuksedo di jalanan, dengan orang-orang awam berkerumun dan gaun pengantin yang hanya digantung begitu saja tanpa lapisan penutup.
Halilintar tak sampai hati menolak permintaan Ying untuk mengikuti kontes foto pengantin yang digelar di tengah jalan. Katanya gadis itu sedang butuh uang. Butuh banget dia bilang. Jadi begitu mengetahui hadiah juara ketiga berupa uang saku, Ying langsung seperti anak kecil yang tergiur undian berhadiah permen. Mata birunya bebinar dan penyakit menggemaskannya itu kambuh.
Siapa yang bisa menolak kalau dia sudah bersikap seimut itu?
Seolah alergi, Halilintar benar-benar tak suka keramaian. Apalagi keramaian itu sekarang berpusat padanya. Menatapnya sambil bersorak-sorak norak hanya karena ia telah mengganti seragam SMA-nya dengan tuksedo berwarna hitam. Ia memang mendapat jasa rias dan tata rambut. Tapi, oh ayolah. Halilintar tidak setampan yang mereka serukan. Jadi seharusnya orang-orang itu, terlebih perempuan muda tidak meneriakkan pujian ke arahnya berlebihan seperti itu.
"Pengantin perempuannya sudah siap!"
Kalimat dari salah satu panitia kontes langsung dapat melegakan kegelisahan Halilintar. Pengantin perempuan sudah pasti adalah Ying. Meski ia dan Ying baru sebatas teman, tapi karena mengikuti kontes bodoh ini, mereka terpaksa menyamar sebagai pasangan kekasih.
Halilintar terpana saat tirai terbuka.
Ying melangkah anggun dengan gaun putih melekat di tubuhnya. Desainnya simpel, tapi cukup untuk memancarkan kecantikan Ying yang tersembunyi di penampilannya yang biasa.
Panjang gaunnya selutut, minim renda, rambutnya disanggul dan wajahnya dibalut make up tipis. Apalagi mata birunya tampil begitu sempurna tanpa embel kacamata. Halilintar tidak lagi bisa membedakan mana Ying, mana idol korea.
"Gimana menurut kamu? Cantik nggak?" Ying tertawa karena Halilintar tak berkedip menatapnya. "Biasa aja kali. Nggak usah segitunya terpesona."
Ok. Kali ini Halilintar menarik kembali pujian yang sudah ingin lepas dari ujung lidahnya.
"Cantik, tapi cantiknya biasa."
Mencibir, Ying tak ingin memasukkan komentar Halilintar dalam hati. Pemuda itu memang tak bisa melihat seni. Padahal di ruang ganti, Ying cukup terpesona dengan dirinya sendiri. Memang Halilintar saja yang seleranya aneh.
"Udah ah, yuk kita baris. Nanti keburu make up aku luntur terus kita nggak dapet hadiah deh."
"Mata duitan," Halilintar memutar mata.
Lidah Ying terjulur. "Biarin!"
Namun Halilintar tidak memprotes saat dirinya diseret menuju photo booth di depan sana.
.
.
.
Halilintar berbaring mengamati beberapa lembar foto di tangannya. Gambar-gambar berbahan kertas mengkilap itu tampak jelas di bawah cahaya lampu temaram.
Gambar pertama, dirinya dan Ying yang tengah menatap kamera. Halilintar ingat sang fotografer berteriak tak puas karena mereka terlalu kaku.
Gambar kedua, dirinya yang merengkuh pinggang Ying erat. Atas desakkan dan tuntutan dari pengunjung, serta arahan dari panitia yang menyebalkan, mau tak mau Halilintar terpaksa mengubah posenya. Mereka berteriak 'lebih mesra' maka itulah yang Halilintar lakukan.
Gambar ketiga, Ying yang mengecup pipinya. Halilintar tertawa. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa Ying melakukan itu. Saat ditanya alasannya, gadis itu mengatakan bahwa ia harus berinisiatif agar dapat memenangkan uang saku. Dan perkiraannya benar. Ying sangat bahagia karena tujuannya tercapai.
Menggenggam erat foto, Halilintar bangkit terduduk. Dibukanya lembar per lembar majalah yang memuat gaun pengantin dengan berbagai rancangan.
"Tumben liat-liat majalah gituan?"
Teguran itu tak lantas membuat Halilintar menutup majalahnya. "Daripada kamu yang diliat cuma majalah porno".
"Ye, biasa aja dong. Nggak usah ngegas gitu," cibir Taufan, tak jadi menaruh skate board di sela lemari.
Halilintar mendengkus, berpura-pura tak melihat Taufan yang nyaris melempar papan seluncur padanya.
"Ngomong-ngomong Mama pulang seminggu lagi, tadi aku udah minta oleh-oleh. Kalau dibeliin, jangan minta ya?"
"Aku nggak celamitan kayak kamu." Halilintar membalik halamannya tanpa peduli.
Daripada dongkol karena ucapan Halilintar, Taufan memutuskan untuk pergi dari kamar. Langkah kaki menghentak, gerutuan Taufan terdengar hingga ke lantai dua.
Halilintar masih fokus mengamati satu per satu gambar gaun pengantin di dalam majalah. Membayangkan wajah Ying saat halaman menunjukkan foto kedua mempelai yang sedang berdansa.
Ponsel berdering sekali, Halilintar tak bisa tak tersenyum membaca satu pesan yang masuk.
"Makasih buat hari ini, ya Hali. Aku seneng banget. Lain kali kita ikut kontes kayak tadi lagi ya. Jadi kita bisa dapet banyak hadiah. Pokoknya makasih!"
Halilintar membalas sebelum mencari kontak lain untuk dihubungi. Suara sang ibu menyambutnya, Halilintar tak lupa memberi salam. Ia berbicara seraya menatap potret dirinya dan Ying lekat-lekat.
"Ma, Mama punya temen desainer kan? Hali bisa minta tolong buat bikin gaun nggak? Hali mau nembak orang soalnya."
.
.
.
A/N : Pas ada kesempatan nulis OTP, malah begini doang jadinya Efek puyeng skrisi begini jadinya Sebenarnya lagi nggak ada ide buat prompt-nya sih, iiiiihhhhh! Kesel sendiri/ditabok
Btw itu foto kontesnya dapet dari BBF wkwkw
